Jay adalah Yulian



« | »

Tutut: Keong Sawah

Kuah Tutut siap dimakan

Semasa kanak-kanak dulu saya sering memakan Tutut, sering disebut keong sawah. Tidak sebagai lauk untuk mengantar nasi untuk dikunyah, tapi sebagai makanan penutup atau camilan di sore hari. Keong sawah ini bercangkang hitam kehijau-hijauan, berukuran sebesar jempol tangan hingga sebesar jempol kaki, walau ada juga di beberapa tempat bisa berukuran sebesar bola pingpong. Sekali memasak tutut biasanya satu panci, dibeli dari pasar tradisional dalam keadaan hidup. Sebelum dimasak, bagian ujung kerucut spiralnya dipotong sedikit dengan pisau, cangkangnya cukup rapuh sehingga tidak akan merusak mata pisau. Kemudian direbus hingga matang bersama bumbu salam, séréh, laja dan santan kelapa. Setelah matang siap dimakan, yaitu dengan cara disedot seketika (disedot menghentak). Daging tutut bisa keluar dan langsung masuk ke mulut, untuk inilah bagian buntut cangkangnya harus dipotong supaya angin bisa masuk. Kalau tak pandai menyedotnya atau tak ingin orang lain melihat mulut anda monyong, cungkil saja dengan tusuk gigi.

Daging Tutut atau Keong Sawah

Tutut, keong sawah, atau Bellamya javanica van den Bush paling banyak ditemukan di sawah, di mana air sawah meski berlumpur tapi juga relatif bening. Habitat lainnya di tempat yang juga mirip sawah, yang airnya cukup bening, berlumpur dan airnya tak berarus/bergerak. Siang hari tutut ini bersembunyi ke dasar lumpur sehingga sulit dicari dan dikumpulkan. Malam hari ia menyebar menempel-nempel di batang padi atau tumbuhan lainnya. Pedagang tutut di pasar tradisional biasanya mengumpulkan keong sawah tersebut pagi hari, saat tutut masih berada di permukaan air dan menempel-nempel di batang padi. Beberapa orang siswa SMP 1 Laren, di Lamongan, menemukan metoda pengumpulan tutut yang lebih efektif, yaitu dengan daun pepaya. Tutut ternyata menyukai daun pepaya, sehingga daun pepaya yang diletakkan di malam hari, esok paginya dipenuhi dengan gerombolan tutut. Percobaan mereka juga menggunakan daun pisang dan daun pepaya.

Tutut mengandung zat gizi makronutrien berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi pada tubuhnya. Berat daging satu ekor tutut dewasa dapat mencapai 4-5 gram. Selain makronutrien, tubuh tutut juga mengandung mikronutrien berupa mineral, terutama kalsium yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Dengan pengelolaan yang tepat, tutut dapat dijadikan sumber protein hewani yang bermutu dengan harga yang jauh lebih murah daripada daging sapi, kambing atau ayam.

Berikut saya cuplikkan tulisan dari jurnal Warta Konservasi Volume 14 No. 3, Juli 2006, tentang Lahan Basah dari Wetlands International.

Cangkang Tutut

Sawah sebagai salah satu tipe lahan basah buatan tidak hanya berperan penting dalam menyediakan jenis-jenis tanaman menyehatkan, namun juga merupakan tempat hidup berbagai binatang air, mulai dari Protozoa (binatang bersel tunggal) sampai vertebrata (binatang bertulang belakang) seperti ikan dan katak. Moluska (keong-keongan dan kerang serta kerabatnya) termasuk juga binatang yang memanfaatkan sawah sebagai tempat hidupnya. Moluska yang hidup di perairan tawar dapat dijabarkan ke dalam kelas Gastropoda yang kita kenal dengan nama keong (bercangkang tunggal) dan kelas Pelecypoda/Bivalvia atau kerang (cangkangnya berkeping dua). Dari catatan pustaka, moluska air tawar yang pernah ditemukan hidup di perairan sawah, ada sebanyak 32 jenis (27 jenis Gastropoda dan 5 jenis Pelecypoda/Bivalvia). Moluska bercangkang tunggal, terdiri dari dua kelompok, yaitu Operculata yang dilengkapi operkulum (penutup cangkang) dan Pulmonata, yang tanpa operkulum.

Tutut (marga Bellamya) termasuk dalam kelompok Operculata yang hidup di perairan dangkal yang berdasar lumpur serta ditumbuhi rerumputan air, dengan aliran air yang lamban, misalnya sawah, rawarawa, pinggir danau dan pinggir sungai kecil. Binatang ini lebih menyukai perairan yang airnya jernih dan bersih. Ada dua jenis dari marga Bellamya yang hidup di sawah, yaitu Tutut jawa (Bellamya javanica) dengan sebaran di Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia (kecuali Irian Jaya) dan Filipina, dan Tutut sumatera (Bellamya sumatrensis) yang sebarannya mencakup Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia (Sumatera dan Jawa).

Keong suku Viviparidae ini bisa memiliki tinggi cangkang sampai 40 mm dengan diameter 15-25mm; bentuknya seperti kerucut membulat dengan warna hijau-kecoklatan atau kuning kehijauan. Puncak cangkang agak runcing; tepi-cangkang menyiku tumpul pada yang muda; jumlah seluk 6-7, agak cembung, seluk akhir besar. Mulut membundar, tepinya bersambung, tidak melebar, umumnya hitam. Operkulum agak bundar telur, tipis, agak cekung, coklat kehitaman.

Yang siap dimakan bisa anda temukan di pasar kaget mingguan di sekitar lapangan Gasibu, atau di beberapa restoran Sunda.

Popularity: 8% [?]

Posted by jay on Kamis, 8 Februari 2007.

Tags:

Categories: Tak Berkategori

64 Responses

  1. wah …this is my favourite one.

    by Mira on Feb 8, 2007 at 14:04

  2. I tried before, but spicy

    by Turbo Man on Feb 8, 2007 at 15:05

  3. slurrpppp……..yummieee…

    by Turbo Man on Feb 8, 2007 at 15:07

  4. menu ini jg ternyata sudah men-dunia, kang…yg pedes ada, yg tutut-nya se-gede gaban jg ada…sama2 enak… :)

    by edwin on Feb 8, 2007 at 15:51

  5. Lho..bukannya tutut : anaknya mbah ato…???

    by didoy on Feb 8, 2007 at 16:23

  6. dipasar punclut (ciumbuleuit atas) biasanya selalu ada.
    kalau penjual tutut yng lewat depan rumah pakai sepeda masih ada ?

    by dikshie on Feb 8, 2007 at 17:07

  7. waduh, pais tutut pais keong, mobil butut ngagaleong, he.. he.. jadi inget istilah itu euy.
    tapi terus terang ini favourit gw banget nih. walau dah lama nggak nyicipin sayur tutut bikinan umi di rumah.

    by abah oryza on Feb 8, 2007 at 18:27

  8. laja teh lengkuas…sereh teh emang sereh apa serai ya?

    by ndew on Feb 8, 2007 at 20:41

  9. jadi hayang tutut

    by tk kiridit on Feb 8, 2007 at 21:30

  10. tutut itu simetris, dibolak balik tetep bacanya tutut

    by roffi on Feb 9, 2007 at 2:34

  11. wah seumur hidup gua rasanya baru 2x makan ginian, jadi pengen nyoba lagi.. yuk jay dimana? … kalo makan anaconda sih sering :P kekekekee….

    by macnoto on Feb 9, 2007 at 3:31

  12. Waaaa, jadi kangen nih ama makanan ini …. dulu saya mencungkilnya pakai peniti.
    Waktu kecil saya sering beli di simpang dago.
    Mmm, di Jakarta ada gak yah yang jualan makanan ini?

    by Riyogarta on Feb 9, 2007 at 4:37

  13. Pengen makan lagi….
    Mani susah neanganna.

    by calupict on Feb 9, 2007 at 6:56

  14. lebih mantep lagih pake daun singkong, jadi gulai tutut+daun singkong asli maknyussss……..

    by ricky on Feb 9, 2007 at 7:14

  15. pengen nyobaaaa!!!!…yummm…keliatannya enak

    by fisto on Feb 9, 2007 at 9:57

  16. rasanya kaya bekicot ga?aku pernah ngerasain yang bekicot..

    by pitik on Feb 9, 2007 at 10:07

  17. ternyata tutut dibahas, srupuuuttt ….nyam

    baheula ngala tutut dibalong masjid (balik ngaji) sok nempel ditembok

    by fanani on Feb 9, 2007 at 13:21

  18. #8: Iya, laja itu lengkuas, séréh itu serai.

