Gajah Mada: Perang Bubat

Sabtu, 23 Desember 2006M
02 Dzulhijjah 1427H

Lepas jumatan kemarin, 22 Desember 2006, saya menghadiri diskusi dan peluncuran buku keempat Langit Kresna Hariadi (LKH) yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat. Acara diskusi tersebut diadakan dalam rangka Pekan Sejarah oleh Universitas Parahyangan, Ciumbuleuit. Namun sayang acara tersebut kurang publikasi dan kondisi kampus Unpar dalam kesibukan ujian akhir, acara menjadi sepi pengunjung.

Asvi Warman dan Langit Kresna Hariadi

Sebagai pembicara, Pak Langit didampingi nara sumber sejarah, yaitu Bapak Asvi Warman dari akademisi Unpar. Meski dengan sedikit dihadiri pengunjung acara diskusi menarik minat pengunjung dengan banyaknya pertanyaan kritis, tidak hanya berupa pertanyaan seputar bagaimana LKH menulis buku, mencari referensi atau mengolah cerita. Satu sebab tajamnya diskusi adalah semua menganggap isu konflik sejarah Sunda-Jawa sebagai isu yang kritikal, tendensius memancing ego dan emosi kedua pihak, apalagi diadakan di sebuah universitas berlabel parahyangan yang identik sebagai label suku Sunda. Dari obrolan dengan LKH selepas acara, beliau mengungkapkan lebih kritisnya pengunjung tersebut dibandingkan dengan acara peluncuran di Jakarta sebelumnya.

Inti cerita buku keempat Perang Bubat ini adalah cerita sejarah tragedi gugurnya raja Sunda-Galuh Linggabuana beserta anaknya, Dyah Pitaloka. Setelah Gajah Mada bersumpah Hamukti Palapa masih ada ganjalan dengan persatuan Nusantara saat itu, yaitu negeri tetangga di satu pulau belum takluk bersatu dalam kemaharajaan Majapahit.

Prabu Hayam Wuruk mendengar kabar bahwa putri Linggabuana sangat cantik. Sang Prabu yang belum beristri melamar dan mengirim utusan ke Sunda-Galuh melalui jalan laut, sekaligus sebagai upaya menyatukan negeri Sunda ke dalam kemaharajaan.

Singkatnya, isu rencana pernikahan tersebut menjadi sensitif. Ada pihak yang menganggap Hayam Wuruk tak layak datang ke Sunda-Galuh, meski adat dan budaya yang sama adalah pihak pengantin pria datang ke pihak pengantin wanita, dan pesta diselenggarakan di pihak wanita. Tidak layak datang karena dianggap mencoreng harga diri datang menyembah sedangkan Gajah Mada sudah beberapa kali mengirim surat dan utusan untuk ajakan bergabung dalam satu kemaharajaan.

Linggabuana mengambil jalan tengah, yaitu bersedia ngunduh mantu, dan rombongan pun disiapkan serta berangkat ke Majapahit melalui jalur laut. Saya membayangkan LKH bercerita tentang jalur perjalanan darat dari Kawali ke Cirebon sebelum berlayar, namun saya tak menemukan banyak deskripsi tersebut.

Atas janji utusan yang melamar, rombongan Sunda tiba di Hujung Galuh (Surabaya) dan berangkat ke Bubat, tempat penyambutan yang dijanjikan. Namun yang ditemui hanyalah padang yang kosong. Linggabuana tersinggung atas perlakuan ini.

Gajah Mada kemudian datang dengan pasukannya. Keteguhan atas sumpahnya tetap menawarkan hal yang sama, Dyah Pitaloka didatangkan sebagai upeti atas ketaklukan Sunda terhadap kemaharajaan Majapahit.

Dan terjadilah tragedi yang disebut Palagan Bubat, atau Perang Bubat. Rombongan Sunda-Galuh yang sedikit habis dibantai pasukan Majapahit. Dan Dyah Pitaloka pun bunuh diri sebagai ungkapan harga dirinya.

Kisah yang bisa dikatakan singkat ini diolah oleh LKH menjadi satu rantaian cerita dari ketiga buku sebelumnya. Dengan keterbatasan sumber-sumber sejarah LKH mengolah karakter tokoh-tokoh sejarah yang terlibat, dan tentunya memasukkan karakter fiksi agar cerita lebih menarik dan komprehensif. Satu poin yang sangat dicermati adalah faktor emosional cerita. LKH tak ingin alur ceritanya terlalu emosional seperti yang dibuat oleh Hermawan Aksan.

Apa bedanya dengan cerita-cerita versi lain Perang Bubat? LKH menyampaikan keberpihakan, bukan kepada dua kubu yang berkonflik, tapi kepada nalar dan logika yang diproses dari fakta-fakta sejarah. Misalnya saat di lapangan Bubat, pihak mana yang menyerang lebih dulu? Tentunya nalar dan logika akan berpihak kepada pihak yang tersinggunglah yang menyerang lebih dulu, selain fakta bahwa Gajah Mada adalah orang bijak, strategis dan taktis dalam hal politik dan kemiliteran, apalagi dibayangi oleh sumpah saktinya.

Sebagai cerita tentang Gajah Mada yang cukup komprehensif, LKH pun akan menerbitkan buku selanjutnya (sekitar Maret 2007) tentang akhir hidup Sang Mahapatih, Gajah Mada: Madakaripura.

Dalam buku keempat Perang Bubat ini, saya didaulat Pak Langit untuk menuliskan kata pengantar dalam bukunya. Walau dengan sedikit pertanyaan, kenapa bukan istrinya Pak Langit saja yang menuliskan kata pengantar, sebab Pak Langit seorang laki-laki Jawa dari Solo yang beristrikan seorang perempuan Sunda dari Dayeuhkolot, Bandung.

Selamat membaca!

Komentar

290 komentar untuk catatan 'Gajah Mada: Perang Bubat'

  1. #1
    gravatar

    Jay istrinya Pak Langit?

  2. #2
    gravatar

    Uhuk! *liat komentar di atas*

  3. #3
    gravatar

    @#1. wakakakakakak
    Perang yang “bekas2nya” masih terasa hingga sekarang. tak ada nama jalan gajah mada atau majapahit di bandung.

  4. #4
    gravatar

    Di bawah seratus versus ribuan, ga salah tuh nyerang duluan? Asa pacikrak ngalawan merak, Linggabuana pasti punya pertimbangan juga.. baru deh belapati. Kemungkinan seuneu hurung cai caah a.k.a kalap bin sanap ada tapi kecil kayaknya. Lagian siapa tau GM ngiler ada target lawas yg bisa dioverkill di tanah sendiri. Nalar versi lain aja ini mah hehehe. Overall saya suka historical novel, salut buat LKH dan Hermawan Aksan.

  5. #5
    gravatar

    Sebagai turunan Ciamis, saya masih menyesalkan tragedi Bubat ini. Naha bet kudu kitu-kitu teuing. Ya tapi ini sudah menjadi takdir dan sejarah. Bukan berarti orang Sunda mendendam lho ya.

  6. #6
    gravatar

    Bangsa Endonesa memang paling jago sama sejarah, terutama sejarah ber-upeti :) Hebat gak, hampir masuk hitungan milenia budaya upeti masih tetap dipegang teguh. (habis bayar upeti nembak STNK…, jadi ide buat teka-teki baru; kalo ditembak makin mahal… apa ayo?! jawabannya KTP pas urus STNK. bah! bah! bah!)

  7. #7
    gravatar

    kejadian beratus tahun yang lalu… besok.. kalau orang sunda punya anak yang mau kawin sama orang jawa.. atau sebaliknya… gak usah disusah2in ya.. demi kejadian ladu ini… basi.

  8. #8
    gravatar

    selain fakta bahwa Gajah Mada adalah orang bijak, strategis dan taktis dalam hal politik dan kemiliteran,

    IMHO, Mungkin dijaman itu, tindakan GM yang membantai bisa dianggap bijak. Kalau dilihat lewat perspektif jaman gene, kira-kira apa bisa disebut bijak ya membantai pasukan kecil untuk urusan menegakkan kewibawaan kerajaan ? Apa tidak bisa lewat jalan dialog ?

  9. #9
    gravatar

    Pernah bosku nanya “gif, orang jawa tuh menjajah sunda ya?”
    Argh.. seburuk itukah nama orang jawa di sunda?
    Apa gara2 udah terlalu banyak orang jawa di bandung sehingga terkesan menjajah?

  10. #10
    gravatar

    Dan sampai sekarang pun tidak ada jalan Gajah Mada atau Hayam Wuruk di kota Bandung hehehe

  11. #11
    gravatar

    #8: Baca lagi kalimat saya, intinya “… dalam hal politik dan kemiliteran.” Kata bijak bukan saya sebut sebagai persepsi pikiran modern saat ini, tapi persepsi terhadap rangkaian cerita dari keempat buku Gajah Mada karya LKH.

    Sejak Gajah Mada sudah mengirim surat, mengirim utusan untuk melamar, persetujuan ngunduh mantu, dan sebagainya adalah sebuah proses dialog. Dan tentunya Gajah Mada sendiri pun dikelilingi pejabat-pejabat istana yang pro dan kontra (termasuk kontra negatif).

  12. #12
    gravatar

    Jadi.. jagoannya yang mana, Bang Jay? :D

  13. #13
    gravatar

    #12: Nya aing, atuh!

  14. #14
    gravatar

    Apakan Gajahmada juga berpoligami…?

  15. #15
    gravatar

    wilujeng, kang…ternyata sayah nggak salah, kang Jay teh yg nulis Pengantar di buku itu ya…

  16. #16
    gravatar

    Rasanya dendam emang gak ada kesudahannya…. nah kalo soal GM jadi lucu ya… “dendam tradisionil” tuh…. Perlu kearifan dan pemahaman nurani kayanya untuk menerima kebenaran sejarah, karena kebenaran sejarah yang benar-benar adalah milik pelaku sejarah itu sendiri.

    Yang menyedihkan…. nuswantara yang diwariskan Majapahit ternyata emang enggak bisa kita rawat. Boro2 mempertahnkan, Timor Timur aja dilepas gitu aja. Coba Indonesia luasnya seluas Majapahit… walah kita gak perlu bikin paspor untuk ke Malaysia dll.

    Btw salut (3X) untuk Pak Langit…!!!! Beliau membuka mata kita untuk ‘lebih’ mengenal tanah air nusantara. Salam hormat !!!!

  17. #17
    gravatar

    wah…waktu bedah buku di JKT saya ga bisa dateng euy..

  18. #18
    gravatar

    Jadi inget jaman masih sekolah

  19. #19
    gravatar

    Aku baru tau…

  20. #20
    gravatar

    percaya atau tidak, karena legenda perang bubat ini telah membuat suatu kepercayaan turun temurun seperti folkore di kalangan masyarakat jawa kuno atau nenek kakek kita, bahwa jika seorang wanita jawa tidak bisa menikah dengan pria sunda. Kalaupun dipaksa pasti akan trejadi perceraian. Dengan anggapan ada semacam ‘ balas dendam ‘ dari pihak sunda atas tragedi ratusan tahun silam.
    Jadi lebih menarik kalau ada juga yang membahas pengaruh sejarah tehadap pola pikir dan budaya suatu bangsa.

  21. #21
    gravatar

    Sangar ambek cak Jay… salut salut… tulisannya selalu TENDENSIUS =))

    *maksude opo iki?

  22. #22
    gravatar

    Ada yang tau nggak, Gajah Mada mati dimana? Klo nggak salah ada cerita-cerita dari masyarakat kalo Gajah Mada mati di Aceh. Tepatnya Aceh Tamiang sekarang, karena disana ada satu daerah yang namanya Manyakpanyet yang berarti Majapahit.

  23. #23
    gravatar

    kang Jay …. rea pisan ngaguar sejarah jaman baheula ….. hehehehehe sugan mah Kang Jay murid wa kepoh ( heureuy kang Jay ….. Cag Ah )

  24. #24
    gravatar

    heuheu berburu novelnya ahh, mantap sih ada hubungannya sama sejarah bangsa Indonesia

  25. #25
    gravatar

    masih ‘ngiler’ deh … soalnya bukunya belum nyampe di toko2 buku di jabodetabek
    dospundi meniko Pak LAngit …

  26. #26
    gravatar

    masih ngiler deh…abis di jabodetabek belum ketemu itu novel…dospundi meniko Pak Langit

  27. #27
    gravatar

    Wah bukunya udah ada lho di Gramedia…. itu juga gak sengaja… setelah minggu sebelumnya hunting Hamukti Palapa, eh ternyata koq udah nongol…
    lha Pak Langit…. kapan ada di Gramedia or Gunung Agung nih cerita setelah Perang Bubat??? katanya launching maret 2006, koq blm ada ya…
    Trus… mestinya sebelum Perang Bubat dan setelah Hamukti Palapa sebelumnya harus ada 1 or 2 buku lagi dong yg menceritakan perjuangan Mahapatih GM itu, gimana menjalankan Hamukti Palapanya shg bisa menekuk Pahang, Dompo, Celebes, bahkan konon sampai Campa segala. Jadi Pak Langit, jangan buru2 nuntasin Mr. GM dong….

  28. #28
    gravatar

    perang bubat blm ada di TB gramedia bandung dan TB gunung agung

  29. #29
    gravatar

    orang sunda dan jawa itu konon sangat dekat hubungannya, kalo gak salah Raden wijaya pendiri Majapahit sebetulnya putra mahkota Kerajaan Sunda di kawali (karna Raden wijaya adalah putra dari Lembu Tal, anak dari Mahisa Cempaka, dimana lembu Tal dikawinkan oleh ayahnya yg raja kembar singasari, utk mempererat hubungan. karena ayah Raden Wijaya mangkat, maka Raden wijaya yg sebetulnya menggantikan sebagai Raja Sunda, tapi Raden Wijaya dan Ibunya menolak dan kembali ke Singasari. Jadi Sebetulnya Raden wijaya itu bisa jadi Raja besar di Sunda, tapi suratan menakdirkan ia jadi pendiri Imperium Majapahit. Mungkin ini salah satu alasan knapa Majapahit enggan menyeberangi Sungai Pamali, untuk menguasai Sunda. Saya Mohon Koreksi mas KLH. Jadi tragedi bubat tidak usah dibesar-besarkan, karna Sunda Jawa adalah Saudara Dekat.

  30. #30
    gravatar

    Tambahan informasi buku tentang gajah mada penelitiannya selama 5 tahun sudah ada penulisnya adalah RENI MASMADA, yang sekarang sedang menggarap film gajah mada yang berlokasi di Bogor.

  31. #31
    gravatar

    Halo Bang LKH,

    Terima kasih untuk Perang Bubat-nya, walaupun saya sangat mengimpikan satu episode (buku) lain sebelum terbitnya Perang Bubat. Episode yang saya mau namakan missing sequel dari kehidupan seorang Mahapatih Gajah Mada.

    Setelah membaca 3 buku sebelumnya dan kemudian yang terbaru – Perang Bubat, saya akhirnya datang pada satu gambaran tentang seorang Gajah Mada yang diciptakan Bang LKH: Gajah Mada bukanlah tokoh sehebat yang dituturkan sejarah Indonesia, Mahapatih yang diagung-agungkan kebesarannya itu hanyalah jagoan yang ‘duduk di belakang meja kekuasaan’ tanpa banyak bersusah-susah membangun dan mempersatukan Nusantara di bawah panji-panji Majapahit sesuai sumpahnya. Adalah Gajah Enggong, Mpu Nala, Adityawarman dan ribuan pasukan Majapahit-lah yang seharusnya mendapatkan kehormatan itu. Orang-orang hanya ‘takut’ pada Gajah Mada karena tubuhnya yang kekar, dan karier politiknya yang tinggi didapatkannya lebih karena kedekatan dengan keluarga kerajaan dan Mahapatih sebelumnya. Saya tidak mendapati kehebatan Gajah Mada sebagai seorang pendekar atau ksatria yang hebat dalam pertarungan, ataupun sebagai panglima yang taktis di medan perang.

    Di missing sequel itulah saya mengimpikan kesaktian dan kehebatan Gajah Mada akan dipamerkan oleh Bung LKH. Episode di mana Gajah Mada bekerja keran dan berjuang untuk mewujudkan Sumpah Palapa-nya dengan terjun langsung dalam negosiasi kerjasama maupun perang melawan kerajaan-kerajaan lain. Contohnya ketika dia terjun langsung pada penaklukkan Bali bersama Arya Damar yang mungkin merupakan kisah yang pada akhirnya menghantarkannya pada puncak pencapaian cita-citanya.

    Seorang teman saya berujar, “yang saya tahu dari pelajaran sejarah tentang Gajah Mada adalah Mahapatih yang sangat hebat karena sanggup menyatukan kepulauan Nusantara di zaman manusia belum memiliki teknologi persenjataan, perkapalan dan telekomunikasi seperti sekarang, tetapi dari serial Gajah Mada ini saya tidak mendapati kehebatan itu.” Teman yang lain berkata, “kok kayaknya Arya Kamandanu lebih hebat dari Gajah Mada.”

    Apalagi setelah selesai membaca Perang Bubat, saya melihat kehidupan Gajah Mada yang naik dari seorang prajurit biasa hingga menjadi Mahapatih di kerajaan yang waktu itu belum terkenal, kemudian melangkah pada satu saat di mana dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya menggagalkan perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka. Dengan terbitnya Perang Bubat, Bang LKH telah mengubur Gajah Mada sebelum mencapai kebesarannya yang sebenarnya, bukankah episode berikutnya adalah penurunan karier dan kebesaran dan penderitaannya?

    Opini saya, Bang LKH terlalu terpengaruh oleh kritikan orang-orang Sundah terhadap penokohan Gajah Mada yang pada dasarnya mereka tidak suka, kemudian tergesa-gesa menulis episode Perang Bubat sebagai jawaban atas kritikan-kritikan tersebut dan pada akhirnya melupakan kebesaran Gajah Mada itu sendiri. Begitu juga penulisan episode Perang Bubat (yang menurut saya adalah yang terbaik dari 4 seri yang sudah terbit berdasarkan penokohan Prajaka alias Saniscara) yang saya perkirakan setidak-tidaknya mencapai 10 persen kedahsyatan perang Baratayudha, sesusai dengan pemilihan judulnya yang didasarkan pada tragedi berdarah penyebab dendam abadi Jawa dan Sunda, tetapi pada akhirnya hanya berlangsung sepanjang satu setengah halaman (dibaca hanya dalam waktu 1 menit). Barangkali karena tergesa-gesa juga untuk mengakhirinya. Namun demikian, saya tetap menunggu seri terakhirnya. Adakah celah untuk penggambaran kebesaran seorang Mahapatih Gajah Mada dan kerajaan Majapahit itu sendiri?

    Don Weley

  32. #32
    gravatar

    padjajaran = PERSIB
    Majapahit = PERSEBAYA

    gak akur2 tuh…..

    gak lucu yah

    ^_^
    hehehe

  33. #33
    gravatar

    dari pernyataan Don Weley banyak benernya juga mas LKH, mungin di episode Gajah Mada Madakaripura perlu ada “penggambaran kerja keras Mr. GM dalam menyatukan nusantara”
    ya mungkin mas LKH bisa ceritan dengan cara si Gajah Mada melakukan flash back memory2 indahnya dg teringat akan usaha2/sepak terjang apa saja yg telah dilakukanya sekaligus dg meratapi kesalahanya dg terjadinya bubat’s war melalui 8/10 bab. dg itu mungkin bisa mewakili rasa penasaran para pembaca, mas LKH.

    lagian di perang bubat, tokoh sentralnya sepertinya ga ada mas…..!!!! jadi di madakaripura si GM jadiin tokoh sentral abis ya mas……

    hehehehe…. maaf bukanya ikut campur, tapi krn saya jg penasaran ko g dibikin episode sepak terjangnya GM dalam nyatuin nusantara.

    maaf klo ada salah kata mas LKH,

    Saya tunggu karya selanjutnya

  34. #34
    gravatar

    Jadi pengen baca bukunya…

  35. #35
    gravatar

    Wah wah komentarnya pedas-pedas dan tajam, seperti ketika saya tanggal 22 Deseember kemarin bedah buku di Bandung, yang datang cuma 17, opininya tajam minta ampun. Namun sadarlah semua pembaca, tentang peran pendongeng saya, juga independensi saya, ketidak berpihakan saya (maklum saya dulu wartawan dan darah jurnalis itu tetap mengalir sampai di sini) di mana sebagai pengarang saya harus menjaga jarak, menjaga keberimbangan dan sebagainya.

    Adaah sebuah dugaan yang sangat salah bila saya terintimidasi oleh orang sunda hingga lahirlah Perang Bubad, sebagai penulis saya hanya melihat betapa hebat dan dahsyat muatan konflik di Perang Bubad, selebihnya saya harus menyampaikan secara jujur Gajah Mada itu tak ubahnya Soekarno, betapa hebat beliau, namun terpuruk di masa tua, juga Soeharto, betapa hebat dia namun terpuruk di masa tua. Orang dengan setumpuk kekuasaan punya kecenderungan demikian. Kalau anda tinggal di Jawa Tengah dan berlangganan Suara Merdeka, cobalah simak resensi Perang Bubad di halaman 27 terbitan Minggu 7 Januari 2007.

    Anda benar, Gajah Mada V Madakaripura Hamukti Muksa memang masa surut. Insya Allah akan terbit Maret 2007 dengan tebal sama dengan GM I. Pnulisan naskah selesai pada 12 Januari 2007.

    Untuk yang berkenan mencaci maki, banyak terimakasih. Untuk Don Weley, aku tunggu di emailku. Tahu alamatnya bukan?

  36. #36
    gravatar

    Sebuah pengumuman atas musibah menyedihkan yang kalau tidak berubah akan terjadi pada tanggal 2 Pebruari yang akan datang. Yaitu sehubungan akan ditampilkannya pentas ketoprak campur sari yang personilnya berasal dari Ketoprak Humor, Langit Kresna Hariadi diundang untuk ikut main didapuk sebagai Patih Singasari Kebo Arema. Sungguh itu musibah yang mengerikan bagi langit Kh, ia sangat takut kalau-kalau dalam pentas tersebut tamil lebih lucu dari Timbul dan Tarsan. Konon kabarnya Basofi Sudirman ikut main.

    Untuk teman-teman di Jakarta, hadirilah acara musibah tersebut, saksikanlah bagaimana Langit KH kemringet, he he.

    Ini serius lho cah, jangan dianggap guyon.

  37. #37
    gravatar

    Waduh, ada yang belum lengkap, mainnya di mana? TIM Jakarta, jam 20 malam tanggal 2 Januari 2007. Ini serius sekali lho, untuk yang punya hubungan dengan PMI tolong siapkan barangkali Langit perlu transfusi, golongan darahnya B.
    Lupakan sejenak Gajah Mada, mari arahkan pandang mata ke TIM. Untuk yang mau motret, beritahu saya dulu ya.

  38. #38
    gravatar

    Kang Jay,

    Kupasan tulisan LKH memang bagus. aku sendiri baru nyampe di buku kedua (baru beli soalnya).

    Gajah mada, pada awalnya sangat bagus dan memperhitungkan semua sejarah masa lampau. Tetapi menjadi lupa ketika mengucapkan Sumpah Palapa. Perang Bubat terjadi karena ambisi sumpah palapa yang melupakan sejarah masa lalu.

    Oh ya, abdi nyuhunkeun email na nu ngaku Wangsa Joedamanggala. JAPRI wae. Saya tertarik dg tulisan runtutan yang dia kupas. Ada silsilah, kayaknya sih dari keturunan orang Cianjur (dari Prabu Bunisora).

  39. #39
    gravatar

    Wiiihh….h, takut, mas LKH galak pisan ….!!! lari….

  40. #40
    gravatar

    apa mas lkh punya blog ya ?
    kayaknya seru juga kalo bikin blog khusus sejarah, dari sejarah nasioanal sampai sejarah dunia…
    ataukah memang sudah ada dan saya yang tertinggal ya….

    mohon pencerahan

  41. #41
    gravatar

    Saya agak kecewa dengan penggambaran tentang tokoh yang memiliki multiple personality,seharusnya alurnya membimbing kita untuk menyadarinya sendiri tapi malah diungkapkan lewat keterangan dan penggambarannya agak semrawut dan aneh sehingga ada kejanggalan dan gap yang terasa lebar untuk dipahami. tapi tetap saya nanti buat pena ke 5 LKH

  42. #42
    gravatar

    Wah bukunya Pak Langit tebal juga……tapi…banyak yang kurang. Apa benar kejadian perang bubat seperti itu?….Kalau saya ajukan versi lain boleh?…cerita dari keturunan Prabu Hayam Wuruk loh….bukan dari orang lain, tapi langsung dari keturunannya loh yang mengerti kejadian perang bubat yang sebenarnya.
    He..6x, gak lah…….RAHASIA…..
    Tetapi yang jelas, Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada adalah teman seperguruan, mereka adalah sahabat. Prabu Hayam Wuruk mengangkat Gadjah Mada sebagai Mahapatihnya bukan semata – mata karena persahabatan, tetapi juga karena Gadjah Mada memiliki kemampuan untuk memikul jabatan tersebut disamping jasa – jasanya kepada Kerajaan Majapahit…….sudah cukup yah……infoku. Wassalam….Sukses untuk Pak Langit.

  43. #43
    gravatar

    Mas LKH mo ngritik nih,
    1. Kenapa Tatar kok di GM:Perang Bubat masih disebut-sebut sebagai ancaman, setau saya dalam novel sebelumnya (aditiawarman ke china, pulangnya selamat malah bawa oleh-oleh bubuk mesiu) dan dalam sejarah (Dinasti YUAN/ dinastinya Mongol-Tatar sudah dijatuhkan dan naiknya kembali orang Han memegang kekuasaan di pusat daratan China dan berdiri dinasti Ming, aditiawarman 2 kali ke China sebagai utusan khusus supaya Majapahit ga diganggu lagi oleh ancaman dari utara, lah kok masih disebut-sebut sebagai ancaman, malah kata Mas LKH naruh telik sandi di sekitar sumbawa, kan boong banget jadinya.
    2. Kenapa sih penaklukan Bali dan wilayah lainnya ga dibuat Novel tersendiri, ga punya duit buat riset yah, atau sibuk maen ketoprak yah he.. he…, padahal saya membayangkan bakal ada tulisan yang menggambarkan pertarungan Gajah Mada dengan Kebo Iwo seperti yang diceritaiin tour guide saya waktu liburan ke Bali.
    3. Yang ini nanya, ga ngeritik lagi. Emang Iya Gajah Mada bukan orang Nusantara, pengkritik dia bilang dia itu orang China atau Monggol, terus maksa kita percaya dengan alasan pelurusan sejarah, ntar di novel selanjutnya jagn lupa kasih peta kuno nusantara sama gambaran arca Mada yah mas.

  44. #44
    gravatar

    Akhirnya Gajah MAda 4 sampai di Surabaya bulan ini.
    Baru baca dikit tapi lumayan nambah penasaran.
    Untuk sejarah pakuan dan Cirebon lengkap diluas oleh Novelis Agus Sunyoto dalam buku Syaikh Siti Jenar buku 1-7. Terbitan LKIS Yogya. Buku ini keren abis, yang belum baca. Setting berkisar keruntuhan MAjapahit.

  45. #45
    gravatar

    Euleuh-euleuh ternyata saya rada kuper… setelah beberapa lamanya mencari sejarah sunda.. ternyata aya geuningan anu ngabahas masalah krusial ieu ….

    Saya teh punya buku karangan Hermawan Aksan… dan salut atas bukunya… bari ceuk batur rada emosional.. tapi menurut nalar oge masuk akal… datang jauh-jauh ti parahyangan trus di bohongan !!!??? … atuh nya wajar we .. teu tarima…

    Saya oge sering pisan ngadenge yen urang sunda mun kawin jeung urang jawa… moal cocok ( ceuk urang jawa ) ??? ceuk sahaaaa…… buktina saya bisa ngahijikeun ….. ceuk batur oge urang sunda leuwih ngora ti urang jawa ??? ceuk sahaaaa….. maca atuh sajarah bangsa… yen urang sunda teh geus aya karajaanna ti tahun 300 an masehi… ai majepahit taun sabaraha cik ??? 1200an atawa 1400 an?? lamun teu salah mah…. atuh jadi saha nu leuwih ngora ??? nya teu….

    di semarang aya ngaran jalan… ngaranna jalan siliwangi… teu percaya … datang we ka semarang……
    Saya mah cuma berharap… lamun para jagoan mengarang versi fiksi atawa sajarah.. kuduna mah sing jujur…. anu salah nya atuh di sebut salah… anu bener kitu oge di sebutkeun bener…. tong obong-obong sa suku jeung anu di caritakeun….
    belajar ti nagari china… sok tingali… ti taun 2000 sebelem masehi.. jaman jahiliyah… aya riwayat sejarahna… angger disebutkeun .. yen kaisar ieu teh goreng.. kaisar anu itu alus… si ieu salah .. si itu bener….. tah kitu kuduna mah…

    Terakhir.. da berhubung saya mah beragama islam.. jadi propaganda sunda jeung jawa teu bisa di kawinkeun .. teh… dianggap tidak akhirati ( teuing atuh bahasana ) lainnya duniawi… anu benermah… sakabeh manusa di ciptakeun teh.. keur saling mengenal …. da nu bakal diasupkeun ka surga mah lain pasti urang jawa, sunda, batak, palembang jeung sajabina.. tapi anu …. sok lah tos terang da … jawabwe nyalira…
    Hatur nuhun.. bilih kapanjangan

  46. #46
    gravatar

    Pak LKH, mo tanya nih……..?
    sebenarnya isi dari sumpah palapa apakah seperti itu po?….kalau didapatkan dari prasasti Gadjah Mada mengenai amukti palapa, apakah makna sesungguhnya dari amukti palapa seperti itu….?

    Sebenarnya….apa sih makna dari amukti palapa yang dituliskan dalam bahasa sansekerta?…..Yang saya tahu, bahasa sansekerta merupakan bahasa yang indah, bahasa yang penuh seni, cinta kasih dan teka teki didalamnya. Bahasa yang penuh kebijaksanaan, ketegasan, ketelitian, keadilan tetapi juga keindahan dengan lenggak lenggok ukiran dari setiap hurupnya.

    Memaknai bahasa sansekerta dalam prasasti – prasasti yang ditemukan harus hati – hati, karena bisa jadi yang tertulis bukan makna sebenarnya, tetapi memiliki makna lain yang merupakan intinya….

    Hamukti palapa….?sebenarnya sumpahnya siapa sih?siapa yang berkeinginan untuk amukti palapa sih?….karena berkata bukan berarti yang pertama. Hamukti palapa?…Kenapa harus palapa?…atau orang sekarang mengartikan kelapa, dan sumpah tersebut berkaitan dengan makan kelapa…..kelapa nih, kelapa yang mana?yang degan, kelapa tua, kelapa muda, aren atau pohonnya atau akarnya yang jika diracik dan ditambah pemanis atau aren kemudian direbus dalam satu tempat kemudian disaring akan jadi obat penurun panas dalam?….

    Kelapa….?kalau diresapi pohon kelapa didalamnya banyak sekali mengandung firman – firman Tuhan Yang Maha Agung Maha Mulia dan Maha Teliti lagi Maha Mengetahui…pohon kelapa dari akar sampai rantingnya memiliki manfaat yang banyak…ia dapat ditanam di dataran tinggi sampai dataran rendah bahkan di gurun……Dari buah nya pun dapat dipetik pelajaran…Tidak semua kelapa berwarna hijau berdaging muda atau kelapa muda atau lebih muda lagi (degan), bisa jadi kelapa berwarna merah kecoklatan berdaging muda….ataupun sebaliknya..bisa dimaknai, perbuatan yang baik bukan berarti menunjukan hati yang baik, karena bisa jadi perbuatan yang buruk justru dapat menunjukan hati yang baik, ….dan sebaliknya….Tidak baik menilai dari kover atau fisik semata, dalamnya pun harus dilihat….tapi yang dapat mengerti isi hati hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui dan yang diizinkan-Nya….

    Amukti palapa?….apakah bener invasi demi kebesaran Majapahit, atau penyatuan seluruh kerajaan demi kehidupan yang selaras….luasnya suatu kerajaan bukan jaminan kerajaan yang besar….karena kebesaran suatu kerajaan/negara terletak dari rakyatnya yang berjiwa besar…menghargai sesama atau pendapat, tidak memaksakan kehendak ataupun memaksakan apa yang ia baca kepada orang lain….

    Hayam Wuruk raja yang bijaksana, berwibawa dan adil, Gadjah Mada, patih yang berwibawa setia terhadap Raja dan Kerajaan….

  47. #47
    gravatar

    aradea
    Pak LKH, mo tanya nih……..?

    Kayanya mr/mrs aradea ini nanya tapi dijawab sendiri ya…. hehehehe!!!
    jadi Mas LKH g usah jawab, udah terjawab sendiri sama pernyataan2 mr/mrs aradea ini. Piss!!!

  48. #48
    gravatar

    Walah walah. Di Jawa ada idiom yang amat dikenali oleh orang Jawa, yaitu Hamukti Wiwaha. Para dalang sering mengucapkannya. Hamukti Wiaha itu menikmati hidup yang serba wah, kaya, berderajad, berpangkat.

    Menurut saya, Hamukti Palapa itu hanyalah lawan kata dari Hamukti Wiwaha, artinya prihatin. Palapa sendiri sangat dekat dengan bahasa jawa lara lapa. Meski dekat dengan kelapa, tak ada urusannya GM menghindari makan buah kalapa.

    Terkait dengan Perang Bubat, itulah lagaknya orang yang memiliki kekuasaan semakin tinggi, lihat Bung Karno, lihat Soeharto, lihat Marcos, lihat pula Saddam Husain, dengan kekuasaan semakin tinggi, sering tidak terkontrol. Saya sendiri menyikapi Perang Bubad hanyalah sebagai peristiwa, saya tidak mau terlibat secara emosional meski saya (menjadi tidak konsekuen) menulis cerita itu dengan amat emosional, tolong yang kedua ini dilihat dari sudut kepengarangan.

    Untuk penanggap lain soal Tartar, Tartar itu ancaman. Sampai-sampai Hayam Wuruk pernah mengirim utusan ke Tartar yang oleh Tartar dianggap sebagai koloni. Logis kalau Gajah Mada dibayangi mimpi buruk soal Tartar. Hal itu sampai teorema Langit, teorinya langit KH, kengototan Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara karena dibayangi oleh datangnya utusan Tartar yang meminta Singasari mau tuntuk yang mengakibatkan Mengkhi dipotong kepalanya.

    Untuk yang berbahasa Sunda (46) saya tidak paham maksudnya.

  49. #49
    gravatar

    Gajah Mada menurut saya adalah seorang General Manager Majapahit..nggak harus dia yg digaris depan utk menaklukan semua wilayah..banyak senopatinya untuk itu…so mungkin dia bisa dilevelkan dengan Dwight Eisenhower panglima sekutu…secara pribadi pengalaman individual tempurnya biasa aja…but hanya dia yg bisa menjembatani semua jendral2 sekutu..rusia,inggris,kanada ,polandia etc so para jendral2 tsb respek dan menerima keputusan Ike,bayangkan kalo si Tua Patton yg emosional mimpin sekutu,atau si montgomery yg ambisius,or Stalin…babak akhir PD II nggak akan spt itu.
    masukan saya missing link penaklukan wilayah sesuai Sumpah Palapa bisa dibuat suplemennya meski sulit cari literaturnya…pasti seru donk silat jawa melawan thai boxing muang thai(Siam) heheheh

    jangan lupa Mas LKH Kebesaran Sriwijaya & Singosari perlu tuh dibuat novelnya…Raja terbesar Singosari Kertanegara mewarisi ken arok yg nggak ragu mimpin perang di garis depan melawan pemberontakan Cayaraja…dn utk ukuran jaman tsb sangat berani menantang Khubilai Khan….yg kekuasaannya hampir mengelilingi dunia.
    bravo mas LKH…kita tunggu karyamu berikutnya

  50. #50
    gravatar

    Gw baru tau ada buku GM 1 minggu yg lalu (kacian yah..:)) padahal buku 1 dan 2 sdh ada di rak buku dirumah sdh lama banget (istri gw yg beli) , dalam seminggu ke 3 buku tersebut sdh khatam, lagi nyari yg ke 4.
    Can’t stop! Luar biasa! gw sih ga punya referensi ttg GM sebelumnya, jadi ga ngerti kalo bisa banyak versi dan kontraversi seperti tulisan2 diatas.
    Kalo nama jalan Gajahmada sama Majapahit ga ada di Bandung tapi Mie GM ada kan… ga penting banget yah…
    Ada benernya juga kalo kita harus belajar dari sejarah, GM mengakui pentingnya Angkatan Laut untuk menyatukan Nusantara, kenapa sampe sekarang Indonesia masih ber-Angkatan Darat “heavy”? Padahal AD “ga begitu” penting buat RI yg Kepulauan begini. Harusnya AL dan AU. AD cuma dibutuhin di Kalimantan dan Irian doang! bukan di Pulau Jawa atau Sulawesi. Kalo buat Dalam negeri ada Polisi.
    Mas Lagit tolong ditanyaken ke Jendral2 temen Mas itu ya…
    BTW yg komentarnya AKL yg panjang dan ber-sunda ria, sebenernya isinya lumayan … (diterjemahkeun atuh kang AKL! karunya nu teu tiasa nyarios sunda)

  51. #51
    gravatar

    wah payah ni, forum-nya ga dianggep. percuma juga ya nulis2 diforum ini. g ada tanggepan.

