Tur Istana (tak) Merdeka

Senin, 2 Juni 2008 M
27 Jumadil Awal 1429H

Sabtu lalu, 31 Mei, saya menyempatkan berwisata ke Istana Merdeka. Sebelumnya saya dengar kabar bahwa Istana dibuka untuk umum awal Mei, namun ternyata jelang akhir Mei baru dibuka. Senang rasanya melihat tulisan-tulisan di sekitaran Sekretariat Negara berbunyi “Istana Rakyat”, namun ternyata tur ini lebih banyak membuat saya kecewa. Mungkin ekspektasi saya terlalu sederhana, atau sangat berlebihan sebagai seorang rakyat jelata.

“Engga boleh pake jins, mbak!”

Oh ternyata bukan bicara kepada saya, meski saya juga menggunakan celana jins, jins hitam boot-cut alias cutbray, sepatu hitam cukup mengkilat sisa semiran setelah jumatan kemarin dan kaos hitam casual bersponsor. Masuk melalui pintu Sekneg, Satpam dengan atribut militer itu langsung memberi warning. Sampai di lokasi parkir ada loket pendaftaran. Cukup menyimpan KTP/SIM dan akan diberi tanda pengunjung, begitu kata tiga orang petugas berpakaian hitam-hitam di pintu loket. Hmm, banyak sekali orangnya. Antre di loket ternyata lebih dari setengah jam karena petugas loket kehabisan tanda pengunjung, mungkin dibuat hanya sedikit.

Saat menanti tanda pengunjung datang, saya seperti dipaksa melihat tiga orang ibu-ibu yang bertugas di loket panik teu pararuguh menjelaskan kepada petugas yang datang membawa-bawa tumpukan KTP. Rupanya ada rombongan minta prioritas.

Akhirnya tumpukan tanda pengunjung itu datang. Dan transaksi di meja loket itu memang hanya menukar KTP/SIM dengan tanda pengunjung. Bagus lah, cukup sederhana.

Sebelum mengantre lagi, saya menitipkan tas dulu, karena dilarang membawa kamera, apalagi memotretnya. Tempat penitipan barang yang cukup kecil ternyata dijaga oleh tiga petugas juga. Duh banyak sangat!

“Di dalam sudah kami sediakan fotografer, pak!” kilah seorang petugas saat saya bertanya boleh atau tidak membawa kamera.

“Saya mau memotret, bukan dipotret!”

Satu tur dikelompokkan hingga 25 orang, dan akan dipandu oleh satu pemandu. Dari loket pendaftaran naik bus ke Ruang Serba Guna istana. Saat mengantre tiba-tiba ada seorang petugas cerah ceria nyengir menghampiri saya seperti menangkap basah maling sendal.

“Naaah, ketahuan, engga boleh pake jins! Silakan keluar dulu.”

Saya ingin marah, tapi rupanya saya memilih diam. Betapa senangnya mereka membuat aturan tak penting itu. Okelah saya berkompromi. Di konter suvenir ada juga ibu-ibu jualan celana dan batik. Ya, inilah pertama kalinya saya membeli celana panjang selain jins, di komplek istana. Untung nomor yang cocok ada. Namun kejanggalan lainnya tak luput dari mata saya, untuk sebuah counter kecil, ada 5 orang ibu-ibu yang menjaganya, belum termasuk kasir.

Saya tak protes mereka berjualan. Ada peluang, ide dilaksanakan, bentuknya jual beli, harga cocok, sama-sama senang. Halal kok. Namun saya melihat ketaksiapan mereka dalam hal jual beli, mungkinkah karena ketidakbiasaan mereka bekerja cermat, serius dan melayani?

Temanku bicara lain, “mereka sudah terlalu terbiasa dalam lingkungan feodal, mereka bukan melayani publik, tapi hanya unjuk gigi saya pegawai terhormat, hormati dong, kamu kan cuma rakyat jelata.”

Dua puluh lima orang sebagai satu rombongan naik bus menuju Ruang Serba Guna di sebelah istana. Ternyata hanya seratus-dua ratus meter saja dari loket. Pemborosan sumber daya, tak hanya BBM, juga SDM sang supir.

Di Ruang Serba Guna ternyata harus menunggu 3 rombongan lagi, mungkin agar genap 100 orang, untuk menyaksikan pemutaran video sejarah Istana Merdeka.

Tiap rombongan bersama pemandu kemudian berjalan masuk ke halaman istana dari pintu samping. Pintu depan istana yang menghadap Monas hanya bisa dimasuki oleh tamu kenegaraan saja. Di tangga istana rombongan dipotret oleh fotografer resmi, satu rombongan satu-dua frame saja, dan itu pun hanya di depan tangga istana.

Masuk ke istana, melihat-lihat penataan yang apik, lukisan-lukisan bernilai tinggi seperti lukisan penangkapan Diponegoro dan benda-benda seni lainnya.

Keluar ke belakang melewati taman yang cukup luas, ada pohon Ki Hujan yang sudah berumur 150 tahun, ada gazebo yang dulunya berfungsi sebagai tempat musisi dan lapangan rumput tempat pesta dansa.

Tiba di belakang hanya melewati Istana Negara, yang menghadap ke jalan Veteran. Dan kemudian berbalik lagi ke arah pintu samping Istana Merdeka.

