Dental Floss
Senin, 6 Februari 2006M
06 Muharram 1427H
Merawat gigi itu mudah, namun kenyataannya banyak orang –termasuk saya– kurang rutin merawat gigi. Bahkan dokter gigi beserta peralatannya diposisikan sebagai hantu yang menakutkan. Selain faktor bahan tulang dan gigi saat kita lahir –berkaitan dengan gizi sang ibu saat mengandung– kesehatan gigi dipengaruhi oleh cara merawat secara fisik dan pola makanan yang dimakan. Perawatan fisik yang sudah berumur sangat tua adalah menyikat gigi dengan sikat gigi dan pemakaian dental floss.

Sikat gigi berfungsi membersihkan permukaan dan sela-sela gigi, namun celah di antara gigi tidak akan terjangkau sedangkan celah tersebut rentan menyisakan sisa makanan yang membusuk, menempel dan menghancurkan gigi (dental cavity) –jika hancur harus ditambal– serta menimbulkan halitosis atau bau mulut. Celah antara gigi dengan gigi memang saling menempel, namun bukan berarti tanpa rongga seperti halnya permukaan prosesor dengan heatsink yang juga harus dioleskan thermal paste supaya tidak ada rongga udara tersisa.
Celah tersebut hanya bisa dibersihkan oleh dental floss, sebuah pita tipis kecil yang terbuat dari nilon atau sutra, diselipkan di antara gigi, ditarik bolak-balik sehingga permukaan pita dental floss menggosok permukaan celah di antara gigi tersebut. Bacterial film atau dikenal sebagai plaque (plak gigi) akan hilang tergosok.

Dental floss ditemukan pada awal abad ke-19, namun mulai diproduksi dan dipakai secara massal setelah Perang Dunia II. Juga dengan ditemukannya bahan nilon yang memiliki sifat lebih tahan abrasi dan lebih elastis.
Saya sendiri baru memulai merawat gigi dengan dental floss ini, sambil berbaring hendak tidur semua celah gigi saya gosok. Ah, dasar pemalas!