Alun-alun Bandung

Senin, 11 Juni 2007M
26 Jumadil Awal 1428H

Taman kota atau ruang publik terbuka adalah salah satu fasilitas umum sebuah kota sebagai hak warga kota yang harus disediakan oleh pemerintah kota. Fasilitas ini sudah menjadi peradaban dan kebudayaan di setiap negeri, termasuk sejak kerajaan-kerajaan nusantara silam hingga sekarang ini. Meski ruang publik tak pernah lepas juga dari fungsi simbolik kekuasaan penguasa wilayah, namun dalam setiap masanya ruang berbentuk lapangan luas di sekitar pusat pemerintahan sudah dirasakan sebagai milik warga, atau bersifat publik.

Di Indonesia, lapangan luas di depan pemerintahan, kecamatan atau kabupaten/kotamadya, disebut sebagai alun-alun. Sebuah lapangan luas dikelilingi oleh pusat pemerintahan (kantor camat/bupati/walikota), pasar, penjara (atau kantor polisi/militer/keamanan) dan tempat peribadatan. Sebuah pemintakatan (zoning) arsitektur kota yang sudah berabad-abad umurnya.

Dahulu kala, para raja menggunakan alun-alun tersebut untuk kepentingan formal pemerintahannya, misalnya upacara kemiliteran atau formal non-militer, upacara peribadatan atau pun sebuah pesta dan pasar malam. Konsep yang sama juga ada di mancanegara meski berbeda pemintakatannya, yang disebut sebagai plaza atau townsquare.

Warga merasa memiliki alun-alun karena di situlah pusat informasi, pusat keramaian, pusat acara-acara besar, tempat bermain yang luas, bazaar, bahkan hingga malam hari bermain di bawah terangnya bulan dengan perasaan nyaman. Tak lupa alun-alun juga adalah sebuah citra kota.

Sebelum ada konsep kotamadya, semua kota disebut sebagai kabupaten, karena dipimpin oleh seorang bupati. Begitu juga alun-alun kota Bandung ini, berada di depan kantor Bupati Bandung. Cukup tragis ketika kantor Bupati Kabupaten Bandung dipindahkan ke Soreang. Yang mendirikan Bandung (beberapa bulan sebelum Daendels juga mendirikan pusat pemerintahan kolonialnya) justru yang diusir dari lokasi sejarahnya. Kita lupa bahwa orang-orang yang layak disebut orang Bandung asli adalah mereka yang lahir dan tumbuh di Cililin, Soreang, Dayeuhkolot, Banjaran, Majalaya, Bale Endah, Ciparay, Pangalengan, Cicalengka dsb. Kota Bandung sendiri hanyalah kota baru yang banyak diisi pendatang.

Balaikota Bandung yang diapit jalan Wastukancana, Aceh dan Merdeka tak bisa memberikan konsep yang sama seperti alun-alun Bandung. Meski taman balaikota yang bersih dan rindang juga tak boleh kita abaikan sebagai taman yang menjadi hak warganya. Dalam konteks arsitektur, Kotamadya Bandung telah korup terhadap sejarah Kabupaten Bandung.

Saat berada di kota lain, biasanya saya tak lupa menyempatkan menikmati alun-alun kota tersebut. Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Kebumen, Yogyakarta, Malang dan Makassar adalah kota-kota yang pernah saya singgahi dan nikmati suasana alun-alunnya. Selalu ada senyum saat melihat banyak orang bermain, duduk-duduk dan berlari-lari menikmati senja dan temaramnya malam.

Selama bertahun-tahun alun-alun Bandung ditutup karena proyek pengembangan masjidnya yang berubah nama menjadi Masjid Raya Bandung yang diresmikan selesai pembangunannya pertengahan tahun 2003 yang lalu. Empat tahun lebih alun-alun Bandung hilang dari pandangan. Mungkin pula orang-orang sudah melupakannya.

Beberapa bulan yang lalu alun-alun Bandung dibuka kembali, dengan wajah barunya yang jauh lebih menarik, lebih bersih dan masih nyaman, meski tak senyaman suasana tempo dulu. Anda merasa tak nyaman menikmati alun-alun (atau lapangan Tegallega dan Gasibu)? Mungkin anda belum menjiwai hak anda sebagai warga kota, atau memang pemerintahan kota belum berhasil memberikan kenyamanan kepada warganya.

Selamat datang kembali alun-alun Bandung!
Welcome back my friends to the show that never ends.

Popularity: 5% [?]

Komentar

38 komentar untuk catatan 'Alun-alun Bandung'

  1. #1
    gravatar

    eh ada sayah, gaya yah hihi

  2. #2
    gravatar

    Hey, makasih atas infonya. Udah lama nggak jalan ke sana. Selalu sedih melihat alun2 yang hilang. Kota Malang (dan aku yakin banyak kota lain) mengalami hal yang agak serupa. Alun2 berada di depan Kantor Kabupaten. Lalu wilayah dibagi jadi kotamadya dan kabupaten, dan kotamadya punya kantor baru (dengan alun2 kecil yang kurang pas untuk jalan2). Lalu suatu hari Kantor Kabupaten harus dilarikan ke wilayah Kabupaten (luar kota). Lalu alun2 tak lagi menjadi pusat apa2. Tapi di Malang, alun2 belum dihilangkan.

