Candra Kirana
Kamis, 3 Februari 2005M
21 Dzulhijjah 1425H
- Tracking System
- International phone card
Ngadongeng ah...
Syahdan, Prabu Airlangga –yang lengkapnya Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa– terpaksa membagi dua wilayah kekuasaannya karena khawatir terjadi perebutan kekuasaan pada anak-anaknya, selain putrinya Kili Suci dari permaisuri yang berhak penuh atas tahta juga tak ingin memimpin istana, Kili Suci hanya ingin menjadi pertapa. Akhirnya Airlangga membagi wilayahnya menjadi dua kerajaan, Janggala dan Kadiri untuk menghindari pertumpahan darah sesama saudara, atas bantuan Empu Bharada nan sakti mandraguna dalam membuat batas timur dan barat.
Airlangga menjadi pertapa, sama dengan putrinya. Dua kepemimpinan di Janggala dan Kadiri telah berlalu. Janggala dipimpin oleh Sri Baginda Jayantakatunggadewa, memiliki banyak anak yang salah satunya adalah Panji Kuda Waneng Pati yang diajari berbagai ilmu kenegaraan, ilmu perang dan ilmu lain sehingga Panji sangat suka berkelana ke padepokan dan pertapaan. Kadiri dipimpin oleh Sri Baginda Jayawarsyatunggadewa, memiliki seorang putri bernama Dewi Sekar Taji. Jayantaka dan Jayawarsya sepakat menjodohkan Panji dan Sekar Taji untuk sebuah cita-cita menyatukan kembali Janggala dan Kadiri dalam satu pimpinan.
Selama berkelana Panji bertemu dengan seorang putri gunung nan cantik jelita, seorang perempuan biasa yang bukan ningrat ataupun keturunan raja, bernama Dewi Anggraeni. Meskipun Panji tahu dirinya dijodohkan resmi dengan Sekar Taji; ia tak mampu membendung cintanya kepada Anggraeni hingga mereka menikah hanya sepengetahuan permaisuri. Sri Baginda merasa terpukul meskipun akhirnya merestui mereka dengan kekhawatiran akibat buruk Kadiri merasa dihina atas pernikahan tersebut, yang berarti perang saudara.
Jayawarsya marah besar mendengar berita tersebut, namun dalam rapatnya dengan seluruh pembesar dan tetua negeri Jayawarsya diredakan emosinya oleh mahapatih Kebo Rerangin. Kebo Rerangin menyarankan meredam amarah dengan berkonsultasi kepada Sang Kili Suci yang meskipun sudah sepuh masih segar bugar di pertapaan, dan sang Prabu pun sepakat.
Sang Kili Suci akhirnya bersedia berangkat ke Janggala menemui cucunya Jayantaka untuk membenarkan berita yang beredar. Prabu Jayantaka membenarkan dan sama sekali tak bermaksud menghina Jayawarsya, namun Sang Kili Suci mengingatkan dengan kelembutannya sebagai seorang resi bahwa janji seorang satria adalah utang yang harus dibayar. Akhirnya Prabu Jayantaka memutuskan hari pernikahan Panji dengan Dewi Sekar Taji beberapa bulan ke depan meskipun Panji telah menikah dan tidak menanyakan dulu kesediaan anaknya. Sebelum bertemu dengan Jayantaka, Kili Suci terlebih dahulu menemui permaisuri serta penasaran dengan Dewi Anggraeni yang ternyata memang cantik jelita, beradab dan bersikap layaknya seorang putri kerajaan.
Kili Suci akhirnya kembali ke Pucangan, pertapaannya. Prabu Jayantaka memanggil anak-anaknya termasuk Panji untuk mengatakan dan mengatur rencananya yang telah diucapkan di depan Sang Kili Suci. Ternyata Panji –sebagai putra mahkota– bersikeras tak ingin menikah dengan Dewi Sekar Taji karena cintanya kepada Dewi Anggraeni, juga tak ingin menduakannya dan menggeser Anggraeni menjadi selir jika menikah. Jayantaka sedih sekaligus marah besar, jiwa ksatrianya merasa dirobek oleh anaknya sendiri. Akhirnya Baginda mengambil keputusan menyuruh pergi Panji untuk menemui Kili Suci. Setelah Panji ditemani Patih Prasanta pergi tanpa terlebih dahulu mampir menemui istrinya Anggraeni; Baginda mengeluarkan keris kerajaan, menghunusnya dan menyuruh Tumenggung Braja Nata untuk mencarikan sarung baru untuk keris tersebut. Sebuah metafora yang membuat Braja Nata sangat berat menerima titah tersebut, membunuh adik iparnya sendiri.
