R. Oto Iskandar Di Nata

Senin, 19 September 2005 M
15 Syaban 1426H

Potret Oto Iskandar Di Nata

Dalam sebuah sidang Voksraad tahun 1931 dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda.

R. Oto Iskandar Di Nata: “… contohnya, sewaktu Ratu Wilhelmina ulang tahun pada tanggal 31 Agustus yang harus dirayakan di seluruh penjuru negeri. Para pengrehpraja sibuk mengumpulkan biaya perayaan dengan memotong gaji pegawai dan memungut iuran dari rakyat yang miskin. Katanya iuran itu sukarela, padahal merupakan pemaksaan. Mereka menurut karena takut. Maka uang itu tidak halal; pesta perayaannya juga tidak halal. Katanya Ratu itu ibu rakyat, bila dipestakan dengan cara begitu sama saja dengan merendahkan derajatnya. Tanda penghormatan itu hanya kemunafikan.”

Ketua Sidang: “Ucapan-ucapan itu sangat tidak pantas!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Memang tidak baik, tetapi Tuan Ketua, itu karena pesta itu merugikan pendidikan rakyat. Pesta-pesta hanya dipergunakan untuk meraih kedudukan. Saya yakin kalau Ratu mengetahui hal ini, beliau tidak akan mau dihormati dengan cara begitu. Bahkan mungkin marah!”

Tuan Frain: “Saudara buruk sangka, kepada rakyat Saudara sendiri!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Salah susunan!”

Tuan Monod de Froideville: “Biasa, menyalahkan orang lain!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Tentu, Lihat saja, berapa banyak rakyat Indonesia tidak mendapatkan pengajaran di sekolah!”

Tuan Hamer: “Bayar sekolah sendiri!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Itu urusan negara!”

Tuan Hamer: “Itu perkiraan Saudara saja!”

R. Oto Iskandar Di Nata: “Pendidikan yang ada sekarang hanya sebagai klerek pabrik dan jurutulis. Para pangrehpraja berperilaku sebagai penjilat, karena salah mendidik!”

Itulah sekelumit keberanian Raden Oto Iskandar Di Nata yang terlahir di Bojongsoang, Bandung, 31 Maret 1897, kritikannya yang pedas dan suaranya yang keras membuat ia dijuluki Si Jalak Harupat, ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang berkokok dan selalu menang jika diadu. Julukan ini dilontarkan oleh Wirasendjaja, guru HIS Cianjur, kakak Soetisna Sendjaja, pemimpin redaksi pertama surat kabar Sipatahoenan.

Almarhum Raden Oto Iskandar Di Nata meninggal dan tidak pernah ditemukan jasadnya, ia diculik pada tanggal 31 Oktober 1945 dan menulis surat terakhir di tanggal yang sama untuk istri dan sebelas orang anak-anaknya. Menjelang akhir Desember 1945 terdengar berita bahwa Oto diculik oleh Laskar Hitam di Pantai Mauk, Tangerang.

Bermula dari aktifnya sebagai guru HIS dan aktif di partai Boedi Oetomo Pekalongan, Oto membongkar kasus Bendungan Kemuning yang menyelamatkan rakyat dari penipuan pengusaha Belanda, hingga akhirnya ia dipindahkan ke Batavia. Di Jakarta ia kemudian aktif dan menjadi pimpinan Pagoejoeban Pasoendan pada tahun 1929, sebuah organisasi dan partai yang tidak hanya untuk orang Sunda, ketua pertamanya sewaktu didirikan tahun 1913 adalah orang Bugis, Daeng Kandoeroean Ardiwinata. Semenjak dipimpin oleh Oto Pagoejoeban Pasoendan mengalami perkembangan pesat dalam bidang politik, pendidikan, budaya, ekonomi serta pemberdayaan istri. Tahun 1931 Oto duduk di dewan rakyat Volksraad sebagai utusan dari Pagoejoeban Pasoendan.

Tahun 1942 Oto aktif memimpin surat kabar Sipatahoenan yang menjadi corong Pagoejoeban Pasoendan, kemudian memimpin surat kabar Tjahaja selama pendudukan Jepang. Oto mengambil sikap kooperatif selama masa pendudukan hingga kemerdekaan, yang juga membuat beberapa sahabatnya heran dengan sikap Oto yang biasanya frontal sesuai dengan julukan Si Jalak Harupat.

Ada pendapat bahwa Oto dianggap kolaborator Jepang hingga ia diculik oleh Laskar Hitam, saat itu Oto yang menjabat Menteri Negara mengambil sikap kooperatif dalam revolusi yang terjadi setelah proklamasi, terutama pada saat Sekutu masuk Bandung pada bulan September 1945. Melalui diplomasi Sekutu gagal menguasai Bandung, hingga bulan Maret Sekutu membuat ultimatum kepada Republik, namun dijawab dengan pengungsian dan pembakaran kota Bandung oleh tentara dan rakyat, yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api.

Selain Oto korban penculikan saat itu –entah oleh siapa– adalah Residen Priangan Poerdiredja, Walikota Bandung Oekar Bratakoesoemah dan Niti Soemantre Ketua KNI Karesidenan Priangan.

Kisah lebih lengkap bisa anda baca dalam biografi yang ditulis oleh sejarawan Bandung, Nina H. Lubis: Si Jalak Harupat.

Komentar

30 komentar untuk catatan 'R. Oto Iskandar Di Nata'

  1. #1
    gravatar

    Benar-benar pahlawan

  2. #2
    gravatar

    Pahlawan sehebat Otista namum belum mendapat pengakuan dari Pemerintah. Sangat disayangkan. Bagaimana kalau usulkan kepada Pemerintah, agar Otista mendapat pengakuan sebagai pahlawan Nasional seperti halnya Pangeran Diponegoro.

  3. #3
    gravatar

    di duit 20 ribu ada gambar beliau kan?

    di surabaya ada pemuda namanya muhahhamad aliskandar zulkarnain.

    mirip banget dengan bliau n duit 10k n duit 2k. dia juga pemberani n pintar membakar semangat seperti otista.

    julukan si pangeran modern ini lucu::: jakar rekstra

    gak tau apa neh artinya?

  4. #4
    gravatar

    hmmm, otista yah. serasa masuk n liat duit 20 ribu rupiah yah.

    alow miss mel, artinya mesias ato imam mahdi as itu apa?

    kalo 11 mei ak mei11sias aku tau itu tanggal lahirku ^^

    salam salam

  5. #5
    gravatar

    Mohon Bantuannya apabila masih punya salinan buku otto iskandar dinata si jalak harupat khususnya yg nerbahasa sunda mungkin aanda bisa menolong saya, saya sudah coba mencari dimana-mana tp ga ada hasilnya.terima kasih

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.