Selamat Jalan Chrisye
Jumat, 30 Maret 2007M
13 Rabiul Awal 1428H
Chrisye, nama beken dari Chrismansyah Rahadi kini telah meninggalkan kita semua tadi pagi pukul 4, Jumat 30 Maret 2007, di rumahnya Jl. Asem 2 no. 80 Cipete, Jakarta. Puluhan lirik sederhana namun sarat makna telah ia senandungkan ke berbagai generasi. Tiga puluh tahun telah berlalu sejak beliau aktif bermusik –meski tanpa pengetahuan not balok– dalam band Guruh Gipsy yang kemudian bersama Eros Djarot meluncurkan album Badai Pasti Berlalu.
serasa pagi tersenyum mesra
tertiup bayu membangkit sukma
adakah esok kan tersenyum jua
memberi hangatnya sejuta rasa
Kau beri sejuta rasa kepada kami
Kuharap kau tersenyum di sana
Selamat jalan, Chrisye!
Ada kenangan tersendiri bagi saya tentang sosok Chrisye ini. Tahun 1994, setahun setelah saya dicukur botak merapikan sisa rambut setelah di-OSPEK, rambut saya mulai gondrong tanggung. Junior satu angkatan di bawah saya mengadakan acara G’Nite, sebuah acara kemeriahan yang dihadirkan oleh anggota himpunan yang baru masuk dengan didukung semua angkatan. Acara tersebut selalu bertema setiap tahunnya, dan kala itu angkatan 93 (angkatan 94 himpunan, karena OSPEK diadakan setelah satu tahun kuliah) mengusung tema “Malam Bertabur Bintang”.
Semua yang hadir di acara tersebut harus berkostum sesuai tema. Hingga sejam sebelum acara, berkumpul di rumah Riko, saya masih tak punya ide harus berkostum apa, sedang yang lain sudah mulai berdandan dengan kostum bintang film, tokoh kartun, selebritis dan sebagainya.
Ide datang saat Riko berseloroh, “Jay, lu mirip Chrisye, deh!”
“Hah?” tersentak sedikit saya walau langsung berpikir sepertinya iya juga.
“Eh, iya bener,” Cicies, Nday, Sani dan Rizki menimpali.
Dalam waktu kilat dicarilah celana panjang putih dan kemeja putih sisa-sisa penataran P4 serta sebuah selendang putih.
Dan malam itu, di aula Student Center Barat, memang malam bertabur bintang, termasuk diriku yang berjalan pelan, canggung bergaya dan berdansa di tengah kemeriahan dan gelak tawa. Tanpa sadar saya telah menghadirkan seorang bintang, yang saat itu di dunia nyata, Chrisye mulai aktif lagi bernyanyi, mencipta dan berkolaborasi dengan musisi terkenal lainnya.
Tahun 1996 (atau 1997, saya lupa), menjelang maghrib di lab komputer kampus. Upay sedang tergesa-gesa dan menyapa, “Jay, nggak nonton konser Chrisye?”
“Oh ya ada konser? Nggak kayaknya,” jawabku pesimis, karena memang tak ada rencana apa-apa.
“Aku pergi dulu, ya” segera ia meninggalkan tempat.
Tiba-tiba saya ditelepon sahabat SMA, mengajak menonton konser akustik Chrisye, di country club Eldorado, Setiabudhi. Hore, tiket gratis!
Pukul 7 kurang saya dijemput dari kampus, berdesak-desakan dalam mobil Katana. Tiba di Eldorado bertemu lagi dengan Upay di antrian pintu masuk.
“Loh, nonton juga ternyata!”
“Iya,” mukaku nyengir kucing, “sama teman-teman SMA,” sambil menunjuk teman-temanku.
Berlima kami duduk paling depan, tiket VVIP, menyaksikan dan mendengarkan lagu dan lirik yang sensasional dalam format akustik yang didukung oleh Indro (bass), Henry Lamiri (biola), Netta (backing vocal), Edi Kemput (gitar). Saya lupa nama penabuh drum dan pemain perkusinya.
“Musik saya adalah musik alam,” ujarnya.
Musikmu musik Indonesia.