Kompas Semakin Rusak
Jumat, 6 Mei 2005M
28 Rabiul Awal 1426H
- Download mp3
- International phone card
- Baufinanzierung
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Real Time GPS Vehicle Tracking Live Tracking 10 Second Updates
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Media cetak terbesar di Indonesia, Kompas, ternyata semakin mengalami penurunan kualitas. Eko Juniarto menuliskannya sebagai the decline of kompas, dijelaskan beberapa penurunan signifikan yang terjadi pada media ini, dari typo (salah eja/tulis) yang hampir tak ada menjadi typo di mana-mana. Tidak hanya urusan teknis soal typo juga Kompas bersikap aneh terhadap masalah yang terjadi, yaitu email dari Satria Kepencet yang diforward oleh Basuki Suhardiman ke mailing list ITB. Kini Kompas menuntut Basuki Suhardiman.
Jika pihak Kompas merasa dicemarkan tentunya harus diusut terlebih dahulu siapakah Satria Kepencet itu. Jika memang Satria Kepencet tak bisa diusut siapa sebenarnya, tak ada hak bagi Kompas untuk menuntut Basuki. Bahkan email forward tersebut selama beberapa hari tidak ada tanggapan dari anggota mailing list ITB, sebuah topik yang bisa dikatakan basi bagi mailing list yang aktif dalam trafik emailnya.
Dalam artikel lainnya Kompas cenderung merusak bahasa melalui artikel Teknologi Informasi tapi ditulis secara emosional.
MASALAHNYA, milis yang seharusnya bersifat internal sering kali “ditendang” ke luar kelompoknya. Istilah kerennya forward. Tidak menjadi masalah memang, tetapi akan “mencurigakan” kalau milis yang ditendang ini menyangkut nama orang dan perilakunya.
Walaupun diberi tanda kutip ganda terlalu jauh Kompas menganalogikan forward menjadi tendang. Kata tendang lebih dianalogikan pada kata ‘ban’ atau ‘banned’. Tentunya sebagai media yang besar Kompas telah memropagandakan suatu yang salah.
Satu hal yang tidak dimiliki oleh milis, betapa pun akuratnya informasi yang dimilikinya, adalah kredibilitas. Dan percayalah, kredibilitas ini tidak bisa tegak hanya dalam beberapa hari saja, apalagi hanya melalui milis, yang fungsinya menampung aspirasi para anggotanya sendiri.
Apakah pembaca mencari kredibilitas? Sangat janggal Kompas berpendapat bahwa pembaca mencari kredibilitas, dengan kata lain Kompas kredibel sedangkan milis ITB tidak kredibel. “Milis tidak butuh kredibilitas”, demikian ungkap Pak ErTe.
Don’t shoot the messenger, begitu ungkapan yang dilontarkan Priyadi mengenai keributan Kompas dan Basuki ini. Basuki adalah pembawa pesan dari si anonim Satria Kepencet. Apakah masyarakat peduli kepada Satria Kepencet? Saya pikir tidak, masyarakat jauh lebih peduli terhadap isi emailnya Satria Kepencet.
Popularity: 10% [?]
Jumat, 6 Mei 2005 @ 15:49
hi kompas!
Jumat, 6 Mei 2005 @ 16:00
masalahnya mungkin lebih terkait pada kebenaran isi berita tersebut, tapi ya juga susah, kebenaran di indonesia lebih diartikan tidak menghormati anonimitas, jadi kebenaran itu dilihat dari kredibilitas penyampai informasi daripada isi informasinya.
sy nggak tau secara detil sih permasalahan yang terjadi di milis itb tersebut, karena memang saya bukan alumni ITB, tapi dari gambaran yang saya tangkep sejauh ini kira-kira seperti itu lah.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 16:16
Tentang Kompas vs Milis roundup
http://yulian.firdaus.or.id/2005/05/06/kompas-semakin-rusak/
Jumat, 6 Mei 2005 @ 16:17
sebenarnya tidak ada masalah di milis ITB, selama beberapa hari tidak ada yang merespon forwardan email SK oleh BSD tersebut. jadi rame ketika Detik memberitakan.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 16:29
Padahal udah niat mau langganan kompas, edisi jawa timurnya itu lho keren.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 16:30
Tendangan milis, ciaaaaat!
Seperti yang anda perkirakan, tulisan ini memang berkaitan dengan tulisan kompas di rubrik TI.
Sebetulnya saya ingin mengomentari tulisan tersebut, tapi karena di website kompas tidak menyediakan fasilitas untuk menulis comment, maka saya komentar…
Jumat, 6 Mei 2005 @ 16:39
kenapa gak kebenarannya yang diributkan?
kok malah masalah tendang2an ya…
duh duh duh…
Jumat, 6 Mei 2005 @ 17:16
lieur ach!
Jumat, 6 Mei 2005 @ 18:26
saya kira … mungkin penulisnya penggemar sepak bola eh?
makanya forward diterjemahkan asal menjadi (di)tendang.
*lost word gitu loh*
Jumat, 6 Mei 2005 @ 20:28
wah, yang dibahas kok jadi cuma dan sekadar terminologi “tendang” (yang dianggap salah tempat) sih. itu bukan persoalan esensial dan dapat dengan mudah diralat.
