Dilarang Nongkrong
Minggu, 12 Agustus 2007M
29 Rajab 1428H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Nongkrong adalah budayanya orang-orang Indonesia saat berkumpul di luar ruangan. Bisa duduk bersama di satu meja –duduknya di kursi lah yaw– sambil minum teh atau kopi, bermain kartu, atau apapun yang bisa menjadi media pengakrab suasana. Saat ronda malam belum masuk jadwalnya, pos ronda pun sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak, menghabiskan malam sebelum diusir para orang tua dengan ancaman kutilanak bakal datang.
Tak hanya pos ronda, tempat lain yang dirasa nyaman seperti ujung gang, anak tangga, pinggir selokan, tembok rumah yang rendah, halaman kantor pos, box telepon umum dan lain-lainnya akan menjadi tempat nongkrong saat bisa diduduki atau dijongkoki. Apalagi jika ada gitar dan tamtam/ketipung, maka para tukang nongkrong akan menyumbangkan lagu alias membuat sumbang semua lagu yang dinyanyikan, membuat sedikit keributan yang kadang berakhir karena diusir tetangga yang katanya tak bisa tidur.
Meski tak ada tempat yang nyaman, namun nongkrong pun masih bisa disiasati agar tetap merasa nyaman. Salah satu keahlian orang-orang Indonesia adalah jongkok sempurna, menghindari angin atau agar tidak menghalangi orang-orang lewat. Namun hal ini ternyata berkaitan dengan anatomi tubuh, sebab tidak semua orang Indonesia mampu mengambil posisi jongkok sempurna. Jongkok sempurna adalah pantat menempel ke mata kaki dan telapak kaki menopang tubuh, tidak jinjit. Atau posisi sempurna di WC jongkok. Sedikit kedinginan, lutut sendiri pun dipeluk kedua tangan.
Ruang publik seperti lobby mal, tempat drop off, anak tangga di pintu masuk, selasar yang lebar adalah tempat potensial untuk nongkrong, tempat menunggu atau sebagai meeting point. Manajemen gedung yang memiliki tempat-tempat tersebut kini semakin banyak menyerap konsep dan budaya dari luar. Salah satunya adalah duduk di lantai atau jongkok menyandar ke dinding dijadikan sebagai sikap posisi tubuh yang tidak sopan.
Lebih buruknya lagi di tempat-tempat tersebut tidak disediakan atau dirancang agar orang bisa duduk. Orang dipaksa berdiri dan hanya bisa iri melihat tempat yang nyaman untuk duduk menunggu digantikan oleh deretan pot bunga seperti di selasar Bandung Indah Plaza yang cukup luas. Para Satpam pun pekerjaannya jadi hanya mengawasi orang dan mengusir mereka yang berusaha duduk nyaman di sebelah pot-pot bunga. Harga manusia sudah kalah oleh pot bunga.
Saya tidak tahu alasan mereka, saat saya duduk di lantai selasar BIP tersebut –di sebelah pohon, spot yang sebenarnya layak dipasang tembok rendah sebagai tempat duduk– juga disuruh berdiri dengan alasan “tidak enak dilihat”. Saya merasakan sesuatu yang salah, entah di pihak mana. Mungkin manajemen gedung terlalu mengacu pada budaya luar, di mana ruang publik dipenuhi orang-orang berdiri, sedangkan di sini, di Indonesia, jika tak ada kursi maka jongkok atau duduk di lantai/ground bukanlah sebuah masalah.
Solusi yang baik datang dari disiplin ilmu arsitektur. Arsitektur bukanlah pameran keramik yang dipakai, warna, jenis kaca, baja dan sebagainya, juga bukan pameran ruang-ruang kosong tanpa nyawa. Saya tak melihat solusi arsitektural di selasar BIP tersebut. Sangat jauh jika dibandingkan dengan halaman Plaza Dago yang dirancang untuk mewadahi budaya pengunjungnya; datang untuk nongkrong, duduk menunggu, baik di bangku, anak tangga plaza atau pinggiran kolam.
Popularity: 4% [?]


