Kebencian
Minggu, 14 Januari 2007M
24 Dzulhijjah 1427H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Pernahkah anda merasakan kebencian? Saya yakin anda pernah atau bahkan sering mengalami. Mungkin juga kebencian menjadi motif anda membaca blog ini, sama halnya dengan saya yang sedang menulis karena kebencian. Hanya anda yang tahu tingkat kebencian yang tumbuh di pikiran atau di denyut jantung anda sendiri. Mungkin sedikit, mungkin ekstrim, mungkin akut, mungkin pula sedikit tapi laten.
Meski kata benci bermakna negatif bukan berarti kita harus menghindarinya, atau mengejarnya. Kita bisa memotivasi diri untuk sesuatu yang positif dari sebuah kebencian yang negatif. Anda benci kesemrawutan ruang kerja anda maka anda bisa membangun motif yang positif untuk secara rutin merapikannya.
Kebencian pun sering menjadi identitas seseorang dalam pergaulan untuk saling mengenal. Kita mengenal seseorang karena kita tahu ia membenci sesuatu, mungkin yang sesuatu yang sederhana, mungkin sesuatu yang sebaliknya dengan diri kita sendiri.
Berikut beberapa kebencian terutama mengenai makanan yang mengalir dalam darah saya, terutama soal makanan, yang kadang orang mengenali saya dari kebencian-kebencian tersebut, meski saya mungkin belum menyadari apa sisi positifnya yang bisa saya ambil.
Nasi Goreng adalah menu kepepet
Dulu kala saat berangkat sekolah pagi di rumah sering tak ada makanan untuk sarapan. Sebagai upaya pengiritan uang jajan yang memang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengisi perut layaknya makan maka saya harus makan sesuatu sebelum berangkat ke sekolah, selain sebagai pemenuhan layaknya dalam konsep hidup sehat sebelum beraktivitas di pagi hari hingga siang hari. Untuk hal tersebut biasanya nasi semalam masih bersisa, sisa nasi tersebut dihangatkan dengan cara digoreng dengan bumbu seadanya, bahkan tanpa lauk. Jadilah nasi goreng yang saya kenal.
Keheranan timbul saat memasuki kuliah, di mana-mana ternyata banyak yang menjual nasi goreng, dan sering menolak saat teman mengajak makan nasi goreng, meski dengan ajakan yang sepertinya menarik, “Yuk, makan nasi goreng, nasi goreng kambing di sana enak, lho!”
Lebih mengherankan lagi seolah-olah Nasi Goreng adalah menu khas Indonesia.
Nasi yang keras
Sering saya merasa sangat heran saat rumah makan atau bahkan restoran menyajikan menu yang mahal tapi dengan nasi yang keras, bahkan sering superkeras. Seolah-olah proses penanakan nasi dilupakan dibandingkan dengan proses penyajian lauk-lauknya.
Selera makan saya termasuk dipengaruhi besar oleh faktor nasi, mungkin juga karena sejak kecil nasi di rumah sering ditanak dan diakeul (ditiriskan dengan dikipas-kipas sambil diaduk-aduk dengan centong nasi), walaupun bukan dari beras kualitas atas. Faktor lain saya membenci nasi yang keras adalah saya makan lebih lama dibanding yang lain, jadi saat nasinya sangat keras saya lebih lama lagi mengunyahnya, dan sering membuat selera makan keburu menghilang sehingga akhirnya porsi nasi di piring tidak habis.
Makanan dengan bumbu berlebihan
Para ahli masak-memasak sering menyajikan menu yang bumbunya berlebihan. Misalnya pepes Gurame asam pedas. Bagi saya menu seperti ini tak saya sukai, bahkan cenderung membencinya sebab bau ikan yang menjadi selera untuk memakan ikan justru hilang, malah asam dan pedasnya memenuhi mulut. Saya masih heran kenapa bau ikan harus dihilangkan, seolah-olah bau ikan tersebut adalah sesuatu yang negatif.
Makanan Superpedas
Saya tak bisa menikmati makanan yang sangat pedas. Banyak orang Indonesia menggemari hidangan seperti ini, misalnya masakan Padang. Saya tak bisa menikmati makanan saat makan dengan kondisi badan berkeringat karena pedas, meski keringatnya orang Indonesia saat makan sering disimbolkan sebagai nikmatnya makanan tersebut.
Kenapa daging yang enak harus diganggu dengan rasa pedas yang berlebihan?
Kenapa rasa dan bau ikan yang saya sukai harus digantikan dengan rasa pedas yang berlebihan?
Tanya kenapa.
Untungnya masakan Padang di Bandung sudah dalam versi tidak terlalu pedas. Saya sempat cukup sengsara satu minggu di Medan menghadapi menu makanan yang semuanya pedas dengan porsi nasi yang sangat banyak (saat makan nasi bungkus).
Kopi Pahit
Saya lebih suka kopi yang manis, bukan yang terlalu banyak gulanya juga. Penggemar kopi sering menyarankan meminum kopi dengan sedikit gula sehingga pahit kopinya sangat terasa. Jadi saya suka kopi manis dibandingkan dengan kopi pahit, sebab hidup saya sudah terlalu pahit.
Daripada kopi pahit lebih baik saya minum yoghurt yang asam, susu murni tanpa gula, atau jus lidah buaya yang tawar. Sayangnya susu murni dan jus lidah buaya bukanlah menu yang ada di kafe-kafe tempat orang duduk-duduk mengobrol.
Gepuk yang liat
Yang saya tahu daging diolah menjadi gepuk (dipukul-pukul dengan palu kayu bergerigi) dengan tujuan agar daging menjadi jauh lebih lunak sehingga lebih nyaman dan enak dikunyah. Akhir-akhir ini sering saya menjumpai gepuk yang tak ada bedanya dengan potongan daging biasa, liat atau terlalu kenyal sehingga sulit dikunyah.
Gepuk sejati malah saya temukan di warung dekat jalan masuk lokasi wisata Ciater, Subang. Duh, jauh sekali, yah!
Popularity: 3% [?]
Minggu, 14 Januari 2007 @ 22:46
saya suka nasi alus tidak suka nasi nu goreng
Minggu, 14 Januari 2007 @ 22:47
Ya itulah, Jay. Kita punya preferensi2 ajaib. Buat aku, kopi yang (amat) manis itu mirip gurame asam pedas buat Jay: rasa khas kopinya cenderung makin menghilang, padahal justru itu yang bikin para fanatikus kopi kayak aku makin menyukai kopi. Manusia memang hidup di alam indera yang berbeda2
Minggu, 14 Januari 2007 @ 22:47
Banyak juga yah kebenciannya om jay, kalo saya sih makanan nga ada yang dibenci asalkan makanan itu engga bikin penyakit terus engga haram
Minggu, 14 Januari 2007 @ 23:43
kalau gepuk nyonya ONG dari Bandung,..saya suka
Senin, 15 Januari 2007 @ 0:05
saya dulu suka makanan pedas, sekarang saya tidak suka. mungkin rasa benci dan suka bisa berubah sejalan dengan waktu
Senin, 15 Januari 2007 @ 3:31
Wah, koq nda ada Indomie ya?
Senin, 15 Januari 2007 @ 7:18
wah kok lalab-lalab-an nggak di-bahas ya…? padahal itu menu favorit jg pasti-nya…
Senin, 15 Januari 2007 @ 7:50
Ndak faham saya maksudnya apa
Senin, 15 Januari 2007 @ 8:05
..
hate is to anger.
anger is to suffering..
*ngumpet ke Betazed*
Senin, 15 Januari 2007 @ 8:09
#7: Lalab sih makanan harian, bukan sesuatu yang saya tidak suka, atau sesuatu yang saya benci.
Senin, 15 Januari 2007 @ 8:38
#3: Apa yang saya tulis di atas sebagian besar berada pada kondisi “dipoyok dilebok”.
#4: Walau gepuk Ny. Ong sudah cukup lama beken (katanya), ternyata bukan gepuk dalam konsep saya (gepuk yang lunak karena ditumbuk-tumbuk palu bergerigi hingga nyaris berwujud abon namun tidak bercerai-berai).
#6: Indomie sangat jarang saya konsumsi, paling sesekali saya makan indomie-telor-korned-keju.
#8: Saya tidak paham apa yang tidak kamu pahami.
#9: *Kejar pake bantuan Deanna Troi*
Senin, 15 Januari 2007 @ 8:42
perbanyak makan sayur dan buah. itu kata pakar kesehatan mas jay. xixixixixi…
Senin, 15 Januari 2007 @ 8:54
#12: *uhuk* Don’t advise me about that. Saya makan dedaunan yang oleh orang lain dibuat untuk cuci tangan.
Senin, 15 Januari 2007 @ 9:00
Om Jay, kalo pas sayah ka bandung, pengen ketemu euy sama om jay, biar nambah-nambah elmu, soalnya kalo ka bandung selalu kerjaannya cuman keliling teu pararuguh, nanti kita minum kopi, saya kopi pahit om jay kopi manis
, gimana om jay setuju ?
Senin, 15 Januari 2007 @ 9:09
#14: Berarti Asep bayar, saya bawa pasukan
. *manggil barudak gajah*
Soal kopi, saya tidak addicted to coffee. Kopi dan rokok adalah pasangan yang nikmat, jadi saya benci warung kopi dengan papan petunjuk No Smoking!.
Senin, 15 Januari 2007 @ 9:16
harusnya..
elu bisa masak Sendiri + bikin kopi sendiri.
he.he.he.
*bayangin jay pake busana koki*
Senin, 15 Januari 2007 @ 10:08
kalo yang saya benci: gak kebagian makanan…
Senin, 15 Januari 2007 @ 10:13
tambahin gula sedikit ke hidupnya sampeyan mas, biar ga pahit, gula jagung rendah kalori kok (katanya)
Senin, 15 Januari 2007 @ 11:14
kalo jaman kuliah saya
terpaksatidak ada kebencian terhadap makanan apapun, tapi para makanan inilah yang membenci saya, karena tidak pernah nyamperin ke mulut maupun ke perut saya, lha wong dasar miskin kurang duit..Senin, 15 Januari 2007 @ 11:52
oh saalh keitk udah dibenerin yah? btw, porsi dan sasaran benci yang tepat memang bisa membuat hal-hal positif kan?
Senin, 15 Januari 2007 @ 12:09
Saya juga ndak suka e sama makanan yang terlalu pedas. Terserah orang mo bilang saya belagu, tapi masakan yang terlalu pedas itu tasteless dan penakut. Tidak berani mengeksplorasi cita-rasa yang lain, karena yang tersisa hanya rasa pedas.
Senin, 15 Januari 2007 @ 12:26
Blog terkadang memang terapi yg ciamik untuk anger management (at least soal selera makanan..) hehe.
Senin, 15 Januari 2007 @ 13:06
benci=benar-benar cinta ?
Senin, 15 Januari 2007 @ 13:48
aku juga gag terlalu suka sama nasi yg lembek banget. yg hampir kaya bubur. aku lebih baik ga makan deh….
Senin, 15 Januari 2007 @ 14:05
#16 siaplah om jay, mudah2an nanti akhir bulan bonus tahunannya udah cair
Senin, 15 Januari 2007 @ 15:44
hehehe seperti biasanya, “beda orang beda gaya” … tapi aku tetap setuju untuk kebencian pertama: Nasi goreng adalah menu kepepet. bahan: nasi sisa malam; kalau ada gunakan cabe/cengek, bawang, kecap; garam secukupnya; dan sikat … loh itu bukan nasi goreng yak?, itu nasi minimalis judulnya.
Senin, 15 Januari 2007 @ 17:56
pernah makan Sate Asem?
gua gak akan pernah bisa makan lagi Sate Asem terenak sepanjang masa
Senin, 15 Januari 2007 @ 17:58
“benci akuuu…” *gaya tessy*
Selasa, 16 Januari 2007 @ 9:09
Kebencian..
Kadang susah kalo sudah benci sama orang lain..
tapi alangkah senangnya kalo saya bisa melupakan kebencian itu..
Selasa, 16 Januari 2007 @ 11:23
Mulut saya suka makan daging kambing, tapi kepala saya sangat membencinya.
Selasa, 16 Januari 2007 @ 13:38
hanya ada 2 rasa makanan
enak dan enak sekali
Selasa, 16 Januari 2007 @ 15:56
makanan yang baunya anehhhh.. seperti peuteuy sama jengki.. males bgt deh…
tapi kalo duren suka banget
Selasa, 16 Januari 2007 @ 16:03
#32: Euleuh, aya wanoja penggemar jengkol, geningan!
Rabu, 17 Januari 2007 @ 10:25
sepakat! saya juga gak suka nasi keras! hehe
tapi bukannya di bandung nasinya selalu keras jay? *pengalaman susah hidup di jawa barat*
nah, mengenai gepuk, mirip dengan presto ya? presto ala desa? hihih
Rabu, 17 Januari 2007 @ 10:58
Kayaknya semua makanan di muka bumi ini halal dan (pastinya) baik buat kita; kecuali yang memang jelas disebutkan haram. Jadi buat apa repot-repot buang energi untuk menanamkan kebencian — apalagi kepada makanan yang malang dan tak tahu duduk persoalannya?
