Wisata Langit: Observatorium Bosscha dan Planetarium Jakarta

Senin, 20 Maret 2006 M
20 Safar 1427H

“Lapangan politik kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar dalam waktu yang singkat bisa bernama bangsa Indonesia yang besar!” — Santoso Nitisastro, 1965

Walaupun hanya secuil saya punya ketertarikan pada bidang astronomi atau Ilmu Falaq yang dikembangkan para ilmuwan muslim dahulu kala. Konsep keteraturan benda langit, malam dan siang, tata surya, jagat raya yang mengembang dan sebagainya telah tersurat dan tersirat dalam Al-Quran. Kaum Arab yang hidup di gurun secara turun temurun menggunakan keteraturan yang ada di langit sebagai navigasi perjalanan maupun petunjuk-petunjuk kejadian alam lainnya. Begitu juga dengan para pelaut-pelaut ulung baik dari Cina, Makassar dan bangsa Eropa, mereka menggunakan semua keteraturan benda langit sebagai navigasi utama.

Tanpa disadari kita hidup dalam keteraturan tersebut, keteraturan revolusi Bulan mengelilingi Bumi dijadikan sebagai dasar penanggalan Hijriyah bagi muslim atau penanggalan lunar lainnya seperti penanggalan Cina, dan kita pun hidup dalam penanggalan Masehi Gregorian yang dikembangkan kaum Kristen. Semua keteraturan tersebut bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Berwisata melihat langit tentunya bisa dilakukan sendiri atau beramai-ramai, dahulu rasanya di semua tempat selalu ada kegiatan menikmati malam terang bulan purnama dengan berbagai permainan masa kecil seperti Galah Asin (enaknya menjadi Ulung tapi ngos-ngosan menjaga garis paling depan, paling belakang dan garis tengah), Jeblag Panto, Sondah, hingga permainan untaian karet gelang; Sapintrong dan Loncat Tinggi.

Tak ada alat untuk melihat langit dengan teropong sebab teropong hanya dimiliki para ilmuwan atau mereka yang benar-benar berada. Jika anda suka menonton film tentunya ingat salah satu adegan munculnya teknologi teropong sederhana yang dideskripsikan secara komedi dalam film Robin Hood di adegan Azeem seorang muslim bangsa Moor dari Andalusia dengan Robin Locksley seorang crusader dari Inggris dengan menggunakan bongkahan kaca.

Observatorium Bosscha

Dalam bidang keilmuan kota Bandung beruntung memiliki Observatorium Bosscha di dataran tinggi Lembang dan dalam bidang wisata –saya sebut wisata langit– kota Jakarta beruntung memiliki sebuah planetarium di komplek Taman Ismail Marzuki. Meskipun bukan tempat wisata; observatorium Bosscha tetap menerima kunjungan publik untuk melihat langit melalui teropongnya walau dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan karena hanya dirancang sebagai laboratorium penelitian.

Bosscha pasti di-blog sama Jay! — Hericz

Hari Sabtu yang lalu bersama 13 teman-teman Kampung Gajah kami menyempatkan berkunjung ke Observatorium Bosscha atas usul Hericz, yang kemudian dilanjutkan dengan menikmati susu murni di Lembang Kencana.

Observatorium Bosscha terletak di Lembang, sekitar 15 km ke arah Utara Bandung dengan koordinat geografis 107° 36′ BT – 6° 49′ LS. Lokasinya berada pada ketinggian 1.310m dari permukaan laut, atau pada ketinggian 630m dari plato Bandung (jika anda berangkat dari stasiun kereta api Bandung berarti anda mendaki setinggi 630m). Nama Observatorium Bosscha itu sendiri diambil dari nama sponsor utamanya, Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar. Wilayah Lembang dipilih karena kondisi geologis tanah yang stabil, terbukti sudah puluhan tahun bangunan dan teleskopnya masih berfungsi normal.

Teleskop refraktor ganda Zeiss di Bosscha

Observatorium utama Bosscha berbentuk bangunan lingkaran, kira-kira berjari-jari 7m dengan selasar sekitar satu setengah meter di sisi dalamnya. Bagian tengah dengan diameter 11m berbentuk panggung dengan pelat baja yang bisa naik turun kira-kira 4m. Tabung teleskop refraktor ganda buatan Carl Zeiss berdiameter 1, 5m ditopang oleh balok baja di ketinggian 5m. Di dalam tabung tersebut terdapat dua teleskop yang masing-masing lensanya berdiameter 60cm. Meskipun berukuran sangat besar tabung teleskop tersebut bisa digerakkan ke segala arah hanya dengan tangan.

