Tak Bergeming

Rabu, 12 Juli 2006M
16 Jumadil Akhir 1427H

ge.ming, ber.ge.ming: tidak bergerak sedikit juga; diam saja
ter.ge.ming: terdiam

Entah mengapa kini semakin banyak media salah menuliskan arti kata geming. “Tak bergeming” sering dimaksudkan sebagai ungkapan tak bergerak atau diam, padahal sebaliknya justru arti “tak bergeming” adalah tidak diam. Bisa anda lakukan pencarian di Google media mana saja yang salah menuliskan arti kata tak bergeming.

Kesalahan seperti ini sering terjadi juga pada kata acuh. Acuh sering digunakan sebagai pengganti abai. “Acuhkan saja!” sering digunakan sebagai makna “Abaikan saja!” padahal arti kalimat itu justru sebaliknya, “Turuti saja!”

Kata acuh paling sering dicontohkan di pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah. Entah mengapa banyak yang salah mengartikan, terlebih pada mereka yang berkapasitas seorang wartawan atau jurnalis media.

Gara-gara geming dan acuh saya melakukan pencarian sangsi dan sanksi, ternyata banyak juga yang salah menuliskan sangsi sebagai maksud hukuman/penalti. Sangsi adalah ragu atau keraguan, sedangkan sanksi adalah hukuman. Kalimat yang banyak saya temukan adalah pada sangsi administratif, seharusnya sanksi administratif.

Yeah, rite, bahasa Indonesia itu nggak cool!

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

29 komentar untuk catatan 'Tak Bergeming'

  1. #1
    gravatar

    ah iya! bener! bergeming itu sangat sering disalah artikan. heran, kok sampe bisa ke media, ya? apa posisi editor bahasa sekarang udah gak ada?

  2. #2
    gravatar

    Benur sekali kang Ian. Baru ‘ngeh arti kata “geming”. Selama ini ternyata gw kebalik.
    Gw punya cerita. Ada tulisan di Surat Pembaca di salah satu harian (lupa namanya) yg memermasalahkan imbuhal “me” menghadapai kata dg huruf depan “p”, harusnya ga jadi luluh, seperti “memeringati”, harusnya “memperingati”. Dan ini banyak digunakan wartawan, sehingga bisa menghancurkan tata bahasa Indonesia. Katanya gitu.
    Heu…16x padahal pelajaran B Indo pas SMU gw, mengatakan emang harus luluh kalo “me” ketemu “p”, kecuali kalo setelah huruf “p” itu konsonan, misal “memprakarsai”. Emang kita harus back to KBBI.
    Kayaknya kang Ian cocok juga jadi prajurit polisi EYD:D Gimana nih kang, soal “me” sama “p”?

  3. #3
    gravatar

    #2: Me + kata dasar berawal p berakibat hurup p meluluh menjadi m. Tidak termasuk pada kata yang sudah mendapat imbuhan, peluruhan p menjadi m hanya terjadi pada kata dasar.

    Contoh:
    pesona – memesona
    percaya – memercaya
    karsa – prakarsa – memprakarsai
    tanggung jawab – pertanggung jawab – mempertanggungjawabkan
    ingat – peringati – memperingati

    Anda salah menulis memermasalahkan, yang benar mempersalahkan, karena kata dasarnya salah, bukan persalah.

    Khusus kata serapan asing kadang meluluh kadang tidak, seperti pada memprediksi, memprotes, memprogram, dan sebagainya.

  4. #4
    gravatar

    wah, saya yang baru sadar itu sangsi dan sanksi:D

    *diam bergeming tak acuh*

  5. #5
    gravatar

    penggunaan ‘di’ sebagai penunjuk tempat dan ‘di’ sebagai kata kerja bentuk pasif kadang masih sering juga salah.

    dari tadi saya coba untuk mengingat ketika di sekolahan, sesusah itu kah bahasa indonesia? hmmmmppp…

  6. #6
    gravatar

    bingung … apa hubungannya kesalahan pemakaian bahasa dengan nggak cool mas?

  7. #7
    gravatar

    Weh, betul-betul gak nyadar kalo selama ini mungucap dan menulis hal yang saya anggap kecil itu ternyata salah… Terutama pada kata ‘acuh’.
    *Acuhkan sajalah postingan ini*

  8. #8
    gravatar

    #6: Baris terakhir itu hanya soundfx. Baca saja tulisan Hericz.

