Jembatan Paspati

Jumat, 1 Juli 2005M
23 Jumadil Awal 1426H

Kamis pagi sempat ke roof-top NOC gedung CCSL di dekat perlimaan jalan AA-Karapitan-Gatsu-Kosambi-Sunda (hayo, perlimaan di Bandung ada di mana lagi?). Dari atap gedung tersebut Jembatan Paspati: Pasteur-Surapati atau Pasupati: Pasutur Surapati atau Pasopati: Pasotor Surapati, –yeah whatever, SWGTL!– terlihat tidak mencolok, bisa dilihat karena tiang utamanya berwarna oranye. Setelah urusan di atap selesai kembali ke kantor dan ternyata PLN memadamkan listrik di wilayah tersebut, hingga pukul empat sore. Huh, aktivitas junk kerja kantor mati, padahal mau sekalian ngoprek TV tuner.

Pukul tujuh malam dengan membawa kendaraan perang bertangga milik kantor singgah dulu ke Landmark Braga untuk menukar TV tuner, terus ke rumah dan balik lagi ke kantor menunggu telepon dari bule-bule POC satelit, sambil meneruskan oprekan TV tuner.

Akhirnya, sempat juga mencoba jembatan Paspati dari rumah ke kantor. Kesan spontan yang saya rasakan adalah nyaman karena jalan cukup lengang. Ketika mulai naik dari arah astana Pandu jalan langsung berkelok kemudian lurus di atas jalan Pasteur. Seperti halnya melewati fly-over Kiaracondong kesan yang timbul hanya satu, serasa bukan di Bandung. Menyeberangi jalan Cihampelas jalan agak berkelok ke kiri dan kemudian lurus menyeberangi lembah Pelesiran dan Balubur, serta selokan Cikapundung, Tak ada kesan bahwa jalan yang sedang dilewati adalah sebuah jembatan panjang di kota wisata boga, busana dan bunga yang sudah mengganti semboyan dari Berhiber: Bersih, Hijau dan Berhiber menjadi Bermartabat: Bersih, Makmur dan Bermartabat.

Sekilas memperhatikan tiang utama kesannya seperti hiasan saja, nilai struktural sepertinya hanya sedikit sebab jumlah parallel attachment cable-stayed hanya sedikit, padahal sejak melihat prarancangan sudah membayangkan kabel akan menyangga dari tiang utama hingga ke pinggir jalan Cihampelas dan Tamansari. Kenapa tidak sekalian menggunakan sistem suspensi ya? Mungkin malu kepada Jembatan Gerbang Emas di belahan bumi sana:) Jadi pengen martabak San Fransisco euy!

Melewati gedung rektorat institusi berlambang gajah duduk tanpa sarung dan warung nasi goreng Cak Jali yang selalu pake lama; fly-over berkelok-kelok dan kemudian lurus, sampai tak terasa perlimaan Cikapayang-Dago-Surapati-Dipati Ukur terlewati begitu saja, dan tiba-tiba masalah di depan –di masa depan, bukan di depan mobil– sudah sedikit terbayang sesuai dengan yang dikisahkan Priyadi dari arah kebalikannya. Turun di dekat bank mandi dan mencuci sendiri cabang Surapati seolah-olah seperti memasuki sebuah gang, perjalanan agak terganggu oleh proyek pelebaran jalan di dekat sudut lapangan Gasibu dan harus berputar teu puguh ke boulevard monumen perjuangan di depan kantor Telkom Japati untuk menuju jalan Diponegoro, kedai bertuan Nyonya Rumah, warung baso tahu yang sudah nggak enak rasanya, kafe Classic Rock, Sate Maranggi, restoran Pagoda (yah, cuma dilewati saja), dan akhirnya sampai di kantor.

Dan ternyata TV tuner chipsetnya masih sama, driver bttv bt878a hanya bisa menampilkan gambar tanpa suara, bahkan dengan kernel Vanilla campur stroberi segar versi 2.6.12.2. Huh, linuxsux!

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

12 komentar untuk catatan 'Jembatan Paspati'

  1. #1
    gravatar

    wah semboyan bermartabatnya rekursif

  2. #2
    gravatar

    wah, jembatannya terlalu pendek buat pake sistem suspensi…

  3. #3
    gravatar

    wah.. jadi pengen nyobain juga nihhhh…. bandung here i come….

  4. #4
    gravatar

    wah kok tetep aja macet ya…..

  5. #5
    gravatar

    kapan yach bisa ikutan nyoba:-/

  6. #6
    gravatar

    Bagus. Jadi pengen ke Bandung lagi.:)

  7. #7
    gravatar

    Dulu waktu masih tinggal di Bandung, kami sering “ngrasani” pengerjaannya yang memakan waktu lama (nggak tahu ada apa:-) ) sama kayak saudaranya yang di Kircon.
    Well, congrats..Btw udah diselametin belum ya?

  8. #8
    gravatar

    PASteur-suraPATI or PAsteur-SUraPATI or PAsteur-SOeraPATI .:)

    seperti gw pernah celetuk ke dauf: “Bete deh pake BT”:D
    j/k, hehehe

  9. #9
    gravatar

    pengen nyobain, tapi belum aja… padahal hampir tiap hari lewat di bawahnya:D

  10. #10
    gravatar

    yang sedikit saya sesali: enggak sempet nongkrong di atas-nya & liat2 pemandangan dari situ. kalo sekarang cuma bisa lewat dan enggak boleh berhenti…

  11. #11
    gravatar

    sorry telat ngasih komentar, baru cek sekarang sehh. yang gue tau. masih bisa nongkrong dipinggiran fly over koq. malming kemaren khan gue masih lewatin jalan itu, tepat jam 09.15 PM, seperti biasa dari gazibu (malming lho) MaCET. trus lewat fly over, (btw, fly over jadi tempat tongkrongan anak bandung, tar lagi pasti banyak yang jualan) sampe cihampelas (masih malming lah) MACET pisan. padahal make motor eta teh. Lieur euy. Pak polisi kumaha atuh, tong nga-razia wae nu lancar, tapi jalan teh beki teu puguh.macet di mana-mana.

  12. #12
    gravatar

    diantos we d bandung nu macet tapi sejuk…
    banyak yang pengen dibeli disinimah…
    mari,,

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.