Ketertiban Pejalan Kaki dan Pengendara
Selasa, 25 April 2006M
27 Rabiul Awal 1427H
- Download mp3
- International phone card
- Baufinanzierung
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Real Time GPS Vehicle Tracking Live Tracking 10 Second Updates
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Bersikap tertib di jalan itu baik, namun kadang dicemooh secara tak langsung, bahkan kadang disalahkan. Ironis. Sering pula bersikap tertib menjadi tidak nyaman, baik bagi diri sendiri maupun kenyamanan orang lain. Rumit. Kenyamanan berkurang, keamanan berkurang, hingga akhirnya yang muncul adalah individualitas, orang lain menjadi tidak penting, apalagi orang banyak, yang penting gué aman, yang penting gué nyaman.
Perilaku ke arah individualitas tersebut timbul akibat kurangnya sarana dan prasarana yang memadai yang disertai dengan cekokan kedisiplinan. Disiplin karena diawasi, karena disuruh atau karena diiming-imingi teguran dan hukuman oleh sistem. Seperti dulu saat ada program Gerakan Disiplin Nasional yang tak terlihat hasilnya, yang ada hanya plesetan kepada jajaran pemerintahan menjadi Gék Diuk Nundutan.
Berikut beberapa pemicu kurangnya ketertiban yang kerap kita temui di jalan, terutama di kota Bandung ini.
Penyeberangan
Saya belajar banyak soal menyeberang justru di Jakarta dulu saat masih SD. Jakarta saat itu masih sedikit jembatan penyeberangan dan empat atau lebih lajur yang harus diseberangi terasa jauh bagi tubuh saya saat itu. Satu cara yang benar yang tetap saya lakukan hingga kini adalah melangkah lajur perlajur, di setiap garis lajur saya menunggu kesempatan untuk berjalan lagi. Cara seperti ini pun kadang tidak dimengerti para pengendara, misalnya mobil yang lewat tidak berada dalam lajur yang sudah susah-susah dicat di atas jalan aspal, atau sang pengendara menghentikan mobilnya hingga kecepatan nol secara mendadak untuk memberi jalan bagi saya sendiri yang menyeberang. Itu tak nyaman buat pejalan kaki, sekaligus tak nyaman bagi pengendara, apalagi pengendara lain di belakang mobil tersebut. Meskipun mobil-mobil yang lewat cukup cepat saya merasa aman berdiam di atas garis lajur menunggu kesempatan berjalan. Saya tertib, saya aman.
Apakah cara seperti di atas tidak berisiko? Peluang celaka jelas selalu ada, sama halnya dengan menyeberang dengan cara berlari. Pernah suatu ketika saya menyeberang di sebuah jalan satu arah empat lajur, mendekati lajur terakhir (lajur keempat) saya diserempet mobil kecepatan tinggi, bahu saya tersenggol spion hingga pecah dan saya terhuyung-huyung nyaris jatuh sambil mendengar bunyi ban pecah. Anehnya saya tidak kaget, yang ada malah bingung, “Saya masih di lajur ketiga yang kosong kok ditabrak?” Urusan selesai di tempat karena dengan cool, calm and confident saya mengatakan kalimat di atas kepada sopir yang hendak marah-marah karena menabrak trotoar diikuti ban dan velg pecah.
Jembatan Penyeberangan
Jembatan penyeberangan di Bandung tidak ada yang berguna, hanya menghasilkan pendapatan daerah dari ruang yang dijual untuk iklan. Tidak peduli jalur ramai atau jalur cepat semua jembatan penyeberangan di Bandung tidak ada gunanya. Eh, dua kali disebut. Silakan perhatikan jembatan penyeberangan di depan SMAN 1 Dago, jalan Merdeka depan BIP dan depan SDN Banjarsari, depan ITC Kebon Kalapa, depan Metro jalan Soekarno-Hatta, dan lain-lainnya yang tidak saya ingat. Semuanya hampir selalu kosong tak pernah dilewati, tak berguna. Eh, tiga kali.
