Indonesia Internet Exchange
Jumat, 15 Juli 2005M
09 Jumadil Akhir 1426H
- Tracking System
- International phone card
Tidak seperti di mancanegara, akses internet di Indonesia memiliki perbedaan signifikan dalam hal infrastruktur. Jika di luar negeri orang berlangganan akses internet ke sebuah ISP maka konsepnya hanya satu yaitu mengakses jaringan global. Lain halnya di Indonesia dengan keterbatasan infrastruktur content dalam negeri seolah-olah terpisah dari content global. Semua ini terjadi karena kurangnya infrastruktur yang terpadu di tingkat nasional atau antar wilayah.
Indonesia Internet Exchange (IIX) dibentuk oleh APJII di mana pada awalnya adalah upaya yang bersifat charity dan voluntir. Upaya ini dimaksudkan untuk menyatukan trafik antar ISP di Indonesia sehingga tidak perlu transit ke luar negeri, di mana setiap ISP memiliki link internet masing-masing (ada yang ke Singapura, Hongkong, Jepang, Hawai’i, dan bahkan Eropa).
Tanpa terasa dan cenderung diabaikan oleh para pelaku internet, IIX sudah menjadi tulang punggung Internet Indonesia, meskipun masih sebatas trafik antar ISP. Content lokal kini semakin banyak, dari portal hingga game online, komunikasi bergerak, bahkan hingga pertukaran data yang besar seperti mirror-mirror software Open Source. Tahun lalu –setelah APJII mendapat authorisasi sebagai National Internet Registry (NIR) dari APNIC– beban trafik DNS ke ROOT SERVER di luar negeri mulai dikurangi dengan pemasangan mirror F-ROOT server di jaringan IIX.
Salah satu program hasil Munas bulan Mei lalu adalah upaya menjadikan IIX sebagai managed services, termasuk kebutuhan transit internasional antar ISP. Memang idealnya IIX menjadi hub yang tersambung ke backbone internasional sehingga bisa kita katakan “tersambung ke IIX sama artinya tersambung ke internet global”, namun hal ini masih sulit untuk diimplementasikan karena faktor-faktor non-teknis. Satu keputusan lain yang meng-encourage keterpaduan infrastruktur adalah upaya membentuk Local Internet Exchange di tingkat provinsi atau kota di luar Jakarta yang terpadu dengan IIX (bukan hanya local exchange tapi otomatis sebagai node IIX remote).
Jika kondisi saat ini terus berlangsung, akses internet menjadi senjang bagi ISP-ISP di luar kota Jakarta. Saat ini ISP tersambung ke IIX tanpa biaya bandwidth, biaya yang keluar hanyalah biaya link fisik (Fiber Optik, Wireless ataupun Leased Line) yang berbeda-beda, cukup murah bagi ISP yang berlokasi di Jakarta, tapi sangat mahal bagi ISP di luar Jakarta, apalagi di luar Jawa yang biaya link fisiknya saja jauh lebih mahal daripada link internasional termasuk kapasitas bandwidth langsung melalui satelit ke luar negeri.
Tahun lalu local exchange di luar Jakarta mulai direncanakan, dan pada acara Open Policy Meeting Rabu lalu ditetapkan konsep IIX yang managed service yang termasuk di dalamnya adalah pembentukan remote node IIX di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Makassar dan kota-kota lainnya. Keputusan ini tentunya sangat menggembirakan bagi ISP terutama yang beroperasi di luar Jakarta, sebab selain secara teknis jaringan nasional IIX lebih baik juga penekanan biaya yang cukup signifikan (biaya local link tentunya jauh lebih murah daripada intercity link, dan kapasitas seluruh ISP di kota tersebut bisa diagregasi ke dalam satu link ke IIX Jakarta).
Faktor non-teknis yang kadang bisa mengganjal adalah arogansi ISP, saya hanya bisa berharap semua ISP di Bandung (juga di kota-kota lainnya) memiliki niat baik untuk segera mewujudkan Local Internet Exchange, di Bandung yang saat ini sudah mendapat dukungan dari PT Optima dan PT INTI dengan mengambil lokasi NOC di Data Center gedung PT INTI.
