Rasa: Aksi dan Reaksi

Kamis, 1 Maret 2007M
13 Safar 1428H

Rasa membuat manusia lebih berjiwa dan lebih hidup. Emosi kita naik-turun, kembang-kempis, cair-beku akibat rasa yang dicerap, karena rasa adalah segalanya. Bidang sains pun turut serta mengeksplorasi rasa secara ilmiah, terutama dalam bidang Kimia Organik, ilmu optik dalam Fisika serta bit-bit informasi melalui pixel dan warna. Rancangan natural yang mahatinggi dipelajari manusia ke dalam dunia eksak. Itulah sebabnya kurikulum dahulu menyebut Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (atau Ilmu Pasti Alam), bukan Kimia, Fisika, Biologi dan sebagainya. Dan Alam diciptakan serta dibangkitkan setelah Vetty Vera.

Dunia industri pada dasarnya mengeksploitasi rasa yang dimiliki manusia. Generalisasi yang tumbuh terhadap rasa menjadi kapital perekonomian sebuah bangsa. Rasa angkuhnya Amerika melahirkan rancangan mobil Batman setengah abad yang lalu. Mobil dengan lempengan bodi yang tebal, berukuran besar, asesoris besi yang lancip-lancip, boros BBM dan sebagainya. Hanya sesaat, krisis karena perang Vietnam menelurkan pemberontakan di kalangan pemudanya. Pop art muncul, para flower generation mencari-cari spiritualisme baru, kulit putih ikut memiliki musik Blues, dan lain sebagainya. Generalisasi rasa kembali bergeser.

Indonesia pun tak ketinggalan, dengan ego yang tinggi Soekarno mewujudkan tren arsitektur dunia saat itu. Tugu Monas, Gedung MPR/DPR, masjid Istiqlal, Istora Senayan dan sejumlah bangunan dan monumen lainnya adalah perwujudan rasa yang ingin diungkapkan kepada dunia. Visi dan misi, apalagi kelayakan dan penganggaran bisa ditutupi dengan kata-kata justifikasi, independensi, revolusi dan sebagainya. Akhirnya Orde Baru membungkam semua rasa itu.

Terlalu luas kita bicara rasa dalam konteks di atas, kita kembali pada diri kita sendiri yang jauh lebih kecil. Rasa adalah sesuatu yang ditangkap oleh indera manusia yang bisa secara spontan membangkitkan emosi. Bahasa dan sains cukup kesulitan mendeskripsikan rasa sehingga terjadi persilangan indera. Suara yang manis, warna yang keras, cahaya yang lembut, adalah persilangan indera terhadap wujud rasa, sebab manusia masih kekurangan kosakata dalam protokol lisan dan tulisan.

“Saya merasa dingin” adalah sebuah reaksi spontan terhadap kondisi udara yang dingin di pagi buta kota Bandung. “Saya merasakan dingin” adalah sebuah aksi untuk mendapatkan rasa dingin dengan kemping di hutan Rancaupas. Emosi manusia karena rasa bisa berwujud reaksi atau aksi. Apa yang manusia bisa pelajari dari aksi dan reaksi emosi tersebut? Adalah kendali, sebab hanya orang gila yang tak punya kendali emosi.

Ajaran agama memberi syariat menahan haus dan lapar, seolah menentang suatu hal yang alami pada manusia. Harta dan penghasilan kita disyariatkan pula untuk sebagian diberikan melalui infaq dan zakat. Semua hal tersebut memberi pelajaran kepada manusia untuk mengendalikan emosi, emosi kenyang-lapar-haus, kaya-miskin-fakir, gembira-senang-sengsara dan lain-lainnya. Agar tercipta hubungan horisontal antar manusia dalam toleransi.

Aksi dan reaksi emosi ini bisa menjadi masalah publik saat berkaitan dengan para pemimpin. Saya jengkel ada pejabat telekomunikasi tak tahu bedanya availability dengan capacity, saya jengkel ada pejabat negara mengatakan “Alhamdulillah, yang meninggal hanya sekian orang,” atau “Masalah TV digital ini menunggu keputusan Presiden.”