Dan karena Anda nampaknya terlalu fanatik nasi, ada baiknya cek ke http://nofieiman.com/2006/11/nasi-bikin-kita-miskin/
Rabu, 17 Januari 2007 @ 12:11
Semboyan orang indonesia (mungkin hanya sebagian kecil saja salah satunya sayah) “kalo belom makan nasi berarti belom makan” makanya sayah miskin terus kali yah
Rabu, 17 Januari 2007 @ 13:02
#35: Anda salah konklusi (mungkin karena informasi saya kurang). Saya bukan penggemar nasi, satu piring tak menggunduk sudah cukup buat saya, tapi saya menggemari nasi yang ditanak selayaknya budaya Sunda sejak dulu.
Dipoyok dilebok itu artinya “diejek tapi tetap dimakan”. Yang saya benci bukan makanannya, tapi budaya manusianya yang berkurang. Nasi adalah makanan pokok negeri ini, tapi pengolahan sederhananya sudah banyak tidak diperhatikan.
Di dekat kantor saya ada penjual pecel lele yang lebih murah dari penjual pecel lele yang lain. Saya suka makan di situ karena meskipun nasinya bukan kualitas bagus, tapi menanaknya sempurna, tidak basah, tidak keras, tidak ada gumpalan-gumpalan.
Apakah anda pemakan jengkol, pete atau daun kemangi?
Saya menggemari hidangan jengkol dan pete yang selalu diributkan kebauannya oleh orang lain secara nyinyir. Saya memakan dedaunan yang oleh orang lain digunakan untuk cuci tangan.
Apa anda pernah makan sayur kulit singkong?
Rabu, 17 Januari 2007 @ 13:28
Maaf kalau saya salah.
Jengkol, pete atau daun kemangi? Ya, tapi tidak dalam skala akut. Ayah saya suka semur jengkol. Ibu saya penggemar lalap daun kemangi. Sejak kecil juga sudah akrab dengan “bau-bau” semacam itu.
Sayur kulit singkong? Pernah ditawari, tapi belum pernah makan. Gimana rasanya?
Kamis, 18 Januari 2007 @ 6:02
Nasi goreng=nasi yang dihangatkan dengan cara digoreng. Tidak ada lauk. Bumbu seadanya. haha…ngirit betul yakkk… tapi saya pernah mengalami masa sulit seperti ini.
saya aslinya tak suka makanan pedas. tapi kalau makan tak ada sambel, kayak ada yang hilang. pengennya pake lalap lombok, eh tapi baru dikunyah 1/3nya udah kelabakan. aduh, sambal yang pedas itu emang bikin kepingin,meski tau setalh mencobanya kita bakal kepedasan…tanya kenapa?
Jumat, 19 Januari 2007 @ 10:03
saya pernah makan sayur kulit singkong mas Jay,
semua makanan sih suka dan yang paling ku suka tentu ” lontong balap” dari surabaya.
ntar bisa ” balapan” terus.
salam kenal mas Jay.
Jumat, 19 Januari 2007 @ 13:51
eis… abdi sanes wanoja penggemar jengkol.. tapi pembenci bau jengkol
Jumat, 19 Januari 2007 @ 18:25
–angkat tangan
saya ngaku, saya suka cuci tangan pake daun kemangi.
Sabtu, 20 Januari 2007 @ 14:02
Bengkok Tikoro
Senin, 22 Januari 2007 @ 2:52
Halah … Judulnya kenapa bukan “Kebencian mengenai makanan” aja ?
Selasa, 23 Januari 2007 @ 12:53
kalo saya cuci tangan cukup di letakan wae heheeehehe. Jengkol Peuteuy Tespong jsb nu ceuk batur bau ceuk saya mah sabalikna …. hehehehehehe. Kang Jay urang BOTRAM yu ajakan nu teu resep jengkol peuteuy jsb. Sugan mah cenah karaoseun lah. Cag Ah …………..
Jumat, 26 Januari 2007 @ 5:28
sayah benci sangat sama ituh bau duren..
Selasa, 1 Januari 2008 @ 2:14
gw punya banyak sekali kebencian. gw benci diri gw sendiri . gw benci ama orang kaya, gw benci ama orang 2 yang suka sok . dan yg suka berbuat yang menurtku ANJING