Tur Istana (tak) Merdeka
Senin, 2 Juni 2008M
27 Jumadil Awal 1429H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Sabtu lalu, 31 Mei, saya menyempatkan berwisata ke Istana Merdeka. Sebelumnya saya dengar kabar bahwa Istana dibuka untuk umum awal Mei, namun ternyata jelang akhir Mei baru dibuka. Senang rasanya melihat tulisan-tulisan di sekitaran Sekretariat Negara berbunyi “Istana Rakyat”, namun ternyata tur ini lebih banyak membuat saya kecewa. Mungkin ekspektasi saya terlalu sederhana, atau sangat berlebihan sebagai seorang rakyat jelata.
“Engga boleh pake jins, mbak!”
Oh ternyata bukan bicara kepada saya, meski saya juga menggunakan celana jins, jins hitam boot-cut alias cutbray, sepatu hitam cukup mengkilat sisa semiran setelah jumatan kemarin dan kaos hitam casual bersponsor. Masuk melalui pintu Sekneg, Satpam dengan atribut militer itu langsung memberi warning. Sampai di lokasi parkir ada loket pendaftaran. Cukup menyimpan KTP/SIM dan akan diberi tanda pengunjung, begitu kata tiga orang petugas berpakaian hitam-hitam di pintu loket. Hmm, banyak sekali orangnya. Antre di loket ternyata lebih dari setengah jam karena petugas loket kehabisan tanda pengunjung, mungkin dibuat hanya sedikit.
Saat menanti tanda pengunjung datang, saya seperti dipaksa melihat tiga orang ibu-ibu yang bertugas di loket panik teu pararuguh menjelaskan kepada petugas yang datang membawa-bawa tumpukan KTP. Rupanya ada rombongan minta prioritas.
Akhirnya tumpukan tanda pengunjung itu datang. Dan transaksi di meja loket itu memang hanya menukar KTP/SIM dengan tanda pengunjung. Bagus lah, cukup sederhana.
Sebelum mengantre lagi, saya menitipkan tas dulu, karena dilarang membawa kamera, apalagi memotretnya. Tempat penitipan barang yang cukup kecil ternyata dijaga oleh tiga petugas juga. Duh banyak sangat!
“Di dalam sudah kami sediakan fotografer, pak!” kilah seorang petugas saat saya bertanya boleh atau tidak membawa kamera.
“Saya mau memotret, bukan dipotret!”
Satu tur dikelompokkan hingga 25 orang, dan akan dipandu oleh satu pemandu. Dari loket pendaftaran naik bus ke Ruang Serba Guna istana. Saat mengantre tiba-tiba ada seorang petugas cerah ceria nyengir menghampiri saya seperti menangkap basah maling sendal.
“Naaah, ketahuan, engga boleh pake jins! Silakan keluar dulu.”
Saya ingin marah, tapi rupanya saya memilih diam. Betapa senangnya mereka membuat aturan tak penting itu. Okelah saya berkompromi. Di konter suvenir ada juga ibu-ibu jualan celana dan batik. Ya, inilah pertama kalinya saya membeli celana panjang selain jins, di komplek istana. Untung nomor yang cocok ada. Namun kejanggalan lainnya tak luput dari mata saya, untuk sebuah counter kecil, ada 5 orang ibu-ibu yang menjaganya, belum termasuk kasir.
Saya tak protes mereka berjualan. Ada peluang, ide dilaksanakan, bentuknya jual beli, harga cocok, sama-sama senang. Halal kok. Namun saya melihat ketaksiapan mereka dalam hal jual beli, mungkinkah karena ketidakbiasaan mereka bekerja cermat, serius dan melayani?
Temanku bicara lain, “mereka sudah terlalu terbiasa dalam lingkungan feodal, mereka bukan melayani publik, tapi hanya unjuk gigi saya pegawai terhormat, hormati dong, kamu kan cuma rakyat jelata.”
Dua puluh lima orang sebagai satu rombongan naik bus menuju Ruang Serba Guna di sebelah istana. Ternyata hanya seratus-dua ratus meter saja dari loket. Pemborosan sumber daya, tak hanya BBM, juga SDM sang supir.
