Revolusi Bulan Menurut Hisab

Minggu, 5 November 2006M
13 Syawwal 1427H

Minggu malam ini, 5 November 2006, atau kerap disebut malam Senin, di luar bulan sedang terang benderang dan bulat penuh. Jika saat ini saya menjelajah ke masa lalu tentunya saat ini saya sedang bermain-main di luar di bawah terangnya sinar bulan. Suasana terang bulan akan lebih terasa jika di sekeliling lingkungan tidak ada atau sedikit lampu-lampu listrik di rumah-rumah atau jalan.

Melihat bulan purnama saat ini saya jadi berpikir tentang perbedaan penetapan 1 Syawwal dua minggu yang lalu. Apa kaitannya dengan hisab?

Bulan ber-revolusi terhadap bumi selama 29,5 hari, sehingga umur bulan dalam penanggalan Hijriyah setiap bulannya bergantian 29 hari dan 30 hari, ada 6 bulan yang berumur 29 hari dan ada 6 bulan yang berumur 30 hari. Hal ini pun dikoreksi karena ada deviasi satu hari setiap 12 tahun, menjadi 5 bulan berumur 29 hari dan 7 bulan berumur 30 hari. Koreksi ini dilakukan oleh para ilmuwan muslim dahulu.

On average, the number of days between Full Moons is about 29.5306 days.

Dari umur bulan yang tepatnya mendekati 29,5 hari, maka bulan purnama akan terjadi di malam ke-15 (sudah ber-revolusi 14 hari), tepatnya umur bulan pada saat 14,75 hari. Entah dari mana ungkapan orang Sunda “Caang bulan opat welas” yang artinya “Terang bulan umur 14 hari”. Agak aneh sebab umur bulan purnama pasti sudah 14 hari, yang artinya pasti di malam ke-15, atau memang maksudnya umur bulan sudah melewati 14 hari (bukan malam ke-14). Namun tidak salah juga, seperti kita menyebut berumur 14 tahun dengan maksud sudah 14 tahun tapi belum 15 tahun.

Oleh sebab waktu pengamatan hanya sekitar 12 jam (dari matahari terbenam hingga akan terbit di pagi hari) maka bulan purnama penuh hanya bisa dinikmati pada saat bulan berumur 14,5 hari hingga 15,0 hari. Enam jam sebelum purnama penuh dan enam jam sesudah purnama penuh. Namun angka 14,5 hari adalah saatnya matahari terbit, sehingga purnama penuh yang kita nikmati adalah saat bulan berumur 14,25 hari di malam ke-15 (6 jam dari matahari terbenam, tengah malam) hingga pagi sebelum matahari terbit. Namun dengan keterbatasan mata melihat langsung bulan purnama penuh, kita bisa menganggap sejak matahari terbenam di malam ke-15 bulan sudah dianggap purnama penuh hingga terbenam di pagi hari.

Itu perhitungan sederhana mengabaikan parameter lain dalam dunia astronomi, seperti bidang rotasi orbit bulan terhadap orbit bumi mengelilingi matahari, hingga ke anomali bulan, sebab umur tepat bulan dari purnama ke purnama berbeda-beda setiap bulannya.

From one Full Moon to the next, the number of days in one lunation can vary between 29.272 and 29.833 days.
– [Full Moon dari Wikipedia]

Jika malam ini tepat purnama penuh, maka penetapan 1 Syawwal jatuh pada malam Senin sejak matahari terbenam adalah lebih tepat dibandingkan dengan penetapan 1 Syawwal malam Selasa. Jika 1 Syawwal adalah bermula di malam Selasa, maka purnama hari ini jatuh pada saat bulan sudah berumur 13 hari di malam ke-14.

