Hyderabad
Senin, 9 Maret 2009M
12 Rabiul Awal 1430H
- Tracking System
- International phone card
Ini pertama kalinya saya melancong kerja ke luar negeri yang harus menggunakan visa, lima hari kerja untuk proses persetujuan dari kedutaan India. Hyderabad, ibukota sebuah state (semacam provinsi) di India selatan, yaitu Andhra Pradesh. Penerbangan yang saya ambil menggunakan Singapore Airlines, transit satu jam di bandara Changi dan diteruskan terbang sekitar 4 jam ke Rajiv Gandhi International Airport di Hyderabad.
Tiba di bandara Rajiv Gandhi saya cukup kagum dengan bandaranya. Tidak terlalu besar namun bersih dan bagus. Ternyata memang baru diresmikan beberapa bulan lalu, menggantikan bandara lama. Kabarnya banyak bandara di India diperbaiki sebaik-baiknya. Oh ya, Hyderabad berjarak dua jam pesawat jika ditempuh dari Delhi, seperti jarak Jakarta–Denpasar, 1.000km lebih.
Pukul sebelas malam waktu setempat di bandara tanggal 26 February lalu dan kemudian meneruskan perjalanan dengan mobil ke hotel, Aditya Park, di kawasan Ameerpet. Saya sendiri baru tahu jika zona waktu itu ada pecahan 30 menit. Secara politik India hanya menggunakan satu zona waktu, yaitu GMT+5.30, meski secara fisik mungkin seperti Indonesia yang punya tiga zona waktu.
Pagi hari berangkat ke lokasi customer, ternyata cukup jauh, butuh 40 menit tiba di tujuan. Kabarnya dari kantor India memang tak banyak pilihan hotel yang direkomendasikan perusahaan. Ya terima saja nasib berlama-lama di jalan.
Hyderabad cukup besar untuk ukuran kota yang sedang berkembang pesat dengan 7 juta penduduknya. Andhra Pradesh sendiri berpenduduk 75 juta lebih, sedangkan total India 1,1 milyar. Mulai dikenal dunia karena orang India sendiri sering mengadakan perhelatan di kota ini, terutama bidang Teknologi Informasi, Bioteknologi dan Business Process Outsourcing.
Cuaca terik Hyderabad cukup membuat sedikit masalah pada muka saya, kering dan sepertinya mengelupas. Mungkin karena hari Minggu lalu saya terjemur 3 jam menikmati Ramoji Film City, Hollywood-nya Hyderabad, dikenal sebagai Tollywood. Teriknya seperti di Bandung, tidak membuat banyak keringat, bahkan saya perhatikan di jalanan di tengah teriknya matahari Hyderabadis (sebutan bagi penduduk Hyderabad) tidak terlihat berkeringat di wajah mereka.
Transportasi masih kurang. Terlihat dari tiap kali di perjalanan saya lihat hanya sedikit bus yang lewat, sisanya hanya kendaraan roda tiga Oto yang kita kenal di Jakarta si oranye Bajaj. Lainnya adalah sepeda motor yang belum sepadat seperti di Jakarta. Dan taksi pun jarang terlihat, satu dua lewat, itu pun sudah terisi. Transportasi masih mahal jadinya. Tak ada transportasi menengah seperti angkot atau mikrolet.
Kendaraan pribadi cukup banyak menggunakan produksi India sendiri, yaitu Tata. Kendaraan impor lebih banyak saya temukan produksi Suzuki, termasuk Suzuki SX4 yang cukup baru. Tata sendiri merupakan perusahaan lokal yang cukup banyak berbisnis di segala bidang. Ada teh merk Tetley, jam tangan Titan, kendaraan berat, hingga ke bisnis selular. Katanya ada lebih dari 60 bisnis/perusahaan yang merupakan anak perusahaan Tata.
Meski dikenal kabarnya orang India bisa berbahasa Inggris seperti warga Bali yang punya keharusan bisa berbahasa Inggris, namun cukup sulit juga jika harus berkomunikasi di kalangan rakyat biasa, seperti dengan satpam, sopir taksi, pramusaji rumah makan atau pelayan toko yang aslinya berbahasa Telugu. Agak sulit untuk berbincang-bincang. Jika dibandingkan dengan orang India yang terpelajar, ternyata sama sulitnya juga. Sempat sekali saya menyerah dan berkata, “You’re talking too fast!”
