Sulitnya Berbahasa Indonesia

Jumat, 5 Januari 2007M
15 Dzulhijjah 1427H

Bahasa Indonesia itu sulit dan menyulitkan, penyebabnya adalah karena bahasa Indonesia itu mudah. Dalam konteks blogosfer saya persempit ke dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan saja, sebab menulis adalah sarana dengan upaya yang lebih murah dibandingkan dengan merekam ucapan kita dalam bentuk podcast atau videoblog.

Dalam pikiran saya sendiri termasuk ekspresi yang tertuang dalam tulisan-tulisan blog ini, saya berusaha menulis dengan bahasa Indonesia yang benar. Tentunya selalu disertai dengan kesalahan ejaan, tanda baca atau struktur kalimat. Setidaknya upaya mengacuhkan aturan tetap lebih baik daripada asal tulis yang berprinsip pada kebebasan berbicara. Kebebasan bukanlah lepas dari aturan, etika atau common-sense, apalagi kebebasan berbicara yang sering membuat orang lupa pada kebebasan yang jauh lebih hakiki, yaitu kebebasan berpikir. “Haree genee masih pake rington monoponik?” adalah ekspresi kebebasan berbicara, namun anda akan menemukan makna lain saat mendengar, “Haree genee masih ngomong haree genee?” Ada unsur penyanggahan pemikiran yang kontra positif meski tidak dalam tatanan bahasa Indonesia itu sendiri.

Bahasa Indonesia itu mudah
Kita mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia setidaknya dalam rentang pendidikan formal, bahkan sampai ke tingkat pertama universitas. Sebuah rentang yang panjang untuk memahami sebuah ilmu bahasa di mana bahasa Indonesia adalah bahasa nasional. Saya asumsikan mereka yang mendapatkan pendidikan formal mampu berbahasa Indonesia dengan mengabaikan faktor benar-salah dan baik-buruk. Dengan asumsi tersebut saya simpulkan bahasa Indonesia itu mudah.

Namun ternyata tidak sedikit juga yang mengatakan bahasa Indonesia itu sulit. Kemungkinan karena faktor mudahnya itu menjadikan paradigma mudah dikacaukan atau mudah dibuat slengean, sehingga muncul kesulitan saat harus menulis yang benar, apalagi yang baik.

Seiring kita belajar bahasa Indonesia yang benar, di luar sekolah kita berhadapan dengan media yang mempunyai pengaruh kuat kepada masyarakat dalam berbahasa. Dahulu di sekitar tahun 1980-an jika kita mendengar radio, menonton TV dan membaca koran kita menemukan kualitas bahasa yang jauh lebih baik daripada saat ini. Kini malah sebaliknya, media memasyarakatkan ekspresi slengean, menulis berita formal dengan gaya slengean juga, bahkan ditambah dengan penulisan tanda baca yang berantakan.

Paradigma “yang penting yang baca ngerti” sering dijadikan alasan untuk kemudahan sebaran informasi. Namun di sisi lain upaya tersebut tidak mencerahkan dan mencerdaskan. Kadang saya sendiri mendapat komentar di blog ini mengenai bahasa yang saya tulis sulit dimengerti, namun prinsip saya tetap, yaitu menulis dengan kaidah yang benar, berupaya benar. Saya biarkan kuantitas sebaran informasi berkurang, namun saya mendapat respon dari mereka yang tercerahkan, terlebih yang tercerdaskan. Itu sudah cukup, sebab aliran informasi di dunia internet dan blogosfer sudah tidak perlu saya upayakan lagi, terjadi dengan sendirinya.

Rintangan Mental
Kita sudah memasuki dunia dan budaya global. Selain arus informasi, sisa-sisa budaya dunia industri tetap melekat, termasuk kerancuan budaya instan terhadap budaya efektivitas dan efisiensi. Jika tidak instan berarti tidak keren. Banyak yang berpendapat kalimat bahasa Indonesia terlalu panjang untuk ekspresi yang sama dalam Bahasa Inggris. Banyak kosakata asing diserap dengan lafal dan ejaan yang sesuai. Kita tak perlu merasa hipokrit atau munafik menuliskan kosakata tersebut sebab bahasa Indonesia tidak punya kosakata asli yang bermakna hipokrit dalam Bahasa Inggris atau munafik dalam Bahasa Arab.

Jika anda berpikir sepakat dengan Hericz bahwa Bahasa Indonesia itu nggak cool apakah anda memang cool saat berbahasa Inggris? Menyampaikan kecerdasan berpikir terkadang diekspresikan dalam bentuk paradoks atau hipokritikal.

