Gajah Mada: Perang Bubat

Sabtu, 23 Desember 2006M
02 Dzulhijjah 1427H

Lepas jumatan kemarin, 22 Desember 2006, saya menghadiri diskusi dan peluncuran buku keempat Langit Kresna Hariadi (LKH) yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat. Acara diskusi tersebut diadakan dalam rangka Pekan Sejarah oleh Universitas Parahyangan, Ciumbuleuit. Namun sayang acara tersebut kurang publikasi dan kondisi kampus Unpar dalam kesibukan ujian akhir, acara menjadi sepi pengunjung.

Asvi Warman dan Langit Kresna Hariadi

Sebagai pembicara, Pak Langit didampingi nara sumber sejarah, yaitu Bapak Asvi Warman dari akademisi Unpar. Meski dengan sedikit dihadiri pengunjung acara diskusi menarik minat pengunjung dengan banyaknya pertanyaan kritis, tidak hanya berupa pertanyaan seputar bagaimana LKH menulis buku, mencari referensi atau mengolah cerita. Satu sebab tajamnya diskusi adalah semua menganggap isu konflik sejarah Sunda-Jawa sebagai isu yang kritikal, tendensius memancing ego dan emosi kedua pihak, apalagi diadakan di sebuah universitas berlabel parahyangan yang identik sebagai label suku Sunda. Dari obrolan dengan LKH selepas acara, beliau mengungkapkan lebih kritisnya pengunjung tersebut dibandingkan dengan acara peluncuran di Jakarta sebelumnya.

Inti cerita buku keempat Perang Bubat ini adalah cerita sejarah tragedi gugurnya raja Sunda-Galuh Linggabuana beserta anaknya, Dyah Pitaloka. Setelah Gajah Mada bersumpah Hamukti Palapa masih ada ganjalan dengan persatuan Nusantara saat itu, yaitu negeri tetangga di satu pulau belum takluk bersatu dalam kemaharajaan Majapahit.

Prabu Hayam Wuruk mendengar kabar bahwa putri Linggabuana sangat cantik. Sang Prabu yang belum beristri melamar dan mengirim utusan ke Sunda-Galuh melalui jalan laut, sekaligus sebagai upaya menyatukan negeri Sunda ke dalam kemaharajaan.

Singkatnya, isu rencana pernikahan tersebut menjadi sensitif. Ada pihak yang menganggap Hayam Wuruk tak layak datang ke Sunda-Galuh, meski adat dan budaya yang sama adalah pihak pengantin pria datang ke pihak pengantin wanita, dan pesta diselenggarakan di pihak wanita. Tidak layak datang karena dianggap mencoreng harga diri datang menyembah sedangkan Gajah Mada sudah beberapa kali mengirim surat dan utusan untuk ajakan bergabung dalam satu kemaharajaan.

Linggabuana mengambil jalan tengah, yaitu bersedia ngunduh mantu, dan rombongan pun disiapkan serta berangkat ke Majapahit melalui jalur laut. Saya membayangkan LKH bercerita tentang jalur perjalanan darat dari Kawali ke Cirebon sebelum berlayar, namun saya tak menemukan banyak deskripsi tersebut.

Atas janji utusan yang melamar, rombongan Sunda tiba di Hujung Galuh (Surabaya) dan berangkat ke Bubat, tempat penyambutan yang dijanjikan. Namun yang ditemui hanyalah padang yang kosong. Linggabuana tersinggung atas perlakuan ini.

Gajah Mada kemudian datang dengan pasukannya. Keteguhan atas sumpahnya tetap menawarkan hal yang sama, Dyah Pitaloka didatangkan sebagai upeti atas ketaklukan Sunda terhadap kemaharajaan Majapahit.

Dan terjadilah tragedi yang disebut Palagan Bubat, atau Perang Bubat. Rombongan Sunda-Galuh yang sedikit habis dibantai pasukan Majapahit. Dan Dyah Pitaloka pun bunuh diri sebagai ungkapan harga dirinya.

