Simulasi Rukyat
Sabtu, 22 September 2007M
10 Ramadhan 1428H
- Tracking System
- International phone card
Penetapan bulan baru kalender Hijriyah selalu berdasarkan pada dua metoda, yaitu rukyat dan hisab. Rukyat adalah mengamati visibilitas hilal (bulan sabit) saat ijtima, matahari terbenam di hari ke-29 bulan berjalan. Jika tampak berarti bulan baru sudah dimulai, jika belum berarti bulan berjalan adalah 30 hari. Sedangkan hisab adalah menentukan kalender berdasarkan perhitungan ilmu hisab atau astonomi dengan bantuan teknologi, termasuk komputer.
Saya sendiri meyakini penanggalan dengan metoda hisab, dengan alasan perkembangan teknologi saat ini sangat akurat dan terbukti. Alasan kedua, saya tak punya teleskop untuk ikut menyaksikan dan bersaksi telah melihat hilal. Alasan ketiga, mata saya minus (myopia), juga silindris, tentunya akan sangat tidak akurat melihat bulan yang masih gelap di ufuk barat saat matahari terbenam.
Namun alasan yang bersifat individu ini tentunya bisa jadi tidak sejalan dengan keputusan lembaga agama ataupun pemerintah. Pemerintah melalui Departemen Agama menetapkan bulan baru setelah melakukan rukyat dan bersidang menentukan awal bulan untuk diumumkan kepada masyarakat luas.
Satu kritik terhadap metoda rukyat adalah seolah-olah bulan baru hanya penting untuk penentuan awal Ramadhan, Syawwal, Dzulhijjah dan awal tahun bulan Muharram. Selayaknya jika memang metoda rukyat diyakini, setiap akhir bulan (hari ke-29 bulan berjalan) harus selalu ada sidang penentuan bulan baru, apakah esok tanggal 30 ataukah tanggal 1 bulan baru dan diumumkan kepada masyarakat luas.
Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
- Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
- Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.
Dalam ilmu dasar astronomi, ketinggian atau altitude didefinisikan dalam derajat, yang artinya ketinggian tersebut menggambarkan sudut yang terjadi antara garis horison dengan posisi bulan dari pengamat. Bukan ketinggian dalam arti jarak linier.
Untuk metoda hisab, program-program komputer yang ada sudah cukup membantu orang awam percaya terhadap semua perhitungan peredaran benda-benda langit yang teratur. Anda bisa menggunakan program Open Source seperti Stellarium, atau yang berbayar seperti Starry Night. Dengan program tersebut anda bisa melihat ijtima (konjungsi matahari dan bulan saat matahari terbenam di hari ke-29 berjalan). Tidak hanya sekarang ini, tapi juga bulan depan, tahun depan atau ijtima di masa lalu.
Berikut saya sertakan contoh ijtima penentuan awal Ramadhan yang lalu dengan software Stellarium (klik pada gambar untuk melihat resolusi penuh 1280×800 di flickr). Bisa anda lihat saat matahari terbenam 12 September, posisi bulan berada pada altitude 8º. Menandakan esoknya 13 September sudah masuk tanggal 1 Ramadhan. Perbedaan/perdebatan tidak terjadi antara metoda rukyat dan hisab.
Bagaimana dengan 1 Syawwal mendatang?
Ada kemungkinan besar perbedaan, sebab menurut hisab posisi bulan berada di atas cakrawala (cukup kecil, di bawah 1º) saat matahari terbenam di hari ke-29 Ramadhan atau tanggal 11 Oktober. Bagi penganut rukyat, ketinggian bulan ini terlalu sempit, sehingga diputuskan esoknya tanggal 12 Oktober masih bulan Ramadhan, tanggal 30 Ramadhan, bukan bulan baru 1 Syawwal.
Tentunya, ijtima tanggal 12 Oktober sudah pasti menunjukkan posisi bulan berada jelas di atas cakrawala saat matahari terbenam. Selain karena jumlah hari dalam bulan Hijriyah adalah maksimum 30 hari.
