K3: Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan
Senin, 6 November 2006M
14 Syawwal 1427H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Aparat Kota Bandung punya slogan baru, yaitu K3, Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan. Sebuah Perda 11/2005 yang mulai bulan November ini digiatkan pelaksanaannya, tidak hanya sosialisasi isi peraturan tersebut. Tentunya pelaksanaan Perda jauh lebih rumit daripada menuliskannya di atas kertas. Sebagai warga masyarakat Kota Bandung tentunya harus siap menaati peraturan tersebut, termasuk penaltinya. Sedihnya Perda yang menyebar jauh lebih banyak yang dibicarakan adalah penaltinya, sebab saat kita banyak bicara soal penalti berarti kondisi lingkungan jauh lebih banyak pelanggarannya. Kenapa banyak dilanggar? Sebab banyak peraturan yang cenderung tidak proporsional atau manusiawi pada pelaksanaannya, terlebih dukungan lingkungan yang kurang.
Sebagai pelanggan transportasi individu dalam bentuk jalan kaki saya harus menaati peraturan berjalan kaki dan menyeberang di jalan raya. Minggu sore puluhan aparat Kota mengawasi para pejalan kaki di jalan Merdeka seputaran BIP. Semua pejalan kaki disuruh berjalan di trotoar yang tidak ada. Tragis. Bahkan sambil membentak menyuruh pejalan kaki tidak menginjak aspal. Sebagai manusia yang manusiawi saya sebal dengan peraturan tersebut. Saya taati peraturan tersebut jika trotoarnya ada, tidak dihalangi kios pinggir, tidak dihalangi tukang roti bakar atau sate padang yang menyimpan tenda dan bangku-bangkunya di trotoar, tidak dihalangi penjual kucing, anjing, ular dan piaraan lainnya, tidak dihalangi pengemis dan gelandangan, tidak naik turun. Apalagi pengendara kursi roda, tidak ada tempat bagi mereka berjalan-jalan di kota.
Saya protes pejalan kaki disuruh berjalan kaki di trotoar yang lebarnya tidak cukup dua orang berpapasan, tidak nyaman naik turun, semeter rata, turun lagi, naik lagi, tidak ada kenyamanannya sama sekali. Kalah nyaman oleh ban mobil yang rata dan mulus. Ternyata harga diri pejalan kaki kalah oleh ban tubeless. Jalan raya punya lajur yang jelas, hingga kendaraan roda empat yang teratur di lajurnya tidaklah akan bersinggungan dengan kendaraan di lajur sebelahnya. Trotoar yang tak cukup dilalui berpapasan dua orang membuat kemungkinan besar bersinggungan trisep dengan trisep, yang mungkin bisa berabe jika bersinggungan dengan trisep preman berurat leher pendek beradrenalin tinggi. Sering pula pejalan kaki bersinggungan dengan motor di trotoar, sudah diberi jalan aspal masih saja rakus menyabot jalannya pejalan kaki. Dan kendaraan yang diparkir di halaman toko pun menyabot trotoar pejalan kaki, hingga harus berjalan memutar ke jalan aspal.
Saya juga protes menyeberang harus di penyeberangan jalan yang sangat tidak nyaman. Lorong tangga hanya sekitar satu meter lebarnya, penyeberang sering bertabrakan di tangga naik turun, apalagi ketika berpapasan dengan orang yang berperut gendut berbadan lebar yang ngos-ngosan naik turun tangga penyeberangan. Anak tangga di penyeberangan di depan BIP sangat tidak ergonomis, sangat jauh dari standar perhitungan anak tangga dalam ilmu Arsitektur. Kembali pejalan kaki tidak dihargai, diusir dari jalan aspal karena dianggap tidak aman, sedangkan kendaraan sendiri banyak yang memotong lajur, seolah garis lajur hanyalah hiasan belaka.
Soal kebersihan saya juga sebal dengan peraturan yang ada. Sering saya lama menggenggam sampah yang hendak dibuang karena ratusan meter tak menemukan tempat sampah di pinggir jalan.
Soal ketertiban ini pernah saya tulis bulan April lalu, mengenai Ketertiban Pejalan Kaki dan Pengendara.
Popularity: 8% [?]
Senin, 6 November 2006 @ 13:52
hahaha baru kemarin saya mengalaminya sendiri!
Senin, 6 November 2006 @ 14:29
K3? kalo ga salah loh.. termasuk inisiatif Pemda Bandung “menyisir” para pendatang baru yang datang ke Bandung ya? kalo ga salah loh.. tapi bener ga?
Senin, 6 November 2006 @ 16:11
Ternyata masih banyak ya yang harus diperbaiki (BasBang kaleee!)!?!%$$*!!
…
Senin, 6 November 2006 @ 16:40
hihihi… korbannya cuman pejalan kaki ya? kasihan memang… lha itu di foto, mobilnya petugas enak aja di parkir di trotoar…
Senin, 6 November 2006 @ 16:43
Jadi papan iklan gede itu sama Pemda dinamai “Jembatan Penyeberangan” ? Ck ck ck.