Selain kesulitan menulis juga kita sering dihantui kewaswasan pembaca tidak akan mengerti, sehingga yang keluar adalah kalimat-kalimat yang berprinsip “yang penting yang baca ngerti”. Prinsip ini akhirnya diterapkan dalam kondisi apapun, menjadi asumsi yang berlebihan. Jeleknya malah menghilangkan impresi terhadap apa yang kita tulis dan berlindung di balik alasan, “Makanya gaul dong, masa segitu aja gak ngerti? Nggak asik lu, ah!”

Makna Asosiatif
Terkadang saya heran terhadap makna asosiatif sehingga arti atau makna sebenarnya dilupakan orang. Kosakata seperti lokalisasi, gairah, atau merangsang cenderung membuat orang berpikir mesum meskipun dalam konteks yang jauh dari kemesuman. Blog ini saya pasang dengan lokalisasi bahasa Indonesia untuk merangsang penggunaan bahasa Indonesia dalam aplikasi blog agar lebih bergairah. Apakah anda terangsang dan lebih bergairah melihat lokalisasi antarmuka blog ini?

Orang cenderung menghindari penggunaan kosakata seperti di atas karena kewaswasan berlebihan disalahartikan pembaca, padahal dengan kalimat yang sama dan dengan penggantian kosakata lain tidaklah akan mengubah arti kalimat itu sendiri.

Bentukan Waktu
Saat pendapat dikemukakan mengenai bahasa Indonesia tidak mengenal bentukan kata terhadap waktu maka pendapat tersebut pastilah disampaikan oleh kecerdasan seseorang yang mempunyai kemampuan bahasa lain, terutama Bahasa Inggris. Pendapat tersebut sering berakhir dalam kesimpulan bahwa bahasa Indonesia itu jelek. Mungkin menurut orang Prancis bahasa Indonesia itu jelek karena tidak mengenal gender untuk setiap kata bendanya. Mungkin menurut orang Arab bahasa Indonesia itu jelek karena tidak mengenal kata ganti tunggal, dua dan jamak. Mungkin juga menurut orang Cina bahasa Indonesia itu jelek karena hanya bisa dituliskan dengan satu bentuk saja, tidak seperti kata pedang yang bisa dituliskan puluhan bentuk dalam tulisan Cina.

Ketika orang berpikir sulitnya mengekspresikan sesuatu dalam bahasa Indonesia maka pikiran pertama yang datang adalah bahasa Indonesia itu sulit, dan menyulitkan. Namun di sisi lain orang lupa, sulitnya berbahasa Indonesia bisa jadi adalah ketidakmampuan berbahasa Indonesia meski setiap hari menggunakannya, bahkan telah diajari dan dipelajari belasan tahun di pendidikan formal.

Dari semua yang telah saya sampaikan di atas tentunya masih banyak faktor lain yang berpengaruh. Satu hal lain yang masih mengganjal bagi saya pribadi adalah tidak adanya Pusat Bahasa menyediakan situs panduan berbahasa, menyediakan kamus bahasa Indonesia online, menyediakan sarana online untuk menerima masukan serapan kosakata, menerbitkan kosakata baru secara resmi, dan banyak lagi.

Kadang saya berpikir apakah Pusat Bahasa tertinggal di landasan di era globalisasi ini?

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

73 komentar untuk catatan 'Sulitnya Berbahasa Indonesia'

  1. #1
    gravatar

    Jawaban atas pertanyaan terakhir : Mungkin.mungkin sekali mas Jay..:-D

  2. #2
    gravatar

    Setuju!!! Aku menunggu-nunggu kamus bahasa Indonesia online. Kalau pun nggak bisa dionlinekan, mungkin boleh deh orang-orang Pusat Bahasa segera meluncurkan CD ROM isinya kamus bahasa Indonesia. Seperti Merriam Webster itu. Jadi, tinggal diinstall di komputer dan mempermudah kita-kita yang ingin belajar lebih baik lagi tentang bahasa kita ini.

  3. #3
    gravatar

    Mas Jay, dirubah sedikit tulisannya pasti bisa dimuat di Harian Kompas. Jadi kritik Bahasa Indonesia, karena saya juga merasakan apa yang mas Jay rasakan. Pusat Bahasa kita tertinggal sekali.

  4. #4
    gravatar

    Kalau saya sih lebih sering menemukan arti kata dalam Bahasa Inggris itu cocok diterjemahkan ke Bahasa Sunda. Yess, Bahasa Sunda teh batu jeung tiis pisan..

