Yasraf Amir Piliang: Dunia Yang Berlari
Rabu, 18 Mei 2005M
10 Rabiul Akhir 1426H
- Tracking System
- International phone card

Istilah “Dunia yang Berlari: Mencari ‘Tuhan-Tuhan’ Digital” tentu hanya metafora. Dengan metafora itu hendak dijelaskan bahwa telah terjadi perubahan atau transformasi yang sangat cepat, memerangkap manusia dalam kegilaannya dan ekstasinya, yang mengurung manusia dalam kepanikannya sehingga tidak menyisakan lagi ruang untuk mendekati Tuhan dan tak ada waktu lagi untuk mengingat nama-Nya. Manusia mencari “tuhan-tuhan”-nya sendiri dibimbing tiga “dewa”: kapitalisme, postmodernisme, dan cyberspace.
Yasraf Amir Piliang (YAP), seorang staf pengajar perguruan tinggi di Bandung produktif menulis buku tentang budaya dan filsafat Dunia Yang Berlari: Mencari Tuhan-Tuhan Digital. Salah satu bukunya dengan judul di atas sedang saya baca. Judulnya memang cukup sensasional untuk sebuah buku non-fiksi, namun jika direnungkan semua terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Konsep ketuhanan semakin terkikis seiring majunya teknologi, ‘kehadiran’ Tuhan sebagai wujud spirit dan religi manusia semakin berubah yang secara historis mengikuti tiga fase. Fase pertama yang disebut teosofi di mana ‘penampakan’ Tuhan hadir hampir di seluruh aktivitas manusia, membatasi gerak-gerik manusia. Fase yang kedua dikenal sebagai teknosofi di mana ‘kehadiran’-Nya ditandingi oleh kemajuan teknologi. Fase ketiga disebut libidosofi, ketika dunia dikuasai oleh citra, gagasan dan objek yang merupakan refleksi hasrat manusia.
Selama setengah abad dunia dikuasai oleh teknosofi, dalam keilmuan menghadirkan ilmuwan-ilmuwan modern beserta penemuannya, dalam teknologi meningkatnya kapitalisme dan perang dunia, serta spesifik yang saya pelajari di sekolah adalah berkembangnya Arsitektur Modern hingga tahun 1960-an yang menguasai perkembangan dunia. Transisi kemudian terjadi dengan munculnya budaya pop-art, postmodernisme, dekonstruksi dan dunia digital. Menjelang akhir milenium dunia baru hadir, dunia global, dunia informasi, kita kenal sebagai cyberspace.
Gegap gempita dunia cyberspace membuat gegar dan panik, tak luput pula kesenjangan terjadi, terutama di negeri yang tak mampu mengadaptasi perubahan yang cepat. Dunia baru tanpa tanpa tatanan yang matang ini telah memanjakan hasrat masyarakat, sekaligus menciptakan manusia baru yang aktif menyalurkan hasratnya melalui dan membuat teknologi di cyberspace.
Cyberspace telah dianggap sebagai ruang publik yang bebas, sebagai alternatif dari ruang publik alun-alun, balaikota atau gedung parlemen. Namun sisi buruk yang muncul adalah ketika manusia salah mengartikan kata bebas menjadi vandalisme dan berlindung di balik anonimitas, yang memang tatanan hukum cyberspace jauh dari sempurna.
Apa yang saya tulis hanyalah sebagian kecil dari yang disodorkan oleh Yasraf Amir Piliang, masih banyak wawasan lain yang berkaitan dengan dunia jaman sekarang dalam bidang ekonomi, pasar, kapitalisme, budaya, spiritual, teknologi dan lain-lain. Semuanya dalam satu wacana cyberspace dalam konteks ketuhanan, karena kita adalah manusia spiritual dan manusia religius.
Saya pun tak lepas dari hasrat di atas, hasrat menulis di ruang publik cyberspace, yang tanpa tatanan.
Rabu, 18 Mei 2005 @ 23:29
Using
jay, kayaknya syndication loe masih melihara bug deh. gue tahu jurnal terbaru blog loe ini dari milis gadjah, bukan dari rss feed blog loe.