  52. #52
    gravatar

    Masukan buat LKH,
    rentang antara GM 3 dan 4, sepertinya terlalu jauh, dan mungkin LKH bisa menerbitkan satu buah buku perantara, sebelum GM dihabisi di GM Madakaripura Hamukti Muksa.
    Sangat disayangkan, kalau banyak hal bisa digali di sosok GM, harus di cut off hanya gara2 missing link di GM ketiga dan ke empat.
    salam.
    ( saya tunggu onlin nya di kabuthati@yahoo.com )
    Buat LKH juga, mohon maaf apabila mengganggu.
    saya juga penggemar Parameswara yang sudah cetak di Solo Pos.
    kalau saya bisa mendapatkan bukunya, atau bahkan soft copy nya, suatu kehormatan bagi saya.
    Demikian masukan, dan salam

  53. #53
    gravatar

    Oooo, kabut hati yang menelpon aku itu ya, terimakasih, tunggu saja, yang di koran SOLOPOS nanti akan menjadi Candi Murca, bercerita tentang candi yang hilang karena dilindungi mantra.
    Jay, ada titipan Gajah Mada IV aku paketkan ke mana? HPmu ganti ya Jay, whorokotok, aku tunggu di 08883368972, buat Gajah enggon, ehh, Gajah Edan, ayo semangat, semangat, aku percayakan ke padamu untuk menanggapi pertanyaan komentar yang kritis, dan mengapa tidak singgah ke email?
    Candi Murca I akan terbit bulan Juli, diterbitkan oleh PT Swanabastala Press, he he, belajar mendirikan penerbit.

  54. #54
    gravatar

    Kasi saran dun, gwe mau beli salah satu dari keempat buku gajahmada, tapi karna empat2nya mahal, gue jadi takut beli. Mana yang peling bagus? Gwe bakal nyambung ga ke cerutanya kalo gue klangsung baca yang sumpah ahmukti palapa? Bales ke email gue ya, savagedragons3000@yahoo.com

  55. #55
    gravatar

    walah… baru baca GM Perang Bubat separo… digeletakin di meja.
    Ujug-ujug, mak bedunduk (tiba2) Bapak mertua lagi sowan ke rumah, GM IV langsung ‘disambar’ / dipinjam dibawa pulang. MAu nagih… gak enak/ pakewuh…. dospundi meniko? jadi ‘nggantung nih…

  56. #56
    gravatar

    Wahh… aku baru gabung nih mas. Dari, aku baca buku pertama -yang full action & spionase-hingga buku keempat, yang aku lihat buku GM tuh semakin bijaksana. Terutama di “Perang Bubat” aku melihat bahwa di buku tersebut ada sebuah pesan tersembunyi yang disampaikan oleh mas LKH. Mau tahu?(ini sih menurut ku aja…) dengan menampilkan susunan silsilah riwayat Raja-raja majapahit dan Sunda yang diceritakan oleh dua mantan “Ratu kembar”, buku ini ingin menyampaikan pesan pada pembacanya bahwa, nih lo… orang jawa dan Sunda tuh punya leluhur yang sama… jauh sebelum tenjadinya Perang bubat. jadi letz make a breaktrough!!! hentikan pola pikir negatif tentang hubungan dua suku yang menjadi pengisi terbesar di pulau Jawa ini. Terakhir, saran buat mas kresna, dari sinopsis buku ke5 yang kubaca, kuharap perang GM jangan makin terkikis dibukunya sendiri, kasian mas GM nya. he…

  57. #57
    gravatar

    Pak Hariadi dan Mas Jay saya muter-muter keliling Gramedia ternyata belum keluar juga Hamukti Muksa, ternyata bulan Maret 2007 Ok saya tunggu saya udah koleksi 4 buku Gajah Mada dan saya udah baca berulang-ulang kali.

  58. #58
    gravatar

    mas LKH mau nanya nih …serius..harus dibalas…tokoh dyah menur itu fiksi atau emang ada disejarahnya (penasaran bgt!!) sama kisah ra tanca dan dyah wiyat itu juga fiksi to!? opo beneran…!? aku dah baca keempatnya…tapi yang buku tiga ga seru …agak mbosenin….wis jeleh nulis po…

  59. #59
    gravatar

    Utk Kang AKL #45,

    Orang Jawa lebih tua dari Orang Sunda itu sebetulnya logis, lihat saja dari jumlah penduduk. Orang Jawa pun berpendapat bahwa Orang Cina lebih tua dari Jawa. Juga perbandingan antara kerajaan kuno di Sunda tahun 300-400 an(maksud anda Tarumanegara?) dengan Majapahit tentu bukan perbandingan yg benar karena pada masa Tarumanegara pun di Jawa Tengah ada kerajaan Kalingga…

    Soal orang Jawa tidak cocok berumah tangga dengan orang Sunda, yg benar adalah ada pendapat di Jawa: Lelaki Jawa cocok dg wanita Sunda, tetapi wanita Jawa tidak cocok mendapat jodoh laki-laki Sunda…. pendapat subyektif saya adalah karena unsur feminisme suku Sunda lebih kuat… menurut saya (orang Jawa yg tinggal sejak kecil di Bandung) kawan2 saya lelaki Sunda secara umum lebih pesolek, kurang gagah (walaupun badannya kekar akibat fitnes), gagah di sini bukan fisik tapi perbawa… dari segi bahasa coba kita perhatikan logat Sunda yg kurang gagah…akibatnya bisa saya katakan bahwa seluruh saudara dan kawan2 saya yg lelaki Sunda mendapat istri Jawa bisa dikatakan rumahtangganya didominasi sang istri (maaf)… tapi ini sekali lagi pandangan subyektif lho…

    Setiap suku memang punya karakter unik, untuk suku Sunda, profesi yg cocok kebanyakan adalah sebagai penghibur di dunia entertainment, entah sebagai artis film/ sinetron (karena fisik yg bagus), atau pelawak seperti Padhyangan atau Farhan, atau penyanyi… oleh karenanya dominasi wanita Sunda di dunia ini cukup menyolok dibandingkan suku2 lain…

    Maaf bila ada kata yg menyinggung…

  60. #60
    gravatar

    eh sekarang kan udah bulan maret 2007, udah terbit belum ya????buat yang udah dapet bagi2 info donk…..
    #49 setujuuuuu

  61. #61
    gravatar

    Gajah Mada I, II, III, IV tumpas tapis….membacanya saya seperti melayang ke masa itu, suer…Mas LKH kamu hebat!!!

    saya sampai bermimpi menjelajahi Istana Trowulan yang megah, membayangkan perjuangan jaya negara menghindar pemberontakan ra kuti, mengikuti bagaimana alam tediam mendengar sumpah sakti Mahapatih GM, Mengikuti pasukan bayangkara mengela operasi tilik sandi memadamkan pemberontakan keta dan Sadeng, berbuncah hatiku menyelami nasib Dyah Menur, membayangkan licik dan liarnya istri Ra Tanca, berdesir mengikuti cerita maling wirota-wirogati, mendebarkan mengikuti kisah Gajah Enggon dan Pradabasu, menakjubkan menjelajahi kemegahan Surawisesa, mengharu biru membaca indahnya percintaan Saniscara “prajaka” dan Dyah Pitaloka!

    Mas LKH..saya sepakat dengan komentar teman-teman di atas, ada sesuatu yang kurang!cerita bagaima GM berjuang menyatukan Nusantara di bawah Cinha gringsing luwihlaka dan bendera gula kelapa!Sangat kurang di serial GM bagaimana kiprah dan kehebatan sang patih mewujudkan sumpah saktinya….

    Semoga di seri ke V mas LKH bisa memf-lashback sepenggal cerita yang terasa kurang itu…jangan mengekspose hamukti yang sudah mulai muksa saja!

  62. #62
    gravatar

    Ikutan nimbrung yah.. seru banget kayanya !

    Saya punya semua seri Gajah Mada I-IV dan udah saya baca ulang beberapa kali..
    secara keseluruhan sih menurut saya OK.. n gak berlebihan kayanya kalau saya juga sependapat sama komennya Bagaskara Manjer Kawuryan diatas..
    Ceritanya cukup mampu bawa saya ke zaman yang di ceritakan, n juga mampu mengaduk perasaan menyimak intrik dan kisah cintanya Dyah Menur Sekar Tanjung, apalagi kisahnya Dyah Pitaloka with Saniscara di seri Perang Bubat..
    Karakter dari tokoh2nya juga jelas digambarkan.
    Salut Mas LKH…

    Saya malah pengen banget kalau sampai bisa diangkat ke layar lebar.. ( berlebihan gak seh ?? )kaya Tutur Tinular yang dulu diangkat dari sandiwara radio, apalagi ini muatan sejarahnya kental bgt.

    Hal lain yang menarik lainnya menurut saya ya itu tadi.. ” pelajaran sejarah ” yang terkandung di dalamnya.., saya bahkan sampe hafal silsilahnya Majapahit loh..

    CUMA.. ( sory dulu sebelumnya ) kalau menurut saya Mas LKH, novel sejarah Gajah Mada ini koq unsur dramanya n politiknya lebih kental dibanding unsur silatnya ya, apalagi di seri II-IV.. gambaran perang dan pertarungannya sedikit skali dan digambarkan secara singkat, cuma diwakili dengan lemparan pisau khas Bhayangkara, anak panah yang berhamburan n kabut vs angin lesus trus beres deh.. sementara tak-tik perang, keputusan politik n romantika asmaranya bisa detil di ungkapkan ( apalagi kisahnya Dyah Pitaloka with Saniscara…… Wuih.. dahsyat men !! ).
    Tadinya saya berharap bisa nemuin banyak pertarungan 1 on 1 yang saling tukar pukulan, tp ternyata ( kalau dibanding sama tebal bukunya ) porsinya cuma sedikit..
    Apalagi di seri Perang Bubat, perangnya sendiri yang jadi unsur utama, cuma di gambarin nyaris kurang dari 1,5 halaman..
    Juga ( masih menurut saya loh ya..) adanya potongan cerita yang gantung n gk ada penjelasannya, jadi berkesan gak jelas n bikin penasaran.. contohnya aja ( Masih di seri Perang Bubat ), Masalah apa sih yang terjadi antara Pradhabasu dengan Sang Prajaka ?? trus soal kalong itu juga gak jelas apa maksudnya.. ataw mungkin saya aja yang gk ngerti sendiri ?? kalau ada yang tau, bagi bagi donk..

    N terakhir, Kyai Pawagal, Wirota wiragati n Kyai Medang Dandi itu fiktif atw beneran ada kaya Ranggalawe, Nambi Sora, Ramapati dsb ?? trus Arya Kamandanu yang dulu berjaya di Tutur Tinular n sandiwara radio itu kemana kabarnya ?? koq gk di singgung sama skali yah.. di urutan nama2 yang bantu Raden Wijaya berjuang bangun Majapahit juga gak kesebut ? apa tokoh itu fiktif ?!
    Ada yang tau gak ?

  63. #63
    gravatar

    Buku GM Mas KLH ini memang ga banyak nampilin unsur silatnya. Kalo memang lebih tertarik ke unsur ilmu silat bisa baca Senopati Pamungkas karangan Arswendo Atmowiloto. Tapi saya setuju dengan Frank… di Perang Bubat kurang diulas jalannya perang, atau mungkin memang pertempuran itu ga memakan waktu yang lama ya….. Nah…kalo tokoh Arya Kamandanu itu memnag fiktif, ga ada satu referensi pun tentang tokoh itu. Untuk para pengikut Raden Wijaya mungkin bisa dicari referensi di buku Negara kertagama. Buat Mas KLH, terus terang saya penasaran dengan kejadian-kejadian di Buku Perang Bubat, seperti tulisan Frank di atas… tapi it’s OK, bisa buat imajinasi saya melayang-layang sendiri untuk mencari sendiri jawabnya. Saya tunggu buku ke-5nya.

  64. #64
    gravatar

    Buat Mas Langit Kresna Hariadi,…. he he he sorry keliru nyingkat nama, harusnya LKH bukan KLH. Sukses buat Mas, karyanya saya tunggu terus. Salam saking cah Solo.

  65. #65
    gravatar

    he he jadi penasaran semua. Soal kalong, soal angin lesus, semua penjelasannya ada di Candi Murca yang akan terbit Juli mendatang, terus soal ada apa dengan Pradabasu dan Prajaka, penjelasannya muncul di GM V. Tentui saja Pawagal Medang Dangdi Wirota Wiragati itu asli, terus kalau Arya Kamandanu, itu kan nama fiksi S Tijab, yang main M Abud sahabat saya di Sanggar Prathivi.
    Untuk seorang rekan yang ternyata wartawan koran tempo, he he, kutunggu emailmu, kapan datang ke Solo?

  66. #66
    gravatar

    nya ceuk kami ge komentar jang si rangga dewa na atuh ilaing teh arek komentar atawa ngajak perang deui, kalah ngahina suku, emang manehna leuwih alus ti kami. Bahas atuh dalam konteks sajarah jeung elmu lain ngan ngomomg teu puguh kami jadi kesel.

  67. #67
    gravatar

    Teman-teman saya butuh bantuan. Ceritanya begini, bulan Juli nanti sata akan merilis buku baru berjudul Candi Yang Hilang, sebelum jadi buku atau masih dalam bentuk naskah justru akan saya kirim gratis kepada anda semua dengan harapan saya bisa mendapat input balik. input balik itu nantinya akan saya cantumkan di kata pengantar atau saya sediakan ruang komentar khusus di halaman belakang.
    Dengan demikian anda akan mendapat kesempatan membaca naskah aslinya sebelum bukunya beredar, namun dengan syarat, buatlah blog atau ruang baca berbasis multiply atay friendsetter atau apa sajalah terserah.
    Bagi anda yang berminat dan bersedia, hubungi saya du email khusus yang saya sediakan untuk itu yaitu candimurca@yahoo.co.id jangan ke email saya yang lain. Bila anda tidak punya kemampuan membuat bolehlah komentar itu dikirim ke email itu pula.
    Salam hangat untuk anda semua

  68. #68
    gravatar

    Karena tragedi itu makanya di jawa barat jarang banget ada nama jalan Gajah Mada…
    Masih dendam kaleee….

  69. #69
    gravatar

    Kalo kita berpikirnya selalu kebelakang terus ya kapan kita bisa maju. Sejarah penting, dan itu harus dijadikan renungan agar lebih baik. Dahulu dan seakrang dan tentunaya awaktu yang akan datang akan berbeda. Harapannya akan lebih baik. Salut untuk LKH

  70. #70
    gravatar

    Saya tertarik utk mempelajari sejarah Sunda, sayangnya sejarah Sunda lebih banyak bersumber pada legenda yg diturunkan melalui tradisi oral jadi tingkat kebenarannya sangat diragukan… kita saja lihat ciung wanara, dayang sumbi, dll… saya pikir saat ini suku Sunda sedang mengalami krisis identitas karena disamping jumlahnya yg terbesar kedua setelah suku Jawa, namun kontribusinya di pentas nasional kalah dg suku lain yg jumlahnya inferior seperti Batak dan Minang… ayo suku Sunda, bangkit!! biarlah sejarah tinggal masa lalu, yg penting masa kini akan di bawa ke mana masyarakat Sunda? tidak ada gunanya memanipulasi sejarah utk meninggikan harkat kesukuan.. jangan bermimpi terus di siang bolong, lihat sebagian kemiskinan di Jawa ada di tanah Sunda, dan dialami oleh suku Sunda…

  71. #71
    gravatar

    Oh.. jadi Arya Mandanu teh fiktif..
    Wisanggeni,tks bwt info n sarannya.

    Btw, buku GM-Mdakaripuranya kapan keluar sih.. sy kbtulan ada tugas di luar kota untuk beberapa waktu, n tadi saya sempatin cari sampe ke Semarang juga belum ada tuh..,

  72. #72
    gravatar

    wah euy jadi bingung urang ti Ciamis, lamun kitu mah ceuk kolot baheula nya kumaha ilaing kabeh. contona mah masih loba nu kitu, kaasup kolot uing euy. tapi da Bupati Ciamis ge Engkon Komara urang Panjalu asli ti Ciamis tapi da istrina ge urang Magelang ti Jawa Tengah he.he. tuh geuning jadi bupati euy

  73. #73
    gravatar

    Eta Engkon Komara da jadi bupatina di Ciamis, nya heueuh atuh..cing mun ka Magelang, paling alus ge jadi tukang kredit hehehe…

  74. #74
    gravatar

    untuk #73, #72, #66
    Media ini kan sebagai bahan untuk sharing sejarah dan mempunyai skala nasional. Karena nya tolonglah gunakan bahasa indonesia. Kita bangga kan mempunyai bahasa indonesia. Kalo menggunakan bahasa daerah ya silahkan dengan populasinya sendiri.
    Hidup sunda, jawa, sumatra, kalimantan , sulawesi dll

  75. #75
    gravatar

    Membaca GM jilid satu, terasa seperti melihat kopasus di jaman pak harto ,,,,:) (moga2 ungkapan saya ini gak berbau tuduhan yg berlebihan)

  76. #76
    gravatar

    Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa…

    Jumat malam, hari ke-13 di bulan April, sepulang dari BEC menenteng DVD Blank saya mampir di lantai bawah Gramedia. Tak berniat naik karena khawatir akan impulsif berbelanja buku, jadi hanya melihat-lihat pajangan buku di lobi saja. Sialnya malah menem…

  77. #77
    gravatar

    Perang Bubat adalah luka lama. Dan LKH telah membedah kembali luka itu.

    Terus terang saya merasa ‘tidak nyaman’ membaca buku itu. Betapa tidak? Maharaja Linggabuana yang dalam kosmologi berfikir orang Sunda adalah seorang raja yang terhormat karena keberaniannya dalam membela harga diri, oleh LKH digambarkan sebagai raja yang gentar, bahkan pengecut, sampai dalam keadaan genting sekalipun. Dyah Pitaloka digambarkan sebagai wanita jalang yang rela menyerahkan kehormatannya pada orang asing yang sakit jiwa (saya tidak terkesan dengan kisah percintaan Dyah Pitaloka dengan Saniscara yang diceritakan LKH dalam bukunya, saya merasa terlalu mudah Dyah Pitaloka jatuh cinta pada seorang asing tanpa sebuah latar belakang yang cukup). Perang yang terjadi pun dikatakannya bukanlah perang yang dikobarkan untuk mempertahankan harga diri, tetapi lebih karena frustasi atas kisah cintanya yang tak sampai. Lebih jauh LKH menggambarkan bahwa perang terjadi karena kecerobohan prajurit Sunda yang menyerang duluan utusan GM (dalam bahasa bebasnya: salah sendiri lu nyerang duluan!).

    Mas LKH, anda memang bebas berinterprestasi. Tapi kesan saya, anda telah melanjutkan kejumawaaan GM pada masa lalu. Paling tidak, anda tidak merasa perlu bersimpati pada orang Sunda yang menjadi korban.

    salam!

  78. #78
    gravatar

    Untuk Mas Avid, terimakasih kritikannya. Selanjutnya dengan sangat khusus saya memandang perlu memberi komentar sebagai pertanggungjawaban saya pada kritik anda. Pertama soal siapa yang menyerang lebih dulu? Sunda atau Jawa? Saya yakin 100 % yang menyerang lebih dulu adalah Sunda, mengapa demikian? itu terjadi karena Sunda tidak punya pilihan dan mereka dalam posisi tersinggung. Saya tak percaya Gajah Mada memerintahkan penyerbuan, lha wong sudah nyata-nyata Dyah Pitaloka akan dinikahi Hayam Wuruk kok diserang lebih dulu. Gajah Mada hanya melihat situasi yang bisa dimanfaatkan. Mumpung rasa Sunda Galuh bisa didatangkan ke Majapahit maka digertaklah agar segera mau menggabungkan diri dengan Majapahit. Namun Gajah Mada salah hitung, ia tidak menyangka Sunda Galuh menolak dan memberikan perlawanan. Ketika tidak melihat pilihan lain, maju dihinakan mundur dipagari, pilihan apa yang tersisa? Itu logika saya ketika menimbang duluan mana yang menyerang Majapahit atau Sunda Galuh.
    Soal kisah cinta, saya melihat betapa anggun Dyah Pitaloka karena memiliki kisah cintanya sendiri.
    Yang perlu direnungkan dari apa yang terjadi 600 tahun yang lalu itu, adalah sebuah kearifan dalam menyikapi. Perlu diketahui, istri saya, adalah orang Sunda berasal dari Dayeuh Kolot Palasari, sementara saya berasal dari Banyuwangi di Ujung Timur Pulau jawa. Saya melihat jejak perang Bubad itu ada, saya bermimpi bagaimana cara menghapus luka lama itu.

  79. #79
    gravatar

    pa langit saya ingin cerita GM Antara sumpah Palapa Sampai Perang bubat dong Jangan Ditutup langsung.kata GM Punya ilmu yang tinggi ceritai dong dengan gaya penulisan Bapak

  80. #80
    gravatar

    Temen teman, candi murca sudah hampir selesai, covernya bisa ditengok di http://www.langitkresnahariadi.com
    Web site masih belum sempurna, harap maklum

  81. #81
    gravatar

    Terima kasih saya sudah dapat draft Candi Murca dari Bung LKH….
    Gaya penulisan buku yang ini sungguh sangat bertbeda dengan buku versi GM sebelumnya…Seperti unsur silat yang sangant mendominasi dan percintaan yang membuat penasaranpembacanya. Saya tunggu jilid keduanya Bung langit.

  82. #82
    gravatar

    Saya khawatir naskah asli yang saya kirim ada yang tidak sampai ke alamat karena lampirannya yang sangat besar. Oleh karena itu saya mengambil cara praktis, bagi yang berminat membaca dan memberi sumbangan komentar (yang akan saya muat di lampiran) silahkan masuk ke naskah_asli_candimurca@yahoo.com
    Lha passwordnya apa? kirim sms ke 08883368972 untuk mendapatkan password.
    Cuma pesan saya, jangan dihapus, jangan mengubah password dan tidak mengirim email balasan ke alamat itu kecuali yang berurusan dengan mencari jodoh.

  83. #83
    gravatar

    Jangan percaya ma Gajah Mada, karena dia sebetulnya adalah pengusaha yang diangkat oleh Hayam Wuruk, demi hutang budinya, karena banyak membantu membiayai persenjataan kerajaan Majapahit. semacam Om Liem jaman Orba Lach. Demi nafsu bisnisnya dia ingin sekali menguasai jawa barat yang penuh dengan Sumber Daya. Maka melalui akal muslihat dia berhasil menipu atasannya sekaligus membunuh calon istrinya.

    Usahanya memang berkembang sampai sekarang. Dibawah Ini adalah usaha – usaha gajah mada:

    1. Mie Gajah Mada
    2. Pabrik Ban Gajah Tunggal
    3. Sekolah Gajah di Lampung
    4. Sarung cap Gajah duduk
    5. Telor Gajah (Jl. Jendral Sudirman Bandung)

  84. #84
    gravatar

    TERNYATA GAJAH MADA YANG DULU GUE BANGGAIN HANYALAH SEORANG PENGECUT YANG BRANINYA NYERANG ROMBONGAN PENGANTIN (BUKAN PASUKAN PERANG) LINGGA BUANA YANG SEDIKIT TAPI KSATRIA JUGA,JADI KESIMPULANNYA GAJAH MADA= ORANG LICIK DAN PENGECUT
    MATURNUWUN

  85. #85
    gravatar

    rangga dewa payah
    orang jawa apalagi sombong,egois, pendek dan yang jelas jelek-jelek

  86. #86
    gravatar

    waduh koq obrolannya jadi mengarah ke SARA yah, saya sendiri orang jawa tulen dibesarkan di kalimantan dan sekarang kuliah di Bandung, yang saya tau bapak saya pernah cerita tentang perang bubat, perang itu dikarenakan GM ingin kerajaan sunda tunduk kepada majapahit dan perang terjadi disaat Dyah Pitaloka yang hendak dinikahi hayam wuruk datang ke bubat yang berada di kerajaan majapahit, saya terheran-heran mengapa pihak perempuan yang mendatangi pihak laki2?setelah membaca obrolan diatas saya jadi mengerti dan bisa mengambil kesimpulan yaitu ketakaburan majapahit yang saat itu dipimpin oleh mahapatih GM merasa paling dihormati sehingga mengaggap semua harus tunduk olehnya. Sebaiknya kita menyikapi hal ini dengan rasa kebhinneka tunggal ikaan yang ada di Pancasila, ga usah diributin lah malu ma suku lain hehehe…

  87. #87
    gravatar

    He..he..hee
    Bukunya aja dah mahal, dah nguras laba dagangan hp-ku. Apalagi kalo sampe perang Sunda-Jawa, wah, gak bisa dagang nih. he..he..he…

    Mas Rangga Dewa, orang Sunda mah, Jawa kek, Madura, Negro, suku Tamil, sampai suku jin, iblis semua punya ego masing-masing. Tapi gak usah dibesar-besarkan.

    Eh mas gw and mas rangga dewa. tau gak, kenapa orang sunda itu tinggi-tinggi, cakep2, sedang katanya mas gw orang jawa pendek2 dan jelek2. (padahal nenek moyangnya sama….ya nggak). Dahulu kala, setelah dibawah kekuasaan majapahit, orang jawa maupun Sunda dibawah kekuasaan Belanda. Nah inilah masalahnya. Waktu kerja paksa mbangun jalan anyer panarukan, mister Belanda merintah dua orang, yang satu jawa yang satu sunda.

    Nah pada yang jawa, sebut saja Joko bilang; “Eh itu Joko, kamu orang harus usung ini batu-batu sama aspal buat jalan raya dari anyer sampai panarukan. Biar saya orang nanti mau ke Bali bisa naik tank. Mau saya hancurkan itu Kuta..he..he..he”. Akhirnya joko pun angkat2 batu sehigga tubuhnya yang dulu tinggi jd mengecil dan hitam.
    Sedangkan pada orang sunda, sebut saja Yoga, mister Belanda bilang; “Yoga, itu kabel listrik kamu pasang mulai anyer sampai panarukan. Biar nanti kalau saya jalan-jalan ke bali udah pada terang benderang”. Yoga akhirya setiap hari menarik kabel yang sangat panjang, sehingga karena seringnya, tubuhnya ikut bertambah tinggi. Padahal sebelumnya tingginya sama dengan si Joko.

    Jadi prend, membeda-bedakan ciri fisik alias RAS adalah warisan inlander Belanda. Jangan salahkan Gajah Mada atau Galuh. Jadi jangan warisi semangat inlander kolonial Belanda.

    Buat mas LKH, saya juga di Solo, bukunya jangan mahal2. Thankas

  88. #88
    gravatar

    baik dan buruk dalam sejarah adalah fakta! kita harus bijak memandangnya ,Perang bubat sudah sangat dipolitisir , krn akan mengungkap kenyataan siapa itu Gajah Mada, Ki Ageng Muntalarasa,Tan Chai , Damar Wulan , Kian San Tang , Rd. Patah dst ??? Mau apa kita dengan sejarah yg sdh di”PLINTIR ” ini bukan masalah SARA!!! Sangat ORDE BARU sekali
    Bicara Sejarah dalam konteks Perang BUBAT adalah Bicara KEDAULATAN NEGARA!!! Siapa Gajah Mada itu ??? Perwajahan yg kita kenal skrg diambil dari hiasan gerabah ( Celengan ) di Mojokerto ( Trowulan ), coba analisa secara visual artefak2 berupa patung2 perunggu ( salah satunya ) itu bergaya lokal ( Jawa ) atau Tiongkok ???Jadi bagaimana ini ? Gajah Mada bukan seorang Mahapatih !!! Dia dtg melalui Jeumpa ( aceh Skrg ) lalu menuju PALEMBANG kemudian ke Jawa mendirikan BLAMBANGAN dan menjadi Patih KAHURIPAN!!! Lalu apa bukti SUMPAH PALAPA ??? Bagaimana setelah PERANG BUBAT kemana dia ? Memahami sejarah Bangsa kita harus dengan cara METALOGIKA, krn peristiwa sejarah yang terjadi sangat berkaitan erat dengan peristiwa sejarah yg lainnya. contoh Peristiwa penyerangan tentara TIONGKOK dibawah pimpinan KOE TIE ke P. Jawa pad zaman Rd. Wijaya ,diteruskan oleh MA TJENG HO , lalu DJIN BOEN , hingga PERANG PAREGREG , PERANG COGREG , dst saling berhubungan meski waktu dan tempat sudah berbeda !!! Silahkan para pembaca tela’ah lagi atau bisa akses ke perpustakaan LEIDEN, ada 14.700 judul Naskah Sunda disana
    atau Kitab WANGSAKERTA silahkan dipelajari, mudah2an mendapat PENCERAHAN untuk melangkah ke masa depan . JASMERAH begitu kata Bung Karno !!
    Sampurasun

  89. #89
    gravatar

    Hallo, penjualan CANDI MURCA I KEN AROK HANTU PADANG KARAUTAN sudah dimulai dari sekarang, jumlah halaman 832 akan terbit Akhir Juli atau awal Agustus dengan harga Rp 75000 sudah didiskon 25% sudah termasuk ongkos kirim ke alamat (melalui jasa pos, TIKI dlll) ke rekening antara lain :
    . BCA 2000282670
    . BRI 0021-01-044348-50-5
    . BNI46 0125721771
    . MANDIRI 143-00-0497600-5
    atas nama Suwandono SE, lebih jelasnya masuk ke http://www.langitkresnahariadi.com klik Panduan

  90. #90
    gravatar

    yth sdr LKH
    bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarahnya. kita harus akui bahwa kita diwarisi sifat saling merebut kekuasaan dengan berdarah2. tapi, penulisan fiksi berbasis sejarah adalah media yang bagus utk belajar tanpa membosankan. Tentunya, subyektifitas penulis akan sangat besar untuk itu. seperti juga mengenai PERANG BUBAT.
    saya sudah membaca GAJAH MADA: PERANG BUBAT. saya setuju sepahit apapun sejarah, kita harus realistis bahwa kita hidup di era yang berbeda. kita harus fair menempatkan gajahmada dengan keperkasaannya dan menghargai strateginya termasuk mengenai PERANG BUBAT.

    saya bisa menerima kalo strategi menumpas ROMBONGAN TEMANTEN SUNDA hanyalah kebablasan penerjemahan perintah gajahmada oleh anak buahnya, sekaligus sebagai usaha sdr LKH, orang JAWA, untuk tetap membela gajahmada. Tapi, adalah subyektifitas yang SANGAT NISTA, sdr LKH menempatkan PRABU PUTRI sebagai WANITA SUNDA yang meminta KEHORMATANNYA untuk DINODAI (bahkan HARUS diulang dalam dua paragraf), meskipun dengan tokoh fiktif. saya minta sdr LKH harus bisa menjelaskan hasil risetnya yang mendukung dasar penulisan tersebut. sdr LKH tidak boleh merusak KEPERKASAAN dan HARGA DIRI dari PRABU PUTRI dan rombongannya dengan kenistaan seperti itu. siapapun WANITA SUNDA pasti merasa TERLECEHKAN. adat sunda (dulu) selalu menerapkan anak wanita dalam pingitan yang harus dijaga. memang mungkin juga PRABU PUTRI sudah punya kekasih, tapi dengan logika yang paling sederhana sekalipun sangat tidak mungkin menginginkan kehormatannya dinodai, apalagi dalam plot sdr LKH, SEKAR KEDATON sudah diangkat sebagai PRABU PUTRI. saya dengan sangat pendapat sdr AVID (25 APRIL 2007), dan menganggap komentar sdr LKH (26 APRIL 2007) tidak cukup menjelaskan subyektifitasnya.

    atas “ketidaknyamanan” membaca novel tersebut, saya menginginkan sdr LKH memberi alamat yang jelas untuk saya bisa kembalikan novel yang terlanjur saya beli.

  91. #91
    gravatar

    kalo konsumen (pembaca) sebagai raja, maka sebagai raja saya menitah sdr LKH untuk merevisi novel tersebut, terutama pada bagian meminta KEHORMATAN untuk DINODAI tersebut

  92. #92
    gravatar

    ingin tau bagaimana kelanjutan diskusi tentang gajah mada dari versi yang berbeda, silakan datang ke acara disksusi buku tentang Gajah Mada dan Dyah Pitaloka. Langit Kresna Hariadi (Gadjah Mada) akan bertandang ke tanah pasundan, bertemu dengan Hermawan Aksan (Dyah Pitaloka) dalam Tea Talk: Perang Bubat Dyah Pitaloka dan Gajah Mada, yang akan digelar pada hari rabu 4 Juli 2007, Pukul 18.30 – 20.00 di Paris Van Java, Jl. Sukajadi Bandung.

    Tentu senja di paris van java akan lebih hangat dengan kehadiran para sahabat pencinta buku.

  93. #93
    gravatar

    Terimakasih dengan kritikannya dan saya selalu akan mengais hikmah yang ada, sebagaimana saya yakini, cara pandang selalu sejumlah orangnya, tak bisa diseragamkan, tak bisa diselaraskan, sementara perbedaan justru merupakan anugerah yang harus disyukuri.
    Yang pertama, saya harus menepis tuduhan penjenengan (Safitri) atas keberpihakan saya pada Jawa/Gajah Mada (lucu juga karena pembaca Perang Bubad sebagian besar justru menuduh saya memihak Sunda), saya tidak berpihak ke mana pun, tidak ke Sunda dan tidak ke Jawa, himbauan saya justru mari kita hancurkan tembok penyekat yang menyebabkan munculnya cara pandang yang selama ini menjamur.
    Saya mantan wartawan, setidaknya kode etik jurnalistik mewarnai tulisan saya, saya menulis berimbang dari sudut Sunda, saya juga menulis bagaimana cara pandang Gajah Mada, sementara saya amat yakin, bahwa menjadi penulis yang baik adalah yang tidak perlu ikut bermain di dalam ceritanya. Sulit membayangkan kalau saya ikut memerankan diri dalam lakon dan ikut mendendangkan tembang caci maki.
    Soal yang satu itu, sungguh saya meyakini mendarah daging menyebabkan kepala saya nyaris pecah, cobalah anda bayangkan, upaya dan perjuangan mati-matian macam apa yang harus saya lakukan dalam kapasitas saya, Langit Kresna Hariadi yang orang Banyuwangi, Jawa Timur berusaha mati-matian memperoleh cinta seorang gadis dari Kampung Palasari Dayeuh Kolot Bandung. Saya harus bekerja keras meruntuhkan tembok keangkuhan berasal dari masa silam itu. Dari perkawinan itu saya punya dua anak yang hingga sekarang masih belum bisa diterima setulus hati oleh keluarga di Bandung.
    Soal Dyah Pitaloka, sosok ini milik siapa saja. Sebaiknya saya menempatkan Dyah Pitaloka milik saya juga, Bandung itu bagian dari Indonesia, sejarah Sunda sejatinya juga milik orang Onin di Irian, orang Dharmasraya di Sinjunjung. Sejarah kelam Gajah Mada dalam tragedi perang Bubad pun milik orang Sunda, apa pun yang terjadi peristiwa di Sanga Turangga Paksowani itu menjadi kenangan siapa pun senyampang dia orang Indonesia secara keseluruhan bukan sepotong-sepotong.
    Marilah kita menyikapinya dengan kearifan, dengan kepala dingin dan hati yang dingin, seharusnya kita semua lelah berjibaku dengan mitos itu.
    Soal Dyah Pitaloka, siapapun boleh membuat penafsiran bagaimana sosoknya, bagaimana karakternya, novel jelas bukan sejarah, dalam novel saya, saya bermimpi Dyah Pitaloka bukanlah bidadari di angan-angan yang tak bisa dijangkau, sangat sedih saya membayangkan Dyah Pitaloka tak boleh meraih cintanya sendiri, sangat sedih saya membayangkan Dyah Pitaloka hanya menunduk dihadapkan perjodohan politik yang disediakan untuknya.
    Sungguh betapa indah saya membayangkan, Dyah Pitaloka memilikiki wilayah cinta dengan kalangan jelata.
    Saya tidak ingin menempatkan Dyah Pitaloka tidak memiliki kisah cintanya, kasihan dia. Sebagai muslim, sebagai manusia yang menjunjung kesamaan derajad, saya tidak akan menempatkan dia sebagai ningrat yang tabu berhubungan dengan Saniscara, yang demikian itu merupakan awal dari kasta kasta.
    LKH
    Menjalin persatuan dan kesatuan

  94. #94
    gravatar

    abdi simpatik sama mas langit, denger denger nikahnya kedah dilaksanakeun di Solo, kumaha damang mas langit?

  95. #95
    gravatar

    saya hargai keseimbangan sudut pandang lkh dalam perang bubat dan saya bisa nikmati itu. yang saya ingin kritisi hanyalah bagian PELECEHAN terhadap PRABU PUTRI yang minta DINODAI (apalagi jika lkh menginginkan PRABU PUTRI milik siapa saja, bahkan dari sudut pandang muslim). bagian itulah yang justru mengganggu “kenyamanan” menikmati kisah cintanya PRABU PUTRI yang mewakili upaya persamaan derajat.