Salah satu batasan dalam dunia optik adalah besarnya ukuran lensa yang bisa dibuat masih dalam ukuran sekitar satu meter. Bentuk lensa yang cembung mengakibatkan lensa sangat berat di tengahnya, hingga sulit dibuat lebih besar lagi karena pinggiran lensa tak akan kuat menahan beban bagian tengah lensa. Mungkin suatu saat ditemukan aluminium transparan seperti pada sains fiksi di film Star Trek: The Voyage Home.

Teleskop refraktor ganda Zeiss ini dirakit di tempat selama pembangunan bangunan lingkaran tersebut dari tahun 1923 hingga tahun 1928, dikelola oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging dan kini dikelola oleh Insitut Teknologi Bandung sejak ITB resmi berdiri di tahun 1959. Di ketinggian 5m bangunan ditutup dengan kubah bercelah yang bisa berputar 360°, jadi teleskop bisa digunakan untuk melihat langit horison ke segala arah dan celah kubah untuk melihat ketinggian langit dari horisontal hingga tegak vertikal menatap langit. Awalnya kubah diputar secara manual dengan tangan, kini sudah menggunakan motor listrik, begitu juga dengan pelat lantainya.

Komplek Observatorium Bosscha tidak hanya milik Bandung, tetapi juga milik dunia sebab sedikit observatorium langit berada di belahan bumi selatan, observatorium lainnya lebih banyak di belahan bumi utara seperti di Amerika atau Eropa. Pengguna observatorium ini tidak hanya para ilmuwan dan akademisi lokal, tapi juga para peneliti dari mancanegara terutama yang berkepentingan untuk melihat wilayah langit selatan.

Selain teleskop Zeiss komplek Bosscha memiliki beberapa teropong lainnya yang bersifat portabel, antara lain:
* Teleskop Schmidt Bima Sakti
* Teleskop Refraktor Bamberg
* Teleskop Cassegrain GOTO
* Teleskop Refraktor Unitron

Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Masyarakat umum memang tidak bisa menikmati indahnya langit melalui teleskop di Bosscha karena keterbatasan rancangan fasilitas yang memang dikhususkan untuk para peneliti. Kota Jakarta-lah yang menjawab kebutuhan tersebut dengan dibangunnya planetarium di TIM. Pada tanggal 1 Oktober 2005 yang lalu yang juga bersama teman-teman yang sama –bahkan lebih banyak– kami mengunjungi Planetarium Jakarta setelah menikmati panorama Jakarta dari puncak Monas yang kemudian dilanjutkan dengan wisata makan ke Daeng Tata.

Planetarium Jakarta adalah simulasi langit yang diproyeksikan ke layar yang berbentuk kubah setengah bola berdiameter 22m dengan kapasitas pengunjung 300 kursi. Kita mengenal TV matriks yang terdiri dari banyak televisi yang didempet-dempetkan sehingga menjadi sebuah TV berukuran besar. Begitu pula dengan planetarium, untuk menampilkan total layar setengah bola dari titik fokus planetarium disorotkan proyeksi yang banyak, kubah seolah-olah dipecah-pecah dalam banyak layar kecil hingga kita kita bisa menyaksikan seluruh langit 360° dari pandang horisontal hingga tegak vertikal ke atas. Hanya saja kursinya tidak bisa berputar, tapi cukup dengan posisi sandaran yang bisa rebah hingga nyaris telentang memandang langit dan bisa membuat kepala pusing saat langit digerakkan terlalu cepat, rasanya kursi yang terjunkat, sebuah simulasi from dusk till dawn.

Planetarium Jakarta dibangun pada tanggal 9 September 1964 hingga dibuka untuk umum pada tanggal 1 Maret 1969. Selain wahana simulasi langit; Planetarium Jakarta juga memiliki 3 teleskop yang berfungsi untuk penelitian dan kebutuhan simulasi planetarium. Dibangun atas sumbangan Gabungan Koperasi Batik Indonesia dan kini dikelola oleh Pemkot Jakarta.