Di Ruang Serba Guna ternyata harus menunggu 3 rombongan lagi, mungkin agar genap 100 orang, untuk menyaksikan pemutaran video sejarah Istana Merdeka.
Tiap rombongan bersama pemandu kemudian berjalan masuk ke halaman istana dari pintu samping. Pintu depan istana yang menghadap Monas hanya bisa dimasuki oleh tamu kenegaraan saja. Di tangga istana rombongan dipotret oleh fotografer resmi, satu rombongan satu-dua frame saja, dan itu pun hanya di depan tangga istana.
Masuk ke istana, melihat-lihat penataan yang apik, lukisan-lukisan bernilai tinggi seperti lukisan penangkapan Diponegoro dan benda-benda seni lainnya.
Keluar ke belakang melewati taman yang cukup luas, ada pohon Ki Hujan yang sudah berumur 150 tahun, ada gazebo yang dulunya berfungsi sebagai tempat musisi dan lapangan rumput tempat pesta dansa.
Tiba di belakang hanya melewati Istana Negara, yang menghadap ke jalan Veteran. Dan kemudian berbalik lagi ke arah pintu samping Istana Merdeka.
“Dulu di halaman ini ada seekor merak, yang selalu berbunyi saat Presiden Suharto datang,” tutur pemandu kepada rombongan.
“Sekarang masih suka bunyi, bu?” ujar seorang ibu bertanya spontan.
Hanya satu dua orang yang menahan tawa.
Kembali lagi ke loket pendaftaran, dengan naik bis, mengambil barang di penitipan, mengambil KTP dengan menukar tanda pengunjung yang ternyata butuh waktu 5 menit lebih. Pukul 03:45, tiga jam total proses Tur Istana Kepresidenan, kurang dari setengah jam berada di lingkungan Istana Merdeka-nya sendiri.
Walau lapar, saya segera bergerak menuju Gedung Kesenian Jakarta, menonton ballet Little Swan persembahan Caritas Ballet.
Popularity: 13% [?]
Senin, 2 Juni 2008 @ 13:11
Kalau pakai pakaian tradisional boleh masuk ga? Misalnya pakai pakaian tradisional papua.
Senin, 2 Juni 2008 @ 13:25
Seharusnya tidak dilarang.
Senin, 2 Juni 2008 @ 13:56
pake sendal jepit boleh gak? kalau bakiak?
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:01
Hmmm..masih esmosi n kecewa ya kang??
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:02
Engga atuh, sudah dicurahkan dan dituliskan.
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:29
suse ya ngerubah mental orang birokrat, eh iya anak-anak (dibawah 5 tahun) boleh ga ya?
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:29
menyimpan?
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:35
#7 investasi?
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:38
Untung ga ikut..
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:41
kok kayaknya kaku banget ya…
eh iya, biasanya kalo 17 agustusan istana bogor juga open house… gak tau seribet ini apa gak…
tertarik kang?
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:44
wah.. ketat banget… itu di dalam harus selalu ikut tourguide yah? nggak boleh misalnya mau mengagumi fotonya diponegoro sampe bosen gitu?
Senin, 2 Juni 2008 @ 14:44
berarti lebih asik di istana bogor yah …
dulu waktu smp pernah jalan2 (ya jalan kaki) ke istana bogor
*klo istana bogor ada dipaket program ini gak yah*
Senin, 2 Juni 2008 @ 15:02
saya bersyukur ternyata pemerinta masih punya sikap otoriter.
Senin, 2 Juni 2008 @ 15:03
#9: Untungnya dibagi-bagi dong… makan-makan!
#13: Otoriter untuk kepentingan publik tentu saya terima. Bahkan arogan pun masih saya terima, sebab arogan itu muncul dari kondisi egaliter (posisi sejajar), bukan feodal. Tapi memang banyak arogansi muncul karena feodalisme.
Senin, 2 Juni 2008 @ 15:33
weleh… males ah… ga minat ke istana negara kalo gitu *ganti tujuan untuk rombongan gajah*
Senin, 2 Juni 2008 @ 15:59
wah asik jay… hihihi wanian manehna…

wani naon, teuing lah, teu terang…
Senin, 2 Juni 2008 @ 16:09
jae, tour buka tiap hari?