Kisah yang bisa dikatakan singkat ini diolah oleh LKH menjadi satu rantaian cerita dari ketiga buku sebelumnya. Dengan keterbatasan sumber-sumber sejarah LKH mengolah karakter tokoh-tokoh sejarah yang terlibat, dan tentunya memasukkan karakter fiksi agar cerita lebih menarik dan komprehensif. Satu poin yang sangat dicermati adalah faktor emosional cerita. LKH tak ingin alur ceritanya terlalu emosional seperti yang dibuat oleh Hermawan Aksan.

Apa bedanya dengan cerita-cerita versi lain Perang Bubat? LKH menyampaikan keberpihakan, bukan kepada dua kubu yang berkonflik, tapi kepada nalar dan logika yang diproses dari fakta-fakta sejarah. Misalnya saat di lapangan Bubat, pihak mana yang menyerang lebih dulu? Tentunya nalar dan logika akan berpihak kepada pihak yang tersinggunglah yang menyerang lebih dulu, selain fakta bahwa Gajah Mada adalah orang bijak, strategis dan taktis dalam hal politik dan kemiliteran, apalagi dibayangi oleh sumpah saktinya.

Sebagai cerita tentang Gajah Mada yang cukup komprehensif, LKH pun akan menerbitkan buku selanjutnya (sekitar Maret 2007) tentang akhir hidup Sang Mahapatih, Gajah Mada: Madakaripura.

Dalam buku keempat Perang Bubat ini, saya didaulat Pak Langit untuk menuliskan kata pengantar dalam bukunya. Walau dengan sedikit pertanyaan, kenapa bukan istrinya Pak Langit saja yang menuliskan kata pengantar, sebab Pak Langit seorang laki-laki Jawa dari Solo yang beristrikan seorang perempuan Sunda dari Dayeuhkolot, Bandung.

Selamat membaca!

Komentar

291 komentar untuk catatan 'Gajah Mada: Perang Bubat'

  1. #1
    gravatar

    Memang Luar Biasa thema ini, e-mailnya mulai 2006 sampai akhir 2010 perdebatan ini tetap berlangsung, adakah REKOR yang melebihi ?!
    tapi ada sisi negatifnya, perdebatan antara saudara dari Sunda & Jawa ini DIMANFAATKAN oleh mereka-mereka yang memang kurang senang dengan NKRI (coba baca lagi, ada tulisan dari pihak ketiga yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan)

    Dunia ini cuma panggung sandiwara, untuk itu, Stop debat yang emosional dan dangkal !! OK?

  2. #2
    gravatar

    maka naya sampean yg berjiwa politik jangan punya politik licik mirip gajah mada….!!!!!!!siapa yg memulai kejahatan selamanya menjadi “rancu”!!!seperti viking diliciki ma the jak dikuis siapa berani…!!!!heran euy urang sunda sering dizolimi ma suku lain!!!

  3. #3
    gravatar

    sang maha pengecut gajah mada ingin menaklukan kerajaan sunda,tapi ia sadar kerajaan sunda adalah kerajaan yang kuat yang tidak mungkin bisa di kalah kan dengan perang terbuka,maka timbulah akal licik gajah mada dengan memanfaatkan situasi dimana iring2gan orang sunda yang hanya berjumlah 93 orang dengan niat baik menerima lamaran hayam wuruk,di kepung di bubat dengan ribuan prajurit majapahit.
    jadi inti nya bubat bukan lah sebuah perang,mana ada iring2an pengantin yang jumlah nya cuma 95 orang melawan pasukan gajah mada yang ribuan dengan niat jahat di sebut perang..ngacooo…itu mah PENIPUAN COOY..!!

