R.M. Tirto Adhi Soerjo
Sabtu, 11 November 2006M
19 Syawwal 1427H
- Download mp3
- International phone card
- Baufinanzierung
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Real Time GPS Vehicle Tracking Live Tracking 10 Second Updates
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Memperingati hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh warga Jawa Barat.
Alm. R.M. Tirto Adhi Soerjo (1875 – 1918)
R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya, Soenda Berita, pers pertama yang terbit di Cianjur. Beliau adalah pioner pers pribumi. Melalui surat kabar Medan Prijaji, pemikiran beliau menjadi cikal bakal nasionalisme dengan memperkenalkan istilah Anak Hindia. Beliau juga menyadarkan masyarakat Indonesia tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
TAHUN 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer Ali.
“TAS pelopor pers nasional. Dia mendirikan surat kabar Medan Priyayi pada 1 Januari 1907. Melalui surat kabar tersebut, dia berkiprah di Jabar hingga akhir hayatnya. Bahkan makamnya pun berada di Bogor.” [Nina H. Lubis]
Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora tahun 1880. TAS yang tak menyelesaikan sekolahnya di STOVIA Batavia pindah ke Bandung dan menikah. Di Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Sebelum menerbitkan “Medan Prijaji”, Januari 1904 TAS mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Selain di bidang pers, TAS juga aktif dalam pergerakan nasional, ia mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto, .
Pada tahun 1909, TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon. Delik pers pun terjadi, TAS dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun TAS memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat, keturunan Bupati Bojonegoro) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.
Pada pertengahan kedua tahun 1910, Medan Prijaji diubah menjadi harian ditambah edisi Mingguan, dan dicetak di percetakan Nix yang beralamat di Jalan Naripan No 1 Bandung. Inilah harian pertama yang benar-benar milik pribumi. Masa kejayaan Medan Prijaji antara 1909-1911 dengan tiras sebanyak 2000 eksemplar.
Pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Di tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.
Sekembali dari Ambon, TAS tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Antara tahun 1914-1918, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia, Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.
Kisah perjuangan TAS diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis kekagumannya atas TAS dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-buku PAT banyak dicetak ulang, bahkan hendak diangkat ke film layar lebar.
Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Surjo ini sudah banyak diterjemahkan di luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Kabarnya Garin Nugroho akan menyutradai dan tokoh Annelies Melemma akan diperankan oleh Mariana Renata.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
[Dialog di dalam buku Bumi Manusia]
Popularity: 5% [?]
Minggu, 12 November 2006 @ 3:29
Cara efektif menunjukan sifat kepahlawanan oleh pemerintah:
1. Murahkan biaya pendidikan dan kesehatan.
2. Cari dan tindak orang-orang yang “menghianati” bangsa.
3. MURAHKAN KONEKSI INTERNET!
PERTAMAX!!!
Minggu, 12 November 2006 @ 5:52
there’s a hero if you look inside your heart
you don’t have to be affraid of what yo are (Mariah Carey, hero)
huhuhuhuhu … simbahku bukan pahlawan nasional, tapi simbah tetap pahlawan bagi diriku. Selamat buat yang sudah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Semoga keluarga keturunannya juga bersikap selayaknya pahlawan …
Minggu, 12 November 2006 @ 6:46
Gw kira nama restoran baru
RM = Rumah Makan
Minggu, 12 November 2006 @ 7:21
mendengar info ini memang jadi langsung teringat sama si Minke di tetrlogi buru.
Minggu, 12 November 2006 @ 7:48
Aku sebenarnya pengin baca karya2 Pramoedya tapi sepertinya ‘berat’ tuh jadi agak ilfeel jadinya.
Minggu, 12 November 2006 @ 16:44
hehe bener di tengah gue langsung inget si mingke ehhh taunya beneran….
Minggu, 12 November 2006 @ 21:38
Koq daku jarang ya ngelihat bukunya Pramoedya di Gramed ya…
Senin, 13 November 2006 @ 10:04
yah…medan prijaji memang terkenal, disinggung juga pada novel Umar kayam “Para Piyayi”, yang dianggap sebagai terbitan yang menentang pemerintah kolonial, sampai akhirnya menjerumuskan salah satu tokoh novel tersebut ke pembuangan…artikel yang menarik Jay..terima kasih.