Dont shoot the messengger? wah, persoalannya tidak akan sesederhana dan “sedangkal” itu cara berpikirnya bro. kalau masalah itu dibawa ke ranah hukum, the messenger dalam kasus ini adalah si Penebar Fitnah, dan tindakannya masuk kategori Menebarkan Kebencian yang kemudian tindakan itu masuk dalam kategori Perbuatan Tidak Menyenangkan.
jangan terlalu simpel melihat persoalan.
fitnah adalah masalah serius, dari sisi agama sekali pun (if u r a believer).
korban bekerja di suatu institusi media massa, yang kasarnya, ‘barang dagangannya” itu kredibilitas dan kepercayaan.
tidak mudah mendapat kepercayaan dan kredibilitas, bung.
oleh karena itu, pembunuhan karakter dan fitnah adalah kejahatan serius.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 20:38
#10: wah wah, BS cuma memforward email yang dia dapatkan, dan itu ‘menebar fitnah’?
mengenai kredibilitas, kredibilitas Kompas tidak turun setelah saya membaca tulisan SK (di Internet juga banyak tulisan yang gak jelas kebenarannya selain ini). kredibilitas Kompas turun setelah melihat cara Kompas menangani kasus ini.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 20:42
memang sederhana kesalahan penerjemahan forward menjadi tendang, jadi karena sederhana jangan salah menerjemahkan, apalagi dilakukan oleh pihak yang menjadi panutan.
jauh lebih baik jika Satria Kepencet dijejak, jika perlu dengan bantuan pakar dan kepolisian.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 20:50
*tendang tub*
eh salah blog ya
Jumat, 6 Mei 2005 @ 21:16
Setuju dengan gendut, yg dibahas di sini cuma masalah istilah tendang, sama sekali tidak bermutu bahasannya. Bagaimana kalau kata itu diganti dengan lempar? lontar? kirim? kasih? beri?
Terjemahannya juga ngga sepenuhnya salah kok, masih bisa dimengerti.
Priyadi, yang dimasalahkan kan bukan tindakan memforward itu kan
Jay, jauh lebih baik, bukan berarti yang sekarang jelek loh
Ah capek ah klo yang dibahas cuma permainan kata-kata, tapi tindakannya sendiri diacuhkan.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 21:38
mungkin wartawan kompas ikutan milis gajah
suka tendang”an dan nunggeng
Jumat, 6 Mei 2005 @ 21:50
#14: ah anda merasa tak bermutu jika membahas sebuah terjemahan kosakata bahasa ke dalam bahasa Indonesia?
saya mengacuhkan tindakan/sikap Kompas terhadap kasus ini, selain mengacuhkan kualitas tulisan Kompas yang semakin banyak salah eja/tulis (typo), mungkin anda tak suka mengacuhkan hal tersebut karena tidak bermutu.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 23:11
#11 kalau saya tangkap, gugatan dan ancaman somasi diajukan si wartawan (dik) dalam kapasitas pribadi dia sebagai wartawan (Kompas) yang merasa difitnah.
jadi yang saya maksud, fitnah atau menebar fitnah terhadap si wartawan = menjatuhkan kredibilitas dia (sekaligus juga nama baik) yang sudah dia rintis sejak awal karirnya. atau bisa juga disebut sebagai pembunuhan karakter dik sebagai seorang wartawan yang harus kredibel dan bisa dipercaya, baik oleh institusi tempat dia bekerja, narasumber, dan pembaca tulisannya. itu maksud saya.
lagipula kalau basuki (orang TI KPU) itu punya niat baik, kan seharusnya informasi itu (tulisan SK) di forward ke dik atau ke kompas langsung. bukannya disebar2kan ke milis ITB yang ternyata bisa juga diakses orang luar. begitu pak.
soal detik.com, media itu sudah secara balance meng-cover both sides. secara kode etik jurnalistik, hal itu sudah tepat dan karenanya tidak bisa dimasukkan dalam kategori menebarkan berita bohong atau fitnah.
sedangkan soal menelusuri siapa identitas SK, justru dengan mensomasi basuki, nanti akan terlihat, siapa SK itu sebenarnya. apa hubungannya dengan basuki. biar basuki yang menjelaskan itu di depan penyidik dan pengadilan. begitu pak.
Jumat, 6 Mei 2005 @ 23:18
lalu apa dong
Jumat, 6 Mei 2005 @ 23:29
waduh, bapak priyadi ini masih belum ngerti ya. saya jelasin satu-satu dan pelan2 ya. mudah2an anda masih bisa nangkep:
1.tindakan mem-forward (dalam konteks ini) – menebar fitnah.
2.dampak dari tindakan menebar fitnah itu:
a. pembunuhan karakter.
b. hancurnya kredibilitas. untuk orang2 di sekitar dik mungkin jauh
lebih mengenal karakter dia dan tahu sepak terjang dan
kredibilitasnya.
tapi bagi orang2 seperti anda yang tahunya cuma komentar tanpa tahu
duduk perkara, anda akan dengan mudah nuduh kanan kiri dan omdo
(omong doang). habis komentar terus hilang.
begitu pak.
fitnah itu kejahatan serius, pak. tulisan SK sudah berisi fitnah, basuki menebar2kan fitnah itu, entah apa maksudnya. kalau di detik sih disebutin, kemungkinan karena kebetulan tulisan SK itu membela korps TI KPU (chusnul) makanya MUNGKIN diforward2 lah tulisan itu sama si basuki karena dinilai menguntungkan bosnya.
lagipula KPU kan memang sedang dalam sorotan tajam akibat indikasi korupsi yang terjadi di dalamnya.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 0:18
saya tidak yakin jati diri SK bisa dihasilkan di ruang persidangan. saya pikir jati diri SK harus diinvestigasi oleh pakar, kepolisian (mungkin juga interpol), yahoo dan hostmaster network terkait.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 0:43
Soal penafsiran bahasa. Aku tidak setuju jika jika salah menafsirkan saja dianggap sepele. Karena, Kompas diakses oleh orang banyak. Itu saja kesalahan tendang vs forward yang sedang ramai dibahas, karena berdempetan dengan masalah Satria Kepencet. Bagaimana dengan kesalahan-2 yang lain, yang mungkin tidak berdempetan dengan berita yang sedang “hot”?
