Delicious Audacious

Jumat, 5 Februari 2016 M
24 Rabiul Akhir 1437H

Sejak mengenal format audio MP3 di tahun 1996 praktis saya mendengarkan musik di keseharian aktivitas selalu menggunakan music player di komputer. Walkman bermerk AIMA dan SONNY seketika itu juga ditinggalkan dan koleksi kaset saya limpahkan ke adik. Portable compo hanya untuk mendengar siaran radio seperti acara SenGar tiap siang dan ocehan almarhum Samuel Marudut akhir pekan di radio GMR yang juga sudah tiada. Speaker komputer pun yang dibeli seadanya walau bukan speaker bonus jika kita beli komputer desktop di tahun-tahun itu. CD Audio bukan alternatif, harganya tidak bersahabat, minimal 10 kali lipat harga kaset. Jadi telinga saya bukan audiophile, apa lagi sumber musik dan perangkatnya.

Sejak saat itu MP3 menjadi virus yang disukai dengan playernya yang sangat sederhana, WinAMP. Beruntung sempat menggunakan encoder MP3 l3enc keluaran Fraunhoffer. Saat itu meng-encode satu CD Audio membutuhkan waktu 7-9 jam sudah termasuk ripping ke format WAV dan kompresi menjadi Mp3 128 kbps dengan PC sekelas Pentium 133 MHz.

Kini sepertinya WinAMP (dan tiruannya di Linux, XMMS) sudah banyak ditinggalkan pemakainya, diganti dengan aplikasi lain yang lebih full featured seperti iTunes di Apple Mac, Windows Media Player dan berbagai player lainnya di Linux seperti Rhythmbox, Banshee, Quod Libet, Amarok. Di perangkat bergerak sudah built in ada pemutar musik yang juga dipadukan untuk membeli musik digital atau pun streaming.

Para pengembang di dunia Open Source tidak begitu saja berhenti berkarya. XMMS yang dianggap obsolete tetap diteruskan ke dalam proyek baru bernama Audacious.

“Audacious is an open source audio player. A descendant of XMMS, Audacious plays your music how you want it, without stealing away your computer’s resources from other tasks. Drag and drop folders and individual song files, search for artists and albums in your entire music library, or create and edit your own custom playlists. Listen to CD’s or stream music from the Internet. Tweak the sound with the graphical equalizer or experiment with LADSPAeffects. Enjoy the modern GTK-themed interface or change things up with Winamp Classic skins. Use the plugins included with Audacious to fetch lyrics for your music, to set an alarm in the morning, and more.”

Audacious cukup sederhana sebagai pemutar musik di lingkungan desktop, gegas karena tak banyak menguras CPU load dan RAM, dan punya fitur yang cukup menarik untuk meng-enhance suara jika mempunyai speaker yang pas-pasan kualitasnya, yaitu plugin LADSPA Crystalizer dan Extra Stereo. Dengan sedikit intensitas efek dari plugin tersebut, output musik di speaker menjadi lebih jernih atau clear seperti crystal.

Crystalize and Extra Stereo

So delicious, Audacious!

Komentar

10 komentar untuk catatan 'Delicious Audacious'

  1. #1
    gravatar

    saya juga termasuk pengguna audaciaus di ubuntu, meski ini bukan player default di ubuntu sehingga saya perlu menambahkan secara manual

  2. #2
    gravatar

    sekarang software open source sudah mulai menunjukkan keandalannya. Banyak sekali developer membuat aplikasi yg menakjubkan

  3. #3
    gravatar

    Audacious jadi alternatif musik player yang ringan sekaligus punya fitur lumayan lengkap.

  4. #4
    gravatar

    iya dulu masih inget banget pake mp3player

  5. #5
    gravatar

    Jadi nostalgia baca artikel ini… :)

  6. #6
    gravatar

    Haha, masa lalu. Teknologi sekarang rasanya udah jauh banget ya…

  7. #7
    gravatar

    masih nyaman dengan winamp hehehehe

  8. #8
    gravatar

    winamo terbaik sampai sekarang hahah

  9. #9
    gravatar

    winamp terbaik sampai sekarang hahah

  10. #10
    gravatar

    makasih ya infonya

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.