Marie Antoinette
Senin, 30 Oktober 2006M
07 Syawwal 1427H
- Tracking System
- International phone card
Hancurnya otoritas kerajaan, bukanlah dimulai dengan runtuhnya penjara Bastille, tetapi dimulai dari dalam istana Versailles.
[Stefan Zweig: Marie Antoinette, The Portrait of an Average Woman. 1933]
Pelajaran sejarah SMA (dulu) adalah saatnya siswa dibekali sejarah dunia, dari kisah klasik Yunani, Romawi, Hellenisme, Perang Salib, Renaisans, Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, Revolusi Amerika, Restorasi Meiji hingga Perang Dunia. Mungkin memori otak siswa SMA pun bisa meledak jika harus ditambah dengan sejarah Kekaisaran Cina. Semua pengetahuan umum sejarah tersebut sebenarnya menyenangkan, namun sangat sedikit guru dan buku resmi sekolah mampu mengantarkan kisah lestari tersebut secara menarik, yang ada hanyalah cerita yang sulit dicerna, hafalan nama dan tanggal, dan lain sebagainya.
Mungkin saya lupa, namun sepertinya kisah Marie Antoinette di buku pelajaran sejarah kurang diangkat. Diceritakan bahwa Revolusi Prancis terjadi karena kebobrokan dan korupsi di istana, namun apa sebabnya, siapa pemicunya, seperti apa kondisinya tidak dituliskan. Siswa dipaksa menelan mentah-mentah isi pelajaran yang sudah diolah matang-matang oleh Depdikbud. Hambar rasanya. Idea yang menyelimuti Revolusi Prancis tersebut juga diulang dalam pelajaran PMP, tentang Montesquieu, tentang Jean-Jacques Rousseau dan nama-nama lainnya yang sulit untuk diucapkan dan ditulis. Dipaksa memahami negara Indonesia berbentuk republik sebagai implementasi idea Revolusi Prancis dahulu, Liberte Egalite Fraternite. Betapa sulitnya materi pengajaran pendidikan kenegaraan di negeri ini.
Pada tahun 1986 Pustaka Jaya menerbitkan terjemahan karya Stefan Zweig berjudul Marie Antoinette, The Portrait of an Average Woman yang ditulis pada tahun 1933. Dulu saya tak menemukan buku ini di perpustakaan SMA, berbeda dengan perpustakaan SMP di mana buku-buku angkatan Pujangga Baru sangatlah banyak sebagai referensi pelajaran Sastra Indonesia di sekolah menengah. Buku setebal 257 halaman ini saya dapatkan di Pasar Buku Palasari beberapa tahun yang lalu, dan saya baca ulang beberapa hari yang lalu di sela-sela liburan Lebaran.
Zweig menuturkan biografi Marie Antoinette, istri Louis XVI raja Prancis yang digulingkan oleh revolusi, sekaligus mengubah kerajaan Prancis menjadi republik. Yang menarik dari buku ini adalah penuturan cerita beserta faktor kejiwaan Antoinette, sang putri Maria Theresa, Ratu Austria. Memahami sejarah tentunya lebih meresap jika unsur-unsur karakter tokoh lebih banyak diungkap, seperti halnya kita menonton film jika tanpa unsur character development maka film tersebut terasa hambar. Yang hambar tentunya akan mudah dilupakan begitu saja.
Sejak Louis XVI –yang selama 7 tahun dicela lemah kelamin– dan Marie Antoinette dihukum mati oleh revolusi dengan mesin pancung guillotine, warga Prancis menghakimi Antoinette sebagai ningrat yang suka berfoya-foya terutama di istana Trianon –faktanya memang begitu– dan cinta busana –kabarnya ia juga yang menjadi inspirasi Prancis menjadi negeri fashion– serta berhura-hura hingga fajar tiba. Dangkal, lemah, angkuh, self-indulgent, tidak suka politik, tidak suka membaca, tak pernah selesai membaca surat dan lain-lainnya menjadi ciri yang menempel pada Ratu Prancis tersebut yang mulai tinggal di Istana Versailles sejak umur 14 tahun.