Aku sangat senang baca kompas edisi sabtu, pada bagian rubrik bahasanya, selalu aku selalu baca terlebih dahulu. Dan memang, bahasa Indonesia jadi kacau gara-2 media massa (baik cetak maupun elektronik)
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 1:02
#19: memforward tidak selalu menebar fitnah. analoginya mungkin seperti ini “eh, teman2, ada yang ngirim saya ini, menurut teman2 bagaimana?” apa itu bisa disebut fitnah?
jangan kampungan gitu ah…
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 1:20
waduh, bapak priyadi ini ternyata susah juga dijelasinnya ya. mungkin mesti lebih pelan2. mudah2an postingan saya sebelumnya sudah selesai dan bisa “dicerna” dalam pikiran pak priyadi.
kalau pertanyaan pak priyadi di atas, apa kalimat seperti itu bisa dimasukkan kategori fitnah, jawaban saya BISA jika hal itu dilakukan by purpose (dengan sengaja dan dengan tujuan tertentu).
(mudah2an bapak priyadi ini sudah baca semua postingan basuki yang berisi tulisan SK. sebab kalau tidak percuma saja, penjelasan saya ke pak priyadi itu namanya hanya jadi debat kusir).
1. yang jelas Basuki punya motif (setidaknya/ bisa jadi untuk melindungi
korps dan bosnya).
2. jika basuki punya niat baik, bukan kah akan lebih baik dia
mem-posting ke Kompas. atau kalau itu terlalu merepotkan, toh dia
pasti kenal dengan yg namanya dik, wartawan kompas yang memang
bertugas di sana dan memang pernah menulis tajam soal TI KPU.
3. oke, boleh jadi persidangan tidak bisa mengungkap siapa jatidiri SK,
tapi boleh jadi juga bisa kan? yang jelas postingan itu pertama
dikirim oleh basuki dan sebelumnya SK memang mengirim tulisan itu ke
basuki. logikanya, kalau tidak ada kaitan atau tidak kenal, ngapain
SK ngirim tulisan ke basuki.
kira2 apa bisa diterima pak priyadi? ini saya njelaskannya sudah ekstra pelan2 dan pakai bahasa serta logika yang sangat2 sederhana lho.
kalo masih belum ngerti juga, ya diskusi kita selama ini ternyata cuma debat kusir.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 1:33
logikanya, kalau memang tujuannya mengungkap jatidiri SK, meja hijau bukan alat yang tepat, seperti mau menangkap maling tapi yang dilakukan adalah membuat undangan rapat.
wah, itu pikiran sudah menjudge duluan bahwa BSD sudah kenal SK. nggak logis dong.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 2:56
#24 wah pak jay ketularan mas priyadi nih. tapi mungkin saya njelasinnya gak perlu se- pelan2 ke pak priyadi ya, he2.
yang namanya penyebaran fitnah dan perbuatan tidak menyenangkan itu sudah masuk wilayah hukum pak. jadi sah2 saja kalau mas dik mengajukan masalah ini ke meja hijau. untuk kedua jenis perbuatan itu ada kok diatur dalam KUHP.
sepertinya bapak Jay dan teman2 di sini blm tahu ya kalau SK itu mengirim email-nya ke Basuki. awalnya menggunakan inisial EW. dan pada email berikutnya inisial itu diganti jadi Satria Kepencet. begitu pak. ini sekedar info saja ya.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 12:54
#16 karena hal yang jauh lebih penting yang merupakan persoalan inti tidak dibahas. Makanya saya berpendapat bahwa bahasannya kurang bermutu.
#18 yang dimasalahkan adalah maksud atau motif dibalik tindakan tersebut.
Mungkin bisa dijelaskan melalui contoh dengan amat sangat perlahan (maaf rekan gendut, pinjam istilahnya ya hahaha). Apakah tindakan orang memukul selalu salah? Tidak selalu
Lihat dulu alasan/motif kenapa orang itu memukul (bela diri? Latihan karate?).
Masih bingung perbedaannya?
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 13:22
#25: iya, saya tahu email tersebut dikirim SK kepada BSD dan diforward ke itb[at]itb.ac.id (3 email), email tersebut tentunya ada di inbox saya karena saya pelanggan milis tersebut. EW atau SK bagi saya adalah anonim, jadi lebih baik diusut terlebih dahulu siapa jati diri satriakepencet[at]yahoo.com yang diupdate terakhir 04/19/2005, 4 hari setelah email pertamanya diforward BSD ke milis itb.
sangat tidak logis ketika Kompas mau begitu saja diadu domba oleh SK yang anonim, yang mungkin dia sekarang sedang tertawa-tawa karena provokasinya berhasil.
#26: saya berpendapat hal itu penting, kecuali pribadi dan profesi rekan-rekan tak ingin membawa semangat bahasa nasional negeri ini. lebih menyedihkan jika pribadi dan profesi tersebut termasuk panutan bagi orang lain menganggap hal tersebut sepele.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 14:09
Masyarakat Pers Ternyata Belum Siap dengan Keberadaan Internet
SEMUA orang bisa menjadi monyet di jaringan internet, menjadi pepatah yang menggambarkan betapa kemajuan teknologi komunikasi informasi ini menjadi sangat rawan dalam diseminasi informasi. —…
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 15:23
Yang seharusnya mengusut siapa? BSD? Kompas? Atau dua-duanya? Apa sudah ada pernyataan bahwa SK tidak akan diusut jati dirinya?
Apa terjemahan baku/resmi dari kata ‘forward’?
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 15:52
#29.1. personally saya tidak menjawab siapa yang harus mengusut. ada pepatah lewat … “anjing mengongong kafilah berlalu”. intinya, kalu tidak dibesar-besarkan (oleh siapa saja termasuk media massa), masalah ini sebetulnya tetap akan jadi arsip milis saja, lebih atau kurangnya kemudian – wallahualam.