Saya pikir jembatan penyeberangan akan sangat berguna jika dipadukan dengan jajaran kios, dibuat selebar-lebarnya, jadi orang menyeberang tidak sekadar menyeberang tapi sambil melihat-lihat etalase kios-kios kecil. Toh, ujung-ujungnya bukan hanya pengiklan yang membayar retribusi ruang, tapi juga para pedagang yang menyewa kios. Bahkan saya bermimpi di jembatan penyeberangan ada ruang duduk untuk minum kopi dan memandangi kemacetan mobil dan keramaian orang di jalan.
Trotoar
Trotoar pun tidak ada yang beres di Bandung. Semuanya naik turun melebihi skala kenyamanan skala pejalan kaki, dan merendahkan prioritas pejalan kaki dibanding ban mobil yang bulat. Masalah lainnya trotoar banyak yang ukurannya hanya satu kaki hingga satu meter, hingga berpapasan dengan pejalan kaki arah sebaliknya salah satu harus menyingkir ke pinggir.
Belum cukup prioritas direndahkan oleh kenyamanan ban mobil sering pula direndahkan oleh pengendara motor yang naik ke trotoar, membunyikan klakson pula meminta pejalan kaki menyingkir. Toko dan restoran pun tak kalah untuk menyisihkan kenyamanan pejalan kaki, jalur pedestrian dan trotoar dihabiskan untuk parkir kendaraan, hingga pejalan kaki harus berjalan ke jalan aspal sambil diklakson oleh mobil yang lewat supaya segera menyingkir dari jalan.
Belum cukup segitu saja direndahkan prioritasnya, pejalan kaki pun diganggu oleh sektor informal. Kios rokok, wartel dan pedagang makanan sektor informal yang ingin bergaya memberi nama kafe pun menghabiskan trotoar dan pedestrian ini. Sulit, tidak nyaman, walaupun masih merasa aman.
Angkot Ngetém
Saya ingat, hingga tahun 90-an hampir tiap angkot di kota Bandung disertai dengan kondektur yang rajin berteriak-teriak menawarkan jurusannya meskipun pengguna angkot bisa membaca, bahkan menghapal warna dan strip warna badan angkot. Kini sebaliknya, hampir tiap angkot tanpa kondektur, cukup sang sopir yang bekerja sekaligus sebagai kasir.
Entah kenapa kondektur angkot semakin jarang, yang pasti jadinya muncullah calo-calo yang menawarkan jurusan angkot di tempat angkot biasa ngetém. Berharap uang tip dari sang sopir ketika muatan penuh dan angkot mulai berjalan. Kadang sering menjadi keributan saat sang sopir tak pernah meminta calo berteriak-teriak, penumpang berdatangan, angkot penuh dan sang calo meminta tip, seakan-akan teriakan si calo mutlak harus dibayar.
Masalah lain adalah ngetémnya angkot di tempat yang rawan mengganggu ketertiban. Contoh yang paling banyak adalah di perempatan, tanpa merasa bersalah angkot diam saja walau lampu lalu lintas sudah berwarna hijau sedangkan di belakangnya banyak kendaraan yang terganggu lajunya.
Sulit dimengerti kenapa perilaku sopir angkot seperti itu. Dari pengamatan sebagai penumpang angkot saya menyimpulkan dua macam, pertama sopir angkot yang sering ngetém adalah sopir tembak, angkot milik temannya dipinjam untuk mencari uang, biasanya kondisi angkotnya buruk tak terawat dan kedua angkot yang jarang ngetém biasanya milik sendiri atau usaha kredit, biasanya kondisi angkotnya bersih dan gaya menyetirnya masih berhati-hati dan elegan dalam melepas kopling dan menginjak rem.
