One Light Burning
Senin, 7 Mei 2007M
20 Rabiul Akhir 1428H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Sebuah lagu bisa menjadi pengingat momen di masa lalu, meski harmoni maupun lirik lagu tersebut tidaklah berkaitan dengan momen tersebut. Judul di atas adalah sebuah lagu ber-genre rock-blues karya Richie Sambora dari album Stranger in This Town di tahun 1991. Lagu ini mengingatkan saya dalam perjalanan liburan akhir semester ganjil kelas 2 SMA. Sebuah perjalanan ke Garut dan diteruskan ke Pangandaran.

All alone in the dark, no walls no windows
Trying hard to define heaven from hell
Standing out in the rain with just one shadow
Nothing to see or believe beyond myself
See my life going by, each moment I’m alive
I keep reaching out, holding on, hoping…
Saya, Lucky, Hilman, Bambam, Merin dan sepupunya Merin berangkat di pagi hari dengan menggunakan Suzuki Carry 1000 berwarna merah. Saat itu Lucky yang paling up-to-date soal musik hanya membawa dua kaset dan sebuah gitar, album Richie Sambora yang baru dirilis 1 Januari 1991 dan sebuah kaset rekaman campuran. Sepanjang jalan lagu-lagu tersebut terpaksa diulang-ulang, memang kurang persiapan, kurang perencanaan. Ada kabar, ada peluang, ada sarana, just let’s go. Memang sering terjadi seperti, easy going.
Somewhere in my life
There´s one light burning
I feel it like my heart beating inside
Somewhere in the night
There´s one light burn
Target pertama adalah menikmati pesona Swiss van Java, yaitu Kawah Gunung Papandayan. Ah, sayang Candi Cangkuang tidak sempat dimampiri. Tiba siang hari di kawah ini kami berjalan-jalan menikmati cai panas nu ngagolak, sayang tak membawa telor untuk direbus air panas alami ini. Selepas menikmati kawah kami makan siang murak timbel, makan di sisi kawah dengan menggelar tikar dan membongkar nasi yang diakeul (diaduk-aduk dan dikipasi agar uap air menghilang) dan dibungkus daun pisang. Sebuah bekal standar orang Sunda karena nasinya tak akan basi hingga belasan jam.
Menjelang sore kami turun kembali dan meneruskan mandi dan berenang di pemandian Cipanas. Kurang persiapan membuat kami harus membeli celana renang, jika tak salah harganya Rp5.000 saat itu. Air panas berbelerang membuat kami nyaman meski agak letih. Perjalanan akhirnya diteruskan ke kota Garut. Menginap di rumah saudaranya Bambam dan menyempatkan berkeliling kota bercelana pendek di malam hari.
All alone with my fears, no words are spoken
A story yet to be told, locked in my mind
Hope is somewhere ahead, shining brightly
But the past is always following close behind
See my life going by, each moment I’m alive
I keep reaching out, holding on, hoping…

Pagi hari kami berangkat menuju Pangandaran. Sepanjang perjalanan berempat yang di belakang bermain kartu, beralas kardus indomi berisi makanan dan tiba di sekitar pintu masuk Kawasan Wisata Pangandaran menjelang shalat Jumat. Selepas jumatan kami memasuki kawasan dan langsung menuju pantai. Awalnya kami mencari penginapan, namun setelah dipikir-pikir akhirnya tak jadi dan memarkir mobil di pantai, di atas pasir yang dekat ke pinggir jalan. Entah sekarang masih bisa seperti ini atau tidak. Saya lupa makan siang di mana, yang pasti kami tidak membeli makanan di warung, bahkan hingga sebelum pulang kembali ke Bandung. Oh ya, dari Garut kami dibekali nasi dus untuk makan siang.