Semoga anda memahami apa yang anda yakini.



Sabtu, 22 September 2007 @ 20:49
Using
Sayamah Ikut Yang Lebarannya Cepet aja.
Sabtu, 22 September 2007 @ 22:03
Using
Memang Jay beda. Makasih ya :).
Tahun lalu sih memaksa ikut madzhab kalkulasi, karena … ah you know me lah :). Tahun ini ikut madzhab rukyat bil stellarivm saja deh :).
Minggu, 23 September 2007 @ 2:13
Using
Teknologi ada untuk digunakan. Teknologi adalah hasil ciptaan otak manusia yang merupakan karunia Yang Maha Kuasa. Anehnya karya besar Yang Maha Kuasa sering diturunkan derajatnya oleh kaumNya sendiri dengan berbagai macam alasan termasuk ketidaksempurnaan manusia (paradoks?).
Kalau sekarang para rukyaters (duh istilahnya) disuruh naik kapal laut berbulan-bulan untuk berangkat naik Haji mau gak ya?
Minggu, 23 September 2007 @ 4:45
Using
Setuju sama Boy, teknologi ada untuk digunakan :) IMHO, agak sinis sih, metode rukyat tetap digunakan karena alasan politis dan mempertahankan “eksistensi” beberapa pihak, yang katanya, kompeten. Karena kalau hisab yang digunakan, siapa pun bisa menentukan sendiri dengan bantuan teknologi yang tepat, yang notabene mudah ditemukan. But that’s just me :P
Minggu, 23 September 2007 @ 4:59
Using
Kenapa yah, parak “rukyat”-ers tidak meng-upgrade dirinya seperti para “hisab”-ers?
Contohnya pakai telescope Infra Red, atau pakai Synthetic Aperture Radar, alih alih mata telanjang?
Minggu, 23 September 2007 @ 8:25
Using
Salut! tahun saya sempat depat dengan anda soal perhitungan awal bulan kreasi anda sendiri. Agaknya anda sudah banyak wawasan. Udah mengunjungi situs-situs yang saya sarankan kan? Menanggapai tulisan Anda saya sangat setuju. Saya termasuk mazhab hisab yang tetap memperhitungkan visibilitas hilal. Rukyat hanyalah sebagai pembuktian belaka. Bravo!
Senin, 24 September 2007 @ 12:14
Using
husnudzon…jangan terlalu banyak prasangka negatif…
baik hisab maupun ru’yah hilal (melihat bulan sabit) sama2 ijtihad yang harus dihormati…yang apabila benar mendapat 2 pahala, sedangkan kalau salah mendapat 1 pahala….
Dasar yang digunakan untuk ru’yah hilal pun kuat…bukan anti teknologi, alasan politis ataupun eksistensi kelompok saja…
Banyak haditsnya, tetapi saya ambil 1 hadits saja yang kita yakini bersama sebagai hadits shohih…
Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081)
Islam ini mudah, jangan dipermudah, apalagi dipersulit….
wallahu’alam bishowab…
Senin, 24 September 2007 @ 14:50
Using
Balik lagi ke pemahaman dari pihak2 yg di sebut “Rukyaters” mau nerima ngak ??? Cag Ah
Senin, 24 September 2007 @ 17:07
Using
tes..tes…
keposting ga ya?
husnudzon…
tidak perlu terlalu sinis terhadap pihak yang mungkin berbeda pendapat…apalagi kemudian menuduh kepada anti teknologi, dipolitisi, atau untuk untuk eksistensi kelompok tertentu saja…
baik hisab maupun ru’yah hilal (melihat bulan sabit) sama2 satu bentuk ijtihad…yang akan mendapat 2 pahala jika benar, dan tetap mendapat 1 pahala jika salah….
dalil yang digunakan untuk ru’yah pun kuat….
