Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

Sabtu, 14 April 2007M
27 Rabiul Awal 1428H

Jumat malam, hari ke-13 di bulan April, sepulang dari BEC menenteng DVD Blank saya mampir di lantai bawah Gramedia. Tak berniat naik karena khawatir akan impulsif berbelanja buku, jadi hanya melihat-lihat pajangan buku di lobi saja. Sialnya malah menemukan buku kelima Gajah Mada, setebal 570 halaman lebih. Berakhir pekan dengan buku tebal.

Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.

Satu pertanyaan tentang Gajah Mada adalah kemana ia selepas Perang Bubat. Tak ada cerita menarik yang kita dapatkan di kolong bangku sekolah dulu. Sang guru pun tak ada yang mengemukakan teori yang menarik. Spekulasi pun tak ada. Yang terdengar hanya mungkin ini, mungkin itu, mungkin iti atau mungkin inu. Tidak ada arahan agar siswa membuat konklusi pribadi atau sekadar membuat penasaran. Padahal dalam sejarah yang catatannya kurang justru siswa harus dilatih untuk membuat kesimpulan sendiri, melatih metodologi dan imajinasi.

Buku kelima karya Langit Kresna Hariadi ini berada pada selepas Perang Bubat hingga setahun kemudian. Mengisahkan bagaimana Majapahit menyelesaikan permasalahan tersebut, ke mana perginya Gajah Mada, dan berbagai penyelesaian cerita dari tokoh-tokoh fiktif yang saling berkaitan, juga termasuk spekulasi aksi dari pihak istana Surawisesa dari Kawali. Semua cerita dan tokoh terkait dari sejak buku pertamanya. Ada banyak nama yang harus diingat-ingat dari buku-buku sebelumnya ditambah kejutan plot cerita tiap tokoh-tokohnya.

Sejak tragedi Perang Bubat, Majapahit mengalami kekacauan, terancam disintegrasi antara pihak yang berkubu kepada Gajah Mada dengan yang membenci karena Gajah Mada dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab karena membiarkan pembunuhan itu terjadi. Ancaman juga datang dari pihak oportunis dalam struktur kerajaan. Ancaman fisik pun terjadi dengan tumpah ruahnya pasukan ke istana kepatihan.

Macan Liwung sebagai senior Bhayangkara yang tinggal sedikit mendapat titah untuk membereskan keadaan. Panca Prabu, sebuah dewan pertimbangan saat itu, memutuskan Gajah Mada dicopot dari jabatannya, dan pembacaan keputusan tersebut diserahkan kepada Kuda Swabaya, anaknya Pradhabasu yang sudah lama undur diri dari keprajuritan Bhayangkara. Selain itu Kuda Swabaya naik jabatan menjadi senopati yang membuat pertanyaan besar bagi banyak pihak.

Gajah Mada pergi meninggalkan istana dengan hanya disaksikan oleh rekan-rekan bhayangkaranya. Pergi menuju tempat impiannya di Tongas, untuk menyepi dan menjadi rakyat biasa.

Hayam Wuruk kemudian mengirim utusan ke Kawali untuk meminta maaf, diwakili oleh dua utusan yang tepat, yaitu Dang Acarya Nadendra (nama samaran Empu Prapanca dalam kitab Negarakretagama) dan Dang Acarya Smaranatha sebagai pemuka agama.

Berita yang dibawa utusan ke Kawali tersebut menyimpulkan Macan Liwung harus berhati-hati terhadap kemungkinan upaya balas dendam dari pihak Sunda Galuh, selain tetap melakukan penyelidikan siapa yang oportunis ikut mengacaukan keadaan.

Hyang Bunisora langsung mengambil alih kerajaan Galuh saat menerima utusan Majapahit, karena Niskala Wastukancana masih remaja dikhawatirkan belum saatnya memegang pimpinan kerajaan di Kawali tersebut. Duka cita kepada Linggabuana, Rara Linsing dan Dyah Pitaloka menyelimuti negeri. Linggabuana pun menjadi sosok bagi rakyatnya, sehingga disebut Siliwangi.

Secara flashback diceritakan ada dendam dari abdi kerajaan Galuh. Melalui restu Bunisora orang tersebut dilepas untuk pergi ke Majapahit, menuntut balas dendam kepada Gajah Mada melalui gerilya dan penyamaran, sebab tak mungkin pihak kerajaan membalas dendam dengan berperang terbuka, juga adab dan budaya kerajaan Sunda Galuh tidaklah seperti itu.