Memang ironis ketika beberapa tahun lalu hingga kini sering terdengar orang-orang berbicara tentang Teknologi Informasi, konsep content diseminarkan, jargon-jargon e-business, e-mobile, e-collaboration, e-education, e-government dan e e e lainnya digembar-gemborkan para selebriti internet, pejabat pemerintahan maupun pakar-pakar karbitan sedangkan kebutuhan utama yaitu pipa internet skala nasional diabaikan.
Jumat, 15 Juli 2005 @ 15:19
Using
toleh kanan-kiri…
ah nomor satu?
quote yang paragraf terakhir jay…. kayaknya emang urusan antar manusia repot ya? kecampuran tendensi dan ego-ego XYZ.
kalo scr teknisnya mah simple… hehehe
Jumat, 15 Juli 2005 @ 19:17
Using
Ah ya kalo saya bikin organisasi macam begini namanya kan juga organisasi profit animal dan orang-orangnya kan bener bener professional. Jadi sudah sepantasnyalah saya bener-bener Seriyus ™ mengimplementasikan OSPF.
OSPF = Opportunity Second, Profit First
Jumat, 15 Juli 2005 @ 22:27
Using
Semoga tujuan ini lekas tercapai dan terlaksana! Internet Indonesia jadi murah dan cepat.
Bayar mahal tidak apa-apa, asal aksesnya lancar dan cepuaaaaaaaaaaaaaatttttttt!:)
Jumat, 15 Juli 2005 @ 22:56
Using
Indonesia lebih butuh internet murah daripada internet cepat. Yang butuh internet cepet paling tukang nge-blog, tukang nge-junk, tukang donlot p0rn, tukang donlot anime. Kalau admin yang sering transfer data2 gede sih biaya bisa tertutup dari margin penjualan, jadi bayar mahal gak papa lah, hehehe
Kalau perlu diupayakan internet bersubsidi (macam BBM kali yak..)
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 10:05
Using
abisin dulu telo-mu her, baru ngimpi!:p
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 10:09
Using
Mudah2an aja buat pendidikan di tingkatkan lagi, sisihkan ego buat cari profit, majukan internet indonesia raya:)
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 13:44
Using
beberapa koreksi dan tampahan:
1. F-Root server diinstall karena kerja sama APJII dengan ISC (Internet Systems Consortium – Salah satu produknya adalah BIND (Berkeley Internet Name Domain).
2. Selain F-Root, sekarang sudah ada I-Root Server di IIX.
3. Tidak ada bukti bahwa adanya Root Server di IIX mampu menurunkan trafik internasional. Liat aja berapa b/w yang dialokasikan dari F-Root Server ke California.:)
4. Memang b/w merupakan masalah utama dunia perinternetan Indonesia. Banyak orang sibuk ngomongin konten (walopun konten juga penting) tanpa sadar bahwa tanpa backbone nasional yang tangguh, konten2 tersebut akan membuang devisa negara.
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 21:49
Using
#7: seperti yang saya tulis, bukan trafik keseluruhan, tapi trafik query dns ke root server. sejak server itu dipasang djbdns yang saya pakai diprioritaskan ke F root server ini dan cukup memberikan hasil query yang responsif dalam pencarian DNS TLD.
Minggu, 17 Juli 2005 @ 14:04
Using
bang jay pake mac os x juga sekarang… top
Senin, 18 Juli 2005 @ 0:03
Using
saya pake macosx?
eh, mao dong macosx!
itu cuma numpang di temen yang desktopnya pake macmini dan laptopnya ibook
ternyata usb macmini nggak kuat powernya waktu saya sambungkan usb flash memory (baik satu hub dengan keyboard dan mouse, atau di port kedua)
*nunggu macnoto berkomentar*
Senin, 18 Juli 2005 @ 8:01
Using
kok bisa ngga kuat begitu? powerbook saya lancar2x ajah kok. blom pernah coba mac mini.