Makanan di Hyderabad relatif murah. Tinggal masalah selera saja. Namun puyeng juga bagi saya yang jarang makan bawang mentah. Katanya, bawang mentah disenangi orang India berkaitan dengan kondisi alam di sana, cuaca terik dan gersang terobati dengan konsumsi bawang. Vegetarian ada banyak di mana-mana. Non-vegetarian pilihannya terbatas, paling banyak ya ayam. Daging sapi ada walau sedikit dan jarang ditemukan, ikan juga jarang.
Kari menjadi menu utama orang India, dari yang sangat spicy dan hot hingga yang segar yang dicampur susu atau yoghurt, dan tetap potongan bawangnya selalu ada. Satu yang khas dari Hyderabad adalah nasi biryani. Nasinya cukup unik, bentuknya lebih panjang dari nasi yang biasa kita kenal. Pertama kali saya lihat saya kira bihun yang terpotong-potong. Satu yang saya suka saat sarapan di hotel adalah bubur manis dari nasi biryani. Satu waktu saya agak bosan dengan menu India, saya memesan fish and chip melalui room service, ternyata menunya besar sekali. Mungkin jarang ada yang memesan, menghabiskan stok.
Masih beberapa hari lagi saya di Hyderabad, menyelesaikan pekerjaan dari proyek yang sempat tertunda karena India sedang kekurangan engineer hingga harus mengimpor dari Indonesia. Moga-moga pekerjaan beres, bahkan sampai Sabtu malam tetap kerja, walau rasanya tak mungkin saya kerjakan sendirian.
Foto belum sempat saya masukkan di tulisan ini, tapi bisa dilihat langsung di Flickr saya.
Acha, acha…
Senin, 9 Maret 2009 @ 1:31
Using
abis liat foto2 yg di flickr, ternyata gak sekumuh dugaan gw pas pertama2 baca tulisan ini :D
Senin, 9 Maret 2009 @ 1:40
Using
acha acha .. tumbar mere jahe .. :D
pemandangan yang mirip di slumdog millionaire ada gak ya ?
Senin, 9 Maret 2009 @ 1:55
Using
Hiehehehe, yang diaplod yang bagus doang… Yang kumuh rasanya ga sreg buat diaplod. Belasan kali sepintas lihat orang berdiri menghadap tembok di pinggir jalan… tahunya lagi kencing, hihihihi
Udah panas, terik, trotoar jarang banget, tanah kering di pinggir jalan, jadinya berdebu di mana-mana…
Senin, 9 Maret 2009 @ 2:23
Using
Huweee.. keren!
Photonya kang, bukan kang jae..
*kabur, stater mio*
Senin, 9 Maret 2009 @ 2:44
Using
agak mirip2 arab yak
dari mulai gedungnya yg ga ada genteng, nasi biryani, sama banyak orang indianya. hihihi.
coba sekali2, ngomong: “kana sona, kana sona, orkamne”
artinya: “makan tidur, makan tidur, ga ada yg lain”
—
tambahan: kiya hale (apa kabar). tike (baik).
dan coba tanya ini: digdig
:D
Senin, 9 Maret 2009 @ 4:42
Using
Kayaknya Kang Jay udah mirip sama orang India deh :-D
Soal yang suka menghadap ke tembok, saya sudah baca ceritanya Agus di artikel travelling yang ada di Kompas. Situasinya mirip.
Senin, 9 Maret 2009 @ 6:47
Using
ada apa kang jay, panggil-panggil saya di akhir tulisan :)
Senin, 9 Maret 2009 @ 7:12
Using
menunggu kisah selanjutnya…
Senin, 9 Maret 2009 @ 12:02
Using
itu penasaran gimana caranya nasinya bisa panjang2? kan ukuran padi ya segitu2 aja kan? atau emang padi di India itu panjang2? :P
Senin, 9 Maret 2009 @ 13:14
Using
Biryani itu istilah buat paket nasi campurnya. Mungkin di kita setara dengan nasi rames.
Kalo berasnya sendiri pakai beras Basmati yang kurus kurus panjang.
