Mohamad Toha
Sabtu, 24 Maret 2007M
06 Rabiul Awal 1428H
- Tracking System
- International phone card
Enam puluh satu tahun yang lalu, kota Bandung dibumihanguskan dengan dibakar oleh rakyat dan pasukan Siliwangi. Target utamanya adalah instalasi penting yang dikuasai Belanda yang membonceng NICA saat penyerahan pendudukan Jepang. Meski saat itu kemerdekaan sudah diproklamasikan, pasukan Belanda bertahan menguasai kota Bandung. Diplomasi yang dipimpin R. Oto Iskandar Di Nata dan bentrokan-bentrokan berlangsung hingga momen penting yang selalu dikenang hingga kini, Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946. Dibakar dan mengungsi ke Bandung Selatan.
Bentrokan terus berlanjut meski rakyat dan Siliwangi menempati pelosok perdesaan di Bandung Selatan seperti Dayeuhkolot, Banjaran, hingga Ciparay. Salah satu prajurit yang ikut mengungsi malam itu adalah Mohamad Toha, dalam Barisan Rakyat Indonesia di seksi Bagian Penggempur. Baru beberapa bulan ia bergabung ke dalam kemiliteran yang marak dibentuk setelah proklamasi.
Usaha merebut kembali kota Bandung harus melalui benteng pertahanan Belanda di Dayeuhkolot. Tanggal 10 Juli 1946 sore hari dengan hanya 11 prajurit (dari pasukan BRI dan Hizbullah) mulai dilancarkan aksi penyerangan ke pertahanan Belanda tersebut, dengan sasaran utama sebuah gedung mesiu.
Tengah malam terjadi kecelakaan di dekat gudang mesiu tersebut. Pasukan terperangkap ranjau hingga menyebabkan semuanya luka-luka dan gugurnya Mohamad Ramdan. Mohamad Toha yang juga ikut terluka tetap meneruskan operasi dan kesembilan lainnya kembali ke pengungsian di Ciparay. Sendirian Mohamad Toha memasuki gudang mesiu di Dayeuhkolot tersebut.
Komandan Rivai yang mendengar laporan bahwa Mohamad Toha tetap bertahan di sekitar gudang mesiu, meski dalam keadaan terluka, memerintahkan agar Komandan Seksi S. Abbas mengadakan serangan pengacauan ke kubu Belanda dari jurusan lain, untuk mengalihkan perhatian musuh dan melapangkan jalan bagi Toha untuk menghancurkan gudang mesiu. Tanggal 11 Juli 1946, sekitar pukul 12.30, terdengar ledakan dahsyat yang mengejutkan seluruh warga kota, bahkan terdengar hingga 100 km dari pusat ledakan. Anggota pasukan yang kembali ke markas pun menundukkan kepala tanda hormat atas kepahlawanan Mohamad Toha.
Nina H. Lubis: Mohamad Toha
Beberapa hari kemudian Belanda melancarkan propaganda, bahwa ledakan tersebut terjadi karena hubungan arus singkat. Tersebar juga berita ledakan hanyalah akibat puntung rokok dan obor prajurit Belanda. Intinya, berita yang diumumkan pihak Belanda selalu berganti-ganti.
Rabu yang lalu, ratusan warga Kabupaten Bandung dan peserta seminar “Mohamad Toha sebagai Pahlawan Nasional” sepakat mengusulkan untuk yang ketiga kalinya penganugerahan Mohamad Toha sebagai Pahlawan Nasional, setelah yang pertama tahun 1970 dan kedua di tahun 1990 gagal. Seminar tersebut diadakan di pendopo Mohamad Toha, Soreang, Kabupaten Bandung.
“Dua kali pengusulan yang lalu tak dapat diterima, karena kurang memenuhi persyaratan dan kekurangan bukti. Pada tahun ini, kita akan mencoba menuliskan riwayat perjuangan Moh. Toha dengan mengedepankan bukti-bukti serta kesaksian orang-orang terdekat Moh. Toha sebagai bukti-bukti primer,” kata Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad, Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.Si. yang bertindak sebagai moderator seminar tersebut.
Pikiran Rakyat: Moh. Toha Diusulkan Lagi
Semoga semua bukti sejarah semakin terkumpul banyak, termasuk gambaran atau foto Mohamad Toha itu yang mana. Namun masihkah kita meragukan sebuah kepahlawanan yang nyata?
***
Sejauh ini, khalayak mengenal bahwa lagu perjuangan tersebut merupakan ciptaan Ismail Marzuki. Akan tetapi, banyak orang yang meragukannya. Pasalnya, komponis kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914 itu berkecenderungan mencipta lagu-lagu berirama lambat nan romantis. Sementara, “Halo-Halo Bandung” termasuk genre lagu mars yang berirama cepat dan heroik.
Pikiran Rakyat: Kontroversi Pencipta “Halo-halo Bandung”
Cukup beralasan teori di atas terjadi, namun kepastian siapa pencipta sebenarnya mungkin masih terus dicari. Membaca bagian akhir artikel tersebut rasanya cukup membumi juga, bahwa Halo-halo Bandung diciptakan oleh para pejuang Bandung Selatan.
Ceritanya, pada suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak. Di sana, disediakan pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada pengunjung yang ingin menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona L. Tobing, tiba-tiba menyapa, “Halo!” kepada Kota Bandung di kejauhan, “Halo Bandung!”. Kemudian sapaan itu memiliki irama, “Halo-Halo Bandung” seperti irama yang dikenal saat ini. “Akan tetapi, irama itu tidak selesai karena malam sudah larut,” tutur Bang Maung.
Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung, setiap malam, setelah peristiwa Bandung Lautan Api. “Siang hari tidak ada kerja. Jadi di Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran. ‘Eh, lagu yang kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de— (berirama menurun).’ Setelah lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku itu, di antaranya Leo Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo Bandung, datang orang Ambonnya. … Sudah lama beta! tidak bertemu dengan kau!’ Karena itu, ada ‘beta’ di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia di situ. Si Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya enggak tahu. Tapi, sambil nyanyi bikin syair. Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan,” ucapnya.
Mari bung, rebut kembali!
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 7:11
Using
Cara Jay menyajikan sejarah memang mengasikan :)
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 8:02
Using
Ooo pantesan, lagu Halo Halo Bandung bukan dalam bahasa Sunda atau Jawa :)
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 8:04
Using
Jay, punya pilem nyah?
*nyiapin space buat ngerampok*
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 9:46
Using
Baru liat fot Mohamad Ramdhan dan Mohamad Toha di koran PR dua hari lalu. Gagah euy.
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 13:35
Using
pertama : salam kenal
kedua : pointnya apa yah ?
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 13:45
Using
#5: No point.
Minggu, 25 Maret 2007 @ 15:21
Using
*minuhan komen ah*
cik sugan ayeuna, piraku hayam keneh
Minggu, 25 Maret 2007 @ 17:40
Using
pointnya:
tidak butuh point untuk postingan seperti ini
Minggu, 25 Maret 2007 @ 17:51
Using
#5 Ngapain pakai point? Ini kan bukan tayangan TV Cerdas Cermat :P
Senin, 26 Maret 2007 @ 9:22
Using
Belum ada statement dari pihak ahli waris Ismail Marzuki..?
*googling*
Senin, 26 Maret 2007 @ 10:53
Using
buat ngasih gelar pahlawan saja susah teuing ya kang? memangnya negara harus ngluarin duit banyak buat memutuskan seseorang menjadi pahlawan ya?
Senin, 26 Maret 2007 @ 19:35
Using
Terharu ya waktu liat anak2 bawa obor keliling Bandung …
Senin, 2 April 2007 @ 16:51
Using
Kumaha cara na hayam jadi foto uing kang Jay …. ah asa teu nyari ngaran iyus tapi gambarna hayam ……………… hahahahahahaha. Jadi Inget baheula sok ngiringan Long March asa ripuh pisan … teu kabayang baheula ….. Cag Ah
Kamis, 5 April 2007 @ 8:31
Using
pemerintah pe ernya banyak yak? tapi antrian yang mau jadi pegawai negeri juga banyak.
Rabu, 25 April 2007 @ 17:52
Using
Terima kasih atas ringkasan “sejarah”nya. juga komentarnya.
dukung kita para sejarawan meng-goalkan Moh Toha sebagai pahlawan nasional.
karena moh toha memang layak jadi pahlawan, sesuai fakta sejarahnya.
Perlu diketahui, bahwa jarang sekali pahlawan nasional itu berasal dari kalangan orang kecil. dari 136 pahlawan nasional indonesia, hanya beberapa gelintir saja yg berasal dari kalangan wong cilik seperti moh toha.
Nina Lubis
Rabu, 24 Oktober 2007 @ 14:54
Using
Menjelang Hari Pahlawan 10 November mendatang, bagaimana perkembangan terbaru soal anugerah pahlawan nasional untuk Mohd Toha? Sudah diangkat kah?
Saya Penasaran,..
Selasa, 13 November 2007 @ 20:01
Using
foto si Toha nya mana euy……??????
Rabu, 9 Juli 2008 @ 19:25
Using
sayangnya masih tertera yg menciptakan lagu halo halo bandung itu masih Ismail Marzuki. Padahal penciptanya adalah Bona L Tobing. Saya selaku anaknya sangat sedih sekali melihatnya. Mohon perhatian dari pemerintah .
Rabu, 9 Juli 2008 @ 20:18
Using
Memang pada thn 1946, bapak bertugas di Bandung sbg prajurit TNI Siliwangi dan ikut memerangi penjajah dari bumi Bandung. Bapak juga pernah cerita tentang Bandung yg pada saat itu sedang bergejolak, dan dinamakan Bandung Lautan Api. Dimana yg pada waktu itu semua pejuang yg ada di Bandung termasuk ayah kami ikut menumpas sang penjajah.Tolong perhatian dari pemerintah yg sebesar-besarnya, untuk meninjau lebih jauh tentang hak cipta lagu. Kepedulian dari pemerintah sangat kami harapkan, untuk itu kami dari pihak keluarga Bona L Tobing (pencipta Lagu Halo-halo Bandung), dengan ini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian dan perhatiannya untuk melihat lebih jauh tentang keberadaan hak cipta lagu. Sudah sepantasnya Bona L Tobing mendapat gelar Pahlawan Nasional. Dengan ini atas nama keluarga saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mau perduli turut serta membantu atau meluruskan sejarah ini. Terima kasih.
Minggu, 17 Agustus 2008 @ 19:02
Using
tolong cari nama asli dari Pahlawan Muhamad Toha. Menurut cerita orang Garut (Bentar Hilir) sebenarnya (katanya) nama Muhamad Toha itu dari nama dua orang (dua orang pahlawan) yaitu Muhamad dan Toha. Muhamad dan Toha memang dua kawan perjuangan semasa Bandung lautan api. tapi kenapa Pak Muhamad kurang diceritakan dalam sejarah. informasi lebih lanjut!
Sabtu, 13 Maret 2010 @ 22:10
Using
Kaleresan abdi urg ciparay, tah upami aya waktos, diantawisna aya nu namina mang maja, anjeuna teh veteran pejuang… Mamanawian wae uninga tempat2 nu janten markas pejuang nu aya diciparay kang…
Jumat, 4 Juni 2010 @ 9:33
Using
Punten sim abdi salah sahiji putrana ti rayi pahlawan mohamad toha. Bade masihan saran we, upami bade ngangkat deui sejarah kepahlawanan Mohamad Toha sareng diuslkeun deui janten Pahlawan Nasional langkung sae pendakan rayi mantenna di alamat ieu :
Jl. Cikawao dlm 2 No. 15/36A Bandung,
wastana Ibu Djuhaeriah
upami Ibu Kandungna Mohamad Toha namina Ibu Nariyah (Alm)
Rabu, 29 September 2010 @ 16:18
Using
punteun kang bd tumaros ari M. Toha teh “melakukan”bom bunuh diri atanapi ngahaja ngaledakeun gudang mesiu(piwarangan komandan), teras tos nikah teu acan margi pupusna anom pisan yuswa 19 taun? hatur nuhun.
Rabu, 16 Maret 2011 @ 18:58
Using
lagu halo halo bandung nyontek lagu ini
http://www.youtube.com/watch?v=5dQRt_i9Ckk