Komitmen: Konsistensi, Fleksibilitas dan Persistensi

Senin, 23 April 2007M
05 Rabiul Akhir 1428H

Halah, empat kata asing semua!

Kita hidup dengan pola hidup dan pola pikir dalam tiga bentuk dasar, konsisten, fleksibel dan persisten. Saat seseorang meyakini jalur hidupnya harus berdagang maka ia akan berdagang untuk kehidupannya, begitu pula seorang buruh, karyawan, birokrat, pengusaha dan lain-lainnya. Manusia mengambil konsistensi pikirannya sebagai sesuatu yang ideal baginya. Hingga suatu saat konsistensi itu harus diredam agar lebih fleksibel, tanpa mengurangi kadar konsistensi karena ada konsistensi lain yang lebih besar, yang lebih esensial.

Rentang waktu menjadi penilaian konsistensi seseorang. Saat orang dalam rentang waktu yang pendek orang berubah-rubah pikirannya, orang akan mengatakan bunglon. Tak punya konsistensi jika menyangkut pengambilan keputusan besar. Disebut moody atau angin-anginan untuk hal-hal yang sepele. Biar keren diaku sebagai fleksibel, agar ada faktor narsisisme sedikit.

Konsisten untuk diri sendiri bukanlah hal sulit, karena di situ salah satu ego manusia. Juga menjadi jati diri dilihat orang lain, lebih besar lagi menjadi sebuah kehormatan diri. Konsistensi menjadi rumit saat bersinggungan dengan orang lain. Terjadi benturan konsistensi, benturan ego. Saat konsistensi bertahan meski berbenturan dengan hal lain, tak peduli berakibat buruk, orang mengatakannya sebagai persistensi. Persistensi sering dianggap buruk karena berdasar pada konsep “tak ada kompromi”. Sangat kecil kemungkinan fleksibilitasnya. Tirani yang terjadi jika berada pada kekuasaan tunggal.

Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak berhadapan dengan konsistensi dan fleksibilitas. Persistensi hanya dianggap kegilaan, walau kadang kegilaan berdekatan dengan kejeniusan. Apa yang membuat manusia hidup di atas konsistensi sekaligus fleksibilitas adalah komitmen. Komitmen yang membuat orang konsisten atas suatu hal, di atas rasa, pikiran dan aksi, sekaligus menjadi jalan untuk orang bersifat fleksibel.

Namun ada kalanya komitmen pun bisa berubah. Termasuk komitmen antar manusia, antar keluarga, antar perempuan dan laki-laki dan sebagainya, baik informal pertemanan dan persahabatan atau yang bersifat formal dalam kelembagaan, di dalam perusahaan, organisasi, kemasyarakatan hingga lembaga pernikahan.

Hampir semua manusia mengikat diri dalam komitmen antar manusia sebagai bentuk kebutuhan yang mendasar. Komitmen dijunjung tinggi meski tak menyisihkan komitmen religius. Saya sisihkan mereka yang agnostik dan atheis dalam konteks ini, sebab saya tak mampu berpikir seperti seorang agnostik atau seorang atheis berpikir.

Komitmen jauh lebih dijunjung tinggi daripada sebuah janji. Ingkar janji untuk hal sepele saja sudah dianggap bersifat buruk, apalagi hilangnya komitmen. Komitmen merupakan kontemplasi rasa, pikiran, keinginan, kebutuhan dan harapan. Sesuatu yang besar untuk modal hidup, mulus atau kasar jalan yang tempuh bukan masalah. Wereng, tikus, ijon, tengkulak dan sebagainya bukanlah hambatan seorang petani menjadi petani, karena ia sudah berkomitmen menjadi seorang petani, atas dasar segala rasa, pikiran, kebutuhan dan keinginannya.

