Pada hari Minggu kuturut Teteh ke Cibiru, berleha-leha di hari libur, nonton film-film sekalian karena remote TV sudah kembali ke jalan yang benar, sebelumnya sang remote rusak oleh si Faza –yang juga hobinya ngoprek mainan elektronik termasuk lampu bohlam– hingga setting terakhir TV adalah NTSC yang membuat DVD PAL disetel jadi hitam putih selama berbulan-bulan.
Sore-sore ada tukang buah-buahan lewat, menawarkan alpukat harga murah Rp3.500/kg, dibelilah sebanyak 5kg, sebagian buat Bapak dan sebagian saya bawa ke kantor. Tadi sore itu alpukat sudah matang, tapi di kantor kurang temannya (pake gula pasir doang nggak oke!). Jadi aja bereksperimen.
Ambil gelas, lalu tuangkan Torabika Cappuccino yang biasa diseduh pagi-pagi. Kemudian seduh dengan air panas sekitar 1/5 bagian, lalu diaduk rata. Alpukat yang cukup cilik-cilik dibelah, dikerok dengan sendok dan dimasukkan ke gelas hingga gelas penuh, habis 5 biji alpukat. Kemudian diaduk pelan supaya Cappuccino merata, kalau diaduk cepat muncrat bo’. Oh iya, butiran granula Torabika Cappuccino ditabur di atasnya, lumayan jadi penghias.
Lalu dimakan, hmmm alpukat rasa Cappuccino. Lumayan di lidah. Saya beri nama Pukatuccino. Lain kali saya coba diaduknya pake blender dan ditambah es.
Sayang, kamera sedang dipinjam jadi tidak ada dokumentasi fotonya.
Popularity: 2% [?]