Satu abad lebih kemudian, Zweig mengangkat sisi lain Antoinette, terutama sejak runtuhnya penjara Bastille, 14 Juli 1789. Dikenang sebagai pemicu revolusi, pemicu runtuhnya kerajaan, meskipun sebenarnya monarki Prancis sudah runtuh sejak Antoinette menjadi ratu dari seorang raja yang juga lemah, selalu ragu-ragu, sulit mengambil keputusan, terlalu baik dan lain-lainnya yang menjadi ciri-ciri karakter Louis XVI. Lengkaplah kebobrokan istana, apalagi ditambah dengan pejabat-pejabat istana lain yang oportunis, mencari peluang karir di depan Louis XVI, atau mengadu domba di depan Antoinette.
Karakter dan kejiwaan yang disampaikan Zweig mengangkat emosi perempuan biasa, meskipun ia seorang ratu. Titel pengkhianat yang sudah menempel seperti lepas atas riset Zweig yang mengangkat sisi baik Antoinette di beberapa tahun terakhirnya sebelum dihukum mati. Bahkan sejak buku tersebut terbit pandangan masyarakat dunia mulai bergeser, terutama terhadap kasih sayang kepada keluarga, konsistensi, keberanian dan keteguhannya memegang prinsip, dan menghadapi kematian.
“Louis XVI and Marie Antoinette have often been portrayed as weak and vacillating. Far from it; their policy between 1789 and 1792 was entirely consistent, and highly conservative. They were prepared to die for their beliefs, and ultimately did so.”
Memang terlambat Antoinette mengubah sikap hura-huranya. Kelahiran anaknya, terutama yang menjadi dauphin (ahli waris mahkota) membuat ia mengurangi kesenangannya, mencoba memahami situasi politik yang sedang terjadi, membaca surat-surat kerajaan lebih seksama, bahkan membaca buku. Namun situasi politik sudah berubah, Bastille sudah runtuh, istana sudah lumpuh, kaum borjuis meneriakkan kebebasan, kaum proletar meneriakkan revolusi, rakyat kelaparan. Bahkan Austria pun tak mungkin menyelamatkan dirinya, ia hanya seorang wanita dan jika diselamatkan pun hanya akan merusak hubungan politik Prancis-Austria, juga Revolusi Prancis telah menyatakan perang kepada Austria.
Sejak Dewan Nasional didirikan setahun setelah Bastille runtuh, monarki harus menerima pembatasan kekuasaannya. Versailles pun akhirnya dijaga jenderal revolusi Lafayette, yang juga membantu Revolusi Amerika. Tahun berikutnya pada bulan Juni 1791 Louis XVI dan Antoinette kabur ke Varennes dengan bantuan seorang ningrat Swedia, Axel von Fersen, seorang teman dekat Antoinette yang juga menjadi gunjingan publik. Namun usaha kabur dari istana Versailles tersebut gagal, dan dipenjara di Temple menunggu pengadilan.
Kerabat dan sahabat Antoinette masih berusaha membebaskan raja dan ratu serta anak-anaknya dari Temple. Namun usaha tersebut malah membuat Antoinette semakin sendirian. Satu persatu yang dicurigai membantu tawanan revolusi disingkirkan, bahkan dibunuh secara brutal. Hingga akhirnya para tawanan penting revolusi dipindahkan ke penjara Conciergerie.
Sidang yang melelahkan selama belasan jam mencoba mengungkap kasus-kasus istana, terutama kasus kalung berlian yang melibatkan Antoinette, Madame du Barry dan kardinal de Rohan. Yang lebih penting lagi sidang-sidang pengadilan yang diikuti Antoinette sebagai terdakwa berkaitan dengan pengkhianatan terhadap revolusi. Zweig menuturkan Antoinette yang lemah fisik di penjara tetap terlihat tegar dan berani, berbicara layaknya seorang ningrat dan berdiplomasi terhadap semua tuntutan-tuntutan revolusi. Layaknya seorang wanita biasa, seorang ibu, Antoinette hanya memikirkan kondisi anak-anaknya dan keluarga terdekatnya.
Namun Mahkamah Revolusi sudah menyatakan Antoinette bersalah dan harus dihukum mati, jauh sebelum pengadilan yang melelahkan tersebut terjadi. Sebab jika tidak, para hakim, penuntut dan semua yang membela Antoinette yang akan menghadapi pisau Guillotine.