Gajah Mada yang melakukan perjalanan ke timur menemukan kondisi awal runtuhnya kesatuan Nusantara yang ia bangun. Herannya ia mendengar kata Islam, juga menemukan kesatuan prajurit yang jauh dari kotaraja mulai menjadi maling bagi rakyatnya. Mendekati tempat tujuannya Gajah Mada menemukan lagi perpecahan antar dua wilayah kabuyutan, namun bisa diredakan meski sudah tak menjabat mahapatih lagi. Bahkan dua wilayah yang bentrok tersebut akhirnya ikut membangun tempat yang menjadi pilihan Gajah Mada menyendiri menjadi rakyat biasa.

Kuda Swabaya yang telah menjadi senopati akhirnya memutuskan ikut berperang bersama Laksamana Nala, karena ketersinggungannya kepada semua orang, termasuk ayahnya, Pradhabasu. Pradabhasu menganggap anaknya belum cocok menyandang gelar senopati, tak pernah ikut berperang meski memang mendapat tugas membacakan pemecatan Gajah Mada adalah tugas yang sulit. Selain itu Kuda Swabaya yang hendak menikah dengan Prabasiwi, seorang emban Dyah Wiyat, namun ayahnya pun merasa tak setuju sebab pilihan Kuda Swabaya ada campur tangan Dyah Wiyat.

Selain kisah Gajah Mada yang hendak menyepi, secara paralel ada beberapa cerita di atas yang saling berkaitan satu sama lainnya, termasuk penyelesaian misteri dari buku-buku sebelumnya. Bagaimana Gajah Mada memilih moksa, siapa dalang kericuhan yang mengambil kesempatan, aksi apa yang diambil Macan Liwung dan sisa-sisa Bhayangkara wredha, bagaimana aksi balas dendam yang direncanakan abdi istana Surawisesa, apa misteri yang seharusnya diketahui Kuda Swabaya, apa tindakan Hayam Wuruk selanjutnya.

Cukup banyak, mungkin terlalu banyak karena kelima buku seri Gajah Mada ini saling berkaitan. Jika diambil settingnya pada peran Gajah Mada saja, buku kelima ini memang mengakhiri kisah hidup Gajah Mada. Namun sebagai pembaca rasanya tak puas, sebab perjalanan keruntuhan Majapahit barulah dimulakan.

Mungkin LKH akan meneruskan kisah Majapahit ini dalam buku selanjutnya, Candi Murca.

***
Sebagai bahan kisah Nusantara secara fiksional yang layak dibaca, ada baiknya baca juga buku dari pengarang lain sebagai lanjutan, misalnya Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer dalam setting masuknya Portugis dan Islam di ujung kehancuran Majapahit, kisah Cheng Ho karya Remy Sylado, atau flasback ke era awal Majapahit berdiri seperti Senopati Pamungkas, drama radio Saur Sepuh dan Tutur Tinular.

Komentar

125 komentar untuk catatan 'Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa'

  1. #1
    gravatar

    Novel Gajah Mada dan Candi Murca nya Hueebaaaaat …..
    Tolong dikirim dong referensi dari judul-2 Novel yang sudah pernah terbit dan juga yang akan terbit dalam waktu dekat ….. jadi penasaran neeeeh

  2. #2
    gravatar

    Mbah Gajah Mada adalah salah satu putra pemersatu bangsa, sepaktejangnya senantiasa berpegang pada kebijaksanaan dan kearifan alami. Beliau bisa berangkat menjadi sang Maestro Permersatu Bangsa dalam lubuk SUMPAH PALAPAnya adalah karena mbah Mada berangkat dari Kaum Alit, Piranti Politiknya adalah Keprihatinan dan Welas Asih, Budi pekertinya adalah Akhlakul Karimah. Kunci yang dipakai Mbah Mada untuk mengarifi semua gebyar dunia yang terus berputar sebagai roda kehidupan (Cokromanggilingan) adalah Fikiran Tenang, Kolbu yang suci, Jiwa yang cerdas dan Bijaksana, dan Rasa yang Mantab dan Welas Asih, Semoga menjadi teladan bagi kita semua. Tapi mohon saya dikasih penjelasan dimana dan kepad siapa pada saat itu mbah Mada berguru sehingga Mbah Mdada sampai menemukan kata Islam…..

  3. #3
    gravatar

    buat kawan-kawn mungki ini dapt di jadikan sebagai sumber inspirator dan informasi gajah mada itu berasal dari dusun modo,desa cancing kec.ngimbang kab lamongan disitu warga setempat memangilnya joko modo (ilat jowo) untuk lebih detail silahkan searching kesana

  4. #4
    gravatar

    Ki El-Kaha benar-benar tega lan sadis !!!