Minggu, 12 Agustus 2007 @ 20:21
akhirnya ilmu arsitekturnya bisa bermanfaat juga :P
Minggu, 12 Agustus 2007 @ 20:58
Jay, bikin fotonya kapan ya?
Minggu, 12 Agustus 2007 @ 21:03
Teu kenging calik dina caket pot kembang
Teu kenging Calik dina tehel
Kedah nyandak jojodog kanggo nyalira calik upami ameng ka bip sonten.
Minggu, 12 Agustus 2007 @ 21:41
Mungkin memang harus bawa kursi lipat sendiri.
Minggu, 12 Agustus 2007 @ 23:21
#4 nya eta jojodog tea… :D
btw saya juga pernah diusir waktu duduk di “kekembangan” di depan (lobi?) BEC, padahal mah itu cuma tanaman dummy aja. apa istimewanya sampai2 kita diusir?
masih kesel sama satpamnya….
Minggu, 12 Agustus 2007 @ 23:38
Kalau gitu, pengembang Plaza Indonesia itu lebih bagus dong. Soalnya ada tempat buat duduk-duduk di depannya (di sekitar taman) walaupun cuma di atas lantai keramik.
Senin, 13 Agustus 2007 @ 6:09
Gua pernah baca di buku semacam An Introduction Indonesia Society buat orang bule di Hotel, nah disitu di sebutkan. Bahwa salah satu kebiasaan orang Indonesia yg khas adalah menongkrong. Sampai dijelaskan beberapa halaman lengkap dengan gambar bagaimana mereka menongkrong, serta apa yg mereka lakukan ketika mereka menongkrong.
Mungkin kalau di BIP sebenarnya mereka mengakomodasi untuk menongkrong tapi sebisa mungkin nongkrongnya di Cafe2 saja agar tenant senang, manajemenpun senang.
Kalau di banding BIP, IMHO Ciwalk masih lebih bisa mengakomodasi kebutuhan menongkrong para pengunjungannya bukan begitu Jay?
Setelah ini lu bakal nulis ttg Public Spaces yg tidak terakomodasi di Kota2 besar? :-)
Senin, 13 Agustus 2007 @ 8:09
indonesia memang minim ruang publik. kalopun ada, itu pun di moll yang tentunya harus mbayar minuman/makanan hanya demi nongkrong..
Senin, 13 Agustus 2007 @ 8:17
temen gua pernah di usir sama GUARD waktu di Hongkong,gara2 dia duduk di bangku panjang,…..ternyata bangku itu utk upacara keagamaan….(habis bangku itu nyaman sih),menghadap pemandangan lagi….
Senin, 13 Agustus 2007 @ 8:34
yoa, ampun dj banget. secara dibanding jaman abegeh dulu BIP emang udah jauh lebih mendingan di latar sekarang lebar, dah ga ada jualan gogok/uler/dkk (tukang sirkus kaleee), tapi kalo diliat2 apa ga bisa bedain kita penari uler ato pengunjung yg butuh public space?
loncat ke Riau Junction, disana suasana di dalem juga bolelah, nah pertanyaan berikutnya jalan di trotoar dari BIP ke Riau Junction hasilnya = menyedihkan. Ga kepikiran apa pemda bisa bikin trotoar 15-25 meter yang emang diperuntukkan buat pejalan kaki supaya continuity nya bisa terjadi? lah Orchard Road itu apa sih istimewanya? secara kata gua sih bukan gedungnya, tapi ya itu trotoarnya. Ayo pak bikin buruan, keburu pada pemilik lahan bikin gedung/bangunan seenaknya ga ada lagi space buat claim trotoar publik.
Ciumbuleuit? Jangan tanya deh! Menyedihkan!!!… *hopeless.
Senin, 13 Agustus 2007 @ 8:53
Jay, yang pake baju pink siapa namanya?
Senin, 13 Agustus 2007 @ 9:02
Hiks, saya diusir satpam euy. Btw, dilarang menggeser pot katanya. Boro-boro geser, berat euy.
Senin, 13 Agustus 2007 @ 9:41
pot? tub?
