Narsisisme Penguasa Dalam Domain Internet
Selasa, 20 Maret 2007M
03 Rabiul Awal 1428H
- Tracking System
- International phone card
Saya sedang malas membuka KBBI, apakah yang benar narsisme atau narsisisme (narcissism). Sebuah serapan yang mungkin belum baku, tidak seperti fanatisme yang dibakukan di KBBI walau secara logika saya lebih memilih fanatisisme (fanaticism). Untuk kemudahan komunikasi, mari kita sebut narsis saja, daripada lidah anda terpelintir terlalu sering menyebut narsisis, narsisistis, narsisistik, atau narsisisme.
Manusia selalu punya sifat narsisistik, meski hanya sedikit. Yang menjadi masalah adalah saat sifat narsis sudah keluar dari toleransi kewajaran antar manusia. Para psikiater menyebutnya Narcissistic Personality Disorder. Seorang penguasa kerap mengalami kenaikan tingkat narsisistiknya, sebuah hal wajar yang terjadi sejak dahulu kala. Selain faktor kekuasaan, sifat diri juga punya sesuatu yang lebih ingin dituliskan agar menjadi catatan sejarah. Baik berupa cerita, patung, lukisan, simbol-simbol, atribut dan lain sebagainya.
Tahun lalu, presiden negeri ini mengumumkan beroperasinya situs presidensby.info sebagai situs informasi kepresidenan. Hal pertama yang saya pikir adalah Presiden SBY cukup narsis. Ia mencoba tingkat eksistensinya di internet secara formal dalam konteks kepresidenan dengan nama domain yang sangat personal. Kemungkinan lain adalah tim ahli kepresidenan yang melahirkan keputusan nama domain presidensby.info.
Domain, atau Domain Name System adalah sebuah hirarki penamaan alamat di internet. Kepresidenan beserta jajaran kabinetnya hingga tingkat kelurahan adalah sebuah konsep yang sama dengan DNS, sangat hirarkis. Sangat disayangkan para pejabat negara dan staf ahlinya mengabaikan hal tersebut. Saya (atau kami) sebagai individu dalam komunitas global internet bisa menerima sesuatu yang hirarkis agar terjadi keteraturan, seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berkaitan dengan birokrasi dan hirarki kelembagaan negara.
Jika situs presidensby.info adalah situs informasi yang nonformal, bukan dalam konteks jabatannya sebagai presiden tentu masyarakat internet Indonesia –yang bisa saya katakan masyarakat internet yang cerdas– bisa menerima keberadaan situs tersebut. Masyarakat pun butuh sisi manusiawi seorang presiden, yang jika dituliskan dalam bentuk nonformal –bahkan seharusnya ditulis dan di-submit sendiri oleh SBY– akan lebih membumi bagi masyarakat ini, sekaligus bisa menjadi contoh bagi pejabat negara lainnya (top-down).
Namun domain yang diluncurkan tahun lalu tersebut tetap pada keputusannya, presidensby.info sebagai situs resmi kepresidenan. Atau “situs resmi kepresidenan SBY”? Logikanya, nama domain yang struktural adalah nama jabatan, bisa dalam bentuk singkatan atau akronim. Saat nama jabatan ditambahi nama pemegang jabatannya, jelas itu adalah penyimpangan. Seperti halnya Rumah Dinas Walikota, penjabat walikota bukanlah pemilik nama rumah tersebut.
Saya tak akan membahas sistem DNS yang rumit, ada banyak dokumennya di internet, bahkan di setiap distribusi Linux yang bebas, murah dan meriah. Saya coba tuliskan konsep DNS dalam bahasa manusia Indonesia, terkait dengan situs presidensby.info yang terkena abuse.
DNS itu mempunyai akar (ROOT) atau jika dalam bentuk piramida adalah puncaknya. ROOT SERVER adalah basis data Top Level Domain (TLD) dan Country Code Top Level Domain (ccTLD). Salah satu data di ROOT SERVER ini adalah ccTLD domain .id.
Setiap detik ROOT SERVER menerima pertanyaan “di manakah alamat IP presidenri.go.id?”
Maka ROOT SERVER akan menjawab, “Oh, itu harus ditanyakan ke server berikut ini”
$ hostx -t ns id.
id NS NS1.RAD.NET.id
id NS NS1.INDO.NET.id
id NS SEC3.APNIC.NET
id NS NS1.id
Sang komputer penanya melangkah ke tempat informasi lain yang lebih spesifik, seperti halnya kita bertanya di mana rumah si Nolednad kepada Pak RW06, maka Pak RW06 akan menunjukkan sebaiknya tanyakan ke Pakerte. Penanya (walau tidak secara langsung komputer pengakses) meneruskan pertanyaan ke salah satu dari empat server di atas.
