Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit

Senin, 30 Januari 2006M
29 Dzulhijjah 1426H

Di negeri ini, perempuan hanyalah sosok tanpa nama…

Tragedi masa silam kerap dijadikan sentimen antar kesukuan kadang seperti tak ada habisnya, meskipun hal tersebut tak pernah dipikirkan namun selalu muncul meskipun hanya sebatas gurauan pengakrab obrolan di warung kopi yang tidak tersedia goreng sampeu, comro ataupun bala-bala, tapi nama-nama makanan dan minuman asing dengan layanan bergengsi akses nirkabel. Obrolan akrab sering tak jauh dari saling mencela, karena keakraban pula celaan sentimen antar kesukuan tidak pernah dianggap sebagai hinaan. Sentimen terbesar suku Sunda dan Jawa yang paling sering saya dengar dan selalu berujung pada kisah Palagan Bubat. Dari banyak teman dan sahabat berbagai suku, saya lihat 68% orang Sunda memang paling humoris, seperti sudah ditakdirkan orang Sunda hidup dengan banyak tersenyum dan tertawa. Ah, tapi bukan hal ini yang akan saya bahas.

Buku Hermawan Aksan: Dyah Pitaloka

Aku ingin menjadi Dyah Pitaloka yang menolak pasrah pada nasib. Aku ingin menentukan sendiri untuk menjadi diriku sendiri.

Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi adalah putri Maharaja Linggabuana yang memimpin Kerajaan Sunda-Galuh di abad ke-14. Seperti yang pernah saya tulis Kerajaan Sunda memang selalu berpindah-pindah ibukota. Di saat Majapahit mulai menyatukan Nusantara, ibukota Sunda-Galuh menempati Kawali, Ciamis. Jauh sebelum kisah tragis Palagan Bubat terjadi Sunda dan Jawa adalah saudara sedarah, Raden Wijaya pendiri Majapahit adalah keturunan raja-raja Pajajaran. Kisah tragis tersebut intinya adalah Hayam Wuruk meminang Dyah Pitaloka dan prosesnya bersinggungan dengan ambisi dan sumpah Amukti Palapa sang Mahapatih Gajah Mada hingga Maharaja Linggabuana melanggar tatakrama adat proses pernikahan dan Gajah Mada memaksakan sumpahnya bahwa Dyah Pitaloka adalah upeti yang harus diserahkan kepada rajanya.

Tak banyak saya mendengar cerita tragis Palagan Bubat secara lebih rinci, juga saya pun tak pernah membaca Kidung Sundayana yang dibuat untuk mengabadikan kisah tersebut. Hermawan Aksan melalui penerbit Bentang Pustaka menuturkan kisah tersebut dalam novel fiksi sejarah berjudul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit dalam buku kecil setebal 321 halaman.

Hermawan Aksan mengangkat sisi pemikiran perempuan Sunda masa lalu. Elaborasi pola pikir perempuan tersebut tentunya didasari atas tindakan bunuh diri Dyah Pitaloka bersama ketiga dayangnya, bukan sebuah tindakan kekonyolan ketika menyangkut sebuah harga diri, harga diri perempuan sekaligus harga diri negeri Sunda.

Memang tragis ketika utusan Kerajaan Sunda yang berjumlah 93 orang dibantai habis pasukan Majapahit di Tegal Bubat yang juga mengakibatkan 1.274 prajurit Majapahit tewas. Cukup membuat kita terhenyak melihat jauhnya proporsi, terlebih terhadap tingginya semangat bela pati, harga diri dibayar dengan nyawa.

Apa yang menarik dari buku fiksi sejarah ini adalah Hermawan Aksan mengangkat pengembangan karakter tokoh sentral Dyah Pitaloka seperti bagaimana ia sebagai putri kerajaan berpikir dan bersikap, dialog-dialog dalam paradigma jaman tersebut serta penggambaran setting yang cukup detil seperti pada buku Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi, tak lupa yang cukup membuat rumit adalah banyaknya nama-nama Sanskrit keluarga kerajaan yang panjang-panjang.

Tragedi Palagan Bubat tersebut juga menjadi tagline seorang perempuan Sunda Ciamis, The Sundanese Tragedy, yang katanya mengaku masih satu kerabat dengan Dyah Pitaloka sebagai galur murni keturunan Kawali:D

Entah sampai kapan di tatar Sunda tidak akan ada nama bangunan atau jalan untuk mengabadikan nama Majapahit, Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Mungkin selama sentimen itu tetap ada.

Komentar

239 komentar untuk catatan 'Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit'

  1. #1
    gravatar

    saya orang sunda, tinggal di jakarta.nenek saya di garut pernah berpesan. kalau cari istri kalau bisa jangan orang jawa.mulanya saya cuek aja, tapi selalu teringat terus sampai sekarang.

  2. #2
    gravatar

    kita harus bangga sebagai orang sunda.kita tunjukan dengan semangat kerja keras membangun bangsa.

    IMPERIUM SUNDA IS BACK…..!!!!!

  3. #3
    gravatar

    MERDEKA….SUKU BOLEH BANYAK…TP HARUS BERSATU….MERDEK…MERDEKA….MERDEKA….MAJU TERUS PANTANG MUNDUR……..

  4. #4
    gravatar

    Buat#223 : …wong djowo udah pinter bercocok tanam dari dulu, dibandingin dengan orang-orang sebrang.

    hei, elu yg ngaku nasionalis, mikir dulu dong baru ngomong. kata siapa orang sebrang gak bisa bercocok tanam?