  5. #5
    gravatar

    tapi emang Bahasa Indonesia itu terlalu sederhana…kalo di-bilang mudah sih mungkin buat kita2 orang Indonesia yg mudah bgt tapi menurut orang2 bule, Bahasa Indonesia itu sulit lho…ada beberapa per-tanyaan mereka tentang struktur kalimat yg sebener-nya sederhana tapi kok kita nge-jawab-nya jg binun…anyway itu-lah salah satu ke-lebihan bahasa kita…

    kang Jay, setahu saya huruf2 di China sana justru sama bentuk-nya tapi cara ngucapin-nya yg beda…maka-nya di setiap acara TV lokal mereka yg pake bahasa China, mereka selalu menyertakan running text jg dalam tulisan China…kenapa…? karena bisa jd acara itu bisa di-mengerti sama penduduk China bagian timur tapi nggak di-mengerti sama penduduk China bagian barat…

    bwihihihi…tata bahasa saya ngaco bgt ya…

  6. #6
    gravatar

    oh iya jadi teringat posting Dian Ina disini: soaked in english

  7. #7
    gravatar

    #3: Ada faktor berharap-harap cemas. Saya kurang suka. Mungkin lain kali, mungkin juga lain materi.

    #4: Basa Sunda memang cadas jeung tiis!

    #5: Di film Hero-nya Jet Li ada adegan kata pedang bisa dituliskan dalam puluhan bentuk.

  8. #8
    gravatar

    well, apakah mungkin karena tipe masyarakat dan kulturnya???(orang Indonesia agak menggampangkan)
    di sini, saya selalu mendengar kata Indo dari pada Indonesia untuk menyebut negara kita tercinta, jadi –orang Indo— dari pada orang Indonesia

  9. #9
    gravatar

    #5 dan #7, setahu saya memang justru di china tulisannya sama tapi bunyinya bisa bermacam. Tulisan yang sama akan berarti sama di tiap daerah tapi bunyi pengucapannya berbeda sesuai dialek masing-masing. Hal ini karena huruf china tidak melambangkan bunyi, melainkan arti kata. Mungkin dalam film Hero maksudnya adalah bunyi pengucapan kata “pedang” dalam suatu dialek, yang ketika didengar oleh dialek lain akan berarti beda dan ditulis dalam huruf yang berbeda.

    Satunya cara penulisan terhadap suatu kata walaupun berbeda pengucapannya secara lisan inilah yang diduga mengakibatkan majunya kesusastraan china sejak dahulu. Karena tulisan lebih universal. Penulis dari daerah berdialek mandarin mungkin tidak dimengerti ucapan lisannya oleh penduduk berdialek kanton, tapi sebaliknya dengan tulisannya, dapat dimengerti.

  10. #10
    gravatar

    Saya setuju mengenai poin bahwa media massa (yang sepertinya memiliki peran yang penting dalam penyampaian informasi apapun), ketika dikaitkan dengan konteks pengguaan Bahasa Indonesia, malah berperan dalam “membawa bahasa Indonesia” semakin terpinggirkan.

    Okey-lah kalau memang yang dijadikan fokus adalah “yang penting maksud atau inti informasi tersampaikan”, tapi saya rasa bukan sebuah hal yang mustahil (sulit) jika “maksud disampaikan, sekaligus memberikan informasi (mengenai penggunaan bahasa Indonesia) dengan baik”.

    Saya pernah bertanya kepada salah satu teman yang berasal dari luar negeri. Ketika saya bertanya mengapa dia bisa cepat berbahasa Indonesia, karena dia menganggap bahwa bahasa Indonesia itu lebih mudah. Menurut dia, salah satunya adalah soal penggunaan keterangan waktu. Kata kerja tidak mengalami perubahan, konteks waktu bisa dipahami dengan lebih mudah dengan menambahkan kata “sedang”, “kemarin”, “besok”, “beberapa hari lalu”.

    Nah, jadi… gimana?

  11. #11
    gravatar

    Sekali – sekali ngomong pulitik ah,

    coba lihat ke bukunya pramudya ananta toer,
    Ada bahasa Indonesia yang telah dipunahkan,
    dengan alasan apapun, terutama oleh orde waktu itu.

    Ejaan itu ialah ejaan Van Ophuysen,
    padahal bahasa juga mencerminkan perubahan kebudayaan
    saat itu.

    So what geto loch … capeeeeeeeee deh

  12. #12
    gravatar

    #9: Terima kasih atas penjelasan yang tepat sasaran*

    *Saya tak tahu kosakata pengganti insightful untuk kalimat di atas*

  13. #13
    gravatar

    Sebagai seorang penggemar Bahasa Indonesia, saya berpendapat bahwa salah satu kelebihan dari bahasa ini adalah yang mungkin dipandang sebagai kelemahan juga, yaitu kelenturan Bahasa Indonesia sendiri.