  4. #4
    gravatar

    untuk mas jawa kalo mau ngedongeng seperti itu bukan di sini tapi di ranjang tidur anak kecil baru lucu…

  5. #5
    gravatar

    gileee … tobh banget! Sampe empat tahun, masih belum tuntas! Yang perang para pembesar dan tentara dari masa 650 tahun lalu, dengan setting politik dua kerajaan Hindu (yang bersaudara, krn Rd Wijaya konon memiliki darah Sunda!), yang ribut bawa2 suku Sunda dan Jawa yang sama2 sudah menganut agama lain dan berada dalam satu republik berdaulat. Baca neh baik2: Kerajaan Sunda 650 thn lalu bukan representasi orang Sunda masa rekiplik sekarang ini, dan Majapahit 650 thn lalu juga bukan representasi orang Jawa masa rekiplik ini.

    Mnrt gw, dogol banget orang2 yang masih merasa memiliki kaitan emosional dgn peristiwa ini. Sorry pake kata yg jelas nyata kasarnya; tapi … plis deh! Mau GM berkhianat kek, mau berjasa kek, it’s his problem, not us.

  6. #6
    gravatar

    Wah wah wah ,
    Semuanya mengira bahwa kerajaan di pulau Jawa itu besar2 wilayahnya
    padahal samasekali tidak.
    Karena wilayah Kerajaan-kerajan itu semuanya hanya sebesar kira-kira sebuah Kabupaten jaman sekarang , dan tidak bisa mengembangkan wilayahnya (jajahan nya) menjadi luas dengan cara umum yaitu agresi militer , kenapa ?
    Karena:
    1. Jalan darat belum ada , masih hutan lebat ,mobilisasi pasukan sangat sulit.
    2. Jalan laut juga belum bisa karena , baik orang Sunda maupun Jawa tidak punya skill untuk membuat kapal layar skala antar pulau , paling-paling perahu yang menyusuri pantai Utara saja.
    Disamping skill , bahan baku kapal pun tidak tersedia di Pulau Jawa.
    Jadi mustahil kerajaan di P Jawa , punya armada kapal dan juga mustahil punya prajurit angkatan laut.
    3. Baik pasukan darat maupun laut perlu pasokan Logitik yang kuat untuk bekal makanan/minuman , persenjataan , perkemahan dsb.
    Perhitungan :
    Bila 1 ekor kerbau cukup untuk lauk-pauk 50 orang prajurit per hari ( 2x makan )
    maka diperlukan 20 ekor kerbau per hari untuk makan 1000 orang prajurit
    Kalau perjalanan 10 hari ,maka , seksi logistik harus menyediakan / membawa
    200 ekor kerbau yang dibawa jalan kaki bersama dengan pasukan darat atau di muat ke kapal, bila itu pasukan angkatan laut.
    Belum lagi bawa beras = 10 hari x 1000 orang x 500 gram/hari = 5 ton.
    Ini perhitungan sekali jalan saja , sedangkan untuk pulang diasumsikan bisa
    membawa barang rampasan ( kalo menang perang-nya )
    Kesimpulan :
    Tidak ada perang antar kerajaan yang berjarak lebih dari 3 hari perjalanan
    kaki.
    Kecepatan jalan kaki ( di hutan ) kira-kira 4 Km/jam
    Jarak yang bisa ditempuh per hari = 10 jam x 4 Km/jam = 40 Km
    Jarak maksimal ( 3 hari perjalanan ) = 3 x 40 Km = 120Km

    Jadi :
    Perang yang mungkin terjadi yaitu hanya perang antara kerajaan yang wilayahnya bersinggungan saja .
    Jadi kalo jaman sekarang : perang antar Kabupaten yang bersinggungan wilayah.
    sedang antar Propinsi : tidak ada / mustahil
    apalagi lintas propinsi dari Jatim ke Jabar itu tidak mungkin terlaksana
    mengingat kesulitan perjalanan dan logitik yang dihitung diatas.
    Sekian, semoga bermanfaat bagi semuanya.