#29.2. dari SENARAI PADANAN ISTILAH kata “forward” memiliki padanan “depan”. tapi yang baku tidak selalu tepat untuk digunakan bila konteksnya berbeda. maka alternatif yang pas untuk istilah dalam email (IMO) adalah “meneruskan” atau “kirim ke orang lain”.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 16:33
Apakah pembaca mencari kredibilitas? Sangat janggal Kompas berpendapat bahwa pembaca mencari kredibilitas, dengan kata lain Kompas kredibel sedangkan milis ITB tidak kredibel. “milis tidak butuh kredibilitas”, demikian ungkap Pak ErTe.
Saya tidak mengerti konteks kata ‘kredibilitas’ sebuah milis yang anda kutip di atas, kredibilitas peserta milisnya atau kredibilitas informasi yang disebar oleh peserta milisnya? Ini dua hal yang sangat berbeda.
Sebagai pembaca saya rasa setiap orang punya sudut pandang dan analisa berbeda tentang informasi yang dibaca, dan ketika nilai kebenaran sebuah informasi masih dipertanyakan, kredibilitas memang jadi acuan utama.
Jadi sangat janggal bila anda bertanya: “Apakah pembaca mencari kredibilitas?” Tentu, jawabnya. Bukankah hal ini yang menjadi acuan preferensi dalam memilih koran yang dibaca?
Kalau acuan kredibilitas ‘berita yang dibawa’ lebih penting daripada ‘sipembawa berita’, maka logikanya setiap pembaca akan mencari kebenaran berita tersebut sendiri satu persatu. Tapi tentu tak semua orang punya waktu dan akses yang sama untuk mengungkap kebenaran sebuah berita. Bila hal ini yang terjadi, maka pembaca cenderung melihat kepada kredibilitas ‘sipembawa berita’. Dan dalam hal ini, secara empiris tentu berita yang dimuat oleh surat kabar punya nilai kredibilitas jurnalistik yang lebih dibanding berita di dalam milis.
Melihat keterbukaan dalam sebuah milis, semua peserta bebas mengungkapkan berita, tanpa memeriksa kebenaran beritanya. Singkatnya nilai kredibilitasnya jadi sangat rendah. Dan mungkin karena itu anda berpendapat bahwa milis memang tidak perlu kredibilitas. Tapi bila meamng merasa tidak butuh kredibilitas, lalu mengapa menuntut pembuktian kebenaran isi beritanya yang konsekwensinya juga jadi tidak kredibel?
Maaf saya tak paham logika anda.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 17:04
#31: saya tak mematok ‘the message’ harus kredibel juga ‘the messenger’ harus kredibel. karena pihak Kompas tersinggung silakan Kompas mengusut siapa SK supaya isi pesan SK bisa dipublikasikan ke masyarakat bahwa itu adalah ‘berita yang tidak kredibel’ karena jati diri SK adalah seorang ‘blah blah blah’, berprofesi sebagai ‘blah blah blah’, tinggal di ‘blah blah blah’.
yang harus menuntut pembuktian kebenaran isi email SK bukan saya, tapi pihak Kompas yang merasa terkait. saya sebagai warga publik berharap fakta dari isi email SK terungkap, terungkap artinya ’seluruhnya benar’ atau ’sebagian benar’ atau ’seluruhnya salah’.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 20:22
saya jadi bingung dengan pak jay ini. kenapa bersikeras sekali membela basuki agar tidak di-mejahijaukan. ada apa?
kalau wartawan kompas (dik) merasa diri dan kredibilitasnya sebagai wartawan difitnah setelah basuki menebar2kan email berisi fitnahan, lalu wartawan itu merasa tidak senang atas perbuatan basuki (perbuatan tidak menyenangkan diatur dalam KUHP), apa salahnya kalau kemudian wartawan itu melaporkan ke aparat hukum.
yang dik kenal langsung dan tahu langsung siapa yang menebarkan fitnah itu kan si basuki itu. wajar toh.
wajar juga sebagai warganegara yang baik untuk menyerahkan masalah ini ke hukum?
daripada main samperin terus nggebuk si basuki. nanti malah disalahkan lagi sama orang2 yang cuma tahu sedikit masalah tapi komentarnya banyak, ha ha ha
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 21:13
#33: ya jangan mikirin pribadi saya, kecuali memikirkan saya sebagai bagian dari publik/masyarakat. saya sebagai pribadi maupun profesi melihat SK yang anonim sebagai sumber masalah, sumber masalahlah yang harus diusut/ditindak, bukan efek sampingnya.
gigi saya sakit, ternyata karena berlubang, tindakan saya adalah bukan minum ‘obat anti sakit’ dan ‘obat anti sakit kepala’ tapi ke dentist untuk tambal gigi.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 22:18
#30.1 Apa tidak ada cara lain sehingga pihak Kompas/Detik/RS/dll. bakalan tahu? Berani jamin?
#30.2 Masalahnya apakah itu terjemahan baku/resmi? Dan seringkali untuk sebuah gaya tulisan (formal? puitis? kontemporer?), penulis bebas saja menggunakan pilihan kata dia, selama pembaca masih mengerti (diharapkan mengerti?).
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 22:50
#35: memang bebas, namun Kompas sebagai panutan selayaknya logis menggunakan analogi atau pendekatan yang lebih cocok dalam melakukan penerjemahan. dengan penggunaan ‘tendang’ sebagai makna ‘forward’ pembaca menangkap sesuatu yang emosional dari pihak Kompas atau jurnalisnya, bukan obyektivitas yang terbaca.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 23:07
wah, pak jay tampaknya agak sedikit gusar ya stl saya tanya knp bersikeras agar wartawan kompas (dik) tidak me-mejahijaukan basuki. mungkin ada sedikit motif yang agak sedikit mulai terang di sini, he2. dnt take it too serious.
kalau saya tangkap dari langkah wartawan kompas itu, sumber sakit gigi itu = ulah basuki yg menyebar2kan email SK yg berisi fitnahan.
kalau basuki tidak punya niat seperti itu kan bisa…. (tolong baca postingan saya #23, capek nulis dan njelasin lagi secara perlahan2, ha3).
nah, saya sepakat kalau sakit gigi di bawa dan diperiksakan ke dokter gigi. buat saya, analoginya sama dengan me-mejahijaukan perkara ini.
begitu pak jay.
jangan gusar, ah kalo saya tanya knp bersikeras tidak setuju me-mejahijaukan basuki. boleh jadi ya spt yg anda katakan, anda cuma bagian dari publik. tapi boleh jadi juga bukan itu alasan sebenarnya kan? he2
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 23:09
#23.1: SK membahas skenario kongkalikong antara wartawan kompas & orang dalam KPU. jadi juga ada orang dalam yang terlibat dalam skenario yang dijabarkan SK. tentunya ini cuma skenario. saya sendiri gak tahu kebenarannya.
