Jangan Ragu. Ubah Perilaku.
Kamis, 17 Februari 2005M
07 Muharram 1426H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Demikian propaganda Microsoft Indonesia melalui iklannya yang dibintangi oleh Budi Rahardjo dalam iklan cetak majalah koran Bisnis Indonesia. Porsi sumberdaya untuk propaganda –saya lebih suka menyebut propaganda dibandingkan dengan pemasaran– pada vendor-vendor terkemuka memang sangat besar, bahkan sering porsi tersebut memakan persentase besar atas harga yang dibayarkan konsumen kepada produsen produk.
Dengan biaya yang besar bentuk propaganda tersebut menghasilkan iklan yang elegan, namun banyak juga yang bersifatnya hanya angan-angan, ditambah dengan kenyataan seringnya jargon dan slogan propaganda tersebut jauh dari harapan pengguna. Misalnya slogan “Setia melayani anda” yang kini berganti menjadi “Commited 2 U” yang sangat jauh dengan kenyataannya.
Jika mencontoh produk negara lain dalam konteks dunia jaringan komputer umumnya pandai dalam membuat slogan yang lebih realistis dan persuasif, misalnya saya baca dalam majalah Telecommunications volume 39/1 Januari 2005 (gratis lho dikirim tiap bulan, walau telat sebulan nyampenya) ada iklan Huawei Technologies “Partner for networked world” dan NTT DoCoMo “Our Innovation is A Neverending Story”, sebuah slogan sederhana yang tidak bertendensi angkuh.
Microsoft pun pandai memilih model, saya tidak tahu slogan “Jangan ragu. Ubah perilaku.” apakah dari pihak Microsoft atau Pak Budi sendiri, tapi kalimat tersebut elegan sebagai propaganda, memiliki makna positif jika diartikan “Jangan ragu mengubah perilaku supaya sistem anda aman”, mungkin juga bermakna negatif jika diartikan “Jangan ragu mengubah perilaku, belilah produk kami”, atau bahkan sangat persuasif “Jangan ragu-ragu, pakar pun memakai produk kami”.
Frans Thamura menyinggung iklan tersebut dalam konteks perkembangan Linux, sejak di mailing list linux-aktivis hingga di mailing list teknologia. Nadanya bersifat tuntutan supaya Linux bisa seperti itu, namun siapa yang dituntut? Linux adalah milik komunitas, bukan vendor atau korporasi, tidak proporsional komunitas dituntut melakukan propaganda berbiasa besar seperti Microsoft tersebut. Jika Frans ingin seperti itu silakan membuat iklan perusahaannya seperti itu, tapi jangan menuntut komunitas untuk hal seperti itu karena komunitas adalah pribadi independen yang berdasar pada paradigma Open Source, bukan seseorang yang dibayar oleh perusahaan.
Edisi majalah tersebut berisi sebuah suplemen yang disponsori Ericsson Indonesia yang memaparkan pemain telekomunikasi di Indonesia seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, dan Excelcom. Saya belum membaca semuanya, namun ada satu hal yang menggelitik pada artikel Telkom.
“… there were around 35, 000 DSL subscribers by early 2004, anda around 10, 500 of these were business DSL subscribers. Most of these were supplied by Telkom, …”
Mostly? Bukan mostly, tapi all! Hanya Telkom yang bisa menyediakan DSL sebab hanya mereka satu-satunya pemilik kabel telepon dan STO-nya! Disebutkan Telkom dan Ericsson bekerja sama dalam penyediaan DSL di Surabaya, namun tak disebutkan kerjasama dengan ISP, bagaimana DSL bisa dijual jika tidak ada peran ISP? Di sinilah Telkom menyembunyikan bisnis mereka yang lain yaitu bertindak sebagai ISP juga, sehingga ISP lain apalagi yang kelas gurem tidak kebagian lahan bisnis bekerjasama dengan Telkom. Siapa yang bisa menciptakan saling ketergantungan adalah mereka yang berhasil membangun rantai bisnis, bukan menciptakan monopoli.
Adinoto bercanda dengan menambahkan kata-kata “Gunakan Debian.”, sebab semua tahu Pak Budi adalah pengguna Debian Linux. Oh iya, ditunggu Pak Budi usulan Adinoto untuk acara kopdar dan makan-makannya!
Popularity: 3% [?]
Kamis, 17 Februari 2005 @ 14:56
namanya juga iklan…
waktu pelajaran bahasa indonesia, bahasa iklan itu harus singkat, tepat, dan kena.
nah, kebetulan, di indonesia, slogan hanyalah slogan…
seperti Telkom yang sak!
Kamis, 17 Februari 2005 @ 15:16
Hi R… eh salah ya
Kamis, 17 Februari 2005 @ 15:46
Btw, Majalah Bisnis? Bukannya surat kabar Bisnis Indonesia ya?
CMIIW. *blon liat langsung iklannya sih..*
Kamis, 17 Februari 2005 @ 20:37
telkomnyet?
Kamis, 17 Februari 2005 @ 21:12
Di draft weblog aku (satu dari sekian yang belum selesai dan nggak pernah dipublish), aku sempat juga ngebahas soal C2U. Slogan, motto, dll, lebih sering merepresentasikan keinginan internal, alih2 kondisi. Jadi kalau ada perusahaan punya motto C2U, dia memang baru sampai tahap ingin suatu saat bisa C2U. Lumayan lah punya keinginan, yang berarti punya niat untuk berubah. Idem dengan “Sinyal Kuat Indosat” yang lebih merupakan ekspektasi daripada apa yang dirasakan. Bahkan masih idem dengan “Bhinneka Tunggal Ika” yang di lapangan lebih merupakan cita-cita daripada kenyataan. Itu sebabnya aku jadi meyakini salah satu doktrin Dilbert bahwa slogan sebaik apa pun selalu punya flaw. Di websiteku ada slogan juga “Vivre c’est reinventer la vie” — diadopsi waktu hidupku lagi macet total.
Jumat, 18 Februari 2005 @ 19:59
Hi BR ™
Minggu, 20 Februari 2005 @ 0:48
Ya pak! Usulan makan2nya dan kongkow2nya masih menarik tuh! terlepas di sponsorin Debian apa M$ kekekeke..
http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7834968&postID=110880385960459483
adinoto/
Selasa, 22 Februari 2005 @ 11:06
Disadari atau tidak ternyata slogan Microsoft menyatu dalam diri kita juga “Jangan ragu-ragu, bacalah posting-ku” xtreme ban-get gitu loch…