Komentar

91 komentar untuk catatan 'Wisata Langit: Observatorium Bosscha dan Planetarium Jakarta'

  1. #1
    gravatar

    […] By iccacherly Wisata Langit: Observatorium Bosscha dan Planetarium Jakarta […]

  2. #2
    gravatar

    pengen k planetariiuuumm… . . . . .

  3. #3
    gravatar

    ul, abdi urang smp 6 subang tos tuang acan

  4. #4
    gravatar

    kalo mau ke planetarium sekarang bayar berapa? udah lamaaaaaa ngga kesana.
    bir seru siang atau malam? thanx…

  5. #5
    gravatar

    aku udah 5kali kebandung tapi lum sempat ke bosscha, tiap mau kesana ada aja halanga n rintangan. emk bagus banget ya pemandangan langit??? aduh kapan ya kesana, maklum aku tinggal disumatera n sekarang udah kerja jadi agak susah mikirin jalan kesana.

  6. #6
    gravatar

    tolongdong bagi ilmu astronominya dengan melalui SMS ke 085793326697

  7. #7
    gravatar

    Bosscha oh Bosscha,
    You’ve been always my dream to visit.
    Hmm kapan yaa??

    Mayang
    jeenalathooya@gmail.com

  8. #8
    gravatar

    mas mau tanya
    kalo obsevatorium boscha punya prestasi2nya ga???

  9. #9
    gravatar

    Saya ke planetarium ketika masih di SMP S. Maria Bandung, sekitar 28 tahun yang lalu. – Sangat bagus bagi dunia pendidikan maupun untuk wisata keluarga. – Dalam waktu dekat, akan saya bawa anak-anakku ke Planetarium.
    Nih, bagi yang perlu jadwal:
    Senin : LIBUR
    Selasa s/d Jumat : 16.30
    Sabtu, Minggu & Hari Libur nasional : 10.00, 11.30, 13.00 dan 14.30
    Hari libur Nasional yang jatuh hari Jumat : 10.00, 13.30, 15.00 dan 16.30
    Harga tiket Dewasa Rp 7.000,-
    Harga tiket anak sampai 12thn: Rp 3.500,-
    stefanus.parthono@gmail.com

  10. #10
    gravatar

    […] gerombolan Kampung Gajah kembali berwisata mengisi akhir pekan, setelah pekan sebelumnya menikmati Observatorium Bosscha di Lembang kali ini menikmati suasana alam pegunungan Bandung Selatan, yaitu Kawah Putih Gunung […]

  11. #11
    gravatar

    salam kenal buat Mas Jay. saya mohon informasi tentang bpk Kunjaya yg dulu pernah aktif di Bosscha Bandung beberapa taon silam , apa bpk punya informasi tentang beliaw ? perlu di ketahui dulunya beliaw juga alumni ITB . Terima kasih

  12. #12
    gravatar

    Saya sudah lama menggunakan Program KStars sejak Linuk Merdeka s/d Linux Mandriva 2008
    Program ini pernah saya uji sewaktu Gerhana Venus beberapa tahun lalu yang me;inyas di Semarang. Gerhana itu memang dpt dipantau.
    Pada penentuan 1 Syawal 1432 H Proga\ram ini memperlihatkan bahwa :

    1.Matahari tenggelam jam 17.53 Bulan sudah terbit jam 18.01 pd tgl 29/08/11

    sebagai pembanding

    2.Matahari tenggelam jam 17.53 Bulan baru terbit jam 18.57 pd tgl 30/08/11

    Bulan jauh berada diatas Horizon

    Kesimpulan : Penetuan 1 Syawal 1432 H oleh PP Muhammadiyah dapat dipertanggung jawabkan

    Usul ; Kalau Program Kstars TIDAK BENAR tolong Bapak di Observatorium Bossha mengujinya

  13. #13
    gravatar

    ditahun 2011-2012 ,, boscha masih dibuka untuk publikkan , kalau msh bisa blh saya minta jadwal kapan dan jam berapa kunjungan dibuka ?
    sebelumnya makasih .

  14. #14
    gravatar

    maaf saya mau ada kunjungan k bosscha…dan saya tlah mngikuti prosedral ya ada…tapi knpa blm da konfirmasi kmbali….mkch…

  15. #15
    gravatar

    wah mantabs banget…
    kapan ya bisa kesana..

  16. #16
    gravatar

    minta alamat lengkapnya dong …
    please ..

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.


%d blogger menyukai ini: