High Dynamic Range Imaging

Senin, 5 Januari 2009 M
06 Muharram 1430H

Saat kita memotret, ketajaman (cahaya, warna dan detil) sebuah foto umumnya berada di jarak fokus kamera, disebut depth of field (DOF). Apalagi jika aperture kamera diset pada angka rendah F/1.4-F/2.8, perbedaan jarak objek sedikit saja bisa membuatnya menjadi blur. Ketajaman gambar di seluruh bagian frame foto bisa dikompensasikan dengan menggunakan aperture yang lebih tinggi (hingga F/22-F/36), namun seringkali membuat bagian objek gambar menjadi over-exposure, seperti mendapat cahaya yang berlebihan bahkan mungkin objek menjadi blur karena kecepatan shutter menjadi lebih lambat.

Sebuah bingkai foto di mana keseluruhan gambar mendapat ketajaman cahaya, warna dan detil ini disebut sebagai high dynamic range imaging. Sering disebut sebagai HDRI atau HDR saja. Sampai saat ini rasanya belum ada kamera (sensor kamera) yang memungkinkan menangkap objek langsung menjadi HDR. Suatu saat nanti mungkin akan datang teknologi tersebut bagi konsumen.

Saat ini HDR adalah merupakan hasil proses gambar dari beberapa gambar yang sama namun dengan speed shutter yang berbeda-beda. Pada kamera DSLR menangkap beberapa bingkai dengan berbeda-beda speed shutter secara otomatis ini disebut sebagai bracketing. Kamera digital tanpa fungsi bracketing masih bisa digunakan dengan cara manual mengganti settingan setiap frame namun harus diusahakan kamera tidak berpindah/goyang.

Pemrosesan HDR membutuhkan minimal 3 gambar, satu gambar dengan exposure value, EV Normal, satu gambar dengan EV under (-1 atau -2) dan satu gambar dengan EV over (+1 atau +2). Dengan menggunakan aplikasi HDR seperti Photomatix Pro, ketiga gambar di atas diekstrapolasi menjadi gambar HDR dan diperbaiki tone-mapping-nya melalui warna, intensitas, gamma, shadow dsb sesuai kehendak kita.

Selain pemrosesan HDR seperti di atas, ada juga yang disebut sebagai pseudo-HDR, yaitu HDR yang dihasilkan hanya dari satu file saja, namun hal ini membutuhkan sumber file foto dalam format RAW. Beberapa kamera digital saku juga mendukung penyimpanan dalam format RAW ini. Satu kelebihan kamera digital dalam mode RAW adalah proses penyimpanan ke kartu memori lebih cepat karena kamera tidak meng-convert-nya menjadi JPG, namun kompensasinya file lebih besar ukurannya. Cara mudah mengingatnya adalah misal kamera 10Mpix akan membutuhkan ruang memori 10MB untuk setiap fotonya.

Meski tak sebagus HDR sebenarnya, pseudo-HDR cukup menghasilkan kualitas foto yang lebih bagus dari hasil tangkapan asli kamera.

Berikut beberapa contoh hasil tangkapan kamera saya yang di-convert menjadi pseudo-HDR.

Sunset Pulau Pramuka (RAW) Dermaga Pulau Semak Daun (RAW) Jalan-jalan Sore (RAW) I Love the Blue of Indonesia (RAW)

Sunset Pulau Pramuka Dermaga Pulau Semak Daun Jalan-jalan Sore I Love the Blue of Indonesia

Contoh pseudo-HDR yang lain, yang jelas jauh lebih bagus, bisa kita lihat di group flickr HDR from single RAW

Komentar

17 komentar untuk catatan 'High Dynamic Range Imaging'

  1. #1
    gravatar

    masih ngga ngerti istilah-istilah dalam dunia fotografi :(

  2. #2
    gravatar

    Bandingin donk, sebelum dan sesudah. Curiganya, tanpa hdr pun fotofoto jepretan jay emang udah kayak gitu.

  3. #3
    gravatar

    koq aparture yg beda? bukannya aparture sama tapi exposure beda?
    AEB = auto exposure bracketing.

  4. #4
    gravatar

    lanjutin nyoba nyoba sofwer hdr

  5. #5
    gravatar

    Sensor-sensor yang ada di DSLR sekarang sudah punya dynamic-range yang lebih baik daripada film dan ke depannya akan terus meningkat. Dan memang harus disimpan dalam format RAW-nya agar semua informasi tersimpan dengan baik. Ke depannya sih saya harapkan kita tidak perlu lagi mengeset ISO karena kamera dapat mengukur seluruh rentang intensitas cahaya… :-)

    #3 exposure berbeda bisa didapat dengan mengubah salah satu dari 3: aperture, shutter-speed, atau sensitivity (ISO).

  6. #6
    gravatar

    Iya Kang Jay, setuju ama basibanget.

    Yang beda itu adalah Exposurenya, kalo aperturenya yg beda nanti DOFnya juga beda. IMHO lho yaaa..:)

    soalnya lagi asyik nge-HDR

  7. #7
    gravatar

    Exposure itu hasil, hasil perhitungan shutter, aperture dan ISO. Hasil perhitungan itu disebut EV (exposure value).

    Mas Koen, aslinya ditambahin buat komparasi.

  8. #8
    gravatar

    Di Linux ada aplikasi qtpfsgui untuk HDR ini. Belum saya coba.

  9. #9
    gravatar

    ya..jadi yg dimainin shutter nya kang..bukan aparture. cmiiw loh

  10. #10
    gravatar

    Ah iya betul, speed shutter yang ditambah atau dikurangi dari EV Normal.

    *turunin satu stop!*

  11. #11
    gravatar

    hemmm masih bingung ndak ngerti istilah ini
    apa harus beli dulu biar ngerti kosakata ajaib ini
    kapan ? hehehe

  12. #12
    gravatar

    selain menggunakan photomatix pro, menggunakan photoshop CS2/3 juga bisa bang.
    caranya : FIle -> automate –> Merge to HDR.

  13. #13
    gravatar

    Heuheu, engga pake Photoshop soalnya, hanya pake software buat koleksi foto saja yang support editing simple (seperti mengganti tone, brightness/contrast, exposure, level).

  14. #14
    gravatar

    waktu pas kemarin mau buka toko online, nyoba ambil gambar sendiri, tapi ternyata setelah di upload ke hosting, banyak yang komentar, gambarnya kurang tajam bro :)

  15. #15
    gravatar

    waduh gak mudeng saya saya pembahasannya :(

    terlalu techie sih :D

  16. #16
    gravatar

    pertanyaanya:
    Apabila terjadi perubahan cuaca yang lebih cepat dibanding penyetelan apperture, (misal angin yang menggeser mendung)… bagaimana bisa membkin HDR?? please tutorial.

  17. #17
    gravatar

    Qtpfsgui juga ada untuk Windows..
    ini adalah software dengan nama yang sangat mudah diingat :))

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.