Tuan Priyadi bertutur tentang kesalahan presisi dalam kasus pemberitaan batere ELT pada pesawat Adam Air yang hilang tak tentu rimbanya.
Premis A: Makassar kehilangan kontak dengan pesawat AdamAir pada hari Senin pukul 15.07 WITA
Premis B: Baterai ELT dapat berfungsi selama 48 jam setelah kecelakaan terjadi.
Kesimpulan: Pada kecelakaan pesawat AdamAir, baterai ELT akan berfungsi sampai hari Rabu pukul 15.07.
Secara teknis pernyataan tersebut benar, jika kedua besaran tersebut (pukul 15.07 dan 48 jam) memiliki presisi yang sama. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian, presisi besaran ‘pukul 15.07′ mungkin memiliki presisi sampai ke menit terdekat. Sedangkan besaran ‘48 jam’ tentunya tidak memiliki presisi setinggi ‘pukul 15.07′.
Ini dinamakan kesalahan presisi.
Saya berpikir dalam konteks akurasi, bukan tingkat kesalahan atau kebenarannya. To err is human. Presisi adalah batas yang harus kita dekati sehingga tingkat kesalahan menjadi kecil atau sedikit. Praktiknya dalam pengukuran yang manusiawi kita sulit menyatakan hasil pengukuran sebagai sesuatu yang presisi. Deviasi selalu ada, karena itulah manusia punya konsep toleransi, untuk memperbesar tingkat akurasi tanpa mengabaikan kesalahan yang mungkin terjadi. Jadi, istilah kesalahan presisi harusnya tak ada, sebab jika sudah presisi maka tidak ada lagi tingkat kesalahannya, ia sudah benar, akurasi 100 persen, precisely. Baca selengkapnya »