  96. #96
    gravatar

    saya setuju jangan sekali2 melupakan sejarah tapi kalo sejarah masih memberi sekat sampe saat ini, kayaknya nggak deh, apalagi sampe masalah perJODOHan….. kalopun masih ada orang SUNDA yang mempertimbangkan pernikahan dengan orang JAWA, yakin deh bukan karena dosa GAJAH MADA tapi karena kepercayaan personal. selama calon mantu dapat dipertanggungjawabkan, nggak masalah tuh!!!! jangankan sama orang JAWA, sama orang BULE aja banyak yang jadian…..sampe punya anak cucu!!! buktinya, di kampung2 pedalaman SUNDA banyak yang anak GADIS dinikahkan sama GURU INPRES yang berasal dari JAWA (bahkan yang mengajar ilmu GAJAH MADA eh SEJARAH)….

  97. #97
    gravatar

    punteun juragan,
    naon eta teh perang bubat juragan??…..lamun
    sumberna ti wangsakerta, ceuk
    uing mah perang bubat eta teh dongeng sare wungkul,
    nu ngorong …eh nu ngarang gosipna ge sumberna ti VOC (sieun Batavia kacaplok) atawa
    jalma-jalma
    nu sieun tertindas ku Sultan Agung (jalma ti
    sabunderan priangan, Cirebonan atawa Banten)…… komo lamun sumberna ti kidung
    Bali mah…ngarana ge kidung….;p 
    sok
    lah buktikeun
    atawa klik
    ieu

    permioossss……

  98. #98
    gravatar

    Saudara-saudara, saya sampaikan informasi bahwa ada naskah kuno yang ditemukan di Bali yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno yang menceritakan Perang Bubat. Naskah Kuno tersebut berjudul Kidung Sunda. Cerita dalam naskah tersebut lebih objektif, tidak ada pembunuhan karakter terhadap Diah Pitaloka seperti yang ditulis langit kresna hariadi.

  99. #99
    gravatar

    hehehe….kidung sunda juragan asep?? naon
    bedana jeung kidung sundayana atawa mahabrata atawa kidung-kidung nu sejenna??
    da bareto jeung kiwari ge papada jalmana resep ngahayal lain?? eta mah teu lian
    nu sanes ngan dongeng wungkul juragan ……sok
    lah buktikeun

     

  100. #100
    gravatar

    Urang Jawa pasti ngabelaan Gajah Mada, pon kitu deui urang sunda ngabelaan citra-na Prabu Linggabuana, utamana Dyah Pitaloka. ngorong..eh ngarang, boh nu fiksi boh nu make latar belakang sejarah, sakuduna mah make cara pandang anu Netral, ulah bari dibeungkeut ku emosional ka-seléranana. Tapi sakudu numutkeun fakta-fakta sejarah. Naros atuh ka ahli2 sejarah, tong ka ahli sejarah jawa wungkul, tapi kudu ka ahli sejarah urang Sunda oge. Mun maksudna ngaluruskeun sejarah mah, enya hade pisan. Tapi nyaan…uing mah teu ngharti kahayangna Mas Kresna teh.

    Jigana mah pedah baheula kungsi ditolak ku mitohana anu pituin urang sunda, perlu 12 bulan cnah supaya ditarima jadi minantuna.
    Boaaaa eta ge…

    Kang Jay…punten nya…heu heu.. bilih hoyong maca dongeng si Jay, mangga toong : http://ndoell.multiply.com/journal

    -dul-

  101. #101
    gravatar

    gua melihat kalo mas langit ditanya pertanggungjawaban sejarah mengenai tokoh-tokoh (yang dicatut) dalam novelnya selalu berlindung dibalik kata-kata:
    1. cara pandang setiap orang berbeda-beda, tidak sama.
    2. saya ini bekas jurnalis, jadi saya masih mengamalkan kode etik jurnalis.
    3. istri saya juga orang dayeuhkolot.

    menurut gua menulis novel yang berdasarkan sejarah tidak semudah itu mempertanggungjawabkannya. mas langit harus berani membeberkan dasar-dasar, sumber-sumber yang dipakainya sehingga mencapai pandangan seperti yang ditulisnya di novel.

  102. #102
    gravatar

    wah, ternyata ada juga yg punya pandangan lain mengenai perang bubat…. btw, mas astrajingga sudah baca novelnya belom?? jgn-jgn belom…..hehehe. sorry mas, becanda…

    tapi kalo diliat point of view dari mas astrajingga, kemungkinan kecil ada analisa yg luput dari para pecinta sejarah….ini kemungkinan looh. de facto, informasi mengenai perang bubat berasal dari kidung atau prosa-prosa atau ceuk cenah semacam kidung sunda, kidung sundayana, pararaton atau sajabina yg tidak diketahui tahun dibuat (atau masih kira-kira) dan si pembuatnya (beda kalo novel GM-nya LKH). Serta berangkat dari asumsi/tesa yg agak sahih urang sunda dan orang jawa satu karuhun (mungkin karena pake satu bahasa sanskerta dan cikal bakal kerajaan besar pulau jawa abad 2 Masehi ada di Jawa barat). 

    Pendapat(1)
    kerajaan2 besar di pulau jawa, pada masing-masing masanya “mengharumkan” suku bangsa di pulau jawa. para penyair, pujangga ataupun mpu yg memiliki ketrampilan dogma religi atau karya sastra ingin membangkitkan kembali kejayaan salah satu kerajaan di pulau jawa. gejala ini dimulai adanya hembusan ideologi baru dari arah barat yaitu islam pada awal abad 11 atau 12. sudah alamiah kota perdagangan di wilayah pesisir pulao jawa, akan menjadi tujuan selanjutnya para penyebar ideologi islam setelah daerah sumatra/melayu. dalam prosesnya, ternyata hembusan budaya islam masuk pada awal abad 14 ditanah jawa dari keturunan Majapahit sendiri (kebakaran jenggot). melihat kondisi tersebut, secara naluri dibuatlah kidung atau prosa-prosa atau karya seni tinggi oleh para pujangga atau resi atau mpu untuk memompa semangat kerajaan di Jawa yg tersisa, yaitu kerajaan Sunda (awal abad 15 masih ada). tapi karena sistem informasi jaman itu belum mutakhir, jadi para punjangga atau penyair atau mpu yg tersisih atau migrasi ke tempat lain yg lebih jauh (misalnya Bali), mereka pada kaga tau kerajaan sunda juga sudah melempem peuyeum. Dan di Majapahit sendiri katanya para penguasa sibuk “saling bunuh” untuk naik tahta (biasalah budaya ini masih ada sampe sekarang). walaupun dicoba ada karya sastra seperti nagarakertagama yg maksudnya ingin melanggengkan hegemoni Majapahit, tapi seiring waktu apa daya karena rakyat dan penguasa udah pada bosen dengan budaya/kondisi lama (seperti orde baru ke reformasi).

    Pendapat(2)…maap mau meeting dulu, kapan-kapan dilanjutin.
    makasih.

  103. #103
    gravatar

    Memang benar, bahwa suku Jawa adalah suku yg merasa Superior (merasa lebih unggul dari suku2 lainnya). Contoh:

    1) Memaksakan Kehendak:
    Di daerah2 transmigrasi (di luar P. Jawa), nama2 dusun, desa, kecamatan, kampung, dll. dipergunakan nama2 Jawa (di Papua, ada nama Aryoko, Kertosari, dst. Di Lampung, apalagi), dst.

    2) Dalam berbahasa Indonesia, tidak mau tunduk dengan aturan berbahasa yang Baik & Benar. Contoh:
    Ciledug, dilisankan & ditulis dengan: Cileduk
    Nagreg, dilisankan & ditulis dengan: Nagrek
    Yogya, dilisankan & ditulis dengan: Jokja
    Ahmad, dilisankan & ditulis dengan: Ahmat
    Semakin, dilisankan & ditulis dengan: Semangkin
    Empat, dilisankan & ditulis dengan: Ampat
    Enam, dilisankan & ditulis dengan: Anem
    Lembab, dilisankan & ditulis dengan: Lembap
    Gadog, dilisankan & ditulis dengan: Gadok

    3) Dalam bersuku bangsa, seringkali menyerang suku Sunda dengan kata2:
    “Kenapa sih orang Sunda enggak mau disebut orang Jawa” (suatu ucapan pemaksaan kehendak & terkesan Bodoh, Debil & Tolol). Mungkin tidak memahami perbedaan Geografis dengan Etnis, karena pulau boleh sama (P. Jawa), tapi jelas Etnisnya berbeda (Sunda & Jawa). Hanya saja, ditakdirkan pulau yg. dihuni orang Sunda & Jawa bernama salah-satu nama suku (Jawa) Ilustrasi hal ini:

    Bila saja P. Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dst. (selain P. Jawa), menggunakan nama salah-satu suku / etnis, masalahnya adalah:

    Bila P. Sumatera ditakdirkan bernama P. Batak, apakah orang Minang, orang Aceh, Palembang, dst. akan bersedia disebut sebagai orang Batak atau sebaliknya, apakah orang Batak mau disebut orang Minang, Palembang, dst…?(Semoga tidak Bodoh & Tolol lagi dalam menafsirkan. He…he…he…!)

    3) Banyak Intrik / Licik & Tidak mengakui Kesalahan:
    Coba terka, suku mana yg. selama ini menyusun sejarah? (He…he…he..!!)
    Demi kekuasaan & demi suku yg sedang berkuasa, Sejarah bisa dibuat sesuai kehendak mereka yg berkuasa (lihat Nugroho Notosusanto, dll.)
    Sehingga wajar, dalam sejarah yg muncul:
    –> Gajah Mada yg. heboh (masa kejatuhannya & kematiannya tidak berani dituliskan dalam Sejarah. He…he…he..!!), apalagi saat Gajah Mada Tua dibunuh di daerah Pantai Pananjung oleh pasukan Kerajaan Sunda yg baru pulang dari lawatan ke Borneo (lambung Mangkurat)…Pasti tidak akan dituliskan (jelas malu dong. He…he…he…!!)
    –> Kartini yg. heboh disebut Pahlawan Emansipasi. Padahal, dia bersedih hati gara2 dimadu & terus2an chatting / e-mail2an (bila masa kini) dengan kawan2nya cewek bule. Coba telisik, di mana sisi kepahlawanannya…?
    Kenapa tidak Dewi Sartika yg. nyata2 berkiprah mendirikan sekolah2 untuk para Wanita (sekolah Keutamaan Istri, dll.)
    –> Kebobrokan Gajah Mada pada Pembantaian Bubat, terus2an ditutup2i, bahkan dikatakan “Tidak Pernah Terjadi” & dikatakan rekayasa Belanda. dasar Debil n Tolol. Justru berita itu tertulis pada Kidung Sunda yg disusun para empu Majapahit di Bali yg dikomandoi oleh Mpu Prapanca atas perintah Hayam Wuruk sebagai janjinya thd. Pjs kerajaan Sunda Galuh (Bunisora) yg akan mengabadikan peristiwa itu untuk cermin di kemudian hari atas keserakahan Gajah Mada. (Kidung Sunda disusun bukan oleh orang Sunda, tapi oleh para empu Majapahit ketika itu (abad 13 M). Belanda baru hadir ke Nusantara pada abad 15 M (1596 M))

    2) Bahwa Raden Wijaya adalah keturunan Sunda Galuh, hal ini masih pula dibantah Jawa (baca sejarah yg bener mas…!!)
    3) Apalagi mungkin bila mengetahui kenyataan bahwa suku Sunda merupakan manusia2 penguasa Sundaland yg maha besar wilayahnya (pada manuskrip Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates yg ditulis oleh Plato pada 9000 BC / Sebelum Masehi), cari referensi perihal Benua yg. Hilang / Atlantis (Sundaland), sampai2 bhs. Sunda menurunkan bhs2 di Asia, dari mulai Filipina s.d. Tahiti & model2 pertanian suku Sunda terpahat di relief2 piramida & sphinx Mesir…Pasti akan menolak.

    Coba, jawabnya apa?? (Pasti dibilang rekayasa Belanda…Hi…hi…hi…!! Dasar Tolol & Debil…!!(

  104. #104
    gravatar

    Satu hal lagi: Perihal wilayah NKRI yg sekarang adalah bukan warisan Majapahit / Bapak Pemersatu Nusantara (Pak Gajah Mada) yg berjuang untuk kepentingan orang Jawa (bukan pemersatu Nusantara untuk suku2 lain loh…!!).

    wilayah negara Indonesia meliputi eks-jajahan Belanda (s.d. tahun 1945), kemudian menyusul Irian Barat (Papua) yang merupakan eks jajahan Belanda dari hasil Perjanjian New York pada Agustus 1962, dan Indonesia mengambil alih kekuasaan terhadapa Irian Jaya pada 1 Mei 1963. Kemudian diperkuat dengan “Act of Free Choice” (Aksi Pilihan Bebas)/ PEPERA di Irian Jaya pada 1969 di mana 1.025 wakil kepala-kepala daerah Irian dipilih dan kemudian diberikan latihan dalam bahasa Indonesia. Mereka secara konsensus akhirnya memilih bergabung dengan Indonesia.

    Masih bertahan nih, kalo Wilayah NKRI buah tangan Pak Gajah Mada (Hi…hi…hi. Lucu…lucu kayak Srimulat aja. Parah nian pengetahuan Sejarahnya. Yang keluar Ototnya aje, bukan Otaknya)

  105. #105
    gravatar

    Astrajingga, silaing mah atuda begugna ngan saukur neuleu tina Wikipedia wungkul. Nya heu’euh atuh da eta mah ditulis kunu garelo (anu sok tau kana sejarah).

    Cik atuh sia teh nyiar elmu sejarah teh tina sumber aslina (yeuh dewek boga salilan naskah kuno (make huruf Palawa & bahasa Sansekerta / kecuali Kidung Sunda nu make bahasa Ja-Teng pasaran abad 13 M make huruf Palawa, lain make bhs. Sansekerta).

    Boa-boa sia mah teu becus macana oge & teu ngarti nerjemahkeunana.

    Teang dewek di Antropologi UNPAD.

  106. #106
    gravatar

    Ini apaan sih? kok komentarnya malah saling menjelek-jelekkan suku? mau orang Jawa, Sunda, Batak, Minang, Bugis, Papua atau mana lagi ya biasa ajalah…sama-sama orang Indonesia kan? Sekarang toh nggak ada lagi yang namanya negara Majapahit dan SundaGaluh.
    Bagi yang paham sejarah Sunda, boleh juga dong nulis novel fiksi sejarah tentang SundaGaluh atau Dyah Pitaloka. Kalau ceritanya seru pasti saya beli deh bukunya…

  107. #107
    gravatar

    waaahh…. kidang pananjung hebat bener nih ngaku ada di Antropologi Unpad. tapi…apa ga malu-maluin para dosen dan mhs Antropologi lainnya tuh isi komentarnya?? atau jgn2 Anda bukan mhs Antropologi Unpad …hiks :( kalo aksioma Anda sahih, mungkin Anda bisa jadi profesor Antromolorgi eh Antropologi…hehehehe

    mas Astrajingga tenang ajah, saya mau balikin asumsinya “oknum” mhs Antropologi Unpad ini.

    Memang benar, bahwa suku Jawa adalah suku yg merasa Superior (merasa lebih unggul dari suku2 lainnya). Contoh:

    >>> baru mulai sudah apriori…. kok spt ga UNPAD bgt gitu looh, ihhh malu-maluin para akademisi dari UNPAD ajah….:)

    1) Memaksakan Kehendak:
    Di daerah2 transmigrasi (di luar P. Jawa), nama2 dusun, desa, kecamatan, kampung, dll. dipergunakan nama2 Jawa (di Papua, ada nama Aryoko, Kertosari, dst. Di Lampung, apalagi), dst.

    >>> Anda yg belajar budaya, kok dangkal bgt sih, dangkalnya kalo nama2 dusun dsb dipakai nama jakarta, jd artinya orang jakarta dong yg pindah???

    2) Dalam berbahasa Indonesia, tidak mau tunduk dengan aturan berbahasa yang Baik & Benar. Contoh:
    Ciledug, dilisankan & ditulis dengan: Cileduk
    Nagreg, dilisankan & ditulis dengan: Nagrek
    Yogya, dilisankan & ditulis dengan: Jokja
    Ahmad, dilisankan & ditulis dengan: Ahmat
    Semakin, dilisankan & ditulis dengan: Semangkin
    Empat, dilisankan & ditulis dengan: Ampat
    Enam, dilisankan & ditulis dengan: Anem
    Lembab, dilisankan & ditulis dengan: Lembap
    Gadog, dilisankan & ditulis dengan: Gadok

    >>> waaahh…Anda bener-bener bukan mhs Antropologi kali yah, atau ga lulus-lulus?? apa kaitannya logat dgn ketidakmauan tunduk dgn sintak??

    3) Dalam bersuku bangsa, seringkali menyerang suku Sunda dengan kata2:
    “Kenapa sih orang Sunda enggak mau disebut orang Jawa” (suatu ucapan pemaksaan kehendak & terkesan Bodoh, Debil & Tolol). Mungkin tidak memahami perbedaan Geografis dengan Etnis, karena pulau boleh sama (P. Jawa), tapi jelas Etnisnya berbeda (Sunda & Jawa). Hanya saja, ditakdirkan pulau yg. dihuni orang Sunda & Jawa bernama salah-satu nama suku (Jawa) Ilustrasi hal ini:Bila saja P. Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dst. (selain P. Jawa), menggunakan nama salah-satu suku / etnis, masalahnya adalah:
    Bila P. Sumatera ditakdirkan bernama P. Batak, apakah orang Minang, orang Aceh, Palembang, dst. akan bersedia disebut sebagai orang Batak atau sebaliknya, apakah orang Batak mau disebut orang Minang, Palembang, dst…?(Semoga tidak Bodoh & Tolol lagi dalam menafsirkan. He…he…he…!)

    >>> sayang sekali “oknum” calon Antropologist sedemikian dangkal logika dan wawasannya, mungkin karena belom pernah kemana-mana sih yah, jalan-jalan dong keliling nusantara….hehehe. dimana-mana tuh org sunda dan jawa disebut orang jawa karena berasal dari pulau jawa, tapi bukan etnis jawa. org batak, palembang, padang disebut org sumatera, karena berasal dari sumatera. kalo di malaysia malah dari indonesia disebutnya indon

    3) Banyak Intrik / Licik & Tidak mengakui Kesalahan:
    Coba terka, suku mana yg. selama ini menyusun sejarah? (He…he…he..!!) Demi kekuasaan & demi suku yg sedang berkuasa, Sejarah bisa dibuat sesuai kehendak mereka yg berkuasa (lihat Nugroho Notosusanto, dll.)

    >>> sekali lagi, belum apa-apa apriori…. pdhal "calon" akademisi gt looh.

    Sehingga wajar, dalam sejarah yg muncul:
    –> Gajah Mada yg. heboh (masa kejatuhannya & kematiannya tidak berani dituliskan dalam Sejarah. He…he…he..!!), apalagi saat Gajah Mada Tua dibunuh di daerah Pantai Pananjung oleh pasukan Kerajaan Sunda yg baru pulang dari lawatan ke Borneo (lambung Mangkurat)…Pasti tidak akan dituliskan (jelas malu dong. He…he…he…!!)

    >>> duh-duh, mungkin aksioma Anda sudah melewati beberapa generasi para profesor Antropologi tuh…. jangankan dibunuh atau membunuh, keberadaan gajah mada sewaktu Majapahit jaya saja masih ditanyakan. Trus pandangan Anda Gajah Mada dibunuh di pantai pananjung?? bukan di situ ciburuy ??….hehehehekerajaan Sunda lawatan ke Kalimantan?? hebat sekali armada lautnya yah…pdhal menurut dokumentasi paling tua, kerajaaan di wilayah jawabarat tidak mempunyai armada laut yang kuat….mungkin lawatan ke kalimantan utk jalan-jalan kali yah?

    –> Kartini yg. heboh disebut Pahlawan Emansipasi. Padahal, dia bersedih hati gara2 dimadu & terus2an chatting / e-mail2an (bila masa kini) dengan kawan2nya cewek bule. Coba telisik, di mana sisi kepahlawanannya…?Kenapa tidak Dewi Sartika yg. nyata2 berkiprah mendirikan sekolah2 untuk para Wanita (sekolah Keutamaan Istri, dll.)

    >>> walahhhh kok Kartini? ….tp bisa saja mungkin Dewi Sartika lebih bahagia spt itu…..hehehehe

    –> Kebobrokan Gajah Mada pada Pembantaian Bubat, terus2an ditutup2i, bahkan dikatakan “Tidak Pernah Terjadi” & dikatakan rekayasa Belanda. dasar Debil n Tolol. Justru berita itu tertulis pada Kidung Sunda yg disusun para empu Majapahit di Bali yg dikomandoi oleh Mpu Prapanca atas perintah Hayam Wuruk sebagai janjinya thd. Pjs kerajaan Sunda Galuh (Bunisora) yg akan mengabadikan peristiwa itu untuk cermin di kemudian hari atas keserakahan Gajah Mada. (Kidung Sunda disusun bukan oleh orang Sunda, tapi oleh para empu Majapahit ketika itu (abad 13 M). Belanda baru hadir ke Nusantara pada abad 15 M (1596 M))

    >>> kok ditutupin?? pdhal novel GM-nya LKH banyak beredar…..hehehehe, profesor sekelas C.C Berg ga pernah nulis di jurnal-jurnal aksioma spt yg Anda buat. dalam kidung Sunda yg Anda baca, jelas sekali percakapan dari Raja Sunda dan yg lainnya, sama juga kan dengan Mahabarata atau Ramayana?? para kurawanya mati semua tapi alur sandiwara dramanya jelas sekali?? begitu juga cerita Rahwana yg gugur belamati melawan sang Rama??…dan faktanya karya sastra tsb dibuat oleh para empu (walmiki, prapanca, sedah, gandrong…eh gandring), dan juga pada saat itu budayanya hasil-hasil sastra para empu dijadikan pedoman hidup sehari-hari maupun kehidupan berpolitik. Asumsi Anda sudah agak benar, para empu mempunyai tujuan bahwa cerita itu utk contoh perilaku serakah yg pelakunya dinamai Gajah Mada………..utk hal ini Anda sbg “oknum” mhs Antropologi UNPAD masih bingungyah….hehehehe

    2) Bahwa Raden Wijaya adalah keturunan Sunda Galuh, hal ini masih pula dibantah Jawa (baca sejarah yg bener mas…!!)

    >>> kok dibantah Jawa?? Anda terus-terusan apriori deh…..:)

    3) Apalagi mungkin bila mengetahui kenyataan bahwa suku Sunda merupakan manusia2 penguasa Sundaland yg maha besar wilayahnya (pada manuskrip Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates yg ditulis oleh Plato pada 9000 BC / Sebelum Masehi), cari referensi perihal Benua yg. Hilang / Atlantis (Sundaland), sampai2 bhs. Sunda menurunkan bhs2 di Asia, dari mulai Filipina s.d. Tahiti & model2 pertanian suku Sunda terpahat di relief2 piramida & sphinx Mesir…Pasti akan menolak.

    Coba, jawabnya apa?? (Pasti dibilang rekayasa Belanda…Hi…hi…hi…!! Dasar Tolol & Debil…!!(

    >>> jawabnya Anda mimpi dan irasional…., baru baca 1 atau 2 referensi/ceritafiksi ajah udah berani nulis tolol??
    Anda ga bercermin apah??

    saya ada dijakarta, sbg pemerhati sejarah dan mitos sekalian jaga warnet ….:).

  108. #108
    gravatar

    JAWA NGAMUK….NAH, ITULAH CIRI KHAS JAWA KOEK (AMBEK JAWAEUN)> MAKANYA NEGERI INI NGGAK MAJU-MAJU, KARENA DIPIMPIN JAWA MULU.

    TAHU KAN JAWA….DARI MULAI ENGKONG, ANAK, CUCU, CICIT, KERABAT, WARGA SATU SUKU WALAUPUN BLO’ON, TETEP DI-KKN-KAN….HE…HE…HE…!!

  109. #109
    gravatar

    wahh…saya pas pengen baca, nyari jilid 1-nya ampe bingung. ludes di mana-mana!kira-kira bakal kebayang mo di terbitin lagi tidak,ya?
    mengomentari pendapat sederek2, terutama pendapat orang binal di atas saya ne!( yeah,you! kidang Pananjuaang!!!! ) heheheee…dasar rasialis,tidak berkompeten, lu!
    ehm, gimana2 menurut saya GM tuh butuh di kenalin, sebagai seorang karakter sejarah bangsa yang dapat memberikan wawasan en suri tauladan( terlepas dari pro dan kontranya, itumah urusan persepsi masing-masing,to yo! namanya orang hidup mana ada yang sempurna see! ). Gak hanya untuk generasi tuanya saja,tapi juga untuk generasi mudanya, yang sejak ngedot ampe pacaran taunya cuman dari Mickey Mouse,power puff girls, telekubis, Doraemoney, candy-candy,james ngebond, power rangger, supermen, batman,ampee…bang peter parker!dan lain-lain…
    jadi, bagaimana klo GM di buat versi GraphicNovelnya( GN: komik dengan format dewasa ) pasti keren abis tuh, heh,heh?! seperti GN 300 oleh Frank Miller yang mengangkat sejarah spartan, to V for Vandetta by Allan More sebagai bentuk protes More terhadap pemerintahan monarki. generasi muda stop banyak bacot, NYOOK BERRKARYAAAAAAAAAAAA!!!!

  110. #110
    gravatar

    Maaf saudara-saudara, saya harus melerai dalam beropini tolong jangan kelewatan dan berbau sara, pertikaian yang terjadi apa pun bentuknya menyebabkan saya yang menulis novel Gajah Mada merasa tidak nyaman. Akan tetapi dalam koridor sikap ilmiah saya harus menyampaikan beberapa hal yang diutarakan oleh Kidang Pinanjung bahwa:

    1. Kidung Sunda tidak ditulis oleh Empu Prapanca dan apalagi atas perintah Prabu Hayam Wuruk. Empu Prapanca menulis Negara Kertagama atau Desa Wernana dalam keadaan terusir dari Majapahir, ia menulis kidung itu dengan harapan bisa mencuri hati Hayam Wuruk. Seumur hidupnya Raja Hayam Wuruk bahkan tidak membaca kitab itu.

    2. Kidung Sundayana berusia masih muda, ditulis pada abad 18 seumur dengan peristiwa Perang Diponegoro.

    3. Soal Raden Wijaya adalah keturunan raja Sunda, setelah bertemu dengan Hermawan di Bandung Aksan sikap ilmiah saya terusik karena Hermawan Aksan sendiri menganggap silsilah itu bukan informasi primer.

    4. Soal Gajah Mada terbunuh oleh orang Sunda yang baru pulang dari Lambung Mangkurat saya dengar cerita itu kok baru kali ini. Negara Kertagama menyebut, ketika berada di Simping Blitar disusul dan diminta pulang karena dikabarkan Gajah Mada sakit keras. Pararaton mau pun Negara Kertagama tidak menyebut terjadinya pembunuhan Gajah Mada sebagaimana apa yang penjenengan katakan.

    Selanjutnya secara pribadi saya lebih senang ditemukannya bukti yang menyebut Perang Bubad itu tidak pernah ada, tetapi begitulah sejarah. Tolong semua jangan emosi dan saya undang datang di http://www.langitkresnahariadi.com

    Mas Jay, terimakasih numpang lewat.

  111. #111
    gravatar

    yang namanya jawa:
    1. egois bgt
    2. banyak nyari alasan
    3. tak bertanggung jawab
    4. suka merendahkan orang lain…

    gmn??? udah sadar mas2 n mbak2

  112. #112
    gravatar

    Saya cuma ingin menanggapi pendapat LKH tentang siapa yang nyerang duluan di Perang Bubat. LKH berpendapat bahwa logisnya yang tersinggung adalah yang menyerang terlebih dahulu. Saya tidak sependapat.

    Logika saya, justru yang nyerang duluan adalah pihak yang sudah nepsong/kebelet ingin segera mewujudkan sumpahnya, ialah dengan dibunuhnya Raja Sunda maka amukti palapa dapat diwujudkan, dan GM dapat segera makan enak. It’s was a pitty, sampai mati-nya GM, sumpah tsb tidak terwujud, terlalu ambisius juga sih si GM-nya.

    Kemudian tentang latar belakang Dyah Pitaloka yang menurut LKH, seorang yang cinta-nya kepada seseorang tidak kesampaian, karenanya LKH bersimpati untuk membuat sebuah cerita rekaan tentang hal itu.
    Saya cuma menyarankan saja, sebaiknya jika ingin mengangkat novel dengan roman cinta itu seperti jangan ambil Dyah Pitaloka sebagai model. Lebih baik tokoh dari Jawa saja semisal Ken Dedes, yang konon kisah cinta-nya dengan Tunggul Ametung-nya pun berdasarkan paksaan.

    Dengan demikian anda tidak mengotori kesucian Dyah Pitaloka milik kami. Urus saja Ken Dedes yang milik anda orang Jawa. Terserah anda buat lakon apa saja tentang Ken Dedes, Orang Sunda tak akan ambil pusing.

  113. #113
    gravatar

    #108 JAWA NGAMUK….NAH, ITULAH CIRI KHAS JAWA KOEK (AMBEK JAWAEUN)> MAKANYA NEGERI INI NGGAK MAJU-MAJU, KARENA DIPIMPIN JAWA MULU.

    TAHU KAN JAWA….DARI MULAI ENGKONG, ANAK, CUCU, CICIT, KERABAT, WARGA SATU SUKU WALAUPUN BLO’ON, TETEP DI-KKN-KAN….HE…HE…HE…!!

    klo emang gak mau dipimpin org jawa ..ya besok tahun 2009 org sunda suruh maju jadi calon presiden..atau mungkin anda sebaiknya bikin partai…kemudian mencalonkan diri jadi presiden!!khan bisa gantian memimpin :) seep khan

    #111
    yang namanya jawa:
    1. egois bgt
    2. banyak nyari alasan
    3. tak bertanggung jawab
    4. suka merendahkan orang lain…

    gmn??? udah sadar mas2 n mbak2

    Mungkin anda ada benernya..tapi tidak semua org jawa begitu….karena orang sunda pun pasti ada yeng begitu..yang semua orang ada kebaikan dan keburukan!! setuju???!!

    HIdup Indonesia….!!!!!!

  114. #114
    gravatar

    Mas Langit… keturunan kyai Langitan yach…
    Mas saya mau buat seminar bisa nggak jadi pembicaranya temanya tentang Sumpah Palapa. Kalau Ok kirim ke e-mailku : pakari_day@yahoo.com

  115. #115
    gravatar

    Untuk Joko Bodo, silahkan kontak saya di de_manyul@yahoo.com

  116. #116
    gravatar

    aduh gw orang sunda aja gaksegitunya kali ama orang jawa. ckckck.. jaman gini masi adaa aja orang berpikiran sempit n rasis gitu yah.

  117. #117
    gravatar

    Yunani –> Persia –> Romawi –> Arab –> Inggris –> Jerman –> America –> Jepang –> JAWA = silih berganti mengusai dunia (Islam tenggelam di barat akan terbit kembali di timur)

  118. #118
    gravatar

    #93
    X langit kresna hariadi
    Selasa, 3 Juli 2007 @ 17:59
    ………………………………………………….
    ………………………………………………….
    Soal Dyah Pitaloka, siapapun boleh membuat penafsiran bagaimana sosoknya, bagaimana karakternya, novel jelas bukan sejarah, dalam novel saya, saya bermimpi Dyah Pitaloka bukanlah bidadari di angan-angan yang tak bisa dijangkau, sangat sedih saya membayangkan Dyah Pitaloka tak boleh meraih cintanya sendiri, sangat sedih saya membayangkan Dyah Pitaloka hanya menunduk dihadapkan perjodohan politik yang disediakan untuknya.
    Sungguh betapa indah saya membayangkan, Dyah Pitaloka memilikiki wilayah cinta dengan kalangan jelata.
    Saya tidak ingin menempatkan Dyah Pitaloka tidak memiliki kisah cintanya, kasihan dia. Sebagai muslim, sebagai manusia yang menjunjung kesamaan derajad, saya tidak akan menempatkan dia sebagai ningrat yang tabu berhubungan dengan Saniscara, yang demikian itu merupakan awal dari kasta kasta.
    ……..

    Tanggapan dari saya(Satria Hijau).

    Kepada yth. langit kresna hariadi

    Jawaban Anda(LKH) diatas tidak mengenai sasaran sama sekali apa yang dimaksud dari pernyataan sdri.sapitri wulandari(#90).
    Apalagi anda membawa agama Islam(red.#93 Sebagai Muslim…).

    Saya sudah membaca novel anda GM dalam seri perang bubat.

    Setelah saya kaji maka saya tidak sependapat dengan khayalan/fantasi/fiksi anda(LHK) mengenai tokoh perempuan Indonesia(red.#93 Bandung itu bagian dari Indonesia, sejarah Sunda……..) yang dilekatkan pada Dyah Pitaloka.Berikut pernyataan saya atas jawaban pernyataan dari LKH(#93).

    1. Tidak ada satupun manusia suku di Indonesia apalagi yang mengaku sebagai muslim memiliki khayalan/fantasi/fiksi dengan membenarkan anak perempuannya memberikan kehormatannya sebelum resmi dinikahi oleh laki-laki yang dicintainya.
    Kecuali Anda(LHK )didalam novel GM versi perang bubat. Apakah ini yang dikhayalkan/fantasi/fiksi agar terjadi pada anak perempuan Anda(LHK) atau saudara perempuan Anda(LHK) atau bahkan ibu Anda(LHK) ?

    2. Saya sebagai keturunan Jawa dan sebagai muslim, sungguh amat sangat merasa malu atas tulisan Anda(LHK)mengenai khayalan/fantasi/fiksi anda(LHK) mengenai Dyah Pitaloka yang memohon untuk dinodai kehormatannya dari laki-laki yang dicintai. Karena berhubungan suami-istri sebelum resmi menikah adalah perzinahan. Dan ingatlah bahwa penulisan/pernyataan yang sesungguhnya tidak pernah terjadi/dilakukan oleh tokoh/seseorang merupakan suatu fitnah yang teramat kejam.

    3. Segeralah bertobat LHK, dan minta maaflah keseluruh rakyat Indonesia atas khayalan/fantasi/fiksi terhadap tokoh perempuan Indonesia di masa lalu yang anda(LHK) tulis yaitu Dyah Pitaloka.

    4. Saya doakan, keselamatan, hidayah Islam atas diri anda(LHK).

    Demikia saya utarakan mudah-mudahan bermanfaat untuk semua.
    Apa yang benar hanya datang dari ALLAH SWT, dan apa yang salah ini hanya disebabkan keterbatasan yang saya miliki.

    salam

    Satria Hijau

    nb.

    Laki-laki yang paling terhormat adalah laki-laki yang paling memuliakan perempuan.

    Lisan dan tulisan adalah cara memuliakan perempuan yang paling mudah dan ringan.

  119. #119
    gravatar

    fitroh manusia sudah bisa menentukan dan menilai…..

    nurani tidak bisa disangkal, walaupun mulut berkata lain.

    dari diskusi2 dan komentar yang tersaji di sini anda yang tidak munafik, dan jujur pada diri sendiri…

    tentu bisa menilai orang macam apa LKH atas jawaban dan argumen2 untuk mempertanggung jawabkan argumennya.

    sayang sekali …. LKH anda sama sekali bukan lelaki gentle man, yang mengakui dengan rendah hati bahwa banyak yang terlukai hatinya dengan ujung pena anda….

    sayang sekali …. LKH anda ternyata tak lebih dari seorang pengecut, yang sembunyi dibalik argumen2 yang tidak nyambung, bahkan terkesan memaksakan “membela diri”….

    Ah, sayang sekali LKH…..
    Jika saat ini anda sedang menikmati dan mengeruk keuntungan hasil dari oplah penjualan buku….
    Kemudian anda bisa tidur nyenyak dan nyaaamaaaannn…..

    Sayang sekali…..
    Ternyata, anda sudah tidak punya nurani….

    Sayang sekali….. sungguh sayang……

  120. #120
    gravatar

    Saya mengoleksi Seri Gajah Mada 1 s/d 5. Saya sangat mengagumi karangan LKH tersebut. Namun saya menyarankan agar LKH dapat membuat cerita tentang Gajah Mada masa kecil samapi menjadi prajurit Majapahit. Lalu Gajah Mada dari Prajurit menjadi Mahapatih. Lalu sepak terjang Gajah Mada sbg Mahapatih sampai menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Dan mhn agar LKH tidak membuat novel lain terlebih dahulu, selain tentang Gajah Mada ini. Saya hanya mau membaca Buku karangan LKH yang hanya berkaitan dengan GAJAHMADA.

  121. #121
    gravatar

    jaelah jaman sekarang masih musuh2an jawa sunda….

    ane blom baca novelnya soalnya masi di luar negri.jadi penasaran soalnya kayanya seru…

    tapi apa bener…DYah Pitaloka digambarkan dgn steorotip yg aga negatif?
    nah kalo itu ane ga setuju.

    ttg pasukan sunda yg nyerang duluan majapahit kayanya ga mungkin deh…Pasukan sunda ada di kandang lawan,jumlahnya lebih sedikit…kalo nyerang duluan sama aja nekat…lebih masuk akal pasukan majapahit yg serang duluan.

    peace…ane cuman pgn adanya cerita yg adil sesuai sejarah yg bener…
    lagian ada crita ttg sejarah kuno ini di kidung sundayana kan…

    …ane ada darah jawa sekaligus sunda…dan ade kemungkinan turunan majapahit hehe

  122. #122
    gravatar

    fitroh manusia sudah bisa menentukan dan menilai…..

    nurani tidak bisa disangkal, walaupun mulut berkata lain.

    dari diskusi2 dan komentar yang tersaji di sini anda yang tidak munafik, dan jujur pada diri sendiri…

    tentu bisa menilai orang macam apa LKH atas jawaban dan argumen2 untuk mempertanggung jawabkan argumennya.

    sayang sekali …. LKH anda sama sekali bukan lelaki gentle man, yang mengakui dengan rendah hati bahwa banyak yang terlukai hatinya dengan ujung pena anda….

    sayang sekali …. LKH anda ternyata tak lebih dari seorang pengecut, yang sembunyi dibalik argumen2 yang tidak nyambung, bahkan terkesan memaksakan “membela diri”….

