Resensi Film Soe Hok Gie

Selasa, 19 Juli 2005M
13 Jumadil Akhir 1426H

Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie

Setelah menulis tentang Soe Hok Gie akhir tahun lalu sebagai rasa hormat saya atas buah pikirannya, akhirnya saya menonton juga film Gie yang dibuat oleh Miles Production. To the point saja, apa yang tertulis dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” selain buku “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”, “Zaman Peralihan” dan ulasan “John Maxwell: Soe Hok Gie – Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” tidaklah cukup dipadatkan dalam sebuah film berdurasi dua jam.

Mari kita bicara hal teknis dulu. Film ini diproduksi ke dalam layar lebar seluloid dengan tata suara yang tak yakin terdengar stereo. Saya tak tahu apakah memang sulit melakukan mixing 4 kanal suara (surround, center dan subwoofer bisa virtual dari filtering kiri/kanan)? Kecuali pada saat syuting dan editing input suara memang hanya sedikit, jadi sayang kualitas teater dengan tata suara DTS tidak terpakai.

Okelah, mungkin tata suara surround terlalu canggih, saya lihat sistem stereonya saja, di banyak adegan sering terjadi tumpang tindih, narasi bertabrakan dengan backsound hingga saya sulit mendengar, terkadang backsound volumenya terlalu kencang dibandingkan narasi atau dialog. Saya tidak tahu ini kesalahan di tata suara teater ataukah memang dari seluloidnya seperti itu.

Ah, ngejelekkin mulu! Film ini dikemas dengan setting yang baik, meskipun saya tidak tahu persis seperti apa kondisi jalan, rumah, pakaian, budaya dan tata bahasa tahun 1950-an hingga akhir 1960-an. Hanya para orang tua kita yang bisa mengkonfirmasikan apakah benar Jakarta pada tahun itu kata-kata ‘gue’ dan ‘lu’ sudah sangat membudaya? Apakah benar tahun tersebut sudah ada jam tangan bulat tipis yang dipakai Gie? Orang tua saya dulu tidak tinggal di Jakarta, jadi saya tidak ada tempat bertanya. Eh, anak Betawi yang bonyoknya lama di Jakarta kasih tahu gue ye!

Diawali dengan narasi Gie yang datar seperti seseorang bercerita kepada anak kecil mulai mendeskripsikan siapa itu Soe Hok Gie, pikirannya, keluarganya dan lingkungannya. Dialog dan adegan perlahan-lahan ditunjukkan untuk menampilkan character development Gie dari sejak SMP hingga masuk Kolese Kanisius. Satu yang tak saya suka adalah pergantian adegan ke adegan diselingi layar hitam selama beberapa detik, buat saya ini cukup mengganggu. Dalam menonton film di bioskop mata dan telinga saya tak butuh istirahat, atau menghela nafas sejenak.

Memasuki Fakultas Sastra UI karakter Gie semakin ditunjukkan penuh konflik, ketidakpuasannya terhadap pemerintahan, keprihatinannya kepada masyarakat, pandangannya kepada perempuan, bahkan kepada pola dan budaya kemahasiswaan di kampusnya. Gie memang tak mau menjadi top leader di kampusnya namun ia punya dukungan penuh kepada sahabatnya Herman Lantang, yang selain aktif bersama di kemahasiswaan juga bersama-sama membentuk organisasi hobi yang waktu itu bisa dikatakan gila di jaman revolusi, yaitu naik gunung.

Jika anda membaca Catatan Seorang Demonstran tentu anda berharap adegan-adegan demonstrasi yang dimotori oleh Gie dan sahabat-sahabatnya, bahkan cukup detil dituliskan dalam catatan hariannya. Memang tidak banyak ditunjukkan dan saya sempat berpikir bahwa film ini akan menyodorkan bagaimana proses sebuah demonstrasi mahasiswa disiapkan secara teknis dan nonteknisnya, saya tak berharap ada adegan demonstrasi kolosal yang mahal. Di sisi lain kegiatan hobinya naik gunung kurang ditunjukkan, sebab saya ingin tahu pada tahun itu seperti apa mereka menyiapkan peralatan naik gunung yang tentunya tak mudah didapatkan seperti sekarang, dan hal ini ada penjelasannya di buku CSD.

Di film ini cakrawala lebar hanya bisa anda dapatkan dalam setting di gunung, termasuk di padang Edelweiss (padang Suryakencana kalau tidak salah namanya) Gunung Gede dan puncak triangulasi Gunung Pangrango (saya pernah duduk juga di puncak Pangrango tersebut dan tidur di kelilingi bunga Edelweiss yang berlimpah), sedangkan di kota hanyalah sudut-sudut kamera sempit namun cukup tertata dalam menggambarkan suasana kota lama Jakarta.

Satu yang kurang dari film ini adalah Gie pernah melakukan perjalanan ke luar negeri yaitu ke Amerika dan ke Australia di tahun 1968, setahun sebelum Mapala UI menyiapkan pendakian ke puncak tertinggi di pulau Jawa yaitu gunung Semeru, namun tidak ada deskripsi atau adegan tentang hal ini, memang cukup mengecewakan, namun bisa dimengerti jika alasannya adalah sulit dan mahalnya pengambilan gambar. Salah satu catatannya selama ke Australia adalah piringan hitam Joan Baez-nya ditahan di bandara. Di waktu sebelumnya Sita menyanyikan lagu Donna Donna Donna dengan apik, bahkan cukup menyayat hati mendengar kembali lagu tersebut di film Gie. Lagu “Donna Donna Donna” dulu saya dengarkan sambil membaca buku CSD, yang cukup memengaruhi saya menyukai lagu-lagu Joan Baez yang lain, terutama lagu Diamond and Rust (1975).

Donna Donna Donna
oleh Joan Baez

On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer's night.

(Chorus)
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

"Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

(back to Chorus)

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

(back to Chorus)

Oh iya, soundtrack film ini diberi judul sama yaitu “Gie” yang dinyanyikan oleh Eross dan Okta secara akustik, enak lirik dan lagunya!

Gie
Sampaikanlah pada ibuku
Aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku

Sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas semua
keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia

malam yang dingin...

(Chorus)
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki keadilan

Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu
Yang sebenarnya
Hakikat manusia

(back to Chorus)

Akan aku telusuri
Jalan yang setapak ini
Semoga kutemukan jawaban

Komentar

107 komentar untuk catatan 'Resensi Film Soe Hok Gie'

  1. #1
    gravatar

    Seperti biasa, catatan yang cerdas dari Jay. Adakah kita pernah mencoba mencari Gie-Gie yang lain lagi? Tidak harus hero atau punya jalan hidup yang menarik, tapi cukup rajin menulis jurnal tentang hidupnya, dari waktu-waktu yang lalu.

