Tasaro: Samita – Bintang Berpijar di Langit Majapahit
Rabu, 23 Februari 2005M
13 Muharram 1426H
- Tracking System
- International phone card
Tasaro adalah nama pena Taufik Saptoto Rohadi. Ia menulis cerita setebal hampir 500 halaman dalam setting jelang runtuhnya Mahapahit di bawah pimpinan Wikramawardhana. “Samita — Bintang Berpijar di Langit Majapahit” ia beri judul yang dirilis November tahun lalu oleh penerbit DAR! Mizan, Bandung. Buku ini menggabungkan sisi sejarah awal runtuhnya Majapahit, cerita silat seperti Kho Ping Hoo, deskripsi ajaran Islam yang dibawa Laksamana Cheng Ho serta cerita cinta melalui dialog dan pemikiran.
Membaca cerita Samita ini seperti langsung membuka halaman tengah karya Remy Sylado “Sam Po Kong”. Dimulakan dengan tibanya perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Simongan (Semarang) untuk mengobati saudaranya Wang Jing Hong yang terkena cacar air. Juen Sui, Sien Feng dan Hui Sing adalah murid-murid yang sudah dianggap anak oleh Cheng Ho. Armada Kekaisaran Ming dari Cina ini dipimpin Cheng Ho untuk mengadakan misi persahabatan ke seluruh negeri di wilayah Majapahit.
Berikutnya fokus cerita berada pada Hui Sing yang kelak menamakan diri Samita dan menetap sementara di Simongan setelah sebelumnya berkunjung ke pusat pemerintahan Majapahit di Mojokerto. Morat-maritnya pemerintahan Majapahit membuat Hui Sing bersahabat dengan anak Ki Legowo, Ramya, yang bertemu sejak berlabuh untuk mencari tempat penyembuhan Wang Jing Hong yang juga bertepatan dengan datangnya pasukan dari Blambangan yang dipimpin oleh Turonggo Petak yang hendak menumpas mereka yang dianggap lawan dalam melicinkan jalannya ke jabatan maha patih Majapahit, hingga akhirnya Ki Legowo terbunuh.
Armada meneruskan perjalanan ke Surabaya dan Mojokerto sekaligus untuk membicarakan terbunuhnya ratusan prajurit Cheng Ho di Simongan. Rombongan disambut langsung oleh Sad Respati, kepala Bhayangkari Majapahit. Hui Sing pun berkenalan dengan Anindita, yang kelak menjadi istrinya Sad Respati.
Selama di ibukota terjadi kegegeran pembunuhan seorang Rakyan Rangga yang akhir Sad Respati naik jabatan. Kejadian tersebut disaksikan langsung oleh Hui Sing yang sempat ikut mengejar pelakunya, hingga akhirnya Hui Sing memutuskan turun kembali ke tanah Jawa di Simongan, tidak ikut armada yang bergerak ke Palembang dan kembali ke Cina.
Berganti nama menjadi Samita, Ramya, Sad Respati dan Anindita menjadi tokoh inti perjalanan cerita berikutnya sebagai jawaban kenapa Hui Sing tinggal di Jawa, apa kisah Ramya berikutnya serta apa keterlibatan Sad Respati dan Anindita dalam konspirasi di dalam tubuh pemerintahan Majapahit.
Islam dan ajaran Hanacaraka menjadi fokus utama Tasaro dalam menggambarkan dua tokoh utama Samita dan Sad Respati, selain menggambarkan perkembangan masuknya Islam di pesisir utara Jawa terutama di Semarang, Tuban dan Gresik, serta cerita silat yang membuat pembaca membayangkan perkelahian dan jurus-jurus sakti ilmu kanuragan.
Cukup menghibur untuk anda yang suka cerita silat dan cerita sejarah Nusantara.
Kamis, 24 Februari 2005 @ 0:02
Using
wah ternyata udah dibetulin duluan, di rss feed masih “majapahir”, pas diklik dibilang nggak ada entry-nya:D
Kamis, 24 Februari 2005 @ 19:27
Using
akhirnya bisa juga masuk sini…*udah seminggu lho dari sini gak bisa buka blognya*
anyway….ini cerita silat .. jarang2 baca spt ini … jadi kurang ngerti:D
Kamis, 24 Februari 2005 @ 19:29
Using
uhmmm sorry…yang ini off-topic
layout yg ini lebih bagus dr yg lalu:)
Kamis, 24 Februari 2005 @ 20:01
Using
maaf Cha, link internet down, satu ISP ngilang dulu beberapa hari:D
iya campur-campur, soal cerita silat itu kan bumbu dalam mendeskripsikan perang atau pertarungan, fiksi dalam setting sejarah seperti pada buku “Senopati Pamungkas” Arswendo, “Arus Balik” Pramoedya atau “Sam Po Kong” Remy Sylado, buku lain belum tahu. Kalo Kho Ping Hoo spesifik cerita silat/kungfu.