    Ah, sayang sekali LKH…..
    Jika saat ini anda sedang menikmati dan mengeruk keuntungan hasil dari oplah penjualan buku….
    Kemudian anda bisa tidur nyenyak dan nyaaamaaaannn…..

    Sayang sekali…..
    Ternyata, anda sudah tidak punya nurani….

    Sayang sekali….. sungguh sayang……

  123. #123
    gravatar

    salam buat LKH.
    GM menurut saya sangat menarik walaupun ternyata cerita yang ada kecuali (fakta sejarah) tentunya adalah fiksi. tapi sanggup membuka mata saya betapa besarnya indonesia dimasa lalu. dan itu atas jasa seorang yang bernama Gajah Mada.
    Demi meraih cita-citanya Gajah Mada rela melakukan apapun hingga hamukti palapa. 1 hal yang menurut saya patut dicontoh, rasa cinta tanah air yang mungkin sudah tidak ada dihati generasi muda. salut buat novelnya

  124. #124
    gravatar

    saya yakin kidang pananjung orang yang frustasi dan gobed (goblog dan bedegong).
    Jaman gini kok masih mempertentangkan jawa sunda, istri aing orang sunda aing orang jawa tapi dapat hidup harmonis teu aya naon naon. semua manusia sama mempunyai sifat baik dan buruk karena diciptakan oleh Alloh swt dari bahan yang sama.
    cing atuh tong mempertentangkan sentimentil kesukuan kapan kita akan maju, indosat sudah dibeli singapura XL sudah merajai Indonesia kalau orang berpikir seperti kijang pananjung kapan kita akan maju. apa kita mau perang lagi?

    nasbargom bali

  125. #125
    gravatar

    wah…. saya sudah baca semua novelnya…. bagus lah.. kalo tentang GM mah wajar.. nggak ada manusia yang sempurna… jadi kita maklumi aja.. jangan dibawa2 ke RAS segala.. dendam mah nggak baik… kita ambil pelajaranya aja untuk bangsa masa sekarang,, supaya kita lebih perkuatkan persatuan dan kesatuan.. jangan sampai kita terpecah belah..

  126. #126
    gravatar

    JANGAN JADI ORANG YANG MUNAFIK DAN BODOH… SEMUA SUKU DAN BANGSA PUNYA KELEBIHAN MASING2… SALING MEJELEKKAN… KOREKSI DIRI MASING-MASING… CERMIN DIRI.. BELAJAR DARI KESALAHAN…

  127. #127
    gravatar

    Sayang sekali, kita anak cucu Gajah Mada dan Siliwangi ternyata masih merasa saling unggul dan menafikan yang lain. Saya yakin ruh moyang kita disana sangat sedih melihat kita masih terjebak dengan sesuatu yang sangat rendah, disana tidak ada yang ditanya kamu dari suku apa. Atau mungkin ruh juga ada sukunya……:)
    Duh, begitu pekatnya kebodohan yang menghunjam di jantung kita, meringkus alam sadar dan meracuni bawah sadar kita. Mata kita sama, tetapi begitu tahu di depan kita orang lain suku, seketika kacamata rasis terpasang, stigma dan stereotip akan bermunculan membutakan nurani kita.
    Sejarah bangsa harusnya dapat digunakan cermin untuk melangkah lebih baik ke depan dan makin erat hubungan antar anak bangsa menuju INDONESIA JAYA.
    Begitu dalamnya penjajahan telah merasuk ke jiwa kita, kita menjadi orang paranoid, tidak dewasa, suka membanggakan kelompok sendiri sembari merendahkan dan mejelekkan kelompok lain. Kita sejatinya belum merdeka sama sekali, jiwa kita masih terbelenggu dalam kebodohan.
    Setiap bangsa besar pasti mempunyai sejarah yang panjang, entah baik atau buruk, akhirnya yang paling penting adalah PEMAKNAAN. Amerika dibangun dari Perang saudara yang berdarah-darah; Jepang dibangun dari perebutan kekuasaan antar penguasa; Inggris pun demikian juga, dan masih banyak contoh yang lain.
    Bangsa yang lain yang maju sibuk berbicara mengenai teknologi, ekonomi, dengan kebanggaan sejarah bangsa masing2. Kita masih ribut bicara suku-ku lebih hebat, suku kamu jelek dsb. Lalu kapan kita akan maju? Segera satukan tangan kita bekerja dan berkarya untuk bangsa dan tanah INDONESIA

  128. #128
    gravatar

    Lama tidak nengok web ini kok ternyata malah terjadi perang bubad babak 2, apa kabar semua, apa kabar Kang Jay, pindah kerja di Jakarta ya?
    Sudahlah teman-teman semua ayo colling down, dinginkan kepala, dinginkan hati, jangan emosi.

  129. #129
    gravatar

    Gadjah Mada memang politikus Handal,

    Sebagai Mahapatih dia berfikiran menyatukan Nusantara adalah sebuah keniscayaan untuk membendung laju kekuatan di Utara, baik oleh Kerajaan India, maupun Mongol waktu itu.

    Sri wijaya hancur di porak-porandakan Kerajaan Cola dari India,

    Singosari sebagai imperium sebelum Majapahit telah membangkitkan amarah Gublikhan, imperium Mongolia

    Dalam kasus Perang Bubad, memang sebelumnya Jawa-Sunda merupakan satu keturunan, ingat juga abad-abad sebelumnya, Sanjaya sebagai Dinasti Mataram Hindu sangat dekat dengan Sunda-Jawa,

    Bukankah sewaktu Sriwijaya dg Sekutunya di Sunda (Kerajaan Wura-Wari)membantai habis keluarga Erlangga, yang berlokasi di dekat Sungai Brantas juga

    Konteks sekarang, sudah tidak relevan memelihara sentimen Etnis Sunda-Jawa… Karena sudah usang..

    Yang jelas Kebesaran Gadjah Mada tidak akan kikis hanya dengan kasus perang Bubad, harusnya orang Sunda juga mengerti hal tersebut, di Jawa banyak jalan bernama: Galuh,atau apaun lah yang berbau Sunda??

    Pertanyaannya siapakah yang pendendam…Trah keluarga Erlangga tidak pernah Dendam atas pembantaian satu Kerajaan dalam serangan Sriwijaya dan Wura-Wari..

    Jujur, Pribadi Saya akui bahwa Putri-putri Sunda sampai sekarang memang cantik-cantik, tak percaya ke Bandung aja..he..he…

    Salam Damai,

    Ken Mada Arya Sakti Blambangan

  130. #130
    gravatar

    salam kenal, nama ane hantujanda, e-mail :net_hantu@yahoo.co.id.

  131. #131
    gravatar

    Setelah terlambat menyimak 2 karya Paman Langit & 1 karya Akang Hermawan, seputar tragedi perang bubat, sudah jelas bahwa penguasa negara kesatuan republik indonesia saat ini berkewajiban menghentikan pengagungan nama Gajah Mada sebagai tokoh pemersatu nusantara. Nyatanya, dengan penuturan 2 versi novel fiksi sejarah tersebut, Gajah Mada lebih pantas ditempatkan sebagai tokoh imperialis. Tokoh pemersatu Nusantara yang sebenarnya justru: Dyah Pitaloka, Prabu Linggabuana, Prabu Hayamwuruk, serta para pemimpin Majapahit pendahulunya. Langkah nyatanya adalah: [1] dengan menghapuskan nama Gajah Mada sebagai nama jalan atau bentuk-bentuk prasasti/monumen lainnya, dan menggantikannya dengan: Dyah Pitaloka, [2] dengan secara eksplisit menyebutkan bahwa Gajah Mada adalah tokoh penjajah di wilayah NKRI pra imperialisme barat. Jika perang dingin jawa-sunda akibat bubat ini tidak segera dihentikan, yang jelas setan pada masa itu tentunya masih hidup bergentayangan dan bisa menyulut nafsu manusia kapan saja!

  132. #132
    gravatar

    [1] Dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam beragam bangsa agar saling mengenal. Tapi, sepertinya keragaman etnik Sunda dan Jawa tercipta karena politik penguasa ya? Lantas, apakah hanya karena batas wilayah otoritas kerajaan bisa membuat 2 saudara dekat tersebut menjadi “beda”? Jangan-jangan, dampak dari pemekaran wilayah dan otonomi daerah yang sedang berlangsung di NKRI saat ini nantinya bisa menciptakan etnik baru lagi ratusan tahun mendatang? Tolong dong yang punya ilmu terkait dengan masalah ini untuk menjelaskan.

    [2] Benar nggak sih jika gaya pemerintahan para penguasa NKRI masih sangat mengadopsi gayanya Gajah Mada, terutama masalah yang terkait dengan superioritas Jawa?

  133. #133
    gravatar

    saya asli orang banjar patroman, ciamis jawa barat nih teman2 hehehe.. saya udah browsing di internet, udah baca jg buku seri gajah mada nya mas langit, sampai sekarang masih tetap PENASARAN mengenai perang bubat tuh. pengen denger, baca, memahami realitas kejadian yg sebenarnya mengenai kejadian tersebut gitu. kalo ada sumber yg bisa di percaya, sok atuh kirim naskahnya ke saya lah, hatur nuhun pisan meuereunan tiada terkira, swear dah..!!! terima kasih banyak buat semuanya.. sing sarehat, sarukses lahir bathin sadayana.

  134. #134
    gravatar

    Mundinglaya komentarnya aneh ya, juga semua yang emosional pada Kang Langit aneh. Namanya saja novel, ya terserah bagaimana penafsiran pengarangnya. Lihat saja Hermawan Akshan yang dari Bandung itu, nulisnya juga sangat ngawur. Masak pasukan Sunda yang berjumlah seratus membantai ribuan, kelihatan sekali gobloknya.
    Untuk Mundinglaya, kalau nggak suka dengan Novel Kang Langit, bikin novel tandingan begitu loh.
    Lagian, ngapain pula mengkultuskan Dyah Pitaloka sampai seperti nabi, nggak boleh bercinta.
    Huaaah, anda harus ingat Mundinglaya, di samping menggeluti istri andas, anda masih ke pelacuran juga kan? Di Bandung banyak sekali tempat begituan, jadi tak usah munafiklah.

  135. #135
    gravatar

    MENGOMENTARI Sapitri wulandari
    Sebelumnya saya minta maaf, jangan terlalu terbawa emosi dulu.sampai sedemikian bencinya terhadap GM ataupun orang jawa, keluar dari konteks sunda ataupun jawa (SUKU), kadang ada sepasang kekasih yang saking cintanya lupa daratan (anggap seperti itu) tapi kali ini seorang perempuan Dyah pitaloka yang notabene manusia juga mempunyai ego dan emosi, karena cintanya dilarang orangtua mungkin dia mencari jalan supaya bisa menikah dengan kekasihnya (orang biasa)mungkin dengan jalan itu dia bisa menikah. karena kayaknya gak mungkin rakyat jelata berani ngomong langsung sama tuan putrinya kalau bukan dari tuan putrinya sendiri yg bilang.Lagian itu juga cerita yg bisa dibagusin bahasanya, disinetron atu fakta skrg mungkin juga ada dari keturunan mana aja gitu lho.
    Itu Bu/Mba Sapitri Asumsi saya
    Pangapunten.

  136. #136
    gravatar

    Wah baca komentarnya satria hijau jadi terharu aku…..
    kalau khayalan saja sudah terbelenggu sedemikian rupa, ya repot. Biarlah khayalan sebebas-bebasnya, toh di GM ceritanya ngga menjadi seperti stensilan…..lha kalau karya sastra direferensikan dgn nilai2 islam ya ngga cocok sepenuhnya mas……
    saya sendiri ngga yakin anda yang muslim ngga pernah berkhayal tentang sesuatu yang menggairahkan dengan lawan jenis anda..apalagi waktu anda masih tumbuh dewasa ketika itu…..kecuali anda memang ngga normal.
    So, buat mas LKH, ya ngga perlu bertobat untuk masalah ini, lha wong ngga ada yg perlu ditobati…..mungkin kalau saya malah bilang…bat tobat tobat tobat…komentarnya satria ijo lha kok konyolnya setengah mati……

  137. #137
    gravatar

    Gajah Mada adalah keturunan tentara Kubilai Khan, yang waktu datang pertama ke Singasari, utusan Kubilai dipotong telinganya dan ditulisi jidatnya. Waktu kecil GM bertanya kepada ibunya, Ema kenapa kalau mereka melihatku tatapannya menyiratkan kebencian. Yang dimaksud mereka adalah anak-anak Jawa. Emanya menjawab, itu karena kau orang istimewa. Kamu adalah keturunan pemberani, yaitu temujin (Jengis Khan). Nah, ada pepatah tua setua umat manusia, yang berbunyi: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, atau dalam bahasa sunda: uyah tara tuus kaluhur. Begitulah, sifat Jengiskan yang agresor dan memang Bengis Kan? menitis kepada Gajah Mada. Bagaimana ceritanya Gajah Mada keturunan tentara Kubilai Khan (cucu Jengis Khan), tunggu novel tentang Kitab Asal Usul, yang akan mengurai asal-usul Ken Arok, Gajah Mada, dan Soeharto. Sifat yang sama pada ketiga tokoh ini adalah jiwa agresi dan menghalalkan pembantaian. Senyumnya yang multi tafsir, juga menjadi ciri ketiga tokoh ini.

  138. #138
    gravatar

    Sebetulnya perang bubat itu bukan perang antara sunda dan jawa, tapi antara sunda dengan sunda karena pendiri kerajaan majapahit adalah raden wijaya yang jelas-jelas adalah cucunya raja sunda yang beristrikan putri raja sriwijaya. Posisi jawa saat ini hanya sekedar tempat berdirinya kerajaan majapahit. Berdirinya majapahit merupakan akhir dari peradaban sunda yang dimulai sejak revolusi neolithic (permulaan pertanian, 24 ribu tahun yang lalu,)kemudian menjadi pemimpin dunia (Atlantis asia tenggara, menurut Oppenheimer, 1999)diperkuat oleh hasil penelitian prof. aryso santos, 2003 asal brasil dan sebagian arkeolog amerika serikat. hal tersebut terjadi dimulai berakhirnya jaman es dan bencana alam terus menerus (gempabumi, letusan gunungapi dan tsunami) yang memisahkan tatar sunda (sundaland)menjadi kepulauan nusantara seperti saat ini.

  139. #139
    gravatar

    ini cuma sekedar petikan yg di tulis oleh IIP D. Yahya

    Perang Bubat dan Prabu Siliwangi
    Oleh IIP D. YAHYA
    TULISAN Her Suganda, “Memandang Bubat dari Jauh”, menarik untuk diberi catatan tambahan. Artikel tersebut menegaskan bahwa Perang Bubat itu benar-benar pernah terjadi dan membuat luka batin yang panjang dalam relung hati orang Sunda. Menafikan Perang Bubat tidak hanya membuang sebagian memori kolektif orang Sunda, lebih jauh berarti menghilangkan pula peran historis Prabu Siliwangi. Tanpa peristiwa syahidnya Prabu Wangi, tidak akan ada sang pengganti bernama Silih-wangi itu. Padahal semua orang Sunda bangga mengaku sebagai seuweu-siwi Siliwangi.

    Artikel ini coba melihat Bubat dari sisi lain, yakni hikmah sejarah dari peristiwa Bubat, munculnya tokoh Siliwangi. Allah Anu Maha Ngersakeun, telah menganugerahkan Siliwangi kepada orang Sunda, sebagai pengganti dan pemimpin dari tewasnya Linggabuana dan Dyah Pitaloka.

    Siapakah Prabu Siliwangi?

    Dalam prasasti Batutulis, Prabu Surawisesa tidak menuliskan nama Siliwangi untuk ayahnya. Prasasti untuk mengabadikan jasa-jasa Sri Baduga Maharaja, itu dibuat tahun 1455 Saka atau 1533 M, dua belas tahun setelah ayahnya wafat. Dalam prasasti itu disebutkan, “Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (bagi) prabu ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga! Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan, dia putra Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang ke Nusalarang. yang membuat tanda peringatan (berupa) gunung-gunungan, membuat jalan-jalan yang diperkeras dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuatnya). (dibuat) dalam tahun Saka 1455″.

    Demikian pula dalam prasasti yang lain, nama Siliwangi tidak tertera. Fakta ini sempat membuat penasaran para sejarawan yang bertemu di Keraton Kasepuhan Cirebon tahun 1677 M. Sebagaimana diketahui, di keraton itu pernah diadakan gotrasawala sejarah, yang hasilnya kemudian dikenal sebagai naskah Wangsakerta. Mengenai naskah ini bisa dilihat dalam polemik di harian ini antara Edi S. Ekadjati (1) Persoalan Sekitar Hari Jadi Jawa Barat (2/2/ 2002), (2) Sekitar Naskah Pangeran Wangsakerta (19/2/2002), (3) Sekali Lagi Sekitar Naskah Wangsakerta (27/5/ 2002), dan Nina H. Lubis (1) Naskah “Wangsakerta” dan Hari Jadi Jawa Barat (20/1/2002), (2) Naskah Wangsakerta Sebagai Sumber Sejarah? (6-7/03/2002).

    Karena menjadi pembicaraan luas pada gotrasawala itu, secara khusus Sultan Sepuh I menugaskan adiknya, Pangeran Wangsakerta, yang menjadi ketua panitia pertemuan, untuk meneliti lebih jauh mengenai tokoh tersebut. Terlepas dari sifat “kontroversi”-nya, naskah Wangsakerta memberikan gambaran cukup jelas mengenai tokoh Siliwangi.

    Pangeran Wangsakerta mencatat, pertama, dalam Nusantara Parwa II Sarga 2 (1678 M), “Sesungguhnya tidak ada raja Sunda yang bernama Siliwangi, hanya penduduk Tanah Sunda yang menyebut Prabu Siliwangi.”

    Kedua, dalam Kretabhumi I/4 (1695: 47), “Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua penduduk Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Jadi itu bukan pribadinya. Jadi, siapa namanya Raja Pajajaran ini?”

    Ketiga, dalam naskah yang sama halaman 47-48, “Raja Pajajaran dinobatkan dengan nama Prabu Guru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.”

    Keempat, masih dalam Kretabhumi halaman 51, “Rahiang Dewa Niskala berputra Sri Baduga Maharaja Pajajaran yang menurut (oleh) orang Sunda disebut Prabu Siliwangi.”

    Dengan demikian, nama Siliwangi adalah julukan penduduk Sunda untuk Sri Baduga Maharaja (w. 1521). Nama ini sebenarnya sudah muncul ketika beliau masih hidup, sebagaimana termaktub dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) yang ditulis tahun 1518 M. Dalam naskah itu disebutkan, “Bila ingin tahu tentang pantun, seperti Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi; tanyalah juru pantun.”

    Siliwangi berarti silih-wangi, pengganti Prabu Wangi (Linggabuana) yang gugur tahun 1357 M bersama putrinya Dyah Pitaloka. Jayadewata (Manahrasa) dianggap memiliki keberanian seperti buyutnya itu. Karena itu, ia berhak menyandang gelar Sri Baduga Maharaja. Sementara dalam perilakunya, ia merepresentasikan pribadi, Wastukancana, kakeknya (w. 1475 M).

    Jayadewata memang sangat layak dikenang segenap orang Sunda. Hingga sekarang kita bangga disebut sebagai seuweu-siwi Siliwangi. Keagungannya itu antara lain ditandai oleh kemampuannya menyatukan kembali kerajaan Sunda. Setelah Wastukancana wafat, kerajaan terbagi dua. Anak sulungnya, Susuktunggal (Sang Haliwungan), bertakhta di Pakuan (Bogor), sementara anaknya yang lain, Dewa Niskala (Ningrat Kancana), berkedudukan di Kawali (Ciamis).

    Lalu datanglah cobaan besar pada tahun 1478 M, ketika Majapahit diserang Demak. Sejumlah pembesar dari timur melarikan diri ke arah barat, meminta suaka kepada penguasa Kawali. Di antara pengungsi itu terdapat Raden Baribin (putra Brawijaya IV) dan seorang “istri larangan” (gadis yang sudah bertunangan). Dalam hukum Sunda, perempuan seperti itu “haram” dinikahi kecuali tunangannya sudah meninggal atau pertunangannya dibatalkan. Namun Dewa Niskala tetap menikahi “istri larangan” itu dan Raden Baribin dijadikan menantunya, dinikahkan dengan Ratu Ayu Kirana.

    Tindakan Dewa Niskala itu membuat keluarga keraton dan Susuktunggal marah. Mereka menganggapnya telah melanggar hukum yang berlaku dan “tabu kerajaan”. Sebagaimana diketahui, setelah peristiwa Bubat, keluarga Keraton Kawali ditabukan menikah dengan keluarga dari Majapahit. Maka perbuatan Dewa Niskala dianggap sebagai pelanggaran yang tidak bisa dimaafkan. Di tengah suasana genting itulah, Jayadewata tampil sebagai penengah. Ia mewarisi kerajaan dari ayah dan mertuanya tahun 1482 M. Oleh karena itu, ia dinobatkan dua kali, di Kawali dan Pakuan, serta memperoleh dua gelar, Prabu Guru Dewataprana dan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

    Harta karun Siliwangi

    Salah satu harta karun paling berharga dari Prabu Siliwangi ialah naskah bernama Sanghyang Siksa Kangda ng Karesian (SSKK). Naskah ini ditulis pada tahun 1518. Naskah ini secara jelas memaparkan apa yang harus dilakukan oleh pemimpin (menak) dan rakyat (somah), jika ingin meraih keunggulan. Menegaskan apa yang bisa membuat tugas hidup kita di dunia ini paripurna. Sayangnya, sampai sekarang belum ada kupasan optimal atas naskah ini setelah ditransliterasi oleh Atja dan Saleh Danasamita tahun 1981.

    SSKK adalah penjelasan dari Amanat Galunggung/AG (+ 1419 M). AG ditulis sebagai nasihat Prabu Darmasiksa kepada putranya, Sang Lumahing Taman. Dalam AG tercatat bahwa nasihat-nasihat itu bersumber kepada tokoh nu nyusuk na Galunggung (yang membuat parit di Galunggung). Menurut prasasti Geger Hanjuang, pada tahun 1033 Saka atau 1111 M, Batari Hyang membuat parit pertahanan. Di rajyamandala (kerajaan bawahan) Galunggung. Tepatnya di Rumantak, Linggawangi (sekarang Leuwisari, Singaparna, Tasikmalaya). Tokoh Batari Hiyang inilah yang dianggap telah mengodifikasi petuah-petuah yang kelak menjadi AG dan SSKK.

    Menurut Ayatrohaedi (2001), dalam bagian pertama naskah ini tercatat Dasakrjta sebagai pegangan orang banyak, dan bagian kedua disebut Darmapitutur berisi hal-hal berkenaan dengan pengetahuan yang seyogianya dimiliki oleh setiap orang agar dapat hidup berguna di dunia. Uraian naskah itu tampak didasarkan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat dan bernegara. Atau dalam bahasa Atja dan Saleh Danasasmita (1981), naskah tersebut berisi aturan hidup warga negara (citizenship).

    Substansi naskah itu masih sangat relevan untuk dikaji pada saat sekarang. Terutama ajaran tentang kejujuran dan keluhuran perilaku hidup lainnya. Naskah ini dibuka dengan anjuran menjaga sepuluh anggota tubuh (dasaindria) yang kita miliki, dari mata hingga kaki. Misalnya tangan, dianjurkan agar tidak sembarang mengambil segala sesuatu yang bukan haknya, karena akan menjadi pintu bencana dan kenistaan. Dalam konteks sekarang bisa dimaknai, jangan korupsi.

    Demikian pula dengan dasapasanta yang menjelaskan sepuluh syarat jika seorang pemimpin ingin berwibawa di mata rakyatnya. Ditaati dan dijalankan perintah/instruksinya. Yaitu guna (bijaksana), rama (ramah), hook (proporsional, bukan like and dislike), pesok (membangkitkan semangat), asih (penuh kasih), karunya (pembagian tugas yang jelas), mupreruk (membujuk), ngulas (membangkitkan harga diri), nyecep (menumbuhkan percaya diri), dan ngala angen (mengambil hati).

    Walhasil, sambil terus beradaptasi secara kritis dengan setiap perkembangan zaman, menjaga tradisi leluhur yang baik itu tetaplah penting dan relevan.***

    IIP D. YAHYA
    visiting scholar University of Michigan (2004)
    peminat sejarah Sunda, tinggal di Yogyakarta

  140. #140
    gravatar

    lamun garelut keneh wae, bakalan diseungseurikeun ku bangsa lain…eta ciri2 bangsa kerdil…lamun kerdil = babari di jajah…kerdil wawasan, kerdil karakter, kerdil elmu, kerdil sejarah, kerdil budaya……….ku malaysia weh loba nu di caplok komo ku amerika, inggris, walanda, jepang jeung lain-lain-na

  141. #141
    gravatar

    yth sdr LKH
    bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarahnya. kita harus akui bahwa kita diwarisi sifat saling merebut kekuasaan dengan berdarah2. tapi, penulisan fiksi berbasis sejarah adalah media yang bagus utk belajar tanpa membosankan. Tentunya, subyektifitas penulis akan sangat besar untuk itu. seperti juga mengenai PERANG BUBAT.
    saya sudah membaca GAJAH MADA: PERANG BUBAT. saya setuju sepahit apapun sejarah, kita harus realistis bahwa kita hidup di era yang berbeda. kita harus fair menempatkan gajahmada dengan keperkasaannya dan menghargai strateginya termasuk mengenai PERANG BUBAT.

    saya bisa menerima kalo strategi menumpas ROMBONGAN TEMANTEN SUNDA hanyalah kebablasan penerjemahan perintah gajahmada oleh anak buahnya, sekaligus sebagai usaha sdr LKH, orang JAWA, untuk tetap membela gajahmada. Tapi, adalah subyektifitas yang SANGAT NISTA, sdr LKH menempatkan PRABU PUTRI sebagai WANITA SUNDA yang meminta KEHORMATANNYA untuk DINODAI (bahkan HARUS diulang dalam dua paragraf), meskipun dengan tokoh fiktif. saya minta sdr LKH harus bisa menjelaskan hasil risetnya yang mendukung dasar penulisan tersebut. sdr LKH tidak boleh merusak KEPERKASAAN dan HARGA DIRI dari PRABU PUTRI dan rombongannya dengan kenistaan seperti itu. siapapun WANITA SUNDA pasti merasa TERLECEHKAN. adat sunda (dulu) selalu menerapkan anak wanita dalam pingitan yang harus dijaga. memang mungkin juga PRABU PUTRI sudah punya kekasih, tapi dengan logika yang paling sederhana sekalipun sangat tidak mungkin menginginkan kehormatannya dinodai, apalagi dalam plot sdr LKH, SEKAR KEDATON sudah diangkat sebagai PRABU PUTRI. saya dengan sangat pendapat sdr AVID, http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-84685 dan menganggap komentar sdr LKH http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-85351 tidak cukup menjelaskan subyektifitasnya.

    atas “ketidaknyamanan” membaca novel tersebut, saya menginginkan sdr LKH memberi alamat yang jelas untuk saya bisa kembalikan novel yang terlanjut saya beli. kalo konsumen (pembaca) sebagai raja, maka sebagai raja saya menitah sdr LKH untuk merevisi novel tersebut, terutama pada bagian meminta KEHORMATAN untuk DINODAI tersebut

    saya tunggu,

    SAPITRI WULANDARI SUNARMA

  142. #142
    gravatar

    bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya. penaklukan negara – negara yg berbentuk kerajaan oleh majapahit merupakan cikal bakal bersatunya nusantara. hal ini sudah merupakan dasar dari pengetahuan sejarah kita. apapun bentuk ekspansinya, majapahit sangat berjasa bagi terbentuknya wilayah indonesia saat ini. jadi ekspansi ke tanah sunda jika dilihat pada saat ini adalah keharusan yang mutlak dilakukan. gajah mada melakukan ambisinya karena negara, sama ketika soekarno berusaha menyatukan nusantara dan memperthankannya. harus ada korban dari tindakan ekspansi dan revolusi, hal itu menjadi biasa ketika kita membaca sejarah masa lalu. jadi gugurnya linggabuana dan dyah pitaloka merupakan harga yang harus dibayar dari bersatunya negeri ini, maknanya adalah kita harus tetap menjaga kebersamaan, bukannya saling mencaci maki dan selalu menyalahkan orang lain. sejarah akan mengajari kita bagaimana cara bertindak menyikapi masa yang akan datang.

  143. #143
    gravatar

    untuk sapitri wulandari sunarma
    saya mencoba untuk obyektif dalam menanggapi komentar anda.sepahit apapun sejarah itu harus “MAU” kita terima. majapahit menjadi mahakerajaan adalah sebuah usaha yang besar oleh para punggawanya begitupun rakyatnya. banyak tokoh hebat yang ada di majapahit yang mendukung aksi kerajaan itu dalam mejalankan visi dan misinya. tanah sunda adalah sebuah wilayah yang harus ditaklukkan, “HARUS” ,demi memenuhi sumpah palapa. jadi saya mengaggap anda tidak obyektif dalam membaca, anda sebagai orang sunda masih terstikmatisasi oleh kejadian dan brain whasing dari leluhur anda yang membawa kondisi psikologis anda dalam menilai orang jawa yang merupakan keturunan majapahit. contoh lain adalah seperti akibat dari perang salib. sampai saat ini umat beragama islam dan nasrani masih merasakan akbatnya. menurut saya yang terjadi pada anda adalah demikian.
    decs88@yahoo.co.id

  144. #144
    gravatar

    Sapitri kayak anak kecil , malu atuh! Mas Langit , kasih aja alamatnya , bukunya buat saya ya!

  145. #145
    gravatar

    pak KLH, kalo ngga salah di dunia persilatan waktu itu ada 3 nama seperguruan yg mewarisi 3 keahlian TOP: 1. Gadjah Mada untuk Ilmu kenegaraan/perang 2. Mpu Tantular untuk Kessastraan 3. Patih Lawa IJO untuk kanuragan/ilmu sakti.
    Patih lawa ijo kok ngga muncul di novel anda ya?

    saya baca novel SH mintareja dulu kayaknya malah dibahas khusu di satu buku

    salam,

  146. #146
    gravatar

    Mas langit,,saya penggemar “berat” novel gadjah mada dari yang pertama(bekel), tahta dan angkara(Nyai tanca), Hamukti Palapa(Mahapatih Amangkubumi Pu Mada), Perang Bubat (Dusti Ayu Dyah Pitaloka Citraresmi),,yang terakhir saya telat,,apakah masih diterbitkan bukunya????,,Saya juga ingin menanyakan, dimana mas Langit mendapatkan literatur tentang kerajaan Sunda Galuh dan Dyah Pitaloka??,,Terus terang mas, saya sangat tertarik terhadap tokoh “Dyah Pitaloka”,,saya sangat ingin mengetahui lebih dalam tentang dyah pitaloka..terima kasih..dan sukses selalu untuk mas Langit dan Keluarga

    Incesticide_86@yahoo.co.id

  147. #147
    gravatar

    Pembaca yang terhormat, jika ada yang mengetahui tentang dyah pitaloka ataupun kerajaan sunda galuh saya mengharapkan kedermawanan saudara sekalian untuk berbagi ke alamat email saya Incesticide_86@yahoo.co.id
    Terima kasih

  148. #148
    gravatar

    wadhuh……….banyak banget neh yang dah [pada] komen……………gajahmada dan perang bubat sebuah sejarah yang memang tak boleh terlupakan………………..setuju???

  149. #149
    gravatar

    Ada versi lain tentang perang bubat ini..
    Setau saya saat Hayam Wuruk mengundang Dyah Pitaloka sekeluarga ke Majapahit, selama di perjalanan, ayah Dyah Pitaloka (Linggabuana) beberapa kali memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Tugu/tanda2 yg dimaksudkan pada perluasan kerajaan Padjajaran, mungkin dengan pemikiran toh nantinya Raja Majapahit akan menjadi menantunya, sehingga dengan seenaknya dia membuat tugu/tanda2 yg menyatakan kekuasaaan Sunda-Galuh di sepanjang perjalan dari kerajaan padjajaran menuju Majapahit. Gajah Mada yg merasa perbuatan itu sangat menghina kebesaran Majapahit kemudian sengaja membuat taktik untuk menghabisi rombongan padjajaran itu sebelum sampai di Majapahit. Gajah Mada menganggap tdk ada gunanya melaporkan kejadian tersebut kpd Hayam Wuruk yg saat itu sedang tergila2/cinta mati kpd Dyah Pitaloka. Dengan pemikiran Hayam Wuruk akan rela berbuat apa saja demi mendapatkan Dyah Pitaloka karena sedang dimabuk asmara. Maka dengan berat hati Gajah Mada menghabisi rombongan Dyah Pitaloka demi keutuhan dan kebesaran Majapahit. Dan memang Kerajaan Majapahit sebuah kerajaan yg besar dengan buktinya kehadirannya ada di seluruh nusantara bahkan sampai ke luar negri. beda sama kerajaan Sunda-Galuh yg tidak ada pamornya ha2…

    Maaf buat para sundanesse yg tersinggung dengan Mahapatih Gajah Mada, tapi mo gimana lagi memang Majapahit itu kerajaan yg tanpa tanding.

    Diatas ada yg menulis :
    yang namanya jawa:
    1. egois bgt
    2. banyak nyari alasan
    3. tak bertanggung jawab
    4. suka merendahkan orang lain…

    kalo sunda bukannya 1 kata : “MATRE” alias mata duitan? rahasia umum kan?
    diliat dr sejarah aja udah ga punya harga diri, masa setor/jual putrinya ke Majapahit, kalo memang punya harga diri jangan mau dateng dong. Kalo perlu jika diserang Majapahit perang ampe titik darah penghabisan. Percuma jg sih, ga bakal berani, beraninya di belakang doang.
    Gajah Mada memang ambisius dgn sumpah Palapanya, kalo ga suka lawan aja, mampu ga? hi2 realistis aja yaa…

    peaceee…

  150. #150
    gravatar

    saya bersyukur masih ada orang orang seperti mas langit yang dengan tekun membuka tabir sejarah yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat indonesia bahkan sampai masyarakat diluar negeri yang tadinya negaranya merupakan bekas wilayah majapahit. seperti Malaysia, Brunei, Pilipina, Vietnam, singapura bahkan katanya sampai sebagian India dan China. kalau bener itu mohon mas langit dapat menelusuri lebih lanjut, saya sangat berharap dan mendoakan kesehatan mas langit dan kepada teman teman teruslah mengkaji sejarah kebesaran negara kita. sukses selalu untuk semua…

  151. #151
    gravatar

    Kit aini memang bangsa bodoh, sampai sampai mau saja dibodohi sejarah yang bodoh.
    Wong bilangan di karakterisasikan kok malah jadi musuan. Yah gimana ya, isi kepala kita umumnya isi kepala anak-anak.

    Pitaloka itu simbolisme huruf PI=22/7 Ta=400, Lo=30, Ka=20, 450, Gajah itu karakterisasi bilangan 143, Mada itu Mim sama Dal sama Alif, ini kebalikan artinya dari ADAM=45, jadi gajah mada simbologi Pengetahuan desimal dan pengetahuan dewa ganesha yang mengalahkan simbologi PI alias 22/7.

    Karena Pi itu simbol Bumi dan Gajah Mada itu simbol perilaku manusia dengan ilmu pengetahuannya Kisah Bubat (BBT, 2+2+400=404, pojokan ERROR, atau kesalahan karena suka panasan) itu simbologi bagaimana manusia Indonesia itu sok pintar , gampang disulut emosinya karena Merasa Berpengetahuan (Gajah Mada, pengetahuan ganesha dan desimal) sampai-sampai keseimbangan alam pun berani dilanggarnya. Akibatnya gimana? Ya kaya gini nih, kisah bilangan yang mestinya direnungkan malah dijadikan alasan untuk musuhan beneran….hahahahaha…..