Solun: Informasi Posisi PengamatSolun: Simulasi Bulan Purnama

Apakah benar bahwa malam ini adalah tepat saatnya purnama penuh? Tentunya saya sendiri tak bisa memastikannya dengan mata sendiri, apalagi mata saya minus jika tanpa kacamata. Namun saya percaya perhitungan astronomi. Gerhana matahari total yang jarang terjadi saja bisa diprediksi tepat dengan perhitungan astronomi hingga tingkat keakuratan skala detik.

Gambar yang saya lampirkan adalah perhitungan dan simulasi purnama dalam ponsel saya, bernama Solun, bisa anda download untuk ponsel yang mempunyai kemampuan Java Runtime Engine. Malam ini saat saya mengambil screenshot simulasi tersebut bulan sudah mencapai purnama 99,9%. Simulasi menunjukkan saat sekitar Maghrib pukul 17:48 tanggal 5 November 2006 bulan purnama sudah 99,9% sedangkan pada pukul 5:14 pagi hari tanggal 6 November bulan purnama sudah lewat pada posisi 99,7%.

Apa yang saya tulis di atas bukan berarti menyalahkan anda yang berlebaran di hari Selasa dua minggu yang lalu. Tulisan ini hanya memaparkan keyakinan saya terhadap hisab astronomi, secara sederhana agar mudah dipahami, setidaknya anda yang membaca bisa memahami keyakinan saya yang mencoba memahami sebuah ilmu yang rumit dan dipaparkan secara cetek.

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

23 komentar untuk catatan 'Revolusi Bulan Menurut Hisab'

  1. #1
    gravatar

    Menarik. Perihal lebaran yang lalu, ternyata lebih mudah untuk saya menjadi orang “awam”, karena tidak perlu pusing untuk menentukan kapan saya berlebaran. Ikut pemimpin saja. Namun, setelah membaca beberapa hal tentang hisab-rukyat, bisa jadi lebaran kemarin adalah lebaran yang paling membingungkan buat saya, karena saya harus menunggu dan membandingkan data-data dan argumen yang disodorkan. Tidak bisa seperti dulu lagi.

    Adapun yang lebih membingungkan saya adalah para ahli hisab bisa dengan detail menentukan kejadian gerhana pada tanggal 8 September 2006 yang lalu. Namun, kenapa ketika awal syawal, masih terjadi perbedaan pendapat.

  2. #2
    gravatar

    Absen doeloe, baru baca… :-”

    Ke-doea kah? :D

  3. #3
    gravatar

    >Namun dengan keterbatasan mata melihat langsung bulan purnama penuh, kita bisa menganggap >sejak matahari terbenam di malam ke-15 bulan sudah dianggap purnama penuh hingga matahari >terbenam di pagi hari.

    Salah ketik kah? harusnya: ..matahari terbit di pagi hari” ya Mas Jay?

    Itu sebabnya ya temen saya ngotot bahwa 1 syawal adalah di hari Senin (23-10-26)??? :-?

  4. #4
    gravatar

    Mo pamer software di hapenya yah? :)

  5. #5
    gravatar

    Masalah lebaran kemarin menurut saya karena masalah perbedaan definisi hilal, bukan metode hisabnya. Ibarat praktikum, hasil percobaan sama saja, namun analisa dan kesimpulan yang berbeda-beda. Menurut hisab, semua metode hisab sepakat malam senin (2 minggu yl) bulan diatas ufuk. dan kalau dihitung berdasarkan umur, itu sudah hari pertama. Namun apakah bisa dianggap hilal, itu yang jadi perdebatan. saya pribadi pilih lebaran hari selasa.

  6. #6
    gravatar

    pergerakan dan kecepatan bulan adalah stabil sesuai sunatullah, jika ada yang berubah kiamat namanya… hal ini kemungkinan telah masuk pada parameter perhitungan astronomi/hisab. Sehingga bisa diprediksikan kapan terjadinya bulan baru bahkan gerhana bulan sekalipun

  7. #7
    gravatar

    kalau berdasarkan hisab semata, benar apa yg diuraikan di atas. masalahnya, dalam kalender Islam, ada ketentuan lain yaitu “melihat” hilal (sabit kecil di kala bulan baru saja lahir). nah interpretasi orang ttg. “melihat” ini bermacam2, dan itu adalah “sumber” perbedaan utama dalam penentuan awal bulan berikutnya dalam kalender Islam.

  8. #8
    gravatar

    Dari seorang yang mampu berbahasa arab, saya ketahui bahwa ternyata kata “melihat” dalam pengertian rukyat lebih tepat jika diganti dengan kata “bersaksi”.. akar katanya sama dengan kalimat syahadat. “bersaksi” tidak 100% membutuhkan pembenaran visual, melainkan ‘yakin’. Sebagaimana orang Islam bersaksi bahwa Tiada Ilah kecuali Allah, dimana mereka tidak melihat secara visual. wallahu alam bissawab.

  9. #9
    gravatar

    Kalo gw mau aman2 aja sebagai orang yang sangat awam mengenai Hilal, jadi lebaran enakan hari Senin, kan Puasa dihari lebaran ga boleh alias haram, jadi kalo yang bener hari selasa ya tinggal bayar utang puasa 1 hari aja, daripada melakukan yang haram

  10. #10
    gravatar

    Yang membuat saya heran, yg memegang metode rukyat itu kenapa mereka sholat menggunakan metode hisab ya? soalnya sehari2 saya lihat mereka adzan dengan melihat jam (di kalender biasanya ada waktu sholat)tidak dengan melihat bayangan matahari.

    Perbedaan itu akibat adanya perbedaan metode dan definisi. Dalam masalah definisi, yg memakai metode hisab ternyata ada 2 kubu. Pertama hilal itu bila telah naik 2 derajat dan yang kedua berpendapat hilal bila telah naik 9 derajat. Masing2 punya argumen, pertama berpendapat bahwa secara fisik bulan itu bisa dikatakan berada di atas ufuk pada ketingggian 2 derajat , yang kedua berpendapat bahwa posisi bulan yg memungkinkan bisa dilihat dengan mata telanjang bila cuaca cerah itu pada ketinggian 9 derajat itu. Begitupun yang metode Rukyat terbagi lagi menjadi beberapa definisi dan metode.

    Terakhir, menurut saya Kashogi itu ga bener juga.
    1. Bila Kashogi berlebaran hari Senin, bayar utang puasa 1 hari untuk yang mana? Kalau bayar utang untuk yang hari selasa mah sama saja dengan puasa di tanggal 2 Syawal, hanya pelaksanaannya diQodo.
    2. Dengan Anggapan Kashogi harus mengganti utang puasa yang seharusnya dilaksanakan hari Selasa itu berarti dia juga beranggapan Selasa masih Ramadhan. Lalu kalau selasa masih Ramadhan, kenapa Seninnya dia sudah Lebaran?
    Jadi mending pilih salah satu aja sesuai keyakinan. Benar nilainya 2 salah nilai 1 kan? Dan yg Lebaran Senin jangan ikut Sholat Ied hari selasa, itu ngaco juga.

  11. #11
    gravatar

    Selamat pagi!!!!

    Ada yang berpendapat bulan terbit dari sebelah barat…

    sesungguhnya bulan itu terbit dari mana?!?!?!

    maaf pertanyaannya agak menyimpang…

    terima lasih…

  12. #12
    gravatar

    #11: Seperti matahari, bulan terbit dari timur. Bisa anda saksikan sendiri di saat matahari terbenam, lebih jelas pada saat menjelang purnama.

  13. #13
    gravatar

    Saudara…. awal bulam itu berdasar visibilitas bulan. Bukannya umur Bulan…. OK?

  14. #14
    gravatar

    Mas-mas… kalau ngomong itu pakai dasar dong. Awal bulan hijriyah itu ditentukan dengan berdasar apa…. Tidak semudah hitung-hitungan astronomi. Kalau sholat itu kan sudah jelas dengan menentukan posisi matahari. Dihitung juga sudah akurat. Tolong donk diikuti perdebatan tentang HISAB awal bulan hijriyah..sebelum berceloteh.

