Gajah Mada: Hamukti Palapa

Senin, 4 September 2006M
10 Syaban 1427H

Kali ini saya mendapat kesempatan membaca draft buku Gajah Mada: Hamukti Palapa karya Langit Kresna Hariadi. Draft tersebut saya dapat dalam format MS Word. Kurang nyamannya membaca tulisan yang setara dengan 300 lebih halaman dalam format cetak pada layar komputer saya convert ke dalam format dokumen Aportis (PDB) menggunakan pengolah kata OpenOffice, dan kemudian saya baca secara santai di ponsel SE P900 melalui aplikasi Mobipocket Reader.

Penerbit Tiga Serangkai setelah menerbitkan Gajah Mada dan Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara kembali akan meluncurkan Gajah Mada: Hamukti Palapa dalam bulan September ini.

Sampul Buku Gajah Mada: Hamukti Palapa


Kisah Gajah Mada kali ini merupakan rangkaian kejadian semenjak Majapahit dipimpin oleh dua ratu, Dyah Wiyat dan Sri Gitarja yang diangkat memimpin Majapahit karena Jayanegara tidak meninggalkan keturunan lelaki yang bisa diangkat menjadi putra mahkota.

“Ada sebuah hal penting yang harus kau kerjakan. Bantulah aku untuk mencuri dua buah benda pusaka penting di istana Majapahit, masing-masing Cihna Nagara Gringsing Lobheng Lewih Laka dan Songsong Udan Riwis.”

Adalah pesan tersebut yang diterima Branjang Ratus, putra Ki Buyut Padmaguna, saat menghadap bibinya, Sri Yenda, atas permintaan Ki Buyut. Kedua benda tersebut adalah pusaka negara Majapahit yang digunakan dalam menobatkan raja-raja pendahulu Majapahit, Raden Wijaya dan kemudian Jayanegara, serta kedua Ratu tersebut.

Majapahit kemudian dilanda bencana alam. Gunung Kampud meletus disertai gempa dalam keadaan musim panas yang kering kerontang. Di saat itulah istana Majapahit geger karena dimasuki maling. Kedua pusaka tersebut hilang dicuri, mempermalukan Gajah Enggon sebagai Senopati Bhayangkara, pimpinan pasukan khusus, serta Gajah Mada sebagai Patih yang harus bertanggung jawab kepada Mahapatih Arya Tadah dan kedua Ratu Majapahit.

Gajah Enggon meletakkan jabatan dan atas petunjuk Ibu Suri Gayatri Gajah Enggon mencari jejak pencuri kedua pusaka tersebut ke Hujung Galuh membuntuti jejak hujan, sekaligus sebuah pesan pribadi bahwa hidup Gajah Enggon akan bermula di sana. Sebuah petunjuk yang aneh bagi prajurit Bhayangkara tersebut. Dengan bantuan Pradhabasu, mantan Bhayangkara yang telah kembali menjadi penduduk biasa di buku sebelumnya berangkatlah mereka ke pelabuhan yang sekarang menjadi kota Surabaya.

Di saat yang sama Majapahit dilanda kericuhan, lima orang berkuda membakar-bakar rumah penduduk. Aksi tersebut sulit diatasi oleh para prajurit dan Bhayangkara, namun Gajah Mada merasa itu adalah sebuah taktik dari perusuh agar pasukan menyebar keluar istana. Gajah Mada masih memikirkan kembalinya pencuri tersebut ke istana atas petunjuk Ibu Suri Gayatri. Kelima orang perusuh tersebut sempat dijumpai Gajah Enggon dan Pradhabasu, namun tugas dan kepentingannya memburu pencuri pusaka negara ke Hujung Galuh tak membuat mereka kembali ke Majapahit meskipun dengan rasa penasaran yang tinggi bahwa merekalah pencuri tersebut.