    #11: Beberapa minggu lalu begadang sampe Minggu pagi, terus sarapan di sekitar Gasibu, nah di situ nemu tutut. Dinikmati setelah makan nasi merah plus karedok leunca dan semur jengkol.

    #16: Belum pernah makan bekicot. Sepertinya saya nggak mau makan bekicot.

    by jay on Feb 9, 2007 at 15:08

  19. Selain bergizi, obat, enak dan murah meriah………tinggal lep.

    by kang zev on Feb 9, 2007 at 19:11

  20. Wah belum pernah tuh makan tutut. Kalau waktu kecil dulu,pernahnya makan keong gondheng tapi itu beda dengan tutut. Tututnya kan lancip cangkangnya. Kalau keong gondheng agak bulet. Seperti hama keong mas tetapi keong gondheng warnanya hitam. Isunya sih keong gondheng dan keong mas itu satu species.

    by Kombor on Feb 9, 2007 at 22:27

  21. Geus lila pisan teu dahar tutut euy… meni inget keneh si Jay. Keula, ‘disedot seketika’ teh euweuh basa Endonesana kitu? bagaimana dengan ‘diseruput’?

    by Abi on Feb 10, 2007 at 10:20

  22. It’s jomblo food… mengikatkan akan … susuruputan.

    by Lamsidjan on Feb 10, 2007 at 13:22

  23. #21: Diseruput mah disedot sedikit demi sedikit dengan udara supaya tidak terlalu panas masuk mulut. Ceuk urang Sunda mah dikecrot, sanes disedot. Kade we tarik teuing engke jadi kaseglong.

    by jay on Feb 10, 2007 at 15:33

  24. waktu kecil sering banget makan tutut ini, tp dah lama ga bersua ma sang tutut ini, kalo skr ketemu lagi n liat tutut kaya gitu….irgh…genyal kali ya makannya, n gimanaaa gitu.

    by adi on Feb 11, 2007 at 13:18

  25. #10.tutut itu polindrome. dibolak balik bacanya sama.

    by didi on Feb 12, 2007 at 13:27

  26. makan tutut sampe monyong ….. huahahahahahahahahah pokona mah mun teu manggih tutut sa bulan asa aneh siga teu ngaroko monyong wae teu puguh laku. Cag Ahhhh

    by Iyus Ti Bandung on Feb 13, 2007 at 14:42

  27. *sigh*
    jadi inget kuliah avertebrata yang aneh itu, susyeeeh bgt (cuman dapet C)

    by Luthfi on Feb 14, 2007 at 7:11

  28. Makan tutut, cape nyedotnya.
    Sot sot sot ..

    by pipit on Feb 16, 2007 at 15:41

  29. Jadi kangen tukang tutut yg sering lewat kalo sore di deket kantor, “Tutut asakkk tututt..”. Banyak piliheun, ada yg kecil, gede dan pedes slrrp.

    by Niwatori on Feb 19, 2007 at 6:48

  30. waduh jadi hayang ngecrot tutut… euuhh lawas tilawas.
    BTW kang Jay termasuk kana paripaos : lungguh tutut teu? sawah sakotak kaiber kabeh :D

    by Biho on Feb 19, 2007 at 15:32

  31. kalo di jawa (tengah) padanannya mungkin keong

    by dib on Feb 19, 2007 at 18:23

  32. Sama keong macan (keong kakek) asem manis di Sari Kuring enak mana ya? Kalo aku ke Bandung kamu traktir ya… :)

    by Paman Tyo on Feb 21, 2007 at 18:03

  33. #32: Heuheu, rumah makan Sari Kuring itu yang di mana, ya?