#23.2: silakan baca kembali #22, apakah yang seperti itu pantas untuk dimejahijaukan walaupun BS adalah orang KPU? please jangan tuduh saya gak bisa mencerna omongan anda. saya cukup capable berpikir dan berpendapat.
#23.3: kalau mau mengetahui identitas SK ya tinggal minta header email dari BS. gitu aja kok repot
#33: karena bukan BS yang memfitnah! BS cuma memforwardkan pesan dari SK! ckckckck
#35.1: mungkin ada cara untuk mengetahui identitas SK, tapi gak perlu diharapkan, seseorang bisa menjadi anonim praktis tanpa ketahuan.
#35.2: tanyakan ke 10 pemakai internet, apakah semuanya mengerti tulisan tersebut? saya sendiri baru bisa mengerti setelah membaca beberapa kali dengan menebak arti/maksud dari beberapa kata, mirip dengan membaca tulisan bahasa inggris tapi ada beberapa perkataan yang tidak saya mengerti. dan nadanya jelas2 tendensius. sayang sekali tulisan semacam ini bisa masuk kompas
pendapat pribadi: saya gak tahu kenapa Kompas panik seperti ini padahal informasi dari SK berasal dari media yang katanya ‘gak kredibel’. mungkin seharusnya KPK mengkonsentrasikan diri ke investigasi informasi yang disebarkan oleh SK. dengan demikian kita bisa tahu kebenaran informasi tersebut. seandainya salah maka tidak ada masalah pada kredibilitas kompas dan kredibilitas SK hancur. seandainya benar maka satu lagi masalah negara selesai. sedangkan urusan siapa itu SK gak perlu lagi diurusin.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 23:31
#37: dan anda yang bersikeras memejahijaukan basuki adalah orang yang sangat netral… walaupun karena alasan yang saya tidak ketahui, anda datang dari 202.158.16.242 aka. proxy.kompas.co.id
don’t take it too seriously lho yaa
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 23:43
#37: saya tidak gusar karena saya tahu kualitas dan kuantitas emosi saya sendiri.
jika diibaratkan: Kompas sakit karena isi email SK dan merasa sakit kepala email SK ada di mailing list itb (padahal tidak ada seorang pun yang merespon email tersebut), kemudian Kompas mengambil tindakan menyembuhkan sakit kepala. kan lebih baik jika Kompas menyembuhkan inti sakitnya, yaitu mengusut kebenaran/fitnah isi email SK, jika perlu jati diri SK pun diungkap. publik akan gembira mendapatkan obyektivitas permasalahan.
Sabtu, 7 Mei 2005 @ 23:47
ha3, sampe segitunya pak priyadi melacak saya. i do not to take it too serious. you know why? cos i dnt think that i have to sniff arround to know or investigate everyone to whom i chat with in this forum, he2.
yang bikin saya aneh, ini kan masalah pelanggaran hukum biasa saja. toh dalam KUHP ada aturannya. kecuali kalau KUHP memang sudah tidak berlaku lagi.
adalah hak mereka yg dirugikan untuk membawa persoalan ini ke pengadilan. lagipula basuki kan diadukan dik dengan kapasitasnya sebagai personal wartawan kompas. so what’s wrong with that. kalau saya lihat, kompas kan belum mengadukan/ menuntut basuki apa2. mungkin belum ya, he2.
soal identitas SK atau EW, hmmm, itu mungkin ronde kedua kali yaa. tapi kyknya akan lebih mudah biar si basuki yg menjelaskan itu di depan penyidik atau pengadilan.
wah, udah ah. gak semua harus dibuka untuk konsumsi publik kan, he2. ini info orang dalem aja neh, tapi off the record.
Minggu, 8 Mei 2005 @ 2:23
#41: ah, jangan terlalu dibesar-besarkan, saya gak perlu usaha banyak untuk ‘melacak’ anda (saya cuma lihat ip address). in fact, saya sudah lama tahu anda datang dari IP kompas. tetapi saya masih mau menghargai anda yang ingin anonim walaupun saya sudah tahu anda dari kompas.
diskusi akan lebih koheren jika pihak-pihak yang berdiskusi berkonsentrasi pada topik yang dibicarakan ketimbang mendiskusikan latar belakng masing-masing peserta diskusi. dalam hal ini saya sudah berusaha untuk tidak melihat fakta bahwa anda adalah orang kompas dan lebih berkonsentrasi terhadap esensi dari pesan-pesan yang anda sampaikan.
kondisi menjadi berbeda setelah anda mencoba secara implisit menuduh jay imparsial karena komentar-komentarnya yang mendukung BSD. seakan-akan anda mau bilang kalau jay dukung BSD maka antara jay dan BSD ada apa-apanya. diskusi sudah menjadi debat kusir seperti yang anda tuduhkan, sayang seribu sayang.
mengenai pendapat anda bahwa ini pelanggaran hukum biasa, menurut saya ini bukan pelanggaran hukum. jika anda ingin menghukum seseorang, SK-lah orangnya, bukan BSD, anda salah alamat. and no, sebelum anda menuduh saya, saya gak ada apa2 dengan BSD.
mengenai SK gak bisa dituntut tapi BSD bisa, itu gak bisa menjadi justifikasi bagi anda untuk menuntut BSD. mengenai anonimitas SK, itu urusan anda, tapi menurut saya people can choose to be anonymous, get over it!