Prajurit istana dan Bhayangkara menjaga rapat istana, namun seperti pada pencurian sebelumnya berhasil lolos memasuki gudang pusaka karena ilmu sirep yang membuat kantuk seisi istana. Penjagaan yang ketat dan pagar betis yang rapat setelah maling tersebut masuk ke dalam gudang pusaka juga masih membuat pencuri tersebut lolos dengan bantuan kabut yang sangat tebal di malam hari. Kabut hilang bersamaan dengan hilangnya mahkota raja beserta Ibu Suri Gayatri. Namun kemudian biksuni Gayatri kembali lagi, membuat segudang pertanyaan bagi Gajah Mada. Atas pertemuan singkat di keputren Gajah Mada menyimpulkan usaha makar dan kudeta dari seseorang yang mencuri benda-benda pusaka tersebut, di mana benda-benda pusaka tersebut biasa digunakan dalam menobatkan seorang raja yang naik tahta.

Patung Gajah Mada

Keta dan Sadeng adalah dua wilayah yang dicurigai Gajah Mada. Kedua wilayah ini sudah dua kali tidak hadir dalam pasewakan (pertemuan tahunan) di alun-alun Bubat. Pasewakan adalah pertemuan tahunan para raja di bawah bendera Majapahit. Pasewakan kali ini diadakan dengan menggelar latihan perang bersama dari seluruh kesatuan, termasuk simulasi gelar perang taktik baru, yaitu Bayu Bajra. Salah satu utusan yang hadir adalah rombongan kerajaan Swarnabhumi (Palembang/Sumatra) yang berlabuh di Hujung Galuh, membawa puluhan kapal besar yang baru pertama kali dilihat Majapahit, dan Aditiawarman –yang masih kerabat keluarga Majapahit– membawa benda aneh bagi Gajah Mada, sebuah peledak atau mercon.

Gajah Enggon dan Pradhabasu di Hujung Galuh akhirnya memisahkan diri. Gajah Enggon tetap membuntuti jejak pencuri pusaka ke utara dan Pradhabasu bergerak ke selatan ke arah Keta dan Sadeng untuk membantu telik sandi yang sedang beroperasi mencari bukti Keta dan Sadeng yang dikabarkan akan memberontak. Operasi para telik sandi ini pun akhirnya dikabarkan ke Gajah Mada yang saat itu menjaga istana sekaligus mengadakan pasewakan.

Aditiawarman kemudian pamit dari pasewakan, lebih cepat dari jadwal yang telah diutarakannya kepada kedua Ratu Majapahit untuk kembali ke Hujung Galuh dan berlayar kembali. Di saat yang sama para telik sandi Keta dan Sadeng mengabarkan semua perkembangan gerak-gerik Gajah Mada dan kondisi pasewakan, termasuk berita prajurit istana yang diberangkatkan ke Keta dan Sadeng setelah pada pasewakan tersebut Gajah Mada membuktikan rencana berontak dengan bukti akurat yang dikirim oleh Pradhabasu dan telik sandi yang sedang beroperasi di sana.

Berhasilkah Gajah Enggon mengejar pencuri kedua pusaka Majapahit tersebut?
Siapa pula pencuri lain yang mencuri mahkota raja?
Bagaimana taktik Gajah Mada meredam upaya makar di Keta dan Sadeng?
Terjadikah perang di Keta dan Sadeng?
Siapa Branjang Ratus, Ki Buyut dan Sri Yenda yang diceritakan di awal buku?
Bagaimana Arya Tadah meletakkan jabatannya dan menobatkan Gajah Mada menjadi Mahapatih?

Selain rentetan peristiwa di atas, Langit Kresna Hariadi memberi sisipan cerita flash back tentang pemberontakan di Singasari, tentang keris Empu Gandring, tentang Kertanegara mengusir utusan Tartar (Kubilai Khan), Jayakatwang melakukan kudeta kepada Kertanegara hingga Sanggramawijaya (Raden Wijaya) naik tahta dan membuat negeri baru Majapahit.

Sebuah fiksi sejarah yang menarik!