  3. #3
    gravatar

    Waktu masih kecil, sering diajak ortu ke alun-alun cuma untuk liat air mancur nya saja. Sekarang masih ada gak air mancur nya ? Gak pernah maen ke sana soalnya, males parkirnya …

  4. #4
    gravatar

    “…meski tak senyaman suasana tempo dulu…”

    Ini yang memang terasa benar, buat saya mungkin bukan se’nyaman’, tapi se’publik’ tempo dulu. Dulu justru lebih merasa ‘berhak’ terhadap keberadaan alun-alun kota, misal ketika nangkring minum teh botol sembari melenggang motong jalur kalau parkir mobil di lahan parkir utara alun-alun mau ke sebelah selatan. Sekarang serasa ‘milik’ masjidnya. Rasanya kurang pas kalau cuma sekedar ‘makan angin’ di halaman masjid.
    (Atau karena saya merasa ‘makan angin’ itu bukan di masjid ya? da mampir ka masjid ngan Jumatan wungkul)
    btw, aralus fotona euy!

  5. #5
    gravatar

    #3: Aya keneh da Ki, cenah mah meniru taman gantung Babylonia (ngan keur teu mancur caina). Gambar nu di luhur klik we jang ningali resolusi gedena.

  6. #6
    gravatar

    Baru sekali menginjakan kaki di alun-alun Bandung yang baru. Saya inget sekali, malem tahun baru pertama di Bandung, perginya ke alun-alun, kebiasaan waktu di kampung, kalo mau cari yang rame-rame, perginya ke alun-alun.

  7. #7
    gravatar

    aku kok tiba tiba amnesia yah. Wastukencana yang mana, Aceh yang mana….doh padahal tinggal di sana selama 10 tahun :(

  8. #8
    gravatar

    #7: Hihihi, kalo jalan Merdeka dan Wastukancana cukup jelas lah, sedang jalan Aceh memang ruasnya banyak, dari kantor DPRD Bandung, Hyatt, Kodam Siliwangi, Taman Maluku, gelora Saparua, stadion Siliwangi sampe mentok di pom bensin Riau (dekat taman Pramuka) adalah jalan Aceh.

  9. #9
    gravatar

    terakhir ke bandung, ak tersasar. Gak usah diceritain, jadi malu…

  10. #10
    gravatar

    Jay, keliatannya gersangnya nya?

  11. #11
    gravatar

    Bandung ayeu na mah heurin pisan komo saprak jalan akses lebih gampang …. beuki hoream weh jalan2 teh. eh teu nyambung nya … tapi kang Jay pernah ka Alun – Alun Kab Tasikmalaya teu di Singaparna – Sagala Aya Kang jay. Hehehehehehe Cag Ah

  12. #12
    gravatar

    Surabaya kini juga mulai berbenah lho.. Taman bungkul sekarang udah lumayan dibandingkan dulu. Semoga pemerintah dimanapun juga semakin memperhatikan lahan hijau.

  13. #13
    gravatar

    Wah, terakhir lihat, alun-alun masih dipagari. Eh, sekarang udah cakep. Semoga masih tetap cakep saat aku kembali ke Bandung.

    Alun-alun yang dulu kayak apa ya? Samar-samar ingatnya, karena yang paling aku ingat itu yang kumuh, banyak tuna wisma dan PKL.

  14. #14
    gravatar

    “Kita lupa bahwa orang-orang yang layak disebut orang Bandung asli adalah mereka yang lahir dan tumbuh di…”

    horeee … berarti jagoanku anak bandung asli ya, om jay? ;))

  15. #15
    gravatar

    terimakasih untuk ulasannya. saya penasaran dengan perkembangan tempat yang satu ini. ini ruang “publik” yang bakal aku kunjungi saat pertama kali sampai di Bandung, beberapa minggu lagi :)

  16. #16
    gravatar

    Tos lami teu ka alun-alun euy. Naha teu aya tatangkalan nya kang?

  17. #17
    gravatar

    #10: Mungkin pohonnya belum tumbuh, tapi di pinggir alun-alun (timur dan selatan pohonnya masih tinggi dan rindang), di tengah lapangan memang pohonnya jadi sedikit.

    #13: Alun-alun dulu physically ga kumuh sih, Jo. Suasananya yang dulu (makin) kumuh.

    #14: Hoehehehe. Salam buat si jagoan Ihsan.

    #15: Hore hore, Lady Dayeuh of Oldcity mudik dari Tempe.
    *naha sih tebih-tebih ka mancanagara malah ka Tempe? Tempe mah seueur di dieu oge*

    #16: Meureun hese melakna, da handapna kan jadi parkiran (basement).