    Dari akarnya bisa dilihat bahwa bahasa Melayu, yg dulu merupakan bahasa komunikasi pasar, yg kita gunakan ini adalah campuran dari bahasa Indo-Polinesia, dibumbui dengan kosa kata dan konsep dari India, China dan kemudian, Belanda, Portugis dan sekarang Inggris.

    Kemampuan menyerap dan mengasimilasi bahasa dan konsep-konsep lain dengan mudah dan cepat, plus slengeannya, plus prokemnya, plus istilah bancinya ini yang menyebabkan saya mengidolakan bahasa ini.

  14. #14
    gravatar

    #13: Kurang tuh, kosakata bahasa Arab banyak diserap, seperti juga bahasa Sanskrit.

    Kemampuan membuat kosakata serapan ini yang sebenarnya kunci pemberdayaan Bahasa Indonesia, sebab membuat kosakata baru (katakan: asli) jauh lebih sulit, sedangkan jumlah kosakata yang dibutuhkan sudah sangat banyak.

    Jika bicara rasa, menulis aplod dan donlod lebih menyenangkan daripada unggah dan unduh. Aplod-donlod diserap dari lafalnya, unggah-unduh diserap dari kosakata bahasa daerah. Satu contoh serapan seperti ini tentunya harus diselesaikan oleh Pusat Bahasa untuk dibakukan.

  15. #15
    gravatar

    Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah, tapi ngomong dan nulis sesuai kaidah bahasa yang baku…..mbingungi je (bukan Jay) :D

  16. #16
    gravatar

    Seharusnya memang Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tanggap menyikapai perkembangan teknologi. Kamus online, forum interaktif dan lainnya, yang saya yakini sangat berguna bagi masyarakat saat ini dan kemudian hari.

  17. #17
    gravatar

    pAlagi bHs sMs anAk abg, d mAna mAna sAma dunK,biKin 9w puYenK, mentAnG2 sMs mAhaRani…suMpee Looo

  18. #18
    gravatar

    Harus dibalik mungkin: Bangsa menunjukan bahasa? Hihihi

  19. #19
    gravatar

    Mas Jay, setahuku film YinXiong (Hero) itu bercerita tentang Tiongkok pra-pemerintahan Qin Shi Huang yang terdiri dari banyak budaya dan tulisan. Justru jasa si kaisar (Qin Shi Huang) yang paling besar adalah menciptakan standar untuk seluruh Tiongkok. Dan itu kan sebabnya si Pedang Patah menuliskan huruf “Di Bawah Langit” untuk dibaca Tanpa Nama.

    (Di Bawah Langit maksudnya untuk menyatukan negara-negara di bawah satu pemerintahan, satu sistem).

    Tapi entah apakah di tulisan China zaman sekarang apakah pedang dilambangkan dengan satu huruf atau juga banyak huruf seperti dulu.

  20. #20
    gravatar

    Kelemahan terbesar Bahasa Indonesia adalah kosa kata nya yang sedikit. Ini bisa dilihat dari ketebalan kamus besar Bahasa Indonesia itu sendiri (dibandingkan dengan Bahasa China atau Bahasa Inggris misalnya). Menurut saya yang menjadi sebabnya adalah usianya yang masih muda. Bandingkanlah misalnya dengan Bahasa China yang sudah berusia sekitar 5000 tahun.

  21. #21
    gravatar

    Heh?

    1281 halaman di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga masih kurang tebal?

  22. #22
    gravatar

    Indonesia sedang menjalani proses tiada henti.
    Bahasa, Budaya, Ekonomi, dll.

    Bagaimana nasib bahasa Indonesia 2000 tahun mendatang ya ???

  23. #23
    gravatar

    #21: Maksud #20 sedikit dipakai, kali. Kosa kata kayak adaimana aja tidak ada yang pake tuh. Padahal walaupun artinya lubang pantat, kita bisa menyelipkannya dalam percakapan sehari-hari tanpa ada yang sadar. “Adaimana pula kau ini?”

  24. #24
    gravatar

    #21 Kalau dibandingkan dengan buku komik sih tebal yah. Tapi coba kamu bandingkan dengan kamus besar bahasa yang lain. Coba kamu hitung ada berapa kosa kata di kamus besar Bahasa Indonesia. Sebagai perbandingan, misalnya kamus besar untuk Bahasa Jepang (Koujien) berisi 220 ribu kata.

  25. #25
    gravatar

    Tambahan, menurut wikipedia kamus besar Bahasa Indonesia hanya berisi 78 ribu kata.
    http://id.wikipedia.org/wiki/KBBI

  26. #26
    gravatar

    makanya gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar…

  27. #27
    gravatar

    jay, jay….

    tiris pisan euy di sini…
    *cuwek pake bhs sunda*

  28. #28
    gravatar

    Thesaurus bahasa Indonesia tidak ada yah?