  7. #7
    gravatar

    @Johann Lewakabessy
    Gak masalah bukan kalo orang Jawa menamai daerah baru dengan nama Jawa? Bisakah kita salahkan orang Inggris menamai daerah2 di Amerika dan Australia dengan nama2 berbau Anglo-Saxon? Tapi saya akan turut bangga bila anak turunan RMS di Belanda bisa menamai daerahnya dengan nama2 berbau Indonesia ato Maluku.
    Sekadar info, transmigran Sunda pun menamai daerah tempat tinggal barunya dengan nama2 Jawa, tak terkecuali di Lampung. Ada tuh nama2 tempat di sana seperti Babakan Loa, Ciherang, Garut, Neglasari, Pajajaran, Siliwangi, Waringinsari, dsb.
    Kepada yang bukan orang Jawa ato Sunda semacam Johann ato Ronggur S. dll. jangan ikut2an memposting tulisan2 yang bernada sentimen pribadi, ya!!!!

  8. #8
    gravatar

    Eh, ralat, bukan nama Jawa, ding, tapi nama Sunda. Sekali lagi, gua minta maaf.

  9. #9
    gravatar

    sudah selyaknya kita bangga dengan ki sunda,sedari dulu namanya jadi bahan pembicaraan ,ok saya sunda karena ibu bapak dan lahir ditanah sunda .lihat mereka yang ngakunya hebat itu yang jago kerja keras yang jadi presiden ato sebagainya….salut,tapi kok betah tingal di jawa barat ya !!,benar benar sesuai sejarahnya ,tapi jangan lupa kalo masih pengen perang kaya doeloe ..sebaiknya saya sarankan segera pulang silahkan susun kekuatan di tempat masing masing.coba pake pikiran yang sehat gak mungkin kan ,?kita harus ingat 3 setengah abad men, bangsa kita katanya dijajah ,saya dengar dari orang tua waktu indonesia merdeka bung karno bingung mau namain apa bangsa ini ….sudah susah mencari penduduk aslinya terus katanya dikasihlah nama INDO nesia ..yang artinya indonya asia,so,,jadi ngga ada alasan untuk terus mempermasalahkan sipa kita .saya percaya sejarah itu benar adanya ,karena ,,kita adalah produk sejarah.jadi wajarlah ,,,suka atau tidak kita harus ingat semua elemen bangsa sudah berjuang demi kemerdekaan ,masih pantaskah kita membahas hal SARA (diakui atau tidak )sepeti ini.biarlah sejarah dibuka kita jadikan cermin dan akan terlihat sejarah yang sebenarnya .siapa pemilik republik ini????????????selamat menyaksikan…

  10. #10
    gravatar

    konyol ( mungkin termasuk saya yang mau-maunya terpancing komentar )
    saya bangga pada gajah mada atas kelemahan dan kelebihannyam, saya juga bangga pada prabu siliwangi yang hebat. saya bangga pada sejarah sunda dan jawa serta semua sejarah yang ada di indonesia. saya bangga di indonesia banyak suku bangsa yang menjadi pewarna bangsa ini.
    mau sunda,jawa atau suku lain,ya sama aja.kita lahir cuman warisan dan tidak meminta.apa kita meminta lahir dari orang tua jawa?sunda?batak?. jadi ngapain juga ribut karena kita sunda,jawa,atau yang lainnya???.
    mungkin lebih baik kita baca novelnya,gak suka yang simpan aja dan tulislah buku tandingan yang lebih baik dan akurat,itulah cara yang baik,kalau tidak bisa mengarang atau menulis ya diam aja jangan mencaci maki,apalagi caci maki dengan unsur sara.padahal diluar masyarakat banyak biasa saja,bergaul semestinya tidak mempermasalahkan jawa sunda.kalau saya kecopetan,akan saya gebuk copet itu meski copet itu satu suku dengan saya.illustrasi sederhana.

  11. #11
    gravatar

    panthera tigris SONDAICA = harimau JAWA, rhinoceros SONDAICUS = badak JAWA… kenapa bisa begitu ?