Mungkin tingkat persaingan sopir angkot sangat tinggi karena jumlahnya yang sangat banyak untuk satu jalur yang bisa dikatakan pendek seperti Dago-Kebon Kalapa. Memang bagus jika sang sopir ‘menjemput penumpang’ tidak menunggu begitu saja, namun menyebalkan bagi penumpang yang sudah duduk di dalam angkot, semua yang berdiri di pinggir jalan didekati pelan dan diklakson. Kendaraan di belakang angkot pun akhirnya terganggu karena kecepatan yang tanggung tapi tidak mau meminggir.
Sebagai penumpang saya hanya bisa tertib naiknya saja, menunggu di tempat yang bukan dipakai angkot ngetém dan meminta berhenti dan turun setelah angkot benar-benar ke pinggir jalan. Tujuan terlewat sedikit bukan masalah.
Polisi Tidur
Polisi Tidur adalah salah satu bukan anggota kepolisian yang menyebalkan. Ia menyebalkan karena menganggap semua pengendara mobil tak bisa melaju pelan dan hati-hati. Pernah mendengar alasan polisi tidur dibuat adalah untuk mengurangi kebisingan, padahal saat mobil melewatinya bunyi mesin dan knalpot lebih keras akibat injakan pedal gas pada transmisi gigi satu. Tidak hanya pengendara, penumpang mobil lainnya lebih tidak nyaman lagi, bahkan kepala bisa tersandung ke langit-langit mobil.
Efek lain polisi tidur adalah justru membuat jalan semakin rusak, apalagi di jalan yang miring malah menahan air, menggenang, akhirnya merusak aspal jalan. Yang lebih menyebalkan adalah polisi tidur dipasang di tanjakan, dikebut ngejedug, direm ngos-ngosan nanjak, seolah-olah yang melewati jalan tersebut hanyalah mobil-mobil baru yang bertenaga yang dengan RPM mesin rendah masih kuat nanjak dengan beban, tanpa banyak keributan suara mesin dan knalpot.
Polisi tidur yang masih manusiawi baru saya temukan di perumahan Setra Duta. Jika polisi tidur lainnya biasanya mirip kuburan satu ular panjang, maka yang di Setra Duta adalah kuburan sepuluh ular tanpa jarak, berendengan, tetap rata atasnya.
Popularity: 3% [?]
Selasa, 25 April 2006 @ 15:12
Yoi! Serba salah.
Sering banget gua diklaksonin dari belakang gara-gara keukeuh berenti di belakang garis pas lampu merah. Setelah lama ga gua tanggepin, motor yang di belakang maksa maju ke depan sambil melototin, dan dia baru tenang setelah berhenti di atas zebra-cross. Duh! Dan sering juga diklaksonin gara-gara gua keukeuh nungguin lampu ijo bener2 nyala.
Heran, mau mendisiplinkan diri sendiri aja banyak yang nentang.
Selasa, 25 April 2006 @ 15:17
udeh jay……….
pindah ke bali…..
paling paling di priwit di simpang siur…
hahahaha
*jadi inget*
Selasa, 25 April 2006 @ 15:31
Jay, bikin gerakan mingguan aja yuk. Minggu-1: Anti Polisi Tidur. Minggu-2: Pro Jembatan Penyeberangan. Minggu-3: Anti Angkot Ngetem. Minggu-4: Anti individualitas. Tapi sebenernya aku juga nggak tau arti kata individualitas. Itu apakah semacam “egoisme” atau semacam “kemandirian pribadi” atau lainnya lagi?
Selasa, 25 April 2006 @ 15:43
#2: Ah, jalan-jalan di Bali malah lebih sempit, kecuali ring road-nya
#3: individualitas:
1. keadaan atau sifat khusus sebagai individu.
2. ciri-ciri yang dimiliki seseorang yang membedakannya dari orang lain.
Selasa, 25 April 2006 @ 18:16
apalagi disumatra (dikebanyakan kota & pinggiran kota)…beuh!
mottonya kayaknya malah “yang nekat yang selamat, ati² malah bisa bikin mati”
jalan lintas yang lumayan bagus baru dijambi saja
Selasa, 25 April 2006 @ 21:14
efek polisi tidur bukannya jadi banyak maling?