Minggu, 8 Mei 2005 @ 11:16
pak gendut yang ternyata orang kompas, yang anda istilahkan melacak itu kesannya sangat rumit nan canggih, padahal yang dilakukan cuma satu perintah, yaitu whois. bagaimana bisa orang pers seperti anda memutar-balikkan fakta yang sangat sederhana seperti itu? anda orang pers memang pintar bermain bahasa, tapi ternyata anda sekarang memiliki saingan, yaitu para bloggers yang:
- lebih pintar
- lebih kritis
- lebih bisa diakses dalam artian ada umpan balik
- lebih punya tanggung jawab moral
ketimbang media tradisional yang anda berusaha pertahankan dengan cara yang malah makin menjelekkan institusi anda, yaitu kompas sendiri.
bisakah anda jelaskan kenapa di majalah gatra diterangkan bahwa sidik pramono ternyata ikutan milis itb, dan TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN YANG NAMANYA HAK JAWAB yang diagung-agungkan oleh pihak pers tradisional?
practice what you preach, segitu aja nggak bisa. waneh.
ok, memang saya orang ITB, tapi kenapa sidik pramono ikutan milis ITB juga? setelah ditelusuri, ternyata ada yang bernama sidik pramono yang tahun 1997 kuliah di jurusan tambang ITB. kalau memang ini orang yang sama, jadi keliatan lucu kan kalau misalnya anda menyebarkan desas-desus yang kritis tentang masalah ini dianggap belain basuki karena sama-sama ITB, padahal sidik-nya sendiri juga orang ITB?
pak gendut, kalau memang anda orang pers, silakan belajar lebih banyak lagi yang namanya OBJEKTIVITAS. lakukan googling, cari yang namanya dan gillmore, dan cari artikelnya yang berjudul “THE END OF OBJECTIVITY”, itu mestinya bacaan wajib para wartawan.
Minggu, 8 Mei 2005 @ 14:04
#38 Kok tahu kalau bukan BS yang memfitnah? Kok tahu kalau tidak ada kemungkinan BS yang menulis sendiri email forward tersebut? Apakah tidak ada kemungkinan untuk terjadinya hal itu?
Jika saya melihat dari sudut pandang Kompas, kejadian itu dianggap merugikan dia dan dia punya cara sendiri untuk menyelesaikannya, melalui jalur hukum. Semua persoalan akan diselesaikan di sana, semoga, termasuk pengungkapan jati diri SK?
#43 O, jadi DIK ini juga orang ITB toh?
Jadi ada kemungkinan dia tau dengan sendirinya tanpa dikasih tahu oleh RS seperti yang dikatakan orang-orang/blogger2 itu?
Apakah kalau di mailing-list ada keharusan menggunakan hak jawab?
Minggu, 8 Mei 2005 @ 15:08
#44
saya gak tahu, apa anda tahu sesuatu? jati diri SK mungkin tidak akan terungkap. sadarilah bahwa di internet praktis orang bisa memilih menjadi anonim.
tidak ada. tapi kalau tidak menggunakan hak jawab dan lalu ngadu ke polisi, ini namanya cari perkara
Minggu, 8 Mei 2005 @ 23:47
#43 soal hak jawab dan “practice what you preach” istilahnya pak ryosaeba, mungkin sudah terjawab oleh pak killbill di kalimat pertamanya yg menjawab pertanyaan itu, ya.
sedangkan soal poin2 “karakter ber-lebih” bloggers versi pak ryosaeba. wah, apa ya seperti itu? sptnya masih banyak yg bisa diperdebatkan, ya? he2
#45 kalimat pak killbill ini sepertinya terdengar sangat traumatis (ttg istilah “cari perkara”). mungkin pak killbill punya pengalaman buruk dan traumatis dengan yang namanya aparat/ hukum, ya. saya bisa maklum mengingat hukum di negara kita memang masih banyak carut marutnya.
tapi kan bukan berarti kita anti 100 persen dengan yang namanya hukum atau penegakan hukum, toh?
jadi, perkaranya sebetulnya simpel dan dalam aturan hukum KUHP ada diatur. (lihat #41)
jadi, ya tinggal lihat saja proses yang sedang mulai berjalan sekarang ini. mudah2an dan saya yakin, kebenaran akan terungkap.
dunia maya kan bukannya bebas nilai dan kebal hukum, toh? lantas, apa yang anda semua khawatirkan kalau begitu?
so, let us b patient from now on. let the justice works.
Senin, 9 Mei 2005 @ 0:06
#35: Pengertian dari tendang (kick dalam bahasa Inggris), sesuatu atau seseorang yang kena “tendang”, akan berpindah dari sisi penendang. Kalo pengetrian “tendang” ini yang dipakai untuk menyamakan dengan forward, apakah emailnya berpindah? Berpindah juga berarti sudah tidak ada ditempat aslinya lagi kan? Padahal, pada forward email:
a. Email diberikan ke orang lain
b. Email juga masih tersimpan di tempatnya (pemilik mailbox)
Itu juga masih ditambah dengan “tendang milis”. Wut?
Mengapa “cium” identik dengan pertemuan mulut dengan mulut? atau juga bisa mencium tangan (ketika mulut bertemu telapak tangan)? Mencium telapak kaki. Tapi ketika kaki menyentuh pipi, meskipun pelan, orang sudah menganggap bahwa tindakan itu “menendang”. Atau “Kakinya mencium pipi?” Siapa yang “menentukan” semua pengertian itu? Mengapa bagian tubuh saya ini yang memejet-2 tombol keyboard, dalam bahasa Indonesianya, disebut dengan jari tangan? Kok bukan rambut? Bagaimana jika saya (jika jadi presiden) menyebutkannya sebagai “diketik dengan menggunakan gigi”?