    Ki Oon

  152. #152
    gravatar

    PERANG BUBAT : Kecemburuan Seorang Maha Patih

    Dalam sejarah Majapahit, Hayam wuruk adalah seorang raja yang lemah, dia hanyalah lambang sdang yang berkuasa sebenarnya adalah sang maha pAtih Gajah Mada. Banyak cerita yang tdak diungkap bahwa Hayam Wuruk sering mengadu, menangis bak anak kecil di pangkuan Gajah Mada. Lihat saja gambaran artis tetang postur Hayam Wuruk dan Gajah Mada antara seorang yang emah dan seorang yang perkasa. Gajah mada mencari tahu lewat mata2nya bagamana pribadi putri Dyah Pitaloka, kekhawatiran itulah yang menjadi sang Patih gundah. Putri tidak saja cantik (untuk ukuran jamanitu) tetapi juga cerdas dan memiliki bakat kepemimpinan. Ada ketakutan di hati sang patih siatu saat nanti sang putri bisa mempengaruhi san Raja, hilanglah pengaruh kekuasaan sang patih. Lebih Jauh dia berprasangka kenapa raja pakuan mau merendahkan diri mengantar sang putri ke majapahit. Ini tentunya suatu grand strategy untuk menguasai majapahit melalui misi yang diembankan kepada sang putri. Berdasarkan asumsi tersebut Gajah Mada membulatkan tekad untuk menghbisi rombongan pengantin putri. Pada masa itu pertemuan damai maupun perang selalu didahului dengan jajar pasukan dengan jarak sekitar 250 meter. Bukanlah Gajah mada kalau tidak memiliki kecepatan berpikir dan mempengaruhi rasio orang sekitarnya. Pada masa itu keadaan siap tempur diperlihatkan dengan memgang senjata (tombak) ditangan kanan, dan sebaliknya pada saat damai atau hanya gelar pasukan tombak diletakan di tangan kiri. Pasukan prabu siliwangi yang barisan terdepan membawa tombak berujung kujang dari kejauhan seperti terlihat ada di tangan kanan, kesempatan inilah yang langsung dimanuver sang patih dengan menriakan ” Imi tipudaya,mereka mau menyerang kita, serbu dan habisi mereka !!!” Jadilah perang Bubat, selanjutnya kita tahu cerita pembantaian itu. Bahkan ada hipotesa lain yang mengatakan bahwa Gajah Mada itu adalah seorang Gay.

  153. #153
    gravatar

    Itulah politik. “(Bubat) War is a mere continuation from politics by other means.” Sulit kalau dibedah pakai sentimen, meskipun bias paradigma pengarang kemungkinan ada. Kalau bisa, GM-1 sampai dengan GM-5 (sampai kira-kira kumplit) disatukan dalam 1 edisi. Rasanya mirip TAIKO-nya Eiji Yoshikawa. Just another political novel based on his(or-’her’)story.

  154. #154
    gravatar

    apa yg dmaksud dengan persatuan nusantara???? ketika keinginan itu kemudian mengoyak-ngoyak kesatuan yg lainnya.saya rasa tidak beralasan,tetapiyang tepat adalah keinginan berkuasa atas segala yang ada.pemimpin2 jawa adalah pemimpin yang cerdas,coba saudara2 bayangkan jikalau majapahit dulu tidak bersikukuh yg katanya ingin menyatukan nusantara,bayangkan juga jikalau kerajaan kerajaan kecil ataupun besar lainnya tidak takluk kepada majapahit, mau dikemanakan penduduk pulau jawa yang sangat banyak itu???????sebuah tindakan yang sangat logis yg dilakukan pemimpinnya utk ttp mensejahterakan masyarakatnya.lantas kalau begitu,untuk kepentingan apakah majapahit bersikukuh untuk “menyatukan nusantara”???????????………….

  155. #155
    gravatar

    jika kalian ingin tahu bagaimana dulu kejadiannya,ya tanyakan saja sama si pelaku sejarahnya jangan bersumber dari buku,katanya?,cerita rakyatlah.yang belum tentu semuanya akurat.
    gitu aja ko pusing???

  156. #156
    gravatar

    ass..
    sudah…. sudah… anak2 tidak usah saling menyerang… cape… bikin emosi… udah.. udah ya… udah ujan… becexs.. kaga ada ojexss…cape dechs..!! daripada bingung .. pada tau kaga persamaan n perbedaan antara Majapahit + Romawi ? dan hubungannya ama sunda galuh + Asterix?

    samanya adalah :
    1. Majapahit + romawi sama2 punya kekuasaan yang luas alias super power.
    2. Majapahit + romawi sama2 punya “bisul”. kalau Majapahit bisulnya sunda Galauh kalau romawi bisulnya Galia.. desanya bang Asterix ama ObeliX.

    bedanya adalah
    1. Kalau Majapahit + Sunda Galuh adalah nyata, Romawi + galia adalah boong alias fiktif.
    2. romawi tidak bisa ngalahin Galai karana galia punya Mbahdukun namanya Panoramix. Majapahit bisa ngalahin Sunda Galuh karena Sunda galuh kaga punya Mbah dukun.

    coba kalau SG punya simbah dukun Panoramix dijamain mau 1000 Gajam mada ke… mau 1000000 GM ke kaga akan bisa ngalahin 1 orang asterix sunda galuh…..!!!

    wss.

  157. #157
    gravatar

    Wah, GajahNgepot (#149) buat cerita baru. Saat itu belum ada jalan Daendels, Bung. ‘Gimana raja Sunda bisa buat tugu selama perjalanan ke Jawa, lha jalannya lewat laut ‘kok. Jalan darat belum jadi pilihan.

    Saya suka dg. teman2 yang masih bisa berhumor ria menulis di sini, setelah membaca email2 yang kadang emosional. Lha, sebelum duduk di depan komputer membaca halaman ini, ‘kan kita masih waras-waras saja. Kenapa setelah duduk di depan komputer harus bikin susah diri sendiri dengan marah-marah .. Mau marah ‘ama siapa? Mending berhumor daripada membanting komputer .. he3.

    Buat Mbak Sapitri Wulandari Sunarma, saya mengerti ketidaknyamanan Anda (maaf kalau saya sok kebapakan .. :-)). Tapi sobat KLH tidak perlu ‘kok mengikuti titah Anda mengubah isi bukunya, atau mengirim alamat daratnya. Lha, kalau setiap pembaca adalah raja, ‘nggak ada buku yang akan selesai, karena 1000 pembaca punya 1000 keinginan tentang isi buku yang akan memberi kenyamanan pada dirinya. Kalau buku yang Anda beli robek, bau amis, halaman 1 ada di belakang, atau yang semacam itu, nah .. barulah Anda punya titah yang mesti dipenuhi (sesuai motto customer adalah raja).

    Tulisan2 tentang jawa jelek, sunda pengecut, dll., ‘gak usah dibahas dan ditanggapin ‘lah. Yang ‘nulis telat lahir, mestinya dia lahir berabad-abad yang lalu .. :-) Jadi, ‘gak akan cocok dengan jaman sekarang, apalagi masa depan.

  158. #158
    gravatar

    Doakan saya teman2.. saya ada rencana buat main Jelangkung manggil rohnya MAs Gajam MAda sama Teh Dyah Pitaloka… nanti kalau bisa akan ane wawancara tentang perang bubat trus ane rekam trus ane siarkan ke seluruh televisi di indonesia… biar semuanya jelas, kaga perlu lagi debat kuda… oke !!! dan kalau ternyata tetep tidak bisa manggil, ane akan minta bantuan sama raden mas ki joko bedo…. yeah…!

  159. #159
    gravatar

    dari dahulu kala sampai sekarang org2 jawa yg memimpin indonesia.betul tidak?kerajaan sunda tidak mau bergabung dg majapahit oleh karna itu GM menghalalkan segala cara dg tipu muslihat.kapan indonesia mau maju kalo hanya melihat ke belakang!!!

  160. #160
    gravatar

    negara indonesia bersatu gara2 majapahit..kalo ngga,ada negara sunda,jawa,batak lah dll.hehe.sunda aja yang susah diajak bersatu dulu,
    maka dari itu GM pake tipu muslihat..
    hidup indonesia lah..

  161. #161
    gravatar

    Pak GM maksain kehendak dengan jalan yang ga gentle…masa orang dah ngalah perempuan mau nyamperin untuk dipersunting masih juga dibabat, sumpah palapa pak GM meyatukan nusantara adalah contoh ego pemimpin waktu jaman dia dan majapahitnya untuk kepentingan negaranya dengan segala cara,itu harus diakui dengan jujur( Tujuan dan keinginan Pemimpin sebuah negara dari jaman batu sampai sekarang), dan kejadian itu menurut ahli sejarah memang terjadi. pernyataan orang jawa yang bilang jawa lebih tua,laki2 sunda ga baik sama perempuan jawa itu masih sangat dipercaya masyarakat jawa mungkin dia merasa lebih superior ( jangan tutup mata, banyak sekali yang berprinsip seperti itu,dan pada akhirnya kalo dilanggar ga ngaruh).pernyataan kaya gitu datang dari orang jawa,sehingga menyakiti orang sunda,mudah2an jangan berlanjut.lebih baik kita bersatu semua suku sama dihadapan Allah Tuhan sang Pencipta. Masalah bangsa yang paling tua adalah bangsa Jin dan syaiton tau…ga usah diributin. untuk pak penulis novel tolong kalo nulis novel jangan pake ngira2 tentang kejadian sejarah, kalo salah gede dosanya.

  162. #162
    gravatar

    untuk LKH : Kalau Dyah pitaloka menikah dgn hyang warok (hayam wuruk) berati tahta kerajaan Galuh akan turun dari Linggabuana kepada Hayam Wuruk dan akan memudahkan GM untuk mencapai cita2nya mempersatukan nusantara,tetapi mengapa harus terjadi peperangan tersebut ? apakah tidak mungkin jika GM sesungguhnya ingin menikahi Dyah Pitaloka dan menguasai Kerajaan Galuh ? dan Dyah Pitaloka Patrem ( bunuh diri ) karena tidak ingin kerajaan Galuh jatuh ke tangan yang asal-usulnya tidak jelas seperti GM tsb ?

  163. #163
    gravatar

    Paak LKH, Kenapa di daerah pedalaman suku di daerah banten ada nama Jembatan Gajah dan Kampung Mada ? apakah ada hubungannya dengan Gajah Mada ?

  164. #164
    gravatar

    Alhamdulillah,…di Cimahi dah ada Jl.Gajah Mada,.walopun baru Jalan Kecil,..dan untuk kita ketahui saja,..di Cimahi dah banyak Orang Jawa yang dah menetap dan tinggal di sana,..sedangkan di Bogor, di suatu Komplek perumahan,..ada Jl.Gajah Mada, Majapahit dan Hayam Wuruk

  165. #165
    gravatar

    Lingga Buana sebenarnya menghindari pertumpahan darah dan mempertahankan harga diri secara pribadi sebagai simbol personifikasi Sunda Galuh, hal tersebut dicermati dari pendelegasian kekuasaanya kepada putrinya Dyah Pitaloka yang kemudian akah dinikahkan dengan Raja Majapahit Hayam Wuruk sebagai siasat menghindari penyerbuan Majapahit ke Sunda Galuh. Tak bisa diingkari bahwa kekuatan Majapahit waktu itu merupakan kekuatan negara Adi Kuasa di kawasan ASIA. Juga perlu diketahui bahwa Gajah Mada adalah asli putra pribumi Nusantara dari Trowulan Jawa Timur. Sisa-sisa kekuatan kekuasaan itu dapat di lihat sampai sekarang di wilayah-wilayah bekas alur keturunan Majapahit di Jawa, yaitu dengan berdatangannya masyarakat wilayah Asia Tenggara untuk berziarah. Memang diakui oleh banyak kalangan, meski Majapahit sudah tidak ada secara fisik, tetapi auranya berpengaruh di seluruh Asia samapai sekarang. Bagaimana zaman dahulu?

  166. #166
    gravatar

    Kalo Galuh (baca: Jabar) Ribut dg Majapahit (baca: Jatim), maka yg nengahin pasti Demak (baca: Jawa Tengah)… Yang nyerbu dan meruntuhkan Majapahit bukanlah Galuh/Pajajaran/Sunda, tapi Demak (Jateng). Walopun sama-sama Jawa, tapi separoh dari Jateng tidak terpengaruh oleh Majapahit. Liat aja kultur dan bahasa “ngapak” yang ada di Jateng sebelah barat (Tegal, Brebes, Purwokerto, Cilacap, Kebumen) semuanya tidak terpengaruh oleh Majapahit. Tapi justru yg masuk separohnya adalah unsur2 Sunda. Saya orang Kebumen (Jateng) pernah hidup 5 tahun di Jokja, 3 tahun di Sumatra, sekarang di Sumedang… Aku cinta Jawa dan Sunda… sama2 halus dan penuh etika kulturnya..

  167. #167
    gravatar

    perlu temen2 ketahui.. di Universitas Gadjah Mada.., justru Rektor yang paling terkenal dan berjasa adalah orang Sunda keturunan Galuh (Orang Tasikmalaya)yaitu Alm Prof Dr. Koesnadi Hardjasoemantri (meninggal dalam kecelakaan terbakarnya pesawat Garuda di Jogja). Kita gak tahu, mengapa beliau memilih Gadjah Mada daripada universitas2 lainnya di Indonesia untuk mengabdi sampai akhir hayat.. dan sampai sekarang, orang Sunda yang ada di UGM juga banyak… artinya, cerita kelam masa lalu jangan sampai membebani generasi sekarang. Janganlah dosa nenek moyang kita, ternyata kita pula yang harus memikulnya….

  168. #168
    gravatar

    kalo saya boleh nebak, saya tebak kalo Kidang Pananjung pasti gak pernah keluar dari kampungnya. Keliatan sekali kalo pikirannya sangat picik, seperti katak dalam tempurung…Cobalah keluar kampung, keluar propinsi atau keluar Pulau. Biar wawasannya gak dangkal… Kasian banget dia, jaman udah maju tp dia masih terbelenggu pikirannya sendiri…

  169. #169
    gravatar

    orang Jawa dan Sunda memang KLOP…!! yang satu AMBISIUS, yang satunya lagi MATRE…!! Makanya bangsa Indonesia gak pernah maju…!!!

  170. #170
    gravatar

    1. Perlu diperjelas disini bahwa LKH tidaklah mewakili orang jawa, adapun tentang karangannya, itu juga bukan tipikal karangan orang jawa, apalagi tipikal karangan orang Islam. Jadi bagi teman2 yg mengkritik hal-hal buruk dalam karangan LKH, tolong jangan dikait-kaitkan dengan orang Jawa.
    2. Mengenai tipikal2 buruk orang jawa yg sempat dilontarkan beberapa teman, itu terlalu subyektif, tidak bisa dipandang sebagai tipikal orang jawa secara keseluruhan. Bukankah setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing ?
    3. Bagi yg memiliki ilmu yg lebih baik daripada orang lain (seperti ilmu mengarang/membuat cerita, antropologi,dll) maka alangkah lebih baik kalo ilmu tersebut dipergunakan untuk kemaslahatan umat,bukan justru utk memperkeruh suasana. Great POwer Come With Great Responsbility. Ingat bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
    4. Marilah kita perluas sudut pandang kita menuju satu Indonesia. Apakah kita sudah merasa tidak mampu bersaing dengan bangsa asing sehingga harus menyerang bangsa sendiri.
    5. Sejarah memang patut menjadi pelajaran bagi kita semua termasuk sejarah perang bubat, namun sejarah perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan akan jauh lebih kontemporer dan lebih Indonesia daripada sejarah majapahit dan Gajahmada. Cobalah tengok bagaimana bersatunya bangsa ini dalam kongres pemuda I dan II. Lebih baik kita belajar dari situ daripada belajar dari novel.
    6. Apa yg ditulis oleh LKH hanyalah novel, novel hanyalah menjadi bahan hiburan (selama novel itu tidak mendidik), bukan sarana pembelajaran yang baik karena hanya memuat fiksi-fiksi yg diciptakan oleh penulis.

    Sekian,terima kasih …
    Keren nih blog … hehehe …

  171. #171
    gravatar

    ane pikir si abis baca perang bubat, bangsa kita tuh mestinya nyontoh sifat2 baenya aja dari orang2 ntu, liat aja gimana prabu linggabuana, die berani aja perang belain kehormatan bangsanya di tanah orang; artinya kaga jago kandang; liat juga pasukannya yang bela pati buat negaranya; patut dicontoh bangsa kita sekarang; nah…..kita juga jangan nyontoh kelakukan gajah mada yang maksain sumpahnye tu kan maksain kehendak pribadi…;emang sih jadi bikin nusantara bersatu, tapi kan dibawah kekuasaan majapahit (artinya tetep jajah toh?)..ndak bagus itu,soalnya kepentingan pribadi tu mestinya dibawah kepentingan negara..lha wong sunda-galuh tu ga pernah agresif ma majapahit soalnya tau tu majapahit pendirinya putra mahkota pajajaran; bukan gitu??????

  172. #172
    gravatar

    duh kumaha nya da fakta…., coba aja ditelusuri kenapa dan mengapa…
    1. sentimen sunda ka urang jawa tuh udah terbentuk. Kata”dasar jawa”.., “adat jawaeun”, “euweuh jelema hiji2 acan , aya oge jawa”…, si “jawa”. “jrrd.
    2. Orang jabar (sunda)…kan masih di pulo jawa juga, tapi kalo pergi ke jateng atau jatim pasti bilang pergi ke jawa.
    3. Ga ada nama GM atau yg berbauMajapahit dipake jalan2 besar di tatar sunda, kec sekarang banyak dipake di jalan2 kompleks perumahan yg ga tau menau soal sejarah sentimentil nya..

    tapi.. saya mah da kahibur saat baca sejarah tatar Sunda, kerajaan sunda lawas.., ternyata raja2 jatim dan jateng tuh masih turunan raja2 sunda juga…, ya sadulur keneh kang…!!.

  173. #173
    gravatar

    =6. Apa yg ditulis oleh LKH hanyalah novel, novel hanyalah menjadi bahan hiburan (selama novel itu tidak mendidik), bukan sarana pembelajaran yang baik karena hanya memuat fiksi-fiksi yg diciptakan oleh penulis.=

    ceritanya ntar neh kira2 500 taon lagi…, si antropolog ngubek2 situs.., bleh nemu CD ato DVD….. atau reruntuhan laborat kompi…, jangan2 karya fiksi nya LKH nih dianggap sejarah beneran ya….???… duh ngaco dah…., makin lieur lah sejarah…
    ga jadi beli ah bukunya…, kirain paling kagak rada2 deket levelnya ken arok nya pramudya… masih tebih nya kang?…. piiissssssssssssssssssssssss

  174. #174
    gravatar

    punten, ngiring ngalangkung..

    pertama kali sih baca bukunya tasaro: pitaloka–cahaya.. tersulut deh kecintaanku sama sunda, sunda yang udah makin ditinggalkan… lalu baca dyah pitaloka-nya hermawan aksan, aku makin jatuh cinta lagi sama sunda. belum pernah kecintaanku seperti sekarang sama sunda, padahal sy orang sunda banget.. pada awalnya belum tertarik baca novelnya kang lkh, tapi stlh baca koment disini, sy coba deh untuk baca (cuma baca aja, pinjem..), sekalian buat referensi…

    minta tolong juga, buat rekan2 yang punya referensi dan informasi lainnya tentang perang bubat dan dyah pitaloka, sy sdg bikin proposal ttg perang bubat dan pitaloka versi hermawan aksan. plis kirim k sy dewi_iefha@yahoo.com

    hatur nuhun.

    nb: informasi keberadaan hermawan aksan n tasaro juga… :)

  175. #175
    gravatar

    saya can maca novena tapi cek kuringmah kanunyieun ieu novel.sok we jieun deui novel-novel daerah meh loba bacaan.da perbedaan urang sunda jeung jawamah cara nyikepan ieu carita kumaha marenehna we, nu penting teu galutreng.
    di tuunggu nya carita -carita nu lucuna anu aya patalina jeng sajarah di jawa.nuhun

  176. #176
    gravatar

    kak, kapan buat yg lbih ok lagi yo

  177. #177
    gravatar

    Assalamu’alaikum
    kA’ dAuS, Q pEnGEn MeMpErcEPAT CARAq beRpikiR nIiH
    Q wDAh CARI di SiTex kAkA’
    k0 g DA y YG ngBAHAs TEnTAng IQ gt
    0 y kA’
    k2 stuju g tentang perjanjian korea n INDONESIA tentang NUKLiR itulo???

  178. #178
    gravatar

    wah seru nih malah jd perang bubat versi modern..!!sejarah akan terungkap secara perlahan…..ingat itu ya…!!

  179. #179
    gravatar

    Hiii…punten …….

    saya baru baca novel’nya GM ke 2, jadi belum tau ceritanya perang bubat. Baca-baca komentar di sini jadi heran, kenapa sih ada yang “berantem” segala, kaya nonton sinetron atau film gak suka sama ceritanya teriak-teriak sebel, harusnya ceritanya gini lah gitu lah, mending matiin aja TV’nya atau cari program lain

    namanya juga novel, meski ada latar sejarahnya, tapi sah-sah aja kan pengarangnya mau nulis apa. Kalau gak terima bikin aja buku sendiri..gitu aja kok repot.

    Buat mas LKH saya suka banget buku pertamanya, tapi di buku ke2 kok kurang seru yach kayan’nya? banyak paragraf yang diulang ya? Tar dech baca buku seri selanjutnya

    bukan’nya mau SARA apalagi SARU :)
    tapi memang ditempat tinggal suamiku sana di, kalau orang mau pergi ke jogya pasti bilangnya mau ke Jawa. Sedang kalau orang ditempatku kalau mau pergi ke Bandung misalnya, nyebutnya saya mau pergi ke Bandung bukan ke Sunda

    nyuwung ageng ing pangapunten menawi kula gadah kalepatan
    suwun..
    dari ku,
    orang YOGYA yang bersuamikan orang “SUNDA”

  180. #180
    gravatar

    wah mas rahmat kenal sama mas astrajingga yah?
    sampai tau kuliah dimana? jangan-jangan mas astra pernah lupa bayar warnet jadi diinget terus nih…he…. maaf ya just joke.

    Saya cuman mau kasih komen,
    Btw mas astra nih tau yang namanya Sundaland gak ya?
    Sundaland itu gak nyampai luasnya seperti Indonesia sekarang lo
    Sundaland ATAU Sunda craton merupakan ujung selatan-tenggara dari benua besar Eurasia
    kalau di Indonesia cuma mencakup bagian utara pulau sumatera, kepulauaan karimun jawa dan sebagian kalimantan.

  181. #181
    gravatar

    ups sorry…sorry salah nulis maksud saya mas kidang pananjung bukan mas astrajingga
    duh maaf mas astra..pizzz
    maaf juga semua pembaca

    wah dasar ndak cermat :(

  182. #182
    gravatar

    sampe #181 di atas, saya belum melihat LKH menjawab dengan baik perihal dasar telaahannya sehingga dia bisa membuat karakter Pitaloka sejelek itu. Jawab dong, jangan mancla mencle berlindung dibalik muslim lah, jurnalis lah, atau dsb. Kalau nggak betul minta maaf dan rubah isi tulisan tsb.

  183. #183
    gravatar

    swt!! yg udah ya udah,,maunya gmn sih pada??!!tar klo (alm) gadjah mada ama (alm) dyah pitaloka muncul bengong lu pade..sory neh, tapi tiap2 “suku” di Indonesia pasti ada “sentimen” antar suku,,cth:di aceh, asal tau azza, betapa bencinya org aceh sama org yag ada di “pulau jawa”, tapi keluarga gw nyantay2 aja(kluarga gw aceh asli, pidie),,lagian ngapain amat sih ngurusin urusan orang, udah gk ada lagi orangnya!!! okeh semua..sory klo ada yg kesinggung…

    Riezky “mamet” Kautsar
    Fakultas Peternakan
    Universitas Padjadjaran, 2003

  184. #184
    gravatar

    Ada banyak tokoh wanita dalam sejarah Singasari, ada Ken Dedes, ada Ken Umang, pun di Majapahit ada lebih banyak lagi, ada Gayatri, ada Trinuanatunggadewi Jayawisnuwardani, ada Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa, ada Kencana Wungu. Terhadap posisi para tokoh itu sama sekali tidak ada masalah walau para interpretator (baca: novelis) menulis macam-macam, sampai kemudian saya terhenyak ketika karakter Dyah Pitaloka yang saya bangun menyebabkan banyak pihak merasa tidak nyaman (baca: tersinggung).
    Sama seperti banyak pihak, saya juga terobsesi tokoh Dyah Pitaloka, (perkawinan saya dengan Rina Riantini, mojang Dayeuh Kolot Bandung harus menghadapi rintangan yang sangat berat) yang kasihan sekali, atas nama negara tidak punya pilihan lain kecuali mau didatangkan ke Majapahit, dikawinkan dengan lelaki yang belum pernah dilihat batang hidungnya, meski ia seorang raja besar yang menguasai wilayah demikian luas, disudutkan harus mau kawin dengan Hayam Wuruk sebagai sebuah cara meredam ekspansi yang akan dilakukan Gajah Mada.
    Bagi Aji Ima, bagi Sapitri Wulandari, kenapa anda keberatan Dyah Pitaloka memiliki kisah cintanya sendiri?

  185. #185
    gravatar

    Makasih buat saudara penulis….saya acungkan jempol dan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap daya imajinasi anda dalam menulis. cuman disayangkan isi dari novel hanya kebohongan publik, dan saya sarankan anda menulis novel persilatan aja jangan menulis cerita yang ada kaitanya dengan sejarah!!!
    Faktanya ; anda menulis bahwa raja sunda yang menyerang duluan!! anda menuliskan hal ini berdasarkan logika!!!! Logika sodara kayaknya mesti dipertanyakan.
    Mana mungkin rombongan pengantin yang hanya berjumlah 93 orang ( pararato. kidung sunda,bali) menyerang 2700 pasukan elit majapahit (bayangkara) dan perlu sodara ingat pula gak mungkin kalo hanya untuk menyambut rombongan pengantin mengerahkan pasukan perang yang demikan besar padahal majapahit dalam keadaan aman. terus kalo anda menyanggah bahwa bubat merupakan tempat latihan perang angkatan bersenjata majapahit, perlu anda ketahui bahwa pasukan bayangkara majapahit bekedudukan di sekitar lokasi keraton atau ibukota negara bukan ditempat latihan perang. jelas2 gajah mada dalam hal ini bermaksud menghancurkan rombongan pengantin Dyah pitaloka.
    Dan saya sangat bingung ketika anda menuliskan bahwa Dyah pitaloka menyerahkan kehormatannya..dari mana referensi anda menuliskan hal ini. Apa anda benar2 seorang ahli sejarah atau cuman pengarang fiksi yang kaya imajinasinya, klo memang anda ahli sejarah dari prasati atau ploklore mana anda mendapatkanya?
    Kalau mau dibahas banyak sekali karancuan dalam novel anda yang jelas2 memutar balikan sejarah atau mungkin karna anda tidak paham tentang sejarah itu sendiri, yang pada ahirnya justru mendeskreditkan anda sendiri sebagai penulis.
    Yang saya sarankan apabila mau menulis novel yang ada sangkut pautnya dengan perjalanan sejarah suatu suku bangsa anda harus paham dan mengerti dulu sejarah suku bangsa itu sendiri. dalam hal ini Sunda! karena saya melihat jangankan tau bahasa sunda buhun yang menyirat sejarah sunda atau lebih jauh lagi tentang sunda wiwitan. bahasa sunda yang benar aja anda tidak mengerti. sungguh keterlaluan!
    Yang pada ahirnya tulisan anda banyak menyinggung berbagai pihak, apa itu orang sunda,jawa (jatim ) bahkan pada ahirnya menyangkut juga orang sumatra (Sriwijaya). karna perlu sodara ketahui bahwa antara kerajaan2 di sumatra,sunda, jawa merupakan satu mata rantai yang saling berkaitan.
    Intinya perlu pemahaman dari semua pihak bahwa palagan bubat itu memang ada dan pernah benar2 terjadi, bisa dibuktikan melalui kajian sejarah! dan hal itu menuntut kedewasaan kita dalam memahaminya dalam berbagai kontek, jadikan kejadian itu sebagai kekayaan khasanah bangsa kita.

  186. #186
    gravatar

    Gila, padahal forum Bubat war ini dibuka hampir 2 tahun yang lalu, masih ada yang komentarin, termasuk aku. Aku sendiri nggak bakalan baca tuh novel fiksi.

  187. #187
    gravatar

    Saya pria jawa keturunan Mataram, isteri saya konon ibunya dari keluarga bangsawan Galuh dan ayahnya masih dari keluarga kesultanan Banten, perkawinan kami sangat disetujui oleh keluarga2 kami. Anak kami wanita sekarang mempunyai kekasih pria dari Garut dan kami tidak mempermasalahkan. Buat Mas LKH nggak usah mendramatisir perkawinan anda dan menghubungkannya dengan dongeng masa lalu tsb, dan saya prihatin atas tulisan anda mengenai Dyah Pitaloka.

  188. #188
    gravatar

    gak usah lah ngomentari lagi masalah perang bubat, sejarah sebenarnya memang tergantung dengan siapa yang berkuasa dan siapa yang mencatat peristiwa itu…
    kalau mau berandai-andai bisa terbolak balik kebenaran itu

    yang benar belum tentu pas dihati
    yang pas dihati belum tentu benar

    pssst…gimana ya kalau si pencatat sejarah asal nulis atau kkn sama salah satu pihak…huekekek… :)

    btw udah pada tahu belum kemungkinan keruntuhan majapahit ada hubungannya dengan lumpur porong? coba buka ringkasan ceritanya disini http://www.herdyah.wordpress.com

  189. #189
    gravatar

    lkh, terlalu mengagungkan gajah mada, seorang raja sunda yang mau datang dan mengambil jalan tengah ” ngunduh mantu ” dengan pasukan yang minim, menyerang duluan, raja goblok kalau begitu. emang Gajah Mada nya aja kemakan sumpah sendiri, malu besarrrrrrrrr !!! kampungan !!!, rajanya mau kawin kok calaon mempelainya malah dibantai, kampungan abis. ada pertanyaan klasik. Mengapa orang Jawa kalau menyimpan keris dibelakang ? Karena orang Jawa terbiasa main belakang. Mikir dong yang rasional. LKH sekolah tinggi percuma, balik lagi aja dari S3 awal (SD, SMP, SMA) biar pola pikirnya pas dengan opininya.

  190. #190
    gravatar

    emng LKH penulis yang pro gajahmada, jadi mau gimana pun pasti dibela, salah atau benar… itulah kenapa buku ini cuman jadi pemicu keretakan sunda – jawa, kalo nulis mbo ya netral apalagi katanya berdasarkan penelitian…

  191. #191
    gravatar

    logika LKH mengenai siapa yang menyerang duluan, sunda atau pasukan majapahit sangat aneh, menurut saya LKH hanya mencoba untuk membela majapahit saja, waduh gawat juga y buku LKH ini, kalo boleh tahu dah berapa lama anda menulis, buku2 anda yang telah diterbitkan apa saja, tolong kasi infonya…

    salam buat LKH

  192. #192
    gravatar

    saya sangat kecewa dengan penuliss yang jelas jelas rendah cara berfikir dan mental serta upaya yang berbahaya bagi umat,memecah belah dan membuat bahan permasalahan baru. sehingga menimbulkan perkeliruan, salah tanggap dan membuka lahan untuk memecah belah bangsa.

  193. #193
    gravatar

    Astaghfirullahal adzim, Yaa Allah aku yakin engkau maha pemberi petunjuk, berilah petunjuk kepada saudara penulis semoga kiranya dapat membuat tulisan yang baik dan tidak membuat fitnah sehingga merendahkan menghina martabat orang Sunda dan mengagungkan orang jawa (Padahal mereka sama Manusia di MataMu, hanyalah orang yang paling bertaqwa yang mulia disisi Engkau). aku yakin Engkau pemberi hidayah dan aku yakin engkau Maha Rahman dan Rahim. Janganlah kiranya tulisan yang berjudul Perang Bubat ini malah jadi api baru yang akan membakar sentimen etnis di Pulau Jawa, antara Suku Sunda dan Jawa. jadikanlah Suku Sunda dan Jawa yang bersaudara ini menjadi aman, damai, tenang dan saling memakmurkan, saling memuliakan sebagaimana perintah yang Engkau berikan kepada segenap Manusia. amiiin.

  194. #194
    gravatar

    Wajah baru Perang Bubat ?

    Buku keempat tentang Perang Bubat Ki El-Kaha benar-benar menciptakan wajah baru bagi saya. Disebutkan bahwa pengiring tematen hanya mencapai sekitar 100 orang dengan bersenjatakan sederhana karena dalam rangka kekawinan & atas permintaan Ibu Suri Sri Gitarja Tribhuanatunggaldewi Jayawisnuwardhani maka acara diadakan terlebih dahulu di Tarik Majapahit.

    Sebaliknya secara turun-temurun yang saya tahu adalah :
    Prabu Siliwangi ( Linggabuana ) ke Kotaraja Majapahit membawa pasukan segelar sepapan & anaknya Dyah Pitaloka dengan maksud mengantarkan ke ibukota. Namun dibalik hal tersebut sesungguhnya akan melakukan serangan ke jantung Majapahit. Oleh karenanya sang Raja Sunda Galuhlah yang sedari awal mengusulkan acara diadakan terlebih dahulu di Tarik Majapahit, dengan alasan menghormati Prabu Hayam Wuruk sebagai negara besar. Mengetahui hal tersebut, Mahapatih Gajah Mada melakukan pencegatan di Bubat untuk keamanan. Sang Mahamantrimukya meminta agar yang boleh masuk ke ibukota hanyalah Linggabuana, Dewi Lara Lising & Dyah Pitaloka, sekaligus sebagai upeti bagi sang Prabu. Kemarahan tersebut mengakibatkan munculnya apa yang disebut sebagai Perang Bubat. Oleh karena keadaan nyaris atau bahkan seimbang, bukan sebagai Pembantaian Bubat.

    Lalu, penggambaran sang Rakrian Mpu Mada yang seakan-akan tidak tahu apa yang terjadi di awal akibat penterjemahan instruksinya yang berlebihan oleh para Senopatinya ? Saya agak bingung juga, karena setahu saya justru dari awal Gajah Madalah yang memimpin pasukan segelar sepapan & mencegat rombongan dari Sunda Galuh tersebut di Bubat.

    Yang jelas bagi saya, buku Ki El-Kaha keempat ini benar-benar membuka gambaran baru bagi saya untuk pelurusan sejarah. Saya harus me-rekonstruksi ulang apa yang kuketahui tentang Perang Bubat. Karena bila yang terjadi adalah peperangan seimbang maka selamatlah Majapahit dari stigma pengecut, namun bila yang dicritakan Ki El-Kaha ternyata benar maka mau gak mau kita harus terima apa adanya sebagai sejarah yang jangan lagi terulang.

  195. #195
    gravatar

    Untuk Komentator # 193

    Saya tidak melihat adanya Ki El-Kaha bertujuan menciptakan hal-hal yang negatif selain melakukan pelurusan sejarah. Saya sendiri adalah Jawa Demak & beristrikan Sunda Cirebon Bogor, membaca kelima seri Gajah Mada dengan penuh kemesraan. Justru menciptakan masing-masing dari kita melakukan penggalian kembali tentang kebenaran riwayat tersebut. Dan tentunya sama sekali tidak adanya prasangka etnisitas, karena kita berdua sadar bahwa kami adalah orang Indonesia. Bukan lagi saya adalah Kerajaan Majapahit & istri saya berasal dari Kerajaan Sunda Galuh. Namun memang tulisan Ki El-Kaha bagi saya agak berlebihan sehingga membuat istri saya bagai Shinta karena melihat Prabu Hayam Wuruk saja bisa kesemsem sama Putri Sekar Kedaton, apalagi saya … He3x

    Dibalik semua tulisan Ki El-Kaha justru saya melihatnya sebagai upaya merangsang saya untuk “Djasmerah” ( Djangan sesekali melupakan sejarah ), sehingga ditengah-tengah kesibukan kerja saya kini selalu berusaha menyempatkan diri untuk mengerti kejawaan sebagai asal saya & kesundaan agar lebih romantis dengan istri.

    Ki El-Kaha tidak saja berhasil membawa saya kembali untuk menghargai tradisi & budaya, namun bagi saya juga telah membuat diri kami berdua jadi nempel seperti perangko.

    Bila berkenan, kiranya komentator 193 dapat mencoba untuk melihatnya dari sisi lain ? Agar dapat lebih sreg melihatnya ? Selamat mencoba ya mas.

  196. #196
    gravatar

    wah, rame sekali disini.. jangan sara lah. alhamdulillah saya asli jawa, tiasa sakeudik2 nyarios sunda =p dan jejak2 perang bubat ga begitu santer di keluarga. hehehe. perbedaan itu indah ya? =)
    btw, saya baru aja selese baca rangkaian novel GM. buat pak LKH, soon, sy jd penggemar tulisan2 bapak. deskripsi bapak bagus. jadi merasa ada di jaman itu pas bacanya.

    kang jay, izin nge-link ya. web-nya keren! :)

  197. #197
    gravatar

    (Bismillahirrohmaanirrohim) Assalamu’alaikum Wr.Wb ….Kalau memang penggambaran peristiwa Bubat memang seperti itu (latar belakang, kronologi dst), atau mungkin perlu diadakan penelitan sejarah yang lebih komprehensif lagi. Jelas hati nurani dan waktu menjadi ‘penilai’nya; maka bagi saya apa yang dilakukan Gajah Mada terhadap Sunda waktu itu TIDAK BENAR. Maka, saya rasa demi SESUATU YANG LEBIH BAIK di MASA MENDATANG (Persaudaraan, Silaturrahim, dst), maka saya rasa BELUM TERLAMBAT bagi JAWA untuk MEMINTA MAAF pada SUNDA. (Jawa dan Sunda disini ini merujuk pada nama suku yang diterima secara umum). Maka saya menghimbau (dan semoga usulan saya ini ada yang meneruskan dan menanggapi), alangkah BENAR, BAIK, dan INDAHnya bila keempat Kerajaan yang masih ada di Jawa (Kesultanan Jogja, Pura Pakualaman, Kasunanan Solo, dan Pura Pakualaman) selaku institusi wakil Jawa, membuat sebuah MAKLUMAT PERNYATAAN MAAF kepada Saudara Saudara SUNDA atas peristiwa Bubat sekian ratus tahun lalu ….InsyaAllah semoga itu dapat membasuh luka hati Saudara Saudara Sunda, dan semoga semakin memperbaik Silaturrahim Jawa & Sunda di kemudian hari. ….*Becik ketitik, ala ketara, sing salah bakal seleh (yang benar akan kelihatan, yang jelek akan nampak, yang salah pasti kan kalah) …dan MAKLUMAT PERNYATAAN MAAF itu jelas bukan hendak mengorek luka lama, tapi justru sebentuk keIkhlasan keSadaran Sejarah, dan langkah aktif berkaca pada sejarah, demi kebaikan masa depan. Dalam kesempatan ini, saya pribadi yang terlahir dalam suku Jawa, perkenankanlah saya MOHON MAAF kepada Saudara saudara Sunda atas peristiwa Bubat tersebut ….Semoga ALLAH SWT meRidhoi & meRahmati Silaturrahim kita semua …Amin. Selamat & Salam dari Surabaya :) R. Hendro RPU.