Wahai pejabat telekomunikasi, anda tak punya kendali rasa menyamakan availability dan capacity kepada kami yang hidup dalam keterbatasan hal tersebut.
Wahai pejabat negara, perasaan anda di mana saat mengabarkan kematian dengan doa Alhamdulillah?
Wahai pemimpin, di mana kau simpan pikiranmu jika setiap keputusan harus ditetapkan oleh pemimpin besar?
Emang kerja lu apa kalo setiap keputusan harus di tangan Presiden?

Secara individual atau kelompok sosial, kita berlatih mengendalikan emosi dalam berbagai program simulasi agar di kehidupan nyata kendali itu berperan menjaga hubungan antar manusia. Kelompok pencinta alam menyusahkan diri untuk dekat dengan alam, bersusah-susah mendaki dengan beban di punggung hanya untuk menikmati udara puncak gunung. Kedinginan, alam yang ganas, makhluk liar dan sebagainya didekati untuk meningkatkan dua hal, kendali dan toleransi. Meski kadang hal tersebut dikatakan oleh orang lain sebagai pain is so close to pleasure.

Belajar hidup susah adalah pengalaman yang mengajarkan orang mengendalikan rasa dan emosinya. Saat orang kelimpungan karena susahnya sebuah masalah sering mendapat advis “makanya, belajar hidup susah!” dengan asumsi sang subjek tidak punya pengalaman hidup susah, atau setidaknya tak pernah mendapat simulasi hidup susah. Jangan menyarankan hal itu kepada saya, sebab prinsip saya adalah “belajar hidup senang” karena hidup saya sudah susah.

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

12 komentar untuk catatan 'Rasa: Aksi dan Reaksi'

  1. #1
    gravatar

    Aksi dan reaksi emosi ini bisa menjadi masalah publik saat berkaitan dengan para pemimpin. Saya jengkel ada pejabat telekomunikasi tak tahu bedanya availability dengan capacity, saya jengkel ada pejabat negara mengatakan “Alhamdulillah, yang meninggal hanya sekian orang,” atau “Masalah TV digital ini menunggu keputusan Presiden.”

    Mereka emang paling pintar memlintir kata

  2. #2
    gravatar

    nice words, belajar idup senang :-D i like dats.

    mabybe for tips :
    “hari esok musti lebih baik dari hari ini, jadi mari kita bersenang-senang hari ini..” ;-)

  3. #3
    gravatar

    “Dan Alam diciptakan serta dibangkitkan setelah Vetty Vera.”

    Ahahahahahah… Iya deh yang pencinta Alam :P
    Mbah dukun… piss ah :P

  4. #4
    gravatar

    sabar.. sabar.. sabar..

    Rasa juga harus bisa dikendalikan. Well, memang ada beberapa kepercayaan yang menilai rasa lebih unggul daripada akal, tetapi toh mereka akhirnya juga mengatakan bahwa menggelar sesuatu berdasarkan rasa juga tidak boleh grasa-grusu.

  5. #5
    gravatar

    hidup susah… hidup senang… ada hubungannya dengan angka atau hanya persepsi..?

  6. #6
    gravatar

    #5: Persepsi. Susah-senang di atas lebih berkaitan dengan effort, kadar upaya orangnya. Susah-senang memang terkait dengan angka, sebab ada (banyak) kesenangan yang sulit diraih tanpa angka.

  7. #7
    gravatar

    Pengendalian diri adalah salah satu syarat, agar manusia dapat di terima oleh lingkungan sekitarnya. Halah Cag Ah

  8. #8
    gravatar

    waktunya berkontemplasi yah

  9. #9
    gravatar

    Duh lieur ngomen nu keur kontemplasi mah, teu kataekan. Ngomen naonnya?

  10. #10
    gravatar

    saya jengkel ada pejabat negara mengatakan “Alhamdulillah, yang meninggal hanya sekian orang,”

    HAH SAHA ETA NU NYARIOS KITU?

    #7 horeee ada temen euy yg masih pake IE 6.0 :p

  11. #11
    gravatar

    bener. e,ang pejabat indonesia itu emang gitu kawan

  12. #12
    gravatar

    waduh, boleh juga tuch ceramahnya. bisa memberikan pengetahuan kepada orang lain tentang sekelumit masalah hidup.

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.