“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqarah: 189)
dalam hadits pun banyak, saya ambil satu yang kita semua sepakati sebagai hadits shohih…
Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081)
wallahu’alam bishowab
dalam hal kritisi terhadap “kelompok” ru’yah, saya setuju dengan om jay…kalau memang mau konsisten, seharusnya ru’yah ini dilakukan setiap akhir bulan….
maaf kalau kurang berkenan
Islam itu mudah karena sesuai fitrah, jangan dipermudah, dan jangan pula dipersulit
Senin, 24 September 2007 @ 20:07
Using
#9: Komentar anda sempat nyasar ke moderasi spam. Kebetulan masih bisa di-recover dari 500 sekian spam dalam 24 jam terakhir.
Selasa, 25 September 2007 @ 8:59
Using
Hmmm… yaa sebentar lagi lebaran dong bang Jay… asik asik.. makin cepat makin baik :)
Selasa, 25 September 2007 @ 15:17
Using
Lam kenal mas Jay, di recomment sama Wisnu anak AR92, sohib loe ,wah bagusssss…..poell abiess….
Selasa, 25 September 2007 @ 15:23
Using
#12: Salam kenal bang ben!
*gang bugis ninety nine*
Selasa, 25 September 2007 @ 16:23
Using
Tapi sunahnya sih ….Nabi melakukan Rukyat ,baru kemudian sebagian hisab…(ngak ikut sunah tuch..!!) gimana ,..hehe..just comment
Kamis, 27 September 2007 @ 5:07
Using
rukyat, melihat bulan (hilal) mutlak harus dilakukan, kalau merukyat jangan diatas gedung, atau didaratan, tapi untuk jelasnya di Laut, agar jelas terlihat bulan (hilal). Pakai perahu juga boleh.
Kamis, 27 September 2007 @ 8:47
Using
[...] Simulasi Rukyat [...]
Kamis, 27 September 2007 @ 15:23
Using
disitu yang disempurnakan 30 hari bulan sya’ban lho, bukan bulan ramadhan :D
kalo sya’ban 30 hrai, mungkinkah ramadhan juga 30 hari ?
Jumat, 28 September 2007 @ 1:44
Using
#17: Mungkin saja, dengan kondisi bulan Rajab dan Dzulqaidah 29 hari.
Dari setahun yang berjumlah 354 hari, biasanya ada 6 bulan berumur 30 hari dan 6 bulan berumur 29 hari, dan di setiap 12 tahun ada deviasi menjadi 7 bulan berumur 30 hari dan 5 bulan berumur 29 hari (sistem tabulasi sederhana para ahli hisab muslim dahulu).
Jumat, 28 September 2007 @ 4:02
Using
good post Jay. salam, wicak.
Jumat, 28 September 2007 @ 13:42
Using
[...] Baca juga: http://www.starlight.demon.co.uk/mooncalc http://www.ummah.org.uk/ildl/mooncalc.html http://mutoha.blogspot.com/2006/09/hilal-ramadhan.html http://rukyatulhilal.org/hisab-rukyat.html http://yulian.firdaus.or.id/2007/09/22/simulasi-rukyat/ [...]
Minggu, 30 September 2007 @ 17:36
Using
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ya,,,, :)
Rabu, 3 Oktober 2007 @ 12:00
Using
Orang yang puasa dan lebarannya pake rukyat , kok imsak dan buka puasanya pake jam ,kenapa nggak pake lihat matahari terbit maupun tenggelam,padahal dihadistnya tidak menyuruh pake jam?
Rabu, 3 Oktober 2007 @ 13:34
Using
saya ikut pemerintah saja
di negara lain katanya sering beda misal mesir dan saudi
tapi yang berbeda itu antar pemerintahannya, didalam negerinya sendiri kompak
cuma di indonesia 1 pemerintahan beda lebaran.
