Pelawak Digital Menunggangi Politik

Selasa, 12 Juli 2005M
06 Jumadil Akhir 1426H

Saya jarang menonton TV meskipun ada TV dan TV Tuner. TV saya jadikan hanya sebagai media hiburan, seperti acara film, serial atau musik. Dari segi informasi TV lokal bagi saya terlalu banyak informasi yang tak bisa saya filter sebab fungsi filter di TV hanyalah pemilihan channel, bukan berdasarkan isi. Tidak seperti internet, informasi bisa saya pilah-pilah melalui headline atau abstraksi berita dengan menggunakan teknologi RSS feed. Jadi, headline koran atau TV bukanlah santapan saya sehari-hari, saya hanya lebih detail membaca berita jika ramai dibicarakan oleh rekan-rekan kantor, keluarga atau rekan-rekan virtual di mailing list atau blog.

Isu politik juga bukan keharusan buat saya, namun berita yang satu ini cukup menggelitik untuk saya baca juga, seorang pelawak digital sekarang menunggangi politik.

Ada semacam kegelisahan yang dirasakannya. Sekian tahun dirinya mengembangkan kepakarannya, mulai mengungkap persembunyian Tommy Soeharto hingga menganalisis foto-foto panas artis yang beredar di internet. Kepakarannya sudah sangat diakui. Tapi, untuk memengaruhi kebijakan pemerintah, dia tetap sulit. Sebab, dirinya berjuang sendiri, tidak memakai kendaraan. “Partai ini kan menjadi kendaraan, ” ujarnya.

Dikutip dari Jawa Pos.

Kepakarannya memang saya akui membuat saya tertawa, hingga ada banyak ocehan jika dia tidak ada maka komunitas internet di Indonesia akan kehilangan sumber kelucuan digital, meskipun kelucuan digital yang lain bisa saya dapatkan dari para blogger atau junker di mailing list.

Yang saya khawatirkan adalah jika kelucuan digital sang pakar di atas dibawa-bawa ke dalam dunia politik, mungkin panggung politik Indonesia bisa menjadi lebih lucu namun tidak membawa kemajuan berarti bagi masyarakat negeri ini. Sama seperti halnya industri sinetron menggerakkan ekonomi dan budaya dalam negeri walaupun banyak opini sinetron yang diproduksi sekarang lebih banyak menjual mimpi sebagai hiburan, apakah industri politik juga hanya akan memberi hiburan saja apalagi dengan masuknya pelawak digital ke kancah ini?

Time will tell™

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

30 komentar untuk catatan 'Pelawak Digital Menunggangi Politik'

  1. #1
    gravatar

    Hi Roy! ™ *nyempet2in*

  2. #2
    gravatar

    dari Jawa Pos juga:

    Namun, Roy menginginkan departemennya menjadi sparring partner bagi Menkominfo. “Kalau secara internal, minimal ndandani website-nya PD, ” ujarnya.

    Pengen tahu hasil dandanannya dia kayak gimana…

  3. #3
    gravatar

    loh saya kira masih dalam topik Canda, tapi kok bukan padahal ada kata2 “PELAWAK” di situ. pantesan kok tidak lucu.

  4. #4
    gravatar

    Hi Roy!

    :)) … aduh.. .. nggak kuat .. pengen ketawa…

    mudah-mudahan kendaraannya nggak ikut-ikutan .. “ngakak dan ngacow”

  5. #5
    gravatar

    Hi Roy! ™

  6. #6
    gravatar

    Gue heran dibilang kalo Roy Suryo itu professional tulen (kata Max Sopacua).
    Ada yang bisa mendukung ini? Setahu saya profesi resmi dari orang itu adalah dosen dan anggota KPID. Apa itu mencukupi untuk dianggap professional dalam bidang Kominfo?

    Selama ini walaupun saya punya dosen yang pinter pinter soal Engineering, dengan gelar Phd dll, tetap saya mengganggap mereka bukan professional dalam bidang Engineering, tapi professional dalam bidang Education. Hanya ketika mereka terlibat dalam suatu real project, suatu komisi yang mengatur regulasi, ataupun technical expert dalam suatu business project, baru mereka jadi professional.

    What do you guys think?

  7. #7
    gravatar

    banyak yang “nyelametin” gue soal si kumis masuk PD. terakhir tadi saat lunch si judith ms yang “nyelametin”, walaupun ditambah dengan “dia mah kurang pede sama kepakarannya, makanya masuk partai politik”, hehehe.

