Toleransi: Kesalahan Presisi atau Presisi Kesalahan?

Jumat, 26 Januari 2007M
07 Muharram 1428H

Tuan Priyadi bertutur tentang kesalahan presisi dalam kasus pemberitaan batere ELT pada pesawat Adam Air yang hilang tak tentu rimbanya.

Premis A: Makassar kehilangan kontak dengan pesawat AdamAir pada hari Senin pukul 15.07 WITA
Premis B: Baterai ELT dapat berfungsi selama 48 jam setelah kecelakaan terjadi.
Kesimpulan: Pada kecelakaan pesawat AdamAir, baterai ELT akan berfungsi sampai hari Rabu pukul 15.07.

Secara teknis pernyataan tersebut benar, jika kedua besaran tersebut (pukul 15.07 dan 48 jam) memiliki presisi yang sama. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian, presisi besaran ‘pukul 15.07′ mungkin memiliki presisi sampai ke menit terdekat. Sedangkan besaran ‘48 jam’ tentunya tidak memiliki presisi setinggi ‘pukul 15.07′.

Ini dinamakan kesalahan presisi.

Saya berpikir dalam konteks akurasi, bukan tingkat kesalahan atau kebenarannya. To err is human. Presisi adalah batas yang harus kita dekati sehingga tingkat kesalahan menjadi kecil atau sedikit. Praktiknya dalam pengukuran yang manusiawi kita sulit menyatakan hasil pengukuran sebagai sesuatu yang presisi. Deviasi selalu ada, karena itulah manusia punya konsep toleransi, untuk memperbesar tingkat akurasi tanpa mengabaikan kesalahan yang mungkin terjadi. Jadi, istilah kesalahan presisi harusnya tak ada, sebab jika sudah presisi maka tidak ada lagi tingkat kesalahannya, ia sudah benar, akurasi 100 persen, precisely.

Dalam kehidupan sehari-hari kita jarang menemukan istilah precision level, yang sering kita temukan adalah accuracy level, atau tingkat akurasi. Tingkat akurasi inilah yang diupayakan manusia untuk menuju presisi, karena keterbatasan indera manusia pulalah toleransi selalu ada. Toleransi atau tingkat toleransi inilah yang membuat kehidupan manusia lebih fleksibel, sebab manusia bukanlah jaringan mekanik dan elektrik dengan tingkat toleransi yang sempit.

Bagi manusia Indonesia toleransi dianggap sebagai budaya, hingga ke hal-hal yang negatif toleransi yang berlebihan menjadi hal yang biasa, seperti jam karet. Penyalahgunaan atau penyalahartian toleransi inilah yang sering membuat manusia bersinggungan, baik di tingkat emosi maupun profesi. Jika kita uraikan mungkin ada beberapa contoh berikut untuk kasus tepat waktu dengan asumsi mengabaikan penalti:

  • Anda sangat disiplin waktu, janji pukul 3:00, anda datang sebelum pukul 3:00.
  • Anda disiplin waktu, janji pukul 3:00, anda datang pukul 3:01, toleransi 2 persen (1/60 menit).
  • Anda cukup displin waktu, janji pukul 3:00, anda datang pukul 3:05, toleransi 8 persen (5/60 menit).
  • Anda teman jam karet, janji pukul 3:00, anda datang pukul 3:30, toleransi 50 persen.
  • Anda pemilik jam karet, janji pukul 3:00, anda datang pukul 4:00, toleransi 100 persen.
  • Anda pabrik jam karet, janji pukul 3:00, anda datang pukul 3:00 keesokan harinya, 100 persen membuat kita tertawa.

Jika dilihat sebagai sistem, maka toleransi yang terlalu besar atau lebar hanyalah mengacaukan suatu rencana, apalagi jika rencana tersebut bersinggungan dengan jadwal lain yang lebih akurat. Anda telat 5 menit, travel X-Trans kemungkinan besar meninggalkan anda. Demikian menurut pelanggan travel Bandung-Jakarta yang kecewa karena ia pemilik jam karet. Namun di sisi lain toleransi yang lebar juga diperlukan, meski emosi benci anda bisa naik menjadi adrenalin. Anda bisa marah besar saat rekan kerja anda datang terlambat sedangkan agenda yang dijalani adalah sebuah mission critical system. Itulah manusia, harus tahu dan tepat kapan menyempitkan dan melebarkan toleransi.

Toleransi sering kali berkaitan dengan proporsi, misal saat kita minum Teh Botol di sebuah kafe di lobby hotel, tentulah harganya jauh lebih mahal daripada kita membelinya di kios pinggir jalan. Deviasi harga tersebut dari harga eceran adalah proporsi yang harus kita terima, sebab toleransi orang lain pun akan menyempit jika anda memprotes harga yang terlalu mahal tersebut. Banyak konflik terjadi karena tidak tepatnya kita menggunakan kadar proporsi dan toleransi.

