Sound Server
Selasa, 27 Februari 2007M
08 Safar 1428H
- Tracking System
- International phone card
Sound Server bukanlah hal baru di lingkungan Unix/Linux, seperti halnya tampilan antarmuka X-window, X-server dan X-client. Dalam satu komputer sound server menjembatani aplikasi yang mengirim suara ke kartu suara, sebab standar keamanan dalam dunia Unix/Linux; user biasa tidak punya hak mengakses hardware secara langsung, harus setara root. Dalam jaringan, sound server menjembatani komputer yang tidak mempunyai kartu suara agar bisa mengirimkan suara ke komputer lain yang mempunyai kartu suara. Apple memudahkan konsep ini dalam asesoris perangkatnya berupa access point Airport Express, sering disebut AirTunes, atau dalam bentuk AppleTV. Komputer jinjing yang tata suaranya pas-pasan –bahkan dianggap kurang– bisa mengirimkan suara dari lagu yang diputar di iTunes melalui WiFi ke Airport Express yang tersambung ke tata suara yang lebih baik, apalagi jika digunakan AppleTV yang terpasang dalam tata suara home theater, tak hanya suara, tapi juga video dan koleksi foto.
Barang-barang itu tak ada, jadi kita kembali ke dunia Linux saja.
Koleksi lagu saya simpan di komputer Gentoo Linux Pentium III yang ruang harddisknya lebih besar dari MacBook. Secara remote dengan mounting Samba saya atur koleksi lagu tersebut dengan iTunes, ditambah bantuan widget Dashboard untuk mengisi gambar sampulnya, Cover Art, atau secara manual dengan melihat Wikipedia. Properti lainnya seperti tahun rilis, urutan trek lagu hingga ke liriknya (walaupun belum semua ada). Berkas lagu menjadi tersimpan rapi di filesystem, terlebih saat dilihat dengan mode Cover Flow di iTunes.
iMac jadul G3 350MHz yang hanya berharddisk 6GB bisa turut memutar koleksi lagu tersebut melalui share protokol Digital Audio Access Protocol. Di Linux bisa diterapkan dengan aplikasi mt-daap dan iMac cukup mengakses ke share DAAP tersebut tanpa harus repot menambahkannya ke music library dalam iTunes. Protokol ini kini dibatasi menjadi nonroutable, jadi hanya bisa diakses dari satu segmen LAN saja.
Kondisi lainnya, MacBook tak nyaman digunakan untuk memutar lagu karena speakernya yang terlalu kecil, baik kualitas maupun volumenya, sedangkan terlalu lama menggunakan earphone atau headphone juga menjadi seorang autis, juga repot jika harus bolak-balik memindahkan jack input speaker aktif dari belakang komputer Linux.
Sound server menjadi solusi hal tersebut. Gentoo Linux sudah terinstall Enlightened Sound Daemon, sebagai sound server desktop GNOME. Untuk dapat menerima suara dari remote cukup mengaktifkan ESD dengan opsi -tcp -public. Tinggal bagaimana MacBook mengirim suara ke ESD di mesin Linux ini?
Mac OS X adalah turunan Unix juga. ESD di MacBook saya install melalui Fink, dan untuk pengaturan perangkat suara harus ditambahkan Soundflower supaya ada device baru selain built-in speaker. Ternyata masih kurang, suara yang dikirim dari iTunes ke Soundflower masih harus di-pipe oleh ESD melalui X Terminal.
Jadi urutannya di Linux:
Aktifkan ESD dengan opsi -tcp -public
Filter port ESD dari network luar jika perlu (port 16001)
Dan di Apple MacBook:
Install Soundflower
Ganti device output ke Soundflower (2ch) di Preference Pane
Jalankan di Terminal $ esdrec |esdcat -s ip.address.komputer.linux
Dan iTunes di MacBook saya mengeluarkan suara di speaker yang tersambung di desktop Linux.
Terlalu rumit?
Beli saja access point Apple Airport Express!
Selasa, 27 Februari 2007 @ 16:10
Using
Duh gue serasa masih purba, masih mengandalkan audio monster cable buat konek sana sini :P
Selasa, 27 Februari 2007 @ 17:02
Using
andai punya mac os :(
Selasa, 27 Februari 2007 @ 17:21
Using
Saya mah mau nunggu bos Meknoto banting harga Airport Express aja
Selasa, 27 Februari 2007 @ 17:38
Using
Hehhhhhhhhhhhhhhh sumpah kabita bang jay
Selasa, 27 Februari 2007 @ 19:42
Using
Jaaayyy…, lagunya mau doooonggg…
hehehehehe
Rabu, 28 Februari 2007 @ 3:30
Using
biar gampang nyolok earphones ke belakang cpu kan bisa pake kabel tambahan. Harganya berkisar 15ribu sampai 20ribu, tergantung pada toko yang jual. Secara mereknya gak jelas.
Rabu, 28 Februari 2007 @ 8:34
Using
Secara Saya Sebelum beli Airport Express Nabung Dulu beli MacBook :D
Rabu, 28 Februari 2007 @ 9:34
Using
-> Betul Jay. Tirulah gua. Nikmati hidup sekarang. Secara gitu loh udah tua kita masa 20 taon lebih mo diperbudak komputer… bwakakakaka… ada yang gampang masa masih ngenang2 ntar jaman cari soundcard di OSS jaman Alsa masih can muni :D
AirPort rulez!! Eh Apple rulez :D… wakakaka.. Btw, gua pake AirPort Express juga buat nempelin printer-printer yang berserakan, tinggal tambahin USB hub 20rban itu kelar deh. Nah lucunya di mac langsung select nemu deh itu Samsung ML-1710, di pc kok syusyah banget. *maksudnya bukan drivernya, tapi nyari printer usb yg di colok ke Access Point…. beuh. Iseng2 terus installing Bonjour for Windows mantapppp langsung keluar deh. Ternyata gitu loh. Apple kaleee bikin software dipikirin sisi manusianya. Well, susah sih ntar dikira mac freaks/apple freaks bagi sebagian orang. Kagak lageee. Gua sih penggila teknologi. Sok kalo ada teknologi yang lebih bagus gua pake :D It’s that simple.
Rabu, 28 Februari 2007 @ 10:00
Using
Masih kepikiran mendingan beli kabel. tinggal colok sana sini.
hi.hi.hi.
Rabu, 28 Februari 2007 @ 12:43
Using
-> Hehehe kalo udah liat kabel di kamar gua ga nafsu lagi boss wakakaka malah kalo ada adaptor power notebook yg wireless gua beli deh :P
Rabu, 28 Februari 2007 @ 13:43
Using
esd sekarang dah mau dipensiunken, diganti oleh PulseAudio.
Kamis, 15 Maret 2007 @ 17:50
Using
enaknya….
kalo aku punya duit, aq pasti beli tuh mac. bener2 easy to use. mouse-clicknya aja cuman satu. katanya sih, nenek2 juga bisa make mac karena saking mudahnya.
mo ngaktifin ftp, tinggal centang. go apples….. (klo bisa dimurahin dikit dong….)