  18. #18
    gravatar

    #14: berarti sayah asli urang bandungnya lain urang soreang, tapi nahanya lamun naek angkot soreang si kenek sok ngomong “bandung.. bandung ..bandung..” :D

  19. #19
    gravatar

    berarti sayah urang bandung, tapi naha kenek angkot sok jojorowokan “bandung ….bandung…bandung”

  20. #20
    gravatar

    #18: Tong boro ti Ciwidey atau Soreang, Mang Ipan, ti Sarijadi nu caket ka kota kitu kapungkur mah sering da ngadangu dialog kieu:
    “Bade ka mana?”
    “Bade ameng ka Bandung.”
    “Pan ieu teh di Bandung keneh.”
    “Sanes, ieu mah Sarijadi.”

  21. #21
    gravatar

    alun alun ala tahun 80-an adalah tempat neangan ublagh… masih ada ublagh gak yah disana…?

  22. #22
    gravatar

    Untuk Pak Koncoro, di Malang sempat dipenuhi pedagang kaki lima (khas Indonesia). Takutnya, yang di Bandung juga begitu. Ironis, pemerintah kota biasanya menghilangkan pedagang dengan memberi pagar seperti yang ada di Monas.

  23. #23
    gravatar

    #21: Wah, testimoni seorang pelanggan, nih?
    wts, psk, ublag, telembuk, jadah… you name it!

  24. #24
    gravatar

    selama di bandung .. blom pernah ke alun-alun bandung sama sekali…

  25. #25
    gravatar

    Alun2 mah kenanganku waktu dulu ama si dia hehee
    jadi inget nh…

  26. #26
    gravatar

    btw, kalo yg lahir di kircon gmn ?, apakah bisa disebut juga orang bandung ?

  27. #27
    gravatar

    saya teh bukan orang bandung… cuma expatriat… :P

  28. #28
    gravatar

    #26: Hiahahaha, itu kan cuma penegasan, yang udah tinggal lama di kota Bandung belum tentu ‘pituin Bandung’, bukan berarti mengabaikan mereka, justru pendatang di kota Bandung-lah yang juga ikut berjasa membangun kota ini.

    Ada banyak kok orang yang dari luar Bandung tapi karena tinggal sejak kecil di Bandung yang jauh lebih merasa sebagai orang Bandung dan berharap Bandung tetap nyaman dan selalu maju.

  29. #29
    gravatar

    #27: Namamu menipu Dham. Nama Somantri itu nyunda pisan.

  30. #30
    gravatar

    Haduh… dari dulu pengen ke Bandung.. :( :( :( tapi kapan ya :( :( :(

  31. #31
    gravatar

    koq yang lagi berpegangan tangan tidak ada?

  32. #32
    gravatar

    Jay, ikut nimbrung…
    Berarti saya juga bukan orang asli Bandung ya? Padahal saya asli lahir di Bandung lho..
    Tapi Ok informasinya… dah lama saya ga maen ke Alun-alun Bandung, dikirain masih seperti yang dulu…

  33. #33
    gravatar

    #31: Hehehe, yang itu cukup di kalangan terbatas saja.

    #32: Saya gak terlalu meributkan definisi “orang Bandung asli”. Hanya saja mereka yang sejak kecil lahir di Bandung, bahkan kakek buyut mereka juga orang Bandung (di mana kakek buyut mereka bukanlah penghuni Kodya Bandung), justru yang menjadi terpinggirkan saat ini. Bahkan penghuni di luar Kodya Bandung dilabeli “Bandung Coret”.

  34. #34
    gravatar

    Ruang publik ataupun ruang terbuka hijau untuk kota Bandung adalah harta berharga. Di tengah kian terpinggirkannya lahan terbuka menjadi pemukiman, FO, sekolah internasional(sebagai contoh : kawasan punclut)keberadaan Alun-alun Bandung dan taman-taman baru bekas SPBU memang patut disyukuri. “Ngan parkir di basement Alun-alun teh asa ngaraos teu aman, kang. Duka kunaon, tah ? :D Langkung reugreug di pertokoan – Dalem kaum & Kepatihan.

  35. #35
    gravatar

    wadugh nyarioskeun bandung nya!!!alun2 selalu mengingatkan diriku tentang masa kecilku….dulu sering diculik ma om tetangga heheheheh alias diajak jalan2 pake mobil kijang jadulnya….wuihhh indah banget pokonya……
    mantap lagh pokonya alun2 terbarunya…….
    oh iyagh saya orang bandung asli bukan yagh??hehehe coz saya lahir didaerah balubur tapi gede di batujajar hahahahahah

  36. #36
    gravatar

    seLama aLun2 bandung yang baru diresmikan………….
    belum pernah saya sempaT menginjakkan kaki di sana…
    padahal saya sering lewat alun2,,,alun2 adalah salah satu tempat fvorit saya waktu kecil…….

    hhhhhhhhhhhhh,,,memang semua sekarang sudah berubah…….

  37. #37
    gravatar

    Bagaimana sih sebenarnya definisi yang konkrit dan teknis tentang taman kota om? saya benar-benar bingung dengan definisi yang ada sekarang. taman kota itu sebuah produk atau fungsi ? yang tahu jawabannya tolong kunjungi alphabetablog. oh ya Bandung kalau santai-santai bisa kesalip surabaya lho.

  38. #38
    gravatar

    kang kirim gedung-gedung bandung nu baheula!

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.