Senin, 13 November 2006 @ 11:25
Kasian yah baru sekarang di kasih penghargaan payah dah…
Senin, 13 November 2006 @ 17:39
Yang jadi Nyi Ontosoroh siapa?
Selasa, 14 November 2006 @ 13:05
Tahun lahir beliau yang bener 1875 atau 1880 ? soalnya ketika di cek ke wikipedia kok beliau lahirnya tahun 1880.
Selasa, 14 November 2006 @ 14:40
Wah thank you infonya, gue baru tahu akhirnya Minke diberi gelar pahlawan nasional.
Sedikit info yang kadang terlupakan, dari tetralogi pram, kita bisa baca bahwa salah satu kerjaan TAS adalah menulis kata-kata untuk Adpertensi.
TAS adalah salah satu Copywriter pertama Indonesia!
Kamis, 16 November 2006 @ 1:07
Setahu gw film itu sih belum mulai casting dan salah satu kandidat pemeran Annelies adalah rianti Cartwright
hmmm…
Rabu, 22 November 2006 @ 21:22
yang seharusnya dapet….ya dapet, cepat atau lambat, thanks buat jay yang udah perhatian ama moyang gw (TAS)
Selasa, 28 November 2006 @ 12:50
good….thanks to Pram yang udah mem’promosi’kan mas TAS via tetralogi nya…ini bisa jadi amal jariah buat bung Pram….
Selasa, 19 Desember 2006 @ 19:13
perlu di acungkan jempol buat bapak Pers kita!!aku bangga pada mu. untuk para cikal bakal jurnalis, ayo maju buktikan kebenaran pada publik.
Rabu, 10 Januari 2007 @ 14:37
Baru baca Tetraloginya Pak Pram niy..(telat banget euy) iseng2 cari nama Minke di internet.
Ternyata, Tetralogi ini benar2 kejadian nyata yah…
Kirain cuma adaptasi dari sejarah saja.
Salute! Ga sabar nungguin film nya, dengan properti jadul nya…pasti kereennn!
Rabu, 17 Januari 2007 @ 17:43
tentang TAS,saya sudah membaca kisah hidupnya melalui tetralogi buru nya Pram dan Sang Pemula.. dan itu merupakan sebuah penelusuran sejarah.. salut buat RM Mingke alm, atas perjuangan beliaulah Indonesia bebas dari belenggu penjajahan
Kamis, 8 Februari 2007 @ 17:42
kisah percintaan minke ama Annelies “bunga akhir abad” ama ang san mei emang bener2 tragis tuu..,jadi pengen ngerasain..,tapi meski banyak bener cobaanny TAS tetep ga pernah nyerah yach!!demi kemajuan bangsanya..,tapi sayang bangsa yang dibelany sekarang sedang porak poranda kembali.,bukan oleh belanda.,tapi oleh sebagian dari bangsanya sendiri.,muga2 aja TAS bukan cuma dikasih penghargaan doank!!tapi juga membuat para KABIRO itu sadar dan malu akan smua tindakanya..,Salut buat TAS.,Salut juga buat Pram!!semoga kdua2nya bisa hidup tenang dan bebas dialam sana!!seperti yang mereka cita2kan..,
Rabu, 14 Februari 2007 @ 11:55
duh gak nyangka kalo TAS atau minke itu bener2 ada. kaget juga. aku taunya dari bografi kartini yang dibuat oleh PAT. karena tinggal dibandung, gw sempet nyari bekas kantor Medan Priyayi yang di buku di tulis berada di jalan Braga no 1, eeh gak taunya malah ada di jalan naripan 01. hehehe… Saluut buat Raden Mas Minke atau TAS atas jasanya dalam dunia jurnalistik Indonesia. Dan Saluut juga buat PAT alm, atas kepintarannya dalam menuliskan kisah hidup TAS dalam tetralogi pulau Buru.Bener2 gak sabar nungguin film Minke. Oh ya gimana kalo Annelis Mellema itu diperankan oleh Luna Maya, pasti keren. Di jamin…
Kamis, 15 Februari 2007 @ 9:27
Ada yang punya foto RM Tirto Adhi Soerjo ngga ya?