Apa jalan terbaik saat komitmen diguncang-guncang?
Orang lain yang mengguncang bukanlah masalah, berkomitmen adalah sebuah harga diri.
Bagaimana jika yang mengguncang adalah salah satu dari dua orang yang berkomitmen bersama?
Kompromi. Meski kompromi adalah sebuah upaya konsisten dengan cara fleksibel di atas jalan setapak yang berbatu dan beronak.

Curse me if I’m wrong.

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

31 komentar untuk catatan 'Komitmen: Konsistensi, Fleksibilitas dan Persistensi'

  1. #1
    gravatar

    curse? avada kadavra!

  2. #2
    gravatar

    Seorang karib membalas ocehanku dengan sebuah interpretasi. http://fatah.telkom.us/2007/04/20/al-anaam-165/

  3. #3
    gravatar

    saya selalu menilai seseorang dari komitmentnya..bila komitmen itu di guncang guncang,..berarti saya harus bepikir ulang mengenai karakter oorang itu..sedikit apapun

  4. #4
    gravatar

    jika seseorang telah berkompromi, maka ia tidak lagi konsiten dan jauh dari berkomitmen

  5. #5
    gravatar

    jika seseorang telah berkompromi, maka ia tidak lagi konsiten dan jauh dari berkomitmen

    seorang negosiator / arbitrator punya komitmen menyelesaikan masalah yang menguntungkan bagi semua pihak, tentunya dengan berkompromi.

    apakah itu artinya dia jauh dari berkomitmen?

  6. #6
    gravatar

    Boleh kalo dikatakan : “Komitmen adalah pegangan saat kita tak mampu lagi konsisten”?

  7. #7
    gravatar

    Sebenernya lebih mendasar adalah konsistensinya. Komitmen (abadi) pun berlaku pada sebuah ikatan yang cenderung panjang.

  8. #8
    gravatar

    hemm, empat kata yang tampaknya hanya pas di abad industri…; Yang kalo dituruti, seolah manusia hidup di ruang vakum udara.

  9. #9
    gravatar

    Antara konsistensi dan fleksibilitas, hal yang sulit untuk diterapkan….hehehe robot dan program saja yang bisa kita gituin, kalo manusia, ngga bisa punya nilai yang absolut mengenai point diatas

  10. #10
    gravatar

    mesti konsisten dengan komitmen.
    lebih baik lagi bisa fleksibel tetapi tetap konsisten dengan komitmen.

  11. #11
    gravatar

    buat gw, fleksibilitas adalah prioritas, terutama dalam hal keterkaitannya dengan orang lain. misal: soal kerjaan, soal networking, sampai soal relationships.

  12. #12
    gravatar

    jadi sudah bikin komitmen nih kang?
    SELAMAT! MAKAN-MAKAN!!!!

    *CURSE ME IF IM WRONG MWAHAHAHAHAA*

  13. #13
    gravatar

    Belum Mudeng Maksudnya saya :D

  14. #14
    gravatar

    intinya…”pengendalian diri…”…bener teu euy ?:D

  15. #15
    gravatar

    komitmen yang dimaksud lebih mirip keras kepala

  16. #16
    gravatar

    Yang penting jangan komat kamit doang :)
    Setelah cincin melingkar di jari manis, ya memang harus berkomitmen… HALAH!!!

    Seriously, komitmen berbeda dengan mengambil jalan tengah ala negosiator atau negarawan dalam mengambil keputusan. Banyak pertimbangan kenapa kita harus berubah pikiran, berputar haluan, dan lain sebagainya. Menjadi manusia yang tidak memiliki pertimbangan dan hanya dilandasi hukum positif saja bisa jadi manusia yang kaku.

    Correct me if I’m right

  17. #17
    gravatar

    #16:
    Kalo itu urusannya sudah berbeda. Sudah taken an oath atas nama agama dan hukum.

    Hukum negatif itu seperti apa?
    Apakah ibaratnya kalo saya ditonjok harus balas menonjok?