  29. #29
    gravatar

    Betul. Memang jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa internasional seperti Jepang, Cina, atau Inggris, kosakata kita lebih sedikit. Seperti disampaikan oleh Zelda, memang usia Bahasa Indonesia masih muda.

    Faktor lain adalah penguasaan kosakata itu sendiri oleh pemakainya. Di beberapa negara, ada semacam target untuk siswa berdasarkan tingkatannya menguasai jumlah tertentu, misalnya sekian ribu lema untuk lulusan sekolah menengah.

    Sekarang, dengan jumlah lema di KBBI yang masih sedikit ini, sudah berapa persen tingkat pemakaiannya secara efektif oleh masyarakat?

    Maaf, bukan mengalihkan topik dari “jumlah lema”, melainkan saya cenderung pada pelaksanaan di lapangan. :)

  30. #30
    gravatar

    Saya sependapat dengan Jay bahwa kita terlalu menggemari hal-hal yang serbainstan. Prinsip serbainstan ini rupanya telah pula merambat ke masalah bahasa. Kita sering kali malas untuk mempertimbangkan dan memilih kata atau kalimat yang ingin disampaikan, lalu menyampaikan pikiran-pikiran kita dengan cara yang terlalu sederhana. Tidak mau repot.

    Mengenai kamus bahasa Indonesia di Internet, daripada menunggu lembaga bahasa, mungkin ada baiknya kita, sebagai pengguna Internet dan juga pengguna bahasa Indonesia, bahu-membahu mewujudkannya. Tentu saja setelah ada kejelasan mengenai lisensi KBBI. Bagaimana Jay, berminat menjadi pelopor? :)

    Oh ya, Kunderemp, buku tesaurus bahasa Indonesia sudah terbit.

  31. #31
    gravatar

    buruk muka cermin dibelah… :d

  32. #32
    gravatar

    Cape Deeeehhhhh !!!!

  33. #33
    gravatar

    Lho, bukankah memang kita sudah memasuki era tinggal landas? Artinya kencangkan ikat pinggang, duduk manis, dan matikan sumber informasi (handphone misalnya) hihihi..

    Oh iya Jay, ada yang sering orang lupakan. Penulisan kata Anda, harusnya memakai awalan huruf besar. (kata Anda memang harus selalu begini) :)

  34. #34
    gravatar

    #33: Menurut Anda, seorang guru di SD, memang penulisan nama Anda harus dengan huruf kapital.

    “Anda, anda sudah makan?”

    *Anda online nggak?*

  35. #35
    gravatar

    Jadi inget waktu bikin TA, saking belepotannya bahasa Indonesia yang dipake, pembimbing TA sampe tanya, “Kamu kuliah Bahasa Indonesia udah lulus belum???”. Hahaha, kacau …

  36. #36
    gravatar

    iya..
    heran, kok gak ada Kamus Besar Bahasa Indonesia online yah?

  37. #37
    gravatar

    buruk muka cermin dibelah…

    Ini artinya: orang gila ya? Lha cermin gak salah gitu… hihihihih :D

  38. #38
    gravatar

    Makanya harus rajin nonton acara BINAR di TVRI.

  39. #39
    gravatar

    pusat bahasa kurang publikasi kali yeeeehhh :-)

  40. #40
    gravatar

    Menurut beberapa kutipan yang beredar secara luas, bahasa menunjukkan sebuah bangsa. Bahkan dari bahasa dapat dilihat tabiat seseorang, kesopansantunan serta peradaban dari pembicara bahasa tersebut. (*memakai bahasa Indonesia yang wajar*)

    Kalau pertanyaan Jay mengenai Pusat Bahasa yang tertinggal. Saya pikir, agar maju, mungkin ini sudah saatnya meng-opensource-kan Pusat Bahasa. (*hehe, bahasanya mulai kacau*).

    Tapi kalo nggak bisa di-opensource-kan juga. Terpaksa aja kita ngalah dengan memakai bahasa yang sudah kita gunaken semenjak para penguasa dengan santainya membicaraken pentingnya daripada bahasa Indonesia di tipi (*Halah, bahasanya makin parah… mabur ahhh*)

  41. #41
    gravatar

    Aihhhh kumaha atuh ieu tehhh…..!!!!

  42. #42
    gravatar

    Pusat Bahasa itu cara bacanya gimana yah..? pusab bahasa?
    Nah satu bukti….yg sangat memalukan…? Transtool itu buatan oarang mana.coba? Atau program kamus bahasa indonesia..yg simple dan ukurannya kecil itu..siapa coba.?

