Plaza: Ruang Publik Terbuka

Kamis, 9 Februari 2006 M
09 Muharram 1427H

Plaza adalah ruang publik terbuka (open air), biasanya minimal ada satu bangunan yang menyertainya, kadang dikelilingi bangunan lain. Dalam terminologi budaya kita dikenal sebagai alun-alun, sebuah ruang publik terbuka yang dibatasi oleh bangunan pemerintahan, masjid, penjara dan pasar. Warga kota Bandung tentunya mengenal ruang publik terbuka seperti Alun-alun Kota, Taman Balaikota, Tegallega dan Gasibu.

Plaza is a Spanish word related to “field” which describes an open urban public space, such as a city square. All through Spanish America, the plaza mayor of each center of administration held three closely related institutions: the cathedral, the cabildo or administrative center, which might be incorporated in a wing of a governor’s palace, and the audiencia or law court.

Kata plaza berasal dari istilah Spanyol, memiliki arti yang mirip dengan city/town square dalam Bahasa Inggris, atau piazza dalam Bahasa Italia. Arti plaza kemudian mulai bergeser, mungkin berubah makna akibat statistik, bahkan ketika sama sekali tidak ada ruang publik terbuka tetap diberi nama plaza. Sungguh menyedihkan saat mendengar orang yang hanya tahu bahwa plaza adalah bangunan besar berisi pusat perbelanjaan. Juga rasanya ingin marah melihat Pemkot mengijinkan semakin banyaknya bangunan tanpa ruang terbuka yang layak diberi nama plaza. Dalam guyon pun kejengkelan ini sering ditumpahkan, jika Jakarta punya PI Mall maka Bandung punya BI Pol karena tidak layak disebut plaza.

Saya ingat sewaktu SD ada acara sekolah berkunjung ke Taman Balaikota, rasanya menyenangkan, sejuk dan tidak riuh oleh suara kendaraan, ah saya rindu lingkungan Bandung era 1980-an. Sering pula di taman tersebut diadakan bazar atau pameran. Kini taman tersebut jarang dinikmati publik, entah kenapa, mungkin masyarakat sekarang lebih suka bersantai di warung kopi impor atau berjalan-jalan melihat etalase busana dan elektronik. Saya sendiri berpikir pagar ruang publik adalah sesuatu yang memuakkan, apalagi ketika pintu masuknya hanya satu-dua berjauhan, membuat orang enggan masuk, seperti halnya di Taman Balaikota saat ini, juga Tegallega dan boulevard Gasibu. Oh, malah boulevard Gasibu hanya untuk dipandang, tak bisa dimasuki.

Dalam skala kecil, taman atau plaza cukup banyak terdapat di Bandung, sebagai contoh Taman Maluku yang sudah tidak menarik lagi, Taman Cilaki yang sudah berganti nama menjadi Taman Lansia, Taman Ganesha yang sekarang kondisinya jauh lebih nyaman, Taman Centrum di jalan Belitung yang selalu ramai hingga kini, Taman Flexy yang dulu lebih dikenal sebagai Bundaran Gaul di jalan Dago yang sekarang hanya diisi tulisan Taman Flexy segede-gede goblog, dan banyak lagi.

Gasibu di Minggu pagi

Satu plaza yang kini masih berfungsi sesuai konsepnya adalah Lapangan Gasibu, cocok jika disebut sebagai Gasibu Square karena berada di depan gedung pemerintahan provinsi. Plaza memang difungsikan untuk kegiatan publik warga, atau festival tertentu yang juga disebut fiesta, juga tempat acara kemiliteran hingga tempat berkumpul di saat darurat menimpa. Dulu, hari Minggu pagi Gasibu dipenuhi oleh warga yang berolahraga, kini berganti menjadi pasar dari lepas Subuh hingga mendekati siang hari. Menyenangkan untuk bersarapan, banyak penjual makanan dan sekaligus untuk berbelanja murah meriah.

Komentar

51 komentar untuk catatan 'Plaza: Ruang Publik Terbuka'

  1. #1
    gravatar

    Saya mau nanya , apa perbedaan plaza dan square. Terimakasih

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.


%d blogger menyukai ini: