Indonesia Gegar
Selasa, 11 April 2006M
13 Rabiul Awal 1427H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Batok kepala manusia-manusia Indonesia itu memang sering terbentur hingga mudah gegar di mana-mana, siapa saja, kapan saja, tak peduli yang bodoh maupun yang pintar. Dari nostalgia orang tua pun kondisi gegar sudah terjadi, seperti saat Indonesia baru merdeka di mana-mana rakyat dengan gagahnya naik kereta api tanpa mau membayar tiket dengan alasan “Kita kan sudah merdeka, kok harus bayar, sih?” Rakyat gegar merdeka.
Itu jaman revolusi, revolusi yang mungkin berbeda dengan negeri lainnya, jika negeri lain ber-revolusi dari tirani kerajaan atau tirani komunis maka Indonesia bisa dikatakan revolusi dari bukan siapa-siapa kemudian menjadi orang republik. Revolusi Prancis berhasil menggulingkan kejamnya tirani kerajaan, Revolusi Rusia menggulingkan Tsar Nicholas dan Revolusi Amerika menyatukan wilayah dari Perang Sipil, Revolusi Jepang telah mengangkat perekonomian dalam kestabilan budaya, dan revolusi di Indonesia setelah proklamasi membantalkan Soekarno dalam mimpi republik.
Manusia Indonesia memang dipaksa mengikuti mimpi Soekarno Sang Arsitek, dan memang berhasil. Kita bisa dengar dari nostalgia orang tua kita, dari bacaan era pascaproklamasi, dari film-film sejarah dan sebagainya, revolusi dibicarakan hingga ke rakyat kecil yang bekerja berat hanya untuk fisik badan tetap bertahan hidup. Rakyat gegar revolusi.
Namun pemimpin pun tak lepas dari kesalahan proporsi ambisi. Setelah ambisi memimpin wilayah Asia Tenggara dengan segala cara termasuk pembangunan monumental yang mengadaptasi visi dan teknologi struktur bangunan serta mengangkat ciri dan kekhasan alam Indonesia Soekarno menunjuk dirinya sebagai presiden seumur hidup. Soekarno gegar berkuasa.
Mahasiswa pun tak mau kalah, gegar demonstrasi terjadi di mana-mana di era pascagestapu. Baik atau buruk; itulah sejarah negeri ini, kita hanya bisa berusaha memahami kebaikan intinya. Era baru Orde Baru datang, rakyat pun harus hidup dalam cekaman tuduhan bahaya laten komunis meskipun visi Orde Baru telah meningkatkan pembangunan negeri ini melalui enam tahap Repelita yang dicekoki dari sejak sekolah dasar.
Rasanya negeri ini makmur saat itu, terutama di era tahun 80-an, ekonomi berkembang, fasilitas hidup meningkat, bisnis pasti maju selama tidak berunsur politik atau dituduh laten komunis, jual-beli, arsitektur, developer, properti, struktur dan semua bisnis lainnya mengalami masa kejayaan. Gegar politis telah diredam oleh Soeharto. Indonesia bergembira, musik, film dan hiburan lainnya mendongkrak kesenangan rakyatnya meskipun lidah diredam untuk tidak berbicara politik yang menyinggung Orde Baru.
Soeharto mundur, reformasi datang, rakyat pun gegar reformasi, gegar kebebasan, gegar kebebasan berbicara hingga lupa akan kebebasan yang hakiki, kebebasan berpikir pada diri masing-masing. Media pun gegar, SIUPP yang dulu ketat kini lebih longgar, koran, majalah, tabloid hingga siaran layar kaca gegar menampilkan segala hal untuk sebuah kalimat “Kita bebas berbicara!”
Pemerintah kurang mampu mengendalikan gegar kebebasan saat ini, rakyat yang gegar pun kurang mampu berpikir dalam visi yang lebih baik karena pendidikan yang kurang, hanya pengajaran yang kita telan. Semua serba salah, mungkin semua merasa serba benar, ditambah era baru dunia datang, era informasi dan transparansi.
Impor kapitalisme dari Barat pun salah diadopsi, malah monopoli yang diberi. Jika Microsoft selalu dikejar-kejar UU Anti Monopoli maka di Indonesia perusahaan nasional yang memonopoli berjalan dengan santai tanpa dikejar dalam kenikmatan hak yang telah diberikan pemerintah. Jika di sana monopoli terjadi karena good product dan good service, maka di Indonesia monopoli terjadi karena diberi hak oleh pemerintah. Tanpa kompetitor mereka terbuai dalam kenikmatan monopoli, lupa untuk membangun negeri.