Kamis, 19 Mei 2005 @ 1:17
Using
Salam kenal Jay,
blog filosofis nih…
Kalau di Eropa dan Amerika Serikat istilah cyberspace atau NET sudah menjadi ideologi dan menjadi Tuhannya, semoga di Indonesia tidak…
Net merupakan bawaan negara Kapital dan memiliki model kebebasan Liberal tanpa batas, ngeri kalau ngikut model kebebasan tersebut, semoga di Indonesia tidak berlari kesana, …ambil sisi lainnya aja menurut persepsi masing-masing:)
jay….besok dicantumin harganya dan nyari bukunya dimana ya:)
Kamis, 19 Mei 2005 @ 2:25
Using
Penulis: Yasraf Amir Piliang
Cetakan: I, 2004, 406 halaman
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp40.000
ISBN: 979-732-414-1
Saya belinya di toko buku Ultimus (biasa cari kortingan), di Gramedia juga ada kok.
Kamis, 19 Mei 2005 @ 5:03
Using
moga-moga kita tetep dalam lindungan allah swt,
ketiga “dewa” tersebut sudah masuk kedalam diri kita tanpa kita sadari, bahkan dengan bangganya kita mengusung “dewa” tsb, karena kita berfikir kita gak bakalan bisa hidup tanpanya..
Kamis, 19 Mei 2005 @ 7:56
Using
Kalo dulu saya baca YAL: Dunia yang Dilipat,
“ramalan-ramalan”-nya banyak yang jitu, dan sekarang dunia sungguh-sungguh terlipat-lipat
Jumat, 20 Mei 2005 @ 17:16
Using
eh pak jay, ultimus dimana ya?
maap, kurang gaul….
Jumat, 20 Mei 2005 @ 17:32
Using
ada webnya ternyata: http://ultimus.addr.com/index.php
Sabtu, 21 Mei 2005 @ 3:34
Using
bukunya kayak bagus juga:)
seperti apa kira-kira “TUHAN” yang digambarkan di sana? Jika isi buku ini memang “mengakui” ada semacam “TUHAN” di dunia digital, apa ini bisa membenarkan juga artikel Donny B.U. di Detik?
ingin beli… tapi di sini susah nyarinya…:(
Sabtu, 21 Mei 2005 @ 4:32
Sekte IT…
Sore tadi sempat buka Detik buat lihat-lihat berita. Ternyata ada artikel bagus yang ditulis oleh Donny B.U. Artikelnya berjudul SekteTI, Ritual dan Kaum Gaptek….
Sabtu, 21 Mei 2005 @ 10:42
Using
blogging juga libidosofi? hmmm… rasanya iya juga…
Senin, 23 Mei 2005 @ 14:45
Using
ih serem
Rabu, 8 Juni 2005 @ 17:23
Using
mas jay mo usul nich mo tahu biografi gajah mada donk
Rabu, 8 Juni 2005 @ 19:13
Using
#12:
* komentar anda salah tempat
* saya bukan orang yang serba tahu
Kamis, 9 Juni 2005 @ 21:17
Using
Saya sangat tertarikmembaca buku yang ditulis pak Yasraf. Barangkali bisa bahasanya lebih disederhanakan agar kami yang punya kemampuan pemahaman kurang bisa memahami.
Minggu, 12 Juni 2005 @ 2:29
Using
Kawan Jay
jadi, sebenarnya sampai zaman homo-sapiens-cyberian-blogiensis ini, ndak banyak pertumbuhan religiusitas dan spiritualitas dibanding dengan orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu ya? kendati perkembangan duniamaya demikian lesat, kemajuan teknologi dan industri semakin gegas…… tema-tema menyangkut ketuhanan dan kehausan akan kesempurnaan, tidak banyak beranjak. dipermukaan, dalam praksis, mungkin terlihat perbedaan antar fase, namun dalam pergulatan mikrokosmotiknya, tak lah terbeda sangat. begitu banyak anugerah yang diberikan melalui penemuan angka nol, huruf, roda, kertas, mesin uap, biner, transistor, roket, chips, fortran, genom, linux dst…dst tapi koq dampakikutannya juga sedahsyat temuannya, kayaknya ‘pandora’ itu bukan dongeng tanpa pangkal ya? no gain no pay? atau mungkin karena Sang Pencipta tetap tinggal ghaib, sementara tabir yang halangi terlalu nyata? bahkan jika pun tabir tersebut bernama duniamaya?
salaam
yulius
Senin, 2 Januari 2006 @ 18:57
Using
Gw baru neh masuk ke dunia gituan.
Senin, 12 Juni 2006 @ 15:11
Using
Buku2 Yasraf, sangat menarik untuk dibaca dan dipahami terutama bagi anak sosial..kebetulan saya kuliah di jurusan sosiologi Unsoed,
setiap ada tugas essay ataupun makalah, saya biasanya membaca buku Yasraf sebagai acuan,
namun terkadang bahasanya kurang mudah dipahami, klo bisa disederhanakan, agar para pembaca yang dapat mudah memahami bacaan tersebut…
Rabu, 16 Agustus 2006 @ 5:00
Using
#14, kalau anda baca buku filsafat ‘seringan’ DUNIA SOPHIE pun, anda akan diajak untuk berfikir ekstra keras. karena memang tampaknya filsafat adalah semacam media, yang bisa jadi sekaligus alat, untuk mencari tahu: sampai mana kemampuan otak kita untuk bertanya dan bertanya, demi memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang tiada hentinya terus terlahir dari kepalanya sendiri. maka siapa yang tidak akan merasa ‘terteror’ dengan filsafat?
kalau nyebur, nyebur sekalian; basah, mandi sekalian. pusing, pusing sekalian. merasa kewalahan ketika membaca suatu tulisan, paksa terus kalau anda memang benar-benar berniat untuk memahaminya. karena ketika anda sudah mundur, selangkah saja, itu artinya anda telah merasa bisa menemukan pijakan anda sendiri; yang mana bukan filsafat(nya) orang yang tulisannya sedang anda baca.
Jumat, 3 November 2006 @ 14:36
Using
Saya banyak mengutip tulisan dari buku Yasraf Amir Piliang, dari buku Sebuah Dunia yang Dilipat. Saya amat tertarik dengan tulisan Pak Yasraf, hanya saja ada satu hal yang saya bingungkan. Jika dunia telah begitu terlipat, mengapa Pak Yasraf hanya mengangkat fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat kita, tanpa memberikan sebuah pemecahan yang konkrit untuk menyelesaikan fenomena tersebut. Jika Pak Yasraf banyak menulis tentang kedangkalan makna. Pertanyaan terbesar saya adalah, apakah Yasraf Amir Piliang mampu melihat dan membaca makna tersirat dan kedalaman dari dunia ini?
Minggu, 4 Mei 2008 @ 0:34
Using
Keren deuh
Minggu, 4 Mei 2008 @ 0:36
Using
sedikit kata untuk tiga dewa……..dahsyat bozttttttt
Kamis, 18 September 2008 @ 14:14
Using
wah judulnya saja sudah filosofis,mencari tuhan-tuhan digital.sebuah mental toucher untuk orang2 yang dijajah dunia kapitalis.namun disebalik cyberspace,tentu masih banyak lagi anatomy disaster diatas dunia maya ini.sebab dialah yang berkehendak.dia lah yang menentukan,dia juga yang memberi cyberspace itu.
Jumat, 9 April 2010 @ 15:48
Using
dunia yg terus berlari, kayaknya metafora ini sesuati dengan kenyataan yang ada sekarang, dimana ritual yang agama hanya dijadikan ritual yang ritunitas tidak berkualitas. mereka semakin ingin melaklukkan dunia tetapi mereka tidak sadar bahwa Allah telah melaklukkan dunia ini untuk manusia. tapi mereka lakukan ternyata salah dunia secara hakekat telah muak kepada manusia.