    Kok Gajah Sagara ??? Kenapa Gajah Sagara yang justru pelaku pembunuhan tersebut ?
    Kasihan kan Kanuruhan Gajah Enggon & Rayh Sunelok … kan anaknya cuma satu.

    Kuda Swabaya juga kakinya malah dipotong satu, mbok ya dadanya saja yang dibeset. Eh, malah dipotong sekalian.

    Wuuuahhh, tega amat Ki El-Kaha

  5. #5
    gravatar

    To : Ki El-Kaha

    Mbok ya kisah Gajah Mada jangan dilompat dong. Saat Prabu Hayam Wuruk datang ke Madakaripura untuk memanggil kembali menduduki jabatan Mahapatih … tiba-tiba Sang Gajah Mada malah diceritakan Moksa.

    Waaah, jangan dong …

    Bagaimana kalau dibuat satu buku lagi yang mengisahkan saat Gajah Mada kembali memangku jabatan ?

  6. #6
    gravatar

    omoshiroi na..cerita gajah mada ternyata. ga nyadar sampe diblog ini. gara2 dapet sms dr ponakan ‘patung gajah mada ada dimana bulik?’ jujur2 garuk2 kepala dibuatnya. betulnya dl history termasuk salah satu pelajaran yang saya suka. banyak ceritanya. baca bukunya buta ulangan esoknya sambil berimaginasi ria. baidewei, tengkyu buat sharingan ceritanya diblog ini…

  7. #7
    gravatar

    Ternyata semua terkecoh ttg asal usulku hahahahaha saya sebenarnya berasal dari enrekang yg merupakan salah satu kabupaten dari sulsel, arti sebenarnya dari gajah mada adalah bahwa saya orangnya jelek sekali makanya dinamakan gajah mada, coba tanya org di enrekang apa arti dari gajah mada. gajah=sekali mada jelek

  8. #8
    gravatar

    Saluuuut buat LKH yg mau mengangkat cerita kepahlawanan dari pemersatu Nusantara yg nyaris punah tertelan arus globalisasi dan westernisasi. Bravo LKH…………

  9. #9
    gravatar

    Setuju Gajah Mada sebetulnya penjahat perang, tangannya penuh dengan darah rakyat Nusantara yang menjadi korban imperialismenya, khusus mengenai perang bubat gajah mada perlu diseret ke mahkamah perang karena tidak berperang secara ksatria, tapi bertanding pengecut menyerang rombongan nikah yang terdiri dari para wanita dan para prajurit yang tidak bersenjata lengkap, yang bangga terhadap gajah mada hanya orang jawa saja dan sebagian orang yang tak punya hati nurani atau orang yang terpedaya dengan propaganda persatuannya GM

  10. #10
    gravatar

    Saya sangat berterima kasi kepada Bapak L K H sudah nenbawa saya jauh ke alam dan suasana Lawas sesuai dengan karakter hidup saya dengan membaca seri G mada 1 sampai 5 pertanyaan kenapa tidak di lanjutkan lagi masih banyak yang belum Bapak ceritakan seperti ekspedisi GM ke Bali menundukan kerajaan Bedahulu yang rajanya Sri Astasura Ratna Bumi Banten dengan Patih Ki pasung Grigis yang kesaktiannya tidak tertandingi sehingga GM mengadakan gencatan senjata menaikan bendera putih tanda pasukan majapahit menyerah…. dengan kelengan Pasung Grigis GM mampu menipunya sehingga Bedahulu dapat ditundukan….

    Yang kedua kenapa Lancap Majapahit ada yang disebutkan Purawaktra dan Gapura Pintu Besi… sedangkan yang ada utuh sampai sekarang candi bajang Ratu dan Waringin Lawang tidsak disebutkan jaman itu… justru banyak sekali peninggalan yang tidak disebutkan spt Kolam segaran, c. Tikus. c. Kedatuan. c. Brahu dll saya sempat ke situs menjadsi sedikit bingung dengan kenyataan dilapangan dengan Negara kertagama yang tulis Mpu Prapanca. mohon penjelasan …