Saat berjalan kaki di trotoar ada kalanya kita berpapasan dengan sepeda motor, salah satu harus minggir. Dengan toleransi sempit saya bisa berkata, “Ini ruang pejalan kaki, goblog!” sama halnya dengan si pengendara sepeda motor bisa berkata, “Minggir anjing, besi itu keras tahu!” Dua toleransi sempit bisa bersinggungan. Salah satu harus melebarkan toleransi, jika tidak maka hukum rimba yang berbicara, sebab saya tak yakin hukum lalu lintas negeri ini bisa berbicara saat itu juga.

Saat saya menulis opini lawakan seorang pakar pornomatika, saya bersinggungan dengan opini orang lain yang menganggap saya hanya iri, saya hanya bisa menulis dalam blog, tak mampu bicara di media mainstream dan sebagainya. Dalam konteks yang berbeda opini saya pun ditulis karena sempitnya toleransi untuk hal tertentu, terutama dalam bidang yang lebih eksak, bukan menulis ghibah tentang kedengkian dapur orang lain. Toleransi yang sempit saling bersinggungan, silakan anda nilai sendiri siapa yang menggunakan kadar proporsi secara tidak layak.

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

20 komentar untuk catatan 'Toleransi: Kesalahan Presisi atau Presisi Kesalahan?'

  1. #1
    gravatar

    Sepertinya saya pertamax

  2. #2
    gravatar

    bener kan…? tergantung kapan mau pake bener2 presisi, kapan mau pake toleransi…mmhhh…#2 ya…?

  3. #3
    gravatar

    baca postingan Om Pri aja udah binun, ditambah baca postingan dari mas Jay ini.

    Sebenarnya Om Pri dan Mas Jay yang bahasanya terlalu tinggi atau saya yang oon ya?

    Hihihihi…

  4. #4
    gravatar

    umur gw belom nyampe :(

  5. #5
    gravatar

    yesss kelimaax

  6. #6
    gravatar

    mas Jay… ghibah itu apa sih? gosip bukan?

  7. #7
    gravatar

    yg saya pahami mungkin toleransi juga berkaitan dengan suasana emosi seeorang saat itu. Coba kalau saat seseorang sedang sensitip (entah karena ada masalah atau sekedar perut belum terisi alias lapar) mungkin kadar toleransi bisa naik atau malah turun? lieur ah.. btw first comment saya nih di blog anda..

  8. #8
    gravatar

    hihihi… kasus yang trotoar bikin saya ngakak aja…

  9. #9
    gravatar

    janji pukul 3:00, anda datang pukul 3:00 keesokan harinya, telorasin 100 persen.

  10. #10
    gravatar

    #6: Ya, semacam gosip tentang pribadi orang yang tak layak untuk diperbincangkan.

    #7: Ya turun, atau menyempit, atau istilah mendekati zero-tolerance. Ada deviasi dikit jadi salah ngerti, bisa naek jadi adrenalin buat nonjok muka.

    Orang tersinggung karena dalam suatu hal toleransinya sempit, apalagi orang yang menyinggung tersebut tidak berada pada proporsi yang tepat.

    #9: Anagram yang lucu. :D

  11. #11
    gravatar

    Saat berjalan kaki di trotoar ada kalanya kita berpapasan dengan sepeda motor, salah satu harus minggir. Dengan toleransi sempit saya bisa berkata, “Ini ruang pejalan kaki, goblog!” sama halnya dengan si pengendara sepeda motor bisa berkata, “Minggir anjing, besi itu keras tahu!”

    wah itu mah udah jelas, tarik aja kunci kontak motornya terus buang jauh-jauh.

  12. #12
    gravatar

    wah itu mah udah jelas, tarik aja kunci kontak motornya terus buang jauh-jauh.

    kirain motornya yang dibuang jauh-jauh

  13. #13
    gravatar

    pembahasan menarik.
    dibawah ini saya tulis sekedar untuk memperkuat “argument” anda.

    Accuracy: This has to do with how consistent you are in the effort of hitting a target, which is simply measured by a percentage of hitting the same spot (anywhere).

    Precision: This has to do with how close you are from hitting the intended target (whatever the it may be).

    Real world example:

    -You can be Accurate without having any Precision. How is this possible? You can Accurately miss a target when you have been shooting 99 out of 100 shots repetitively to the left of target. By the same token, you can also be accurate in hitting the wrong target. So accuracy has nothing to do with being true, but rather with being consistent.

    -You can be Precise without having any Accuracy. How is this possible? This is possible when you can always hit any target regardless of where it is; every single shot that you make is always hitting the intended target without having to aim the same target more than once.

  14. #14
    gravatar

    Jadi kelihatannya, inti ceritanya masih soal yang satu itu ya? :)

  15. #15
    gravatar

    Anda telat 5 menit, travel X-Trans kemungkinan besar meninggalkan anda. Demikian menurut pelanggan travel Bandung-Jakarta yang kecewa karena ia pemilik jam karet.

    “pemilik jam karet” bukannya yang telat 1 jam?

  16. #16
    gravatar

    SLM KENAL

  17. #17
    gravatar

    akhh ini semua cuma masalah TELORSENSI…..

  18. #18
    gravatar

    #3. ya saya…saya juga binun :P

  19. #19
    gravatar

    [ ... Kembali ke CONSOLE ... ]

  20. #20
    gravatar

    hi..lam knal..

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.