  2. #2
    gravatar

    Gie: Catatan Seorang Demonstran

    Gie: Catatan Seorang Nicholas Demonstran

    Senin kemarin, 18 Juli 2005, aku diajak nonton bareng cintah dan temennya, Nia, nonton film baru-nya Riri Reza, GIE. Tidak disangka-sangka, ternyata penonton berjubel juga. Aku datang ke loket 1.5 jam sebelu…

  3. #3
    gravatar

    Iya, itu di padang surya kencana. Aku pernah ke Gunung gede 3 kali dan biasanya berangkat lewat basecamp Cibodas dan turun lewat jalur yang lewat jalur lain (jalur gunung putri yah?) agar bisa menyempatkan diri untuk tiduran di situ.

    Wah, jadi pengin naik gunung lagi nih

  4. #4
    gravatar

    dulu ketipu, selesai menginap di padang Suryakencana jalur ditempuh ke Gunung Putri… beberapa orang sudah kaget “Hah, satu gunung lagi?”, soalnya sehari sebelumnya dari Kandang Badak digeber satu hari dua puncak. ternyata Gunung Putri hanya nama desa:))

    karena turun menukik akhirnya lari loncat-loncat biar nggak cape

  5. #5
    gravatar

    hahahahaha… iya itu jalur yang udah umum diambil. naiknya enak, turunnya juga enak. kalo dibalik gimana ya?:P duh jadi pengen naik gunung lagi… kudu kurusin badan dulu nih biar kayak dulu lagi

  6. #6
    gravatar

    Saya cuman pernah sekali ke cagar alam merubetiri:(
    Itupun dipaksa teman-teman:-D.

  7. #7
    gravatar

    setelah minggu kemarin film Gie dirilis banyak blogger mengulas Soe Hok Gie maupun film Gie. cek http://technorati.com/search/soe%20hok%20gie

  8. #8
    gravatar

    kalo dari kandang badak bisa langsung ke pangrango (tapi gw ketemu jurig), suryakencana emang poll, ampe 3 hari disana untung dari bawah udah niatin mo ‘piknik’ so telanjang lari2 n katirisan di suryakencana gak ada yang liyatin:D

  9. #9
    gravatar

    Wah, keren banget nih cerita-ceritanya, ngomong2 bang jay lulusan jurusan apa di itb nyah………….:D

  10. #10
    gravatar

    dan credo buat Gie dilantunkan …:D

  11. #11
    gravatar

    Hum… jadi pengen naik gunung

  12. #12
    gravatar

    ternyata pendengaran gw gak salah… ternyata sound pelem itu jelek:(

  13. #13
    gravatar

    waks Jay, blog elo di link sama milesfilms.com yak? huehuehue:P

  14. #14
    gravatar

    hehe..waktu tiba tiba layar jadi gelap (pertama tama) gue kira nicolas saputra nya belom dateng buat nganterin roll film hhhehehe:P *mixed up

  15. #15
    gravatar

    #14 hwakakakakaka …. salah pilem atuhhh……
    #10 kapan nih kita hok gie-2 an? merapi or merbabu yah?,
    Jadi inget masa muda, siang digebuk Brimob, sore minggat ke Merbabu, …. hua hua

  16. #16
    gravatar

    Kangen Gede-Pangrango euyyy, …. kapan gw bisa kesana lagi? jadi inget waktu nginep di Kandang Badak ada temen kesambet demit ngeri pisan.

  17. #17
    gravatar

    duh, antara pengen nonton & ngga pengen nonton. ilfil gara2 diperanin nicolas saputra:P

  18. #18
    gravatar

    sama nih.. pengen nonton juga, gimana kalo di re-make trus bucek depp ajah pemerannya, kan gondrongnya dia keren tuh mahasiswa banget.. :D

  19. #19
    gravatar

    itu bak mayat yang harus mencari jatidirinya tank GIE aku suka he he he he he he
    persetan dengan semuanya tapi aku tetap suka

  20. #20
    gravatar

    belum nonton euy…
    tapi membayangkan gunungnya seru juga kali ya!
    tapi lagi, kok ga ada ya yang cerita soal contentnya. apa memang film itu menyuguhkan dengan cukup lengkap sejarahnya. dan apa jiwa gie-nya em

  21. #21
    gravatar

    #20: contentnya lebih asik baca buku CSD, film GIE adalah ilustrasi dan interpretasi sang pembuat film. jadi saya hanya menulis kualitas teknis filmnya.

  22. #22
    gravatar

    Gua sering ke gunung Gede Pangrango ampe berkali kali kebetulan rumahnya deket. Suryakencana emang top. enakan naik lewat G putri turun lewat cobodas rame euy

  23. #23
    gravatar

    kudos to #15!
    kapan nostalgia naek gunung lagi? sebelum penghujan ke lawu yuk, buktikan dong tulang boleh tua semangat tetap muda lol:D

    #20
    baca kompas 6 agustus 2005 halaman 43, penjelasan dan kritik yg bagus ttg “Gie” versi Riri ;)

    #17
    idem oom pri!
    antara pengen nonton, gak pengen nonton & susah bangun tidur …
    ( gak ada pito dan fathoni kan disini? kupikir mereka masih dendam, kalau aku ngomong ttg rencana nonton “Gie” lagi )

  24. #24
    gravatar

    sebelum saya salut reviewny bagus banget.
    aq mo kasih komentar ttg penggunaan kata-kata “lu gue” dalam film gie. menurutku penggunaan kata-kata tersebut agar conect dengan bahasa yang kita pakai dlm lingkup sekarang, coba aja dipikir klo film gie menggunakan bahasa tahun 60-an yang notabene saya sendiri belum lahir trus apakah kita akan “ngeh” dengan bahasa tersebut? saya rasa tidak karena kita tahu sendiri bahasa tahun 60-an beda banget dengan bahasa indonesia sekarang baik ejaan maupun kata! kita merasa sangat aneh dan kemungkinan besar bila gie menggunakan bahasa thn 60an hanya akan menjadi film sejarah yang tidak “komersil”, dan hanya ada di metro files!
    udahlah capek, makasih ya bang jay. see ya
    udahlah see ya

  25. #25
    gravatar

    Thanks for ur comments, so sorry if I made lot of mistake in this blog about Soe Hok Gie. I made this blog because I like him, he open my eyes….alot.
    I wrote in english language because now I school in switzerland and I want all my friends (not indonesian people) know about Soe Hok Gie with read this blog. Even my english still not good enough to describe and put all my respect to Soe Hok Gie. Im so sorry because I raed ur comments, U said “I already read CSD many times” and I think I made u dissapointed because everythin what I wrote in my blog not really specific and I didnt gave a good emotions when some people already raed my blog. Respect for u man, and I already read ur blog about GIE, thats nice.