Senin, 2 Juni 2008 @ 16:15
Ga boleh pake jeans?
Jaahhh….. PEODAL
Senin, 2 Juni 2008 @ 16:15
#17: Sabtu Minggu saja, 09:00 — 16:00, daftarnya hanya sampai pukul 15:00
Senin, 2 Juni 2008 @ 16:37
lihat ceritanya jadi turnya nggak asik tuh…
ndak jadi deh ke sana
Senin, 2 Juni 2008 @ 17:57
Ngga boleh pake jeans. Dah disiapin celana, biar dibeli.
Ah …Untung ya Kang ngga musti beli kamera.
Senin, 2 Juni 2008 @ 19:54
rambut gondrong boleh kang ?
alasan ndak boleh pakai clana jins napa yah, giliran clana/kolor batik boleh
Senin, 2 Juni 2008 @ 20:13
Kalo transgender boleh masuk nggak?
Senin, 2 Juni 2008 @ 22:05
jadi kesan-kesannya apa?
hebat? biasa saja? atau malah males banget?
heheheh..
dari kemarin2 penasaran mo ke sana, sekarang ga tau deh masih penasaran apa nggak.
eh foto rombongannya mana? difoto kayak mentri2 gitu gak? hihih..
Senin, 2 Juni 2008 @ 22:36
HA HA HA HA…Cilaka deh
Selasa, 3 Juni 2008 @ 0:27
#24: Ya menyenangkan, Istana Merdeka memang apik dan resik. Cuma ya itu, prosesnya terlalu cepat, diceritakan tanpa ilustrasi kurang najong, sedangkan tidak semua orang bisa melihat apa yang saya ceritakan.
Bahkan menikmati lukisan Pangeran Diponegoro saja engga sampai satu menit. Petugas yang jaga sudah ngelihatin terus dan dipanggil-panggil oleh pemandu.
Selasa, 3 Juni 2008 @ 8:36
wuihh..
demi keamanan bangsa negara dan istana mungkin?
Selasa, 3 Juni 2008 @ 8:53
ngarepinnya apa tadinya Mas..?
Selasa, 3 Juni 2008 @ 9:21
Harapan saya, ya tentu tidak menemukan kekecewaan di atas.
Selasa, 3 Juni 2008 @ 9:43
Waduh, beda banget ma kunjungan ke istana Kaisar Akihito di Tokyo ya….Mau pake jeans, kimono, celana pendek, baju kebuka2, segala jenis pakaian..hayuuu mang, dipersilahkan aja tuh…gak pake daftar krn emang dah u/ rakyat,dikasih line aja spy antriannya beres. Bedanya gak tiap weekend, hanya tahun baru & Kaisar ulang tahun.jadi dpt ilham u bikin di blog nih ttg kunjungan ke istana jepang.Btw thx infonya, 2 minggu lagi mau bw tamu dr Jpg, boleh gak ya.jgn2 kyk badui lg, org asing gak boleh.
Selasa, 3 Juni 2008 @ 12:52
gak boleh pake jins ke istana, karna di dalam sudah banyak jin (sesama jin dilarang ganggu ..kekekeke).
kalo urusan poto, sepertinya memang ada tempat-tempat tertentu yg tdk boleh difoto unt alasan sekuriti, misalnya instalasi militer atau istana jg mungkin termasuk. jgn kan 2 tempat itu, di mall pun sdh banyak yg melarang kita mengambil gambar. kalau pun kamera diijinkan masuk ke istana (misalnya anda wartawan), dijamin tetep gak bisa foto2 dg bebas.
Selasa, 3 Juni 2008 @ 20:03
walah koq musti beli… pake “nah ketangkep yg pake celana jeans” segala lagi, itu sih namanya taktik dagang… abdi dalem nya pada keliatan bgt nepu nya soal dagang… kalo emang ga boleh, toh dari pertama dah dibilangin, masa didalem baru dibilangin… ckk ckk ckk…
Rabu, 4 Juni 2008 @ 5:06
kita masih beruntung …. setidaknya kalau masuk bioskop tidak ada prosedur ketat seperti itu
palingan yg dilarang membawa kamera duank
Rabu, 4 Juni 2008 @ 14:41
wah, saya belum pernah nganjang ka istana Merdeka euy…. pake jins ngga boleh, kalau bawa jin boleh ngga?