  15. #15
    gravatar

    #13, #14:

    Saat matahari terbenam bersamaan dengan bulan terbit sudah di atas horison; itulah awal bulan. Kesalahan penentuan awal bulan tentu akan berdampak satu hari dan akan terlihat pada saat purnama.

    Justru dihitung itu supaya akurat, bukan “Dihitung juga sudah akurat”. Kalimat anda meremehkan sebuah ilmu hitung matematika dalam dunia astronomi.

  16. #16
    gravatar

    Kalimat saya, “dihitung juga sudah akurat” justru saya sangat yakin dengan hasil hitungan matematika dalam astronomi. Artinya adalah dengan hanya menghitung, kita sudah dapat mendapatkan hasil yang sangat akurat. Itu dalam hal waktu sholat, karena hanya menghitung posisi matahari pada suatu waktu. akan tetapi dalam perhitungan awal bulan yang dihitung adalah visibilitas bulan, yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor (saya termasuk yang berpendapat bahwa visibilitas hilal itu adalah mutlak dalam perhitungan awal bulan, maaf kalau anda mungkin termasuk yang berfaham wujudul hilal). Bukan berarti saya menganggap salah pendapat wujudul hilal, akan tetapi kalau anda mau memberi informasi kepada masyarakat, harus dijelaskan duduk perkaranya. Tidak menvonis bahwa Lebaran selasa tidak sesuai dengan astronomi. Coba anda kunjungi situs-situs yang membahas masalah ini. Diantaranya:
    Rukyat Hilal Indonesia: http://rukyatulhilal.tripod.com
    Jogja Astro Club : http://jogja-astro.tk
    ICOP : www. icoproject.org
    Semoga wawasan anda akan tercerahkan. Salam ukhuwah…

  17. #17
    gravatar

    #16: Saya tak bisa meyakinkan diri sendiri melihat visibilitas hilal di awal bulan adalah suatu yang mutlak. Saya tak punya teropong, juga saya tak punya akses ke teleskop Bosscha. Saya tak punya sandaran apa-apa jika saya bergantung kepada visibilitas hilal. Oleh karena itu pemahaman saya disandarkan kepada hitungan astronomi, hitungan yang sudah diterjemahkan dalam bentuk software, kalender, moon phase dll, dan masyarakat punya akses bebas terhadap sistem perhitungan ini.

    Andai perhitungan awal bulan hanya bergantung kepada visibilitas bulan, maka kita tak akan pernah punya kalender Hijriyah. Kita tak akan punya kalender Hijriyah tahun depan 1428H, sebab semua awal bulannya ditentukan nanti pada saat hilal di setiap akhir bulan.

  18. #18
    gravatar

    mari kita satukan pemahaman,

    perbedaan pendapat dalam agama islam itu adalah rahmat dan dapat pula menjadi murka Allah.

    kapankah perbedaan pendapat itu dapat dikatakan rahmat? apabila jika perbedaan itu dapat dikawinkan/disatukan (saling menutupi kekurangan) maka itulah jadi rahmat akan tetapi jika perbedaan itu hanya menimbulkan kedengkian,fitnah dan penghinaan maka tunggulah murka Allah.Oleh karena itu mari kita segera sadar dan beristigfar sebelum semuanya terlambat.

    bagi saya anda yang menggunakan Ruqyatul Hilal atau pun Hisab tak boleh saling menyalahkan sebab semua mempunyai dasar syar’i semuanya mempunyai dasar Alquran dan Alsunah tinggal yang perbedaan hanya mentafsir dan mentarji ayat dan hadist tersebut.

  19. #19
    gravatar

    Dalam astronomi, pembahasan visibilitas hilal bukan hal baru. bahkan telah ada sejak masa Babilonia. Teori-teori modern pun sudah banyak beredar. Salah satunya adalah Danjon Limit. Kenapa harus main Teropong, kalau hanya akan menentukan Awal bulan.. Anda terlalu mengada-ada….