Kalo Kompas mau menyebarkan pengertian baru forward==tendang, wah, semakin kacau saja bahasa Indonesia. Apakah tulisan itu juga diperuntukkan bagi media cetak? Untuk media cetak, penetrasinya sangat besar. Bisa membentuk “trend” sendiri untuk memutar balikkan pengertian.
Apakah hanya untuk kalangan pengguna akses Internet saja? Ini juga bisa memberikan pengertian yang salah bagi pengguna Internet yang tidak kritis. Dari blog Priyadi, aku baru tahu kualitas penulisan TI saja begitu (semoga penulisnya bisa belajar dari kesalahan). Coba kalau tidak ada yang mendeteksi.
Senin, 9 Mei 2005 @ 8:49
Wahhh… kalau gitu “kompasnya” Kompas udah nggak benner tuh arahnya.. harus terima donk kritikkan.. jika benar tuh kritikkan, harus disikapi dengan baik.. tapi kok malah laser si pengkritik.
Yuh dari masih di liatin kompas tiap hari.. bagus liat SCTV yang sentiasa enak dengan liputan6 nya. Tajam terpercaya..
Senin, 9 Mei 2005 @ 12:24
mau tanya sama yg make proxy.kompas.co.id
apajadinya kalo yg ngeforward bukan BS ya? misalkan orang itu bukan orang terkenal apakah tetep seperti itu sikap kompas?
Senin, 9 Mei 2005 @ 17:40
#45: Saya juga gak tahu
Makanya saya tidak mau berpihak. Saya cuma ingin membuka mata pembaca di sini saja bahwa kemungkinan itu ada. Dan hak tiap orang dengan cara apa membuktikannya (lewat pengadilan? biar legitimate hasilnya).
Cari perkara?
Dari sudut pandang siapa? Apa cuma kompas saja yang boleh dibilang cari perkara?
Singkatnya, apa salahnya orang menggunakan haknya untuk menyelesaikan perkara di pengadilan?
Selasa, 10 Mei 2005 @ 3:03
[...] 6;debat kusir’ yang dimaksud adalah komentar-komentar pada tulisan Jay yang berjudul Kompas Semakin Rusak. Di sana, seorang yang berasal dari Kompas dengan nickname gend [...]
Selasa, 10 Mei 2005 @ 9:01
#51? pak priyadi ini salah ketik atau sudah kehabisan kata2, ya?
Selasa, 10 Mei 2005 @ 9:42
#52: pak gendut, itu namanya trackback, sebuah terminologi diskusi antar blog, jadi Priyadi berkomentar di blognya sendiri. salah satunya silakan baca definisi trackback di Wikipedia
Selasa, 10 Mei 2005 @ 11:06
Buset dah, bloon banget nih orang (a.k.a gendut). Sok2 anti debat kusir malah kejebak sendiri. Sok2 mentingin kredibilitas malah anonim. Saran saya untuk anda, jika ingin masuk ke wilayah internet, pelajari dulu teknologi yang sudah ada jaman sekarang, jangan cuman taunya email dan posting (atau nendang2).
Saya pembaca setia kompas. Tapi saya juga jadi prihatin sama kredibilitas kompas. Kalo gak bener ngapain pusing? Kompas is a big media, why such a fuss over this so called junk by something that doesnt have a credibility? Kenapa harus kebakaran jenggot sih? Bukannya gak mungkin kompas akan terseret arus kehilangan kredibilitas yang sedang digencarkan oleh dirinya sendiri.
Saya gak ngerti hukum dan kuhp. Tapi ini kayaknya terlalu jauh untuk ditanggapi kesana. Gak akan nyampe, well, let’s see. Wong orang ngaco (a.k.a SK) kok ditanggepi sampe segitunya? Unless…
Selasa, 10 Mei 2005 @ 14:54
#52
Kok jadi Gimana gitu loh
Kamis, 12 Mei 2005 @ 12:42
Kick out racism from football
Ciiaaaattt…
Jumat, 13 Mei 2005 @ 14:51
#52
maaf, gk bisa nahan ..
ROTFL
Jumat, 13 Mei 2005 @ 22:48
Huehehehehe #52 pinter deh …
Senin, 16 Mei 2005 @ 15:38
1. Saya pembaca setia kompas.
2. Setelah saya ikuti diskusi ini (sayangnya) kok menurut hemat saya betul kata temen2: Pak Gendut
merugikan citra Kompas sendiri.
3. Akan lebih menguntungkan jika Pak Gendut jangan (terkesan) ngotot, kalem2 aja.
4. OK terima kasih
Rabu, 18 Mei 2005 @ 21:14
stlh gw bc tlsn-tlsn ini, pusing gw……. he..he..
tlng jgn trace ip gw, bisa ketauan ni…
Senin, 30 Mei 2005 @ 16:45
Seneng juga baca diskusi seperti ini.
Sabtu, 4 Juni 2005 @ 10:31
Oh, begitu ya
Selasa, 7 Juni 2005 @ 13:21
ohhhhhhhhhhhhh gitu
Rabu, 24 Agustus 2005 @ 13:38
klo dibilang KOMPAS semakin menurun, saya sich memang stuju… hal ini perlu dilihat kembali oleh redaktr kompas, dikarenakan ketika kompas mampu untuk tetap menjadi media massa no wahid di nusantara, maka krediblitas dan daya bersaing kompas harusnya makin meningkat bukannnya menurun. usul saya kalau kompas sudah no 1 di INA kenapa gak berani go internasional, ini bukan masalah gak mungkin akan tetap keberanian menunjukkan kebenaran lewat pers. kompas harus mampu bersaing dengan times, dll yang mana awalnya dari USA….. oc kompas saatnya interfeksi dan berefleksi diri apa lg mimpi kompas kedepan dan bukan kebelakang……..
bravo pers Indonesia
Senin, 2 Januari 2006 @ 10:42
[...] Mei Kompas Menyinggung Blog – Kompas sebagai media cetak nasional yang cukup mewarnai arus pemberitaan menyinggung keberadaan komunitas blog Indonesia secara negatif dalam kolom Teknologi Informasi. Komentar negatif mengenai keberadaan blog terkait ramai dibicarakannya kasus Satria Kepencet (masih ingat?) melalui blog. Tidak terlalu jelas motif kompas menurunkan artikel yang saya lihat lebih berat sisi emosional dibanding solusi membangunnya. Dan artikel tersebut coba ditanggapi oleh kang Jay dan kang Priyadi. [...]