Gegar globalisasi terjadi di mana-mana, terutama Fun, Food and Fashion. Royalti diimpor dengan alasan membangun perekonomian. Merek busana, gadget kecantikan tubuh, minum kopi impor, makan makanan sampah, menonton seni teater layar putih dan sebagainya menjadi identitas diri. Kini para laki-laki juga gegar dengan kehadiran majalah Playboy Indonesia yang sering membuat berpikir kenapa harus membayar royalti merek untuk sebuah dunia hiburan yang harusnya bisa dibuat sendiri tanpa banyak impor. Tentu ada hal-hal yang tak bisa –tidak ekonomis– dibuat sendiri, seperti kita tak bisa membuat chip prosesor, mesin percetakan, pengolahan pulp kertas, aplikasi canggih pengolahan citra dan teks dan sebagainya.
Tak semuanya buruk, masih ada gegar yang baik. Musik Indonesia bangkit kembali meraih keemasannya bersaing dengan musik impor, begitu juga dengan sineas dan filemnya, makanan dan penikmatnya (terutama di Bandung), buku dan para penulisnya, siapa yang tak punya kreativitas hanya akan menjadi pembuntut tren, siapa yang tak punya visi akan kalah bersaing, siapa yang tak bisa meraup kapital tak ada bedanya dengan penjual Cimol bertahan yang tak tahu bahwa Cireng dan Cilok itu jauh lebih enak disantap daripada Cimol yang kecil-kecil keras.
Astaga, ternyata saya gegar meracau di dunia digital ini! Jangan, anda jangan gegar mengomentari tulisan ini.
Popularity: 3% [?]
Selasa, 11 April 2006 @ 14:06
Soekarno sang arsitek.. satu almamater yah A’, seniornya a’a’ yah.

Aa’ kalo meeting di starbucks kan? menikmati hidup jaman skarang kan? ngopi di starbucks, pake gadget camera digital dan hp yg keren, jagonya internet, dan tentunya pake kemeja ber merk
selamat datang di dunia nyata
Selasa, 11 April 2006 @ 14:21
Saya tidak gegar dengan tulisan Jay kok. Saya hanya gegar karena jadi ingin cireng.
Selasa, 11 April 2006 @ 14:41
#1: Yoih! Ini dunia kapital dan global, tapi kita hanya korban. Moderat dan cinta damai adalah jalan terbaik, bukan berarti anti Amerika lantas kita boikot minuman cola bersoda yang beken itu, tapi kita juga punya teh (yang menyehatkan) dalam kemasan botol. Bukan berarti kita boikot kopi impor, tapi tetap sadar kita masih punya kopi yang enak dari Lampung, Bali bahkan kopi diproses dalam rentang tahunan yaitu Kopi Aroma Bandung.
#2: Jajan cireng di Cipaganti, yuk!
Selasa, 11 April 2006 @ 14:58
wah iya, udah lama gag makan cireng.. cireng anu ngeunah jaman ayeuna dimana nya?
Selasa, 11 April 2006 @ 15:14
Saya gegar waktu naik angkot Kalapa Ledeng kemaren. Masih sakit. Sampai diteplok beras cikur tadi malam.
Selasa, 11 April 2006 @ 15:28
To the point aja …
Selasa, 11 April 2006 @ 15:39
yaaah…
lea bener bener gegar baca postingan kang jae.
cimol…cireng…cilok…
tiga tiganya aku suka
Selasa, 11 April 2006 @ 15:46
Ketika terlihat mulai akan gegar terjadi di cakralawa, geura serukan seruan pelawan sindro gegar: BIASA WE!
Selasa, 11 April 2006 @ 16:17
hidup di Indonesia otomatis terlahir gegar otak!
huhuhu
Selasa, 11 April 2006 @ 23:47
gegar untuk ngejunk
Rabu, 12 April 2006 @ 6:50
cireng, cilok, cimol adalah proses kreativitas warga jabar dalam hal olah-boga dari bahan aci (tapioka)digimana-gimanain juga tetep we aci….
cireng instan di pasar kosambi ada oncomnya euy… ngeunah mantab… cilok biasanya si gue beli di metro margahayu raya, asoy geboy, kalo cimol…. depan sekolahan anak-anak pastinya dong
Rabu, 12 April 2006 @ 13:44
Gegar? Apaan tuh? Baru dengar eh baca. English apaan yah?
Rabu, 12 April 2006 @ 23:12
wah siyal. tadinya saya mo ngomentarin “gegar ngeritik”, tapi eh ternyata sudah diantisipasi lebih dulu dengan mengatakan diri gegar meracau. uhuhuhhu
Kamis, 13 April 2006 @ 1:54
Fun, Food, and fashion
Brain, behaviour, and breast
Cool, Calm, and Confident
Affection, adn action
*bingung*
Kamis, 13 April 2006 @ 17:59
Cireng… mau dong dah lama gag makan tuh benda
di jogja mah hese neangan nana
Kamis, 13 April 2006 @ 18:49
Udah coba starblacknya Aceh? tanya aja ama anak air putih yang pernah bertugas disana gimana rasanya
Jumat, 14 April 2006 @ 5:14
lokal dan global… misalnya: tinggal deket holywood tapi suka dangdoed sama sambel tarasi…
Jumat, 14 April 2006 @ 17:38
wah siyal
waktu ke bandung gag di ajakin makan cireng ama cimol
Sabtu, 15 April 2006 @ 23:39
gegar kalong
Senin, 17 April 2006 @ 15:38
ha CILOK!, Mau dong.
Selasa, 18 April 2006 @ 15:02
hahaha… nickname kita sama Jay

Soal gegar menggelegar… Indonesia juga gegar latah kali yeee…
Selasa, 18 April 2006 @ 15:44
ah biasa saja…konsekuensi logis dari negara macam indonesia ..sama aja di mana mana di belahan dunia manapun, dalam level yang sama yah.
Selasa, 18 April 2006 @ 18:29
gegar mampun itu tidak masalah. iya toh! yang menjadi masalah gegar tidak mampu. ini malah nambah masalah!
*jadi gegar otak, abis ngomen diatas*
Selasa, 18 April 2006 @ 18:30
weq! ini nomorku!
he..he…23x!™
*tunjuk komen diatas*
Kamis, 20 April 2006 @ 15:49
jay, dah tau kopi mowo? kopi dicemplungin arang bakar
Ya kalau naik kereta api trus stop2 di daerah jawa tengah gitu nemu sih kayaknya
Selasa, 25 April 2006 @ 10:14
indonesia tanah air beta..pusaka abadi nan jaya..sambungan nya lupa…..semua bener….kagak ada yang salah..semua bener…soekarno yes….soeharto yes….habibie yes…gus dur yes…megawati yes….sby yes…yang bisa menghina..silahkan menghina..yang bisa nangis silahkan nangis….yang bisa ketawa silahkan ketawa…yang cuman bisa nyalahin silahkan nyalahin..yang bisa mengenang kehebatan masa lalu..silahkan mengenang..
Rabu, 24 Januari 2007 @ 12:41
Pertama kali saya baca ini saya ketawa sendiri di perpustakaan sekolah, sampai2 diusir sama penjaga perpusnya ( maklum orang cina singapura disini luar biasa ‘ juteknya ‘ ) tapi sehabis itu saya mikir… kog banyak dari orang2 kita yang kesannya tidak perduli dengan apa yang terjadi di tanah air..
Soal yang mas Jay utarakan disini sebenarnya masalah yang cukup genting, walaupun Mas Jay sendiri sada atau tidak saya juga tidak tahu..
Gegar.. mungkin adalah kata2 paling sederhana yang bisa menjelaskan sifat orang Indonesia yang paling mendasar. Yang dikatakan mas Jay diatas banyak betulnya tapi tidak menyelesaikan masalah.
Bagus sekali kalau ada yang menyadari bahwa selama ini, kita orang Indonesia berserta orang2 dari dunai ke 3 lainnya hanyalah menjadi korban dari kejalangan apa yang saya sebut Neo Imperialisme, Neo Kapitalisme, Neo Borjuis, dan Korupsi Global.
Dan jalan satu2nya melawan semua ini adalah dengan satu cara : Revolusi Global
Lho ??? Kenapa Revolusi ??? Bukankah tadi revolusi juga dianggap sebagai geger2an saja ???
Revolusi ala Soekarno adalah jalan satu2nya menyembuhkan negeri kita, dan kita orang Indonesia mampu melakukannya tanpa bantuan negara lain. Yang menjadi pertanyaan adalah : Maukah Kita ?
Kalau bangsa Amerika bisa lalu mengapa kita tidak ?
Apa yang tidak kita punya di Indonesia ??
Semuanya ada, kecuali satu, SEMANGAT YANG POSITIF !
Bangsa ini sejak jaman soeharto hanya menjadi anjing kolonialis modern. Pikirkan benar2 kata saya ini, jalan satu2nya adalah Revolusi Global.
( jika anda tertarik lebih lanjut, silakan kirim email ke saya di LuxVeritis@hotmail.com, silakan bicara apa saja, atau balas komentar anda disini