  26. #26
    gravatar

    bener kta bang Jay, klo udah baca CSD, mgkn akan sdikit kecewa ngliat film “GIE”. ak kecewanya paz ngeliat adegan Demonstrasi. beda banget sama yang dibayangin. tapi ya gak apa2lah. segitu aja udah nelen biaya banyak. mgkn suatu saat(amin!) bakal ada film yg bisa mendeskripsiin dgn lebih jelas.
    ak blm prnh naik gunung, baru sampe air terjun Cibereum doang. pengen banget sih..tapi takut nanti malah nyusahin orang. paling2 cm bs nitip salam ke Soe, klo ada temen yg mau naik.
    bwt yg udah pernah ke Gunung Gede, manknya disana ada batu nisan Soe? ada tulisannya jg bkn?bknya Soe di kremasi truz abunya disebar di gunung Gede?
    eh iya… bwt yg mw ke Gunung Gede, nitip salam bwt Soe ya dr ak…!
    thanx!

    btw, Ira itu Rina di CSD trus Sinta itu Maria bkn?

  27. #27
    gravatar

    pokoknya pilem ^^gie^^ keren bgtzzzz

  28. #28
    gravatar

    Hai hai semua!
    Aku mahasiswa dari Polandia, tapi aku suka Indonesia sama di sana di bulan Augustus. Sekarang aku mau sekali berlihat filem ‘Gie’. Di mama aku bisa downloadnya? Muknin kazaa atau emule? Mohon, bicaralah ku…
    /Maaf bahasaku – aku bicara sedikit2/

    Selamat – Ewa.
    ewastel@tlen.pl

  29. #29
    gravatar

    aku dari kalimantan selatan, aku sangat mengagumi sesosok “Gie”.tapi sayang aku cuma tahu ceritanya saja, tapi sayang belum nonton filmnya…dimana sih! cari VCD filmnya sebab di tempatku sudah ngak ada bioskop.

  30. #30
    gravatar

    hump…menyenangkan yah ternyata naek pangrango…tadinya siy rada bingung jadi ato ga…but abis liat fotonya gie di puncak pangrango jadi bener-bener niat ke sana….
    hum…nice… walaupun neknya mpot-mpotan dan lewat jalur pasar…tapi semuanya kebayar di mandalawangi…
    pengen ke sana lagi!!

  31. #31
    gravatar

    Diberkatilah Engkau yang menciptakan Soe Hok Gie…….

  32. #32
    gravatar

    hidup gieeeeeeeeeeeeeee g suka bgt film gie “lebih baik hidup di asingkan dr pd hidup dlm kemunafikan” semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttttttttttttttttttt

  33. #33
    gravatar

    kEREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN ABIEZZZZZZZZZZZZ
    gw nonton ampe sering banget

  34. #34
    gravatar

    mul emang paling keren!

  35. #35
    gravatar

    Wah Gie orangnya pinter banget! Bayangin, masih SMP aja bacaannya wuih… Jd terinspirasi biar gak cuman bisa jadi manusia pragmatis doank.Coba Gie masih hidup, jadi apa ya dia sekarang?!?Btw, Gie orangnya romantis juga, he….

  36. #36
    gravatar

    wah sebenernya aku belu nonton filmnya Gie, abis gie munculnya bulan juni sih…. aku lagi sibuk untuk persiapan masuk Sma, jadi nggak sempet nonton deh….
    kira-kira vcd/dvd nya kapan sih munculya, pengen banget nonton neh….
    mAS NIC, I LOVE U SOOOOO…..

  37. #37
    gravatar

    #28 – Ewa
    Hmmnn… Kalau download mungkin susah. Anda berada di mana sekarang? Di Indonesia VCD GIE sudah keluar. Kalau Anda di Indonesia, Anda bisa langsung membelinya, namun kalau Anda berada di luar Indonesia, bisa pesan via internet.
    Bangga juga melihat Gie tak hanya disukai oleh orang Indonesia…

    #29 – 2 cool
    Saya juga berasal dari Kalimantan. Bahkan lebih ke pedalaman daripada Anda. Saya di Kalimantan Tengah. VCD GIE baru keluar sekitar bulan Januari, dan saya mendapatkannya pada bulan Februari.

    Ups… Mengapa saya lupa berkomentar ya? Terlalu banyak menanggapi orang lain. -__-;

    Salut buat bang Jay atas blog-nya yang luar biasa ini.
    Saya pertama kali membaca CSD setahun yang lalu, saat masuk SMA. Iseng-iseng datang ke perpustakaan sekolah, ternyata ada CSD terbitan tahun 1983 kalau tak salah. Sejak saat itu saya sangat terinspirasi leh sosok Gie yang saya kagumi. Saya mencoba untuk mencari buku-buku Gie. Bertualang dari toko buku ke toko buku, sampai malahan ke kios majalah. ^_^;
    Hasilnya saya mendapatkan buku CSD serta Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, juga buku Memoar Biru Gie yang ditulis oleh seorang pengagum Gie.
    Saya tidak menonton filem GIE di bioskop berhubung di kota tempat saya tinggal, bioskopnya sudah dirobohkan. Saya terpaksa bersabar selama 1/2 tahun untuk menunggu rilisnya VCD GIE. Dan akhirnya penantian saya membuahkan hasil, saya baru saja membelinya.
    Namun apa yang saya dapat? Sedikit kekecewaan mungkin…
    Seperti yang telah diulas, sound filem ini agak kurang. Beberapa unsur dalam CSD juga terlewatkan di filem ini, salah satunya ketika GIE ke luar negeri. Saya juga kurang meihat adanya unsur penolakan GIE terhadap Tuhan di filem ini.
    Adegan yang saya anggap lucu dalam filem ini mungkin ketika Gie diundang menemui Soekarno. Lihat saja ada beberapa adegan yang mungkin… Hahahahaaa…
    Duh… Berhubung saya masih berstatus sebagai pelajar (tentu saja masih di bawah umur), saya jadi merasa tidak enak menyaksikan beberapa adegan dalam filem ini. Tentu saja Anda paham maksud saya kan? T__T

    Menanggapi kometar yang menyatakan kenapa harus Nikholas Saputra yang memerankan Gie. Jawabannya tentu saja karena Nikholas Saputra mempunyai nilai jual. Sebuah filem sukses atautidaknya sebagian tergantung dari tokoh utamanya. Sekadar komentar kecil, wajah Wulan Guritno terlalu modern untuk filem GIE. ^^;
    *Ditimpuk oleh Wulan Guritno*

    Oh ya, lagu Donna Donna Donna sangat menyentuh saya.
    Anehnya saya kurang menyatu dengan lagu Like a Rolling Stone. -__-;
    Kutipan Gie favorit saya baik dalam CSD maupun dalam filem GIE adalah:
    “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”
    Saya ingin mempunyai keberanian seperti Gie. Tapi mungkin sulit mengungkapkannya, karena guru-guru di sekolah saya rata-rata baik semua. ^0^

    Oh ya, coba MilesFilm juga membuat filem tentang Ahmad Wahib dan Munir.
    *Ditimpuk oleh kru dan staf MilesFilm*

    Sekadar pesan, bagi para generasi muda, khususnya pelajar, cobalah untuk menonton filem ini, jangan hanya nonton filem-filem ABG atau cinta anak muda saja.
    *Ditimpuk oleh teman sekelas saya* ^_^;

  38. #38
    gravatar

    to3x harry murti,
    aku cuma mo ngasih sedikit komentar tentang komentarmu yang begini nih
    “………penggunaan kata-kata “lu gue” dalam film Gie…coba aja dipikir klo film gie menggunakan bahasa tahun 60-an, kita merasa sangat aneh ….”

    Do you know, kenapa si sutradara dan penulis skenarionya sepakat memakai kata “lu gue”, The answer is Dari dulu orang Cina memang udah pake kata “lu gue” bukan aku, saya atau kamu dalam berkomunikasi.

    How do I know? ( is that question in your mind?)
    becoz my husband is a Chinese and I researched it.

  39. #39
    gravatar

    saya juga sempat perfikir “apakah gaya bahasa gie pada tahun revolusi seperti anak sekarang(gw&lu)ehh….ternyata penulis tau juga

  40. #40
    gravatar

    aku juga nggak yakin klo di jamannya GIE pake bahasa “loe atau gue”? tapi mang bener juga biz orang Oriental bahasa nya “LOe-Gue”. tentang pengambilan gambar banyak yang kepotong sehingga banyak yang ga nyambung, mungkin karena itu tadi, syuting nya pake pita seluloid jadi dengan kata lain: kalo pengulangan pengambilan sequen gambar lagi, cost production ya bertambah. Bicara gambar juga, ada sequen dimana pengambilan COVER rumah GIE, gak tahu kameranya kesenggol ato bener2 jatuh? jadi gambarnya gonyang. aku juga mo tanya lagu yang di pake soundtrack GIE “donna-donna” udah populer pada Zamannya gie?

  41. #41
    gravatar

    sumpah filmnya susah banget buat di mengertiiiii….pusing banget d gw…

  42. #42
    gravatar

    thnx untuk penulis dan produser film gie yang telah membuat dan menayangkan film soe hok gie
    dengan film ini kita dapat mengetahui keadaan indonesia ketika orang tidak dapat bebas berbicara dan dihukum jika dianggap menghina pemerintahan ..terpuruk… tidak seperti sekarang.
    tolong buat lagi film kaya gini dunx.. tentang perjuangan tokoh-tokoh indonesia, ketika memperjuangkan nagri kita yang tercinta.

    thnx,

    28-juni-2006
    frankfurt

  43. #43
    gravatar

    thnx untuk crue yg bikin film ini
    gw harap indonesia bisa bikin banyak fim yg menceritakan perjuangan tokoh-tokoh pejuang bangsa
    dan gw harap indonesia sadar dan mengurangi film-film cinta&hedonisme yg menurut gw semuanya garink…
    dengan film gie kita dapat mengetahui keadaan indonesia ketika masyarakat dilarang berbicara.
    dan film ini membuat saya jadi banga menjadi orang indonesia dan merasa indonesia sangat menarik buat saya.
    thnx

    24-jun-2006
    frankfurt

  44. #44
    gravatar

    Film Gie cukup keren tapi kenapa kaya nonton layar tancep yah, ada jedah hitam yang banyak banget! terus masih bingung Gie meninggal karena kenapa kok tiba2 meninggal gitu aja! Tapi kesan nya agak memaksakan lingkungan, rumah & tulisan zaman dulu, harusnya kalau gak bisa buat aja dalam setting modern biar kelihatan gak janggal! Over All Ok……! Salut buat Riri & Mira yang punya ide tuk buat film ini.

  45. #45
    gravatar

    Agak telat memang, karena gua baru aja nonton film Gie! tapi gak ada kata telat untuk suka sama semangat dan ke tidak munafikan Gie! Lewat Film yang berdurasi lebih dr 2 jam ini aja udah bisa buat gua suka sama sosok Gie, berarti Riri berhasil! tapi kalau boleh kasih saran, pas waktu ada suara Nicholas, tolong jangan di kasih back sound yang kencang jadinya yang lebih dominan terdengar tuch suara musik nya, mending musik nya bagus di dengar! Kemarin aku buka internet yang semuanya mengenai Gie, ternyata Gie meninggal karena menghirup asap beracun, kenapa itu gak di ceritakan di Film? supaya pecinta alam di negeri kita bisa lebih berhati-hati pada saat naik gunung! jadi agak gak nyambung ending nya. Kaya nya perlu ada lagi deh sineas film yang harus buat film yang menceritakan pejuang remaja yang jarang di ekspose untuk bisa di jadikan panutan oleh remaja-remaja sekarang yang lebih suka meng idolakan Cowok ganteng yang gak ada otak & cewek seksi yang wawasan nya sempit. Ok…thanks udah bisa ber komentar disini.

  46. #46
    gravatar

    aku suka sama film GIE….tp mnurut aku, endig pd film GIE kurang bagus

  47. #47
    gravatar

    GIE sosok yang menakjubkan sepertinya membawaku kealam lain yang akan kuhampiri seperi yang tertulis dalam surat GIE buat ira

    nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

  48. #48
    gravatar

    SOE HOK GIE seorang sosok yg dikagumi masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya.
    ADAKAH ORG LAIN YG MAMPU SEPERTI DIA PADA SAAT SEKARANG INI?
    SIAPAKAH DIA?
    PERJUANGAN NYA MUNGKIN LEBIH DARI GIE…………..

    “KEVOKALANNYA MENGAKHIRI NYAWANYA”

    SAHABAT KITA MUNIR

  49. #49
    gravatar

    sorry ketinggalan jaman, baru nonton GIE pekan lalu. Salut banget, menyentuh, bagus (sayang memang sound-nya kacau). Jadi mikir, kayaknya saya blm berbuat apa-apa untuk memperjuangkan idealisme. Berbahagialah GIE yg mati muda dan tetap dalam idealismenya, tidak perlu terlalu lama kecewa dengan kondisi jaman yang nggak keruan. Gimana dgn kita, sudah sampai mana memperjuangkan idealisme? ….

  50. #50
    gravatar

    gie…!
    kalau saja kau masih ada sekarang…!
    kamu akan banyak kawan. tau kenapa?
    republik kini butuh bantuanmu…
    dan segala yang pernah kau perbuat
    walau negara kemudian membiarkanmu… terdiam…

    ini imajiner saja…
    tapi benar… kamu perlu ada sekarang…
    semoga pikiranmu akan terus menyeruak… bergerak.!

  51. #51
    gravatar

    kalau menurut gue sih film itu ngak seperti judulnya tapi kok menceritakan tentang kisah asmara sih….

  52. #52
    gravatar

    Terimakasih atas ulasannya.
    Awalnya saya juga ragu menilai film ini. Karena aku hanya nonton lewat DVD yang kuputar pake komputer, aku jadi menyangsikan kualitas sound dan monitor komputerku, tetapi setelah mambaca ulasan bang jay aku jadi semakin yakin kalau ternyata mayoritas penonton, apalagi yang sudah membekali diri CSD, pasti bakal kecewa. Satu lagi, ternyata ada tokoh utama kedua yang bikin sebel, yaitu sebuah mobil kuning, aku ga tau pasti jenisnya apa, yg jelas ini mobil mondar-mandir terus setiap scene di jalanan. Mulai dari Gie masih SMP sampai Kuliah. Memang susah cari properti taun 60an, tetapi kalo terus2an muncul cukup mengganggu juga.
    Aku baru nonton kemarin, karena aku di papua tidak ada bioskop dan Distribusi DVD yang lambat.

  53. #53
    gravatar

    Hidup Soe Hok Gie!
    (wew, klo dia hidup, smua psti pada lari) haha…

    Pahlawan Indonesia Sepanjang Masa: Soe Hok Gie

  54. #54
    gravatar

    I want this movie

    please send info for download to my email

    riconster@gmail.com

  55. #55
    gravatar

    Sori, telat kasih komentar neh! Gw nonton GIE tepat pemutaran perdana di bioskop blok m mall, Juli 2005. Banyak juga yang nonton. Sayangnya setelah nonton sebagian penonton menggerutu kecewa termasuk saya. Kenapa? Karena filmnya jauh dari bukunya. Kalau anda pengagum Soe Hok Gie dan kecanduan tulisan2nya, jangan harap melihat sosok Gie yang kharismatik lewat tulisan2nya muncul di filmnya. Nicholas tidak jelek2 amat memerankan sosok Gie tapi kayaknya skenarionya yang ngaco dan banyak blooper di sana-sini. Dunia mahasiswa yang penuh idealisme kurang diekspos. Yang ada malah kisah anak muda yang selalu murung dan bimbang menghadapi wanita. Gak nampak sosok Gie yang galak di tengah demonstrasi mahasiswa. Endingnya juga aneh, seolah Gie mati karena frustasi cintanya ditolak ceweknya.

  56. #56
    gravatar

    AKU TELAH MELIHAT SOSOK YANG BERANI DALAM SESUATU YANG BISA MEMBUATNYA GUNDAH.AKU SALUT DENGAN APA YANG DIA CAPAI TENTANG BAGAIMANA DEMOKRASI YANG BENAR DAN BAGAIMANA MENANGGAPI BANGSA DAN NEGARA YANG BERBAU BANCI MENURUTNYA DAN JUGA MENURUT ORANG LAIN.TAPI MENGAPA ORANG SEPERTI GIE MATI BEGITU SAJA,MENIGGALKAN KISAH YANG INDAH DIDUNIA MAHASISWA MELAWAN KEMUNAFIKAN BANGSA INI.SULIT MENCIPTAKAN MANUSIA SEPERTI GIE,KARENA DI NEGARA INI HANYA ADA ORANG-ORANG YANG SIFATNYA BERBALIK KEADAAN DENGAN SIFAT GIE,NEGARA KITA BUTUH SESEORANG SEPERTI GIE UNTUK MEWAKILI RAKYAT MELAWAN KESEWENANG-WENANGAN PEMERINTAH NEGARA.DAN JUGA JANGAN LUPA APA HOBI GIE YAITU NAIK GUNUNG DAN ITU YANG KUSUKA.EH IYA LAGU CAHAYA BULAN DAN DONNA-DONNA GUA SUKA.AKU BERHARAP NEGARA INI MUNCUL ORANG SEPERTI GIE,YANG PASTI GENERASI BARU KITA “KUMOHON”.SILAKAN ANDA MENUJU LEMBAH KASIH,LEMBAH MANDALAWANGI/KEPUNCAK GUNUNG SEMERU/PUNCAK GUNUNG PANGRANGO

  57. #57
    gravatar

    dsini aq melihat sosok yg brani pokoke keren abis

  58. #58
    gravatar

    gue bener bener gak ngerti isi cerita film ini…..mungkin terlalu sulit untuk dicerna…bagi kaum muda seperti aku….temen2 sebaya aku juga ga ngerti bgt getoo….tapi mgkin ini kelebiha dari film ini yang nonton mesti nguras otak untuk memahaminya

  59. #59
    gravatar

    soeHokGIE,catataN seoraNg demoNstran beneR2 fiLm yang daPet “souL mahaiswaNya” jaraNg2 ada fiLm di Indonesia yaNg diaNgkaT daRi catataN hAriaN seseoraNg…UniK,menaRik dan Berbobot…..keBetuLan oraNgtua saya pUnya Buku ‘catataN seoraNg demonstraN” cetakan Lama….saya sama sekali tidak menyangka kalau ada seorang yang berperawakan kecil tapi sangat hebat dan mempunyai pengaruh yang besaR…..saya agaK terpengaRuh juga dgn tuLisan2 Gie…yaNg beda sekali dengan pelajaraN sejaraH muLAi sd-sma….

    nasiB terbaiK adaLAh tidaK dilahirKan
    NasiB terbaIk kedua adalaH mati muda dan……
    NasiB terburuk adaLAh maTi tua…

    BenaR2 filOsofi yang aneh tapi uniK

  60. #60
    gravatar

    Gie adalah sebuah inspirasi yang tak akan pernah punah untuk generasi muda. Sangat disayangkan, karena aku belum sempat mengenal sosok gie yang sangat kukagumi. Semoga generasi muda saat ini banyak yang mengikuti sosok Gie……….
    Aku cinta alam…… tapi aku lebih mencintai yang menciptakan alam….