  43. #43
    gravatar

    katanya sih orang jawa timur susah berbahasa indonesia yang baik dan benar.. beda dengan wilayah lebih ke barat.. misalnya bandung atau jawa barat.. tidak heran kalau banyak penulis dan pengarang hebat negeri ini lahir dari pulau jawa bagian barat…. bener ga ya?

  44. #44
    gravatar

    Dik Kunderemp narpati…. #28
    ada tuh thesaurus bahasa Indo… he…he… ketemu lagi….
    Dari: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/15/Buku/3238540.htm

  45. #45
    gravatar

    mas2 disini ada g yg punya ref site bwt liat kamus bhs indonesia online

  46. #46
    gravatar

    Belajar lagi bahasa Indonesia ?
    halah …
    Waktu sekolah dulu saja sudah malas apalagi sekarang.

    Menurut saya hanya untuk tulisan/makalah ilmiah dan laporan-laporan resmi di pemerintahan saja yang tidak boleh salah ejaan, salah penempatan tanda baca, salah “grammar” dst. Makanya student-student saya, maksutnya anak-anak yang kerja praktek or skripsi yang saya bimbing seringkali mengeluh karena saya belum akan membahas ke isi tulisannya sebelum semua tanda baca, “grammar” dst. di laporan mereka itu benar. Makanya lagi kalau nulis diblog saya lepaskan kepenatan dengan nulis sewueeenak udele dewe … Pake bahasa campur sari, gado-gado … Pokoke asal saya mengerti maksutnya yang saya tulis ajah :D

    Untuk media berita (blog, koran dlsb.) HALAL-halal saja. Toh, malah jadi nggak kaku bagi orang yang baca, … semodel saya ;)

  47. #47
    gravatar

    Bahasa Indonesia memang mudah dan sederhana tapi bukan berarti semua orang Indonesia memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Apalagi bila disetarakan dengan standar dari Pusat Bahasa. Tidak masalah, di Inggris pun tidak semua orang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Pertanyaan yang muncul adalah, mau atau tidak kita belajar dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik?

    Mengenai film Hero (Yingxiong) dan kata pedang dalam bahasa Cina, harap dibedakan antara penulisan aksara dan pelafalan kata.

    Untuk penulisan aksara ‘pedang’, bila ditulis dalam bentuk dan cara standar maka terdiri dari 15 guratan. Bila aksara ini ditulis dengan gaya kaligrafi seperti dalam film Hero maka akan mucul banyak sekali variasi, tergantung gaya dan aliran kaligrafi yang digunakan.

    Lain halnya dengan pelafalan aksara ‘pedang’, dalam bahasa Cina Modern (Mandarin/Putonghua) maka akan dibaca sebagai ‘jian’ (romanisasi pinyin). Aksara ini akan dilafalkan secara berbeda dalam dialek Kanton (Guangdong), Hokkian (Fujian), Minnan, dan lain-lain. Apalagi bila dibaca oleh pengguna bahasa Jepang dan Korea yang menggunakan aksara Cina juga. Singkatnya, bahasa tulis akan dimengerti semua orang yang dapat membaca aksara Cina namun bahasa lisan tidak.

  48. #48
    gravatar

    #3 contoh penggunaan kata yang kurang tepat dan sering sekali dijumpai :p
    yang benar diubah bukan dirubah karena kata dasarnya ubah bukan rubah. hehe.

  49. #49
    gravatar

    mengenai permasalahan kenapa bahasa indonesia seakan menjadi rumit dan kompleks ya karena bahasa indonesia mengalami kecenderungan untuk dipinggirkan baik dalam penulisan dan pelafalan seperti yang lakukan sekarang biar semua pihak prihatin akan keberadaan bahasa pemersatu bahasa indonesia

    Cag Ah ………..

  50. #50
    gravatar

    Saya sudah mencoba untuk membuka laman jejaring Tuan Hericz. Adapun tajuk dari laman tersebut adalah “Bahasa Indonesia Nggak Cool”. Sejujurnya, setelah saya membaca artikel ringan tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Dan, mau tidak mau pada akhirnya mengakui bahwa artikel yang dia pasang pada lamannya itu adalah benar.

    Fiuhh, pegel banget gilakzzz nulis dalam bahasa Indonesia yang resmi sambil memerhatiin tanda baca lah… Buakakakakak… Tapi lucu juga kalo kita mau mengamalkan bahasa Indonesia yang sebenarnya..

    Maka saya akan mengetik menggunakan papan tombol (keyboard), dan menggerakkan tetikus (mouse)…. Untuk melayari laman jejaring (surfing webpage)… buahaha pening ah …

  51. #51
    gravatar

    Coba deh, settingan bahasa di HP pake bhs Indonesia, asli malah bikin bingung.