Thanks
Kamis, 15 Februari 2007 @ 12:33
saat baca tetralogi buru sy bertanya2 apakah tokoh minke itu tokoh fiksi atau beneran ada. lalu saat nonton acara di metrotv yang menayangkan tokoh sejarah tirto adhi soeryo, ternyata adalah minke itu sendiri alias tokoh asli/bukan fiksi. sy bersyukur itu tokoh sejarah beneran.
Sabtu, 3 Maret 2007 @ 8:11
artikel bagus, menambah wawasan. sangat disayangkan memang banyak orang yang berjasa dlm sejarah perjuangan bangsa ini ttp tdk dikenal. sptnya tradisi sejarah bangsa ini yg hanya mempopulerkan kisah dg perjuangan yg “happy ending” hrs dipertanyakan. apa mmg org2 spt R.M.T.A.S (dg kisahnya yg berakhir tragis/gagal) tdk pantas diangkat ke permukaan. menurutku justru dr org2 yg pernah mengecap “jatuh&bangunnya” kehidupan ini, kt bs bljr banyak…sangat banyak bahkan!! ak sdh baca sang pemula..my comment’s it’s so inspiring!!!gila bgt..pd jaman itu sdh ada org dg pemikiran semaju dan sekreatif R.M.T.A.S tp sayang dia dlm perjuangannya tdk didukung oleh tim work yg solid, spt dlm kasus keluarnya keluarga Badjenet dr kepemilikan saham SDI. rupanya pd jaman itu masih banyak org yg belum bs menerima pemikiran semaju R.M.T.A.S…….ehm mungkin comment yg tepat adlh he’s the right person in the wrong time…tp ga jg…coba bayangin kl R.M.T.A.S tdk ada, lalu siapa yg akan jd pendobrak tradisi lama yg msh memakai cara2 tradisional yg sdh tdk relevan (co
erang kesukuan)utk melawan penjajahan kolonial?
Rabu, 28 Maret 2007 @ 16:36
gw br baca Bumi Manusia, Anak semua Bangsa dan sebagian Jejak Langkah….ternyata tokoh Minke ini bener2 ada yaa, suatu tokoh yg akan memperkaya karakter pelopor2 kemerdekaan Indonesia dan juga menjadi inspirator br bagi masy. Indonesia yg idealis gw rasa
ehh iya….td diatas disebutin setelah di Bandung Minke atau RM Tirto Adhie Surjo menikah yaa?, lalu tokoh Annelies dan Ang San Mei itu tokoh fiktif atau memang bener2 ada…???
Senin, 2 April 2007 @ 21:10
luar biasa tas seperti yang dikisahkan dalam tetralogi buru bung pram,seorang pemula atau dapat dikatakan sebagai guru bahkan saya boleh menyebutnya sebagai mahaguru bangsa ini. tapi kenapa rm minke/tas tak pernah tertuliskan sedikitpun dalam buku – buku sejarah dalam pendidikan kita???apakah ada kepentingan politik sehingga seolah-olah jasa rm tas memang akan dihapuskan dalam sejarah kita melalui buku buku sejarah yang tidak objektif. kasihan genereasi muda kita yang harus kehilangan mahaguru bangsanya bila rm tas tak pernah ada dalam buku sejarah.
tapi semoga dengan dikukuhkannya rm tas sebagai pahlawan nasional diikuti pula biografi atau paling tidak kiprahnya untuk bangsa ini pada buku-buku sejarah kita.
saya menunggu kapan film bumi manusia main di bioskop!!!!!!!!!!
Jumat, 15 Juni 2007 @ 10:03
Dulu banget dibilangin temen, jangan baca “bumi manusia” kl belom punya sambungannya minimal 2 aza ” anak semua bangsa” dan ” jejak langkah “… Dapet Bumi Manusia, dianggurin seminggu karena tangan gatel, dibaca…abis baca eike kelenger 3 bulan karena buku sambungannya waktu itu dicari ga ada… tiap hari keingetan annelies terus *siake tu temen gue, pake bilang ada sambungannya si*… begitu liat 3 seri berikutnya ada, langsung sikat…. be ware lah, ati2 jangan coba2 ama tetralogi pak Pram efek hipnotisnya dalem….