  198. #198
    gravatar

    Saat Perang Bubat diangkat kembali, terlebih 1 buku tambah setengah. Saya melihatnya sebagai hal yang bersifat politis, terlebih saat kubaca ternyata alurnya dipelintir oleh El-Kaha. Sempat saya berpikir kemana arah sang penulis ini, karena bila tujuannya adalah mendamaikan maka apa yang didamaikan ? Karena jalan ceritanya justru menikam, bahkan menohok Majapahit. Sebuah penggambaran yang boleh Sundah Galuh membusungkan dada & berbangga.

    Namun simaklah ini :

    Raja Sunda Galuh berpikir cara bagaimana agar Majapahit tidak melakukan serangan ? Yaitu dengan mengajak besanan & agar terlihat menghargai maka usulan agar acara temantenan diadakan di ibukota Majapahit ternyata diterima oleh segenap keluarga istana Wilwatikta. Lalu berangkatlah rombongan temanten dari Sunda Galuh menuju Ujung Galuh, namun dengan membawa di belakangnya pasukan segelar sepapan yang begitu besar. Kecantikan Dyah Pitaloka adalah tameng terhadap senjata tajam & beracun yang tersembunyi dibaliknya yang terarah ke kotaraja Majapahit. Namun Mahapatih Gajah Mada berhasil mengetahuinya, dengan pasukan segelar sepapan beliau mencegatnya di Bubat. Beliau hanya mempekenankan yang berkepentingan yang masuk ke ibukota, yaitu sang Raja Sunda Galuh beserta Ratu & anak, diiringi hanya beberapa pendamping. Merasa terjepit maka sang ayah Dyah Pitaloka bersikap marah karena menganggapnya dihina. Dengan demikian perang tersebut tak dapat dihindari. Sebagaimana mestinya, tamu tentunya kalah dalam menghadapi tuan rumah yang telah mengepung pasukannya. Oleh karena itu disebut sebagai “PERANG BUBAT”, bukan “PENYERGAPAN BUBAT”. Kedua pasukan besar antara Majapahit & Sunda Galuh bertumbur keras dan menjadikannya sebuah peperangan di daerah Bubat.
    Kelicikan Prabu Sunda Galuh dengan memajukan Dyah Pitaloka hingga kini masih terngiang saat lelaki Jawa mulai kesemsem terhadap gadis Sunda, biasanya diingatkan untuk berhati-hati karena dibalik kecantikannya jangan-jangan tersimpan senjata tajam & racun yang siap menohok jantungmu, seperti dahulu kala terhadap Majapahit.

    Secara politis, cerita Bubatan tersebut memang harus dikumandangkan. Agar a.l. dapat tertutup rapat apa yang terjadi saat penjajahan Belanda, dimana Adipati Ukur diperintahkan melakukan serangan bunuh diri oleh Mataram. Mengapa demikian ? Iya karena kan sebagai negara bawahannya. Atau juga saat Prabu Siliwangi beserta pasukannya dijepit sebelah timur oleh Demak & di sebelah barat melalui negara bawahannya Banten untuk diluluh-lantahkan. Kisah Bubat adalah pendamaian, sebagai cerita yang diangkat agar apa yang terjadi selanjutnya kian waktu kian tersembunyi. Pun kisah yang dialurkan oleh El Kaha adalah untuk menaikkan kaum Sunda Galuh & Sunda Pakuan … Namun hati-hati, saat mulai terbang ternyata dibawahnya mulai diisi yang lain sehingga waktu mendarat baru tersadar berada di tanah yang telah diubah. Hayo lho …

    Bukankah dengan demikian El Kaha telah memelintir

  199. #199
    gravatar

    Mas Mbilung, di Surabaya ada JALAN SILIWANGI…??

    Duuh Mas, udah dulu. Tuh bakul baksonya nggak ada yang nungguin.

  200. #200
    gravatar

    Katanya orang sunda keturunan Sang Guriang ya? ibunya siapa tuh yang kawin sama guk guk? Dayang Sumbi ya?

  201. #201
    gravatar

    GAJAH MADA TERNYATA ORANG DAYAK
    (perlu dilakukan penelitaian untuk pelurusan sejarah)

    Soal nama Gajah Mada menurut masyarakat Dayak di Kalbar perlu diketahui bahwa Gajah Mada bukan orang Jawa, ia adalah asli orang Dayak yang berasal dari Kalimantan Barat, asal usul kampungnya yaitu di Kecamatan Toba (Tobag), Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat (saat ini).

    Banyak masyarakat Dayak percaya bahwa Gajah Mada adalah orang Dayak, hal itu berkaitan dengan kisah tutur tinular masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio yang menyatakan Gajah Mada adalah orang Dayak. Ada sedikit perubahan nama dari Gajah Mada pada Dayak Krio menjadi Jaga Mada bukan Gajah Mada namun Dayak lainnya menyebutnya dengan Gajah Mada.

    Sebutan itu sudah ada sejak lama dan Gajah Mada dianggap salah satu Demung Adat yang hilang. Ada kemungkinan ia diutus Raja-Raja di Kalimantan. Ia berasal dari sebuah kampung di wilayah Kecamatan Toba (saat ini). Hal itu dibuktikan dengan ritual memandikan perlengkapan peninggalan Gajah Mada setiap tahunnya. Gajah Mada dianggap menghilang dan tidak pernah kembali ke Kalimantan Barat.

    Kisah yang memperkuat bahwa ia memang asli Dayak dan berasal dari Kalbar yaitu ia adalah seorang Demung Adat dibawah kekuasaan Raja-Raja di Kalimantan. Ia seorang Demung dari 10 kampung yang ada, namun setelah dia menghilang entah kemana, kampung tersebut kehilangan satu Demung Adatnya sehingga Demung Adat di wilayah itu tinggal 9 orang saja lagi.

    Kisah ini sampai sekarang masih dituturkan oleh kelompok masyarakat Dayak ditempat asalnya Gajah Mada. Bukti-bukti tersebut sangat kuat dan bisa dibuktikan sebab Kerajaan tertua letaknya bukan di Jawa tetapi justeru di Kalimantan sehingga unsur Hindu lebih mempengaruhi setiap sikap dan tata cara hidup dan Hindu pun lebih dulu ada di Kalimantan bukan di Jawa. Alasan ini sangat masuk akal bahwa pengaruh Hindu di Jawa sangat dipengaruhi oleh kerajaan Kutai di Kalimantan dan kemungkinan Gajah Mada adalah orang kuat yang diutus kerajaan Kutai untuk menjajah nusantara termasuk Jawa.

    Dalam kisah Patih Gumantar Dayak Kanayatn (Dayak Ahe) Kalimantan Barat bahwa Patih Gajah Mada adalah saudaranya Patih Gumantar, mereka ada 7 bersaudara. (Baca Buku, Mencermati Dayak Kanyatan)

    Satu lagi soal nama Patih Gajah Mada bahwa gelar Patih itu sendiri hanya ada di Kalimantan khususnya Kalbar dan satu-satunya patih di Jawa adalah Gajah Mada itu sendiri, tidak ada patih lain dan itu membuktikan bahwa gelar “Patih” berasal dari silsilah kerajaan di Kalimantan bukan dari Jawa.

  202. #202
    gravatar

    Alhamdulillah..

    Kami memang lambat dalam membaca perkembangan situs ini. Tapi dengan rasa hormat yang setinggi-tinggi salut kepada semua panitia dialog yang diadakan Universitas Parahyangan.

    Terima kasih

  203. #203
    gravatar

    ampuuun dech gw… apa salahnya seh JADI ORANG SUNDA!! pengen nangis kalo udah debat masa2 lalu, apalagi saling menjelekan para Leluhur (TETEH DYAH PITALOKA) we miss you…

  204. #204
    gravatar

    -
    #203
    Tidak salah lahir sebagai orang SUNDA..
    Juga tidak salah lahir sebagai suku JAWA..
    Yang membenci atau menghina itu DOSA..
    Kita patut menghormat pada leluhur..
    Apalagi yang banyak jasanya..!

    #200
    Kalau sekedar gurauan gpp..!

    #201
    Mungkin saja GAJAHMADA berasal dari DAYAK..
    Atau munkin berasal dari ACEH..
    Matinya mungkin MOKSA..
    Mungkin juga dikubur di KALIMATAN..
    Atau di LOMBOK.. Atau di SULAWESI..
    Bahkan mungkin di PANJALU.. Atau MAJALEMGKA..

    Jika Sunda/Jawa tak bisa menilai jasa2 leluhurnya..
    Atau suku2 yang lain di NUSANTARA..
    Tak lagi bisa menghormati para pendahulu..
    100% tak percaya jika indonesia bisa maju..!

  205. #205
    gravatar

    Bung LKH,

    Kalau kita lihat situs di Trowulan, saya jadi sungguh takjub di abad 12M sudah sedemikian tinggi peradaban di Majapahit. Mungkin benar yang bung LKH tuliskan mengenai persiapan latihan armada kapal perang dengan terdapatnya kolam besar seluas 6 hektar di situs Trowulan. Adalah besar kemungkinan Majapahit bisa melebarkan sayap lebih luas dari wilayah NKRI sekarang.

    Namun saya sampai sekarang kurang puas dengan Hamukti Palapa tulisan bung LKH yang tidak memberikan gambaran bagaimana perjalanan dan usaha gigih dan pantang menyerah sang MahaPatih dalam menyatukan nusantara. Konon, menurut cerita orang tua, Gajah Mada memimpin sendiri penaklukan daerah-daerah di nusantara menggunakan kapal perang. Sampai di tujuan, Gajah Mada membakar kapal-kapal perangnya sendiri dengan maksud supaya bala tentaranya tidak akan pernah berpikir untuk mundur dalam pertempuran, apalagi pulang melarikan diri dari medan pertempuran.

    Itu hanya sedikit kisah yang pernah saya dengar. Mungkin bung LKH punya lebih banyak referensi yang valid untuk bisa menorehkan diatas kertas. Saya harap bung LKH bersedia untuk menggambarkan kembali babak penaklukan kerajaan-kerajaan di nusantara secara lebih detail dalam episode tersendiri.

    Kalau anda memang benar-benar seorang penulis besar, anda pasti merasa tertantang untuk mewujudkannya.

    GOOD LUCK.

  206. #206
    gravatar

    BUBAT ………. BUBAT ………. BUBAT. Berhentilah bertikai. Sejarah telah berjalan seperti itu. Terima sajalah takdir itu. Tidak usah ada dendam dan sejenisnya toh kita tetap saja tidak akan bisa melakukan dendam itu. Perang Bubat itu tidak pernah ada. Mana buktinyaaaaaaaaa?. Ingat, Sipadan-Ligitan telah dicaplok Malaysia dan sebentar lagi Blok Ambalat. Mana nyalimu?. Akankah kita biarkan sedikit demi sedikit wilayah kita dicaplok Malaysia.

  207. #207
    gravatar

    Saya dengar saat ini sedang dipersiapkan pembuatan Film Kolosal “Mahapatih Gajah Mada” produksi: PT TAWI NUSANTARA FILM dengan Sutradara: Renny Masmada. Syukur deh bisa membangkitkan semangat nasional yang telah pupus akhir-akhir ini. Mudah2an bisa Go International. Semoga Sukses.

  208. #208
    gravatar

    cing atuh kang numana nu benerna carita gajah mada vs pajajaran teh tong ngalilieur jalma matak pidosaeun, sabaraha rebu jalma nu geus salah kaprah alatan carita mangsa baheula…… sok saha nu boga literaturna nu pasti ke ku saya dipublikasikeun sangkan bener jujutannana oke…..aya kawani teu?

  209. #209
    gravatar

    Dari semua ruang, web atau apa pun namanya, yang paling membuat hati saya gelisah adalah ruang ini. Saya tidak tahu, apakah karib saya Jay Julian masih mengendalikan forum ini atau tidak, terakhir kontak dengan beliau ketika mengabarkan telah pindah ke Jakarta. Siapa pun boleh sih berkomentar namun seyogyanya dilakukan dengan arif dan bertanggung jawab. Ketika saya melihat, forum diskusi ini bergerak ke wilayah SARA yang amat tidak sehat, saya pikir tak ada buruknya Bang Jay melakukan pembersihan terhadap komentar-komentar yang potensial mengganggu kerukunan etnis.Saya kira bang Jay berhak menghapus opini amat tidak sehat macam itu, contohnya adalah no urut 200.
    Di manakah dirimu Kang Jay? Sejak mengisi acara di Unpar, kita belum pernah bertemu lagi.

  210. #210
    gravatar

    Pak Langit,
    Ada, saya masih ada, memang rada kurang terpantau, beberapa ter-skip.

  211. #211
    gravatar

    Bang Langit jika ada bijak tentu ada akan bertanya mengapa prabu Hayam Wuruk tidak menginginkan perang dalam penyatuan Majapahit-Sunda.Saya yakin ada tahu siapa pendiri Majapahit dan anak siapa Raden Wijaya tersebut, “mengapa bukan Raden Wijoyo namanya?”.Dan saya yakin pula ada dapat memperkirakan berapa usia Dyah Pitaloka saat itu,dan ada hubungan apa antara Sunda dan Majapahit pada saat itu dan sampai sekarang.Lalu siapa yang memulai perang dan menyerang dan berapa banyak iring-iringan orang yang berniat untuk menikahkan anaknya. Jika boleh bertanya waktu ada menikah berapa banyak orang yang mengantarnya?

  212. #212
    gravatar

    Kisah cinta yang mengharu biru ……………..
    Tapi cukup terkejut karena diakhir cerita ternyata Saniscara adalah Prajaka yaaaaaaaaaaaaa…….
    Ternyata kecantikan orang Sunda tidak hanya dalam sejarah, Diyah Pitaloka masih mewariskan kecantikannya sampai ke generasi yang sekarang.

  213. #213
    gravatar

    Aye bingung ngebaca komen kang elkaha di 209, aye balik lagi ke komen yang ke 200, agak telat aye memahami isinya, ehhh, ternyata kurang ajar itu komen, kayaknya sih lucu tetapi sadis, masak keturunan….

  214. #214
    gravatar

    Boleh nanya…?
    Apakah Gajah Mada itu sejenis hewan purba atau sejenis penyakit kaki bengkak (kaki gajah) ?

    Terimakasih

  215. #215
    gravatar

    pak langit, lokasi tempat perang bubat itu dimana sih? kok saya cari2 di google maps/earth gak nemu2 yach? ato ada yang berasal dari daerah sana? sekalian dounk poto2 lapangannya.. makasih ya.

  216. #216
    gravatar

    Akhirnya kita didorong untuk memahami pemjajahan JAWA yang telah ratusan tahun …

  217. #217
    gravatar

    BREAKING NEWS: Memang benar, saat ini sedang dipersiapkan proses produksi Film Kolosal Layar Lebar dan Sinetron dengan judul ‘MAHAPATIH GAJAH MADA’.produksi PT TAWI NUSANTARA FILM (Pamulang) dengan Sutradara Renny Masmada, yang telah mempelajari Sejarah Mahapatih Gajah Mada selama 20 Tahun. Saat ini kita sudah bisa melihat persiapan pembuatan setting & property-nya di lokasi shooting di daerah Mekar Bakti-Panongan Cikupa-Tangerang. Sedangkan lokasi casting & latihan dilakukan di Jl. Benda Barat 3 Pamulang 2 – Tengerang. Rencana film ini nantinya akan dipasarkan di seluruh Asia Tenggara. Saat ini PT TAWI NUSANTARA FILM juga sedang memproduksi Film2 Sinetron Religi sebanyak 40 Episode yang akan ditayangkan di CTV-Banten pada Bulan Ramadhan 2009 ini. Terima kasih (PT TNF PUBLICATION DEPT)

  218. #218
    gravatar

    Jadi GM itu korban ambisi anak buahnya atau pelaku utama dibalik perang bubat?

  219. #219
    gravatar

    ::selingan::

    ada buku baru dengan judul “Aceh di mata Urang Sunda” sekilas saja, bahwa ternyata tipikal suku “jawa” adalah bangsa penjajah udah menyebar juga sampe suku aceh sana. jadi, bener kayakna klo ada yg bilang, imperialisme gajah mada masih juga diwariskan, hingga kini malah [!]

    masalahnya, anda menulis fiksi berbasis sejarah. jadi, tolong akurasina dibenerin. jangan hanya berselimut dibalik persepsi, imajinasi, dan romantisme. setidaknya, bersikap netral akan lebih bersih dari pada meng”ada-ada.” sekali lagi, yang anda tulis itu bukan hanya soal fiksi. referensi primer anda apa kah? persepsi, imajinasi, dan romantisme, katanya. jelas aja ngawur..

    salam imperialis,
    Bajingan

  220. #220
    gravatar

    pak jay tolong bilangin ke LKH bikin novel gajah mada lagi sewaktu menyerang pulau bali pasti seru sekali karena melibatkan ribuan prajurit majapahit, terutama armada angkatan ke 7 yang di segani…atau cerita 2x perang di pulau lain yang melibatkan gajah mada …makasih pak jay..

  221. #221
    gravatar

    Sejarah ditulis oleh satu bangsa pasti berdasar pada sudut pandangnya. Jenghis Khan menjadi pahlawan bagi Mongol tapi imperallis oleh negara2 asia tengah dan persia, Rahwanna pencuri Sinta versi India tapi pahlawan bagi Sri Langka bahkan ada patungnya di Sri Langka, Atau Diponegoro, Soekarno dan pahlawan nasional kita yang oleh Belanda pasti disebut ekstrimis, separatis dsb.

    Oleh karena itu tentang Gajah Mada pasti bagus dari sudut pandang Jawa dan buruk oleh Non Jawa (tetapi pada jaman itu memang harus begitu untuk memperbesar pengaruh harus menguasai ambil contoh Yunani, Romawi, Mongol dan mungkin semua) Jadi sangat naif kalau ada negara yang tidak ingin memperluas wilayahnya (Jaman sekarang juga masih seperti itu dengan format yang lain seperti yang dilakukan negara2 kapitalis saat ini)

    Bukankah sewaktu Singosari masih eksis Kertanegara telah berhasil menaklukkan Swarnadwipa (Sumatera), Sunda, dan sebagian kalimantan (Semua pakar sejarah mengakuinya). Majapahit sebagai penerus Singosari tak perlu invasi kedua untuk menguasai wilayah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan hadiah 2 putri dari sumatera untuk R. Wijaya salah satunya “Dara Petak” (Ibu Jayanegara) yang didapat karena kemenangan dalam “Ekspedisi Pamalayu” sewaktu masih menjadi bagian dari Singosari. Jadi Sumpah Palapa Gajah Mada tinggal meneruskan kerajaan2 yang belum ditaklukkan Singosari.

    Dari logika yang lain : Majapahit adalah “Super Power” saat itu di Asia Tenggara dimana satu- satunya negara di kawasan ini yang punya Armada laut yang kuat. Kerajaan yang ditaklukan sampai Malaka,Pahang (Malaysia), Tumasik (Singapura), Philppina selatan, Champa (Vietnam) masa iya Sunda Galuh yang tentaranya tak tersohor, kalau kuat pasti Sunda Galuh juga meluaskan wilayanya, sampai terlewat oleh Majapahit.
    Kedua, dengan mau mengantarkan putrinya pasti ada alasan politis (karena kerajaan bawahan), karena adat Sunda dan Jawa sama yaitu temanten laki-laki yang harus datang ke perempuan.

    Untuk kang “KIDANG PANANJUNG” sebaiknya anda belajar lagi sejarah malu ah mengatasnamakan antropolog Unpad. Soal R. Wijaya keturunan Sunda itu belum ada sumber jelas (sumber tersebut hanya versi Sunda). Dari sumber tersebu disebutkan bahwa R. Wijaya anak Dyah Lembu Tal yang bersuami Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297.
    Lain halnya dengan Nagarakretagama. Menurut naskah ini, Dyah Lembu Tal bukan seorang perempuan, melainkan seorang laki-laki. Disebutkan bahwa, Ayah Raden Wijaya bernama Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Lembu Tal dikisahkan sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani.

    Sementara itu, Pararaton yang juga berkisah tentang sejarah Majapahit menyebut Raden Wijaya sebagai putra Narasinghamurti.
    Di antara naskah-naskah di atas, kiranya Nagarakretagama yang paling dapat dipercaya, karena naskah ini ditulis tahun 1365, hanya berselang 56 tahun setelah kematian Raden Wijaya.
    Berita dalam Nagarakretagama diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan langsung oleh Raden Wijaya sendiri tahun 1305. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota asli Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang menurut Pararaton didirikan oleh Ken Arok, penguasa pertama Kerajaan Singhasari (jadi jelas bukan anak Rakeyan Jayadarma karena Dyah Lembu Tal adalah laki-laki, jangan terkecoh dengan nama dyah karena dyah sama seperti “SHRI” atau Hyang.

    Kalau kang KIDANG PANANJUNG menyebut bahwa Sundaland yang begitu luas adalah sunda yang sekarang alangkah naifnya karena istilah itu digunakan oleh ilmuwan barat untuk menamai wilayah yang sampean maksud, sama halnya orang-orang barat menyebut bangsa2 asia tenggara sebagai “MELAYU” yang menurut istilah kita “NUSANTARA”. Bukankah melayu yang orang barat sebut itu bukan suku melayu yang asli Sumatera atau Malaysia. Untuk lebih jelasnya apakah budaya sunda yang sekarang berpengaruh terhadap wilayah Sundaland, karena bila pernah menguasai pasti ada bekasnya seperti keris, gamelan,dan masih banyak budaya Majapahit yang tersebar di wilayah asia tenggara termasuk Sunda.
    Untuk “Kartini” bukan “Dewi Sartika” bukankah Dewi Sartika juga diangkat menjadi “Pahlawan Nasional”. Terlepas dari Dewi Sartika yang lebih berhasil karena berhasil mendirikan Sekolah Putri Kartini adalah pelopornya, pendobraknya (lihat tanggal lahirnya Dewi Sartika Lahir Saat Kartini Sudah berjuang, selisihnya lebih dari
    20 th.

    Untuk yang menyebut bahwa Gajah Mada adalah keturunan tentara Khu Bi Lai Khan sumbernya dari mana, karena daerah yang mengaku tempat lahirnya Gajah Mada banyak sekali: Bali, Minang, Lombok, Dayak dsb. Karena Gajah Mada adalah seorang tokoh besar yang banyak orang ingin bahwa Gajah Mada adalah dari golonganya (tentunya bukan sampean yang memandang dari sudut yang jelek) dan yang lebih menggelikan lagi sewaktu di Ranca Ekek ditemukan Candi BOJONG MENJE yang konon lebih tua dari Borobudur ada tokoh sunda yang nyeletuk kalau Gajah Mada keturunan Sunda didasarkan umur candi yang lebih tua hingga budaya Sunda lebihtua. Yang lebih menggelikan lagi ada arkeolog sunda yang berpendapat bahwa ada candi Budha yang lebih besar dari BOROBUDUR di Karawang karena ditemukanya komplek Candi Batujaya Karawang.

    Dari hal hal di atas bisa disimpulkan bahwa Sunda selama ini merasa selalu di bawah Jawa dalam segala hal dan ingin membuktikan bahwa Sunda juga berbudaya tinggi seperti Jawa (tapi bisa dilihat peninggalan masa lalu sampai sekarang)

    Untuk AAN MERDEKA PERMANA yang menulis buku PERANG BUBAT tulisan anda sangat tidak masuk akal dimana Gajah Mada menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka dan tidak direstui sang raja Lingga Buana akhirnya mencari kerajaan lain yang lebih kuat dan ditemukanlah Majapahit. Kalau berdasar seperti tulisan anda artinya Dyah Pitaloka seumuran atau ga beda jauh umurnya dengan Gajah Mada, sedangkan Gajah Mada sendiri menjadi Patih di Daha dan diteruskan ke Majapahit
    setelah dia berjasa menumpas pemberontakan Kuti pada masa Jayanegara dan setelah Jayanegara Mati digantikan oleh adiknya (Ibunya Hayam Wuruk). Jadi Gajah Mada menjadi Patih semasa ibu Hayam Wuruk belum menikah apakah mungkin Hayam wuruk mau menikahi Dyah Pitaloka yang seumuran Gajah Mada yang lebih tua dari ibunya. SANGAT TIDAK MASUK AKAL

    Untuk yg menulis :
    yang namanya jawa:
    1. egois bgt
    2. banyak nyari alasan
    3. tak bertanggung jawab
    4. suka merendahkan orang lain…

    untuk mengetahui apakah orang Jawa seperti itu tanyakan pada suku non Jawa dan non Sunda atau orang luar negeri sekalian, dan tanyakan pula bagaimana orang Sunda pasti sampean sudah tahu jawaban mereka dalam mengenal Jawa dan Sunda.

    Jangan marah untuk yang merasa tersinggung, tentunya sampean pasti punya versi yang lain tapi yang masuk akal, logis, dan bisa dinalar.

  222. #222
    gravatar

    Apa pentingnya & apa maknanya Gajah Mada bagi Rakyat Parahyangan / Tatar Sunda (bukan Jawa Barat). Nonsens lah.

    Lagian malu, di Tatar Sunda pake jalan Gajah Mada. Nggak pantes bagi wilayah yg orang2nya lemah lembut & penuh sopan santun menggunakan nama jalan Gajah Mada yg terkesan Kasar, Serakah, Nubruk sana, nubruk sini & Licik.

    Kami selama ini nggak pernah mempermasalahkan atau menuntut di Jawa Tengah atau di Jawa Timur harus ada jalan Siliwangi atau Padjajaran. Maka tidak etis rasanya suku lain (Jawa) selalu mengungkit-ungkit masalah tsb., dll. Sungguh selalu memancing keributan antar suku. Kapankah Saudaraku (suku Jawa) akan berhenti memancing2 keributan dengan suku2 lain? Introspeksilah (kalau tidak mau disebut merasa lebih SUPERIOR dari suku2 lainnya)

  223. #223
    gravatar

    Jawa tidak pernah merasa Superior atas suku lainya dan tidak pernah memancing keributan. Apakah orang Jawa pernah meributkan peristiwa Bubat versi Saur Sepuh yang tentunya versi Sunda meskipun ceritanya fiksi, apakah orang Jawa pernah meributkan penyerbuan Sriwijaya yang bersekutu dengan Wara Wari dari Pasundan hingga Mataram Kuno pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

    Nama Bandara Internasional Surabaya JUANDA bukankah orang Sunda? tapi belum pernah dengar orang Surabaya protes kenapa bukan BUNG TOMO, SURYO, atau banyak lagi tokoh Surabaya dan Jawa Timur, bahkan Bung Tomo sendiri dianugerahi gelar pahlawan baru tahun 2008 keluarganya tidak pernah mengemis pada pemerintah untuk mengakui jasanya dan wasiat Bung Tomo sendiri tidak mau dikuburkan di Taman Makam Pahlawan. Beda dengan tokoh2 Pasundan yang dengan getol mengajukan tokoh tokoh Sunda untuk diakui jadi pahlawan contohnya Iwa Kusuma Sumantri. Pasti orang Indonesia kalau ditanya nama Iwa Kusuma Sumantri itu siapa pasti tidak tahu kalau bukan orang Sunda.

    Jadi siapa yang merasa superior??? Superior atau tidak itu tergantung dengan KIPRAH yang dilakukan, jangan jadi PEMALAS yang ingin dihargai.

  224. #224
    gravatar

    Ipar Sumedang, jangan gentar dengan Jowo (Dwi, dll.)…
    Kami di Maluku khususnya & di wilayah Indonesia Timur lainnya, sudah muak dengan SUPERIORITAS suku Jowo. Bahkan rekan-rekan kami dari Aceh, mereka mengatakan kalau suku Jowo adalah suku PENJAJAH.
    Ipar Sumedang, kami juga sudah searching di internet & dari orang-orang Jowo sendiri seringkali mennyakan “Mengapa di Jawa Barat tidak ada jalan Gajah Mada & Hayam Wuruk?”, mungkin Mas Dwi tidak pernah tahu (pura2 tidak tahu) kalo masalah ini seumur2 sering dimasalahkan oleh wong Jowo.
    Contoh bentuk penjajajahan suku JOWO atas suku2 lainnya:
    a) Nama-nama daerah, jalan, dll. di wilayah transmigrasi, dll. selalu dinamai nama-nama JOWO (apalagi di Lampung)
    b) Waktu saya kul di Bandung dulu (ITB), seringkali wong JOWO bilang:
    - ITB kan di Bandung, tapi kenapa ya kok mahasiswa & dosennya banyak orang JOWO?
    - Adanya NKRI kan berkat jasa Gajah Mada (He…he…he. Padahal kan kenyataannya, NKRI eks jajahan Belanda). Lagian, Mas Gajah Mada kan bukan untuk mempersatukan Nusantara, tapi demi penjajahan Mojopahit.
    Rekan-rekan kami dari Sulawesi,Palembang, Papua & Kalimantan sempat terkekeh2 mendengar Gajah Mada berhasil menaklukkan luar Jawa, mereka telah membuktikan tak ada satupun fakta sejarah setempat (di daerah mereka masing2) yg membuktikan Majapahit telah menaklukkan leluhur mereka.

    Trus (maaf Kang Sumedang), kata wong Jowo, katanya suku Jowo lebih tua dari orang Sunda (geer banget Jowo ney), padahal di Nusantara ini yg lebih duluan berbudaya adalah Kutai & Tarumanagara (Sunda)

    Masalah Si Tomo, menurut kami bukanlah pahlawan, tapi HARMOKO (Hari Hari Omomg Kosong). Cuma tukang tereak di radio aja kok diangkat pahlawan. Gakah Mada juga disebut pahlawan, padahal Gajah Mada tidak ada hubungannya dengan kemerdekaan NKRI (dia bekerja hanya untuk Mojopahit kok)

    Kang Sumedang, katanya orang Indonesia bakalan nggak tahu kalo ditanya siapa Prof. Dr. Mr Iwa Kusuma Sumantri. Terus terang, kami sangat mengenal Beliau, selain memang ada di dalam pelajaran sejarah SD, SMP, juga sangat dikenal di daerah kami (oleh eks PEPERA). Rekan2 kami dari daerah lain juga sangat tahu tentang Beliau. Beliau sangat berjasa dalam persiapan kemerdekaan RI, pencetus nama Proklamasi, konseptor pra kemerdekaan RI, menteri, anggota PPKI, dll.

    Mungkin, justru Si Dwi yg tidak tahu Pak Iwa, atau mungkin pada saat pelajaran sejarah, dia sakit perut nggak masuk sekolah.

    Bravo Kang Sumedang…Kami mendukung Akang.

  225. #225
    gravatar

    Horas…
    Aku lebih menyukai orang Sunda dari pada suku Jawa….Mengapa:
    Orang Sunda memiliki budaya “Mangga Tipayun” (selalu mendahulukan orang lain daripada dirinya, selalu mempersilakan orang lain daripada dirinya, dll.)

    Itulah ciri keluhuran budaya Sunda yg. memang sebenarnya penguasa P. Jawa (Kerajaan Padjajaran-Sunda Galuh dari ujung barat P. Jawa s.d. daerah Jawa Tengah dengan Wangsa Sanjaya-nya, dll. Serta penguasa Jawa Timur dengan Raden Wijaya-nya (bukan Raden Wijoyo) pendiri Majapahit sekaligus putera raja Sunda Galuh (Sang Jaya Dewata) yg. beristrikan wanita keturunan Singosari (Dyah Lembu Tal), namun dipelintir oleh orang Jawa, katanya Dyah Lembu Tal adalah laki-laki, terus di peta silsilah Majapahit juga, Sang Jaya Dewata sebagai ayahanda Raden Wijaya ditiadakan (dinihilkan), padahal dari bukti2 sejarah sangat jelas bahwa Raden Wijaya adalah Sang Jaka Susuruh dari Padjajaran (Raden Wijaya dibawa pulang ke Singosari setelah raja Sunda Galuh Prabu Jaya Dewata ayahanda Raden Wijaya meninggal)…Tapi coba lihat pada silsilah Majapahit, tidak akan ditemukan nama Prabu Jaya Dewata. Inilah bukti KELICIKAN JAWA & TAKUT SUPERIORITASNYA terkalahkan oleh suku Sunda, makanya unsur2 kerajaan Sunda-Galuh / Padjajaran DINIHILKAN)

    Terus lihat lagi Rhino Sundaicus…diterjemahkan oleh ahli2 Jawa senbagai Badaj Jawa (padahal Sundaicus). He…he…he…

    Apakah Si JAWA masih bisa berkilah…Namanya JAWA, so pasti SELALU ADA JAWABAN PENYANGKALAN.

    Horas Sumedang & Lewakabessy…

  226. #226
    gravatar

    Sumber sejarah di sunda hanya lisan bagaimana bisa dipertanggungjawabkan,sedangkan naskah-naskah yang ada rata-rata ditulis pada abad XVIII tentu sudah menyimpang. orang sunda memang biasa mengaku-aku. R. Wijaya diaku keturunan Sunda sumbernya hanya lisan sedangkan R. Wijaya sendiri mengaku trah Ken Arok (ada prasastinya). Jangan terkecoh nama Dyah lembu tal dyah sendiri adalah untuk penghormatan seperti menyebut sultan dengan Sri Sultan atau Paus dengan sri Paus. Nama2 jaman Singosari & Majapahit banyak menggunakan nama hewan untuk laki2 misal Kebo anabrang, Mahiso taruno, Gajah mada, termasuk Lembu tal. Mana ada LEMBU untuk nama perempuan KELIHATAN BANGET BOHONGNYA

    Johan, Ronggur dan Sumedang kalau pengen tunjukkan dengan kerja jangan hanya berkoar. Kalau orang Jawa ingin menjajah kenapa waktu merdeka tidak menggunakan bahasa Jawa saja padahal Jawa adalah mayoritas dan tokoh tokoh pergerakan banyak berasal dari jawa dan amat sangat sedikit yang berasal dari sunda padahal sunda adalah mayoritas kedua, kaciaaaan deh

  227. #227
    gravatar

    Mas Dwi, siapa sih nama Ibunya Raden Wijaya? Kalau Anda tidak bisa menjawab, berarti suku Jawa telah memelintir sejarah.

    Jawab ya Mas..!!

  228. #228
    gravatar

    Dwi, Anda kan menyangkal kalau Ibunda Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal, karena Anda & suku Jawa lainnya menganggap Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki. Hal ini jelas merupakan Pembodohan, Penipuan serta merupakan Ego Superioritas suku Jawa yang menganggap suku-suku lain Inferior (salah-satunya dengan menihilkan & memutar-balikkan fakta sejarah perihal leluhur Raden Wijaya & MENIHILKAN karakter Suku Sunda. Padahal, nyata-nyata Ayahanda Raden Wijaya adalah Raja Sunda Galuh)

    Bila Anda mengatakan Ayahanda Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal, lalu pertanyaan saya adalah:
    SIAPA IBUNDA RADEN WIJAYA ??

    MOHON DIJAWAB DENGAN TUNTAS.

  229. #229
    gravatar

    Terbukti sudah, suku JAWA SANGAT KETAKUTAN SUPERIORITASNYA TERKALAHKAN OLEH SUKU SUNDA (lihat message saya no #227 & #228 yang TIDAK MAMPU DIJAWAB OLEH SUKU JAWA)
    Coba simak, bukti-bukti di bawah ini:

    Kerajaan Majapahit adalah kerajaan termasyur di Nusantara. Tepatnya berkedudukan di P. Jawa. Tidak heran bila suku Jawa sangat BERKEPENTINGAN dengan PRESTISE tsb., sehingga, suku JAWA TELAH MELAKUKAN:
    PENIPUAN SEJARAH, MEMELINTIR SEJARAH, MELAKUKAN PEMBODOHAN SECARA NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL DENGAN MELAKUKAN KEBOHONGAN BESAR SEJARAH. inilah faktanya:

    Raden Wijaya adalah putera Raja Sunda Galuh; Padjajaran (Rakean Jaya Darma), namun setelah Rakean Jaya Darma meninggal, maka, Raden Wijaya dibawa pulang ke Singasari oleh ibunya (Dyah Lembu Tal). Karena Raden Wijaya berasal dari kerajaan Sunda Galuh; Padjajaran, maka Beliau dijuluki oleh masyarakat Jawa ketika itu sebagai Jaka Susuruh (Jawa & Sunda separuh) dari Padjajaran.