Malam hari sebelum Antoinette menuju mimbar hukuman mati di Place de la Concorde, ia menulis surat untuk saudara-saudaranya atas bantuan sipir penjara yang menyediakan pena, tinta dan kertas secara sembunyi-sembunyi.
“16 Oktober, pukul empat tiga puluh pagi. Ini adalah suratku yang terakhir kepadamu, Dik. Baru saja aku dijatuhi hukuman mati. Tetapi bukan kematian yang memalukan, sebab mati yang memalukan itu hanya karena kejahatan, sedang aku pergi hendak menyusul saudaramu. Seperti dia, aku pun tidak bersalah, aku ingin memperlihatkan keteguhan hatiku yang juga telah diperlihatkannya pada akhir hayatnya itu…”
Di akhir suratnya Antoinette menyatakan mengampuni musuh-musuh yang berbuat jahat kepadanya, serta berpesan agar anak-anaknya tidak diajari dendam terhadap kematiannya. Surat tersebut diakhiri tiba-tiba, tanpa tanda tangan. Ia sudah terlalu letih. Surat tersebut dititipkan kepada kepala penjara. Baru 20 tahun lebih berikutnya surat tersebut terbuka, namun orang-orang yang tertulis di surat tersebut juga sudah tiada, termasuk ahli waris mahkota, Louis XVII. Sungguh tragis. Siapa pula yang menyangka keluarga ningrat Bourbon ternyata naik tahta kembali setelah Emperor Napoleon Bonaparte turun tahta, Louis XVIII memerintah Prancis walau sulit untuk menghilangkan semangat republik.
Dan revolusi pun terus berjalan.
Lima tahun setelah Zweig menulis biografi Antoinette, MGM meluncurkan film Marie Antoinette (1938) yang diperankan oleh Norma Shearer. Sofia Coppola kembali mengangkat karakter Antoinete ke dalam judul yang sama Marie Antoinette (2006) bulan Mei yang lalu dan diperankan oleh Kirsten Dunst.
Senin, 30 Oktober 2006 @ 12:20
Using
wowow Kirsten dunst
Senin, 30 Oktober 2006 @ 12:23
Using
Kirsten Sux! Ganti yang “lebih” dong!
Kedua kah?
Senin, 30 Oktober 2006 @ 13:01
Using
Memang, yang namanya pelabelan itu …
Senin, 30 Oktober 2006 @ 13:17
Using
film marie antoinnet yg di perankan oleh kristen dunts kok agak membosan kan yah?
adis ntn ga sampe abis,,dah keburu bete..hihihihi
Senin, 30 Oktober 2006 @ 13:49
Using
koq malah bahas kristen dunts?
*lost focus?!*
Senin, 30 Oktober 2006 @ 13:56
Using
Pantes aja Maria Antoinette males baca buku, kostumnya aja segitu ribetnya. Belum pake korset yang mencekik. Baca buku pan enaknya kaos + celana pendek plus tiduran dibawah pohon.
Senin, 30 Oktober 2006 @ 14:26
Using
kata temen gw, pelmnya jelek…
Senin, 30 Oktober 2006 @ 15:53
Using
ada bukunya gk A ? pinjem don.. eh ngomong2 buku AA masyi ada di akyu loh.. oh iya..selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin ya A.
Senin, 30 Oktober 2006 @ 16:01
Using
#2: Yang perutnya lebih, Yo?
#4: Belum nonton, Dis.
#6: Hehe, memang ajaib kalo lihat fashion Prancis (juga Eropa) tahun segitu. Sampe film Robin Hood diparodikan jadi Men in Thights.
#8: Ada. Taqobbalallah minnaa wa minkum.
*loh, kok nomor genap semua yang di-reply?*
Senin, 30 Oktober 2006 @ 20:59
Using
Anime/manga Rose of Versailles dan The Affair of The Necklace-nya Hilary Swank juga ada Marie Antoinette-nya.
