xDSL: Keluarga Digital Subscriber Line
Kamis, 31 Agustus 2006M
07 Syaban 1427H
- Tracking System
- International phone card
Sepuluh tahun yang lalu saya membaca-baca teknologi Digital Subscriber Line pada majalah Network Magazine, sebuah majalah impor yang saat itu masih relatif murah. Pada awalnya DSL adalah singkatan dari Digital Subscriber Loop, namun setelah beberapa tahun berubah menjadi Digital Subscriber Line, seiring dengan berbagai perkembangan teknologinya.
DSL merupakan teknologi jaringan digital menggunakan kabel tembaga atau copper wire, dirancang untuk diimplementasikan pada kabel telepon (PSTN atau POTS) sampai jarak 5km. Dengan sepasang kabel tembaga (single pair) pada jarak tersebut teorinya mampu membawa data digital hingga 2Mbps. Jika jarak berlebih otomatis kemampuan data yang melewati kabel akan berkurang. Kabarnya, dari seorang teman yang pernah bekerja memasang kabel sekunder telepon di Bandung, jarak total kabel telepon dari rumah hingga gardu STO bisa berjarak 10km, bahkan 15km. Mungkin hal ini yang membatasi produk DSL Telkom hanya menawarkan sambungan sebesar 384kbps. Ini besaran sambungan jaringan akhir atau sering disebut last-mile access, bukan besaran trafik data internet.
Sambungan DSL dari pelanggan berujung di STO pada sebuah DSLAM, Digital Subscriber Line Access Multiplexer. Disebut sebagai multiplexer karena perangkat tersebut memisahkan sambungan DSL kembali menjadi dua bagian, satu sambungan data digital untuk diteruskan ke router dan satu sambungan data analog voice telepon ke PSTN. Pada sisi pelanggan, modem DSL juga membagi dua sambungan, satu sambungan ke komputer (melalui port ethernet/USB) dan satu sambungan ke pesawat telepon. Dengan teknologi ini pelanggan mendapat koneksi internet yang always on tanpa mengganggu percakapan telepon, atau sebaliknya percakapan telepon tidak akan mengganggu koneksi internet.
DSL yang paling banyak diimplementasikan adalah tipe Asymmetric DSL, disingkat ADSL. Asimetrik karena batasan teknologinya, yaitu uplink dan downlink tidak bisa setara, misalnya pada kondisi ideal download bisa maksimum 2Mbps namun pada saat yang bersamaan upload hanya 128-256kbps.
Saat Jepang, Eropa dan Amerika mulai menerapkan VDSL, Very High Bitrate Digital Subscriber Line, Indonesia baru memulai ADSL ini. VDSL merupakan pengembangan DSL sehingga kapasitas ADSL bisa mencapai 8Mbps hingga 16Mbps. Bahkan sedang dikembangkan teknologi VDSL2 yang lebih tinggi kapasitasnya. Dengan komparasi koneksi di Indonesia dengan di Eropa, bayangkan akses personal/rumahan di Eropa bisa menjadi akses ISP kelas teri di Indonesia. Terlebih jika dibandingkan dengan negara yang sudah menggelar Ethernet to The Home atau Fiber to The Home.
Saat Telkomnet Instan digelar pada tahun 1999, Bandung baru bisa menikmatinya pada tahun 2001. Saat Telkom Speedy digelar tahun 2004, Bandung baru bisa menikmatinya pada tahun 2006. Tertinggal dua tahun, apalagi kota-kota lainnya. Belum termasuk ISP lain selain Telkom yang ingin ikut menjual teknologi ini ke pelanggan-pelanggannya. Jika layanan teknologi DSL oleh Telkom sebagai ISP jauh lebih baik, mungkin sebaiknya ISP kelas teri bunuh diri. Jika layanan teknologi DSL dijual oleh Telkom sebagai operator infrastruktur kepada ISP kelas teri, mengapa sepertinya sulit dan berakibat harga jual ke pelanggan menjadi jauh terlalu mahal?
Untuk keperluan jaringan digital tertentu teknologi VDSL bisa diterapkan pada sambungan outdoor antara gedung dengan gedung jika pemasangan kabel ethernet UTP sudah tidak memungkinkan, atau pemasangan kabel fiber optik terlalu mahal. Implementasi lainnya adalah di rental office bertingkat, hotel atau apartemen yang sudah memiliki jaringan kabel telepon internal dengan PABX jika memasang kabel ethernet UTP baru –sistem jaringan komputer termurah– juga terlalu mahal. Untuk kelas korporat pemasangan kabel telepon antar gedung dengan sepasang modem VDSL bisa dikatakan relatif murah, apalagi dengan fitur kestabilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemasangan wireless 2.4GHz yang banyak gangguan interferensinya.
Dengan menggunakan dua pasang kabel telepon untuk keperluan di atas, bisa dipasang DSL yang lebih baik, yaitu Symmetric DSL (SDSL) atau High Datarate DSL (HDSL). Keuntungannya adalah uplink dan downlink yang simetris pada saat yang bersamaan. Kekurangannya adalah harga perangkat sepasang modem SDSL atau HDSL lebih mahal, empat hingga lima kali lipat harganya. Mungkin relatif lebih murah menggunakan kabel fiber optik dengan kartu fiber optik ethernet PC untuk sambungan router ke router, atau perangkat jenis bridge fiber optik to ethernet UTP port yang bisa berkapasitas 100Mbps hingga 1Gbps.
