Kafe Warung Indung

Sabtu, 4 Agustus 2007M
21 Rajab 1428H

Duduk santai mengobrol di kafe telah menjadi budaya kota besar, termasuk di Bandung sejak beberapa tahun lalu. Tidak hanya obrolan santai saja, urusan bisnis profesi pun bisa dilakukan di sana. Kafe berasal dari kata cafe yang artinya kedai kecil tempat minum dan makan. Pada awalnya hanyalah tempat yang relatif kecil, tidak sebesar restoran, selalu ada kopi dan makanan kecil lainnya. Saat ini tempat yang layaknya bernama restoran juga sering disebut kafe.

Kota Bandung mempunyai satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar kota, yaitu wisata makan. Tidak saja hanya makanan khas Sunda tapi juga makanan lainnya yang diimpor dari luar kota maupun luar negeri tersaji di banyak kafe, restoran dan hingga warung-warung tenda pinggir jalan. Hingga kadang saya berpikir makanan enak dari manapun sangat berpotensial laku dijual di kota ini.

Kafe pun bisa berkelas-kelas, ada kelas ekonomis, ada kelas borjuis ataupun kelas hedonis. Ini bukan klasifikasi mutlak, juga tidak ilmiah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, hanya supaya terdengar berima saja. Kelas ekonomis bersifat murah meriah, kualitas tak penting, yang penting murah (apalagi jika banyak), seperti warung Supermie telor (sekarang lebih tenar merk Indomie), bubur kacang ijo dan ketan item (disingkat burcangketit) dan sajian kopi tubruk. Kafe seperti ini saya kenali di pertengahan 1980-an, biasa dikunjungi para peronda penjaga malam komplek perumahan.

Kafe borjuis menjadi tempat kunjungan mereka yang umumnya berpendidikan lebih tinggi. Mereka tidak hanya berpikir soal mengisi perut, tapi juga sebagai gaya hidup, atau kebutuhan sekunder lainnya. Kafe seperti ini sering dikunjungi oleh mereka yang membutuhkan apa yang tidak dimilikinya. Misalnya bisa menonton acara TV dengan layar yang lebih besar, bisa duduk berlama-lama di sofa yang empuk atau mengakses internet yang gratis –iya, di Bandung banyak kafe dengan hotspot wifi gratis– selama berjam-jam dengan komputer jinjing bertenaga batere. Jika borjuisme anda terganggu karena soak-nya batere laptop; segera saja hubungi Juragan Batere.

Kafe hedonis adalah kafe tempat berhura-hura. Umumnya diwarnai dengan pentas tarian dan musik secara langsung di panggung dengan lantai dansa tempat ajojing seperti di diskotek. Bahkan sering dihiasi dengan lampu warna-warni kelap-kelip sehingga terlihat gemerlap. Jadilah disebut dunia dugem gemerlap yang tidak dikenal di jaman jadul dulu.

Jay menjadi model di Warung Indung

Dari sekian banyak kafe dengan berbagai kelasnya tersebut ada satu kafe di jalan Riau yang cukup menarik, yaitu Warung Indung. Kafe ini dibangun dari sebuah rumah lama, mungkin rumah tahun 1970-an yang sedikit direnovasi. Seperti layaknya rumah tinggal, sekitar lima ruangan diisi dengan sofa dan meja-meja makan, termasuk halaman teras depan dan teras belakang, ditambah satu ruangan luas seperti pendopo.

Yang menarik lagi dari kafe ini adalah makanan yang disajikan cukup murah dibanding kafe lain yang menyodorkan tempat dan suasana yang sama. Indomie telor kornet, nasi goreng, kopi tubruk –oh ya, kopinya Kopi Aroma– roti bakar, bubur ayam, nasi bumbu, coklat panas, dan berbagai camilan lainnya. Tentunya makan indomie telor seharga Rp3.500 di tempat ini jauh lebih nikmat daripada di warung tenda Madtari yang selalu sesak dan di pinggir jalan dekat BCA Dago. Oh ya, alunan musik sayup-sayup selalu ada seperangkat tata suara sederhana dengan DVD player dan setumpuk CD-CD Audio/MP3.

Lokasi tepatnya berada dekat dengan perempatan jalan Lombok-Riau, di seberang Oriflame. Yang kurang bagi para musafir benwit adalah belum tersedianya internet hotspot.

Berikut foto-foto hasil jepretan Oki dengan kamera punya Mira. Oh ya, terima kasih buat Abiwara yang telah mengenalkan tempat ini.

Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung Warung Indung

Popularity: 5% [?]

Komentar

28 komentar untuk catatan 'Kafe Warung Indung'

  1. #1
    gravatar

    kayaknya enak kalo malem ini ngumpul lagi disana yak, ada yang bisa pesenin tempat.. tempat enak kaya gini malming bisa penuh.