Maria Renata jadi annelies, ga masalah… yg penting itu siapa yg jadi nyai onto ini penting.. soale Bumi Manusia itu novel yg bener2 wah kalo yg meranin tokoh nyai asal… wah bisa ngejelek2in tu novel aza.
Apa TAS sudah masuk kurikulum…takutnya diangkat jadi pahlawan tapi ga dikenal bocah2 lagi.
Senin, 25 Juni 2007 @ 17:31
Asik emang, tapi ingat Pram sendiri ngatakan, bahwa tokoh Minke ga sepenuhnya asli sebagaimana RM Tirto Adhi Surjo sendiri. Dalam kejadian nyatanya RM TAS pernah di buang 2 bulan ke Lampung. Seingatku itu ga diceritakan di “Jejak Langkah”.
Si dokterjawa tuwa, mungkin kayaknya yg dimaksud adalah Dr. Wahidin Soedirohusodo. Tomo adalah Dr. Soetomo.
Trus “Indische Partij” sepertinya ngikutin sejarah. Douwager adalah Douwes Dekker (trus ganti nama jd Danudirja Setiabudi waktu masuk Islam); Tjitomangun adalah Dr Tjipto Mangunkusumo; Wardi adalah RM Soewardi Soerjaningrat (kita semua anak bangsa memperingati hari lahirnya 2-Mei. Iya dia adalah Ki Hadjar Dewantara!).
Untuk SDI,… Hadji Samadi adalah Kiai Hadji Samanhudi, Mas Tjokro adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.
Ada yg bisa ngasih clue ttg siapa itu Marko dan Siti Soendari?
Rabu, 25 Juli 2007 @ 1:13
Marko Kartodikromo adalah salah seorang “murid” TAS. borjuis kecil yang kemudian berperang di kancah revolusi melalui pena. kerap masuk keluar penjara karena tulisan-tulisannya di media doenia bergerak yang dikelolanya sendiri, selepas wafatnya TAS. karya-karyanya antara lain yang terkenal, sama rata sama rasa dan student hijo adalah buah karya yang dibuatnya selama di penjara.
Marko termasuk salah satu pencetus gerakan pena bicara di indonesia.
Selasa, 6 November 2007 @ 13:32
Cepat atau lambat kepahlawanan yang ditunjukkan Minke (TAS) tetap dikenang. Pramudya Ananta Toer via tetraloginya menggambarkan sepak terjang Minke. Ternyata gambaran itu muncul satu abad kemudian. Orang ramai-ramai dirikan partai politik, organisasi massa, LSM atau sejenisnya yang tujuannya….????? Kini kita hanya mencari siapa yang memerankan Minke, Nyai Ontosoroh? Robert yang jadi kaki tangan Pangemanann dengan dua N-nya, dan tokoh lainnya. Yang jelas dari Blora, Surabaya, ke Batavia dan menetap di Bandung……
Kamis, 3 Januari 2008 @ 9:19
Siti Soendari itu benar2 ada (nama sebenarnya). Dia adalah seorang pengarang wanita zaman dulu (seinget gue gitu). Coba baca, “Membaca katrologi bumi manusia Pramoedya Ananta Toer”. Gue minjem buku ini dari perpus FIB UI sih..