Kamis, 5 Juni 2008 @ 12:53
wah… berati aku ndak bisa masuk ke istana…
abis kemana2 sukanya pake sendal jepit
Jumat, 6 Juni 2008 @ 15:16
Ngak Ada Tempat Piknik Laen Gitu !
Sabtu, 7 Juni 2008 @ 9:00
“mereka sudah terlalu terbiasa dalam lingkungan feodal, mereka bukan melayani publik, tapi hanya unjuk gigi saya pegawai terhormat, hormati dong, kamu kan cuma rakyat jelata.”
Nggak kakeknya, nggak bapaknya, nggak cucunya, kok ya masih melestarikan ya… Hehehe!
Minggu, 8 Juni 2008 @ 18:26
pake jeans boleh?
Selasa, 10 Juni 2008 @ 14:07
Jadi, omongkosong dong pejabat kita “merakyat”? kalau merakyat mesti pake sendal jepit, kalo merakyat mesti naek angkot, kalau merakyat … gk perlu pengawal kalau lagi macet
Jumat, 13 Juni 2008 @ 0:10
pake blue jeans warna item boleh ga?
Minggu, 15 Juni 2008 @ 21:53
Lho bukannya pake sandal jepit (ato malah bakiak) dan sarung (baca: bukan jeans -red) diperbolehkan masuk pada era Gus Dur
Yang pernah saya denger, tamu pertama Gus Dur setelah dikukuhkan menjadi Presiden RI beberapa orang Kyai NU dan beliau-beliau ini menggunakan sarung dan sandal jepit.
Senin, 16 Juni 2008 @ 12:30
hehehehe informasi yang bagus kang mas Jay biarin lah rea aturan (paling ga boleh pake jins kan) pngen ningali namanya istana negara ( istana presiden – sama teu kang mas Jay )
Rabu, 18 Juni 2008 @ 14:20
wajar lah banyak aturan untuk masuk istana negara, kalau ada kejadian yg membahayakan bgmn? masih untunglah kita2 ini boleh melihat dan masuk istana negara secara langsung.
janganlah selalu melihat dari segi negatifnya saja, mungkin memang ada kekurangan, tapi pasti banyak juga manfa’at dan kelebihan yang bisa kita petik.
cintailah negara kita.
Rabu, 18 Juni 2008 @ 17:14
jens iteng blh om? klo ga boleh pake punya om jin aja ah… biar ga ketahuan…. hiks…hiks…
Rabu, 18 Juni 2008 @ 20:25
Kalo pake sarung boleh ga yak??? hihihihi…
kabuuur
Kamis, 19 Juni 2008 @ 14:42
dari pada ke istana merdeka ribet, gak ada yang diliat.. mendingan ke istana anak-anak aja di TMII, atao ke PRJ bisa beli american donuts atau KERAK TELOR yang harganya bisa 5x lebih mahal dari biasanya … gimana mas aa…..
Kamis, 19 Juni 2008 @ 18:17
Kapan aku bisa di undang ke ISTANA….
Rabu, 25 Juni 2008 @ 10:29
bisa ketemu president donk mas ?
Kamis, 26 Juni 2008 @ 19:32
emang klo pake jins kenapa ya??
Jumat, 27 Juni 2008 @ 23:48
kalau mau ke gedung istana bisa ngak tidak sesuai dengan prosedur atau tidak menggunakan surat secara formal
Minggu, 29 Juni 2008 @ 11:26
ntar kalo aku yg jadi presiden, ta’ bebaskan rakyatku berkunjung ke istana, mau tiap hari keq, tengah malam keq, kapan aja deh. mau pake jin keq, pake sarung kayak kyai NU keq, pake u can see keq (weleh2), pokoke bebas……….
tapi cukup diluar pagar istana aja yak …….hahahaha, arogan kan perlu and penting lagi !
Rabu, 2 Juli 2008 @ 3:34
waaahh… kalo orang kecil kayak saya gimana ya???
jangan2 ke istana ga boleh make bemo…
Sabtu, 5 Juli 2008 @ 16:19
gak boleh pake jeans… segitunya ya… mending pake jeans daripada pake rok mahal tapi hasil korupsi… hiks…hiks….