  12. #12
    gravatar

    Ass.wr.wb Kepada Yth Pa Jay…
    Kalau mengijinkan bolehkah saya bertanya Pa Jay dari mana dan boleh pulakah saya berteman di FB Anda??
    Saya tertarik Pa Jay menaruh perhatian terhadap sejarah, termasuk sejarah Indonesia.
    Saya setuju dengan Pendapat bahwa kebenaran sejarah yang sebenar-benarnya adalah milik pelaku sejarah itu sendiri dan Alloh SWT yang maha segala tahu dan benar.
    Generasi selanjutnya yang nota bene tidak sejaman dengan peristiwa sejarah, tentu harus mempelajari sejarah dengan proses kebenaran yang ada tanpa menghilangkan unsur-unsur pendukungnya, dan selain itu dalam menyikapinya harus berfijak dengan kearifan yang seadil-seadilnya tidak tendensius satu sama lain, mengambil hikmah dari sejarah tersebut untuk lebih berintrosfeksi.
    Akhirnya semakin banyak versi, tentu akan membawa konsekwensi tajamnya kontroversi, dan ini akan menimbulkan efek sivil psikologis yang tiada ujungnya berkelindan terus-menerus, berlebihan alias lebaaay gitu loh…salah satu contoh ya tentang Perang Bubat…(dari orang Galuh Kawali)

  13. #13
    gravatar

    Asm..
    Saya sangat tertarik dengan isu orang Jawa disarankan tidak menikah dengan orang Sunda.
    Saya sendiri orang Serang-Banten yang identik dengan suku Sunda tapi daerah Serang justru mayoritas berbahasa Jawa dan anehnya lagi tidak ada budaya memanggil mbakyu/yayu/mbak padahal memanggil kakak laki-laki Kakang(khas orang Jawa Zaman dulu, sekarang kan Mas pakenya) dan jelas-jelas berahasa Jawa (walaupun sangat berbeda dengan standar bahasa Jawa Yogya namun masih termasuk salah satu dialek bahasa Jawa).

    Cobalah datang Ke Serang anda akan menemukan orang-orang berbahasa Jawa yang bertanya kepada seorang wanita “Teteh, arep ning endi?”. Teteh yang menjadi ciri khas panggilan bagi perempuan dari tanah Sunda digunakan oleh orang Jawa Serang alih-alih Mbakyu. saya pikir orang Serang bisa jadi contoh yang unik paduan antara etnis Jawa-Sunda yang saling berbaur dan menyatu sehingga terdapat akulturasi yang tidak menghilangkan ciri khas masing-masingnya sehingga pandangan sinis ttg perseteruan Jawa-Sunda bisa disikapi dengan bijak.

    Nanti terjadi apa-apa kalo nikah Jawa-Sunda..
    pernyataan itu sepertinya lebih kepada persepsi masing-masing deh karena dari zaman kedatangan pasukan Demak dan Cirebon (etnis Jawa) ke Banten tahun 1500an, alhamdulilah baik-baik saja sampai sekarang.

  14. #14
    gravatar

    pada protes aja neh, masih untung ada orang semacam mas LKH mau nulis tentang Majapahit sehingga orang2 yang kangen atas cerita-cerita kerajaan paling tidak sedikit terobati dahaganya. kisah majapahit emang literaturnya tidak bisa dikatakan lengkap, selalu ada daerah abu-abu yang mau tidak mau akhirnya harus dikemas dalam bahasa novel untuk bisa disajikan menjadi satu cerita utuh. so kalo pada punya pendapat sendiri2 ya pada nulis sendiri aja, terbitin, biar yang laen bisa pada baca. selesai masalah.

  15. #15
    gravatar

    sebaiknya buku sejarah di revisi dan penelitian yang lebih mendalam & akurat mutlak dilakukan supaya tokoh sejarah yang dianggap berjasa besar bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah, bila perlu dilakukan kerja sama riset & penelitian dengan pihak negara lain semisal belanda dimana banyak peninggalan sejarah termasuk lontar atau bukti tertulis sejarah berada di negara orang, jangan sampai sejarah di belokkan untuk kepentingan rezim atau golongan tertentu, seperti selama ini yang sudah terjadi.

  16. #16
    gravatar

    Hogan Outlet Store

    Jay adalah Yulian ยป Gajah Mada: Perang Bubat

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.