waktu kecil rajin dengerin sandiwara radio Brama Kumbara, terus Tutur Tinular, fantasi pendengar dalam membayangkan cerita hampir sama dengan kalo baca buku, hanya sayang filmnya gak bagus, mungkin harus Hollywood yang bikin.
thanks, layout diubah sekalian upgrade dari versi beta ke versi rilis.
Selasa, 8 Maret 2005 @ 18:53
Using
Aku dah baca Samita. Bahasanya keren asli. Alur ceritanya juga bagus, dan tidak ecek-ecek. Saya kira novel ini pantas disejajarkan dengan trilogi Condor Hero. Anda yang belum baca, icipi deh. Keren, sumpah!
Selasa, 8 Maret 2005 @ 18:57
Using
Minggu lalu gwbaca resensi Samita di sini, terus coba-coba liat di Gramedia. Eh, tertarik juga buat beli Samita. filosofinya cing! Gw seneng banget ada penulis Indonesia yang bisa bikin produk buku kayak begini. Gw ngebayanginnya kayak liat film Hero nya Jet Lee. Adegan berantemnya oke punya. Kayaknya novel ini juga mau dibikin Trilogi deh. Soalnya, endingnya agak-agak terbuka.
Rabu, 9 Maret 2005 @ 14:09
Using
Pertama aku baca Samita, langsung jatuh cinta dengan cara tutur pengarangnya. Luwes, puitis, tapi tidak berlebihan. Salut lagi, setiap dialog antar tokoh kelihatan betul pengarang memikirkannya baik-baik. Tidak asal ngomong. Ada seninya. Salut deh dengan Samita. Aku gak sabar nunggu lanjutannya.
Kamis, 31 Maret 2005 @ 21:31
Using
Bagaimana dengan Parameshvara? Adakah yang tahu kisahnya?
Jumat, 24 Juni 2005 @ 15:10
Using
[...] m dunia fiksi kisah Cheng Ho bisa anda temukan dalam bukunya Remy Sylado: Sam Po Kong atau Tasaro: Samita. Popularitas: 2%
Catatan [...]
Rabu, 30 Agustus 2006 @ 20:12
Using
ceritanya cukup bagus dan brkesan banget ketika membacanya.
Boleh gak jadi anggota team atau kelompok anda?mohon dibalas!
Rabu, 13 Februari 2008 @ 10:36
Using
anuu…saya belom baca seh makanya buka posting ini karena tertaril. Kemaren baru baca yang pitaloka. Buagussssss!!! two thumbs up!!! makanya pengen tau juga buku2 tasaro yang laen. Ulasannya bagus. Ntar saya cari bukunya. Makasih ya pak ^_^
Minggu, 17 Februari 2008 @ 17:41
Using
Assalamu’alaykum. Afwan, kira-kira nanti Samita ketemu lagi sama anaknya atau gak?
Wassalamu’alaykum.
Rabu, 20 Februari 2008 @ 14:39
Using
Assalamualaikum. Sekarang saya lagi baca Samita n serasa nonton film kolosal jaman majapahit. Btw, tasaro mostly nulis tentang tokoh wanita yah??Jarang2 kan penulis pria menulis dgn sosok tokoh central perempuan….Salut…Jadi lebih pengen tau tentang Laksamana Cheng Ho. Kebetulan Lagi banyak baca tentang kerajaan cina dan kebesarannya termasuk Maharani bukunya Pearl S. Buck.Udah baca?
Kamis, 28 Februari 2008 @ 12:01
Using
ni dia salah satu novel favorit. jujur, karena novel ini aku tertarik baca serial gajah mada. sama sama dasyat ternyata….
Samitha keren banget. pas baca halaman terakhir, q jadi seperti orang bloon. sebbell banget…lo, ko akhirnya kaya gini??? apa maksudnya???
aduh mas tasaro… gimana nih akhirnya??? ko nguammmbang banget…
mbok bikin lanjutannya!!!!!!!!!pliiiiiiiiiisssssssssss…….
serial pitaloka, lanjutannya ko nggak keluar keluar????
mas tasaro….POKOKNYA HARUS BIKIN LANJUTANNYA SAMITHA!!!!!!!!