  5. #5
    gravatar

    Bursit dah Sentimen kesukuan. bukan saatnya lagi Bro.. saya sangat merasa terhina kalau bangsa ini.. di jadikan sentimen belaka.. semuanya itu masa lalu ambil saja hikmatnya. kita sudah Merdeka dan Satu Kesukuan INDONESIA. kalau kalian tetap seperti ini buat aja sendiri negara Jawa dan negara Sunda, gak usah Gabung Indonesia. kalau kalian masih Rasis gak butuh negara ini orang2 kyak kalian. yang kita pikirkan membangun bangsa dengan sumbangsih kita. apa sih yang lu pada berikan untuk negara..

  6. #6
    gravatar

    ini adalah pendapat q… sebenarnya Ayu Dyah Pitaloka benar” mencintai Gajahmada n Gajahmada pun begitu karena cinta mereka berdua sebenarnya suci n krn Ayu Dyah pitaloka mati bunuh diri n Gajahmada merasa berdosa maka sampe kpnpun itu akan terus berjalan walau zaman telah berubah tapi perjalanan cinta mereka terus ada sampe benar” bersatunya pajajaran n majahpahit n q yakin bangsa ini akan kembali menjadi ‘KERAJAAN’ dgn tatanan yg modern kata lainnya BACK TO BORN COLOUR krn q percaya adanya renkarnasi karena apa yang mestinya terwujud belum tercapai maka itu akan terus saja berjalan sampe benar” terwujud n Ayu Dyah Pitaloka bs tersenyum…

  7. #7
    gravatar

    ah gak ada kebanggaan pun jadi orang sunda, jawa atau arab sekalipun. tapi yang patut dibanggakan adalah sebagai Ummat Nabi Muhammad SAW, walaupun dia Jawa, Sunda atau Arab. Suku kamu nggak menunjukkan tingginya derajat kamu di sisi Allah SWT (Tuhan Semesta Alam). tapi ketakwaan kamu. toh? gak ditanya nanti di akhirat kamu tuh suku apa.
    Mulia pun di sisi seluruh manusia kalau hina di sisi Allah SWT buat apa?.

    0 (Nol)

    walaupun keturunan Nabi kalau Imannya 0 buat apa. Cuma Iman yang pasti ada harganya. bukan suku, bukan nasab, bukan sejarah bangsanya, bukan hartanya, bukan bininya, bukan anaknya, tapi imannya. hayo yang sunda, yang jawa, udah pada sholat belum?

  8. #8
    gravatar

    kuduinget ka wangsit siliwangi euy, geslah tong ribut wae,ke turunan pajajaran bakal ngadeg duei..bandungan w. kita semua sarua anak adam jeng hawa…ok..

  9. #9
    gravatar

    Bukan masalah kesukuan tapi kan Aneh sekali kalau banyak tokoh Nasional kita sering memberi contoh bila Gajah Mada itu adalah figur yang membanggakan. Padahal sumpah palapa itu merupakan pencaplokan kerajaan kerajaa berdaulat.Sumpahnya itupun kan banyak dibanggakan

  10. #10
    gravatar

    Ingatlah…………………
    , Al-Qur’an adalah pedoman hidup……
    Membacanya menjadi pahala, mendengar bacaannya menjadi pahala, apalagi dibaca dipahami maknanya terus diamalkan……insyaalloh ……sudah barag pasti selamat di dunia dan di akhirat…..
    ges paeh nu di tanya naon?
    Ges paeh nu di hisab naon?
    yg jadi ukuran umat manusia adalah iman dan taqwanya,,,,,,,
    al ilmu nurun bkn al ilmu narun….
    loba jelema pinter kabalinger ieu teh……..

  11. #11
    gravatar

    MAU JAWA,SUNDA,BETAWI,CHINA,BADUY,TENGGER,MAU BARAT,TENGAH TIMUR SAMA AJA JAWA JUGA KARNA BERPIJAK NYA DI PULAU JAWA,PIJAKAN NYA TETEP PULAU,

  12. #12
    gravatar

    Makanya sudah saatnya sejarah diluruskan agar tidak terjadi kontroversi yang mengundang sentimen kesukuan hususnya di sini adalah Sunda (saya orang Sunda tinggal di Galuh Kawali suatu tempat di mana Putri Dyah Pitaloka dilahirkan)dengan Jawa. Saya pribadi sebagai orang Sunda berpendapat bahwa KIDUNG SUNDA telah menimbulkan kebencian antara Sunda dan Jawa.Namun dengan begitu saya tidak sependapat kalau KIDUNG SUNDA adalah rekayasa pihak Belanda sebagaimana sebagian pihak ada yang mengklaim demikian. Yang merekayasa justru pihak Majapahit sendiri karena malu atas keteledoran yang dibuatnya.

  13. #13
    gravatar

    Aq orang jawa, kerja di bandung dapetin istri orang sunda. Gak ada masalah tuh, paling beda di selera makan ( aku suka pecel, istri suka lalap dll) ato kebiasaan aja, seperti aq suka wayang kulit, istri gk suka karena ndak ngerti bahasa wayang kulit jawa (jawa kuno) wk…wk..
    Sejauh ini yang penting orangnya, bukan sukunya.
    Biarlah sejarah yang terjadi, yang penting ambil hikmahnya ke depan. Janganlah kebencian kepada seseorang (suku) membuat kita berlaku tidak adil dan tidak fair

  14. #14
    gravatar

    Its like you read my mind! You seem to know so much about this, like you wrote the book in it or something. I think that you could do with a few pics to drive the message home a bit, but other than that, this is fantastic blog. An excellent read. I’ll certainly be back. 78.lt/perceraian_998652

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.