Statuephilia
Senin, 28 Mei 2007M
13 Jumadil Awal 1428H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Real Time GPS Vehicle Tracking Live Tracking 10 Second Updates
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Seorang artis dengan mahakaryanya kadang sering berdekatan dengan konsep bermain-main menjadi tuhan, atau playing god. Bahkan mitos-mitos menyampaikan cerita sang artis jatuh cinta kepada ciptaannya sendiri, dan ingin menghidupkannya. Sebuah hasrat ego pikiran manusia, jenius dan gila yang menyatu. Mitologi Yunani punya cerita Pygmalion, perupa yang menciptakan patung Galatea, yang atas restu dewi Venus; dihidupkan.
Dalam film modern, tahun 1987 film Mannequin merupakan adaptasi (tentunya dipelintir agar menarik) cerita Pygmalion-Galatea di atas, termasuk juga film S1m0ne yang dibintangi Al Pacino yang jatuh cinta kepada computer generated image ciptaannya (dari Simulation One) untuk menjadi aktris film. Ketenaran aktris virtual tersebut membuat orang bertanya siapakah Simone, karena tak pernah ada wujud fisiknya in real life. Sampai suatu saat, Al Pacino sebagai Viktor harus membunuh Simone.
Kegilaan pada sesuatu seperti di atas akhirnya menjadi kosakata baru, yaitu statuephilia, sebuah fetish atau paraphilia yang berkaitan dengan patung dengan unsur interaksi seksual. Cukup membuat heran saat beberapa tahun yang lalu boneka perempuan digilai para lelaki Jepang, menjadi industri yang cukup besar. FLAD! Fetish lu aneh, deh! menurut teman-teman junker internet.
Ah, apa yang saya tulis juga merupakan sebuah fetish, yaitu pembahasan, segala sesuatu dibahas, padahal tidak penting. “It’s nice to be important,” kata almarhum Ebet Kadarusman, “but it’s important to be nice.” Hopefully, I’m telling nicely about this unimportant things.
Saya pernah mendengar cerita tetangga –yang cukup jauh juga untuk disebut tetangga jika diukur dengan langkah kaki– bahwa si anu punya boneka karet perempuan Jepang. Janggal saya mendengarnya saat itu, benar-benar bloody FLAD! Namun di sisi lain, dari pihak perempuan bisa saja seperti itu, dalam bentuk kalimat sarkastik, “lelaki itu hanyalah dildo yang mahal biaya perawatannya.” Sangat kasar jika anda tak tahu pikirannya, lebih tepat disebut sinis, sebab sinis bukanlah hal emosional, tapi hasil pemikiran realistik di dunia materialistik ini.
Dalam lirik dan lagu, band progressive-rock Yes menciptakan sebuah lagu adaptasi Pygmalion-Galatea di atas, berjudul Turn of The Century pada tahun 1977. Karakter vokal Jon Anderson yang sering disebut angelic (The Sound of Angel) memerdukan lagu tersebut dengan iringan gitar khas Steve Howe. Ah, selera musik saya memang jadul. Dalam album Tribute to Yes, Annie Haslam, vokalis grup band Renaissance, menyanyikan ulang lagu tersebut.
Turn of The Century
(Alan White, Steve Howe, Jon Anderson)Realising a form out of stone
Set hands moving
Roan shaped his heart
Thru his working hands
Work to mould his passion into clay
Like the sunIn his room, his lady
She would dance and sing
So completely
So be still, he now cries
I have time, oh let clay transform thee soIn the deep cold of night
Winter calls, he cries,
Don’t deny me
For his lady, deep her illness
Time has caught her
And will for all reasons take herIn the still light of dawn, she dies
Helpless hands soul revealingLike leaves we touch, we learn
We once knew the story
As Winter calls he will starve
All but to see the stone be lifeNow Roan no more tears
Set to work his strength
So transformed him
Realising a form out of stone, his work
So absorbed him
Could she hear him
Could she see him
All aglow was his room dazed in this light
He would touch her
He would hold her
Laughing as they danced
Highest colours touching othersDid her eyes at the turn of the century
Tell me plainly
When we meet, how we’ll love
Oh let life so transform meLike leaves we touched, we danced
We once knew the story
As autumn called and we both
Remembered all those many years ago
I’m sure we knowWas the sign with a touch
As I kiss your fingers
We walk hands in the sun
Memories when we’re young
Love lingers so.Was it sun thru the haze
That made all your looks
As warm as moonlight
As a pearl deep your eyes
Tears have flown away
All the same lightDid her eyes at the turn of the century
Tell me plainly
When we meet how we’ll look
As we smile time will leave me clearlyLike leaves we touch, we see
We will know the story
As Autumn calls we’ll both remember
All those many years ago
Popularity: 4% [?]