Selasa, 25 April 2006 @ 22:42
Wah, topik lalu lintas lagi rame yah ini?
Kalau di jakarta, jembatan penyebrangan yang dilalui busway cukup diminati pemakai jalan. Soalnya rame, dan di atas banyak orang jualan juga.
Kalau di tempat lain (yg gak ada busway) ya tidak berguna juga.
Selasa, 25 April 2006 @ 22:42
Dear Jay,
bukannya sok, tapi mencoba disiplin di Indonesia, Jkt atau Bandung misalnya, malah bikin frustasi…, hopeless.
Dalam skala komunal maupun individual kita ini kacau, skala kenyamanan sering didasarkan pada self-interest kita, we had never seriously tried to be a better society, lack of goodwill, lack of patience, lack of trust….. lakban!
“Baka wa shinanakya naoranai…”
Tapi dink, … mencoba berbuat baik (atau standard) dengan memulainya dari sendiri, tetap worth doing.
Oke, selamat berkarya. Marangga atuh………….
Selasa, 25 April 2006 @ 23:35
Intermezzo dulu ah.. “Managing people is like a herding’s cat. By. Warren Bennings)
Sedikit tentang Lalu Lintas dan angkot saja ah.. Kebanyakan orang Indonesia hanya tahu “Nyupir” (injek rem, gas, kopling, belok kiri, kanan, maju dan mundur..) tapi tidak tahu bagaimana “berkendaraan” (memperhatikan juga marka marka jalan dan bagaimana etika berkendaraan di jalan raya) Penempatan rambu rambu yang kurang tepat dan membahayakan pengguna jalan, masih sering dilakukan oleh dinas Perhubungan kita (sebenernya tugas siapa sih?) Satu hal juga yang paling menggangu saya.. Kenapa kalo ada kasus tabrakan Motor Vs Mobil, motor selalu menang?!
(minimal 2km per hari..)
Pembangunan Halte di Bandung (jalan yg menjorok ke trotoar) disalahartikan oleh pengguna jalan itu sendiri, yaitu menjadi tempat dagang dan tempat nge-tem.. penempatannya pun kurang tepat (seharusnya 500m dari perempatan, temasuk penempatan jalur untuk memutar – dari buku Driving in Europe and Singapore)
Sebaiknya Bandung mulai memberlakukan Halte setiap 500 meter.. artinya.. pengguna jalan harus rela berjalan paling jauh 250 meter untuk naik angkutan umum maupun berhenti.. lagi pula.. jalan itu baik untuk kesehatan..
Pemberlakuan Safety Belt + dendanya menurut saya merupakan indikasi bahwa masyarakat kita masih bisa diatur.. ini adalah harapan.. (sedikit ya..)
Rabu, 26 April 2006 @ 5:19
Yang pernah saya lihat dan saya lalui di kota Bandung adalah jembatan penyebrangan diterminal Ci Caheum. Pasti selalu rame. Saya pun kadang-kadang kalau mau naik bus diterminal tetapi sebelum sampai ke terminal macet langsung turun dari angkot dan memilih melewati jembatan penyebrangan. Ternyata enak juga Tertib itu.
Rabu, 26 April 2006 @ 9:17
Pengalaman jalan kaki di trotoar, diklaksonin sama pengemudi motor yang naik ke atas trotoar. Gw cuekin aja. Malah biasanya gw bentak sebelum dia bentak duluan, “Emang ini jalan sapa?” Lebih ok lagi, kalo kebetulan kita berdua orang. Kita kuasain aja itu trotoar, dgn jalan berdampingan agak melebar, n dengan cuek ngediemin pengemudi motor di belakang kita. Biar dongkol, dongkol deh itu orang!
Kalau mobil sama motor emang kenapa selalu menang motor ya?