“Wahai para DNS .id, di manakah alamat IP presidenri.go.id?”
Salah satu dari empat server di atas akan menjawab, “Oh, itu tanyakan saja ke server-server berikut ini”
$ hostx -t ns go.id
go.id NS ns2.indo.net.id
go.id NS ns.net.id
go.id NS ns1.id
go.id NS ns1.iptek.net.id
Walau tidak dengan kekesalan, sang penanya bertanya lagi, sebab ternyata server ns1.id punya otoritas juga untuk menjawab domain .go.id
“Jadi alamat IP presidenri.go.id berapa?”
Dan server ns1.id seharusnya menjawab, “Di IP sekian.”
$ hostx presidenri.go.id ns1.id
presidenri.go.id A record currently not present at ns1.id
Rupanya delegasi dan otorisasi sedang mengalami kekacauan, sehingga server ns1.id tidak tahu di mana alamat IP presidenri.go.id padahal server ini sudah mendapat otorisasi dari domain .go.id.
Oh, mungkin presidenri.go.id itu masih berupa komplek, bukan alamat rumah. Jadi ditanyakan lagi siapa yang punya informasi komplek presidenri.go.id
$ hostx -t ns presidenri.go.id ns1.id
presidenri.go.id NS record currently not present at ns1.id
Penanya kecewa, ternyata ada satu server (yaitu ns1.id) dari jajaran bertingkat domain tidak bisa menjawab. Akhirnya dengan beberapa kali mencoba (konsep round-robin) dari beberapa server di atas didapatlah komplek presidenri.go.id itu berada.
$ hostx -t ns presidenri.go.id
presidenri.go.id NS sahi78679.venus.orderbox-dns.com
presidenri.go.id NS sahi78679.mercury.orderbox-dns.com
presidenri.go.id NS sahi78679.mars.orderbox-dns.com
presidenri.go.id NS sahi78679.earth.orderbox-dns.com
Penanya pun tertawa sendirian, Pak Presiden ini aneh, menyediakan tempat pelayanan pertanyaan alamat Indonesia kok disimpan di luar, sih?
Tanpa berkeluh kesah lagi, penanya mengakhiri pertanyaannya kepada salah satu dari empat server DNS orderbox-dns.com di atas.
$ hostx presidenri.go.id sahi78679.venus.orderbox-dns.com
presidenri.go.id A 203.130.196.114
Oh, rupanya alamat Pak Presiden ini di IP 203.130.196.114.
Eh, IP ini posisi geografisnya ada di mana, sih?
$ whois 203.130.196.114
% [whois.apnic.net node-1]
% Whois data copyright terms http://www.apnic.net/db/dbcopyright.html
inetnum: 203.130.196.0 - 203.130.196.255
netname: TLKM_D2_IDC_HOST_SM2
country: ID
descr: PT TELKOM DIVISI MULTIMEDIA
descr: TELECOMMUNICATIONS/COMMUNICATIONS
descr: JL. KEBON SIRIH No.12 - 7th FLOOR
descr: JAKARTA
Oh, masih di Indonesia juga, toh!
Cukup panjang proses pertanyaan pencarian alamat IP dari nama domain agar pengunjung bisa membaca situs Pak Presiden, kan? Itu menurut bahasa manusia, namun menurut bahasa mesin komputer rangkaian proses di atas kurang dari satu detik, bahkan dioptimasikan oleh DNS server tiap ISP untuk menyimpan cache agar pertanyaan yang sama tidak perlu ditanyakan berulang ke tingkat atas.
Proses di atas adalah proses hirarkis, sebuah proses biasa diterapkan dalam kenegaraan dalam hal-hal administratif. DNS adalah administratifnya internet. Dalam kasus tertentu ada eksklusivitas untuk lembaga tertentu. Jika pejabat negara (beserta staf ahlinya) memang ingin merapikan administrasi internet termasuk hak eksklusifnya, kenapa tidak dibikin nama domain yang beken misalnya presiden.id? Bagus bukan? Saya juga yang tak akan protes kok, Pak!
Bahkan jika Bapak ingin menyalurkan narsisisme boleh saja kok Pak, pasang situs pribadi Bapak di sby.presiden.id, kan keren tuh. Di masa depan jika Tuan Sadinoel jadi presiden kan bisa membuat hal yang sama, jadi sadinoel.presiden.id
Begitu pula dengan jajaran hirarkis lainnya ke bawah, misal para menteri berada dalam domain menteri.id, kan nyaman membaca atau menuliskan diknas.menteri.id atau agama.menteri.id.