Senin, 6 November 2006 @ 16:51
kota yang aneh
Senin, 6 November 2006 @ 17:06
Kalo pake sepatu roda boleh di aspal gak yah?
Senin, 6 November 2006 @ 21:57
Itu orang pemda bikin perda dipikir dulu gak sih?
Selasa, 7 November 2006 @ 14:08
bandung kota aneh
walikotanya orang aneh
peraturannya aneh-aneh
orang-orang jadi ikut aneh
heran….
Selasa, 7 November 2006 @ 15:37
Saya suka iseng, nanya sama temen2 yg pernah hidup di luar negara Indonesia.
Ada gak sih JEMBATAN PENYEBRANGAN di sana ?
ternyata dari beberapa teman yg di tanya gak jembatan penyebrangan seperti di Indonesia, kalaupun ada itu bangunan untuk menghubungkan 2 gedung. Untuk menyebrang kebanyakan di bangun terowongan lewat bawah tanah. CMIIW (terutama dari sisi Arsitektur)
Selasa, 7 November 2006 @ 16:08
kita lihat, berapa lama slogan ini bertahan
Selasa, 7 November 2006 @ 19:30
nasib pejalan kaki, digilas perda yang serabutan. *kelakuan*
Selasa, 7 November 2006 @ 20:03
Biar berimbang,… bisa dilihat positifnya juga. Saya pernah di Manado tahun 1985-an. Kebetulan mereka sedang menguji peraturan daerah yang mengontrol kebersihan kota. Hasilnya lumayan… bahkan luar biasa. Terminal dan pasar pusat kota bisa rapih dan bersih dalam hitungan hari. Waktu itu saya ingat denda membuang sampah sembarangan bisa kena Rp. 25.000 (nilai uang segitu, di tahun segitu, sudah begitu besar lho).
Selasa, 7 November 2006 @ 20:09
Lihat foto di atas, si petugas juga melanggar kok… kaki2 mereka menapak di aspal. Jadi inget dulu waktu masih gemar2nya baik bola di aula barat. Konon ada peraturan dari rektorat yang melarang orang bermain bola di lapangan itu. Mungkin tujuannya supaya rumputnya bisa tumbuh bagus dan hijau. Tapi sayangnya satpam yang diberi tugas menegur kami yang main saat itu terlalu ’sok’… naik sepeda motor, ngebut di atas rumput dan ngepot… trus nunjukin fotocopyan peraturan rektorat. Rumputnya tercabut ….ha….ha
Rabu, 8 November 2006 @ 10:20
hehe..
bang jay yang aneh hidup di kota yang aneh…
*kabur*
Kamis, 9 November 2006 @ 8:58
itu efektif berlaku di daerah mana jay?
terakhir ke bandung kan ga ada gitu2an perasaan
Rabu, 6 Desember 2006 @ 0:18
Maklum lah Bang, walikota anda kan gak jelas benar sekolah di mana? Kan masih sibuk nutupin kasusu dan investigasi tentang ijasahnya yang palsu. Yang jelas, Bandung paling feasible cuma naik motor. Bawa mobil atau jalan kaki. Bunuh diri..
Kamis, 7 Desember 2006 @ 12:15
masak sih kota yang tadinya asri dan paling nyaman sekarang mendapat label kota tempat pembuanggan sampah, gini aja saya rasa disn byk orang pintar apalagi disn ada perguruan tinggi ITB dan IPB, serta masyarakat kekeluargaannya sangat kuat, masak masalah seperti itu aja gak bisa di atasi.gw bkn bermaksut buruk, tetapi hanya memberi semangat….cayo!!!!
Sabtu, 6 Januari 2007 @ 9:14
kota “nyuknyek” apalagi kelakuan aparatnya tekucing!
Sabtu, 6 Januari 2007 @ 9:16
SATPOL PP ( SATUAN POLISI POLYPHONIC )
Selasa, 6 Februari 2007 @ 14:09
K3 Kebutuhan hidup manusia sehat.! Manusia sehat membutuhkan lingkungan hidup yang sehat. jadi, jangan opriori donk…..!!! Mari kita sama-sama lingkungan hidup yang sehat.
Alam akan ramah jika kita mau menjaga keseimbangan alam.
Senin, 5 Maret 2007 @ 11:01
memang negara kIta aneh, pada rebutan wewenang yang pada akhirnya UUD tapi tidak mau berbuat untuk rakyat. Siapa sih yang mau mikirin pejalan kaki…???? Jangankan pejalan kaki yang nggak punya apa-apa, wong sepeda motor aja di DKI udah pada di ‘usir’ oleh Polantas yang katanya pelayan masyarakat. Mungkin negara kita menganut strata kali ya… KELAS 1 YANG PUNYA MOBIL, KELAS 2 YANG PUNYA SEPEDA MOTOR, KELAS 3 PEJALAN KAKI DAN KELAS EMPAT mungkin TUNAWISMA…… Kalo saya baca undang-undang LLAJ dan Jalan kayaknya memang tertulis trotoar adalah fasilitas yang disediakan untuk pejalan kaki, Tolong Dephub dan PU juga Pemda yang masih cinta wong cilik; buatlah trotoar yang bener kayak di Jl. Thamrin DKI Jakarta. Khusus urang Bandoeng geura ageung geura jangkung geura ka bandung ehhh jadinya gerahhhhh.
Kamis, 20 September 2007 @ 14:36
Lha manusi mah emang jalannya di aspal! masak di langit melayang gitu??? makanya atuh mereka teh mikir dulu!! lagian jalan layangna oge geuleuh… suka kotor! bau! jijik makanya pada di ‘aspal’.
HUH!!!
Senin, 24 September 2007 @ 20:54
Kayanya kota Bandung bakal ancur nie…
Jumat, 28 September 2007 @ 20:00
Negara ini para penduduknya gak ada yang bisa tertib.!!!!!!!!!!!!!
Jumat, 28 September 2007 @ 20:52
[...] Este blog que estoy leyendo ultimamente escribio un post muy interesante, Aqui os pongo un extracto frikis!!:Negara ini para penduduknya gak ada yang bisa tertib.!!!!!!!!!!!!! [...]
Rabu, 14 November 2007 @ 15:33
susah tertib jika pemerintahnya hanya omong doank, lebihbaik kita kesadaran kita sendiri untuk tertib.
Jumat, 7 Desember 2007 @ 17:11
ah pemerintah bandung ini cuma ngomong doang,, banyak janji tapi ngga di tepati,,,, scra gitu skarang banyak PNS yg bikin usaha dari hasil kerjanya makanya masyarakat yang ngga mapu jadi korban,, the people will be murder,,,,
Senin, 25 Februari 2008 @ 9:17
MEMANG KOTA ANEH INI ADA2 AJA YG DIPERBUAT… TP ITS OK LAH…
BANDUNG.. I MISS U
Rabu, 20 Agustus 2008 @ 16:30
Kota Bandung memang hebat, saking hebatnya apapun bisa diperbuat. Walikotanyapun biasa diatur oleh pengusaha ataupun ormas dan LSM. Sampe-sampe aturan yang sudah jelas bisa dianulir atau dikesampingkan hanya untuk isi kantong pengambil kebijakan yang bisanya cuma neken (TTD). Tengok ajah kasus Hotel Planet (sampe kini kagak kelar), tata ruang kawasan Bandung Utara, dengan mudahnya diporak porandakan karena pulus sudah masuk kantong. Kini giliran proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, karena awalnya penunjukan diberikan pada pengusaha yang sanggup memberi lebih besar, alhasil maksain kehendak dan kembali mengesampingkan rencana tata ruang. Apa mungkin disuatu kawasan perumahan, pusat perbelanjaan, pusat perekonomian, pusat olah raga trus ada pusat pengolahan sampah! mani hebat Kang Dada teh, Hidup Persib!!!!
Selasa, 16 September 2008 @ 13:24
saya sebagai warga bandung sangat bangga kepada supier angkot warna hejo jurusan ledeng, soalna mereka berani “nge-tem” dibawh tiang yang ada tulisan “s”/”p” dicoret.
tertib teu?
Jumat, 17 Oktober 2008 @ 19:07
saya sebagai anak malang sangat bangga kepada reno meskipun anak jelek tapi dia punya’ pacar namanya mentari katanya anakx cantik tapi ga’ tahu lagi deh!?!?!
Selasa, 28 Oktober 2008 @ 10:25
saya sebagai warga bandung sangat bangga karena supir angkot warna ungu sangat baik bgt soalnya kt nak smp yg cantik,imuetz,&luthu ini bayar hanya RP 1500,- dari terminal nympe skull kita…….thankz buat angkot ungu bye…..
Selasa, 4 November 2008 @ 12:00
wakhh . .
kyak nya dikit lagi bandung yg dulu nya super duper adem ,
mendadak jd kyak jakarta neh. .
Sabtu, 22 November 2008 @ 9:22
yehhh harus bersih dan indah ya…
saya tau memelihara kebersihan bukan hanya tugas pemerintah oleh karena itu mari kita budayakan hidup bersih….
Jumat, 26 Desember 2008 @ 5:49
kyk x smua kota gt deh sbnrx ini gara2 sp? dari masyarakatnya apa pemimpinnya?
Minggu, 9 Agustus 2009 @ 17:40
smoga ja smua orang diIndonesia bisa tertib njaga kbersihan linkungan sekitar yeee……
Kamis, 13 Agustus 2009 @ 18:00
Saya bangga tngal d Bandung, krna bndung pnya praturan yg bgus bgt. And Bandung pstie jdi the best lach!!!!!!!! Maju trs Bandung………he…he…he…
Kamis, 13 Agustus 2009 @ 18:05
menurut saya bandung tu ,, ktor bgt and bnyak polusi….gerah bgt taw!!!!!!!!!!!!!!mngkna kta jga bandung breng2 donk………chpya brsih okokkokokokokokokokokokokokoK!!!!!!!!!!!!!!!!