    Tapi tiap produk HP beda2 nerjemahinnya, ada yang mudah dipahami, ada juga yg bikin bingung.

    Ada juga yang salah nerjemahin ; kata “Charge” yg seharusnya diterjemahkan “Isi/ Pengisian” (Batery) , malah diterjemahin jadi “Perubahan”, padahal Perubahan mah terjemahan dari “Change” bukan “Charge.” *glek, rada ga nyambung yg ini mah*

  52. #52
    gravatar

    #51: Kenapa tidak?
    Saya pernah memakai ponsel SE T310, T68 dan T610 semuanya saya set lokalisasi Bahasa Indonesia. Yang bingung bukan saya, tapi orang lain yang kadang meminjam atau sekadar melihat-lihat. Terakhir SE P900, tapi tidak ada lokalisasi Bahasa Indonesianya, meski sudah di-update.

  53. #53
    gravatar

    Kalau Pusat Bahasa tidak mungumumkan KBBI di Internet atau dalam bentuk CDROM, kok kenapa kita tidak bikin sendri? Sebaiknya kita membuat situs seperti Wikipedia tapi khusus untuk kamus mirip KBBI.

  54. #54
    gravatar

    Kalau saya sih nggak mau repot2 ngurusin tata bahasa Indonesia dan segala macam tetek bengeknya, yang penting kalau saya bicara atau nulis, yang denger atau yang baca ngerti dan juga sebaliknya.

    Sebaiknya Bahasa Indonesia itu lugas menyerap bahasa-bahasa luar tanpa harus memaksakan mengubah bentuk. Misal : kata GAME yang berasal dari bahasa Inggris, ya serap aja apa adanya ke dalam bahasa Indonesia : GAME juga, tapi khusus dibaca GEM dengan e yang seperti pada “sate”, daripada susah2 ngubah ke GIM. Looks so stupid.

    Gampang kan? Bahasa Indonesia bisa makin kaya…

  55. #55
    gravatar

    #54: Sudah saya tulis di atas, itu rintangan mental sehingga bertahan di asumsi “yang penting orang lain ngerti”.

    Mental seperti ini umum dipakai dalam membuat dialog sinetron, penonton harus lebih pintar, penonton gak boleh bingung, penonton harus gampang mengerti, dsb.

  56. #56
    gravatar

    Saya setuju banget ama tulisan Mas “Jay, Trus..Gimana dengan Bahasa India ?

  57. #57
    gravatar

    #56: Saya bukan orang India.

  58. #58
    gravatar

    Saya masih terus belajar bahasa Indonesia karena kemampuan berbahasa saya buruk. Jangankan bahasa asing, bahasa Indonesia saya saja kacau. Dalam kekacauan itu saya kadang direpotkan eh direpoti oleh orang asing yang belajar bahasa Indonesia dan… anak-anak Indonesia yang belajar bahasanya.

  59. #59
    gravatar

    [...] juga: + Jay mengaku sulit berbahasa Indoensia + Saya selalu gombal dalam [...]

  60. #60
    gravatar

    sepertinya perhatian mengenai bahasa indonesia sangat minim dari pemerintah…
    saya merasa kesulitan ketika saya mencari kamus bahasa indonesia di internet…
    kacau balau dan ketidak pahaman sebagian besar kita terhadap struktur bahasa indonesia akhirnya menjadi alasan untuk membuat mudah kita menulis bahasa indonesia, yang boss jay bilang “yang penting yang baca ngerti”. akhirnya yang muncul dan semakin populer di kalangan kita sekarang adalah bahasa slenge’an…dan ironisnya bahasa seperti itu di sukai oleh masyarakat kita secara umum. boss jay…tapi kalau ga salah TVRI punya program yang bagus khusus membahas penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar (BINAR)…sekedar usul nih boss…kenapa kita gak buat semacam itu?

  61. #61
    gravatar

    mas kalau bisa, tolong kamus bahasa indonesianya di update, agar kita ga’ bingung lagi. okey

  62. #62
    gravatar

    Kadang kalo kita bicara BI yang baik dan benar malah diledek, “Bajunya warna hitam”, apa HITAM, item kalee
    cabee deeh

