Shalahuddin Al-Ayyubi

Kamis, 21 April 2005M
13 Rabiul Awal 1426H

Sholahuddin Al-Ayyubi

صلاه الدين يوسف ابن ايوب Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub atau Saladin –menurut lafal orang Barat– adalah salah satu pahlawan besar dalam tharikh (sejarah) Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi.

Shalahuddin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Sholahuddin. Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Sholahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memrovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan.

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade.

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa menjungkalkan invincibilty Sholahuddin. Dalam kemiliteran Sholahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju dan dipercaya.

Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.

Selain dikagumi Muslim, Shalahuddin atau Saladin mendapat reputasi besar di kaum Kristen Eropa, kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott.

Komentar

182 komentar untuk catatan 'Shalahuddin Al-Ayyubi'

  1. #1
    gravatar

    […] anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven [resensi Priyadi], maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan […]

  2. #2
    gravatar

    […] anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven [resensi Priyadi], maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan […]

  3. #3
    gravatar

    katanya sih,,,saat raja inggris Richard the Lion Heart sedang sakt keras.Saladdin menyamar sebagai Tabib,,LALU Ia PERGI kE TEMPAT Richard berada,,lalu ia berjanji akan mengobati richard sampai sembuhhhh.tapi ia tidak akan memberitahukan namanya sampai si richard ini sambuhh

    Singkat c’rita…
    KeTIka raja Richard sudah sembuh,,Ia BERTANYA kepada tabib yg menyembuhkan dirinya itu ia berkata:”siapakah engkau gerangan?”Ia bertanya,lalu tabib itu menjawab:”Aku adalah musuh mu ‘saladin”katanya . lalu meraka berdua berpelukan dan membuat suatu perjanjian,lalu Richard dan seluruh tentara salib itu pergi dari yarussalem

  4. #4
    gravatar

    […] tradisi Maulud Nabi itu dilakukan? Apabila melihat tulisan Irfan Anshory di Pikiran Rakyat dan Yulian memberitahukan bahwa tradisi Maulid Nabi mulai sering dilakukan sejak Sultan Salahuddin Yusuf […]

  5. #5
    gravatar

    saladin aku bercita-cita mnjadi sperti engkau

  6. #6
    gravatar

    […] Maulid Nabi SAW menurut sejarahnya dimulai sejak masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi Raja dari Dinasti Mamalik (kerajaan) ini sedang memobalisasi (menyiapkan dan mengatur) kekuatan […]

  7. #7
    gravatar

    bukan masalah Arab atau Indonesia,, tetap dilihat dari sisi perkembangan Islam. orang2 di Arab masih homogen alias sama. pemikiran mereka hanya sebatas Islam yang kaku. mereka berilmu banyak tetapi mungkin tidak mengerti hakikat sesungguhnya.
    dalam AL-QUR’AN sudah dijelaskan tentang demokrasi. sebenarnya hormat bendera boleh2 saja. Islam itu luas,Islam dapat menyesuaikan. di pikir denagn akal sehat dan hati nurani kita saja. kita hidup di dunia bukan sendiri. lihatlah perjuangan para pahlawan. Bendera hanya sebagai simbol negara saja. hormat bendera hanya sebagai simbol cinta tanah air kita.
    masalah bid’ah. bid’ah itu hnya dalam urusan ibadah saja. toh kita bukan beribadah kepada bendera. Hormat kita kepada ALLAH SWT dengan cara beribadah. Kepada RASULULLAH SAW dengan shalawat dan menjalankan sunnahnya. kepada manusia dengan menghargai sesama. kepada negara denagn memberi hormat kepada bendera.
    ALLAHU AKBAR..
    ISLAM ITU INDAH, LUAS,
    HIDUP INDONESIAKU………….!!!! :) :) :)

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.