Rabu, 4 Januari 2006 @ 9:45
[...] Mei Kompas Menyinggung Blog – Kompas sebagai media cetak nasional yang cukup mewarnai arus pemberitaan menyinggung keberadaan komunitas blog Indonesia secara negatif dalam kolom Teknologi Informasi. Komentar negatif mengenai keberadaan blog terkait ramai dibicarakannya kasus Satria Kepencet (masih ingat?) melalui blog. Tidak terlalu jelas motif kompas menurunkan artikel yang saya lihat lebih berat sisi emosional dibanding solusi membangunnya. Dan artikel tersebut coba ditanggapi oleh kang Jay dan kang Priyadi. [...]
Senin, 9 Januari 2006 @ 16:55
[...] Kompas Semakin Rusak [...]
Rabu, 9 Agustus 2006 @ 20:51
waduh, bapak-bapak ini kq ya terlalu ngoyo, mbok ya manut saja, wong dasare nrimo…., kalau membicarakan tentang kompas yang demikian sama saja dengan membicarakan kemunafikan yang tidak akan cepat terselesaikan.
Minggu, 25 Maret 2007 @ 12:59
Sebenarnya itu semua ulah CIA, FBI dan Mossad.
untuk menghancurkan bahasa kita..
ya toh…
Salah kan saja mereka
Jumat, 11 Mei 2007 @ 20:21
kumaha damang? kang, neng, gus, pak, nyak?
hoooiiiiiiii….
Minggu, 13 Mei 2007 @ 11:57
kalau gitu kita perlu mengadakan kamus istilah yang di bakukan oleh pusat bahasa mengenai istilah2x dalam milis or yang berhubungan dgn bahasa2x informatika , biar tidak ada persepsi yang menyesatkan…ya gak boozzz
Selasa, 17 Juli 2007 @ 1:20
Bagi saya, Harian Kompas adalah satu dari sedikit media cetak Indonesia yang “mencerdaskan”. Tidaklah aneh kalau saya kemudian “kaget” membaca tulisan2 ini.
Penurunan kualitas yang Anda maksud selama ini ‘luput’ dari pengamatan saya, mungkin karena media lokal yang ada (sebagai bahan perbandingan) masih kurang kualitasnya dibandingkan dengan Harian Kompas yang juga terbit di sini. Terima kasih atas informasi Anda, wassalam.
Minggu, 12 Agustus 2007 @ 3:07
mmmmm…………..mmmm……..
Kamis, 23 Agustus 2007 @ 19:10
opppppoooo iku… kalo ada orang mau nendang, maka orang yang ketendang harus siap-siap untuk menerima tendangan. kalo tendangannya pake bola, yang ditendang harus siap-siap nangkep bolanya dong. begitu juga dengan yang nendang bagaimana supaya tendangannya itu dapat menjatuhkan alias dapat menjebol pertahanan dan GGoooollll. selamat bertendang-tendangan aja deh semoga sukses.
Kamis, 6 September 2007 @ 7:56
Diskusi yang menarik…rik…rik…rik!
Selasa, 9 Oktober 2007 @ 6:56
saya menyarankan untuk lebih baik lagii..sedia payung sebelum hujan
Kamis, 11 Oktober 2007 @ 12:06
Bagus juga untuk KOMPAS agar lebih berkualitas seperti tempo doeloe !
KOMPAS harus mengambil sikap atas kritik membangun jangan diem aje, ok kah?
Sabtu, 3 November 2007 @ 18:49
kompas itu komando pastur
bangsat gak ada bedanya ama majalah playboy
Selasa, 4 Desember 2007 @ 10:17
maju tyuzz kompas, keluhan & komentar untuk kompas di umpamakan seperti orang yang tersandung. Bagaimana orang tersebut jangan sampai tersandung lagi.Kritikan dari sana sini merupakan pembenahan diri. Jangan sampai terlena terhadah pujian.
Thanks & Regards
Jumat, 7 Desember 2007 @ 10:19
jujur saya binggung harus berkata apa trhdp mslh ini tetapi, saya hy mengatakan beberapa(hl enth itu msuk akl/tdk)tiap liku kehdupn ada klanya kita trjdi kemunduran atau jatuh tetapi itu yg mnjdikan kita utk ttp brjuang sampai trakhir kita hdp, bgt pun KOMPAS sebagai media cetak yg ckp ternama diINAanggap saja ini adl ujian Xan utk mjd lbih baik lagi.
Jumat, 28 Desember 2007 @ 14:26
Kompas itu koran terkenal di Indonesia dan sudah memeliki brand image, tunjukanlah dengan kedewasaan terutama di dalam menyelesaikan masalah, tanpa apriori dengan berbagai anggapan dan tentunya tanpa emosi. Kebenaran atau kesalahan di negeri ini, setau saya tidak berada di majelis pengadilan atau hakim. Jadi untuk apa berebut omong di pengadilan. “Jujur dengan diri sendiri” ini merupakan awalan yang baik.
Rabu, 2 Januari 2008 @ 14:55
Kalian ributttttttttttttttt……….Aja,emag kompas Sekarang terlalu banyak iklannnnnnnnnn.,mana kadang beritany a kok bodong kayak udelllllllll
Selasa, 18 November 2008 @ 16:18
[...] Kompas Semakin Rusak [...]