    Sempat nemu di rumah makan Bumbu Desa, tapi disajikan lebih kering, hampir nggak ada kuahnya, malah susah disedot.

    by jay on Feb 21, 2007 at 20:34

  34. Wah, jadi ngiler di pagi buta.

    Ngomong-ngomong, terima kasih ya Kang, udah ngenalin makanan ini.
    Rasa rempahnya masih terbayang.

    by -peng on Feb 23, 2007 at 4:54

  35. Kayak naik kereta…tut…tut…tut..

    by ASRA_edun on Feb 23, 2007 at 11:20

  36. lapor! di tempat saya namanya Besusul :D

    by Yeni The Setiawan on Feb 26, 2007 at 15:39

  37. Jrit, postingan loe ini bikin gw ngerasa geli dan penasaran untuk mencoba :)
    Gw blom pernah makan tutut ini, tapi gw akan coba icip kalo ada, karena dari semua komen tidak ada yang ketik tidak enak…

    Tapi dari kandungan gizi dan protein, sepertinya tutut ini sangat cocok untuk menjadi cemilan atau lauk yang sehat dan murah. Hmm harus gw cobain nih tutut..

    Entar kalo ke bandung dan pagi2 pasti gw cobain

    by andriansah on Mar 2, 2007 at 7:22

  38. wah…pokonamah siplah, air keong mas sami sareng tutut sawah khan kang jey ? tiasa di tuang ?

    by purunyus on Mar 2, 2007 at 17:15

  39. waduh..aseli bikin ngacay! terakhir makan kapan ya?

    by Yoki on Mar 11, 2007 at 1:54

  40. Makasih bgt atas informasinya yha.. ^^
    berguna bgt, solanya aku lg nyoba beternak keong sawah ini, khan masih jarang tuh org yg ternak keong sawah. Syapa tau bisa buka restoran keong, hehe.. ^^ Makasihhh.. ^^

    by Tabita on Mei 14, 2007 at 21:26

  41. kalo temen-temen suka tutut sih kudu ke Blackpepper.. tapi di bandung daerah dago jalan maulana yusuf pengolahannya kata gua sih berbeda.. kalo di blackpepper warna masakannnya kecoklatan ke arah hitam dan spicy berat! beda ama yang biasa gua makan berwarna kuning.. jadi ga suka lagi deh tutut di masak kuning..

    by zavata on Jun 12, 2007 at 11:02

  42. vata.. aku dah coba .. enak banget tututnya , tapi pedesnya bo… ampe jontor deh bibir sexy g..

    by aurella on Jun 21, 2007 at 17:04

  43. Trnyt loba oge fans-na.. pokona mah dkluwarga besarku dgarut..Tutut adalah menu yg dtungguw dhari lbaran idul fitri. Mun barudakna parebut tutut na baskom,kolot2na ngilu mantuan! teu paduli jeung uwa, emang atow bibi nu pnting meunang tutut sa-keresek!huahahaha Alhamdulillah, ne2ng gs nkh.. jd lbaran dgarut nu ayeuna bkl aya bala bantuan tambahan! nyeta sang salaki Hahaha

    by titita on Agu 1, 2007 at 20:35

  44. gelooo eta tutut blackpepper!!! brutal!!! ngeunah pisan euy ngeunahh.. bibir jontor gua makin jontor nehhh… recomended places

    by edu on Agu 14, 2007 at 18:24

  45. makyosss guys!! aku dah coba tutut di blackpepper!beda dari yang biasa aku makan!amat-amat berasa ! ga heran banyak banget orang jakarta banyak ke blackpepper!! aku saja tau dari saudaraku orang jakarta..

    by hazan mulgabi on Agu 27, 2007 at 17:53

  46. jadi penasaran ama tutut blackpepper ! kesana ahhhhhh di maulana yusuf khan??

    by nandana on Sep 15, 2007 at 14:13

  47. nyaa…..am …. nyaammm hmmmmmm yummy sroodot plooss nyaam glek uenakk benerrr tapi sekarang susahhh nyarinya sawah jadi jalan tollll di pasar juga nolll jadinya lerr deh

    by buluk on Nov 19, 2007 at 15:39

  48. nyam -nyam nyam wah kayak nya enak tooo…. boleh nich nyicip en dikirim di bengkulu

    by irwan on Des 6, 2007 at 21:53

  49. kuringmah mun hayang tutut tinggal nitah si kuntul pangalakeun berewe jang rokok ari anu ngokolakuna ceu enong mani peed bumbuna nyerep semu lada ,….. kecrok , kecrok , blem sueger

    by abah golek on Des 26, 2007 at 10:53

  50. keong mas tuh halal ato haram?
    gw lagi mo bwt kecap dari keong mas….