Teknologi lain yang masih merupakan keluarga DSL adalah Powerline DSL (PDSL), jaringan digital menggunakan kabel listrik. Jaringan listrik di rumah-rumah secara fisik tersambung hingga gardu listrik tempat stepdown voltage converter berada. Teknologinya dalam satu gardu yang sama sambungan kabel listrik bisa ditumpangi data digital dengan konsep bandwidth dipakai bersama. Arus listrik bolak-balik AC menggunakan frekuensi 50Hz atau 60Hz, dengan ditumpangi frekuensi dari 1, 6MHz hingga 30MHz bisa dihasilkan kapasitas data digital 2, 7Mbps, 45Mbps hingga 135Mbps pada headend gardu listrik. Entah apa yang kurang pada jaringan listrik di Indonesia ini, hingga kini tak pernah ada laporan resmi keberhasilan PLN dalam menerapkan PDSL ini
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:03
Using
lieur!
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:04
Using
untung punyaku masih nyambung walaupun leleto lambreta seampun2an.
*berdoa supaya tidak fakir benwit selalu.
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:04
Using
Pertamax!
Di Indonesia kapan ada?
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:04
Using
Pertamakah? *gak yakin*
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:06
Using
nungguin DSL 512 kbps dengan harga 38 USD di indo?
*beuhhh*
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:06
Using
gak ada analisis perbandingan kecepatan nge-junk via DSL vs dialup?
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:24
Using
#6: Tingkat kecepatan ngejunk yang utama dipengaruhi oleh kecepatan otak dan bandwidth dari otak ke tombol kibor, ini pun masih dipengaruhi oleh keahlian typing speed and accuracy.
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 14:37
Using
lebih cepat dari kecepatan berpikir yah .. aa apa kabar? kangen nih..
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 15:03
Using
#7: ngejunk masih pake otak ya?
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 15:36
Using
Ngejunk di blog Abi butuh kecepatan dan stamina. *sigh*
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 16:06
Using
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 17:02
Using
lemoth euy…seharusnya gwe pertamax tuw…:p
Kamis, 31 Agustus 2006 @ 17:24
Using
8 tahun yang lalu gue ngomong soal DSL ke dosen sistem terdistribusi gue, dan gue diusir keluar ruangan karena dianggap ngarang.
Jumat, 1 September 2006 @ 9:23
Using
jay, gu aken alel o ga ragara bacama jalahin foli nuxtru snyar idiyahoodotkom ehjadi nyas ardi idgmail. bera rtiel oupl engua *sigh*
*t endangdi dik*
Jumat, 1 September 2006 @ 14:25
Using
gue langganan VDSL NTT Fleets dng ISP Biglobe seharga 3518 yen. klaimnya sih VDSL 100 Mbps, cuma yng dijamin 1/3 nya saja yaitu 33 Mbps. Tapi buat gue udah cukup kencang:-)
Sabtu, 2 September 2006 @ 19:04
Using
Kok punyaku gak digabung kabel telpun. Tapi dari NOC ditarik kabel (jenis kabel telpun) ke rumah. Apa sama aja? ato itu kabel modem ya… cuma modemnya sih model aDSL…
Rabu, 6 September 2006 @ 11:36
Using
Kecepatan tinggi sih ok ok aja.. tapi mudah-mudahan ga ada ‘Kuota’-nya.. (pengalaman pribadi) hihihi..
Senin, 11 September 2006 @ 18:32
Using
saya memerlukan pengertian, perangkat keras dan cara pemasangan wireline
Senin, 23 Oktober 2006 @ 1:17
Using
[...] Yulian Firdaus [...]
Kamis, 16 November 2006 @ 0:00
Using
antar modem dsl bisa komunikasi ga yah
Senin, 4 Desember 2006 @ 15:09
Using
mo tanyak aDA GAK ATURan yang mengtur tentang pamasangan kabel telepon??
apa ada undang-undang nya….??
kalo gue mau pasang tower yang tingginya sekitar 3m dari gedung rumah gue yang lantainya ada 3 ada larangan nya gak?
Sabtu, 6 Januari 2007 @ 15:23
Using
bos, ada yang tahu harga VDSL converter ?
Senin, 7 Mei 2007 @ 16:24
Using
hi……. mass, aq minta tlong ni tentang multiplexer, sistem dasar multiplexer terbagi 2 yaitu FDM dan TDM, aku butuh data-data tentang hal yang berhubungan dengan sistem dasar multiplexer tsbt, tolong mass ya bantu aku.tolong kirim ke email aku ya mass, terima kasih seblm nya…….
Sabtu, 2 Juni 2007 @ 16:28
Using
bego amat lo smua….mati aja lo…
Senin, 13 Agustus 2007 @ 23:24
Using
moga2 teknologi informasi di Indonesia semakin berkembang saja…kan negara kita sedang berkembang..jadi maklum saja klo dibandingkan dengan negara2 maju yang sudah mengimplementasikan teknologi yang lebih tinggi…memang di luar negeri FTTH sudah ada, Indonesia ga tau kapan..hehehe….jadi ya gini2 aj..ada ADSL saja sudah bersyukur rasanya..salam Ganesha
Senin, 29 Oktober 2007 @ 15:09
Using
walahhh…………….daky…topx…oi…….tince…. dkk walahhhh
Selasa, 13 Mei 2008 @ 2:30
Using
klo pengen tahu banyak tentang teknologi VDSL2 dimana ya