Langsung saja kami berenang-renang di pantai. Berlari-lari di air laut sebetis. Berenang mengejar ombak lalu terjungkal-jungkal diterjang ombak dua meteran. Tawar menawar papan body-surf pun terjadi, dan kembali mengejar ombak, merasakan menumpangi ombak sebelum pecah di pantai dengan papan body-surf di atas dada. Sungguh menyenangkan.
Sempat ada kecelakaan kecil saat kami berenang-renang, kunci mobil di saku celana Bambam terjatuh di pantai. Berenam panik menyisir air pantai selutut. Alhamdulillah ditemukan. Hore! Tak kapok kembali berenang-renang. Menjelang sore kami bermain-main sepak bola di pantai di atas pasir basah hingga menjelang matahari terbenam.
Somewhere in my life
There´s one light burning
I feel it like my heart beating inside
Somewhere in the night
There´s one light burning
Glowing in your eyes, lighting up the sky
Leading a way, one light burn

Malam hari kami menggelar tikar, membuat api unggun, menyalakan kompor gas kecil, membuat nasi liwet dan memasak air untuk membuat kopi, serta bernyanyi di tengah angin laut malam. Malam semakin larut, tiba-tiba hujan, kontan semua memasuki mobil dan tidur. Tengah malam saat hujan reda, sebagian keluar dari mobil dan tidur di atas tikar beratap langit. Menikmati bintang hingga terlelap. Oh ya, kompor kecil tadi berubah fungsi menjadi lampu gas seperti petromax, namun tengah malam dimatikan karena khawatir gasnya tak akan cukup untuk memasak esok hari.
Somewhere in my life
There´s one light burning
I feel it like my heart beating inside
Somewhere in the night
There´s one light burning
Glowing in your eyes, lighting up the sky
Leading a way, just leading a way