Selasa, 31 Oktober 2006 @ 10:15
Using
revolusi perancis memang menarik… ideologi “Liberte, Egalite, Fraternite” nya perancis dibayar sangat mahal saat itu. revolusi perancis meletus lantaran rakyat tidak sanggup lagi membeli roti yg adalah makanan pokok mereka. ekonomi hancur lebur lantaran perang berkepanjangan dengan kerajaan inggris. perancis juga mengeluarkan banyak dana untuk revolusi amerika. ini karena keki ama inggris yg menjajah amerika. inilah sebabnya, prancis adalah sahabat pertama amerika, “the oldest ally.”
tapi dibanding dengan masyarakat perancis, manusia indonesia lebih tangguh. kalau tidak ada beras, ya wis, makan gaplek. benar tidak? he3.
ok deh… nice posting.
salam sukses luar biasa – paulin wijaya
Selasa, 31 Oktober 2006 @ 16:22
Using
aku baca tentang Marie Antoinette waktu kecil (tepatnya melihat, bukan membaca) di salah satu bab buku bergambar “Dunia George Washington”. di situ Antoinette dia nampak komikal sekali dengan bajunya yang berlapis2, pinggang kecil, tatanan rambut bergulung-gulung ke atas :D ketika rakyat demo karena gak punya makanan, dia menjawab dengan santai: “Makan saja roti”.
Rabu, 1 November 2006 @ 17:28
Using
Pingin nonton pilmnya tapi kq banyak yang ngomong boring ntuh!!!klo komiknya bagus…
Minggu, 5 November 2006 @ 12:35
Using
iya, banyak temen2 yg bilang kalo filmnya membosankan…
Rabu, 8 November 2006 @ 13:45
Using
klo marie antoinatte kpan launching di teather indonesia…., nunggu neh!!!
Kamis, 14 Desember 2006 @ 21:56
Using
wah,,,klo nyimak2 lagi tragis juga emang skali ahir hidupnya Kasian sih orang masih muda masih 14 taun dah disuruh mimpin negara…bisa dimaklumi. Dulu gw suka baca bukuna rose of versailles trus disitu juga nyritain ttg riwayat nya alm. antoinette…kasian sih gw mpe nangis tp gw blm nonton film antoinette yang baru nih
Senin, 5 Februari 2007 @ 12:58
Using
marie antoinette..filmnya yg baru bagus menurut gw,weardrobe ama soundtrack di filmnya manteb cinematography nya keren mantablah
Selasa, 6 Februari 2007 @ 0:58
Using
cuma org tertentu aja yg bsa blg film ttg ratu prncis ini menarik…
Minggu, 11 Februari 2007 @ 10:41
Using
Maap sebelumnya buat yang dah susah2 bikin artikel di atas, tapi saya ingin mengoreksi bebgerapa hal dari teks di atas karena ada beberapa hal yang keliru, terutama soal nama. Pertama, Marie Antoinette dan keluarganya serta Baron Axel Fersen melarikan diri dari Istana Tuileries, bukan Istana Versailles sebab pada waktu pelarian mereka ke Varennes itu (tempat mereka ditangkap) Keluarga Raja dan Ratu Antoinette sudah menjadi tawanan penduduk Paris. Mereka dipindahkan dari Istana Versailles ke Istana Tuileries di Paris pada tanggal 5 Oktober 1789 dan jadi tahanan rumah dua tahun lamanya sebelum pelarian. kedua dalam kasus Kalung Permata itu nama-nama yang terkait adalah Madame Jeanne Valois Lamotte, Count Cagliostro, Madame Nicole Leguay d’ Oliva, Kardinal Louis de Rohan, Nicholas de Lamotte dan Retaux de Villete. Madame Du Barry tidak terlibat sama sekali dalam kasus tersebut. Dan Yang terakhir, soal penyebutan lapangan Place de la Concorde. memang benar itu nama lapangan tempat Sang Ratu Perancis dipenggal, tapi pada masa revolusi Perancis meletus nama lapangan tersebut adalan Place de la Revolution. Place de la Concorde itu nama baru dari tempat itu. Sekian, makasih dan sekali lagi mohon maap sebelumnya.
Selasa, 20 Februari 2007 @ 20:25
Using
gue baru aja nonton film nye, menurut gue bagus…karena gue suka film yang ada hubungannya ama sejarah.. apalagi jadi nambah wawasan kita tentang revolusi prancis.