  8. #8
    gravatar

    #6, kalau standar keprofesionalan si kumis diukur dari dia jadi dosen dan anggota KPID, maka kasihan sekali partai demokrat. sebagai dosen, dia sudah dipecat dari UGM karena sering mangkir. dari KPID, dia juga “dipecat” karena toh gak pernah menyumbang apa2 ke KPID.

  9. #9
    gravatar

    #6, loh? bukannya profesi resminya dia adalah Pakar Pornomatika?

  10. #10
    gravatar

    #8 wah elo ada referensi soal dia dipecat itu? Heran aja kalo iya, berarti gak tahu malu bener.

    #9 Wah iya betul, cuman kayaknya dia kudu mempelajari dioecious taxonomy, buat membedakan laki-laki atau wanita atau banci:P

  11. #11
    gravatar

    :hiroy: ™

    Selamat buat semuanya, tunggu saja tontonan lucu dalam berapa pekan ke depan .. jangan lupa, sering-sering liat tivi untuk atraksi kumis terkini ..

  12. #12
    gravatar

    Hidup Pak Raden™!

    *ditunggu aksi ngelawaknya*

  13. #13
    gravatar

    Sebagai rakyat biasa, gua ikutan ketawa:D

  14. #14
    gravatar

    halah, sudah 12 makhluk maya mengisi komentar!
    anyway, Hi Roy!(tm)

    aksi2 anda kian membabi-buta saja
    kami tahu anda babi dan buta, tapi tak perlu bersikap demikian kan?

  15. #15
    gravatar

    menunggu aksi si kumis berikutnya:P

  16. #16
    gravatar

    #8, kalo yang KPID, “dipecat” itu ya dia disuruh mengundurkan diri, hehe. kalo yang UGM, itu kayaknya nggak ada informasi tertulis di internet, gue dapet infonya dari sepupu yang memang ngajar di UGM. toh buktinya sampai sekarang dia tidak pernah berhasil mendapatkan roy@ugm.ac.id kan ;-)

  17. #17
    gravatar

    #16 jadi dia masih blom dapet email gratisan dari kampus itu?:D

  18. #18
    gravatar

    Jay, terus terang aja, buat saya Mr. RS ini sesuai dengan tulisan kamu sebelumnya “Dengan Demikian Kelucuan Harus Ditertawakan” :))

  19. #19
    gravatar

    Ah Roy

  20. #20
    gravatar

    Roy…:)

  21. #21
    gravatar

    Hi Roy!

    wah perlu mbeli tipi nich, biyar bisa liyat aksinya ohm kumis ;)

  22. #22
    gravatar

    #21 Lebih cepat anda mendaftarkan no HP anda ke si Om, sambil mengaku wartawan, dijamin mendapatkan subscription gratis lawakan digital, lebih cepat dari reportase CNN maupun Bloomberg dan lebih hillarious dari Fox News:D

  23. #23
    gravatar

    kalo ada Partai/Asosiasi Blogger Indonesia dan anggotanya punya kesempatan ikut debat atau jadi komentator politik di national TV secara regular, lucu nggak? di negara lain, blogger udah banyak yg dikasih kesempatan spt itu lho sama broadcaster.

  24. #24
    gravatar

    Hi Topan!™ *pertama*

  25. #25
    gravatar

    Hi Topan! *kedua*
    Ada nama gue 2 biji nih disini

  26. #26
    gravatar

    hi topan! *ketiga*

  27. #27
    gravatar

    Hi TopanBgt! ™

    Wah, ketinggalan nih..

    Lho, topan mana?

  28. #28
    gravatar

    Hi Spy™!
    *menanti eksekusi hak nunggingjawab*

  29. #29
    gravatar

    g butuh urgent foto nia zulkarnaen, ira swara, deri n ginjar…kalo ada kasi tau gw yah tq berat

    ym k meetmadman

  30. #30
    gravatar

    pak roy, gaji dosennya gak cukup apa ya.tapi koleksi mobilnya boleh juga(berarti udah kaya).Mungkin popularitas memang menggiurkan.jalan-jalan ditegur orang, disapa orang(jadi bintang iklan oli lagi).tapi hati2 john lennon juga disapa orang, tapi pakai pelor.sudahlah roy, kembali ke kampus.sebenarnya udah diangkat jadi dosen tetap belum sih.kok keluyuran terus.oh iya, kumisnya jangan dicukur ya.nanti mukamu jadi culun alias katrok

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.