Mahabharata dalam Pupuh Sunda

Selasa, 10 Oktober 2006M
17 Ramadhan 1427H

Bahasa tingkat tinggi dalam sastra penuh dengan siratan cerita dan makna, meski hanya dalam kalimat dan paragraf yang pendek. Keterbatasan teknologi dokumentasi dahulu kala membuat para empu dan pujangga melestarikan cerita dalam puisi dan sajak yang mudah dinyanyikan setiap orang, menjadi nyanyian rakyat yang lestari.

Satu cerita besar –yang disebut sebagai epik– memuat rangkaian banyaknya cerita dan tokoh. Tokoh nyata, fiksi maupun fabel dan metafora disampaikan sebagai ajaran untuk mewariskan sebuah budaya. Kita mengenal epik besar seperti Iliad dan Odyssey karya Homer yang memuat cerita dewa-dewa Yunani dan para ksatrianya, turun temurun kisah tersebut disampaikan sebagai ajaran leluhur. Perang dan Kuda Trojan, Paris, Hector, Achilles dan Helen of Sparta hanyalah sebagian cerita dari kisah panjang perjalanan Odysseus of Itacha.

Kita pun tak kalah punya pujangga besar yang menelurkan sebuah epik yang sekaligus sebagai bukti sejarah, kitab Negarakretagama, karya Empu Prapanca. Sebuah kitab berisi kejayaan Nusantara dahulu hingga kebesaran Majapahit dalam bentuk pupuh. Terima kasih kepada Langit Kresna Hariadi yang membuat buku cerita Gajah Mada (jilid I, II, III dan IV) yang lebih mudah dibaca dan menyenangkan daripada membaca kitab Negarakretagama langsung.

Juga kita tak lepas dari pengaruh epik terbesar dan terpanjang di dunia ini, epik Mahabharata dari negeri India, total berisi 1,8 juta kata. Sebuah epik yang dituturkan Abiasa (Vyasa) dan ditulis oleh Ganesha, di mana kedua tokoh ini juga adalah bagian dari epik tersebut. Mahabharata menjadi ajaran Hindu tentang empat hal utama, yaitu kama, artha, dharma, dan moksa.

Mahabharata bukan sekadar cerita perang atau raja dan kerajaan, ia menuturkan banyak kisah, banyak tokoh, banyak karakter dan banyak cerita dari sejak Santanu dan Satyawati hingga perang besar Bharatayudha dan perjalanan Krisna selanjutnya.

Sejak nusantara tercatat dalam sejarah 16 abad yang lalu, kita mengenal rangkaian kerajaan-kerajaan berdiri dan jatuh yang dipengaruhi budaya Hindu, dari nama hingga tatanan hidup dan negara. Mahabharata menjadi buku panduan dalam mendidik masyarakat kala itu, dan disampaikan setelah ditranslasikan oleh bahasa daerah masing-masing.

Sebagai kisah dan ajaran luhung Mahabharata tidak sembarangan disampaikan. Salah mengerti atau bias bisa saja terjadi. Untuk itulah budaya di nusantara, khususnya Jawa dan Sunda menerapkan tatanan penyebaran ajaran melalui wayang. Sebuah kebudayaan dalam bentuk seni yang tinggi yang membawa ajaran adiluhung, namun mudah didengar oleh masyarakat bawah.

Sebagai penghormatan kepada ajaran luhung tersebut, para resi, empu dan dalang akhirnya menciptakan tokoh tambahan untuk sisipan ajaran lain atau informasi lain serta sebagai hiburan dan komedi yang lebih bebas di mata rakyat, yaitu Punakawan.

Punakawan seolah-olah omnipresen dalam Mahabharata, apapun lakon yang dimainkan sang dalang; Punakawan selalu hadir. Semar sebagai punakawan yang bijak membantu menjelaskan cerita agar mudah dipahami rakyat dan ketiga punakawan lainnya yaitu Cepot, Dawala dan Gareng (Jawa: Gareng, Petruk dan Bagong) memberi hiburan segar tanpa merusak cerita intinya.

Sebagai penyeimbang lakon atau cerita, Punakawan dari sisi lawan juga ada, dalam wayang digambarkan dengan tokoh-tokoh yang buruk rupa. Tentunya ini adalah hiburan yang menyenangkan, apalagi dulu tahun 1980-an dalang Asep Sunandar Sunarya membuat wayang karet yang mulutnya bisa bergerak, mengeluarkan asap rokok, hingga muntah mie, termasuk punakawan gacoan, Cepot atau Astrajingga yang bisa menampakkan kakinya di atas gebog cau, batang pohon pisang untuk menancapkan wayang. Tak lupa kostum Punakawan yang selalu berganti-ganti di tiap lakon.