Gue demen sih makanan India, berempah dan enak, tapi terlalu oily dan kalo makan 3 hari berturut turut jadi susah buang air…hehee. Macet dah.
Senin, 9 Maret 2009 @ 13:15
Using
Oh yah, waktu ke Kathmandu, Nepal, TZ differencenya 4 jam 45 menit dari Singapore.
Gak semua jam yg mengklaim world time ready punya value ini :P
Senin, 9 Maret 2009 @ 14:26
Using
kok ga cerita soal speed dan kualitas internet India, kang? ;)
Senin, 9 Maret 2009 @ 16:51
Using
Sama dengan Mesir (dlm hal nasi maksudnya, basmati )
Lebih sering masak sendiri daripada makan di luar. :)
Selasa, 10 Maret 2009 @ 14:35
Using
Selamat kerja sambil jalan- jalan Kang..
Selasa, 10 Maret 2009 @ 22:05
Using
weee enaknya kang, ada homok ndak di india sana :)
Rabu, 11 Maret 2009 @ 9:18
Using
Engineernya pada kabur ke US semua ya? Kayaknya sih bentar lagi pada berpulangan juga, soalnya lagi diributin di sini karena rata-rata dibayar rendah jadi ngerusak pasar :(
Hm, kenapa gak diswitch aja ya? India udah, sekarang giliran Indonesia yang hijrah ke sini ;)
Minggu, 15 Maret 2009 @ 17:30
Using
Rupee Rupeee………
Rabu, 18 Maret 2009 @ 20:44
Using
Heheh kog semua foto peradaban india :)
Foto yg berbau teknologi di Indianya mana?
Apa india jauh ketinggalan dalam hal teknologi (informasi)?
Rabu, 18 Maret 2009 @ 22:27
Using
wah keren… katanya di India banyak orang yang miskin juga ya bos, terus tanahnya berdebu:)
Jumat, 3 April 2009 @ 0:45
Using
wah gak nyangka blog nya PR 6 ya mas. tadi iseng ngecek backlink, http://backlinkchecker.net/check-backlink.php?s=http://hilman.web.id&p=25
wah jalan-jalan keluar negeri… dalam rangka apa tu mas. kerja dimana mas?
Sabtu, 4 April 2009 @ 11:53
Using
Wa, Kapan Balik Lagi? nitip polisi india.
Rabu, 29 April 2009 @ 21:15
Using
Manteb nih
kemaren lalu saya sempet ke SriLanka (transit semalam), motor yang dipakai penduduknya rata2 produksi si Negeri Nehi2 ini (pulsar atau TVS) :D
Btw belum keluar postingan sequelnya nih
Sabtu, 9 Mei 2009 @ 7:21
Using
foto-fotonya kurang banyak :D
Minggu, 17 Mei 2009 @ 17:04
Using
Foto2nya keren
Oleh olehnya ditunggu :)
Kamis, 28 Mei 2009 @ 14:28
Using
Lagi asyik nonton foto2nya :p
Rabu, 17 Juni 2009 @ 8:47
Using
wah foto sama juhi chawla bos
Kamis, 25 Juni 2009 @ 23:24
Using
Wah, kapan ya aku bisa dapat kesempatan ke hyderabad juga.
Selama ini baru dengar doang, dari expat-expat india di Indonesia.
Jumat, 7 Agustus 2009 @ 16:39
Using
Wooowww…fotonya keren. saya lg perjalanan ke Hyderabad sekarang. ini lg di Changi. sambil nambah referensi ttg Hyderabat. syukur..ada tulisan dari mbak yulian
Jumat, 7 Agustus 2009 @ 16:41
Using
Mbak boleh tanya tanya ttg hyderabat lewat email atau YM..? thx
Jumat, 7 Agustus 2009 @ 19:25
Using
Mbak? =))
Jumat, 7 Agustus 2009 @ 19:34
Using
Mbak? kapan oprasinya?
Jumat, 7 Agustus 2009 @ 19:39
Using
Hwah, Mas Joan sampe guling-guling :D
Jumat, 4 Maret 2011 @ 9:36
Using
Terima Kasih Mas, sangat membantu saat kita di Hyderabad kemaren.
Kamis, 10 November 2011 @ 0:04
Using
wahhh… pengalamanny seru sekali