Saya percaya administrasi negara sangat terstruktur dan hal ini jauh lebih mudah dikompromikan dalam sistem DNS yang terstruktur juga. Negara punya kekuasaan untuk mengatur administratif seperti ini. Atur dong Pak, masa saya sebagai underpaidworker swasta harus memikirkan ini?
Menyalurkan gairah narsis boleh, kok. Kita sama-sama tahu batasnya. Saya juga narsis punya situs firdaus.or.id. Tapi kalau hasil narsistiknya Pak Presiden tidak bagus, atuh Pak, masa Bapak punya jajaran staf ahli tak ada yang bisa membuat narsisisme Bapak terlihat bagus dan rapi tanpa embel-embel jabatan kepresidenan?
Pak SBY, Depkominfo bisa tidak sih sebenarnya mengurusi pengaturan domain .id? Kok sepertinya tidak beres-beres sampai sekarang, sampai-sampai setahun kemarin Bapak harus memakai domain presidensby.info. Malu dong Pak domainnya setara dengan id-gmail.info!
–
Catatan: Record-record DNS di atas adalah hasil query saat tulisan ini dibuat.
Selasa, 20 Maret 2007 @ 23:55
Using
pertamax!
Rabu, 21 Maret 2007 @ 0:17
Using
Malu dong Pak domainnya setara dengan id-gmail.info
==========================================================
lho bukannya beliau mesti bangga?
Rabu, 21 Maret 2007 @ 0:47
Using
Bahasan alus, ide alus, usul & kritik juga membangun.
Sayang… Menkominfo_na keur sibuk rungsing atur somasi ‘Republik Mimpi’ tea.
Kade, tidak takut dianggap ikut men-de-legitimasi tea?
Rabu, 21 Maret 2007 @ 3:05
Using
*nunggu jawaban ‘lucu’ dari stap ahle*
Rabu, 21 Maret 2007 @ 6:27
Using
Jay,
Mungkin ada yang kurang ya. IMW bilang bahwa presidenri.go.id-lah yang merupakan domain resmi. presidensby.info merupakan alias saja.
Jika demikian, sebenarnya apa yang Jay sampaikan disini sudah diadopsi oleh tim situs presiden, hanya saja rilis berita-nya tidak seramai rilis berita soal presidensby.info.
Saya malah baru tahu dari IMW (IMW bilang sudah rilis dimilis-2) kalau situs resmi SBY justru presidenri.go.id.
Ini malah ada abuse dalam bentuk lain, :-(.
Rabu, 21 Maret 2007 @ 6:33
Using
Sorry, salah kirim reff link :-P.
Jadi kacau bacanya.
Link komentar IMW ada disini
Sedangkan link presidenri abuse ada disini
BTW, preview comment kayaknya ada bagusnya Jay, buat menghindari salah ketik dari HTML newbie kayak saya ini :-).
Rabu, 21 Maret 2007 @ 7:15
Using
Ooo… Jadi id-gmail itu memalukan?
*fokus buram*
Rabu, 21 Maret 2007 @ 7:19
Using
kominfo mana bisa ngurus yang beginian
kominfo cuman bisa ngurus yang ngasilin duit cepet ajah…
jangka panjang, ya urusan nanti, biar menteri selanjutnya aja
Rabu, 21 Maret 2007 @ 9:22
Using
#rendy, kalo nulis hati – hati. jangan sembarang nulis :)
Rabu, 21 Maret 2007 @ 9:23
Using
eh Jay, di tempat gua bukan hostx, tapi host aja *tanpa aja*
Rabu, 21 Maret 2007 @ 9:43
Using
#azil:
$ host aja *tanpa aja* -t ns id.
host: couldn’t get address for ‘*tanpa’: not found
Rabu, 21 Maret 2007 @ 9:44
Using
Jadi teringatkan, .id bakal diperpanjang lagi tidak ya ?
Rasanya belum ada bocoran-bocoran mau dibagaimanakan.
Rabu, 21 Maret 2007 @ 9:52
Using
suatu tulisan pedas, tajam, terpercaya dan handal… itu lah DELIK… nga ada hubungannya yah kak….klo gtu mendingan nama bloggw yah… dr pd punya pak presiden… (promosi garing… wong msh numpang juga)
Rabu, 21 Maret 2007 @ 10:20
Using
C:\Documents and Settings\Anthony Fajri>host -t ns id.