Satu pertanyaan lagi, kalau seandainya kita di jalan besar/raya (3-4 jalur), dimana di situ ada jembatan penyeberangan. Trus tiba2 ada penyeberang jalan yg ndablek nyeberang, padahal ada jembatan penyeberangan deket situ. Terus, gara2 itu, terjadi kecelakaan, dimana mungkin motor/mobil nabrak si penyeberang jalan. Kalau begitu, siapa yg salah? Penyeberang jalan jelas salah. Lalu apakah pengemudi motor/mobil melanggar hukum karena menabrak penyeberang jalan yg melakukan kesalahan?
Rabu, 26 April 2006 @ 11:59
1. di bandung tidak butuh jembatan penyebrangan, karena jalanan terlalu kecil/kurang lebar dan laju kendaraan tidak terlalu kencang, jadi orang milih nyebrang di jalan.
2. di jakarta penyebrangan sangat tidak aman, contohnya di kuningan, sudahberapa orang mati tertabrak karena maksa lari di jalan karena malas menggunakan jembatan penyebrangan. jakarta memang kejam, hiks.
3. trotoar di bandung sangat nyaman, apalagi seputar dago, tiap malam minggu jadi pawai kota. Begitu pula di yogya malioboro, kalo di jkt, ada tempat Khusus di parkir senayan atau di PRJ, tapi dampaknya trotoar menjadi tidak aman, rawan kriminalitas.
4. Angkot ngetem + Mal baru di Bandung menjadi sumber keruwuetan tata kota. Harusnya Angkot diganti menjadi jaringan monorel atau busway, angkotnya dihapus, jangan dijalankan dua-duanya, macet!
5. Polisi tidur berguna, agar pengendara RX King yang knalpot nya berisik tidak ngebut! dan karena anak anak tidak ada yg ngurus dibiarkan main dijalan, berbahaya. harusnya, RX king dan tukang ngebut 2 tax lain dilarang saja. polusisuara dan udara.
Rabu, 26 April 2006 @ 13:35
Selamat berjuang di jalan raya Indonesia!
Bahkan bapak Polisi kita yang terhormat (tidak termasuk mereka2 yang terlentang dan tidur2an di jalan raya) tidak mengetahui konsep berlalu lintas yang benar. Bagaimana mengatur arus lalu lintas yang padat tapi tidak membuat deadlock arah yang lain. Bisanya cuman buka tutup arus, yang nyerobot dan mengambil lajur berlawanan dibiarkan.
Ah, memang SIM saya sendiri juga nembak kok. Jangan putus asa. Terus berjuang. Oh, jangan lupa, namanya resiko kecelakaan di jalan raya tetap tinggi. Tidak peduli Anda sedang berlaku tertib atau berlaku sembrono. Kalo memang jatahnya sedang apes dan mengalami musibah, ya mau gimana lagi. Yang penting hanya mengurangi resiko kecelakaan lebih besar. Jangan sampai mati di jalan raya hanya karena kesalahan sepele yang sangat mudah dihindari.
Rabu, 26 April 2006 @ 16:16
Jembatan penyeberangan paling bagus di Bandung saya rasa ada di Jalan Pajajaran dekat GOR Pajajaran, jalan naik dan turunnya menggunakan ramp
Dan kalau tidak salah ingat, jembatan penyeberangan di Jalan Asia Afrika dekat alun-alun ada warung kopinya
trotoar di Bandung benar-benar tidak ada yang enak, kalaupun harus memilih mungkin trotoar di Jalan Braga yang cukup enak untuk dipakai jalan kaki. lalu banyak orang memilih untuk tidak jalan di trotoar selain karena naik-turun juga karena tinggi sekali, membuat orang (terutama orang tua) tidak nyaman.
jalan bolong? dimana-mana
Rabu, 26 April 2006 @ 23:36
pas pertama ke bandung setelah sekian lama, gue nyebrang jalan merdeka pake jembatan penyebrangan yang didepan bip ituh… dan gue merasa goblog
soalnya cuman gue doang yang pake.. awalnya mau nyebrang langsung tapi males nunggu lalulintas aman.. ya udah coba lewat jembatan.. ternyata huek.. diatas bau pesing ^^;;
Kamis, 27 April 2006 @ 11:30
Kabeneran keur di Bandung.