Inovasi mutakhir dalang Asep Sunarya adalah memindahkan sinden dan nayaga yang biasanya di belakang dalang menjadi di depan atau samping dari panggung wayang, serta memasang layar putih proyektor sebagai latar belakang dari arah penonton yang bisa berganti-ganti sesuai lakon di atas panggung wayang.

Cuplikan buku pupuh Sunda Mahabharata

Dangdanggula bubukaning dangding
nutur catur ngaréka carita
nyutat tina kitab kahot
pusaka urang Hindu
nu geus mashur di kolong langit
kitab Mahabharata
ari nu dimaksud
sangkan para mitra Sunda
kersa nulad sugri kaluhungan budi
malar tambah jembarna

Pupuh di atas adalah pupuh Dangdanggula pembuka kisah Mahabharata yang ditulis oleh M.A. Salmun dan R. Memed Sastrahadiprawira. Kisah Mahabharata ditulis oleh mereka berdua dalam bentuk pupuh Sunda, diterjemahkan dari Mahabharata berbahasa Belanda, karena saat itu Dr. Henriette W.J. Salomons yang menulis Gewijde Verhalen en Legenden van de Hindu’s adalah ahli sastra yang serius meneliti literatur Sansekerta.

Tahun 1930-an Balai Pustaka mulai mengeluarkan cerita Mahabharata yang berseri, ditulis dalam 11 jilid dalam bab-bab:

  1. Luluhur Pandawa
  2. Pandawa Jajaka
  3. Pandawa Papa
  4. Pandawa Ngadeg Raja
  5. Pandawa Diperdaya
  6. Pandawa Kasangsara
  7. Pandawa Nagih Jangji
  8. Mepek Balada
  9. Barata Yuda I
  10. Barata Yuda II
  11. Pandawa Seda

Jilid kesatu hingga ketujuh di-dangding (dilagukan) oleh R. Memed Sastrahadiprawira, namun dari jilid kedelapan hingga kesebelas diteruskan oleh R. Sacadibrata karena juragan Memed tutup usia. Keseluruhannya dibundel oleh Balai Pustaka menjadi sebuah buku sebanyak 292 halaman.

Setiap pupuh —sebanyak 17 pupuh— masing-masing menggambarkan suasana cerita yang berbeda. Kisah dan adegan para tokoh berganti-ganti dari pupuh satu ke pupuh yang lain. Namun tidak semua pupuh Sunda digunakan dalam buku ini, misalnya pupuh Balakbak yang bersifat guyon tidak dipakai, karena dalam cerita Mahabharata tidaklah ada senda gurau atau guyon. Pupuh Sunda sendiri mempunyai aturan yang ketat dalam jumlah suku kata dan bunyi vokal akhirannya, misal dalam pupuh Dangdanggula di atas harus berpola:

10 suku kata, berakhiran vokal i
10 suku kata, berakhiran vokal a
8 suku kata, berakhiran vokal a, o atau e
7 suku kata, berakhiran vokal u
9 suku kata, berakhiran vokal i
7 suku kata, berakhiran vokal a
6 suku kata, berakhiran vokal u
8 suku kata, berakhiran vokal a
12 suku kata, berakhiran vokal i
7 suku kata, berakhiran vokal a

Aturan tepatnya saya sendiri tidak punya rujukannya, pola di atas adalah apa yang pernah saya pelajari sewaktu belajar di sekolah dasar dan menengah, sebagai mata pelajaran Basa Sunda di sekolah-sekolah, khusus di tatar Priangan.

Konon buku ini menjadi buku wajib para dalang Wayang Golek. Benar tidaknya saya kurang tahu. Berapa banyak yang mempunyai buku ini juga tidak diketahui, saya beruntung dipinjamkan membaca buku ini. Saya berminat menulis ulang isi buku ini ke dalam format digital dengan ejaan tulisan Latin saat ini karena buku tersebut dicetak dalam ejaan lama (dj sebagai aksara j, j sebagai aksara y, tj sebagai aksara c) dengan aksara e sebagai e taling di mana ejaan Sunda saat ini yang saya ketahui adalah aksara e adalah e pepet, sedang e taling ditulis e acute atau é.

Mengenai lisensi atau hak cipta belum saya cari informasinya, apakah isi buku ini sudah bisa dikatakan public domain atau belum. Jika pada tahun 1956 para penulis buku ini belumlah tutup usia maka tahun ini karya mereka masih belum menjadi public domain. 50 tahun setelah penulis/pemegang hak cipta tutup usia barulah karya tersebut menjadi public domain. Saya tidak tahu hukum Hak Cipta di Indonesia mengatur berapa tahun lamanya.