Sabtu, 5 Juli 2008 @ 23:59
Hehehe Jay, kalo istananya jaman billy the kids kayaknya malah yg ga pake jeans ga bole masuk kali ya
kekekee
*Kapan nongkrong diwarung kacang ijo lageee? diantosan kepulangannya ke kampung halaman. Semoga membawa jeans ato uang satu keresek jeans buat traktiran disini
Senin, 7 Juli 2008 @ 20:35
Wah kapan ya bisa wisata ke istana?
Kamis, 10 Juli 2008 @ 1:11
jeans itu ngak sopan yakz?
Minggu, 13 Juli 2008 @ 20:42
belum pernah kesana ^^
Selasa, 15 Juli 2008 @ 8:02
Ke istana??? Ke jakarta aja masih ngiler bro..
Rabu, 16 Juli 2008 @ 16:50
Pake Jins ga boleh?
Emang jins mengandung unsur subversif yah
Kamis, 24 Juli 2008 @ 22:10
pake jins nggak boleh? terserah tuan rumah ‘lah…
Rabu, 30 Juli 2008 @ 21:07
Mestinya walaupun ganti presiden, aturan ini tidak akan berubah ya?
Jumat, 1 Agustus 2008 @ 10:20
hehehe istananya kan baru dibuka umum sekarang2 ini, jadi maklum kalau pegawai2nya “cegukan” masih bawa2 gaya merintah2nya…
Sabtu, 2 Agustus 2008 @ 13:00
saya belum pernah kesana…
Jumat, 8 Agustus 2008 @ 11:00
Istana Rakyat ssah sauah … dicari ya bro
Minggu, 10 Agustus 2008 @ 14:11
kunjungi blog saya,yuk di remukan.blogspot.com
Rabu, 13 Agustus 2008 @ 18:02
jangan gitu2 amatlah. kalo banya aturan, pantaslah lah wong ini istana presiden bukan warung pecel ato rumah kakek kita kok. dibuka untuk umum aja bagus kok. iya nggak kang!
Jumat, 15 Agustus 2008 @ 17:20
betul itu istana presiden lho bukan tempat wisata .. ..
wajar kalau ada batasan asal gak keterlaluan
Jumat, 15 Agustus 2008 @ 20:04
sebenarnya istana merdeka itu istana milik rakyat Indonesia, apa milik penguasa Indonesia?
Jumat, 15 Agustus 2008 @ 21:26
zzz…tuh istana kan punya rakyat, bangunnya pake duit rakyat..giliran rakyat mau masuk aja ribet banget…..hehe
Sabtu, 16 Agustus 2008 @ 6:34
kapan ya istana betul betul merakyat?
Kamis, 21 Agustus 2008 @ 20:37
keren bgt blognya
page rank nya dah 5
tukeran link yuk mas
Sabtu, 23 Agustus 2008 @ 16:14
protokoler sopan santun sepertinya perlu dijaga. seperti lewat depanya bapak bangsa dengan nunduk dan permisi
Kamis, 28 Agustus 2008 @ 11:56
Itulah… dimana2 sama saja. Yang namanya “protokol elite”. Kan kawasan yang dikunjungi adalah kawasan elite. Sangat elite walau rakyat menderita.
Saya jadi teringat dengan ungkapan dosen saya. Miris katanya. Istana merdeka sedemikian megahnya. Namun masih dalam radius 1km, masih ada lingkungan kumuh. bener ngganya saya ngga tau.
SAlam kenal mas, boleh tukeran link ngga? Saya sudah pasang linknya Mas Jay bin Yulian. Hehehe
Selasa, 2 September 2008 @ 4:33
kebayang nya sih gini Kang…. di endonesa aja dah kayak gini…. gimana kalo di Amerika…. yang pasti kalo ngunjungin negara nya Ahmad Dinejad ga mungkin kayak gini….
salam kenal Kang…. tulisan nya bagus….
Jumat, 5 September 2008 @ 13:06
Kapan ya Indonesia tercinta ini bisa merdeka ?