  63. #63
    gravatar

    Saya gemar belajar bahasa asing. Bagaimanapun bahasa Indonesia adalah bahasa favorit saya. Bagi saya bahasa Indonesia itu indah dan unik. Justru sederhana itu yang membuatnya misterius. Di negara yang terkenal dengan coklatnya ini, disamping sebagai penerjemah saya juga memberi les bahasa Indonesia kepada 5 murid yang tertarik dengan bahasa Indonesia dan sering meluangkan liburannya di Indonesia. Bagi mereka bahasa Indonesia sangat mudah karena memang tidak ada keterangan waktu lampau, sekarang, dsb. Semakin dalam, semakin menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. Tentu saja kesulitan itu ada, terutama yang berkaitan dengan awalan dan akhiran yang sangat membingungkan mereka. Yang menyedihkan bagi saya adalah begitu mereka mempraktekkan apa yang mereka pelajari, penduduk lokal malah menggunakan kata-kata lain (seperti masalah yang mas Jay kemukakan di atas). Duh, saya jadi bingung saat mereka mempertanyakan hal tersebut. Hal kedua yang sangat memprihatinkan saya adalah tidak adanya tesaurus online bahasa Indonesia. Saya sering mengalami kesulitan dalam mencari kata-kata yang tepat sehubungan dengan pekerjaan saya. (Andai ada tesaurus online seperti bahasa lainnya, alangkah indahnya !!) Dalam bentuk buku sudah muncul 2006 yang lalu, oleh Eko Endarmoko, GPU. Saya harus pulang ke Indonesia dulu untuk mendapatkannya :-( Bagi teman-teman yang belum tahu dan tertarik dengan kamus online Indonesia-Inggris dan sebaliknya, bisa dicari di websitenya LingvoSoft Dictionary 2006. Sebagai penutup kata, kita harus bangga dengan bahasa kita !!!

  64. #64
    gravatar

    #63: Wah, terima kasih sudah berbagi cerita.

  65. #65
    gravatar

    Ya memang bahasa indonesia merupakan Ilmu yang bisa di kata gampang- gampang sulit.salam dan sukses

  66. #66
    gravatar

    jangan nyingkat sembarangan…

    mohon kiranya kepada pengirim sms, jika memang hendak mengucapkan salam, tuliskanlah secara lengkap.

    assalamu’alaikum tentu maknanya baik, tapi jika setelah disingkat artinya jadi buruk, mendingan gak usah ditulis sekalian salamnya….

  67. #67
    gravatar

    mas, bikin kamus online aja…

  68. #68
    gravatar

    Soal bahasa Indonesia memang agak-agak susah untuk “ditegakkan” di masa sekarang ini. Saya sering berdebat dengan teman apakah itu kuitansi atau kwitansi, terima kasih atau terimakasih, gelar S.H atau SH. Sebabnya karena sumber kebenaran bahasa Indonesia itu sendiri yang tidak dapat kami temukan: kamus!

    Tengok saja berapa harga Kamus Besar Bahasa Indoensia di pasaran sekarang. Jauh lebih mahal daripada novel Harry Potter yang terbaru, atau “The Secret of Magic”-nya Deddy Corbuzier. Tambahan lagi, KBBI sulit untuk ditemukan. Saya yakin, lebih dari setengah toko buku yang pernah saya kunjungi pasti tidak memiliki KBBI untuk dijual ke konsumen.

    Kita ingin berbahasa yang baik dan benar, namun yang ada adalah fasilitas yang minim untuk mewujudkan hal tersebut.

    Saya sering memrotes saudara-saudara saya yang akhir-akhir ini serinbg berkata’”Secara gue gitu, loh…”
    Sungguh mereka sudah berada pada dunia yang lain.

  69. #69
    gravatar

    hanya satu kuncinya belajar untuk memahami dan melatih untuk membiasakan menggunakan bahasa indonesia.

  70. #70
    gravatar

    berbahasa indonesia yang baik dan benar disesuaikan pada kondisinya, kalau berbicara harus memakai bahasa indonesia yang baik dan benar jelas membuat orang jadi rumit dan susah…

  71. #71
    gravatar

    “Mo ngomong aja kok repot…”
    Mungkin itu salah satu tanggapan orang – orang setelah membaca tulisan di atas (termasuk saya ^^v). Namun hal itu tidak akan menjadi masalah besar, selama kita selalu berusaha untuk berbahasa Indonesia yang *baik dan benar.
    Hidup Indonesia!

    salah satunya cukup praktis

  72. #72
    gravatar

    Dulu, duluuu sekali waktu masih kuliah mudah sekali mencari artikel tentang Bahasa Indonesia di media masa,tapi sekarang???….pada kemana ya para penulisnya???? saya suka kok diskusi tentang bahasa persatuan kita.

  73. #73
    gravatar

    pada dasarnya bahasa indonesia itu mudah akan tetapi, hal tersebut akan terasa mudah apabila kita mau melakukannya, karena di zaman sekarang masyarakat pada umumnya lebih suka menggunakan bahasa gaul, mungkin semua ini terjadi karena peerkembangan zaman yang lebih kepada modernisasi kepada pergaulan yang mana hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan……….ngerti ora son !!!!

    “saya juga bingung kenapa bisa terjadi”

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.