  61. #61
    gravatar

    AKU MENYUKAI GIE…..SELAIN DIA SESOSOK YD DEMONTRANS……DIA JUGA LEMBUT,TANGGUH,DAN SULIT DI PAHAMI………HARI GINI BELUM SEMPAT NONTON…..KEMANA AJA YEAAAA….TAPI…AKU SEDIKIT BISA MEMAHAMI….SEORANG GIE…..

  62. #62
    gravatar

    GIE ADALAH SOSOK YANG TANGGUH DAN BERANI MENGAMBIL SIKAP UNTUK MENJADI LEBIH BAIK, BERKATA TIDAK UNTUK YANG SALAH, CINTA PADA ALAM, WALAUPUN AKU SUDAH SERING MENONTON FILM “GIE” TAPI AKU TAK PERNAH BOSAN. FILM INI SANGAT BERBEDA DARI BIASANYA. AKU SANGAT MENYUKAINYA,& SANGAT MENGINGINKAN BUKUNYA, MOGA AJA ADA YANG SEPERTI DIA DI JAMAN YANG BOBROK INI……

  63. #63
    gravatar

    TOP BGT!!!!!!!!!!!

  64. #64
    gravatar

    Ngomong2x.. enak ngga sih kalau ditambahin omongan tentang kesalahan film di diskusi ini? Soalnya aku barusan nonton lagi karena kupikir aku ngeliat ada kesalahan. Eh ternyata bener… Coba kalau kalian amati di bagian demonstrasi KAMI pertama di depan kantor kementerian Migas.. Di papan tertulis “KEMENTERIAN MINJAK DAN GAS BUMI” bukankah dalam ejaan lama “bumi” semestinya tertulis “boemi”… wah bagaimana sih pembuat film???

  65. #65
    gravatar

    Untuk komentarku yang di atas.. gimana kalau kutambahin kata2x: “Universitas” alih-alih “Oeniversitas”, “Bung Karno” bukan “Boeng Karno”, atau malah “Komunis” alih-alih “Komoenis”??? Gimana nih semua ini? Memang saya bukan pakar dalam hal ini.. tapi ada yang bisa konfirmasi sehingga proses nonton saya tidak tergangu dengan imperfeksi semacam ini? Hehehe..

  66. #66
    gravatar

    gie..sang legenda muda!!! sang penyayat hati,,Lembah Mandalawangi Akan selalu Memberikan kabutnya untukmu

  67. #67
    gravatar

    GIE….. ANDAI DIA MASIH HIDUP……….
    KAN DI CSD DIBILANG KALO SEMUA ORANG TUA CEWEK2 PADA GA MAU DIA JD MANTUNYA, KALO GW SIH BIAR GA DI BOLEHIN TETEP MAU AMA GIE

  68. #68
    gravatar

    gw mau jd istri ke2nya…rela gw!!!!!!

  69. #69
    gravatar

    palsu lo bicara ttg gie>>>cuma onani wacana!!!kongkrit donkk boy!!!jgn cuma bicara terusin tuh perjuangannya doi…dan si doi juga palsu perjuangan belum usai dah mati..doi terlalu dipengaruhi ama filosofi2…udahlah sekarang jaman kita boy bergeraklah kau kaum muda!!!!TURUNKAN SBY-JK…….HIDUP RAKYAT..HIDUP MAHASISWA….

  70. #70
    gravatar

    ngehe lo smua…………

  71. #71
    gravatar

    film dokumenter soe hok gie yang pernah tayang di metrotv dapat penghargaan sbg film dokumenter terbaik pada FFI 2006.

  72. #72
    gravatar

    selama ini kita tahu tentang sosok Soe Hok Gie barangkali hanya sebatas foto-foto, itu pun sangat terbatas sekali. tidak ada sosok (secara visual yang dapat menggambarkan secara utuh, detail ttg Gie). baru Metro Files di Metro TV lah dapat kita tahu siapa itu si Gie. Kita dapat melihat Gie naik bis kota, cara dia jalan, cara dia ngomong/berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih, walau menurut informasi dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal pelajaran bahasa inggris. ternyata tampangnya jauuuuuhhh jika dibandingkan dengan Nicolas Saputra… tidak ganteng. tapi kelihatan bahwa dia adalah orang yang cerddas. baik untuk dirinya, juga untuk orang-orang sekitarnya, juga untuk rakyat… kita butuh sosok Gie yang lain di jaman sekarang ini…

  73. #73
    gravatar

    gie.. dari buku2 nya yg saya baca adalah orang sangat kritis,vokal,punya mimpi tentang kemajuan negara dan selalu gagal dlm percintaan. gie adalah orang kiri tp sangat dikagumi oleh orang2 yg berpaham kanan. Tapi sayang mimpinya tentang keadilan dan pemerintahan yg bersih korupsi msh jauh dari angan2 sampai sekarang.

  74. #74
    gravatar

    Lebih baik terlambat dari pada henteu berkomentar sama sekali. Kirain teh cm saya saja yang sedikit merasa kecewa klo pemeran na Nicolas ternyata aya oge ( sori nya cep Nicolas ulah bendu nya ….. bisi Nicolas maca blog na Kang Jay ). Tapi dari semua kekurangan dan kelebihan nu aya di Film na SHG …. acungan 2 jempol lah ka Miles. Film yang begini yang kita butuhkan untuk bisa menggugah NASIONALISME dari kita sebagai PENERUS bangsa. Masih banyak ketimpangan2 sosial yang harus di benahi. Itu mah entah dari bidang apa saja masing2 lah, yang harus kita miliki adalah semangat SHG berjoang untuk keadilan. Makmur enggeus (meureun) Nagara kita itu tapi ADIL masih jauh. CAG AH

  75. #75
    gravatar

    GIE adalah sosok yang mencoba belajar mengerti “alam”

  76. #76
    gravatar

    Gie merupakan sebuah aplikasi cita2 dan harapan rakyat Indonesia terutama rakyat kecil yang selalu tertindas dan diperlakukan semena-mena

  77. #77
    gravatar

    gue emang salut bgt dengan kedatangannya sosok seorang gie, mulai itu gue jadi anak organisasi yang sebenarnya. emang benar katanya “labih baik diasingkan dari pada menyerah kepada kemunafikan”.

  78. #78
    gravatar

    Haluuuuw…Chie (bukan nama samaran,tapi bener nama panggilan)ngucapin makazeh banget buat Kak Jay (ga sodaraan sama Jay-Z kan? hohohoho…) coz resensi ttg film Gie (plus info2nya yang ga ada dalam pilemnya) yang kakak tulis udah ngebantu aku buat ngerjain tugas Komunikasi Politik-ku ^,^ Soalnya aku cuma nonton pilemnya (yang rada ga jelas gambarnya itu) en masih jungkir-balik nyari bukunya ‘CSD’.Aku pengen bukunya…di Samarinda gak ada…Ato aku yang kurang gigih nyari kali yeee…? ;p
    Kenalin yah, Chie sekarang kuliah di FISIPOL Universitas Mulawarman Samarinda Jurusan Ilmu Komunikasi. Disini ilkom belum punya fakultas sendiri (cian dehhh…) Aku sekarang baru semester 4. Hari ini (Jumat, 30 Maret 2007) kami sekelas disuguhin pilem Gie en disuruh bikin komentar tentang Gie-nya (bukan pilemnya)…
    Jadi agak2 stag, coz Gie hidup di zaman yang sama namun berbeda sama aku sekarang (hoho…apa maksudnya?) Iya, sekarang kan pengkotak-kotakan mahasiswa masih tetep ada, tapi ga banyak yang berbau politik, ya kan? Paling-paling backgroundnya agama, ato hobi seperti Mapala itu…tapi tetep aja ada gap2nya, ya kan bro?
    Salut buat Gie, yang udah…apalah namanya…berjuang…dengan sepenuh hati lewat tulisan-tulisannya, en mungkin kita nggak akan pernah tau tentang gimana sih keadaan Indonesia zaman dulu tanpa buku hariannya…Betewe,baca buku harian orang ga papa yah? ;p Oyah…ada yang aku liat dari pilem Gie ini…akar penunjang tindakan korupsi itu udah ada dari mulai berdirinya negeri cantik ini… (hhhh…) sbg mahasiswa yang berbeban moral bwt ngebaikin nasib bangsa, jadi rada2 pesimis dehhh…
    Aku suka banget lagu Donna Donna Donna itu…Tapi aku udah gak inget lagunya… ^__^ dimana yah aku bisa denger lagi tanpa harus nyewa pilemnya lagi?? *,^ maklum,kere…
    Tapi udahlah, tetep semangat ya kak Jay! Kita semua berjuang untuk apa yang udah dimulai Gie en untuk diri kita sendiri!! Chiayooooww!!
    Akhir kata, skali lagi makasih ye… uehehehehe… For every little thing about Gie that u shared with another Gie in this world… ^_^ shallom…!!

    Chie
    Samarinda, 30 Maret 2007

  79. #79
    gravatar

    menurut aku Film gie telah meberikan inspirasi tersendiri bagi saya..

    film gie OK banget…namun setting tempatnya itu lho… kok tempat itu itu terus..
    gak ada yang lain apa../??
    kan bisa nyari tempat kuno lainnya. sudut-sudut kota kan banyak yang antik gitu..??
    terus dari segi pakaian sih sudah menggambarkan karakter era itu.
    terus itu propery film lainnya seperti mobil, motor, dan bus yang mungkin cuma satu kali ya..?? kok sering mobil, motor, bis tersebut sih yang keluar…??

    terus mengenai jalan pas Soe Hok Gie ma han kecil pergi ke Pangrango. kok jalan perkampungan lereng Gunung dah ada aspal mulus and ada tiang listriknya..

    dan dari segi gambar sih dah bagus banget, kesannya antik gitu.

    pokoknya Film Gie OK deh..

    semangat and Produksi terus Film Film bersetting zaman lampau yang Kolosal.

    chayo……………

  80. #80
    gravatar

    GEDE – PANGRANGO…. kangen mao kesana lagi untuk yg ke 10Xnya… Suryakencana… kawah denok… kandang badak…air terjun cibereum..air panas…telaga biru… wanginya itu lhooo…khas banget hutan tropis…
    mak nyuuuss..

  81. #81
    gravatar

    kapan pemuda indonesia dapat seperti gie..begitu sedihnya gie melihat keadaan pemuda penerusnya seperti KITA

  82. #82
    gravatar

    tQU u/DoNNa-nya

  83. #83
    gravatar

    “donna donna”. soundtrack yang paling menyentuh, khas joan baez..
    btw saya lagi pengen ngoleksi lagu2nya joan baez, kira2 ada yang tau ga bisa dapet di mana?
    thx

  84. #84
    gravatar

    kepada teman-teman pecinta soe hok gie
    bisa gak aku minta daftar-daftar judul buku yang bersangkutan dengan SOE HOK GIE
    karna aku masih penasaran dengan SOE HOK GIE,karna dibuku CATATAN SEORANG DEMONSTRAN menurut aku masih kurang?
    tolong ya…. para temen-temen yang pencinya SOE HOK GIE

  85. #85
    gravatar

    hao…….
    akhirnya dpet poto SOE HOK GIE

  86. #86
    gravatar

    gie…sukaaaaaaaaaa gitcu loh!!!
    naik gunung, sangat suka…tapi sekarang da ga pernah lagi
    kangen neh…
    sejak nonton filmnya, pengen juga baca buku2nya, tapi ntar dech nabung dulu…ato ada yang suka rela minjamin aku???????? hikhikhik

  87. #87
    gravatar

    GIE is the super HERO-nya MAHASISWA forever!!!!

  88. #88
    gravatar

    Komentar dikit nih, jalan aspal ke Cibodas untuk mendaki ke gunung Pangrango & Gede dari dulu emang udah ada. Terus di film itu adalah Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango tempat kesukaan Hok Gie, sampe2 abunya Gie juga ditaburin di situ oleh temen2 nya setelah kuburannya dibongkar.
    Ngomong lo dan gue dari dulu emang udah ada apalagi di kalangan pelajar dan mahasiswa.

  89. #89
    gravatar

    baguuuuuuuuuuuuus

  90. #90
    gravatar

    wasting time & money. HAncur lebur, yang bagus dari film ini hanyalah setting tahun 50-an yang sangat gemilang. selebihnya dataaaaaaarrrr… bahkan karakter GIE yang ditangkap imaji pembaca setia CSD serasa mati.. berganti dengan pemuda polos yang nampaknya hanya intelek saja tapi penuh keraguan.. Padahal RIRI boleh mendramatisir sedikit film yang didasari kisah nyata ini. Tambahkan imajinasi tidak mengapa, karena untuk membuat film yang dramatis, kita tidak perlu menyenangkan semua pihak. Saya terus terang sangat kecewa dengan film ini.. tanpa greget. Kecewa sekali.