‘host’ is not recognized as an internal or external command,
operable program or batch file.
Rabu, 21 Maret 2007 @ 10:29
Using
Kalau memang yang presidenri.go.id. adalah yang resmi, yg presidensby.info ya di-nuke saja.
Rabu, 21 Maret 2007 @ 11:05
Using
jadi kapan ada domain jay.presiden.id, Jay ? :p
Rabu, 21 Maret 2007 @ 12:08
Using
Jadi sekarang yang resmi presidenri.go.id ya? Kok adem ayem aja, padahal dulu ramai yang membahas penggunaan domain presidensby.info
Jadi ingat jawaban yang berwenang mengenai domain presidensby.info
Rabu, 21 Maret 2007 @ 12:15
Using
ternyata lidah saya beneran terpelintir baca : narsisis, narsisistis, narsisistik, dan narsisisme
Rabu, 21 Maret 2007 @ 14:16
Using
Saya koq gak bisa ya pake host maupun hostx. Upps ternyata saya pake Windows toh makanya gak bisa :-D
Rabu, 21 Maret 2007 @ 14:42
Using
*plok plok plok*
keren jay…. :D
Rabu, 21 Maret 2007 @ 15:19
Using
tolong sekalian DNSSEC dibahas juga.
Rabu, 21 Maret 2007 @ 15:40
Using
hahah, pedes :D
Rabu, 21 Maret 2007 @ 17:51
Using
hehehehe …. diatas langit ada langit. Cag Ah
Rabu, 21 Maret 2007 @ 22:16
Using
aduh indonesiaku ayo para blogger bantu para pejabat yg kage sanggup ngurus domain doang
test test http://bimoseptyo.blogspot.com
Rabu, 21 Maret 2007 @ 23:21
Using
Pas banget Jay, semua. Yang domain, yang kominfo (duh), yang narsis. Heh, bikin Partai Narsis yuk! Kalau bersedia, aku tunggu di Landmark besok sore (22 Maret). Ada pameran ICT di sana, dan aku ngetem dari siang sampai agak malam. Ada Budi Putra juga. Mudah2an Ikhlasul Amal mau datang juga. Kopi tersedia di Braga Citiwalk.
Kamis, 22 Maret 2007 @ 7:22
Using
Partai narsisme yah hmm, lama lama “pamer” ama “narsis” jadi deketen nih
Kamis, 22 Maret 2007 @ 9:47
Using
Tinggal bahasa diperhalus dikit, diubah jadi bahasa proposal, bisa jadi proyek om Jay.
Kamis, 22 Maret 2007 @ 11:15
Using
Lho..kan ada setap ahli kang jay?
Kang Jay minat jadi setap ahli teu?
Sok lah ku sayah dipromosikeun…
Kamis, 22 Maret 2007 @ 11:28
Using
#28: Mangga dipromosikeun. Nuhun.
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 9:00
Using
naha bisa kitu nya? asa piraku setap juragan euweuh nu ngarti
*sakalian ngetest avatar jeung browser*
*piraku hayam keneh wae*
Sabtu, 24 Maret 2007 @ 9:10
Using
duh masih hayam
dan ternyata Internet Explorer 6.0 on Windows 98 padahal mah on Ubuntu
Sabtu, 14 Juli 2007 @ 9:52
Using
[...] Sebelum ke pokok permasalahan, ak mo singgung tentang penggunaan kata: narsis. Menurut Mas Jay, narsisme ditulis dengan menggunakan kata narsis ditambahin isme, jadi [...]
Sabtu, 25 Agustus 2007 @ 13:50
Using
proyek proyekk
Jumat, 15 Agustus 2008 @ 11:51
Using
kritikan loe cukup pedas juga jay, hmm… ntah lah kali aja para EDP ( Electronic Data Processing ) ke negaraan masih dibawah rata2 kali ya… heheheee……. :D
hmm… ini seharusnya menjadi perhatian para DEPKOMINFO, tapi ya mo dibilang apalagi…
wong kita ngobrol ampe mulut bau juga ngak laku ma orang2 DEPKOMINFO… alias mereka tutup mata n tutup kuping kali ya…. hehehehee…… :D
tapi maunya diharapkan administrasi pemerintahan dalam dunia internet juga mampu dirapikan yooo…!
ayo maju indonesia yuk…!
Minggu, 30 November 2008 @ 20:34
Using
ikutan nimbrung ah…
didapet dari http://freedns.afraid.org/domain/dnstrace.php?domain=presidenri.go.id&submit=Trace