Kamis, 1 Maret 2007 @ 10:24
Using
Gw blum nonton yg versi filmnya, tapi udah baca ratusan kali manganya :Rose of versailles, menurut gw hal2 yg menjerumuskan Marie Antoinette sampai dihukum Guillotine lebih karena sifat naifnya yg berlebihan, boros, manja and terlalu percaya sama org2 disekitarnya yg memang opportunis, ditambah lagi suaminya Louis XVI bukanlah type orang yg tegas dan berpendirian teguh, sering kali kebijakan yg berasal dari Louis XVI bukan merupakan kebijakan yg bersumber dari kepentingan rakyat, tapi lebih dari kemauan Marie Antoinette dan selirnya yg kontroversial (karena sebelum jadi selir, dia seorg wanita penghibur), Madame Du Barry. sampai hari kematiannya Marie Antoinette tetap memegang teguh prinsip dan sikapnya sebagai seorang ratu.
Sorry kebanyakan, kalo mau lebih detail mungkin bisa baca Rose of Versailles :)
Kamis, 1 Maret 2007 @ 10:52
Using
#21: Saya tulis tentang buku Stefan Zweig, bukan manga Rose of Versailles. Madame Du Barry itu pramurianya Louis XV. Saat Louis XV mangkat, Du Barry diusir dari istana. Louis XVI dan Marie Antoinette baru naik tahta setelah itu.
Film arahan Sophia Coppola sendiri tidak tuntas, hanya sampai Marie Antoinette mengungsi ke Varennes.
Jumat, 16 Maret 2007 @ 13:55
Using
sorry, ralat maksud gw Du barry itu selirnya Louis XV bukan Louis XVI, dia diusir setelah pastur di istana versailles memberi sakramen terakhir utuk Louis XV yg sedang sekarat akibat penyakit cacar, sang pastur bilang kalau Louis XV mau diampuni dosa2nya, Madame Du Barry harus diusir dari istana karena memperistri seorang wanita penghibur adalah perbuatan menghina Tuhan dan Louis XVI serta Marie Antoinette naik tahta setelah Louis XV meninggal dunia
Kamis, 12 April 2007 @ 16:29
Using
Menurut gua sih, memang salah dari awalnya Marie Antoinette dinikahkan pada umur yang masih terlalu muda. Jadi di usia yang masih baru remaja, dia dipaksa untuk mandiri, di tempat yang asing. Misalkan dia dinikahkan pada umur 20 tahun, mungkin sejarah jadi beda dech. Karena secara pola pikir dan kedewasaan sudah memadai.
Rabu, 6 Juni 2007 @ 1:15
Using
gw udah ntn film marie antoinette arahan sutradara sofia coppola. memang bukan film yang diramu dengan formula yang mainstream dan typical hollywood movie tapi cukup mengesankan. memang bukan sebuah film historikal yang lengkap tapi kalau ingin tahu sejarah lengkap kan ada buku sejarah/biografi bukan?
ngomong2 soal buku sejarah, gw pengen banget baca bukunya. kira-kira ada informasi tentang dimana saya bisa dapat buku ini?
Senin, 25 Juni 2007 @ 14:10
Using
setuju ama molskee…btw…gimana ya cara dapetin tu buku???
Senin, 25 Juni 2007 @ 15:08
Using
#25 dan #26: Saya beli bukunya beberapa tahun yang lalu di Pasar Buku Palasari, Bandung. Terbitan lama Pustaka Jaya. Entah dicetak ulang lagi atau tidak.
Rabu, 1 Agustus 2007 @ 10:25
Using
dah baca rose of versailles?
ceritanya tentang marie antoinette.duh, romantisnya komik itu. sampe nangis pada saat baca kisah cinta von fergen dan marie.
dalam pandanganku sihhh… aku kasian banget, coz sebelum mengenal namanya first love, eh dah dinikahin,mana untuk kepentingan negara lagi…
gw g terlalu nyalahin marie, karena menurutku sebagian juga karena kesalahan orang2 di sekelilingnya.
hmmm, ada yang tau gmn nasib louis XVII?
Sabtu, 15 September 2007 @ 13:19
Using
jaman dulu kawin karena politik hal biasa.
manga marie antoinette itu inspirasinya dari buku stefen zweight yang dibahas ini dan banyak dibumbu-bumbui supaya menarik pembaca wanita. kenyataan nggak semanis itu fersen di spekulasikan adalah mata-mata swedia..