    Yang ketiga mengapa Candi Murca 4 dan selanjutnya belum muncul meskipun ada terbitperang Paregrek 1 dan 2 yang ke dua baru saya beli kemarin di gramedia… pertanyaan saya dalam perang Paregrek jilid 1 sedikit bingung sebagai orng bali biasanya menyebut atau memanggil mana Paman mana Kakak sangat jelas…kenapa Raden Tetep/H Wuruk menyebut GM dengan sebutan kakang GM segdangkan dengan G Engon dengan Paman yang notabena GM denga G. Engon , Kalagemet ataupun Prabu Putri sebaya sedangkan mantan Prabu putri adalah Ibu dan Bibinya sekaligus mertua sedangkan GM lebih ta dari ibuynya semesdtinya Prabu H Wuruk menyebut G. Mada dengan sebutan Paman Mada, tidak kakang…. mohon penjelasan agar saya tidak selanjutnya bingung ke Paregrek 2-nya terima kasih Bapak LKH

  11. #11
    gravatar

    amazing,salut buat pengarang,sejak kecil ketiak saya masih kelas 2 sd,sampai sekarang,ndak pernah aku lupa sama sosok gajahmada,begitu melegenda begitu besar kharismatis beliau,terimakasih buat kresna hadi,yg tlah mewujudkan dan menghidupkan ke indonesiaan gajah mada,tetap berkarya dan berjuang

  12. #12
    gravatar

    KENAPA PERANG BUBAT VERSI JAWA BANYAK DIREKAYASA!?!????

  13. #13
    gravatar

    masing-masing orang punyafriksi sendiri-sendiri, dengan daya khayal sendiri. Memang susah akhirnya sejarah sebenarnya jadi kabur semua. he he he

  14. #14
    gravatar

    bukunya harganya mahal….gk mampu beli….padahal pengen baca….

  15. #15
    gravatar

    Saya mengagumi anda dan menyukai tentang sejarah kerajaan yang dulu pernah jaya di bumi Nusantara ini! Saya mempunyai buku berjudul “Candi Murca” jilid 1 dan 3! Kemana yang jilid 2-nya dengan Sub Judul “Air terjun Seribu Angsa”? Kok sudah tidak ada di toko2 buku terutama di TB. Gramedia? Kalau ada informasi dimana saya bisa membelinya, tolong di khabari ya mas!

  16. #16
    gravatar

    orang besar yang sangat low profil.gajahmada .kapan muncul . lagi gajah mada di nusantara yang lagi semrawut ini ya.

  17. #17
    gravatar

    aku rindu manusia – seperti kamu ada di sini sekarang. indonesia. gajah mada . munculah dirimu , sekarang. jangan kau. menyembunyikan dirimu terus kini saatnya, jangan biarkan nusantara oprak porand. lupakan masa lalu . kita manusiaada kekurangan. tapi profilmu sungguh luar biasa.belum pernah aku dengar manusia selain nabi, seperti dirimu. aku kagum padamu, dan semoga ini menjadi tauladan bagi para pemimpin bangsa ini,. munculah GAJSAH MADA saat. ini jangan tunggu nusantara hancur…….. aku rindu aku rindu prang sepertimu, GAJAH MADA, aku tunggu. Di sini dilereng Merapi Magelang…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

  18. #18
    gravatar

    kakek pernah cerita asal dimana terjadi perang bubat itu di pemalang yang sekarang kita kenal nama kota itu,perlu pembuktian historis.

  19. #19
    gravatar

    Kang Jay dan Mas Langit bisa bantu? Saya sudah mencari ke Gramedia Purnawarman & Palasari mencari candi murca 3 dan Perang Paregreg 2 tapi sampai sekarang belum dapat.Problem itu semuanya menurut saya di karenakan Mas Langit menerbitkan sendiri bukunya. Waktu Pentalogi Gjaha Mada yg diterbitkan 3 serangkai, sangat mudah mendapatkan buku itu, bahkan sampai sekarang di rak gramedia tersedia masih banyak. Mohon kiranya bisa di bantu kemana saya bisa dapatkan Candi Murca 3 dan Perang Paregreg 2. Hatur Nuhun, Satya – Bandung

  20. #20
    gravatar

    Mantapppp….teruskan berkarya.

  21. #21
    gravatar

    Sepatutnya kita pelajari sejarah negeri kita dan kita ambil hikmahnya.

  22. #22
    gravatar

    sippp…ditunggu update nya mas bro.

  23. #23
    gravatar

    Lanjut mas, udah lama gak ada update.

  24. #24
    gravatar

    asikkk…bisa baca artikel artikel yang top

  25. #25
    gravatar

    Lagi gandrung dg pentalogi novel Gajah Mada.. smog Pak LKH trus berkarya.. n buku2 nya hrsny di cetak ulang lg nih..

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.