Tata Suara Surround
Rabu, 7 Juni 2006M
11 Jumadil Awal 1427H
- Tracking System
- International phone card
» In stereo where available «
Kalimat di atas sering saya lihat dulu kala saat menonton film seri pada bagian intronya. Di akhir tahun 1980-an banyak film seri televisi diproduksi dan di-broadcast dengan format stereophonic, atau disingkat stereo saja. Fitur tersebut tak pernah saya nikmati karena saat itu televisi yang ada baru saja diberi warna tanpa fasilitas sistem stereo, pengatur suara bass dan treble pun tak ada, dan remote inframerah pun harus diganti dengan gagang sapu.
Baik konsumen maupun penyelenggara penyiaran hanya membutuhkan gambar berwarna dan bersuara. Titik.
Dengan berkiblat ke Eropa, mulailah diperkenalkan format dan penyiaran televisi dengan tata suara stereo. Televisi dengan format Nicam pun banyak dijual dan dibeli. Sayangnya masih satu-dua stasiun televisi menyiarkan sinyalnya dengan format stereo. Bahkan MTV yang sempat disiarkan oleh ANTV dulu berformat mono. Duh.
»» In surround where available ««
Pertama kali kalimat itu saya lihat tahun 2002 di film seri Smallville –musim I dan II, dan sisanya belum pernah saya tonton lagi sampai musim V– hasil pengunduhan dari jaringan peer-to-peer, berformat video MPEG2/4 dengan audio stereo. Rekaman dari jaringan TV kabel Amerika tersebut disiarkan dengan format surround sound, tentunya bisa dinikmati dengan televisi yang mendukung tata suara tersebut. Namun fitur surround tersebut tak saya nikmati karena kartu suara di komputer saya masih 2 channel atau stereo saja.
Dan saat ini penyiaran televisi di Indonesia masih berkutat di sistem Nicam stereo. Yang penting bisa menayangkan sinetron dengan tangisan dan jeritan aktor/aktris secara close-up, sebab porsi terbesar pesawat televisi di Indonesia adalah berukuran 14″.
Tata suara surround paling banyak dinikmati di bioskop melalui teknologi Dolby Digital (5.1), DTS (5.1), Dolby Digital EX (6.1), DTS-ES (6.1), SDDS (7.1) atau THX 10.2 (THX bukanlah format tata suara, tapi penyedia sistem tata suara film dan theater), dan di rumah melalui DVD player dan sound system, dikenal sebagai home theater yang kini semakin diproduksi besar-besaran. Dengan harga relatif murah –di kisaran satu juta rupiah– anda sudah bisa mendapatkan DVD player dan sound system-nya, yang di dalamnya sudah termasuk DD/DTS decoder dengan output 6 channel analog untuk disambungkan ke sound system surround (5 speaker independen dan 1 subwoofer). Cukup untuk menggetarkan kaca jendela sebuah kamar atau ruang tengah yang kecil.
Tahun 1996 adalah tahun masuknya format suara MP3 –setidaknya menurut saya– sebagai media penyimpanan musik digital. MP3 yang umumnya berkualitas bitrate 128kbps sebagai pengalihan format suara digital standar Audio CD 1.4Mbps dianggap acceptable di telinga, meskipun bagi para audiophile MP3 adalah jelek sejelek-jeleknya format suara. Jika film sudah lama menggunakan tata suara surround maka hingga kini format rekaman musik/lagu masih dalam format stereo. Memang ada beberapa artis yang merilis albumnya dalam format Super Audio CD berformat quadrophonic atau surround 5.1 channel.
3D sound yang berformat pseudo surround sering dijadikan jargon pabrikan dalam menjual stereo set/compo. Pseudo surround adalah virtual surround yang diproduksi oleh perangkat hanya dengan dua channel speaker. Kabar-kaburnya virtual surround bisa merusak –dalam jangka waktu yang lama– pendengaran, sama seperti kabar-kaburnya mendengarkan MP3 terlalu banyak bisa merusak pendengaran. Mungkin hanya propaganda para audiophile saja.
Akhir tahun 2004 Fraunhofer IIS merilis MP3 Surround yang backward-compatible, artinya berkas MP3 Surround tetap bisa dijalankan oleh decoder/player yang sudah ada di pasaran, melalui player di komputer, DVD player atau MP3 player yang sedang menjamur. MP3 Surround ini meng-encode 6 channel independen ke dalam format MP3 yang baru. Untuk menghasilkan kembali 6 channel independen harus menggunakan MP3 Surround player/decoder tersendiri dan diteruskan ke tata suara 5.1 channel. Dengan MP3 player biasa maka hanya akan menghasilkan MP3 kualitas high bitrate stereo.