Yah, pada tidur semua! *ngelirik sudut kanan atas, 01:39*
Tidur juga ah...
ZZZZZZ...ZZZZ...ZZ..ZZ....ZZZZ....
Kamis, 3 Februari 2005 @ 2:35
Using
zzzzzzzzzzzzzz juga ah
Jumat, 4 Februari 2005 @ 8:43
Using
guwa bacanya skipskip
Jumat, 4 Februari 2005 @ 16:37
Using
Wah, bang Jay termasuk penggemar sejarah yah. Kebetulan saya minggu lalu ngobrol-ngobrol dengan rekan dari Padang kata dia Gajah Mada itu orang padang, karena di jawa tidak ditemukan kosa kata Mada, sebaliknya di Padang ditemukan kata tersebut.
Ada komentar? atau malah barangkali punya literaturnya?
Jumat, 4 Februari 2005 @ 16:53
Using
wah, nggak tahu tuh kalo kata ‘mada’ berasal dari Padang. kalaupun Gajah Mada bukan orang Jawa asli ya wajar-wajar saja, toh sebelum era Majapahit pelayaran dan migrasi di sekitar kawasan Asia Tenggara sudah terjadi.
Sabtu, 5 Februari 2005 @ 9:31
Using
Kang Jay Suka Ngadongeng,
kayak Uwa Kepoh ( Radio Sinta Buana, BDG).
Besokmah Ceritain Si Rawing atuh atawa Babad tanah Leluhur.
Minggu, 6 Februari 2005 @ 21:01
Using
Saya menunggu lanjutannya nih ;-)
Minggu, 6 Februari 2005 @ 21:31
Using
sudaaah, sudah selesai.
Kamis, 9 Februari 2006 @ 14:01
Using
bagus juga neh ceritanya…gimana klo bang jay muat juga cerita ttng “SINGGASANA BRAMA KUMBARA”n”TUTUR TINULAR BANG!!
Jumat, 8 September 2006 @ 16:27
Using
[...] Keteraturan peredaran bulan pun menjadi dasar perhitungan penanggalan, seperti kalender Cina, Jawa, hingga kalender Hijriyah. Para nelayan secara empiris menghindari air laut pasang karena faktor gravitasi bulan, selain angin darat dan angin laut yang secara teratur bergantian antara siang dan malam. Mereka tak tahu ilmunya, tapi mereka menjiwai gerak alam secara turun temurun. Sastrawan pun mengabadikan purnama dalam karyanya, seperti Candra Kirana, meskipun para perempuan kini sudah tak suka bila wajahnya disebut seperti bulan purnama. Tak terhitung musisi lainnya mengabadikan indahnya bulan dalam lagu-lagu mereka. Bahkan hingga dalam film, seperti metafora pada Bulan Tertusuk Ilalang. [...]
Rabu, 13 September 2006 @ 10:07
Using
MADA ADA LAGI ARTINYA DI JAWA (TANYA DONG KARO WONG JAWA)
Minggu, 12 November 2006 @ 14:51
Using
Pak.. mohon maaf sebelumnya..
Apakah saya boleh minta sejarah nya Killi Suci
Terimakasih
Kamis, 21 Desember 2006 @ 10:23
Using
Adalah selayaknya kita memberi komentar dengan bahasan yang juga memberi arti, sekiranya itu adalah benar maka baiklah, sekiranya itu ada beberapa bagian yang atidak sesuai dengan kenyataannya, maka ada baiknya kita memberi masukan atau sanggahan dengan data yang baru agar bisa diperbincangken.
Aken tetapi sepatutnya apa yang di publikasikan adalah telah melalui proses kajian ilmiah.
Semoga padi kuning padat berisi hingga masa dituai
Semoga kesejahteraan yang seperti ini menjadi nyata
Sabtu, 14 April 2007 @ 3:22
Using
Pengen mengupas siapa sebenarnya Dewi Anggraeni tersebut dan apakah punya nama lain?
Kamis, 29 Mei 2008 @ 19:11
Using
WAH..CERITANYA UASIK JUGA TAPI KALO ADA CERITA CALONARANG GW LEBIH
TERTARIK APALAGI KALO TAHU POSISI DESA GERIH….KALAO GURAH ADA..