  20. #20
    gravatar

    Masalah awal bulan atau perintah puasa bukan merupakan pilihan tetapi instruksi dari Quran. Yunus:5 “… dan ditetapkannya manzilah2 bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (wal-hisaaba)…” dan Al-Baqarah: 185 “Maka barangsiapa diantaramu menyaksikan BULAN ITU, hendaklah ia berpuasa.” Kata BULAN ITU menunjukkan bulan yang sudah ada, bukan bulan yang sebentar lagi kelihatan, bukan MENYAKSIKAN BULAN. Oleh karena itu metoda hisab (hakiki) adalah sangat sesuai dengan tuntunan. Wass

  21. #21
    gravatar

    kok gak lengkap c data-datanya? kalau bisa wawasan astronominya lebih diperbanyak lagi dan juga gambar-gambarnya lebih menarik dan G jadul……..

    la ci ya………..

  22. #22
    gravatar

    memang kalender melalui hisab sering meleset dan membuat perdebatan yang sangat serius.
    tapi yang sampai sekarang saya belum mengerti,,
    rumus apa yang digunakan untuk menghitung kalender qomariyah ini??????????????????

  23. #23
    gravatar

    Bismillah, ketentuan masuknya Ramadlan dan keluarnya hendaknya dikembalikan kepada keputusan Pemerintah RI.
    Karena Hari Raya, Puasa adalah ibadah jama’i yang dipimpin oleh imam dalam hal ini adalah penguasa. Rasulullah SAW bersabda:
    الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ
    “Hari Idul Fitri adalah orang-orang berbuka (bersama-sama) dan Idul Adlha adalah hari orang-orang menyembelih (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 731 dari Aisyah RA, beliau berkata: hadits shahih gharib)
    Rasulullah SAW juga bersabda:
    الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
    “Puasa adalah hari kalian berpuasa dan idul fitri adalah hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha adalah hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 633, Ibnu Majah: 1650 dari Abu Hurairah RA)
    At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ulama menafsiri hadits di atas bahwa berpuasa dan berbuka itu bersama jama’ah (imam kaum muslimin) dan mayoritas manusia.” (Tuhfatul Ahwadzi: 2/235).
    Al-Allamah Abul Hasan As-Sindi Al-Hindi berkata: “Yang jelas dari makna hadits di atas adalah bahwa urusan ini (penentuan hari raya dan puasa) tidak ada celah bagi individu untuk menentukan masalah ini dan tidak boleh seseorang bersendirian dalam hari raya dan puasa, tetapi urusan ini harus dikembalikan kepada imam (penguasa) dan jama’ah masyarakatnya dan wajib bagi masing-masing individu untuk mengikuti penguasa dan masyarakatnya. (Hasyiyah Ibni Majah As-Sindi:3/431)
    Imam yang memiliki legalitas adalah Pemerintah melaului Depagnya, bukan PBNU, PP Muhammadiyah, PP Persis, mursyid thariqat atau Amir LDII, karena melihat tafsir ayat “WA ULIL AMRI MINKUM” tentang pemerintah yang wajib dita’ati(QS. An-Nisa: 59) yang merujuk pada penguasa yang MAUJUD (memiliki legalitas, aparat, perangkat) bukan Imam yang MA’DUM (abstrak) seperti pimpinan berbagai organisasi atau sekte.
    Menurut Ibnu Taimiyah bahwa kalau ada seseorang melihat hilal sendirian dan persaksiannya ditolak oleh pemerintah dengan alasan apapun maka ia tetap MENGIKUTI KEPUTUSAN PEMERINTAH. (Lihat Majmu’ Fatawa: 6/65)
    Yang demikian karena ijtihad ini (tentang hari raya) tidak menjadi tugas individu atau kelompok tetapi sudah menjadi IJTIHAD PENGUASA dalam rangka menyatukan kaum muslimin.