Kamis, 28 Februari 2008 @ 12:03
Using
ni dia salah satu novel favorit. jujur, karena novel ini aku tertarik baca serial gajah mada. sama sama dasyat ternyata….
Samitha keren banget. pas baca halaman terakhir, q jadi seperti orang bloon. sebbell banget…lo, ko akhirnya kaya gini??? apa maksudnya???
aduh mas tasaro… gimana nih akhirnya??? ko nguammmbang banget…
mbok bikin lanjutannya!!!!!!!!!pliiiiiiiiiisssssssssss…….
serial pitaloka, lanjutannya ko nggak keluar keluar????
mas tasaro….POKOKNYA HARUS BIKIN LANJUTANNYA SAMITHA!!!!!!!!POKOKNYA HARUS!!!HARUSSS…….
WASSALAMUALAIKUM…..
Rabu, 26 Maret 2008 @ 7:08
Using
bravo untuk novel ini, bagus banget…!!
aku terutama terpesona dengan ajaran hanacaraka dan falsafah2 lain yang muncul dari buku itu, luar biasa dan sangat inspiratif..
suka sekali dengan tokoh samita, tapi endingnya bikin meriang!!!! semoga ada sambungannya, atau memang jangan2 tasaro memang begitu, selalu bikin ending yang memeriangkan alias membuat penasaran??? **ingat pitaloka juga** hikss…. soma, dimana engkau berada nak??? T_T
Kamis, 3 Juli 2008 @ 9:11
Using
bagus, seru, memancing untuk tidak berhenti membaca. tapi kayanya masih belom tamat deh….
mas, apa buku ini masih ada kelanjutannya lagi yah ??
Sabtu, 2 Agustus 2008 @ 12:35
Using
mas tasaro kenapan cerita tentang samita yang bertemu dengan laksamana ceng ho ga diceritain.padahal itu momen yang bagus buat diceritain.tapi samita emanG TOP ABIIIIIIIIIIIIIIIZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ. aku bener2 terharu sama cerita percintaan samita dengan respati. bener2 menyentuh hati. aku bacanya ampek nangis…….iya mas akhirnya kok ngambang sih, kan yang baca jadi agak kecewa karena akhirnya gitu!!!!!!!!!!!!!!!!!bkin terusannya samita yaaaaaaaaa………………plissssssssssssssssssssssss.
Selasa, 12 Agustus 2008 @ 15:56
Using
Yang agak janggal yaitu dipakainya beladiri Thifan Pokhan. Jurus-jurusnya sama sekali nggak berkesan Bahasa Mandarin (dan memang sebenernya begitu), nggak seimbang dengan nama-nama tokohnya yang bernuansa Mandarin.
Minggu, 17 Agustus 2008 @ 17:05
Using
Pas ke Gramedia, gak sengaja liat buku ini. Iseng-iseng aku beli. Aku sama sekali gak hobi baca novel. Tapi karena ada tokoh Cheng Ho yang disebut di covernya, iseng-iseng aku beli, penasaran dengan cerita sejarah Cheng Ho. Awalnya sih gak semangat ngebacanya, lama-lama semakin tertarik untuk melanjutkan ke halaman-halaman berikutnya, hingga emosi dan perasaan ikut terlarut dalam jalan cerita buku ini. Aneh juga bagi seorang yang nggak gemar baca buku cerita kayak aku gini bisa baca sampai habis. Bahkan muncul perasaan menunggu kelajutan ceritanya, seri 2 dari buku ini. Kalo dibikin filmnya, keren kali ya.
Permisi mohon ijin untuk aku copy paste ke http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=754.0
Minggu, 24 Agustus 2008 @ 8:26
Using
mas ceritanya bagus bangettt,,mas kalau bisa bikin cerita yang lebih seru lagi,,soalnya aku suka banget ,baca baca cerita kaya gini
Selasa, 9 September 2008 @ 19:41
Using J2ME/MIDP Browser
gara2 baca blog ini aku jd penasaran banget dg buku samita…but true aku sdh cari kemana2 bulan 8 kemaren gak ketemu tuh bukunya. Di Kendari kosong. Aku cari di gramed Solo, TB gunung agung Bogor jg sami mawon… Gimana nih? Sdh cetak ulang?