Senin, 13 Agustus 2007 @ 10:54
huehehehe…
iya, ternyata memang cuma orang indonesia yang begitu… *senyum senyum*
tapi jay, mungkin pelarangan itu punya maksud baek. coba kalo dibolehin, bisa-bisa nongkrongnya di luar. kagag belanja belanja deh…
:P
Senin, 13 Agustus 2007 @ 11:00
ya, saya?
Senin, 13 Agustus 2007 @ 11:26
sux pokoknamah
duduk gak boleh, poto2 diluar gedung juga gak boleh (emangnya kedutaan US), kalo kata jay mah bijimana bisa dipromosiin kalo BIP itu enak, banyak spot yang nyaman; kalo ngambil gambar kenyamanan itu aja gak bolehhhhhhh….
udah kita nongkrong di warung indung sahaja sampe tutup, lagian ke BIP itu cuman buat nongtong doang hihihihihi
Senin, 13 Agustus 2007 @ 11:30
lama gak nongkrong di bip, gramedia dan sekitarnya. taun ‘90 saya suka nongkrong sendirian aja disekitaran situ kalo abis pulang kuliah malem. dulu mah gak diapa-apain, apa karena malem kali ya? diatas jam 21 sih…
gak tau deh kayak apa sekarang bip dan sekitarnya itu sekarang. kalo pulang ke bandung cuma nongkrong dirumah mertua aja gak kemana-mana. kapan-kapan saya maen lah jay ke tempat ente…
nyambung teu nya?
Senin, 13 Agustus 2007 @ 12:51
wah, suka nongkrong di gramedia, baca buku… (gak kebeli seeh)
Senin, 13 Agustus 2007 @ 15:31
sebulan yang lalu saya ke bandung,dan duduk deket pot bunga di BIP juga kena usir..hahahaha
Senin, 13 Agustus 2007 @ 17:08
informasi yang menarik, Trims
Senin, 13 Agustus 2007 @ 23:47
stuju kang Ngorejay!!! btw, fotoin doooong!
p.s. balik ke “arsitektur” ni ye :))
Senin, 13 Agustus 2007 @ 23:51
Kadang antara aestetika dan fungsionalitas kadang sering bertolak belakang. Hanya buat kita2 sih – apapun bisa jadi tempat tongkrongan.. good friend, great talks – then there it is –> nongkrong!
Selasa, 14 Agustus 2007 @ 0:24
untung gak pernah di usir :D
*emang gak penrah nongkrong* :P
Selasa, 14 Agustus 2007 @ 10:55
di plaza surabaya, depan mcD, terkenal buat tempat nongkrong, apalagi malam minggu, diatas jam 10 malam. Makin malem makin rame..
Itu 2 tahun lalu. Apa sekarang udah dilarang juga???
Selasa, 14 Agustus 2007 @ 15:15
Kan di BIP udah berjejer kafe-kafe buat tempat nongkrong.
Jangan kaya orang sengsara dong ah!
*nerusin ngitung duit seribuan yang tersisa bulan ini*
Selasa, 14 Agustus 2007 @ 16:45
di depan masjid agung masih bisa ditongkrongin tuh, sambil mungut parkiran.
*lam kenal mas jay*
Selasa, 14 Agustus 2007 @ 21:25
Konon, kata anak-anak gaul, tempat nongkrong itu yang
empty-VMTV. Ahh… dasar abegeh! :DRabu, 15 Agustus 2007 @ 9:33
nggak bisa disalahkan memang budaya bangsa kita suka nongkrong, ngerumpi, ngeriung, kongkow ..apapun itu. Cuma memang menyebalkan kalau nongkrong di tangga tangga mall atau pintu masuk,..mau lewat jadi susah..
Rabu, 15 Agustus 2007 @ 16:04
Anu kitu teh kapungkur mah disebatna “gank kingreup,” kang, alias namgkring di hareup. Mau ada obyekan, kerjaan atau tidak yang penting kingreup, saurna.
Rabu, 15 Agustus 2007 @ 17:46
untung pe saat ini gw ga pernah diusir gara2 nongkrong ^_^
malu juga yakss.. pa lagi klo nongkrongnya sendirian..