“Dulu di halaman ini ada seekor merak, yang selalu berbunyi saat Presiden Suharto datang,” tutur pemandu kepada rombongan.

“Sekarang masih suka bunyi, bu?” ujar seorang ibu bertanya spontan.

Hanya satu dua orang yang menahan tawa.

Kembali lagi ke loket pendaftaran, dengan naik bis, mengambil barang di penitipan, mengambil KTP dengan menukar tanda pengunjung yang ternyata butuh waktu 5 menit lebih. Pukul 03:45, tiga jam total proses Tur Istana Kepresidenan, kurang dari setengah jam berada di lingkungan Istana Merdeka-nya sendiri.

Walau lapar, saya segera bergerak menuju Gedung Kesenian Jakarta, menonton ballet Little Swan persembahan Caritas Ballet.

Komentar

84 komentar untuk catatan 'Tur Istana (tak) Merdeka'

  1. #1
    gravatar

    btw apa alasannya kang kok gak bole pake jeans (jins) kali ajah pake setan bole yah kan :D kekek

  2. #2
    gravatar

    Ini sptnya kasusnya sama dg waktu ada penghargaan buat para musisi,namun akhirnya para musisi itu gak jd masuk karena pake jins semua. :D

    Musisinya siapa ya?? llupaaa.. :D

  3. #3
    gravatar

    Assalamu `alaikum
    Nice Info!
    Salam kenal dari Evi Syar`i

    Tukeran Link ya? Url sampeyan sudah saya pasang di Blogroll saya.
    Indahnya Berbagi dan marilah kita terus berbagi…..
    Salam Ukhuwah…

  4. #4
    gravatar

    Terlalu birokrasi sampai-sampai bingung sendiri nantinya

  5. #5
    gravatar

    menurut gw seharusnya kita2 tau diri aja.. protokoller yang ribet? wajar laaah.. wong istana.. klo ada teroris gimana??
    kedua, soal pakaian cq. jeans, menurut gw lagi.. wajar donk dilarang.. ibarat mau bertamu, memangnya kita bisa seenak udel?? klo mau dihormati, yaa.. seharusnya kita harus menghormati terlebih dahulu donk.
    ketiga masalah istana rakyat.. yaaaa.. tau sama tau laah.. di negri mana ada istana buat rakyat?? klo pun ada namanya ‘tempat penampungan’, bukan istana.. hehe
    keempat, masalah penjaga counter yang ampe 5 “biji”.. ini nih, baru pendapat yg gw setuju.. seharusnya memang gak perlu sebanyak itu, hmm.. mungkin itu bagian dari intelijen yang menyamar jadi penjaga counter??? hahaha.. manusia kan juga butuh ngerumpi.. mungkin waktu nya aja yg gak pas kali yaah..

    btw, pada dasarnya idealnya memang pemimpin yang baik itu yg merakyat.. yang dapat bertatap muka dengan rakyatnya tanpa ada pengawalan berlebihan, yg bisa duduk di warung kopi tanpa harus ada paspampress yang macetin jalan, atau yg pas jam istirahat tidur2an di bawah pohon kurma.. namun… be realistic my meeen.. dah gak ada pemimpin kayak gitu jaman sekarang (bahkan sekaliber ahmadinejad yg katanya amat sangat merakyat sekalipun)..

    anyway.. nice reading.. keep blogging mate..

  6. #6
    gravatar

    makasih buad iinfonya!

  7. #7
    gravatar

    itu yulian.firdaus bisanya hanya komentar jelek, belajar menghargai sikap sederhana terhadap kondisi yang dihadapi jangan emosi sesaat, anda belum sebutir pasir menghasilkan manfaat yang berguna bagi kemajuan sejarah bangsa. okeeeeeeeeeeey

  8. #8
    gravatar

    pendapatnya macam2 ya,.tapi menurut saya wisata istana tidak mengecewakan dari segi turnya memang ada sedikit kekurangan misal pemandu kurang menjelaskn lebih detail tapi kita memiliki hak untk bertanya sebanyak2nya kok..:) dan pst akan dilayani.jadi silahkan anda mencoba berwisata istana dan merasakan bagaimana budaya sejarah negara kita masih tertata dgn baik dan mengetahui seluk beluk istana negara.

    masalah celana jeans tidak diperbolehkan karena istana kepresidenan merupakan simbol kenegaraan sehingga cara kita berpakaian pun juga perlu diperhatikan karena anda berkunjung ketempat yg patut kita hormati, diibaratkan saja kita dtg sebagai tamu negara. mana ada coba tamu negara yg dtg ke istana negara memakai celana jeans? apkh itu sama saja dgn menginjak2 harga diri kita seandainya ada tamu dr negara luar yg seperti itu?? jd mhn diperhatikan bersama.

    selamat berwisata istana,.semoga dpt menumbuhkan kebanggaan kita terhadap tanah air dan jgn takut untk berurusan dgn birokrasi krn cara msknya pun sangat mudah sekali.

  9. #9
    gravatar

    Saya juga gaboleh pake jeans. Ini sekarang lagi nungguin selesai upacara penurunan bendera. Soalnya saya pake jeans. Kesel sih udah jauh-jauh dateng gaboleh masuk haha, jadi males kesini lagi haha

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.