  18. #18
    gravatar

    || Apakah ibaratnya kalo saya ditonjok harus balas menonjok?

    gak harus.. karena anda akan sama saja dengan orang yg menonjok anda.

  19. #19
    gravatar

    || Apakah ibaratnya kalo saya ditonjok harus balas menonjok?

    HARUS, adakalanya.. hal itu perlu, biar yg menonjok jg mengerti.
    bahwa telah merasakan tonjokan itu lebih dahulu, dan klo gak salah,
    pembalasan harus lebih daripada pemberian. *halah.. mulek aja tho Le*
    intinya Tonjok balik aja oM ;) Sah kok! aLe dukung deh *dr hongkong :P

  20. #20
    gravatar

    komit dengan sesuatu sering menyebabkan keharusan berkompromi dengan lainnya
    hiks.. ra dong dong aku

  21. #21
    gravatar

    Gimana caranya tahu anda salah atau benar? Di-curse dulu..??

  22. #22
    gravatar

    Cuman pengen mengomentari Blog ini aja …
    Menurut saya Blog ini penuh dengan kematangan dari seorang yang telah banyak makan asam garam di dunia ini.
    Semoga artikel yang di sini dapat menambah khasanah wawasan dan pikiran (halah ngomong apa si)…
    Tetep Jaya di Udara, eh salah di Internet

  23. #23
    gravatar

    Jay… aq buka bolak balik kok ketemu komitmen ajah! Lagi repot taaah…???

  24. #24
    gravatar

    apa sih gak bisa berubah? apa sih yang gak bisa diubah?

    berubah-ubah terus…sampai sifat dan muka kita mirip rubah! ( **suneo mode on**)

  25. #25
    gravatar

    test gravatar.., naha hayam deui hayam deui…

  26. #26
    gravatar

    Never stop thinking aja dech :D

  27. #27
    gravatar

    menurut filsafat semua boleh, “all u can eat”, semuanya boleh di dunia manusia. konsistenkah, komitmenkah, kompromikah, persistenkah, persidenkah…. karena semuanya akan berbalik lagi ke manusia juga, jadi maniskah, jadi pahitka, jadi asemkah, jadikah???

    selamat mendoba!!!

  28. #28
    gravatar

    Dalem…
    Pas, disaat komitmen lagi dipertanyakan..

  29. #29
    gravatar

    Komitmen itu melekat pada tujuan.
    Konsistensi terkait dengan metode.
    Fleksibilitas diperlukan ketika ada metode yang lebih baik.
    Persisten dibutuhkan ketika si-penyampai hanya NATO.

    So…I’m commit

  30. #30
    gravatar

    pas sekali waktu saya mau kasih training tentang “service Excellent” untuk sebuah perusahaan pemasangan kaca film saya berselancar di dunia maya dan gak sengaja menabrak sebuah gundukan tulisan tentang empat kata asing yang sepertinya hanya dewa yang bisa melakukannya.

    lalu saya terbentur pada kata “komitmen” yang setelah dicari di situs pintar belum ada arti yang sangat signifikan untuk dijadikan sebuah index dari kata itu. memang pada akhirnya setelah di gali dalam – dalam …mengapa kita berkomitmen ?? ternyata akan muncul tiga kata berikutnya yang entah dari mana asalnya kalo kata orang bule bilang ” pop up out of no where ” kata konsistensi lalu kemudian setelah kata itu kita balik lagi ke kata komitmen itu berjalan dan menemukan flexibilitas …setelah merasa nyaman dengan segala flexibilitas yang kita ambil …disitulah akan tercipta persistensi dari komiment kita… wah …wah …idenya untuk menggabungkan ke empat kata itu ..menyelamatkan saya …akhirnya training saya berjalan dengan lancar ….thanks yah….curse ??? hahahaha….no one in this world has the right to do that ….

  31. #31
    gravatar

    Komitmen perlu men!

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.