Kamis, 16 Agustus 2007 @ 11:30
Nongkrong emang aktifitas yang mengasyikkan, tapi kalo rame-rame, kalo sendiri mah bete bgt
Kamis, 16 Agustus 2007 @ 22:57
wah abi mah tos lami teu ka BIP, meuni sae kitu poto na mah, kapungkur mah abi osok dagang poster tah di payunana, teu tiasa deui nyak ayeuna mah. Ai dagang mah teu sawios lah dilarang, tapi calik hungkul diusir mah teu kira2 atuh nyak.
Jumat, 17 Agustus 2007 @ 9:23
nice artikel….:)
Jumat, 17 Agustus 2007 @ 13:29
ini aku jauh-jauh dari Papua, ujung timur Indonesia mampir di situs ini. Bagus dan mantap, ada banyak teman bisa saling berbagi cerita, bertukar pengalaman, cerita seapa adanya, dan itulah yang paling penting. Salam khusus buat teman-teman di Malaysia yang setiap hari semangat dan penuh cerita.
Tulisan di atas sangat menarik untuk disimak. daaa…………
Senin, 20 Agustus 2007 @ 16:50
Yang lebih edan adalah budaya nongkrong di pinggir jalan. Coba nanti perhatikan kalau Anda keluar kota menggunakan mobil, melewati daerah perkampungan. Saya sering sekali menjumpai kumpulan remaja/pemuda bahkan orang tua sore-sore duduk2 di pinggir jalan, tepatnya nongkrong di pinggir jalan. Pantat menghadap ke aspal pinggir jalan. Kadang saya berpikir, kok berani sekali ya mereka itu duduk seperti itu. Apa tidak kuatir disenggol mobil atau kendaraan lain yang lewat? Atau kekurangan tempat untuk duduk-duduk dan ngobrol bersama teman?
Sabtu, 25 Agustus 2007 @ 19:56
BIP Bandung Tidak Sama Dengan BIP Bogor.
Duduk ditangga Masuk Mall silahkan, Nyender, Ngerokok,
Nongkrong,aja di Pangrango Plaza Bogor
Minggu, 9 September 2007 @ 11:30
Sumuhun atuh Kang, teu kenging cingogo/nagog (komo deui bari nangkeup tuur) dina payuneun plasa mah….da bisi aya nu ngaborosot (teu kahaja) anu bau tea lah. Tah kumaha lamun kajanteunan siga kitu, pan urang nyalira anu ripuh teh, sanes kitu? *gogodeug*
Kamis, 13 September 2007 @ 15:54
Teu kenging calik dina GOLODOG bilih nongtot jodo – saur sepuh
Teu kenging calik di salasar BIP geleuleh cenah – ceuk saptam
Cag Ah Kang Jay
Minggu, 16 September 2007 @ 13:41
emang enak nongkrong apalagi di dalem gang sambil gitar2 n bakar2 asyik nich……
Minggu, 27 Januari 2008 @ 22:45
saya tertarikdengan budaya nongkrong. saya seorang pemain teater,sedang survey tentang prilaku tubuh yang satu ini. yang kata anda sering dia anggap “nggak sopan” mungkin oleh modernisme.mungkin. karena ini budaya yang sangat natural dimiliki orang timur.
btw saya sedang riset prilaku-prilaku manusia di jalan, pinggiran jalan,mal-mal,dll. nongkrong saya pikir salah satunya.jika anda punya referensi perihal diatas, saya ucapkan terima kasih jika andamau sharing datanya.
thanks. jamal dari jogja
Senin, 3 November 2008 @ 20:05
saya juga mengalami pengalaman sudut pandang berbeda.
saya seorang pedagang jasa yang membuka ruko di daerah perkampungan.
nah permasalahnnya adalah setiap malam (jam 19.00-mlm) di depan ruko saya banyak anak muda(pengangguran khususnya)yang nongkrong sehingga sangat mengganggu usaha saya. hal ini juga mersahkan jika mereka sampai dengan minuman beralkohol.
gimana ya caranya mengusir mereka baik2?
bila ada saran saya ucapkan terima kasih
kukuh.anggoro@gmail.com