Rabu, 3 Oktober 2007 @ 21:53
Using
gini niy yah.. klo orang awam ngomong mslh agama.. :)
Kamis, 4 Oktober 2007 @ 16:53
Using
#AL BATAWY : SETUJUUU… setidaknya kita masih peduli dengan agama, ilmu, dan perkembangan. biarpun akhir2nya sih jadi followers ajah.. hehe. Dan enaknya, kita tambah wawasan tanpa memaksakan … belajar-belajar-belajar… smg Allah membukakan pintu hidayah untuk kita semua.. amiiin…
#All, jadi bertanya2 nih, kenapa mesti ada perbedaan ya? sama juga kenapa mesti ada bencana dan kenapa mesti ada perang… kenapa eh kenapa?
padahal kalo gusti Alloh mau, pasti menyamakan presepsi manusia itu mudah aja kan? menghentikan perang dan bencana juga hal yang sangat2 mudah, tinggal kun.. fayakun.. (mungkin??) padahal semua di alam semesta ini diciptakan buat kita, jadi termasuk juga hal2 yang tidak mengenakkannya..banjir, kebakaran, pembunuhan, ngerrriii deh.
Atau mungkin Allah menjadikan ini semua buat ujian aja ya? Dia ingin tahu gimana umat2nya yang ngakunya beriman itu menghadapinya.
Apa marah2 sambil menghujat-Nya (na’udzubillah deh), apa saling cakar sesama orang beriman? saling tuduh, saling berburuk sangka, saling melakukan hal-hal yang justru memecah belah umat?
Atau menerima ini sebagai garisan dari-Nya, menjaga kaki kita untuk tetap dijalan-Nya dengan mengharamkan daging dan darah sesama muslim, menjaga perasaan tetangga dan handai tolan, menahan mulut untuk mengeluarkan kata2 yang menyakiti sesama…
mohon maaf kalo ade sale-sale kate…
Jumat, 5 Oktober 2007 @ 5:09
Using
[...] dasar perhitungan penentuan awal bulan, selain mungkin anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang (simulasi) bagaimana rukyat dilakukan. Anda bisa membaca lagi informasi lain yang lebih komprehensif mengenai perbedaan penentuan dan [...]
Selasa, 9 Oktober 2007 @ 14:52
Using
bisa golput ya? ngak memilih…!
Kamis, 11 Oktober 2007 @ 8:48
Using
terima kasih Gus Jay, Hari
Sabtu, 3 November 2007 @ 15:19
Using
[...] Baca juga: http://www.starlight.demon.co.uk/mooncalc http://www.ummah.org.uk/ildl/mooncalc.html http://mutoha.blogspot.com/2006/09/hilal-ramadhan.html http://rukyatulhilal.org/hisab-rukyat.html http://yulian.firdaus.or.id/2007/09/22/simulasi-rukyat/ [...]
Sabtu, 22 Desember 2007 @ 20:25
Using
Bang Jay, bolehkan ijin untuk nge share artikel ini ke temans gue ? soale ane ditanya tentang hal kayak gini. Thank’s banget seblumnya.
Minggu, 23 Desember 2007 @ 15:06
Using
#30: Silakan.
Sabtu, 5 Januari 2008 @ 9:02
Using
Salam kenal mas Jay !
Senin, 28 Januari 2008 @ 7:07
Using
[...] Penetapan bulan baru kalender Hijriyah selalu berdasarkan pada dua metoda, yaitu rukyat dan hisab. Rukyat adalah mengamati visibilitas hilal (bulan sabit) saat ijtima, matahari terbenam di hari ke-29 bulan berjalan. Jika tampak berarti bulan baru sudah dimulai, jika belum berarti bulan berjalan adalah 30 hari. Sedangkan hisab adalah menentukan kalender berdasarkan perhitungan ilmu hisab atau astonomi dengan bantuan teknologi, termasuk komputer. (more…) [...]
Selasa, 11 Maret 2008 @ 19:20
Using
Ngikut pendapat yang paling kuat…
Kita telah memasrahkan sebagian urusan agama pada ulul amri (seperti dalam penentuan ini)
Demikianlah yang kami yakini paling kuat sebagaimana pendapat ulama-ulama terdahulu
Jumat, 11 Maret 2011 @ 11:22
Using
waduh materi berat nih bagi saya
Selasa, 20 September 2011 @ 15:36
Using
Seharusnya kita saling menghargai pendapat(ijtihad) orang lain dan tidak boleh saling menyalahkan satu samalain.