  91. #91
    gravatar

    ayah saya pernah bertemu dengan gie, jamannya demo mahasiswa dulu. saat tidur malem2 di kampus UNPAD dulu, gie pernah berkata: “Orang macam kita ini, tak pantas mati di tempat tidur”. Seolah membenarkan perkataan, Gie akhirnya meninggal di atas gunung semeru (?).

    Sosok gie, menurut ayah saya, persis seperti yang diperankan oleh nicholas saputra, pendiam, cenderung dingin, jarang tersenyum dan kalo jalan kaki, selalu menunduk seolah banyak hal yang dia pikirkan, tapi saat berdiskusi bisa bersemangat dan meledak2. Cara gie menyandang tas dengan disampirkan di bahu, memang seperti seperti yg difilm itulah.

    Yang sering jadi bahan guyonan di kampus dulu adalah ungkapan di buku CSD soal pria jomblo :)).

    “No money, No Lady. No Lady No Baby”. biasanya kawan2 menambahkan sendiri: “No Baby, No happy”…

    dan Gie, memang mati bujangan….

  92. #92
    gravatar

    ketika seorang sedang melakukan sebuah pendakian di suatu Gunung… maka didalam dirinya sedanga terjadi pertempuran batin antara, kelelahan, keputusasaan, kepanikan, ketakutan,,, semua tercamapur aduk menjadi 1,,, !!!

    tetapi jika kita mengingat lirik lagu GIE maka kita akan semangat kembali..

    akan aQ telusuri jalan yang setapak ini…
    semoga ku temukan
    jawaban..
    jawaban..

  93. #93
    gravatar

    GUA MAHASISWA SEJARAH YANG MENGIDOLAKAN SOSOK GIE. SOE HOK GIE ADALAH IDOLA DAN PAHLAWAN BAGI SAYA. CHAYOO

  94. #94
    gravatar

    kapan lg bangsa ini punya seorang pejuang muda yang tulus ikhlas???
    jangan hanya sebuah mimpi belaka!
    bangkitlah kaum muda,mari kita ikuti langkah & perjuangan seorang ‘GIE’ yang ingin melawan tirani…

  95. #95
    gravatar

    menemukan jati diri sebagai seorang mahasiswa

  96. #96
    gravatar

    aku suka ! filmny kreen . pemain ny jga. kren bgt . bgt bgt deeh . .
    hoho . lbih kren drpd film luar .

    damaai :D

  97. #97
    gravatar

    film GIE emang keren banget!!!!!!

  98. #98
    gravatar

    yepp,,
    ni pilem emang bagus bangged,,
    palagi kalo baca2 csd ma artikel2 ttg gie,,
    wuuhh,,

    mow bahas tentang pilem nya ya,,
    sblumnya, aku mo setuju bgt ma komentar2 tentang pilem ini,,
    yah,, emang backsound nya terlalu keras sehingga suara2 tidak terlalu terdengar,,
    jeda waktunya juga terlalu singkat,, sedikit tidak bisa dipahami,,mungkin terlalu terpacu dengan durasi ya?
    tapi kalo film2 gini bukannya lebih baik waktunya bisa lebih diperpanjang,,
    sehingga alurnya bisa dipahami bner2.. apalagi block2 yang menyatakan waktu tahun itu jelas sangat mengganggu,, hanya mengurangi sisa durasi yang ada saja,,

    tapi dibalik smua itu,,
    filem ini cukup menginspirasi kaum muda untuk berjuang untuk perubahan,,
    mungkin dengan ada filem ini para pemuda2 indonesia bisa mengenal sosok gie yang sebenarnya,,
    salut untuk latarnya..
    salut untuk pemainnya,,
    salut untuk sutradaranya,,
    bener2 salut,,,

    go perpileman indonesia,!!!

  99. #99
    gravatar

    Tolong yang punya CD Soundtrack Film Gie hub gue, coz cari di toko2 kaset kaya’nya dah ga ada ya….please….mau bgt

  100. #100
    gravatar

    FILM GIE itu KEREEEENNN…bangettt!!
    sangat realistis, dan terlihat kompleks..hahahaha.. pokoknya mantaps!

  101. #101
    gravatar

    buat gue terinspirasi

  102. #102
    gravatar

    film GIE
    selalu gue puter
    waktu aku jadi mahasiswa, kerasa kali aku mahasiswa sejati, walaupun tak sejati pahlawan aku, soe hok gie tentunya.
    semangat, nasional, patriot, semua kalangan bisa menikmati ini film.
    aku tidak segan-segan untuk memberikan rekomendasi agar film ini diputer untuk kaum muda yang punya semangat atau jadi orang indonesia.

  103. #103
    gravatar

    panik+takut+takjub+cape+putus asa,,semua emang campur aduk!!
    chu bangga prnh kmping d gn.gede pangrango.
    tempat favorit soe hook gie>>MANDALA WANGI,,
    d mn padang EDELWEISS bnr2 INDAH…d mn Qta bisa merenung&melepas beban d hati…
    apa mungkin dia bakal ada lagi di zaman sekarang ini????????
    di mana SEMUA orang MENBUTUHKAN sosok PEMUDA seperti dia.

    paz hari2 kebangkitan film soe hook gie purerin lagi dong!!
    dia khan juga sosok pahlawan,,SOE HOOK GIE emang HEBAT!

  104. #104
    gravatar

    Ketika ia memaksa tuk tetap pergi, bersama gerimis badai musim semi, perlahan mengabur hilang tetes air mata kehancuran.
    Ketika ia memaksa tuk tetap pergi, bersama lembut kabut lembah mandalawangi, mulai ku tapaki keheningan malam, N tak berkawan menuju puncak sang pangrango.
    Ketika ia memaksa tuk tetap pergi, bersama guguran bunga” edelweis abadi, tanpa senyum ku nikmati indah hening shalter tak bertuan.
    Ketika ia memaksa tuk tetap pergi, bersama suara gemuruh air suci, paksa perkosa segala mimpi” yang tertahan.
    Ketika ia memaksa tuk tetap pergi, tertinggal sebuah hati…..

    gon’s animakiwa.
    teruntuk, Soe Hok Gie & Idan Lubis.

  105. #105
    gravatar

    sepertinya di buku CSD, panggilan lu gue sudah dipakai, saya baca langsung CSD, CMIIW

  106. #106
    gravatar

    Hahha, saya juga agak kurang puas dengan penggambarannya mas. Over all, thanks lah sama Om Riri Riza yang berani mengambil “risiko” mem-film-kan kisah ini. Btw saya sumpang share Resensinya ya. Salam hangat.. :)

  107. #107
    gravatar

    soundtrack

    Jay adalah Yulian » Resensi Film Soe Hok Gie

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.