    Pada jaman pemerintahan Umar bin Khathtab RA suatu waktu ada 2 orang melihat hilal Syawal kemudian salah satunya tetap puasa (karena tidak ingin menyelisihi masyarakat yang masih berpuasa) yang satunya berhari raya sendirian. Ketika permasalahan ini sampai kepada Umar RA maka beliau berkata kepada orang yang berhari raya sendirian: “Seandainya tidak ada temanmu yang ikut melihat hilal maka kamu akan saya pukul.” (Majmu’ Fatawa: 6/75) Dalam riwayat lain akhirnya Umar meng-isbat bahwa hari itu adalah hari raya dan menyuruh kaum muslimin unuk membatalkan puasa mereka berdasarkan kesaksian 2 orang tersebut. (Mir’atul Mafatih: 12/303-304)
    Suatu ketika Masruq (seorang tabi’in) dijamu oleh Aisyah RA, ia berkata: “Tidak ada yang menghalangiku dari puasa ini (Arafah) kecuali karena takut ini sudah Idul Adha.” Maka Aisyah menolak alasannya dengan mengatakan: “Idul Adha adalah hari orang-orang beridul adha bersama-sama dan idul fitri adalah hari orang-orang beridul fitri bersama-sama.” (Silsilah Shahihah Al-Albani: 1/223) Ini karena Masruq telah menyendiri dari puasanya penduduk Madinah.
    Suatu ketika Yahya bin Abu Ishaq (seorang tabi’in) melihat hilal Syawal sekitar dhuhur atau lebih dan ada beberapa orang yang ikut berbuka dengannya. Kemudian ia dan beberapa orang mendatangi Anas bin Malik RA (sahabat Nabi SAW) dan memberitahukan kepada beliau perihal rukyat hilal Syawal dan beberapa orang berbuka (membatalkan puasanya) pada hari itu. Maka beliau berkata: “Adapun aku maka telah genap aku berpuasa 31 hari karena Al-Hakam bin Ayyub (penguasa ketika itu) telah berkirim surat kepadaku bahwa beliau berpuasa sebelum puasanya orang-orang.Dan aku benci untuk berbeda (berikhtilaf) hari raya dengan beliau dan puasaku akan aku sempurnakan sampai nanti malam.” (Zaadul Ma’aad: 2/37)
    Dan yang semakna adalah kasus penolakan Ibnu Abbas RA (sahabat Nabi) terhadap kesaksian Kuraib (tabi’in) yang telah merukyat hilal Syawal di Syam bersama Mu’awiyah RA (sahabat Nabi) pada hari Jum’at karena bertentangan dengan puasa dan hari raya warga dan otoritas kota Madinah yang berhari raya Sabtu.Dalam kasus ini Kuraib menyendiri dari penduduk kota Madinah. (Subulus Salam: 2/462)
    Maka saya berpesan pada pemilik situs ini agar menyampaikan tulisan saya ini kepada mereka-mereka yang egois yang bangga dengan ijtihadnya sendiri baik dengan hisab atau rukyat dalam keadaan menyelisihi isbatnya pemerintah maka sadar atau tidak mereka telah berupaya memecah belah umat.
    JIka orang-orang egois itu bertanya bahwa kadang-kadang penguasa bertindak tidak adil seperti menolak persaksian rukyat karena beda madzhab atau alasan politis dsb?
    Maka Rasulullah SAW menjawab:
    يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
    “Mereka (penguasa) itu shalat untuk kalian. Jika ijtihad mereka benar maka pahalanya untuk kalian, kalau ijtihad mereka keliru maka pahalanya tetap atas kalian dan dosanya ditimpakan atas mereka.” (HR. Bukhari: 653)
    Semoga ini dapat menjadi bahan renungan ditengah-tengah upaya penyatuan hari raya kaum muslimin Indonesia.

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.