Minggu, 6 Januari 2008 @ 17:52
Sy baru saja menamatkan buku Jejak Langkah hr ini…dan lgsg buru2 ke warnet utk mcari keterangan yg memuaskan ttg pertanyaan: Siapa sih sebenarnya Minke? Tokoh fiktif/ nyata?? Alhamdulillah akhirny ktemu info yg sy cari. Thanks bwt smuanya…
Tetralogi Buru bener2 novel masterpiece, inspiring bgt! Sy bner2 mendapatkan tokoh ‘hero’ pd diri Minke, syukurlah ia mmg tokoh nyata. Sy smkn kagum…
Sy yakin kisah2 hidup pahlawan2 nasional qt yg lainnya jg akn sgt mnarik dan inspirasional bila diceritakan dlm sebuah roman sbgmn halnya kisah TAS oleh PAT. Bukan hanya bbrp baris kalimat datar dlm buku teks sejarah SMP/ SMA…namun gambaran lgkp yg sarat emosi spt Tetralogi Buru ini. Krn bangsa indonesia kurang mengenal jasa2 pahlawannya, shg jadi kurang menghargai mereka, akibatnya jadi kurang menghargai kemerdekaan…pdhl kemerdekaan itulah yg tlh susah payah diraih dg korban jiwa&raga oleh TAS dan rekan2nya…
…renungan yg kemudian muncul: apakah akan muncul lg tokoh2 PAHLAWAN spt TAS utk mnyelamatkn bangsa ini? Bukan tokoh2 politik spt skrg yg notabene hny mmikirkan kepentingn pribadi namun dg dalih kpentingn bangsa…tp seseorg yg bnr2 muncul ke prmukaan, murni dilaterbelakangi keprihatinannya thd keadaan bangsa, dan murni brtujuan membela kpentingn rakyat, serta rela mngorbankn jiwa & raganya utk itu…
Rabu, 9 Januari 2008 @ 12:31
Dari Batavia, TAS tak pindah langsung ke Bandung, tapi Cianjur. Soenda Brita juga tidak diterbitkan di Bandung, tapi pertama kali terbitnya di Cianjur. Sekadar koreksi sedikit.
Jumat, 22 Februari 2008 @ 3:49
Kira2 ada yang tahu juga clue Pak Hadji Moeloek?
Senin, 25 Februari 2008 @ 11:51
Ada yang punya gambar/foto/lukisan Bunga Akhir Abad (annelies) gak? Suami aku kayaknya ter-obsesi banget sama si Annelies, sempat brokenheart juga waktu tau si Annelies akhirnya mati.
Btw, sebenarnya Tetralogi Buru itu karya si Pram ato TAS sech? Ato sebenarnya catatan harian si TAS trus dituangin dalam bentuk novel ama si Pram?
Anyway…4 thumbs up for Minke and Pram!!!
Kamis, 28 Februari 2008 @ 10:47
Buat yang penasaran, beginilah foto minke alias Tirto Adhi Soerjo pahlawan pers Indonesia itu…
Buat kawan-kawan yang belum baca tetralogi bumi manusia nya mbah pram, jangan keder sama tebelnya… ini novel berbasis sejarah yang sangat menghibur dan tegang, terutama menjadi jembatan awal biar mindset kite bisa ditanam semangat dan keberanian jadi pelopor perubahan di tengah masyarakat yg putus asa, sekaligus belajar memahami politik yang benar dan dampaknya pada budaya masyarakat yg berlaku.
Gw seseorang yg dulunya ga suka novel (sekali2nya seluruh seri sapta siaga & lima sekawan di awal2 kuliah) & ga peduli tetek-bengek politik (kecuali dijejelin makalah P4), buku yg gw baca cuma soal dunia komputer dan isinya TITIK! Di era awal reformasi (1998-1999) seorang kawan kantor membawa stensilan tebal dan dekil, dan yang menarik perhatian gw waktu itu cuma ada nama mbah Pramoedya, dan isenglah gw baca satu-satu halamannya.
Ternyata jalan cerita nya hampir terasa seperti kisah detektif di era penjajahan, dan itu yg jadi kepedulian awal gw, dan teteb gw ga expect ada politik… tapi, yah begitulah hebatnya Alm. Mbah Pram, setelah perasaan gw jumpalitan terbawa suasana seru, selalu ada pesan tersirat bahwa Minke melakukan semua hal dan pengorbanannya karena kepedulian yang teramat besar pada masyarakatnya yang bodoh dan diperbudak kekuasaan politik penjajahan belanda. Dan serunya kisah ini bukan berangkat dari ambisi individualis seorang minke.
Rasanya jika Minke masih hidup dan tahu dirinya digelari pahlawan nasional saat ini, maka beliau kemungkinan besar yaaaa bersikap biasa2 saza. Bukan masalah penting, dan barangkali agak memalukan bagi beliau ketika digelari pahlawan oleh para penguasa pribumi era kini yg politiknya masih bergaya VOC & sistematis pulak
Harapan pahlawan sejati ga ngarep gelar seperti Minke adalah, kita generasi muda ini makin kreatif, berani tapi diplomatis terutamanya dari diri sendiri dan hati sendiri, dalam mengusung perubahan budaya dan intelektual masyarakat yang makin mandiri… jer basuki mawa beya, TABIK!