    by androz on Mar 8, 2008 at 21:11

  51. satuju lah…ma’nyosss…
    hanjakal di lembur uing mah geus punah jigana nyi tutut teh… kulantaran sawahna ge beak jaradi motor…. tinggal sawah uing nyunggelik… tara aya tututan deuih… hik..hik, btw ari keong mas penjahat sawah tea aya nu geus nyobaan ngakan? kiwari di sawah uing sok aya.. mun ngeunah rek diangeun!

    by urang cikarang on Mei 9, 2008 at 9:40

  52. kang…
    ada metode ngak buat men-ternak-kannya? misalnya di kolam..
    saya tertarik juga ternak keong ini,, masalahnya tidak ada sawah disekitar rumah.. hehehe….
    makasih sebelumnya

    by rahman on Mei 20, 2008 at 13:37

  53. di tempat aq namanya nenek sangat cocok untuk pakan udang windu, tapi sayang sekarang kayaknya suda mulai puna ( sulit di temukan ). apa ada hubungannya dengan pencemaran air

    by nenek on Mei 30, 2008 at 15:17

  54. wahhhhhhhhhhhhh
    woro-woro nihhhhhh
    aqu jadi ingat waktu dikampung halam nihhhh
    enak juga nih kayaknya

    by thody on Jun 4, 2008 at 11:44

  55. Saya pingin membudidayakan tutut ini di pedesaan buat nambah2 penghasilan orang desa terutama anak2 mudanya daripada mereka pada urban ke kota2 (kemudian mudik bersalin rupa diaranting dan bergaya orang kota). Ada yang tahu cara budidayanya ga? Tolong deh bagi2 ilmunya.

    by dony on Jun 15, 2008 at 9:14

  56. Aha hari kamis saya nemu tuh Kang, di Festival Makanan/ minuman di IBCC Bandung.
    Sakantenan Kang, dihaturan ping 29 juni, minggu ya Kang, di pelataran BIP. Urang bebersih deui..

    by Aki Herry on Jun 22, 2008 at 16:44

  57. suka banget sama tutut. tapi lumayan riobet jg makannya

    by senny on Jul 2, 2008 at 16:43

  58. wiihhh mas tututnya enak tuh, aku pinjem gambarnya yah….trims

    by ari hartono on Agu 6, 2008 at 10:54

  59. bagi bagi dong yang sudah tahu cara menenrnakkan keong sawah or temannya keong gondang……buat kesibukan n nambah2 kepeng di kampung

    by shepeed on Okt 12, 2008 at 12:43

  60. nyang mau TUTUT sekarang ada setiap pagi di depan GRIYA PASTEUR bandung…setiap jam 9 an lah 1 porsi cuman 3500 perak murah meriah sehat banyak gizi nya lagi……hhmmm… nyam..nyam….

    by Yo'i on Nov 26, 2008 at 12:16

  61. ada yang enak lho tuuutut di bandung!beda euy sama yg laen..Di food court plaza IBCC (ahmad yani).Nah, dia buka cabang juga di Soes Merdeka, Merdeka Pujasera..sampai masuk Koran PR…tut..tut..tut..siapa hendak turutt..turututut

    by Mas yoyon on Mar 2, 2009 at 18:50

  62. Nyari2 bahasa Indonesianya tutut, ternyata ada di mari. Thx mas Yulian…

    by Mang Kumlod on Mei 12, 2009 at 21:59

  63. jd inget wkt kecil…..msak ma tmen2 pke’ kleng susu n batu bata sebag. komporx….hmmm…. si tu2t emg top

    by lily on Sep 15, 2009 at 14:42

  64. aku juga suka banget
    pengen dapatin tp agak susah ya…

    by marina artiyasa on Nov 16, 2009 at 10:52

Leave a Reply

« | »




Tulisan Terakhir


Halaman