Format MP3 Surround ini belum diproduksi massal, mungkin masih terbatas karena masalah paten sehingga player/decoder-nya belum bisa diproduksi. Untuk mencobanya harus di komputer dengan kartu suara 5.1, dan di Linux hanya ada encoder/decoder saja, tidak disertakan playernya. Fraunhofer juga merilis converter untuk mengubah MP3 stereo menjadi MP3 Surround secara pseudo. Saya pikir ini lebih baik karena pseudo surround-nya dikirim ke 6 channel speaker independen, bukan virtual di dua speaker saja. Belum saya coba karena tidak ada komputer berkartu suara 5.1 bersistem operasi Windows. I want my Windows!
In my desk MP3 surround you!
Rabu, 7 Juni 2006 @ 12:20
Using
HORE HORE PERTAMA!
Rabu, 7 Juni 2006 @ 13:07
Using
KEDUA MUNGKIN YAH!
Rabu, 7 Juni 2006 @ 14:08
Using
*kasih pinjem jey komputer windos*
Rabu, 7 Juni 2006 @ 14:28
Using
#3: Cek komputer pinjeman.
*balikin. gak ada soundcard 5.1 channel-nya*
Rabu, 7 Juni 2006 @ 15:16
Using
Lebih baru teknologi lebih mantap suaranya ;)
Rabu, 7 Juni 2006 @ 15:59
Using
“Belum saya coba karena tidak ada komputer berkartu suara 5.1 bersistem operasi ‘Windows’.”?
‘Linux’ mungkin ya?
Rabu, 7 Juni 2006 @ 17:18
Using
dan saya kedua…!
Rabu, 7 Juni 2006 @ 17:19
Using
eh, udah ke delapan deng… ;))
Rabu, 7 Juni 2006 @ 18:56
Using
Gpp dech sembilan,
Just info;
Mobo sekarang udah banyak lho yang udah built in SC 5.1? Dah murah lagi sekarang.
Rabu, 7 Juni 2006 @ 20:48
Using
Kalo disini sekarang di intro acara tipi unggulan ada tulisan “in HD and 5.1 surround where available”, gratis asal punya antenna hd sama tv HD ready (with ATSC tuner).
Terus juga mau koreksi, Smallville siaran dari TV network (bisa ditangkep pake antenna gak perlu langganan tv kabel)
Rabu, 7 Juni 2006 @ 21:02
Using
Euh, aku lagi nggak punya speaker nih:(
Bingung mau beli sound card dulu atau speaker dulu. Yang jelas, kali ini aku mau 5.1!
Rabu, 7 Juni 2006 @ 21:46
Using
I want my Windows!
Rabu, 7 Juni 2006 @ 21:49
Using
jangan bang jay.. it’s evil.. heuheuheue.. becanda deh.. hidup windows lahhh…
Rabu, 7 Juni 2006 @ 22:06
Using
#4 *jitak jey*
Rabu, 7 Juni 2006 @ 22:35
Using
#10: Wah Nar, pengen. Entah kapan di-apply di stasiun TV Indonesia. Nicam Stereo aja baru beberapa. *padahal jarang pisan nonton TV*
#11: Speaker aja dulu Her, beli yang pake remote buat ngatur volumenya, biar bisa dipasang di TV/DVD tanpa perlu pake gagang sapu:D
Kamis, 8 Juni 2006 @ 19:12
Using
Hore Aku Dah Punya DVD
Kamis, 8 Juni 2006 @ 19:56
Using
*KASIH PINJEM JAE KARTU SUARA 6.1*
Senin, 12 Juni 2006 @ 16:37
Using
Kayaknya asyik banget, tapi sayang nggak ngerti nih.
Kamis, 22 Juni 2006 @ 13:03
Using
Saya punya Speakers Altec Langsing ADA-380,
dgn format suara Dolby digital, Prologic, THX
Sekarang prologic nya dah tidak berfungsi lantaran Jebol/ di sambung ke Amply
bisa bantu gimana cara betulinnya?
Kamis, 1 Februari 2007 @ 12:06
Using
Kalo aku sekarang sih rekaman di rumahan paling STEREO aja udah cukup..
G bisa bayangin pasti asik banget kalau rekaman amatir udah pake sorruond..
Tapi aku yakin pasti akan tiba saatnya….
Sabtu, 22 Maret 2008 @ 19:16
Using
lumayan lah dvd ai udah lengkap, 5.1,virtual,sourrond,biar kecil,cukup mah buat geterin rumah type 21