Dari rumah di Kopo ke kantor di Moh. Toha, gak jauh tapi cukup bikin mengelus dada sepanjang jalan. Dari mulai kendaraan yang gak mau berenti di belakang garis di perempatan, ngambil jalur orang seenaknya, dll. Dan walaupun tahu berbuat salah, kok malah pada nyengir ya? Kadang-kadang malah galakan yang salah.
Jumat, 28 April 2006 @ 13:58
Setelah nanya2 temen2 yg pernah hidup di negeri orang di tambah liat2 di film (cmiiw), ternyata di sana tidak ada jembatan penyembrangan seperti yg ada di indonesia. yang ada adalah terowongan bawah tanah buat nyebrang
Ada sih jembatan peyebrangan, tapi itu juga hanya untuk menyambungkan 2 gedung yg bersebelahan. Secara efek pisikologis, orang tuh males banget nanjak dulu baru turun, tapi lebih suka turun dulu baru nanjak.
#11, Saya paling suka tuh klo ada pejalan kaki kayak gitu
Di Bandung, kebut2an (apalagi pada jam sibuk) percuma, sebab ketika kita “berhasil” mendahulu melalui terotoar sekalipun, pasti terhalang trafic light di perempatan berikutnya, atau bisa juga terhambat daerah orang2 yg menyebrang


Ini saya alami ketika naek angkot, motor, dan mobil pribadi
Jadi … berusaha cepat dengan sruduk2an .. tidak menambah kemuliaan
Jumat, 28 April 2006 @ 14:32
ngomong-ngomong soal topik beginian gw mau share cerita, yang ampe detik ini gw masih sumpah serapah ama yang namanya PENGENDARA MOTOR!!
gimana engga’ masa orang segede giban gak kliatan dibalik kaca helm, padahal gw dah tengok kanan kiri dan jalan kosong dan aman buat nyebrang, ujug-ujug ada motor nylonong dari arah kiri ampir ajah nubruk gw ….. goblok dan tolol banget tuh bocah, apa cita-citanya dulu mau jadi pembalap gak sampean ……ato pegimane gw juga gaka ngarti
makanya buat yang para pengendara motor jangan mentang-mentang harga motor mursida trus pada srudak sruduk…. sayangkan kalo motornya nubruk tiang gak bisa dibenerin cuma dikiloin doan…..
Jumat, 28 April 2006 @ 15:25
dimulai dari pengguna jalan (mobil/motor), coba saja lihat kalo ada lampu merah PASTI motor/angkot pada pahareup-hareup (pada berebut didepan) dibatas garis yang seharusnya dan kalo lampu hijau pengendara itu menancap gas sekenceng-kencengnya kayak drag-race, yang nyebrang yang pusing.
.
saya pernah ditabrak di jalan surapati di pasar suci oleh RX king yang nyalip dikanan jalan diluar garis tengah jalan, waktu itu disitu gak ada zebra cross (life is cheap).
mengenai kuburan uler, banyak yang terlalu tinggi sampe pernah titajong gara2 lampu di jalan gak ada (dicuri)
ngambil SIM bisa nembak tanpa ada ujian2 kelayakan berkendara (yang pasti bikin males dan berbelit2) jadi gak aneh kalo pengendara kadang ada yang urakan. saya masih salut sama pengendara mobil truck yang agak lebih sopan dijalan (AFAIK).
Sabtu, 29 April 2006 @ 0:09
Dulu sempet ga mau nyupir selama 3 taun.. Aku kira, cuma aku doang yang stress di jalan.. ternyata..
Sabtu, 29 April 2006 @ 20:47
Lha iya itu, saya pernah hampir disrondol truk tentara pas nyebrang di lampu lalu lintas yang ada zebra cross-nya. Padahal lampunya lagi merah!