    Namun, suku Jawa SANGAT KETAKUTAN DENGAN FAKTA TERSEBUT, KARENA BERARTI, KERAJAAN TERMASYUR MAJAPAHIT PADA KENYATAANNYA DIDIRIKAN OLEH ORANG SUNDA (RADEN WIJAYA). DENGAN FAKTA TERSEBUT, MAKA, SUKU JAWA TELAH MELAKUKAN KEKOTORAN SEJARAH SBB.:

    A) Pada silsilah kerajaan Singasari, hanya leluhur Raden Wijaya yg. berorang tua tunggal (sangat aneh) yaitu Duah Lembu Tal yg dikatakan sebagai seorang LELAKI, sedangkan silsilah Singasari lainnya ditulis lengkap (suami-istri)
    B) Bila memang Dyah Lembu Tal adalah Ayah Eaden Wijaya (veri suku Jawa), lalu SIAPA IBU RADEN WIJAYA…???

    ANEH BIN AJAIB BUKAN KELAKUAN SUKU JAWA INI, ADA SEORANG PENDIRI KERAJAAN TERMASYUR (MAJAPAHIT) YAITU RADEN WIJAYA TANPA KEJELASAN LELUHUR LENGKAPNYA (AYAH-IBUNYA)…YG DISEBUTKAN OLEH SILSILAH SINGASARI HANYALAH AYAHNYA YAITU DYAH LEMBU TAL.

    ADA APA DENGAN SUKU JAWA INI. HE…HE…HE…!!!

  230. #230
    gravatar

    Bagi Saudara-saudaraku dari suku Jawa. Benar adanya bahwa Raden Wijaya adalah putera dari Rahiyang / Rakean / Rakyan Jaya Darma (Raja Sunda Galuh / Pakuan Padjajaran). Ibunda Beliau (Raden Wijaya) adalah Dyah Lembu Tal (Dyah Daramurti)
    sepupu Raja Karta Negara dari Singosari (Tumapel)

    Sebagai salah satu bukti kalau Raden Wijaya setelah jadi raja pun, Beliau masih sering mengunjungi kakeknya (Prabu Dharma Siksa) di Kerajaan Sunda Galuh / Pakuan Padjajaran). Ketika itu, kakek Beliau (Prabu Dharma Siksa) pernah memberikan wejangan kepada cucunya (Raden Wijaya). Wejangan tsb. ditulis pada daun lontar berangka tahun 1294 M. Ini adalah wejangan dari Sang Kakek (Prabu Dharma Siksa) kepada cucunya (Raden Wijaya):

    Hawya ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngwang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrumu, ngke pinaka mahaprabhu. Ika hana ta daksina sakeng Hiyang Tunggal mwang dumadi sarataya.

    Ikang sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda parasparo pasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padudulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawartti rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda dukhantara, Wilwatikta sakopayanya maweh carana; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatikta.

    Kalau bukti sejarah yg sangat kuno ini masih disangkal (tahun 1294 M), maka, tak perlu lagi perdebatan ini dilanjutkan, karena percuma saja.

  231. #231
    gravatar

    Siapa Raden Wijaya? Rupanya menjadi polemik yang sangat menarik di web ini. Teman-teman, menurut keyakinan saya dan ahli sejarah mana pun, sejarah bukanlah wilayah matematika yang serba pasti. Bagaimana kita bisa meyakini sebuah peristiwa yang terjadi ratusan tahun yang lalu sementara kita tidak hidup di zaman itu. Ahli sejarah hanya menerka dan atau membuat simpulan dari data-data yang dikumpulkan dawi kakawin, dari serat atau teks, dari prasasti, dari gambar-gambar di candi. Bahwa sejarah tidak bisa dianggap pasti, memang demikianlah sifatnya, kecuali bila menyangkut zaman yang lebih dekat dengan dokumentasi yang akurat dan terbaca.
    Sebuah peristiwa, misalnya menyangkut tahun kejadian, beberapa sumber sejarah bisa menyebut berbeda. Penentuan kejadian biasanya diambil dengan cara cara ilmiah, seperti mengukur usia atau zaman penulisnya. Seperti misalnya, tulisan Empu Prapanca berjudul Desa Wernana yang bercerita tentang keadaan Majapahit, silsilah atau terjadi peristiwa apa saja di zaman itu, lebih dipercaya dari sumber lain karena Prapanca hidup pada zamannya.
    Soal Raden Wijaya adalah keturunan dari Sunda, ada banyak pihak yang berharap demikian namun lagi-lagi tidak bisa dianggap sebagai hal yang pasti, mengingat sumber beritanya (yang saya tahu) berasal dari Kitab Wangsakerta yang ditulis di abad amat muda. Bahkan kitab Wangsakerta tidak bisa dianggap serta merta akurat ketika menulis peristiwa Majapahit, apalagi Raden Wijaya yang masih lekat dengan masa Singasari akhir.
    Bahwa Raden Wijaya menyandang gelar Kertarajasa Jayawardana, merupakan bukti ia berdarah Rajasa, trah Girindrawangsa atau Rajasawangsa, keturunan Ken Arok yang bergelar Rangga Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Meski saya berada pada keyakinan saya, hanya melalui lorong waktu saya bisa mendapatkan keyakinan dan kepastian, anak siapakah Raden Wijaya, saya lebih percaya Raden Wijaya Kertarajasa Jayawardana adalah cucu Mahisa Cempaka, anak dari Dyah Lembu Tal. Soal Lembu Tal? apakah ia perempuan atau laki-laki, sekali lagi itu juga wilayah sejarah yang tak mungkin diklaim, meski dengan keyakinan, Lembu pastilah laki-laki.
    Saya pribadi, saya mengalami kesulitan mempercayai apa yang ditulis Wangsakerta.
    Namun saya akan berterimakasih bila sahabat Galuh berkenan berbagi dengan saya soal sumber yang baru saja disebutnya yang bertarikh 1294 (bayangkan, tulisan itu dibuat sezaman Kalagemet), siapa tahu dengan mengkajinya pemahaman saya akan berubah.
    Anda orang Sunda yang mencaci maki orang Jawa, dan Anda orang Jawa yang mencacimaki orang Sunda, dan atau siapa pun Anda yang tidak memiliki jiwa persartuan dan kesatuan dan punya kegemaran mengipas-ngipas, betapa naifnya Anda.

  232. #232
    gravatar

    Mas Langit, ane mo nanya ney. Siapa siy Ibunda Raden Wijaya?
    Trims ya.

  233. #233
    gravatar

    Percuma aja lo nanya Tung, pasti nggak akan bisa dijawab. Justru di sanalah letak irrasionalisme pemikikaran wong jowo (tidak mengakui kalau Rakyan Jaya Darma seorang Raja Sunda sebagai Ayahanda Raden Wijaya. Dan Dyah Lembu Tal, Ibunda Raden Wijaya, oleh wong jowo malah dikatan sebagai LAKI-LAKI,

    Dari tulisan di atas dapat dilihat bahwa, menurut wong jowo,Dyah Lembu Tal adalah Ayahanda Raden Wijaya, serta Raden Wijaya tidak memiliki Ibu (irrasional bukan…??)

  234. #234
    gravatar

    Sebaiknya kita koreksi yang sering kita dengar dan baca dalam berbagai media umum maupun akademik (sejarah) mengenai peran Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk dan Gajah Mada pada masanya. Jika dikatakan sebagai pemersatu Nusantara, apa itikad untuk mempersatukannya?
    Bangsa Indonesia dengan berbagai suku dan agama bersatu secara sadar karena telah dijajah selama berabad-abad oleh Belanda. Kerajaan Singasari mempersatukan beberapa kerajaan untuk menangkal ancaman dari Bangsa Mongol.

    Majapahit?????

    Adalah salah satu fakta sejarah dan budaya politik kerajaan bahwa suatu bangsa menguasai bangsa lain yaitu untuk menundukan serta selanjutnya menguras apa yang menjadi sumber daya bangsa yang dikuasai untuk kesejahteraan bangsa yang menguasai. Mekanisme pengurasan tersebut diberi label yang populer dengan sebutan upeti dalam bentuk sumber daya alam (ekonomi) maupun manusianya.

    Terlepas dari adanya peristiwa Pasundan Bubat,apa yang disebutkan bahwa Majapahit, Hayam Wuruk dan Gajah Mada sebagai pemersatu Nusantara oleh kebanyakan orang sampai saat ini, pada kenyataannya merupakan suatu bentuk agresi dan penjajahan demi menguras dan mengangkut kekayaan sumberdaya bangsa yang ditaklukannya yang dibungkus dalam bentuk upeti kepada raja Majapahit. Tidak pernah tercatat ataupun terdengar ada suatu bangsa atau kerajaan lain yang menjadi ancaman terhadap Kerajaan Majapahit pada masa itu, sehingga para petingginya beritikad untuk mempersatukan Nusantara.

    Ini hanya pendapat pribadi.

  235. #235
    gravatar

    Saya tidak ingin memihak siapapun juga.Yang anda_anda maksud dengan orang jawa itu mereka semua ya?Dulu menurut buku sejarah(maaf)kebanyakan yang mempersatukan dan membentuk negara ini orang Jawa Tengah(Orang Jawa Tengah kan terkenal sebagai orang sabar,penengah dan pakai sabar)makanya dalam pakaian adat keris di pakai di belakang.Hal ini bukannya takut,tetapi lebih mengutamakan otak dan hati.Liat Jenderal Soedirman,Jenderal Ahmad Yani,Ki Samanhudi(Pendiri SDI/Serikat Dagang Islam),dsb,Tapi soal harga diri liat ada Pangeran Diponegoro.Bahkan dalang wayang kulit yang diakui di dunia Internasional kebanyakan dari Jawa Tengah(Dalam wayang menceritakan tentang budi pekerti).Dari segi bahasapun yang digunakan ada berbagai tingkat bahkan sampai yang paling halus.Ini kenyataan hampir tidak ada bentrokan antar suku yang melibatkan suku Jawa Tengah(Langka),Orang luar negeri kalau saya tanya terutama yang berkunjung ke keraton Solo,mereka berpendapat orang sini ramah,nggak suka kekerasan,tidak sukabikin ribut(maaf).Itu yang komentar mereka lo.Saya minta jangan menyudutkan orang Jawa dengan hanya melihat sebagian saja,Karena saya yakin semua orang tidak memandang suku atau negara pasti ada yang buruk perangainya,Sudah menjadi rahasia umum,bahwa orang baik(suci) dengan orang jahat banyak orang jahat.Jawa Tengah(Anteng & Nengahi/Tenang & Penengah),Ingat semua agama mengajarkan kesabaran, bertutur kata halus,musayawarah dsb.Hidup Indonesia.

  236. #236
    gravatar

    Sudahlah Mas Langit, nggak usah ditanggapi, percumah. Mending Mas Langit membuang waktu untuk menulis daripada melayani orang-orang yang apriori.

  237. #237
    gravatar

    untuk Ronggur :
    ayahnya Raden Wijaya adalah Lembu Tal, jadi ibunya Raden Wijaya adalah Nyonya Lembu Tal. Gitu aja kok repot.

  238. #238
    gravatar

    sok arulin ka dieu ka astana gede tempo ku maraneh yeuh di dieu loba bukti sajarah arulik teangan innformasi na mun perlu gali deui taneuhna tong poho ka kuncen na da uing nu ngurus ieu situs teh pamarentah mere saeutik, nu datang ukur datang teu ngalalarti rek urang sunda rek urang jawa ku mamang mah datarima ngan sing alakur da ayeuna mah ayeuna teu kudu aya perang. mun teu ngarti pang bahasa indokeunlah

  239. #239
    gravatar

    saya mah lagi baca GM : Perang Bubat… Selamat membaca…

  240. #240
    gravatar

    Ini adalah gambaran betapa berbahanya orang jawa, sudah jelas masalahnya hitam putih semua orang tau, membunuh rombongan yang dipersiapkan untuk melangsugkan pernikahan dengan persenjataan alakadarnya hanya sebagai hiasan adalah tindakan pengecut, tetapi masih tetap dibela apalagi kalau masalahnya agak abu-abu jangan harap bisa menang dengan orang jawa dengan berbagai argumennya

    Apa tidak merasa malu sebagai manusia dan suatu suku merasa menang perang terhadap rombongan pengantin yang terdiri dari para emban, pejabat, dan para prajurit yang bersenjata hanya sebagai hiasan dan tidak dipersiapkan untuk perang?Kalau kaum saya sendiri yang melakukan itu sungguh sangat malu dan suatu aib.

    Inimah malah mencari pembenaran dengan khayalan2 suadara langit kreshna

    Kerajaan majapahit itu dengan idenya hamukti palapa tidak bedanya dengan kerajaan Belanda, dua-duanya bermental penjajah yang satu imperialis berambut pirang satu lagi imperialis berambut hitam, jangan mau ditipu dengan kata2 persatuan, coba orang majapahit sendiri(jawa) mau ga disatukan sebagai bawahan oleh suku lainnya, mau engga hayooooo?

    Perlu diketahui orang sunda punya pengetahuan “Pustaka Ratuning Bala Sariwu” suatu taktik perang yang hebat, tapi semua itu tidak digunakan untuk penjajahan kerajaan lainnya, kerajaan sunda menganut ajaran saling menghargai dengan kerajaan lainnya, untuk daerah timur ke daerah jawa, kerajaan sunda telah membuat batas Cipamali(Kali Brebes) atau sungai larangan artinya orang sunda atau kerajaan sunda dilarang melanggar garis batas,ajaran itu mengamantkan kerajaan sunda agar tidak mencaplok kerajaan lainnya, khususnya jawa. Jadi bukan berarti tidak mampu atau tidak berani tapi kita mengembangkan ajaran damai.

    Bisa dibayangkan kalau kerajaan sunda mengandung falsafah ekspansif seperti jawa, maka tanah ini akan banjir darah akibat dua kerajaan ini saling bantai, JADI JANGAN DIKIRA KITA SUNDA ENGGA MAMPU ATAU ENGGA BERANI NYERANG, KALAU SAMPAI ORANG SUNDA AGRESIP NYERANG BARU TAHU RASA LUH

  241. #241
    gravatar

    Setuju Gajah Mada sebetulnya penjahat perang, tangannya penuh dengan darah rakyat Nusantara yang menjadi korban imperialismenya, khusus mengenai perang bubat gajah mada perlu diseret ke mahkamah perang karena tidak berperang secara ksatria, tapi bertanding pengecut menyerang rombongan nikah yang terdiri dari para wanita dan para prajurit yang tidak bersenjata lengkap, yang bangga terhadap gajah mada hanya orang jawa saja dan sebagian orang yang tak punya hati nurani atau orang yang terpedaya dengan propaganda persatuannya GM,yaAAH dasar suku jawa memang SUKU PENJAJAH

  242. #242
    gravatar

    Gelar GM sebagai Pahlawan Nasional sebaiknya dicabut sebab tidak relevan, sebab masa NKRI & Majapahit sudah beda masa,, Justru pada zamannya GM (Majapahit) dia lebih bersifat Agresor untuk kerajaan2 Tetangga/Wilayah Nusantara lainnya contohnya dengan kerajaan Sunda. Dalam pandangan daerah lain selain Jawa GM bersifat Penjajah.

  243. #243
    gravatar

    eh…eh..eh…
    kalian2..ngapain sih pake ribut-ribut segala karena masa lalu…..

    cuma orang menurut saya pikirannya dangkal aja yang masih ribut2 karena crita masa2 lalu….

    apakah sih urgensinya karena masa lalu kita jadi saling membenci….bahkan sampe2 berpengaruh terhadap masalah perjodohan segala lagi…. cm gara2 crita masalalu orang mo kawin gak boleh

    perlu dipikirkan oleh kita semua, cerita ataupun tragedi di masa lalu meskipun itu fakta sejarah sekalipun itu adalah perbuatan dan tanggung jawab pelaku di masa itu……

    memang harus diakui sih emang sulit juga bagi kita melepaskan diri dari ikatan emosional primordial masing2 kita…. tapi mang perlu diupayakan sih

    nah untuk kita di generasi sekarang, apa mesti sama karakter dgn pelaku pristiwa yang lampau dan apakah kita yang hanya karena sama ikatan primordialnya harus menanggung kesalahan serta apakah untuk di pihak yang dahulunya korban apakah mesti harus bersikap trauma trus menerus..???

    saya rasa ayat brikut adalah jawaban paling arif::

    …..janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa……
    (Q.S Al-Ma’idah: 8)

  244. #244
    gravatar

    ===
    ====
    ======

    saya rasa ayat brikut adalah jawaban paling arif::

    …..janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa……
    (Q.S Al-Ma’idah: 8)

    =======
    =====
    ===

  245. #245
    gravatar

    Menurut cerita patih gajah mada mati di aceh waktu menalukkan aceh, pada saat berberang melawan laskar aceh di aceh bagian timur yaitu taiming

  246. #246
    gravatar

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITHRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

  247. #247
    gravatar

    Wah ternyata om LKH masih memantau ini blog, Wajar sih masih selalu hangat dibahas.

  248. #248
    gravatar

    Ki Patih Gajah Mada, Mahapatih kerajaan Majapahit yang terkenal dan sangat dikagumi , ternyata adalah murid dari KI Hanuraga, sesepuh Generasi III, Paiketan Paguron Suling Dewata .

    Menurut Parampara Perguruan Seruling Dewata, khususnya saat menceritakan kisah ketua angkatan ke III , Ki Hanuraga ( atau Ksatria Suling Gading ), tersirat kisah hidup Gajahmada . Gajahmada, lahir di desa Mada, Mada Karipura, beliau ditemukan sekarat oleh seorang Maha Yogi Ki Hanuraga, di Jawa Ki Hanuraga di kenal dengan nama Begawan Hanuraga sedangkan di Bali beliau dikenal dengan nama dengan sebutan Mahayogi Hanuraga ( Sesepuh Generasi III Perguruan Seruling Dewata )beliau menguasai 72 kitab pusaka yang mempelajari 72 ilmu silat dan diwarisi oleh sesepuh sesepuh sebelumnya seperti Ki Mudra dan Ki Madra sesepuh Generasi II, serta Ki Budhi Dharma sesepuh generasi I yang di diksa pada abad ke 5 – caka tahun ke 63 – bulan ke 11- hari ke 26 ( caka warsa 463 ). mengenai Gajahmada , diceritakan, bahwa Gajahmada kecil bernama I Dipa, dia memanggil Ki Hanuraga dengan sebutan Eyang Wungkuk, dan belajar ilmu kanuragan selama 5 tahun sambil mempelajari ilmu ketata Negaraan , I Dipa ( Gajah Mada Kecil ) adalah seorang yg tdk memiliki siapa-siapa ( sebatang kara ), sebagai pengembala kambing. Perkenalan Mahayogi Hanuraga dgn I Dipa ( Gajahmada ),terjadi saat Ki Hanuraga melakukan pengembaraan ke tiga kalinya mengelilingi Nusantara ( kala itu di sebut Nusa Ning Nusa ) , sebelum Mahayogi sakti ini kembali ke Pertapaan Candra Parwata di Gunung Batukaru di Bali ketika usia beliau sudah sepuh ( tua ), sesuai tradisi Perguruan sebagai seorang Mahayogi harus kembali ke pertapaan. Mahayogi Hanuraga menemukan Gajahmada, dipinggiran hutan dalam keadaan pingsan, antara hidup dan mati, karena kasihan Maha Yogi Ki Hanuraga mengobati dan menyembuhkan luka dalam Gajahmada. dari Ki Hanuraga-lah I Gajahmada, belajar ilmu silat dan kanuragan , serta mengajari ilmu Tata Negara dan tercatat sebagai siswa Paiketan Paguron Suling Dewata di bawah bimbingan langsung sesepuh Generasi III , Ki Hanuraga. Gajahmada Kecil sering di ejek oleh teman temannya, karena dia memiliki kuping yg lebih besar dari kuping orang normal, sehingga dia di panggil I Gajah dari Desa Mada. kelak semua tahu bahwa nama Gajahmada inilah yang akhirnya menjadi terkenal di seluruh Nusantara sebagai Mahapatih yang maha sakti. ( di sadur dari Majalah Watukaru , Majalah bulanan Perguruan Seruling Dewata, )

    berikut beberapa petikan yang diambil dari Parampara Perguruan mengenai Ki Gajahmada dan Ki Soma Kepakisan , seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga atau Ksatria Suling gading , sesepuh Generasi Ke III, Perguruan Seruling Dewata .:

    Ki Gajahmada

    ini adalah pengembaraanku yang ketiga dan merupakan yang terakhir menjelajahi Nusantara. ketika aku melangkahkan kakiku dengan santai di pinggiran hutan dekat sebuah desa yang bernama desa Mada atau lengkapnya Madakaripura pada sebidang tanah datar pandangan mataku tertumbuk pada seorang anak yang sedang mengelepar bergulingan di tanah seperti sedang sekarat. aku segera melompat ringan dan setelah dekat ternyata seorang anak berusia sekitar empat belas tahunan. tubuhnya sebenarnya tegap, tapi entah kenapa mengelepar gelepar seperti sekarat menahan siksaan berat, tubuhnya memancarkan sinar merah, dan hijau berganti ganti ,berkali kali anak itu ingin berbicara kepadaku, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnua hanya tangannya saja yang menunjuk nunjuk sebuah goa di pinggir hutan. dengan sigap aku melompat ke mulut goa, didalam goa aku melihat seekor ular naga Wilis sebesar pohon pisang yang panjangnya sekitar delapan depa, mati kehabisan darah, dan ada bekas gigitan di tubuh ular naga wilis ini, didekat bangkai ular naga wilis ada cahaya merah, setelah ku dekati ternyata ” Ong Brahma ” sebuah jamur berwarna merah sebesar niru, yang sebagian besar habis tercabik cabik, ” Ong Brahma ” adalah sebuah mustika langka yang menjadi rebutan kaum persilatan karena mampu melipatgandakan tenaga panas menjadi seribu kali lipat. rupanya ular naga wilis ini adalah penjaga Ong Brahma yang langka ini.bersyukur anak ini berjodoh dan bertemu denganku , jika tidak bertemu pesilat berilmu tinggi anak ini dapat dipastikan kematiannya, sebab minum darah ular saja bisa mati membeku kedinginan apalagi makan ” Ong Brahma ” akan kepanasan darah mengering . jika makan keduanya akan tersiksa panas dan dingin secara bergantian dan akhinya mati.tenaga dalam yang berhawa panas dan dingin yang bergejolak saling mematikan , aku isap habis habisan dengan tenaga sakti isap bhumi, diselaraskan dalam dirinya, lalu disalurkan kembali ke tubuh anak ini sehingga seluruh nadi terbuka, seluruh garanthi ( simpul nadhis ) terbuka, tujuh cakra besar terbuka dan Kundalini terbangkitkan seketika, tenaga dalam masih berlebihan terpaksa dibagi ke 108 nadis di seluruh tubuh anak ini , baru dapat membebaskan anak ini dari kematian. dari kemalangan terancam kematian mengerikan , berubah menjadi keberuntungan luar biasa, impian seluruh dunia persilatan dengan terbukanya seluruh nadhis, garanthi, cakra dan bangkitnya kundalini, orang biasa membutuhkan latihan puluhan tahun untuk mencapai tingkatan seperti ini. setelah setengah hari anak ini pingsan, akhirnya sadar juga, wajahnya cemerlang berseri seri, begitu anak ini sadar langsung berlutut dihadapanku, rupanya anak ini sadar juga bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya, setelah mengucapkan terimakasih anak ini mulai menuturkan riwayat hidupnya.anak ini bercerita namanya ” Dipa” , tidak tahu siapa orang tua kandungnya sejak kecil ia sudah menjadi tapa daksa ( anak yatim piatu ), dan harus bekerja pada tuan tanah untuk menanggung hidupnya dia ditugaskan mengembala sapi, anak yang kehilangan sapi dihukum keras dicambuk, dipukuli bahkan jika berkali kali dipotong tangan atau kakinya. anak ini bercerita bahwa dia telah kehilangan kambing 3 kali dan tentunya dia takut kembali karena akan menerima hukuman yang sangat berat bisa bisa di hukum potong tangan atau kaki, sehingga untuk menghindari hukuman tersebut dia mencari ular naga wilis yang memakan kambingnya dan melarikannya ke dalam goa, ketika dililit sama ular naga wilis , Dipa menggigit tubuh ular dan meminum darahnya, ketika ular itu mati kerena kehabisan darah, ia merasa haus dan kelelahan dan melihat jamur merwarna merah yang meneteskan air dan ia pun langsung meminumnya dan meremas remas jamur tersebut agar mendapatkan lebih banyak air karena rasa haus sehabis berkelahi dengan ular naga wilis. syukur hamba ( Dipa ) bertemu dengan tuan ( Ki Hanuraga ) , dan nyawa hamba berhasil diselamatkan , sekarang hamba rasanya kuat , segar bugar, mulai sekarang hamba berguru kepada Tuan dan ikut kemanapun Tuan pergi, daripada hamba kembali ke desa akhirnya di hukum potong tangan atau potong kaki dan menjadi cacat seumur hidup.aku tersenyum dan menerimanya sebagai siswa, namun aku hanya berjanji mengajarkannya selama lima tahun saja, Dipa sering menyebutku dengan Eyang Wungkuk, aku terpaksa menetap di hutan bersama Dipa selama lima tahun mengajarinya ilmu silat dan ilmu ketatanegaraan. aku menyimpulkan bahwa Tenaga dalam Dipa sudah sangat dahsyat melebihi pendekar tangguh , sehingga aku hanya perlu mengajarkan ilmu silat dan senjata serta tehnik bertarung . kalau memungkinkan mengajarkan ilmu ketatanegaraan, siapa tahu ia mengabdi di sebuah kerajaan di kemudian hari. mulai saat itu anak yang bernama Dipa mulai digembleng ilmu ilmu rahasia Gunung Watukaru, baerlatih siang dan malam, tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah, tiada menghiraukan lapar dan haus , berlatih tanpa henti , tidak menghiraukan panasnya matahari dan teriknya hujan berlatih dan terus berlatih, tiada hari tanpa berlatih…………

  249. #249
    gravatar

    Sesakti-saktinya gajahmada gak bakalan berani maju ke Tatar Sunda makanya di jebaklah Prabu Sunda Galuh di bubat.

    Majapahit sendiri memang rajanya adalah keturunan sunda,
    kalau tidak nama rajanya pasti seperti ini

    - Raden Wijoyo
    - Joyonegoro
    - Ayam Wuruk

    Dari selera saja keliatan bahwa Hayam Wuruk lebih nepsong ama Diah Pitaloka karena memang sama-sama berdarah sunda dari pada gadis-gadis jawa disekitarnya.

    Kayaknya target Gajah Mada selanjutnya adalah melakukan kup terhadap Hayam Wuruk sayang keburu ketahuan dan di usir dari Majapahit.

  250. #250
    gravatar

    senja di langit bubat.
    seusai membeli blackberry,miss dyah coba sms kekasihnya.
    “mas,maaf ganggu ya…makasih transferannya,aku dah beli black bery nya.kamu lagi ngpaian,jadikan malam minggu kita ketemuan di bubat park,,balas ya.makasih.

    selang 1 jam jawaban baru datang,
    “maaf..,ini neng dyah ya?,ini oom mada.maaf den bagus lagi flu,den bagus lagi ke dokter,tapi hape nya oom yang pegang,nanti oom bilangin,kamu apa kabar,neng?

    dengan tergesa-gesa neng dyah menjawab,
    “ya udah oom,,kalo ghitu jemput dyah di bubat park ya minggu depan,jangan lupa bilangin ama den bagus kalo dyah mo naik kapal pesiar,capek dech kalo jalan darat..ga pedhe ah.o iya oom mada pakabar juga,ampe lupa…”

    selang 5 menit,jawaban pun datang..
    “Neng,kabar si oom apik alias baik..ini lagi main di malioboro lagi ng net,rame tenan lo neng.oom lagi belajar huruf alphabeth nich ,lucu2..ini neng ada yg bahas cerita kita2 lho..padahal oom rasa kita2 mah egp ya,lagian ga ada hubungannya ma kita,tapi kok mereka pada bangga ama kita2..silakan neng masuk ke blog ini..

    neng dyah menjawab..
    “aduh si oom,kemajuan..tapi maaf ya dyah juga lagi bleeching nich,mo ganti warna rambut,mau yg kayak mulan jameela..oom nyante aja ya.maaf oom di ganggu.

    selang berikutnya,,,
    “hehehehe…sama2 neng,si oom juga harus donk belajar mah,malu donk jagain si den bagus ga punya ilmu mah.ya sudah neng lanjutin aja ya..nanti oom bilangin den bagus pesennya ya..take care.

    “iya ,oom makasih,,jgn lama chattingnya ya oom,,nanti di omelin den bagus lagi.jgn lupa ..jgn terlalu banyak baca berita,nanti kena gossip murahan lagi,uda ya..

    akhirnya neng dyah matiin black berry nya lanjut ke salon…..

    ..maaf penulis lagi nunggu neng dyah buat minta konfirmasi acara ke bubat park nya..tunggu ya.

    peace.

  251. #251
    gravatar

    sabar..sabar..yang arif..semua mawas diri dan jangan malah cari keuntungan pribadi apalagi membahayakan negeri ini (nah yg begini boleh digebukin rame-rame)..niat suci penyampaian salah bisa bahaya, itu kita tahu. ada ada saja lho..walau yang harus sama-sama tetap sepakat bahwa sejarah memang harus otentik..jadi apapun adanya ya kepala dan hati tetap bening sejuk..sebening sesejuk air telaga-telaga yang bertebaran diseluas nusantara ini yang harus senantiasa disyukuri dan dipertahankan. matur nuwun..hatur nuhun..terimakasih..alhamdulillah

  252. #252
    gravatar

    saya kenal mas Langit waktu kos di Goasari jebres solo tahun 80-an… dan disana mas Langit dapat jodoh anak penjual klontong… memang dia hebat… dulu yang aku lihat beliau sering membuat naskah sandiwara radio utk radio PTPN solo pakai mesin ketik sebelas jari …dan sekarang menjadi pengarang hebat…salut buat mas Langit.. kelingan ra.. kamar kosku jejer kamare mas Wikan yang orang Banyuwangi…kostnya Bu Marjan

  253. #253
    gravatar

    Salam perdamaian dan persatuan untuk saudara2ku semua sebangsa setanah air..

    Mohon izin saya ikut nimbrung. Nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu (gama_hnnr@yahoo.com), keluarga tinggal di Bandung..
    saya lulusan S1 Teknik Industri di UGM dan sedang mengambil S2 Manajemen Industri di Tehran University, Iran..
    Dulu kdg sy dipanggil dgn nama “Gamma” (simbol alfabeta yunani), gama (potongan agama yg salah satu tafsir artinya “kacau”), atau Gadjah Mada..
    Utk panggilan yg terakhir, si pemanggil merasa bingung, kamu urang Sunda tp kok namamu Gama.. hehe

    Mnurut sy, sejarah yg kita baca itu terbagi 2: pertama, fakta (biasanya gak utuh dan lengkap).. keduanya, analisis..
    Fakta sejarah (yg valid tentunya) itu adalah cermin masa lalu.. untuk dipelajari.. dijadikan bahan renungan n studi.. diambil hikmahnya (ambil yg baik2nya, buang yg buruk2nya)
    Analisis jg tentunya mengandung subyektifitas2.. yg bisa jadi bias kepentingan..
    Kdg dalam proses analisis jg dimasukkan “data” lain yg belum tentu faktual.. itulah keterbatasan (plus kdg bmakna kenakalan) manusia dlm memahami fakta sejarah..

    Leluhur2 kita (yg disinggung ceritanya dalam fakta sejarah itu), terlepas dari kepribadian baik-buruknya, adalah orang2 masa lalu.. dan kita keturunan2nya, adalah orang2 masa sekarang, yang tentunya BUKANLAH MEREKA..
    Setiap kebaikan dan kesalahan yang mereka perbuat dalam masa hidupnya, adalah tanggung jawab mereka.. begitu pun perbuatan kita saat ini..
    Kebaikan2 mereka perlu kita warisi, keburukan2 mereka harus kita jauhi..
    Kita hidup dgn TUGAS dan AMANAH BARU.. di alam baru.. di ruang baru..
    Saya yakin mereka yg benar2 memiliki hubungan darah dan atau hubungan emosional dgn kerajaan2 di masa lalu akan lebih arif n bijaksana melihat peristiwa sejarah.. Mengapa? Karena mereka memiliki perspektif yg lebih luas.. tidak sesempit kita orang awam.. mereka misalnya melihat peristiwa sejarah juga tdk hanya dari sisi lahirnya peristiwa itu, tp jg melihatnya secara metafisik.. sehingga kesimpulan2nya pun lebih kaya (dan kadang klo seorang awam mendengarnya, dia akan terkaget2)..
    Kayaknya sudah saatnya kita melihat nilai kemanusiaan itu dijadikan parameter dan individu (bukan suku/ras/agama) sbg objek.. dgn perspektif tsb, kita akan terhindar dari generalisasi yg jauh dari kebenaran.. dan mendudukkan persoalan penilaian manusia dalam timbangan keadilan..
    Jd klo lah sy ini Anda nilai buruk, bukan krn sy dari suku anu, ras anu, atau pemeluk agama anu.. tp krn salah sy sendiri, sy tdk mengembangkan nilai2 kemanusiaan yg baik dlm diri sy.. begitu pula klo sy Anda nilai baik..
    Terakhir, sy yakin siapapun di antara kita yg telah menggunakan perspektif yg salah dalam melihat kasus2 yg dibahas di forum ini, kemudian mengambil kesimpulan yg keliru darinya.. telah, sedang, dan akan mengalami kesulitan2 dalam bersosialisasi di masyarakat, dimanapun dia berada.. dan hal itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga dan orang lain.. tentunya kita tdk ingin seperti itu.
    Mohon maaf bila ada tidak berkenan. Trims. :-)

  254. #254
    gravatar

    mengenai perang bubat.. menurut para karuhun sunda, gajahmada adalah seorang yang pengecut….

    bagi yang mampu menembus “alam lain” di dunia ini.. akan terdapat kebenarannya….

  255. #255
    gravatar

    perlu diingat bung !
    SBY, Bung Karno adalah keturunan Majapahit !
    kenapa hai kamu2 yang mengaku orang sunda (jawa gunung) tetap mengagumi beliau?
    liat juga bagaimana orang jawa sangat menghormati orang sunda di daerah perbatasan…….
    Brebes walaupun jawa tetapi untuk kecamatan tertentu di sekolah2 tetap ada pelajaran muatan lokal bahasa sunda…………
    di jawa barat ? apakah dulu ketika di banten/cerbon masih menjadi bagiannya ada muatan bahasa jawa?
    oarang jawa tengah/clacap sabar dan nrimo ketika daerahnya diberinama dengan nama sunda (disundakan) menjadi cilacap.
    ini bukti keserakahan dan kedengkian suku sebelah……
    liat juga film terbaru XXL besutan orang sunda pasti dia lebih mengagung2kan orangnya sendiri dan menjelek2an orang lain, penuh dengan subjektifitas….

  256. #256
    gravatar

    Kisah Pasundan Bubat di Kidung Sunda dan Pararaton adalah move Politik Pemerintah Kerajaan Bali pada saat itu untuk membendung meningkatnya ekskalasi politik Susuhunan Agung dari Mataram. Kisah tersebut tidak nyata dan juga merupakan perlambang bahwa kekuasaan raja Majapahit hanya merupakan simbol semata. The king can’t do no wrong.

    Munculnya move politik itu kemudian dijawab oleh para penguasa Mataram dengan mendekatkan leluhur mereka dengan Sunda dengan membuang kisah Singhasari di Babad Tanah Jawi. Pendekatan ini politik ini pada masa lalu terbukti berhasil sehingga Mataram tidak mendapat penentangan kuat seperti yang diinginkan para raja Bali. Sumber: Meluruskan Penyimpangan Sistematis Sejarah Majapahit.

  257. #257
    gravatar

    Untuk cah brebes pola pikir orang seperti andalah yang bikin negara ribut melulu. Anda bersikaplah objektif dan jangan sombong sebagai suku jawa. Adalah fakta orang jawa banyak yang berjuang melawan Belanda, adalah fakta juga banyak pengkhianat dari suku jawa, Banyak pula orang jawa jadi pejabat, banyak juga orang jawa jadi koruptor dan penjilat. Gajah Mada adalah seorang bajingan dan pembantai adalah suatu fakta, suatu fakta juga bahwa bung Karno di kagumi orang Sunda. Kita membenci Gajah Mada bukan membenci suku jawa, karena Gajah Mada adalah lambang sifat serakah dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga dapat di pahami oleh orang seperti cah brebes ini supaya tidak melebar kemana2. Kita hanya jengkel saja ko orang salah dibela-belain hanya karena terdoktrin oleh ajaran sesat “demi persatuan” yang sebetulnya penjajahan terhadap daerah lain. Anda tau rasanya dijajah belanda, seperti itulah perasaan daerah2 lain saat di bawah kerajaan Majapahit. Terakhir apa maksud anda dengan film XXL

  258. #258
    gravatar

    dalam konteks kehidupan bermasyarakat sekarang seharusnya masalah-masalah lama gak usahlah diungkit2 apalagi dibawa kepermukaan seolah2 disatu sisi suku yg satu lebih baik dari yg lain.apalagi yg saya dengar budayawan sunda menginginkan jabar berubah nama menjadi provinsi pasundan dan melepas nama jawa didepannya.mohon maaf klo saya liat konteks ini bukan berdasar sejarah tapi dari keinginan sejarawan2 sunda yg ingin mengangkat kebudayaan sunda itu sendiri karena kita tau selama ini suku jawa merupakan suku mayoritas dihampir seluruh indonesia bahkan untuk jabar jawa bersaing dengan suku asli sunda..apalagi ketika orde lama dan orde baru berkuasa jawa benar2 menguasai indonesia.dan ketika setiap presiden kita berasal dari jawa.mgkn dari sini sejarawan sunda maaf,berfikir kenapa kita harus tunduk atas jawa karna dalam pemikiran mereka penduduk mereka byk kenapa tidak dapat memimpin negeri ini,,,,yg saya herankan lagi kasus ini pun harus diungkit ke sejarah perang bubat..padahal masyarakat jawa khususnya jatim tak pernah memikirkan terjadinya perang ini karena mereka menganggap sejarah biarlah jadi sejarah,,karna jika sejarah diungkit sama saja dengan berfikir mundur dan cenderung merasa jati diri kita sebagai warga negara luntur..yg ada hanya mengungkit2 sejarah yg sdh berlalu dan tak akan membawa keuntungan selain harga diri itu sendiri..saya selaku masyarakat jawa yg lama dikalimantan menghimbau semua pihak udahlah,,masalah apakah perang bubat itu menjatuhkan jati diri orang sunda atau pengangkatan sejarah ini ada unsur politisnya,mengenai kepemimipinan jawa di NKRI..jangan merusak kekerabatan kita sebagai penghuni pulau jawa khususnya dan warga negara indonesia umumnya..