coba ajah temennya nongkrong di forum indomac, mungkin ada mac mini user yang bisa jelasin
http://indomac.co.nr:)
Senin, 18 Juli 2005 @ 9:57
Using
TerasNet cepatan dong di-configure di IDC. nanti kita bikin BIX ‘kecil’, cuma 2 ISP he.he.he… siapa tau ISP yang lain jadi ‘terpanggil’ juga
dan tentang MacOS-X, mudah2an cepet punya juga Jay… ;)
Selasa, 19 Juli 2005 @ 15:22
Using
Utk #7
AFAIK, F root di install dalam rangka kerja sama APNIC dng ISC dalam melakukan perluasan service root DNS di kawasan Asia Pacific. Indonesia adalah salah satu negara menjadi target penempatan F root server tersebut.
AFAIK, CBN dan Telkom merupakan transit provider utk F root server menuju Internet.
AFAIK, hal yng sama juga berlaku utk I root server, yng merupakan kerjasama APNIC dng Autonomica dalam rangka perluasan service root DNS di kawasan asia pacific.
AFAIK, IM2 merupakan transit provider utk I root server menuju Internet.
Jumat, 22 Juli 2005 @ 13:51
Using
solusi Local Loop di tiap kota gimana? Konon Jogja punya Jogja internet exchange, apakah itu bisa juga mengurangi traffik BW ke luar?
Jumat, 22 Juli 2005 @ 13:59
Using
saat ini local exchange skala nasional dibangun swadaya oleh apjii, begitu juga local exchange di skala kota untuk trafik antar ISP harus dibangun oleh semua ISP di kota tersebut.
semoga nanti transit IIX antar kota lebih mudah diimplementasikan, kan tinggal menggabungkan link antar kota (link antar kota ini yang mahal)
Minggu, 21 Januari 2007 @ 16:46
Using
numpang lewat bossssss
http://www.egaliternet.blogspot.com
08564 382 7777
Minggu, 21 Januari 2007 @ 16:48
Using
numpang lewat bossssss
jagoooooooann hancur dan manfaatkan
024 33106469 [ega] mana jagoan yang lain bikin club yuk
Kamis, 9 Agustus 2007 @ 15:55
Using
semoga harapan anda cepat tercapai dengan tarif internet di indonesia dengan cepat dan muuuuuuruuuuuuuuuuuaaaaaaaaahhhhhh!karena bagi anak2 indonesia yang orang tuanya kurang mampu-pun dapat memasangkan internet untuk anaknya, agar anaknya dapat memilikisi wawasan yang jauh lebih luas dari pada hanya bergantung pada gru2 di indonesia yang kebanyakan sudah dibawah standart.thx^_^
Sabtu, 17 November 2007 @ 19:42
Using
semoga internet di Indonesia semakin cepat dan tentunya lebih murah supaya apat mengetahui jendela dunia, sekarang bukan buku lagi melainkan internetlah jendela dunia masa kini ooooooooooooooookkkkkkkkkkkkkkk
Sabtu, 23 Februari 2008 @ 0:52
Using
oh gitu toh mekanisme IIX jd tau he he
btw, Tulisan kang Jay lebih lengkap ketimbang yg ada di Wikipedia Indonesia
Senin, 16 Juni 2008 @ 18:04
Using
[...] itu, kita mencoba menggunakan webhost yang servernya di Indonesia, dan didapat ada satu webhost yang cukup bagus. Ditambah dengan bisa dipindahnya domain, membuat [...]
Kamis, 21 Agustus 2008 @ 22:14
Using
mau tanya, saya ramond..
pgn masang internet di rumah tp cuma focus game aja. Kira2 koneksi ini bagus ga?saya tinggal di ciputat tangerang.Banten.
thx tolong balas
Jumat, 19 Juni 2009 @ 23:53
Using
“Indonesia Internet Exchange (IIX) dibentuk oleh APJII” ….. ?
**lirik indra pramana, budi rahardjo, JA, Marcelus A, dst, dst**
Ditunggu bahasannya mengenai NICE :-) :-)