Cuplikan komik R.A. Kosasih: Mahabharata

Kisah Mahabharata ini selain dalam bentuk pupuh Sunda juga pernah dituliskan dalam versi komik karya R.A. Kosasih. Saya yakin banyak pembaca pernah mengikuti kisah Mahabharata dalam gambar hitam putih tersebut dahulu. Sebagai informasi bagi para kolektor, kini anda bisa juga mendapatkan komik Mahabharata versi hardcover beserta Baratayudha.

Format lain dalam bentuk buku berbahasa Indonesia yang banyak beredar di toko buku adalah karya Nyoman S. Pendit, 500 halaman yang cukup tebal untuk dibaca. Selain itu, dunia film India juga pernah meluncurkan serial TV Mahabharata yang cukup populer diputar secara rutin beberapa tahun yang lalu. Sedangkan versi miniseri arahan Peter Brook The Mahabharata belum saya tonton. Kabarnya Bollywood sedang membuat The Mahabharata Trilogy yang diperankan aktor-aktris papan atas (daftar pemeran).

Komentar

30 komentar untuk catatan 'Mahabharata dalam Pupuh Sunda'

  1. #1
    gravatar

    wah keren ey dahsyat bgt, ceritain juga dong tentang “Sawarga” dan Kesanghiangan
    leluhur semar (sanghiang Ismaya)wah klo ada seneng pisan yeuh.
    hatur nuhun pisan kang jay.
    ato tentang Kiansantang…benerga ya beliau sejaman denan Saidina Ali ditanah arab apa itu sebuah mitos?

  2. #2
    gravatar

    karuhun kita sudah pandai membuat pupuh, tidak hanya mahabarata (Memed sastrahadiprawira, satja di brata dan m.a.salmun) tetapi juga ramayana menjadi pupuh : Wawatjan Batara Rama oleh R.A.A. Martanagara.
    Saya merasa bahwa kisah R.A Kosasih pun “mengunduh” dari Mahabarata “karya” Memed sastrahadiprawira,Satja di Brata dan M.A.salmoen ini, kaciri nyundana.
    Sok atuh geura prak…..saya yakin mahabharata sudah menjadi milik masyarakat… dan sok atuh tampilkan keragaman budaya bu jadi kareueus urang

  3. #3
    gravatar

    jagalah apa yg menjadi milik bangsa kita ini jangan lah dengan adanya kemajuan teknologi yg tinggi kita lupa diri sendiri,buang lah impian yg kosong mari kita saling menjaga budayakita agar tidak tergerus oleh budaya asing.kepada yg tahu sejarah jangan bosan 2 memberikan apa yg mereka miliki kepada kita yg masih awam.sejarah sangat perlu kaitan nya dengan berdirinya satu bangsa.

  4. #4
    gravatar

    saya pernah baca bukunya, ketika itu sy baru kelas 2 SMP dan tamat, sehingga ada sedikit faham karakter tokoh pewayangan, eh…sudah sekian tahun perjalanan saya sempat berkomunikasi dg beberapa tokoh tsb, tapi diselimuti misteri dan ada kode etik nya, namun itulah penciptaan Allah yang Maha luas… .. ., untuk menghindari fitnah; tahyul dan kurafat, maka cukuplah “rahasia kecil” Allah itu sebagai salah satu karunia bagi saya pribadi… .. ., mungkin ada beberapa rekan pembaca ada pernah mengalami hal yg sama, atau tdk sama sekali, saya juga penganut syariat dan mengaku taat, Aamiyn.

  5. #5
    gravatar

    Kangen ingin baca lagi komiknya karya R.A. Kosasih.( apakah beliau masih ada di Bogor?) Masih dijual ngga ya di toko buku? Kata beberapa sepuh, lakon Pandawa – Kurawa .. mirip lakon tragis Palestina – Israel dan lakon2 lain yang serupa…(di tanah air kita juga). Iya juga yah..Bagi saya banyak misteri yang perlu ditelaah lebih dalam, rendah hati dan bijak…ada grand design dari Sang Pencipta Alam dan Kehidupan ini yang tdk kita fahami..mungkin sampai ahir hayat kita.Allahu Akbar.. Membaca kehidupan tidak bisa dan tidak cukup dengan kaca mata hitam-putih..It tends to be superficial..if you do not enough knowledge to understand it…Karya2 satra para empu sejak dulu mencoba membaca misteri itu..dengan berbagai simbol. Wallahu’alam.

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.