Kamis, 28 Februari 2008 @ 11:00
Mohon maaf foto minke diatas belon kelihatan ya… coba klik URL disini:
1. Foto RM Tirto Adhi Soerjo a.k.a minke
2. Foto koran mingguan Medan Prijaji
Sabtu, 24 Mei 2008 @ 20:16
Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan maghfirohNYA kepada Minke, terima kasih atas segala yg telah engkau lakukan untuk kami. becik ketitik olo ketoro, walau pun jasa2mu berusaha dikecilkan tapi Alloh jua yg akan meninggikan. Walau engkau selalu menolak disembah tapi sudilah kau terima salam hormatku sebagai sesama anak bangsa. Semoga tiada lagi yg saling berkhianat di antara kita semua.
Senin, 21 Juli 2008 @ 5:29
SUDAH SEPANTASNYA MINKE ALIAS RM TIRTO ADHI SOERJO MENDAPAT GELAR PAHLAWAN NASIONAL. KALAU DIPIKIR-PIKIR, JASANYA MELEBIHI BUNG KARNO PADA BANGSA INI. SEBAGAI SEORANG PELOPOR SANGATLAH SULIT!
SEWAKTU AKU BACA TETRALOGI PULAU BURUNYA PAT, AKU SUDAH PUNYA FIRASATA BAHWA TOKOH MINKE PASTI BENAR2 ADA. PENYELIDIKANKU TAK SIA-SIA, AKU MENEMUKAN INFO&FOTONYA DI TOKO BUKU DI DLM BUKU “SEJARAJ PERS NASIONAL”. KINI SUDAH SAATNYA SEMUA TERKUAK. HIDUP MINKE!
Rabu, 30 Juli 2008 @ 20:46
eh kira2 filmnya bumi manusia kapan????ada yg tahu gak,kira2 release kapan???
usul nih,,,yg jadi raden minke_nya tora sudiro!
Jumat, 1 Agustus 2008 @ 18:12
salut buat MINKE…. you are the great hero….!!!
Jumat, 22 Agustus 2008 @ 21:54
pengen liat kuburannya Annelis…
Selasa, 28 Oktober 2008 @ 10:41
Pramoedya menguatkan posisi TAS sbg pahlawan. Jadi generasi muda seperti kita dapat menghargai perjuangannya. bukan cuma ngomong doang. Menurut gue Pramoedya bisa jadi punya andil dalam mencanangkan TAS jd pahlawan oleh pemerintah. TAS salah satu pahlawan “baru” yang perlu di gali lebih dalam lagi dalam buku sejarah sekolah… Selain itu, sebenarnya masih banyak pahlawan yang tidak kita tahu padahal perjuangannya gak kalah sama Diponegoro, dkk. SALUT BUAT OOM PRAM DAN BUYUT TAS
Selasa, 28 Oktober 2008 @ 16:50
ditunggu kelahiran TAS,Jr. berikutnya
Senin, 2 Maret 2009 @ 21:45
wah, mariana renata yang bakal jadi annelis??
gile.. saya tunggu tuh filmnya..
dan Garin jangan sampai bikin kecewa penggemar Pram ya..
Senin, 2 Maret 2009 @ 21:46
hmm.. di togamas jogja ada tuh buku pram.
saya beli tetralogi buru di sana,,
Senin, 2 Maret 2009 @ 21:55
apa? ada yang usul Minkenya si Tora??
bayangin aja Tora pake kumis bapang…
huahaha
Rabu, 10 Juni 2009 @ 23:14
saya rasa mbah pramoedya belum sempat ketemu ma kakek buyut TAS. karena ga mungkin TAS meninggal tahun 1875 sedangkan pram lahir 1925.tp saya penasaran kenapa pram bisa menjadikan tokoh mike/TAS begitu nyata dan ngalir seperti tak ada keraguan. untuk tokoh annelis yg katanya lebih cantik dari Banowati (kecantikan kreol sempurna)saya yakin cuman imajinasi pram.kalo toh real berarti pram kemungkinan besar punya catatan harian semasa hidupnya TAS. Jadi untuk kaum adam yang tergila2 oleh Annelis tanya aja mbah pram sendiri ( tirakat ). hahahaahah apakah anda percaya?