Minggu, 30 April 2006 @ 11:06
Gimana kalau bikin KOTA SENDIRI aja bang Jay, atau NEGARA SENDIRI
nanti Bang JAY Presidennya jadi bisa memanage semaksimal mungkin
*kabur
Minggu, 30 April 2006 @ 16:22
jangan mendiskreditkan polisi tidur dong. kalo kata bapak ini, polisi tidur adalah salah satu jenis polisi langka: polisi bersih! khhukhukhu
Senin, 1 Mei 2006 @ 12:36
cuma mau ngetes header.ini ke detek pake apa?
Rabu, 3 Mei 2006 @ 9:43
prihatin…
>> pernah liat ada ibu2x yang ngomel2x karena supir angkotnya berhenti tidak tepat di saat si ibu minta berenti, tapi di tempat lebih jauh sikit tapi aman?
>> pernah ditabrak dari samping karena supir angkotnya langsung ambil kanan setelah ngetem tapi matanya masih liat ke penumpang di kiri jalan?
>> pernah liat polisi/tentara keluyusan pake motor tanpa helm dan motor prutul?
sementara tutup pentil mobil reyot gue aja jadi masalah.
>> pernah liat ada mobil super bagus dan mahal berseliweran di jalan raya, tapi nyupirnya kayak angkot, … buka jendela trus ngeluarin tangan dan melepaskan kantong plastik berisi sampah ke jalan raya?
>> pernah liat mobil2x pemda [plat merah] parkir berjejer/ angkot ngetem di dekat plang ’s coret’ ato di tikungan, sementara pak polisi lewat aja tanpa berpikir ada yang aneh
>> dan yang paling tooop: pernah liat di manakah posisi mayoritas mahasiswa/mahasiswi [tempat mas jay dulu kuliah, nyang katanya institusi paling hueebat
] kalo lagi nyegat angkot atau minta di turunin?
nyang katanya kumpulan orang pinter endonesah-calon penerus bangsa- aja begitu kelakuannya…….apalagi yang tidak termasuk kumpulan orang pinter endonesah
perasaan waktu gue tk/sd dulu ada pelajaran tatakrama di jalan raya: di mana nyegat angkot, di mana turun, gimana nyebrang, gimana mendahulukan pejalan kaki kalo kita pake sepeda [roda tiga
].
siapa yang mau diperbaiki duluan? penumpangnya ato supirnya? sementara penjaganya juga lebih suka dapet kotak rokok/korek berbonus ‘hepeng’ ketimbang memaksa mereka berlaku lebih baik.
sedihnya negeri kita…. kurang pendidikan…. selamat hari pendidikan nasional.
Rabu, 17 Mei 2006 @ 8:56
tai anjing lu jelek nieh situs bubar bubar
by
[MX_CRUZ]
Senin, 6 November 2006 @ 12:37
[...] Soal ketertiban ini pernah saya tulis bulan April lalu, mengenai Ketertiban Pejalan Kaki dan Pengendara. [...]
Kamis, 7 Desember 2006 @ 9:23
Ass. Wah, seru juga neh!! ribet juga ya, angkot, ojeg, metromini, bajaj, becak, dkk. kebanyakan jenis angkutan rendahan tuh yang dijadikan kambing hitam penyebab keruwetan lalu lintas… tapi sudahlah orang kecil akan selalu dikucilkan. orang pada ga” sadar kalo dalam berkendara juga ada aturan tak tertulis, kaya ngegang’ waktu bawa motor, dan mesti sambil duduk kalo bawa mobil… he…….. biar tertib aparat mesti tegas jangan tawar nawar harga, kalo aturan Fix” dan aparatnya Goood” pasti OK! ya ga” mas Jay!!!!
Kamis, 30 April 2009 @ 12:57
di Bandung itu mang enak buat jalan kaki, baru berapa meter aja udah ketemu perempatan/simpangan, jadi bisa sering-sering ngaso kalo capek jalan kaki, kalo gitu nama Bandung di ganti dengan nama Bandar Simpang