Dan berikut foto Langit Kresna Hariadi saat di Bandung beberapa waktu yang lalu.
Langit Kresna Hariadi di Bandung

Saat ini Gajah Mada: Perang Bubat juga sudah selesai ditulis oleh beliau.

Komentar

158 komentar untuk catatan 'Gajah Mada: Hamukti Palapa'

  1. #1
    gravatar

    Kalo saya bandingkan antara Gajah Mada 3 dan Tutur Tinular, ada perbedaan dalam cara memandang 2 tokoh sejarah:
    1. Raden Ardaraja: di GM3 Ardaraja dikisahkan sebagai tokoh yang terombang-ambing apa dia harus membela ayah kandungnya (Prabu Jayakatwang) atau ayah mertuanya (Prabu Kertanegara), dan Raden Wijaya bisa memaklumi. Sementara TT mengisahkan Ardaraja sebagai tokoh yang totally antagonist dengan menyulut 2 kekacauan di istana Singosari, dan Raden Wijaya dendam sama dia.
    2. Arya Wiraraja: di GM3 Wiraraja dipandang sebagai tokoh bermuka dua yang bakal dibeset mukanya ama Gajah Mada, sementara TT nggak demikian.

  2. #2
    gravatar

    gajah madah sakmeniko tase urip.lan tiangnipun tasek ngabdi ing pendaleman katurunanipun mojopahit. ing salasijine jaman padepokan meniko bakal balik ing hastanipun gerangane anak cucune wijaya..sabdo pandito ratu tur gumintang ing prahono mojopahit

  3. #3
    gravatar

    cerita bubat.!!! seperti viking datang main kuis dijakarta”kuissiapa berani”tapi dilicikan ma jak mania!!!!itulah urang sunda sering dilicikin/disyiriki ku suku lain”””maka nya kita(sunda) lebih baik dari suku lain..!!!

  4. #4
    gravatar

    Salut kalau ada produsen yang buat film dari buku ini..

  5. #5
    gravatar

    berarti gm kurang jentelmen krn membantai raja sunda dibubat dgn tdk seimbang.kalau dia seorang yg berjiwa patih orang lemah ditangkap bukan dibantai.waktu pembantaian dibubat sbnary bkn tujuan perang tp mau mgkt tali persaudaraan melalui pernikahan.tp dibantai dgn pemaksaan mengaku kerajaan majapahit.berarti dia bkn seorang yang satria karena disaat dk sanggup mengalahkan pasundan maka melakukan cr lain dgn kedok perkawinan &dibantai dibubat.kalau dia salah maka raja majapahit menghukmnya tapi dk pernah mghukumnya cm mennon aktifkan jabatan.apakah jabatan itu setingkan dgn nyawa2 yg telah dbantai.

  6. #6
    gravatar

    wah gajah mada itu tampangnya kaya apa ya .. menurut saya dia gagah perkasa ..

    by jasa ekspedisi

  7. #7
    gravatar

    saya penggemar berat serial Gajah Mada. saat ini saya sudah mengoleksi beberapa seri buku Gajah Mada. beberapa hari yang lalu saya membeli ” Sumpah di Manguntur “. saya berniat mengoleksi serial lainnya yang berjudul ” Hamukti Palapa”
    apa kedua seri tersebut sebenarnya sama? saya bingung. karena saya membaca resensi ” Hamukti Palapa” ternyata sama dengan ” Sumpah Di Manguntur ”
    saya sudah membeli seri ” Hamukti Palapa” secara online dan tinggal menunggu buku tersebut sampai kepada saya. karena penasaran, saya intip versi e-book nya. ternyata sama.
    lalu apakah ” Perang Bubat ” adalah judal lain dari ” Sanga Turangga Paksowani ” ?

    terimakasih sebelumnya dan saya sangat mengagumi serial Gajah Mada karya pak Langit. Bahkan saking nge-fans nya jika ada waktu saya ingin sekali ke Mojokerto untuk melihat langsung situs peninggalan di Trowulan.

  8. #8
    gravatar

    Wah cocok ni jika jadi Film Kolosal
    Topppp Abis…..

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.