  9. #9
    gravatar

    Hehehehe .. itulah bahasa Indonesia..
    Kalo sempurna, malah gak ada yang dibahas om Jay.
    Yang jadi masalah, kenapa media dan jurnalis masih tetap memilih yang salah ya?
    Dan saya pun sering salah. Malah sering gak karuan penataannya.
    Txs bang jay. Saya jadi belajar banyak.:)

  10. #10
    gravatar

    Bagaimana dengan seronok?

  11. #11
    gravatar

    ah saya mah tak acuh dan tak bergeming

  12. #12
    gravatar

    Ini yg namanya “kesalahan umum” (common mistake)…karena umum ya akhirnya dianggap biasa.

    Biasanya yang sering salah menerapkan adalah “media online”, maklum untuk media cyber, kecepatan munculnya berita adalah keunggulan mereka. Jadi setiap artikel yang akan di-upload, tak (perlu) melewati editor bahasa. Biasanya juga, kesalahan teks, ketik atau yang lain akan diedit setelah berita sudah naik.

  13. #13
    gravatar

    oi… yeah..rite.. udah di-te-em-kan:mrgreen:

  14. #14
    gravatar

    yeah rite…
    wakakakaka

  15. #15
    gravatar

    Iya. Tidak pernah terpikirkan soal ini. Tapi betul juga sih.

  16. #16
    gravatar

    [...] Menanggapi komentar di tulisan Tak Bergeming saya tuliskan juga kosakata yang sering disalahartikan, yaitu seronok. Seronok sering diartikan sebagai penggambaran penampilan atau busana seseorang yang terbuka, minim atau seduktif, padahal sebaliknya arti seronok lebih kepada sedap dipandang, dari keindahan dan kenyamanan mata tanpa unsur seksualitas atau pornografi. [...]

  17. #17
    gravatar

    Saya adalah sangsi bisu dari perubahan ejaan yang salah ini.

  18. #18
    gravatar

    belajar, lagi polisiEYD mana ya?

  19. #19
    gravatar

    jadi inget…
    hal ini pernah dibahas di majalah bobo beberapa tahun lalu, jaman masih SD dulu:)
    bergeming itu artinya diam

    kalau sekarang, kayaknya salah kaprah semacem ini sering bgt muncul, jadi pilih mana, setia sama EYD atau turuti selera pasar?:p

  20. #20
    gravatar

    Ndak Geming jadinya:D

  21. #21
    gravatar

    pantesan bahasa indonesia gue di es am a dulu gak pernah lewat dari angka 7

    abis tiap pelajaran tidak bergeming liad guru

    *gak mudeng set mode on* Lieurrrr

  22. #22
    gravatar

    tak terasa sekian lama…. huaaaaaaa…. ngantuk

  23. #23
    gravatar

    jangan banyak tak bergeming ah bikin saya takacuh, adalagi om yang lebih parah dari ini gw sewaktu es em pe pernah mendengar kata ALUNGIN bolanya…wakakakakak alungin(sunda punya bahasa)=lempar

  24. #24
    gravatar

    Terimakasih atas infonya yang menguatkan iman bahasa Indonesia saya hehehe… Salam kenal!

  25. #25
    gravatar

    saya jadi bingung sama sosialisasi orang2 di pusat bahasa soal kebakuan bahasa… legitimasi mereka tidak berbekas di masyarakat… kasihaaannnn

    skeptis??? fakta lho??? gak suka???

    ada2 aja

  26. #26
    gravatar

    Terimakasih atas infonya. Yang pasti masalah ketidak tepatan dalam penggunaan kata itu, lebih banyak disebabkan karena kurang peduli. Wassalam.

  27. #27
    gravatar

    Iya sangat memprihatinkan sekali di Indonesia ini, apalagi kalau nonton sinetron rasanya malu sendiri melihat tampang pelaku-pelaku sinetron yang sekilas nampaknya canggih ternyata begitu bicara memalukan, sbg contoh kalimat ” maaf pak aku cuma mau ” NGUCAPIN “terima kasih saja koq” menyedihkan sekali generasi kedepan menjadi korban bahasa sinetron.

  28. #28
    gravatar

    Dalam kamus Bahasa Indonesia yang ditulis oleh El Zul Fajri dan Rtu Aprilia Senja contoh penggunaaan kata geming adalah “meskipun diterpa angin, diguyur hujan dan panas, namun pertapa itu tak bergeming dari tempat duduknya”

  29. #29
    gravatar

    #28
    haha contoh yang menarik

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.