Jumat, 2 Mei 2008 @ 11:35
Using
saya tertarik dengan buku karya Zweig yang anda ceritakan, bisakah saya memiliki kesempatan untuk membaca buku itu? Saya sangat tertarik. terima kasih
Jumat, 6 Juni 2008 @ 12:11
Using
humph,kyaknya asyek jg klo lge ngmongin ibu2 kren 1 itu.Busyed,,,kontroversial bgt,coy!!Pntes bnyk yg protes,,duit rakyat diembat jg.
Rabu, 18 Juni 2008 @ 21:00
Using
Sewaktu saya masih duduk di bangku SD, saya pernah membaca sebuah buku tentang putri-putri bangsawan eropa (saya lupa judulnya). Yang jelas, buku itu sudah sangat tua.
Selain Elizabeth, di sana diceritakan pula tentang Marie Antoniette. Dari buku itu, saya mengetahui bahwa Marie Antoniette, sang Ratu Prancis bergaya hidup glamor. Dan di akhir cerita, dikisahkan Marie Antoniette di hukum mati. Intinya, melalui penggambaran seorang Marie Antoniette dalam buku tersebut, saya mengetahui bahwa dia memang pantas mati. Apa bagusnya sih Ratu yang nggak pernah mikirin rakyatnya?
Namun setelah membaca ulasan tadi, gambaran saya tentang Marie Antoniette ‘agak’berubah. Yah..bagaimana pun, dia tetap seorang wanita.
Terima kasih.
Rabu, 13 Agustus 2008 @ 7:43
Using
sejarah prancis emang sangat menarik apalagi tentang marie antoinnete, biar bagaimanapun marie tetap seorang wanita biasa
Senin, 25 Agustus 2008 @ 9:34
Using
wow… salut sama orang2 yang masih respek dengan arti sejarah….
seandainya saja sejarah jaman sekul di smp/sma di kemas sedetil dan semenarik ini(dan yang lebih penting juga meperlihatkan/membahasnya dari berbagai sisi), mungkin mebuat generasi muda gak ilfeel ma sejarah kali yah..!!
Jumat, 26 September 2008 @ 22:21
Using
lagi dooong..bahas si marie antoinette..
blm puas niiihhh…hehehe
Rabu, 29 Oktober 2008 @ 12:10
Using
Dari SMP, suka banget sama sejarah revolusi perancis, kebetulan waktu itu berbarengan dengan film dengan tema yang sama..judulnya “LADY OSCAR”, sebenernya tokoh oscar francois de jarjayes (maaf klo ejaannya salah) itu ada ngga sih? SOalnya ngga pernah dibahas…mohon infonya.thx..
Minggu, 16 November 2008 @ 12:34
Using
Menarik juga nih, Revolusi prancis
Biar lebih oke, masukin juga dong foto asli Marie Antoinette n istana Versailles..
Kurang puas klo cuma bca n gak da foto nya,,,
Senin, 1 Desember 2008 @ 12:17
Using
Oscar tu cuma tokoh karangan aja. Ketik deh Oscar de Jarjayes di wikipedia ntar u bisa tau macem-macem. Rosalie juga fktif.
Selasa, 16 Desember 2008 @ 12:21
Using
stelah bc hal ne..
dimana bisa dpt bku yg ng bahas soal marie antoinette lbh dlm??
lbh tertarik soal kepribadian marie antoinette..cos dy puny kpribadian yg mnarik..
sblum itu jg..soal han axel fon fergen itu sbenerny ad hub ap dng ratu?
jd pngen tw laenny soal marie antoinette dr kcil mpe jd ratu hahahahaha
Selasa, 17 Februari 2009 @ 15:38
Using
yang namanya sejarah itu memang untuk dikenang. aku emank selalu memperhatikan sejarah politik prancis. dan emang banyak pengkhianat di dalamnya..
Kamis, 12 Maret 2009 @ 11:24
Using
i love Marie antoinette….ambisinya cocok bgt buat wanita jmn skrg….tapi filmnya sm skali ga menggambarkan dia banget
Senin, 6 April 2009 @ 15:13
Using
bahasan diatas kurang tambahkan dong yang lengkap…Saya pernah baca komik manga jepang yang judulnya Rose of Versailes ceritanya hampir sama dengan kutipan di atas karena menurut pengarang dia memang mengangkat dari kisah istana versailes yang terkenal itu. dalam komik tersebut marie antoinette adalah putri dari bangsawan austria dan menikah pada usia 14 tahun, suka berfoya foya, pesta sampai pagi. Saya lupa – lupa ingat karena saya membaca ketika saya SMA. tetapi memang sejarahnya patut untuk di baca. Bagi teman – teman yang memang tertarik dengan sejarah prancis silahkan baca komik tersebut dan bisa memberi komentar tentang cerita komik tsb apakah sama dengan sejarah prancis atau tidak.