Senin, 28 Mei 2007 @ 14:02
mas, aku kurang mengerti postingan sampaian, kira-kira pesan yang ingin di sampiakan apa ya?
Senin, 28 Mei 2007 @ 14:06
“lelaki itu hanyalah dildo yang mahal biaya perawatannya.”
hmmm… sounds familiar.
OM JAE NGOMONGIN GWA YA?!
xixixi…
Senin, 28 Mei 2007 @ 14:15
#1: Kan sudah disebut, sesuatu yang tak penting.
#2: Hiahahahaha, orangnya nongol!
Senin, 28 Mei 2007 @ 18:41
#3:
Kalo gak penting, ya udah no comment deh :p
hehehe…
Senin, 28 Mei 2007 @ 20:54
gak penting nih postingan…
*sesuai klaim dari pemilik blognya*
hehehe…
Senin, 28 Mei 2007 @ 20:56
tapi viktor kan tidak jatuh cinta pada s1mon3
Senin, 28 Mei 2007 @ 20:59
hmmmm………… baru keinget, lagu lagu jaman kawak di CD belum masuk iPOd guwa.
OK YES, Jon Anderson, ELP, Led Zeppelin, siap baris =)
Senin, 28 Mei 2007 @ 21:03
Blockquote elo font-nya keren. Kayak Ottawa yang dulu pernah aku fanatiki, sampai jadi font skripsi segala. Ata kayak majalah Mikrodata zaman dulu :). FLAD! Fetish kok ama font :).
Senin, 28 Mei 2007 @ 22:02
Gepeto-pinokio? :d
Selasa, 29 Mei 2007 @ 0:06
#8: Wah, itu kan tergantung ketersediaan font di client, bukan di webservernya. Lihat aja di source style.css-nya.
#9: Oh iya, Pinnochio juga termasuk kayaknya.
Selasa, 29 Mei 2007 @ 0:23
Salam kenal mas sebelumnya…
Suka nonton atau ngamatin film yah mas jay ?? udah ntn pirrates ??
Selasa, 29 Mei 2007 @ 2:27
pirates di luar tema topik statuephilia… hihihihihihi
Selasa, 29 Mei 2007 @ 16:51
Manusia emang pada dasarnya senang dengan bentuk fisik alias logo. Ada istilah latinnya, cuma lupa, kayaknya homologonicus. Nah, yang jadi masalah kadang bisa seperti judul posting ini :D
*Turn of The Century, yang saya seneng cuma raungan gitar Howe*
Selasa, 29 Mei 2007 @ 16:52
wah komen saya yang pertama kena moderasi spam kayaknya :(
Selasa, 29 Mei 2007 @ 17:43
#14: Iya, sempat nyasar ke Akismet spam.
Selasa, 29 Mei 2007 @ 20:50
wee, klo s1mone pernah nonton di tipi, seru.
Selasa, 29 Mei 2007 @ 23:54
hayah kemaren sempak, sekarang dildo.. meni nteu penting pisan jay… bwakakaka.. kembali ke…. bola golf neon :D mari kita latihan lagi *sambil ngacung2in stick ngajak Aa Amal…
Senin, 4 Juni 2007 @ 15:46
Biarpun gak ngerti banget, saya berdo’a: “Semoga statuephilia gak menghinggapi kita”.
Mas Jay, kok Pinokio buatan Gepeto termasuk?
Kan gak ada unsur interaksi seksualnya?
Atau Gepeto malah seorang Gay?
Atau defenisis statuephilia lebih luas dari pengertian yang saya tangkap dari postingan ini?
Jumat, 8 Juni 2007 @ 13:35
however statuephilia is much better than pedophilia….
bingung mo komen apaan…
kalo setau gue sih penjualan “boneka brithney spears getar” sangat laris di jepang sono..
btw, statuphilia di golongin kelainan psikis gak sih?
Jumat, 15 Juni 2007 @ 12:28
haha tadi saya cari di google.com kata Statuephilia kirain artinya apaan, tahunya gituan doang