  2. #2
    gravatar

    ajak kesana atuh kang…. :(

  3. #3
    gravatar

    No komen :|

  4. #4
    gravatar

    selama ini yang saya sebut kafe cuma yang kamu sebut kafe borjuis itu, Jay. yang kafe hedonis bukan kafe tuh.
    lihat foto2nya, weh enaknya, bisa buat tidur2an tidur kalo tempatnya kayak gitu.
    btw, dimana saja kafe di bandung yang hotspot gratis? *gak bisa denger yang gratis*

  5. #5
    gravatar

    Wah kalo tempatnya enak, bisa jadi bela belain nongkrong bawa HSDPA router, bikin mobile hot spot =)

  6. #6
    gravatar

    wuih, asik tuh tempatnya. cozy banget. cobain ah. :D

    -IT-

  7. #7
    gravatar

    Kelas ekonomis kalsu di Surabaya terkenal juga dg nama “warung gresik’an”. Emboh ora weruh kuwi asal mula katane yoopo.

  8. #8
    gravatar

    wah ada wesley

  9. #9
    gravatar

    Wah, dari foto-foto, kayaknya tempatnya enak Jay. Hmmm… kapan ke Bandung lagi ya?

  10. #10
    gravatar

    boleh juga. keliatannya santai apalagi untuk approach total stranger. friendly, peace, bisa nyari temen baru.

  11. #11
    gravatar

    hmmmmmmm……

  12. #12
    gravatar

    tempatnya enak!

  13. #13
    gravatar

    Akan jadi sempurna jika dilengkapi akses internet gratis ya.. Menunya variatif gak? Gak ada indomie gak? Sayang gak dibahas. But thanks buat that great alamat Bro! Akan dicoba pas ke bandung.

  14. #14
    gravatar

    Setiap merhatiin kafe, mau yang kelas ecek-ecek atau borju, saya sih kagum aja sama ketrampilan desain interiornya. Rasanya kebanyakan punya citra rasa seni gitu dan yang di atas salah satunya. :)

  15. #15
    gravatar

    Nice place… Entar kalau saya ke Bandung kudu mampir nih…
    Ngomong2 *walo ultahnya dah lewat* kapan nih nraktir di Warung Indung? Kalo Jay pasti dapet discount donk kan dah ikut promosiin.. :)

  16. #16
    gravatar

    Eh om, menu makan besarnya harganya berapa (mis. nasi goreng, internet) ? Rasanya enak gak ?

  17. #17
    gravatar

    sepertinya menjamurnya lokasi yang “home-based” gini terjadi karena tidak ditemukannya suasana “rumah” di rumah kita.

    dan inilah yg dilihat potensinya oleh si pemilik kafe, sehingga yang dijual adalah “suasana rumah”-nya yang ternyata kok ya pas yang datang yang merasa rumah hanya sebagai tempat tidur..

    bukan berarti yg nongkrong di kafe-kafe kek gitu rumahnya ndak nyaman lo ya.. :)

  18. #18
    gravatar

    dari situ, ke cilot… disuruh naik taksi… terus… yah, gitu lah.

  19. #19
    gravatar

    [...] aneka steak di Suis Butcher. Saya mengetahui kafe ini setelah membaca tulisan Mas Yulian tentang Warung Indung. Ya sudah, kami memutuskan untuk mencobanya. Ternyata memang benar. Suasana kafe ini sangat [...]

  20. #20
    gravatar

    Cafe apaaan seeh
    alamatnya dmn …
    mo dong ikutan

  21. #21
    gravatar

    Bandung is the best…!

  22. #22
    gravatar

    [...] tempat makan murah murah *relatif*. [...]

  23. #23
    gravatar

    Setujuh, temuan yang menarik, kalo ga salah itu pemilik rumah dan mkn pemilik kafenya juga dekan FSRD ITB yang sekarang Biranul Anas Zaman

  24. #24
    gravatar

    “Kafe borjuis menjadi tempat kunjungan mereka yang umumnya berpendidikan lebih tinggi. Mereka tidak hanya berpikir soal mengisi perut, tapi juga sebagai gaya hidup, atau kebutuhan sekunder lainnya.”

    sori nih om jay, gak setuju ah. justru dari pengamatan saya, yg menuh2in cafe borju cenderung orang orang yg tidak berpendidikan. imho ah.

  25. #25
    gravatar

    Tempat yg asyik banget… Nyantei abizzz….

  26. #26
    gravatar

    [...] in a new community. apalagi waktu ikut Respito nongkrong bareng komunitas grunge Bandung di Warung Indung. abis numpang sholat, gw ngabur ke KFC. hm..sumpah norak abis! sorry, guys.. but i can’t [...]

  27. #27
    gravatar

    [...] in a new community. apalagi waktu ikut Respito nongkrong bareng komunitas grunge Bandung di Warung Indung. abis numpang sholat, gw ngabur ke KFC. hm..sumpah norak abis! sorry, guys.. but i can’t stand [...]

  28. #28
    gravatar

    @markong@bocah lagi : lebok tah KFC…banyak duit kali yaa…kalo gak suka gak usah dateng lagi n jangan ngejelek2in…

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.