Minggu, 31 Mei 2009 @ 20:19
Using
yup betul, mendalami karakter Marie Antoinette lewat komik Rose of Versailles kliatannya lebih kena. saya sampai baca komik itu beratus2 kali,saking herannya dengan ceritanya yang bagus.gak bosan baca berkali2. karena komik itu juga saya tertarik Revolusi Perancis.Recommended banget buat dibaca.palagi mungkin yang pengin tau lebih banyak ttg Marie ANtoinette
Sabtu, 17 April 2010 @ 21:57
Using
hmm…saya lihat versi kirsten dunst dan norma shearer. jauh berbeda. memang dari segi tampilan, lbih menarik yang kirsten (berwarna) daripada norma(hitam putih). 2-2nya sama2 mengangkat tema yang sama yakni kehidupan ratu marie antoinette. tapi, perbedaanya yang menonjol adalah dari penulis yang dijadikan basic-film tersebut. antoinette versi kirsten diangkat dari novel marie antoinette-the journey karya Antonia Fraser. kalau yang norma diangkat dari novel marie antoinette-bildnis eines mittleren charakters karya Stefan Zweig. jalan certanya mungkin ga trlalu beda jauh. tapi yang jelas film coppola memang “agak” membosankan. antoinette yang diprankan norma sedikit lebih hidup.
Jumat, 4 Juni 2010 @ 14:49
Using
filmnya sofia coppola tuh bagus costum sama artnya doang….. Menurut gw, film Sofia Coppola sendiri banyak terdapat distorsi sejarahnya.., terutama tentang kepribadian dan skandal “affair”nya sama Count Fersen itu…. kalo mo’ jelas, bisa kok liat di situs teaattrianon.com sama versaillesandmore.com. Situs2 itu dibuat ama historical novelist ( Elena Maria Vidal ama Catherine Delors ) yang novel2 mereka berlatar Prancis khususnya Revolusi Prancis secara detail… Artikel2nya so pasti historical banget dah! terutama kalo ngebahas tentang Marie Antoinette yg sebenarnya….
Jumat, 1 Oktober 2010 @ 9:47
Using
waaaahhhhhhhhhhh,,, gx da bosen”y klw dah ngomongin Revolusi Perancis,, khusus’y tentang Marie Antoinette dan Versailles…
Minggu, 30 Januari 2011 @ 20:01
Using
Aduch aq penggemar beratnya marie,, ud nnton dvdnya yg 2006,, tp month juga neh nonton yg 1938,, mas bole dong minjem bukunya,, ato sy az deh yg beli… Tserh deh harganya, bukunya pke bhs indo jg khn?? Yach yach..please… Email sy lg ya.. Thanks
Minggu, 3 Juli 2011 @ 12:56
Using
baru aja nonton film Marie Antoniatte yg diperankan Kirsten Dunst,,,,rada bingung dan ending yg tertulis dia dihukum mati tidak ada di dlm filmnya. baru ngerti ternyata intinya gitu.
kalau menurut saya, Marie dan suaminya orang baik. tapi mungkin mereka memang tidak baik dalam memimpin kerajaan. mereka cocok menjadi masyarakat biasa saja.
Minggu, 4 Desember 2011 @ 15:24
Using
baru keinget bwt nyari blog ny, stlah ngebaca ulang bku ny….
buku Marie Antoniatte milik q adlh hdiah ultah dri ortu aq yg ke 12 skrang umr q 14
aneh bgt dlu, stlah aq bsa bca hadiah ultah dri ortu aq slalu Buku Seri Tokoh Dunia
setyap ultah slalu 2 buku, thn ini aq dapat kan buku Helen Keller n Habis Gelap Terbitlah Terang, dri sekian banyak bku q, kisah tragis Marie.A ini lh yg paling rumit ngebaca ny knpa yyy ??? di film memang gk ada adegan pancung krna disensor…
klo film ny menurut q bagus shii, tpi ad crita yg tepotong..