  259. #259
    gravatar

    to: komen yg menilai sebelah mata orang jawa
    dari sekian komen diatas gw bisa nangkap… masalah ini sepele orang sunda gak terima orang jawa menjadi presiden atau memimpin orang sunda selain itu byk org jawa yang sukses, ini pelajaran utk orang sunda,kalian harusnya mencontoh kerja keras orang jawa,orang jawa itu gak malu jadi pedangang didaerah lain, orang jawa itu juga pekerja keras gak malu.. bukan kalian yg kerjanya santai gosip hal2 yg gak penting dan sdh lama telah berlalu,pemikiran orang inilah yg kurang bisa ditempatkan dipemerintahan jadi kalian sadari dong apa kelemahan kalian,orang makassar aja yg keras bisa menjadi presiden dan wapres karena semua itu perlu adanya kerja keras dan hindari gosip…….jadi kalian gak bisa menafsirkan suku jawa itu seperti itu karena jawa itu byk ada jawa tengah dan jawa timur…MAAF SAYA BUKAN MELECEHKAN ORANG SUNDA TAPI KOMEN DIATAS SUDAH MEMBUAT SAYA TERKEJUT DAN SAKIT HATI ATAS PERNYATAAN YG BERBAU SARA…………………………………………………………………………!!!!

  260. #260
    gravatar

    To: Komen diatas saya yang mengatakan komennya untuk orang yang menilai jawa sebelah mata?…

    lalu apa bedanya dengan anda mas?, anda seolah2 menggurui tanpa sadar anda sendiri sama halnya dengan orang yang anda quote komennya itu, jika anda merasa bijak bukan begitu cara penyampaiannya, dengan memberikan komen seperti itu, sama halnya dengan anda sedang menceritakan kejelekan anda sendiri, kenapa?, anda sebelumnya pasti bertujuan ingin meluruskan komen2 sebelumnya, namun apakah anda sadar, anda juga telah menyinggung orang lain, pada komen yang anda tuliskan diatas?…jika mau bersikap bijak jangan sekali2 menjelekan orang lain untuk melindungi “PEMBENARAN” sendiri…

    Untuk yang mengatakan sunda = JAWA GUNUNG, kami memiliki silsilah sendiri, kami memiliki nenek moyang dan pendahulu sendiri yang berbeda dengan suku anda(maaf), kami suku sunda adalah suku yang sudah ada sejak lama di pulau ini, ingat pula kerajaan di BUMI PASUNDAN (Salakanagara (tahun 130-168M) dan Tarumanegara)lebih dulu ada dibanding di tempat anda, jadi anda salah jika anda menganggap kami seperti itu(maaf saya sangat tersinggung dengan ucapan anda itu). dan harus anda ketahui dan sadari pula, yang mempersatukan kita saat ini bukanlah nama MAJAPAHIT, atau JAWA(maaf jika saya rasis), tapi adalah sebuah nama INDONESIA, yang didirikan berdasarkan kesadaran masing2 suku yang merasa senasib karena telah dijajah oleh penjajah dari kerajaan NETHERLAND, bukan karena MAJAPAHIT, karena orang di luar suku anda pasti merasakan kalau MAJAPAHIT itu tak ada bedanya dengan penjajah BELANDA…tolong di cermati dan di perhatikan secara mendalam hal tersebut, janga anda menjadi EGOIS karena merasa MAJORITAS…terima kasih dan mohon maaf…

  261. #261
    gravatar

    Figur Gajah Mada menjadi besar merupakan jasa peneliti Belanda yaitu Kern dan Krom. Pengangkatan Gajah Mada sebagai Pemersatu Nusantara ala Pararaton dilakukan oleh mereka. Sekalipun mereka (para penulis sejarah awal Majapahit) itu menolak data Pararaton, namun dalam akhir kesimpulannya, data tersebut digunakan. Ini menjadi sangat rancu.

    Tujuan akhir tulisan Kern dan Krom sebenarnya jelas yaitu Majapahit pernah besar namun sementara. Kebesaran Majapahit diperoleh dengan kekerasan, dengan kata lain Jawa menjajah luar Jawa. Maka data Pasundan Bubat dieksposnya hingga naskahnya berseri-seri. Ada Kidung Sunda A, Kidung Sunda B dan Kidung Sunda C. Endingnya: agar kesatuan Nusantara tidak ada. Semacam devide et imperalah.

    Informasi Prapanca yang jelas menyebut tidak ada kata jajah menjajah dalam kesatuan nusantara saat itu dikesampingkan. Menurut Prapanca, model kesatuan Nusantara itu bila dikondisikan dengan keadaan saat ini, mirip-mirip kesatuan negara-negara federasi di Amerika Serikat. Kedaulatan keluar dipegang oleh kerajaan Majapahit dan kedaulatan kedalam dipegang oleh masing-masing negara.

    Ini bisa dilihat seperti misalnya Raja Malaka dan Hang Tuah (Versi Hikayat Hang Tuah atau Sejarah Melayu) meminta pulau di luar wilayahnya namun dekat dengan teritorinya. Mereka harus ijin kepada Majapahit. Namun demikian admin pemerintahan Malaka dipegang mereka sendiri. Baik itu mengenai anggaran belanja maupun penentuan pemilihan putra mahkota (raja pengganti). Namun saat mereka diserang oleh musuh dari Siam, Majapahit datang membantu mereka.

  262. #262
    gravatar

    sebagai masukan buat penulis, supaya dilakukan penelitian lebih detail lagi. Apalagi tema yang diangkat adalah sejarah yang sangat sensitif. Gali lebih dalam catatan2 sejarah dari kedua belah pihak bukan berdasarkan logika anda, agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

  263. #263
    gravatar

    Saya tdk setuju klo Om GAJAH MADA dijadikan sebagai pahlawan nasional. Apa hubungannya GM dan sumpah palapanya dengan NKRI??.. NULL, ga ada sama sekali? lagi pula bukan sumpah palapa yg menyatukan bangsa indonesia, tapi “SUMPAH PEMUDA”. INGAT! “SUMPAH PEMUDA”. KERAJAAN MAJAPAHIT ITU MASA LALU DAN BUKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA. Ini yg menurut saya harus dibedakan dan dipahami.. Jadi tidaklah pantas kalo Om GAJAH MADA menyandang GELAR “PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA. yg pantes tuh “PAHLAWAN MoJoPAHIT”. Bagi saudara2 yg mengakui GM sebagai pahlawan, silaken kembalilah ke masa lalu dan tinggallah di negara mojopahit sono… saya sih ga mau..

  264. #264
    gravatar

    1. buat gw: ngaca lu! Lu pikir org sunda sdikit apa yg pendek, item, jelek, egois, sok bgt, dll. Bnyk tuch.. yg kyk gt.. Scara dasar orangx msh cakep2 tinggi2 org jawa. Orng sunda itu kan yg lumayan bisa dilihat cuma penampilanx doang. Namax aja SUNDA (Suka dandan) / SUNDA (Sukanya cUma dandaN DoaAng) makax orangx males2 n cuma bisa ngejual tubuh

  265. #265
    gravatar

    2. Buat mas Langit KH: maaf mas disini bukan maksud hati ingin SARA tp mreka2 duluanlah yg SARA. saya orang kaltim campuran jawa. Sbenerx saya punya kluarga orng sunda, dia asli pandeglang yg menikah dg salah 1 keluarga saya (laki2) n skarang tinggal dilampung, pd intix ya memang rata-rata begitulah mreka, tp untungx sdr yg saya sebut td tdk bgitu. Disini pesan saya teruslah berkarya n g usah takut, biarkan anjing2 itu menggonggong. Jgn hanya gara2 mreka yg bodoh, g tau apa2, tong kosong nyaring bunyix dan berfikiran sempit itu terhenti toh bagi mreka2 yg pintar n berfikiran luas mengerti akan karya mas so ciayo!

  266. #266
    gravatar

    Ngga sengaja baca komen2 di blog ini, luar biasa juga dari tahun 2006 mpe sekarang masih ada yang komen….ngga basi juga kali klo ikutan…hehe.
    Lucu aja, saking banyaknya komen dalam rentang waktu yang lumayan lama jadi keliatan polanya…panas adem. Kadang biasa, trus mulai panas, trus ada yang mulai ngademin….kirain bakal adem…e..eh ternyata ada lagi yang manasin..terus aja kayak gitu. Akhirnya muter2 aja terus di situ…ngga ada perkembangan. Jangan-jangan replika Indonesia kita ini ya…asik ribut sendiri mpe ngga sadar bahwa akibatnya cuma muter2 di tempat dan orang lain lagi nonton di garis finish, dapet hiburan cuma2 setelah lelah berlomba…hehe. Moga-moga ngga la ya. OOT?
    Oya…saya orang Sunda, istri orang Jawa, sekarang tinggal di Sumatera. Alhamdulillah aman-aman saja.
    Buat Bung Langit….hmm…saya sempet tahun 2008 lalu baca beberapa dari serial Candi Murca, lumayan asik buat bacaan, boleh juga nih yang nulis…pikir saya. Trus sekali waktu, masih di tahun 2008 klo ngga salah, pas lagi iseng di toko buku liat novel anda yang Perang Bubat itu…tertarik dan langsung saya beli. Tujuannya sih buat hiburan di waktu luang sekaligus nambah pengetahuan tentang peristiwa Bubat, penasaran cos orang tua saya dulu pernah bilang ‘kamu tuh jelek-jelek gini juga masih ada trah Pajajaran dan Galuh’….ups! masa sih…ngga yakin juga…ngga ada tampang kayaknya…hehe. Tapi ya tetep aja dalam hati ada rasa kebanggaan….manusiawi donk.
    Akhirnya jadilah saya baca Perang Bubat karya anda itu bos. Awal2nya ok, Patih Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk, Prabu Linggabuana, tokoh2 imaginasi penulis dll…its fine, cos saya jg ngga tau banyak tentang kisah peristiwa Bubat itu. Kejadian menjadi beda sewaktu sampai kepada “imaginasi” penulis ttg Putri Dyah Pitaloka yang “menyerahkan diri” kepada tokoh imaginer saniskara….hmm, kok rasanya agak lain ya….imaginasi ini berlebihan, pikir saya. Ok, hanya karena ingin tau saya baca terus sampe beres meskipun jadi banyak yang di skip karena sudah kurang interest lagi. Selesai membaca saya cuma komentar….sayang sekali, seharusnya ini jadi tulisan yang bagus.
    Novel, imaginasi, mimpi, romantisme, naif…itu beberapa kata yang saya lihat ada dalam tanggapan2 LKH (maaf klo keliru….terlalu panjang sih klo liat lagi ke atas). Mungkin memang benar, bebas2 aja klo mo membangun karakter tokoh dalam novel, mengembangkan imaginasi, memunculkan romantisme, dll…”Namanya juga novel” itu yang banyak dijadikan jawaban. Tapi bagaimana jika karakter tokoh yang dikembangkan itu bukan semata-mata tokoh fiktif? Apalagi yang bagi kelompok masyarakat tertentu memiliki nilai historis leluhur dan bahkan mungkin jadi kebanggaan. Saya kira dalam hal ini penulis novel harus bijak dan memiliki kepekaan dalam mengembangkan imaginasinya agar tidak menggores hati para pengagum tokoh itu, apalagi jika secara historis tokoh tersebut pernah ada dan memiliki “keluarga” meskipun terpisah waktu berabad-abad.
    Sanak keluarga seseorang yang nyata-nyata penjahat pun akan tergores perasaannya jika kejahatan keluarganya tersebut digembar gemborkan untuk dikonsumsi halayak ramai.
    Romantisme….suatu dunia yang sangat luas tak terukur, sebagaimana luasnya perasaan berjuta manusia yang ada di dunia. Saya kira banyak sudut-sudut romantika yang bisa dieksplor untuk menggugah romantisme tanpa harus diakhiri dengan gambaran penyerahan kehormatan wanita, apalagi dalam kondisi yang bagi masyarakat di beberapa belahan dunia merupakan tabu, pelanggaran norma dan etika.
    Naif….bisa jadi kita semua akan menjadi naïf jika kepekaan hati dan pikiran, wawasan, rasa tepo seliro, empati, dll semakin samar tergerus modernisasi jaman.
    Oke Bung LKH, mari kita tingkatkan kepekaan hati dan perasaan dalam menjalankan hidup, saya yakin karya anda bisa jadi lebih baik dan lebih bermanfaat dengan itu…
    Ok deh, kepanjangan ya… maaf klo begitu. Dibaca syukur ngga juga gpp, mohon maaf jika ada salah2 kata or istilah.
    PS.
    Oya, waktu saya dapat kesempatan sekolah di Eropa, klo lg ngobrol2 santai sama temen2 kuliah bule saya kerap tanya pengetahuan mereka ttg Indonesia. Jarang yang tau ada suku2 di Indonesia, untungnya mereka masih tau Indonesia. Begitu ditanya apa yang mereka tau tentang Indonesia….jawaban yang paling banyak adalah corruption dan terrorism…hmm, sayang ya.

  267. #267
    gravatar

    Gajah Mada Tokoh yang Luar Biasa… Tapi Kehebatan & Wibawanya Hancur akibat kekhilafannya menyerang pasukan Sunda yang tak bersenjata dan jumlahnya tak seberapa.. Jangan Pernah Sekali- Kali Meninggalkan Sejarah karena banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari masa lalu.,, Masa lalu merupakan bagian step stone untuk melangkah ke masa depan.

  268. #268
    gravatar

    Bagi saya buku-buku sejarah yang mengatakan majapahit pernah menguasai seluruh nusantara itu hanya fiksi dan hayalan orang-orang yang terlalu bangga dengan identitas etnis tertentu saja. Majapahit hanya berjaya dalam masa 30 tahun saja, tidak lebih!!! Bagaimana mungkin bisa menguasai seluruh nusantara hanya dalam waktu 30 tahun saja!! Sedangkan wilayah nusantara yang terdiri dari 13000 pulau yang dipisahkan oleh laut, wilayahnya begitu luas..Jadi sangat tidak mungkin!! Bagi saya cerita tentang majapahit dan gajahmadanya hanya fiksi belaka…Belanda saja yang berada ratusan tahun di indonesia tidak bisa menguasai bengkulu..jadi tong loba ngahayal euy…

  269. #269
    gravatar

    argumentasi anda itu argumentasi khas org Sunda utk menunjukkan dendam turun-temurun org Sunda thd Gajah Mada dan Hayam Wuruk yaitu tdk ada nama 2 org itu di Jabar.

    emang ada jalan Sri Baduga, jalan Munding laya di Kusuma, jalan …Ciung Wanara di Jateng dan Jatim?

    Nggak ada bukan krn dendam dan benci tapi karena Jateng dan Jatim punya tokoh2 daerah sendiri..he he peace..

    Gajah Mada diklaim oleh banyak daerah

    1. orang NTT (dialog Slamet Raharjo di TVRI malam minggu kemarin mendatangkan tokoh adat NTT yg mengklaim demikian),
    2. diklaim oleh orang Minangkabau (dialog langsung sy dng org Minang); 3. diklaim oleh… orang Dayak-Kalimantan (sila cari di situs2);
    4. diklaim oleh orang Lampung;
    5. diklaim oleh orang Sidoarjo-Jatim;

    Beberapa novel dan milis-milis malah menyebutkan:
    6. Gajah Mada orang Sunda!!??? ia punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tp ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit

    7. Gajah Mada orang Mongol dsb..banyak versi dan klaim tentang asal usul Gajah Mada..8. Cina

    Jawa Tengah tidak pernah mengklaim GM dari daerahnya dan juga tidak pernah diceritakan dlm internet, novel dan sejarahwan sekalipun bhw GM dr daerah Jateng..

  270. #270
    gravatar

    Analisa: Rombongan Sunda terdiri dari 2.000 kapal (jadi orangnya ada berapa? kalau 1 kapal 100 orang berarti orangnya sekitar 200.000 orang). Perang Bubat kalau benar2 terjadi memang sebuah hal yang patut disesalkan.

    Tapi setidaknya hal yang… harus diperhatikan ialah pasukan Majapahit tidak menyerbu rombongan pengantin tetapi memang perangnya janjian antar prajurit dengan prajurit..di Medan bernama Bubat..

  271. #271
    gravatar

    Pengungkapan/pembahasan SEJARAH selalu menjadi Polemik yg mengakibatkan SARA…

    JAWA = SUNDA / SUNDA = JAWA ,, karena berada dalam 1 Pulau JAWA..

    Ribut kedaerahan hanya menimbulkan perpecahan antar golongan baik itu JAWA ataupun SUNDA ataupun Suku Laen yg ada di RI/NUSANTARA..

    SEJARAH hanya tinggal SEJARAH bukan berarti untuk melupakan tapi bukan juga untuk dihujat habis-habisan oleh antar suku..Tinggal bagaimana kedepan belajar dari kesalahan masa lalu/sejarah..

    SRIWIJAYA,,TARUMANEGARA,,PADJAJARAN,,MAJAPAHIT,,CIREBON,,DEMAK,,BANTEN,,MATARAM,,SINGHASARI,,DAN KERAJAAN-KERAJAAN LAINNYA DI SELURUH NUSANTARA ADALAH KERAJAAN-KERAJAAN BESAR yang pernah BESAR dan JAYA dimasanya..

    Dan jika ANDA-ANDA semua punya keinginan dan SIAP menelusuri semua SEJARAHnya ada BENANG MERAH antar masing-masing KERAJAAN SATU SAMA LAIN..

    BOHONG jika tidak ada keterkaitan 1 sama lain,,karena JAMAN KERAJAAN dulu juga mengenal yang namanya PERKAWINAN,,MIGRASI,,DAN SILATURAHMI..

    Penulis buku disini hanya menulis sebuah cerita EPIK tentang sebuah SEJARAH bukan bermaksud MENGUAK PERISTIWA SEJARAH yang pernah ada (bukan begitu OM LKH)..
    Jika beliau bermaksud MENGUAK PERISTIWA SEJARAH sudah pasti OM LKH akan banyak sekali menuai protes dan RESIKO serta KONSEKUENSI-nya..

    AYO…MARI KITA SAMA-SAMA sebagai ANAK BANGSA dapat saling menghormati dan menghargai SEJARAH,,tidak perlu saling menghujat antar sesama..

    Awal baca komentar-komentar yang ada sayapun sempat tersinggung dan tersudut karena darah dari leluhur(sunda)saya,,tapi setelah saya baca dan mempelajari referensi-referensi SEJARAH dari berbagai sumber lain yang ada saya hanya terbengong jika masih ada yang saling menghujat 1 sama lain..
    Sekali lagi ada BENANG MERAH hubungan KERAJAAN-KERAJAAN yang pernah ada di NUSANTARA(dulu blum ada RI,,maka saya menyebutnya NUSANTARA),,jadi apalah gunanya jika masih saling menghujat antara JAWA-SUNDA ataupun SUNDA-JAWA ataupun DAERAH lainnya di NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA ini..

    Tetap berkarya OM LKH jangan patah arang dan putus asa untuk menghasilkan karya-karya EPIK SEJARAH NUSANTARA..(maaf kalau saya mengatakan karya anda sebuah EPIK SEJARAH),karena saya yakin anda membuat karya ini bukan bermaksud untuk menguak sejarah toh..
    Ditunggu karya-karya anda selanjutnya OM LKH..

  272. #272
    gravatar

    Kuring oge pernah maca buku anu judulna “Nu Maranggung Dina Sajarah Sunda” anu ditulis ku Edi S. Ekadjati, oge buku anu judulna “Sejarah Jawa Barat” anu ditulis ku Drs. Yoseph Iskandar. Tapi maca buku sajarah Sunda naon wae lamun geus tepi kana carita Perang Bubat, jelas urang Sunda pernah dihianatan ku urang Jawa. Anu disebut patih Gajah Mada teu leuwih ti patih anu haus perang bari jeung kadang2 ngagunakeun cara anu teu sportif.
    Kuring asli urang Sunda, indung-bapa, nini-aki nepi ka eyang asli urang Sunda teu kacampuran bangsa lian. Eyang ti pihak nini masih aya trah ti Prabu Siliwangi, eyang ti pihak aki anu kaceluk Eyang Madrois, mantan jawara anu teu bireuk kasaktianana. Ceuk carita ti aki mah Eyang Madrois teh bapana Jin anu ngadahup ka indung eyang istri. Ayeuna kuring aya di hiji padepokan tatar sunda pikeun neuleuman elmu kanuragan warisan ti karuhun. Lamun geus katepi eta elmu, Insya Alloh bisa ngaleuwihan kasaktian patih gajah mada ti karajaan mataram sabab eta salahsahiji tujuan kuring. Salaku urang Sunda, nepi ka kiwari kuring teu narima kana panghianatan anu pernah dilakukeun ka bangsa kuring, bangsa Sunda !!!

  273. #273
    gravatar

    Aku anak indonesia dr suku jawa timur tepatnya KEDIRI belakang petilasan SRI AJI JAYABAYA,tolong saudara2ku JAWA-SUNDA sekalian,hentikn dendam/permusuhan warisan nenek moyang kita,gk ada gunanya…..
    apa saudara2ku gk malu sama saudara2 kita yg beda SUKU???
    tk ksh th ya siapa GAJAH MADA dan DYAH PITALOKA itu,mereka itu sama seprti kita MANUSIA ciptaan ALLAH SEMESTA ALAM.memalukan bangsa indonesia saja kalian2.

  274. #274
    gravatar

    Saya sendiri memandang kisah Perang Bubat itu mestinya tidak perlu menjadi ganjalan buat hubungan Jawa-Sunda. Kalo ada orang Sunda yang benci Jawa gara2 kisah tadi, dia salah alamat sebab orang Jawa jaman sekarang gak ada kaitannya ama Majapahit. Keturunan dari bangsawan Majapahit yang dulu membantai iring2an Raja Linggabuana dan Dyah Pitaloka itu kan sudah pada lari ke Bali ato Peg. Tengger saat negerinya runtuh. Merekalah salah satu masyarakat pembentuk suku Bali dan Tengger.

  275. #275
    gravatar

    Teman saya, campuran Jawa Sunda bercerita, keluarganya punya senjata pusaka masih peninggalan kerajaan Padjajaran,yang termasuk ampuh, dan disimpan dalam lemari dan bisa berdiri sendiri..Suatu saat Pak De nya dari Jawa datang, bawa keris pusaka yang termasuk peninggalan kerajaan Majapahit..Waktu malam keris itu di simpan dalam lemari bersama pusaka peninggalan Kerajaan Padjajaran, eh belum lama di dalam lemari, terdengar suara ramai di dalam lemari..Saat lemari di buka, ternyata keris Majapahit lagi duel sama pusaka dari Padjajaran..setelah cukup lama duel, akhirnya pusaka Padjajaran terbang keluar, sedang keris Majapahit berdiri tegak di lemari yang terbuka..Wah temanku sampai kaget dan heran..Ternyata keris Majapahit dan pusaka Padjajaran bisa duel juga..Apa karena pengaruh kejadian di masa lalu yah

  276. #276
    gravatar

    Memang Luar Biasa thema ini, e-mailnya mulai 2006 sampai akhir 2010 perdebatan ini tetap berlangsung, adakah REKOR yang melebihi ?!
    tapi ada sisi negatifnya, perdebatan antara saudara dari Sunda & Jawa ini DIMANFAATKAN oleh mereka-mereka yang memang kurang senang dengan NKRI (coba baca lagi, ada tulisan dari pihak ketiga yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan)

    Dunia ini cuma panggung sandiwara, untuk itu, Stop debat yang emosional dan dangkal !! OK?

  277. #277
    gravatar

    maka naya sampean yg berjiwa politik jangan punya politik licik mirip gajah mada….!!!!!!!siapa yg memulai kejahatan selamanya menjadi “rancu”!!!seperti viking diliciki ma the jak dikuis siapa berani…!!!!heran euy urang sunda sering dizolimi ma suku lain!!!

  278. #278
    gravatar

    sang maha pengecut gajah mada ingin menaklukan kerajaan sunda,tapi ia sadar kerajaan sunda adalah kerajaan yang kuat yang tidak mungkin bisa di kalah kan dengan perang terbuka,maka timbulah akal licik gajah mada dengan memanfaatkan situasi dimana iring2gan orang sunda yang hanya berjumlah 93 orang dengan niat baik menerima lamaran hayam wuruk,di kepung di bubat dengan ribuan prajurit majapahit.
    jadi inti nya bubat bukan lah sebuah perang,mana ada iring2an pengantin yang jumlah nya cuma 95 orang melawan pasukan gajah mada yang ribuan dengan niat jahat di sebut perang..ngacooo…itu mah PENIPUAN COOY..!!

  279. #279
    gravatar

    untuk mas jawa kalo mau ngedongeng seperti itu bukan di sini tapi di ranjang tidur anak kecil baru lucu…

  280. #280
    gravatar

    gileee … tobh banget! Sampe empat tahun, masih belum tuntas! Yang perang para pembesar dan tentara dari masa 650 tahun lalu, dengan setting politik dua kerajaan Hindu (yang bersaudara, krn Rd Wijaya konon memiliki darah Sunda!), yang ribut bawa2 suku Sunda dan Jawa yang sama2 sudah menganut agama lain dan berada dalam satu republik berdaulat. Baca neh baik2: Kerajaan Sunda 650 thn lalu bukan representasi orang Sunda masa rekiplik sekarang ini, dan Majapahit 650 thn lalu juga bukan representasi orang Jawa masa rekiplik ini.

    Mnrt gw, dogol banget orang2 yang masih merasa memiliki kaitan emosional dgn peristiwa ini. Sorry pake kata yg jelas nyata kasarnya; tapi … plis deh! Mau GM berkhianat kek, mau berjasa kek, it’s his problem, not us.

  281. #281
    gravatar

    Wah wah wah ,
    Semuanya mengira bahwa kerajaan di pulau Jawa itu besar2 wilayahnya
    padahal samasekali tidak.
    Karena wilayah Kerajaan-kerajan itu semuanya hanya sebesar kira-kira sebuah Kabupaten jaman sekarang , dan tidak bisa mengembangkan wilayahnya (jajahan nya) menjadi luas dengan cara umum yaitu agresi militer , kenapa ?
    Karena:
    1. Jalan darat belum ada , masih hutan lebat ,mobilisasi pasukan sangat sulit.
    2. Jalan laut juga belum bisa karena , baik orang Sunda maupun Jawa tidak punya skill untuk membuat kapal layar skala antar pulau , paling-paling perahu yang menyusuri pantai Utara saja.
    Disamping skill , bahan baku kapal pun tidak tersedia di Pulau Jawa.
    Jadi mustahil kerajaan di P Jawa , punya armada kapal dan juga mustahil punya prajurit angkatan laut.
    3. Baik pasukan darat maupun laut perlu pasokan Logitik yang kuat untuk bekal makanan/minuman , persenjataan , perkemahan dsb.
    Perhitungan :
    Bila 1 ekor kerbau cukup untuk lauk-pauk 50 orang prajurit per hari ( 2x makan )
    maka diperlukan 20 ekor kerbau per hari untuk makan 1000 orang prajurit
    Kalau perjalanan 10 hari ,maka , seksi logistik harus menyediakan / membawa
    200 ekor kerbau yang dibawa jalan kaki bersama dengan pasukan darat atau di muat ke kapal, bila itu pasukan angkatan laut.
    Belum lagi bawa beras = 10 hari x 1000 orang x 500 gram/hari = 5 ton.
    Ini perhitungan sekali jalan saja , sedangkan untuk pulang diasumsikan bisa
    membawa barang rampasan ( kalo menang perang-nya )
    Kesimpulan :
    Tidak ada perang antar kerajaan yang berjarak lebih dari 3 hari perjalanan
    kaki.
    Kecepatan jalan kaki ( di hutan ) kira-kira 4 Km/jam
    Jarak yang bisa ditempuh per hari = 10 jam x 4 Km/jam = 40 Km
    Jarak maksimal ( 3 hari perjalanan ) = 3 x 40 Km = 120Km

    Jadi :
    Perang yang mungkin terjadi yaitu hanya perang antara kerajaan yang wilayahnya bersinggungan saja .
    Jadi kalo jaman sekarang : perang antar Kabupaten yang bersinggungan wilayah.
    sedang antar Propinsi : tidak ada / mustahil
    apalagi lintas propinsi dari Jatim ke Jabar itu tidak mungkin terlaksana
    mengingat kesulitan perjalanan dan logitik yang dihitung diatas.
    Sekian, semoga bermanfaat bagi semuanya.

  282. #282
    gravatar

    @Johann Lewakabessy
    Gak masalah bukan kalo orang Jawa menamai daerah baru dengan nama Jawa? Bisakah kita salahkan orang Inggris menamai daerah2 di Amerika dan Australia dengan nama2 berbau Anglo-Saxon? Tapi saya akan turut bangga bila anak turunan RMS di Belanda bisa menamai daerahnya dengan nama2 berbau Indonesia ato Maluku.
    Sekadar info, transmigran Sunda pun menamai daerah tempat tinggal barunya dengan nama2 Jawa, tak terkecuali di Lampung. Ada tuh nama2 tempat di sana seperti Babakan Loa, Ciherang, Garut, Neglasari, Pajajaran, Siliwangi, Waringinsari, dsb.
    Kepada yang bukan orang Jawa ato Sunda semacam Johann ato Ronggur S. dll. jangan ikut2an memposting tulisan2 yang bernada sentimen pribadi, ya!!!!

  283. #283
    gravatar

    Eh, ralat, bukan nama Jawa, ding, tapi nama Sunda. Sekali lagi, gua minta maaf.

  284. #284
    gravatar

    sudah selyaknya kita bangga dengan ki sunda,sedari dulu namanya jadi bahan pembicaraan ,ok saya sunda karena ibu bapak dan lahir ditanah sunda .lihat mereka yang ngakunya hebat itu yang jago kerja keras yang jadi presiden ato sebagainya….salut,tapi kok betah tingal di jawa barat ya !!,benar benar sesuai sejarahnya ,tapi jangan lupa kalo masih pengen perang kaya doeloe ..sebaiknya saya sarankan segera pulang silahkan susun kekuatan di tempat masing masing.coba pake pikiran yang sehat gak mungkin kan ,?kita harus ingat 3 setengah abad men, bangsa kita katanya dijajah ,saya dengar dari orang tua waktu indonesia merdeka bung karno bingung mau namain apa bangsa ini ….sudah susah mencari penduduk aslinya terus katanya dikasihlah nama INDO nesia ..yang artinya indonya asia,so,,jadi ngga ada alasan untuk terus mempermasalahkan sipa kita .saya percaya sejarah itu benar adanya ,karena ,,kita adalah produk sejarah.jadi wajarlah ,,,suka atau tidak kita harus ingat semua elemen bangsa sudah berjuang demi kemerdekaan ,masih pantaskah kita membahas hal SARA (diakui atau tidak )sepeti ini.biarlah sejarah dibuka kita jadikan cermin dan akan terlihat sejarah yang sebenarnya .siapa pemilik republik ini????????????selamat menyaksikan…

  285. #285
    gravatar

    konyol ( mungkin termasuk saya yang mau-maunya terpancing komentar )
    saya bangga pada gajah mada atas kelemahan dan kelebihannyam, saya juga bangga pada prabu siliwangi yang hebat. saya bangga pada sejarah sunda dan jawa serta semua sejarah yang ada di indonesia. saya bangga di indonesia banyak suku bangsa yang menjadi pewarna bangsa ini.
    mau sunda,jawa atau suku lain,ya sama aja.kita lahir cuman warisan dan tidak meminta.apa kita meminta lahir dari orang tua jawa?sunda?batak?. jadi ngapain juga ribut karena kita sunda,jawa,atau yang lainnya???.
    mungkin lebih baik kita baca novelnya,gak suka yang simpan aja dan tulislah buku tandingan yang lebih baik dan akurat,itulah cara yang baik,kalau tidak bisa mengarang atau menulis ya diam aja jangan mencaci maki,apalagi caci maki dengan unsur sara.padahal diluar masyarakat banyak biasa saja,bergaul semestinya tidak mempermasalahkan jawa sunda.kalau saya kecopetan,akan saya gebuk copet itu meski copet itu satu suku dengan saya.illustrasi sederhana.

  286. #286
    gravatar

    panthera tigris SONDAICA = harimau JAWA, rhinoceros SONDAICUS = badak JAWA… kenapa bisa begitu ?

  287. #287
    gravatar

    Ass.wr.wb Kepada Yth Pa Jay…
    Kalau mengijinkan bolehkah saya bertanya Pa Jay dari mana dan boleh pulakah saya berteman di FB Anda??
    Saya tertarik Pa Jay menaruh perhatian terhadap sejarah, termasuk sejarah Indonesia.
    Saya setuju dengan Pendapat bahwa kebenaran sejarah yang sebenar-benarnya adalah milik pelaku sejarah itu sendiri dan Alloh SWT yang maha segala tahu dan benar.
    Generasi selanjutnya yang nota bene tidak sejaman dengan peristiwa sejarah, tentu harus mempelajari sejarah dengan proses kebenaran yang ada tanpa menghilangkan unsur-unsur pendukungnya, dan selain itu dalam menyikapinya harus berfijak dengan kearifan yang seadil-seadilnya tidak tendensius satu sama lain, mengambil hikmah dari sejarah tersebut untuk lebih berintrosfeksi.
    Akhirnya semakin banyak versi, tentu akan membawa konsekwensi tajamnya kontroversi, dan ini akan menimbulkan efek sivil psikologis yang tiada ujungnya berkelindan terus-menerus, berlebihan alias lebaaay gitu loh…salah satu contoh ya tentang Perang Bubat…(dari orang Galuh Kawali)

  288. #288
    gravatar

    Asm..
    Saya sangat tertarik dengan isu orang Jawa disarankan tidak menikah dengan orang Sunda.
    Saya sendiri orang Serang-Banten yang identik dengan suku Sunda tapi daerah Serang justru mayoritas berbahasa Jawa dan anehnya lagi tidak ada budaya memanggil mbakyu/yayu/mbak padahal memanggil kakak laki-laki Kakang(khas orang Jawa Zaman dulu, sekarang kan Mas pakenya) dan jelas-jelas berahasa Jawa (walaupun sangat berbeda dengan standar bahasa Jawa Yogya namun masih termasuk salah satu dialek bahasa Jawa).

    Cobalah datang Ke Serang anda akan menemukan orang-orang berbahasa Jawa yang bertanya kepada seorang wanita “Teteh, arep ning endi?”. Teteh yang menjadi ciri khas panggilan bagi perempuan dari tanah Sunda digunakan oleh orang Jawa Serang alih-alih Mbakyu. saya pikir orang Serang bisa jadi contoh yang unik paduan antara etnis Jawa-Sunda yang saling berbaur dan menyatu sehingga terdapat akulturasi yang tidak menghilangkan ciri khas masing-masingnya sehingga pandangan sinis ttg perseteruan Jawa-Sunda bisa disikapi dengan bijak.

    Nanti terjadi apa-apa kalo nikah Jawa-Sunda..
    pernyataan itu sepertinya lebih kepada persepsi masing-masing deh karena dari zaman kedatangan pasukan Demak dan Cirebon (etnis Jawa) ke Banten tahun 1500an, alhamdulilah baik-baik saja sampai sekarang.

  289. #289
    gravatar

    pada protes aja neh, masih untung ada orang semacam mas LKH mau nulis tentang Majapahit sehingga orang2 yang kangen atas cerita-cerita kerajaan paling tidak sedikit terobati dahaganya. kisah majapahit emang literaturnya tidak bisa dikatakan lengkap, selalu ada daerah abu-abu yang mau tidak mau akhirnya harus dikemas dalam bahasa novel untuk bisa disajikan menjadi satu cerita utuh. so kalo pada punya pendapat sendiri2 ya pada nulis sendiri aja, terbitin, biar yang laen bisa pada baca. selesai masalah.

  290. #290
    gravatar

    sebaiknya buku sejarah di revisi dan penelitian yang lebih mendalam & akurat mutlak dilakukan supaya tokoh sejarah yang dianggap berjasa besar bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah, bila perlu dilakukan kerja sama riset & penelitian dengan pihak negara lain semisal belanda dimana banyak peninggalan sejarah termasuk lontar atau bukti tertulis sejarah berada di negara orang, jangan sampai sejarah di belokkan untuk kepentingan rezim atau golongan tertentu, seperti selama ini yang sudah terjadi.

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.