Selasa, 23 September 2008 @ 3:34
btw apa alasannya kang kok gak bole pake jeans (jins) kali ajah pake setan bole yah kan
kekek
Minggu, 28 September 2008 @ 14:18
Ini sptnya kasusnya sama dg waktu ada penghargaan buat para musisi,namun akhirnya para musisi itu gak jd masuk karena pake jins semua.
Musisinya siapa ya?? llupaaa..
Rabu, 15 Oktober 2008 @ 15:24
Assalamu `alaikum
Nice Info!
Salam kenal dari Evi Syar`i
Tukeran Link ya? Url sampeyan sudah saya pasang di Blogroll saya.
Indahnya Berbagi dan marilah kita terus berbagi…..
Salam Ukhuwah…
Minggu, 26 Oktober 2008 @ 10:09
Terlalu birokrasi sampai-sampai bingung sendiri nantinya
Selasa, 9 Desember 2008 @ 15:35
menurut gw seharusnya kita2 tau diri aja.. protokoller yang ribet? wajar laaah.. wong istana.. klo ada teroris gimana??
kedua, soal pakaian cq. jeans, menurut gw lagi.. wajar donk dilarang.. ibarat mau bertamu, memangnya kita bisa seenak udel?? klo mau dihormati, yaa.. seharusnya kita harus menghormati terlebih dahulu donk.
ketiga masalah istana rakyat.. yaaaa.. tau sama tau laah.. di negri mana ada istana buat rakyat?? klo pun ada namanya ‘tempat penampungan’, bukan istana.. hehe
keempat, masalah penjaga counter yang ampe 5 “biji”.. ini nih, baru pendapat yg gw setuju.. seharusnya memang gak perlu sebanyak itu, hmm.. mungkin itu bagian dari intelijen yang menyamar jadi penjaga counter??? hahaha.. manusia kan juga butuh ngerumpi.. mungkin waktu nya aja yg gak pas kali yaah..
btw, pada dasarnya idealnya memang pemimpin yang baik itu yg merakyat.. yang dapat bertatap muka dengan rakyatnya tanpa ada pengawalan berlebihan, yg bisa duduk di warung kopi tanpa harus ada paspampress yang macetin jalan, atau yg pas jam istirahat tidur2an di bawah pohon kurma.. namun… be realistic my meeen.. dah gak ada pemimpin kayak gitu jaman sekarang (bahkan sekaliber ahmadinejad yg katanya amat sangat merakyat sekalipun)..
anyway.. nice reading.. keep blogging mate..
Jumat, 26 Desember 2008 @ 0:27
makasih buad iinfonya!
Rabu, 11 Februari 2009 @ 8:36
itu yulian.firdaus bisanya hanya komentar jelek, belajar menghargai sikap sederhana terhadap kondisi yang dihadapi jangan emosi sesaat, anda belum sebutir pasir menghasilkan manfaat yang berguna bagi kemajuan sejarah bangsa. okeeeeeeeeeeey
Rabu, 14 Oktober 2009 @ 15:37
pendapatnya macam2 ya,.tapi menurut saya wisata istana tidak mengecewakan dari segi turnya memang ada sedikit kekurangan misal pemandu kurang menjelaskn lebih detail tapi kita memiliki hak untk bertanya sebanyak2nya kok..
dan pst akan dilayani.jadi silahkan anda mencoba berwisata istana dan merasakan bagaimana budaya sejarah negara kita masih tertata dgn baik dan mengetahui seluk beluk istana negara.
masalah celana jeans tidak diperbolehkan karena istana kepresidenan merupakan simbol kenegaraan sehingga cara kita berpakaian pun juga perlu diperhatikan karena anda berkunjung ketempat yg patut kita hormati, diibaratkan saja kita dtg sebagai tamu negara. mana ada coba tamu negara yg dtg ke istana negara memakai celana jeans? apkh itu sama saja dgn menginjak2 harga diri kita seandainya ada tamu dr negara luar yg seperti itu?? jd mhn diperhatikan bersama.
selamat berwisata istana,.semoga dpt menumbuhkan kebanggaan kita terhadap tanah air dan jgn takut untk berurusan dgn birokrasi krn cara msknya pun sangat mudah sekali.