Pagi hari kami bangun, membuat nasi liwet lagi ditambah mie instan. Minum kopi sambil memandang cakrawala laut pagi hari. Pakaian basah yang semalam kehujanan kami jemur di atas mobil. Kembali berenang-renang hingga muka dan badan menghitam disengat matahari. Saat papan body-surf sukses meluncur hingga batas air laut, saya berhadapan dengan seseorang yang sedang duduk di pasir, ternyata seorang teman SMP. Berbincang sebentar dan kembali ke aktivitas masing-masing. Rasanya kok dunia sempit, sih!
Menjelang siang setelah mandi di kamar mandi umum kami beres-beres dan didatangi seseorang dengan lagak preman. Ada-ada saja, ternyata dia mau menumpang ke Bandung. Disepakati akhirnya ia boleh ikut. Jika tak salah namanya Wawan, tinggal di sekitar Parakan jalan Mohamad Toha. Siang itu sebelum berangkat pulang saya lupa makan di mana.
Menjelang maghrib kami tiba di perbatasan Cibiru, menyusuri jalur selatan Soekarno-Hatta dan mengantar sang preman, bahkan hingga tepat depan pintu rumahnya. Aduh, baik hati sekali kami yang lugu-lugu ini. Satu persatu kembali ke rumah masing-masing.
Malam ini, saat saya menuliskan cerita ini, saya duduk di kamar yang gelap, hanya bersinarkan lampu LCD MacBook, memutar-mutar One Light Burning berulang-ulang, menemani kontemplasi hati dan pikiran yang berharap ada cahaya yang membakar kegelapan, menuntun jalan.
Somewhere in my life
There´s one light burning
I feel it like my heart beating inside
Somewhere in my life
There´s one light burning
Glowing in your eyes, lighting up the sky
Leading a way, leading a way
Bismika allahumma ahya wa amut.
Selamat tidur, mentari pagi akan datang membakarku.
Popularity: 9% [?]
Senin, 7 Mei 2007 @ 6:37
weh…., ka lembur urang teu ngajak-ngajak…? ti rumah saya ka cangkuang kan ngan sbraha menit…
oooo.., ieu teh dongeng masa lalu.., sugan teh kamari ka garut.. teu ajak-ajak.., sarua teu ajak-ajak menggolp oge..
hahaha
Senin, 7 Mei 2007 @ 7:19
weh… omongan orang-orang yang sudah tua…
Senin, 7 Mei 2007 @ 8:10
eh, kemaren itu aku udah sempet ngopy belum yah? *ngecek hdd*
Senin, 7 Mei 2007 @ 8:11
eh udah…. horeeee!!!
Senin, 7 Mei 2007 @ 9:15
Yang saya ingat, side B lagu pertama dari album itu adalah Rossie. Bener?
Hits-nya yang Ballad of Youth. Oh sampai sekarang saya masih ingat tuh kunci/grip gitar dan melodinya.
Yang juga saya suka, selain One Light Burning, adalah Father Time. Slow slow gimana gitu..
Senin, 7 Mei 2007 @ 14:15
saya mah taun ‘90 ke puncak papandayan –bakating ku nganggur tea– dan yang bikin saya inget saat itu adalah lagu run to the hill-nya iron maiden.
nyambung teu sih?
Senin, 7 Mei 2007 @ 14:20
maap, bukan taun ‘90 tapi taun ‘88, pas baru lulus stm. taun 90 mah ka puncak ciremai.
Senin, 7 Mei 2007 @ 14:57
#5: Bukan, tapi Mr. Bluesman (track 6/10), baru Rossie (track 7/10).
Iya, Father Time juga enakeun.
Senin, 7 Mei 2007 @ 16:28
wah seru juga baca tulisan loe jay, kalo jadi film India bisa banyak yang joget2 tuh, karena ditengah2 cerita ada yang nyanyi2
Selasa, 8 Mei 2007 @ 10:44
Blas ndak perneh denger
Selasa, 8 Mei 2007 @ 19:46
Hehehe … Masih inget maneh euy … Bikin api unggun kan karena kedinginan kusabab gak mampu nginep di ‘hotel’, jadinya nginep di mobil.
Tapi ada yang belum ditulis Kang Jay di atas … Waktu perjalanan pulang dan kita ‘nyasar’ trus tanya ke seseorang di pinggir jalan. Tapi ketika ditanya, dia bukannya menjawab tapi malah ngebersihin kaca dengan tangan yang menirukan gerakan wiper mobil. Ketika kita yang di dalam mobil terbengong-bengong, seorang Ibu berteriak dari sebuah rumah, “Jang, eta mah nu gelo, tong ditanyaan … ” Gubrag !!! Hahahaha …
Btw, urang geus poho gitaranana, padahal baheula sempet bisa sababaraha lagu. Ngke mun ka Bandung rek ngopi mp3 na ah …
Selasa, 8 Mei 2007 @ 20:17
#11: Bwahahaha, iya bener, kocak banget. Udah berharap nunggu jawaban, tahunya nu gelo!
Rabu, 9 Mei 2007 @ 7:51
ciri orang yang berangkat tua adalah semakin sering bernostalgia
Rabu, 9 Mei 2007 @ 9:00
#13: Menjadi tua adalah mutlak.
Senin, 14 Mei 2007 @ 21:48
jelek juga mutlak ^^;;
*ngacir*
Selasa, 15 Mei 2007 @ 19:12
hehehehehe teu karasa urang teh geus mutlak(kolot mksdna) geuning nya kang Jay. Maca carita ieu jadi inget jaman nu geus ka tukang. Naha hayang deui ngalaman siga kitu. Cag Ah
Selasa, 15 Mei 2007 @ 19:16
#16: Sumuhun, janten kolot mah mutlak, tapi janten dewasa mah pilihan.
Senin, 9 Juli 2007 @ 13:47
#11: Q, kapanggih sababaraha poto nu pernah di-scan, ditambahkeun potona di luhur.
Kamis, 6 September 2007 @ 18:01
meni waas lah ceritana…
yang sayah seneng mah ternyata banyak juga yang suka lagunya kang ritchie…
salam ah ka sadayana..
sayah mah dapet kaset itu teh beli bekas, di jl dewi sartika alun2 bandung pas nuju sma taun 1996, da susah nyari di toko kaset mah..
bener arenakeun lagu2na…
Jumat, 9 November 2007 @ 11:32
duh…ceritanya luci banget,,tapi kalo lagunya aku gx kenal he..he..^_*